DO NOT ENVY !!!

DENGKI. Sahabat ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa dengki itu sama dengan iri atau dengki itu sinonim dari iri. Coba kita simak definisi dari dengki dan iri yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). DENGKI adalah  menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Sedangkan IRI adalah merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya). Maka dapat kita simpulkan bahwa iri adalah keinginan untuk menjadi sebaik orang lain, sedangkan  dengki adalah  keinginan untuk merampas apa yang dimiliki orang lain. Orang yang dengki tidak hanya kesal karena apa yang orang lain miliki atau capai tetapi juga ingin mengambilnya. Sesungguhnya rasa dengki bisa menjangkiti siapa saja, tidak soal betapa berkuasa dia, betapa kaya dia, betapa pandai dia, betapa sukses dia, dan betapa beken dia. Coba simak apa yang disampaikan oleh Bertrand Russell, seorang filsuf dari Inggris: ”Napoleon dengki terhadap Caesar, Caesar dengki terhadap Aleksander Agung, dan Aleksander, saya berani bilang, dengki terhadap Herkules, yang tidak pernah ada.” Sahabat, ternyata Napoleon Bonaparte, Julius Caesar, dan Aleksander Agung menjadi korban dari dengki. Meskipun  sangat berkuasa dan termasyhur, mereka memendam sifat yang dapat meracuni pikiran. Ketiganya menyimpan dengki di dalam hatinya. Sahabat, Pengamsal mengingatkan kita bahwa hati merupakan sumber kehidupan, dari dalam hati terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Karena itu jangan izinkan dengki bercokol lama-lama di dalam diri kita. Dengki timbul dari hati yang sudah tercemar. Dengki adalah perasaan marah (tersinggung) melihat orang lain lebih hebat dari dirinya dan bila dengki  dibiarkan hidup di dalam hati kita akan beranak pinak tindakan-tindakan yang destruktif.. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Do Not Envy !!! (Jangan Dengki !!!)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 18:1-30 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, awalnya Raja Saul sangat terkesan dengan Daud setelah ia mengalahkan Goliat, pahlawan orang Filistin. Ia pun menunjuk Daud menjadi kepala prajurit dan menugaskannya memerangi musuh-musuh Israel, dan selalu menang. Ketika rakyat mulai menyanjung Daud melebihi Saul, sang raja merasa takhtanya terancam (Ayat  7-8). Sejak saat itu, Saul selalu MENDENGKI Daud. Artinya, ia selalu memandang Daud dengan mata yang cemburu dan hati yang iri. Hatinya dirasuki kejahatan, hingga ia berusaha membunuh Daud, berkali-kali. Karena upaya itu gagal, Saul mengangkat Daud menjadi kepala pasukan seribu, agar ia menjadi yang terdepan dalam segala gerakan tentara, agar ia terbunuh di medan perang. Tetapi penyertaan Tuhan membuat Daud selalu berhasil. Sahabat, Saul menghidupi dan memelihara sifat dengki  seumur hidupnya (Ayat 29-b). Hal itu merongrong jiwanya. Membuatnya jatuh dalam berbagai dosa hingga ia makin terpuruk. Sekalipun ia tahu bahwa Allah telah mengurapi Daud menggantikannya menjadi raja Israel, ia makin berusaha mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya ia makin menderita. Benarlah kata Pengamsal: “… iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30-b). Sesungguhnya sifat DENGKI muncul ketika kita tidak rela menerima kenyataan, serta karena tidak mensyukuri apa yang kita punya. Kita merasa terancam karena keberadaan orang lain, lalu kita merancang berbagai kejahatan. Tanpa sadar, kita sedang menghancurkan diri sendiri. Karena itu jangan menyimpan, apalagi memelihara DENGKI di dalam hati kita.  Jangan dengki !!! Berhentilah mendengki !!! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Menurut Sahabat, hal apa yang menyebabkan Saul menaruh dengki kepada Daud? Selamat sejenak merenung.  Simpan dalam-dalam di hati kita: Sifat dengki menyeret kita ke dalam kehancuran, sikap ikhlas menuntun kita memahami kehendak Tuhan. (pg).

Deadly Trivial

PESIMIS. Sahabat, pesimis merupakan suatu sikap ketika seseorang memiliki pandangan negatif terhadap situasi atau peristiwa tertentu. Pesimis diidentikkan dengan sikap seseorang yang mudah menyerah, tidak percaya diri, dan sudah menyerah sebelum mencoba. Perasaan tersebut biasanya akan muncul ketika seseorang menghadapi berbagai tantangan di dalam hidupnya. Mereka terlalu takut sehingga bersikap negatif terhadap sesuatu yang akan terjadi. Pesimis adalah sikap yang ditunjukkan saat seseorang berpandangan negatif dan tidak memiliki harapan yang baik. Hal tersebut tidak termasuk ke dalam penyakit mental, tetapi sifat di mana seseorang memiliki pandangan hidup yang lebih negatif. Beberapa orang mungkin mengatakan sikap pesimis merupakan sikap yang lebih realistis. Seorang pesimis biasanya akan berpikir bahwa segala sesuatu tidak akan menciptakan hasil yang menyenangkan dan seringkali curiga ketika sesuatu tampak berjalan dengan baik. Sikap pesimis adalah kebalikan dari sikap optimis. Ketika seseorang memiliki sikap yang optimis, maka orang tersebut akan berpandangan positif dan mempunyai harapan yang baik di segala hal. Sikap optimis maupun pesimis yang kita tunjukkan ternyata akan berpengaruh terhadap kehidupan kita. Sikap diri yang selalu pesimis juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental serta fisik. Dilansir dari laman “Very Well Mind”, seseorang yang memiliki sikap pesimistis cenderung memiliki lebih sedikit dukungan sosial. Selain itu, mereka juga akan lebih mudah menyerah ketika menjalankan suatu hal sehingga hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Deadly Trivial (Hal Sepele yang Mematikan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 17:40-58. Sahabat, sikap pesimis sering kali terlihat sebagai  hal yang sepele tetapi sesungguhnya mematikan. Mengapa? Karena sikap pesimis itu ibarat orang yang kalah sebelum bertanding. Sikap pesimis lebih melihat dan mengandalkan kemampuan diri sendiri, mereka lupa bahwa ada Allah yang Mahakuasa yang beserta dengan kita. Mereka hidup karena melihat bukan karena percaya. Dalam pertarungan Daud dan Goliat, ungkapan spontan “Tidak mungkin …!” Muncul dari setiap mulut para tentara Filistin ketika melihat Daud yang muda. Orang Filistin meyakini kemenangan pasti ada di pihak mereka karena memiliki seorang prajurit tinggi dan besar, membawa lembing dan tombak (Ayat 45), berperisai dan berbaju perang (Ayat 41). Di pihak Israel, mereka hanya diwakili seorang anak muda (Ayat 42), dan belum pengalaman dalam peperangan, hanya bersenjata tongkat dan umban batu (Ayat 43). Karena itulah, Goliat menghina Daud (Ayat 41). Di sini kita melihat perbandingan yang tidak seimbang dalam postur tubuh, pengalaman perang, kelengkapan, dan kualitas senjata. Namun, Daud meletakkan kekuatannya bukan pada keahlian mengumban batu dan melumpuhkan binatang buas, tetapi kepada Allah Sang Pencipta dan Pemelihara semesta (Ayat 45-47). Umban batu, yang diremehkan dan ditertawakan Goliat dan banyak orang, membawa kemenangan besar bagi Daud dan Israel. Apa yang dihina Goliat menjadi kehinaan bagi dirinya sendiri. Ini menegaskan bahwa Allah, Sang Mahakuasa, telah menyatakan kebesaran-Nya melalui hal-hal kecil yang dianggap sepele oleh banyak orang. Hal yang kecil di tangan Allah telah menjadi perkara yang sangat besar dalam sejarah Israel. Daud dianggap kecil, tetapi mempunyai iman yang sangat besar kepada Allah. Allah dapat memakai yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin. Sahabat, mari belajar dari Daud yang hidup karena PERCAYA bukan karena melihat. Fokus dan pandangan Daud bukan kepada Goliat, Sang Raksasa, tapi kepada Allah yang Mahakuasa yang menyertainya. Daud dengan optimis meju menghadapi  Goliat karena dia berpijak pada pengalamannya bersama Allah ketika dia menjalani hidup sebagai seorang gembala domba. Karena penyertaan Allah, kita menjalani hidup dengan optimis. Bersama dengan Allah  kita berani menghadapi masalah apa pun yang ada di depan kita. Inilah yang menjadi moto hidup kita: Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Selanjutnya, izinkan Allah yang mengerjakan perkara besar-Nya bagi kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 45? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kalau dulu Tuhan menolong Daud, sekarang pun kita percaya Tuhan pasti akan menolong kita, karena Dia adalah Tuhan yang tidak berubah! (pg).

Learn to See the Heart

PENAMPILAN LUAR. Sahabat tentu masih ingat dengan satu ungkapan lama dalam bahasa Inggris: “Don’t judge a book by the cover”. Tapi naluri manusiawi kita berkata lain: Memandang seseorang yang berpakaian rapi, wangi, warnanya belum pudar, dan gaya yang tidak norak; tentu menjadi nilai plus tersendiri yang mampu memanjakan mata. Walaupun penampilan luar bukan segala-segalanya dan menjadi faktor penentu, bagaimanapun juga penampilan luar adalah hal pertama yang memberi kesan, berujung penilaian sementara terhadap orang lain. Terutama bagi orang yang baru ditemui atau memiliki peran penting. Lalu apa arti suatu penampilan luar? Penampilan luar (fisik) manusia adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penampilan luar manusia yang mudah diamati dan dinilai oleh manusia lain. Penampilan luar secara disadari atau tidak, dapat menimbulkan tanggapan tertentu dari orang lain. Sekalipun, dalam kenyataannya ada cukup  banyak ahli yang tidak setuju jika penilaian akan seseorang didasarkan pada penampilan luarnya saja. Saat ini, penampilan luar  yang menarik sudah dijadikan sebagai syarat tidak resmi di beberapa lapangan pekerjaan. Beberapa lapangan pekerjaan telah menuntut para pegawainya  untuk berpakaian dan berpenampilan baik dalam menerima konsumen. Peran dari penampilan luar adalah untuk memberikan  gambaran singkat akan diri orang tersebut. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Learn to See the Heart (Belajarlah Melihat Hati)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 16:1-13. Sahabat, kita cenderung menilai seseorang berdasarkan penampilan luar dan lupa melihat ketulusan hati orang tersebut. Samuel berduka karena Saul telah ditolak oleh Allah sebagai raja atas Israel (Ayat 1) dan ia pun takut dibunuh oleh Saul ketika Allah memintanya untuk mencari seorang raja baru di antara anak-anak Isai (Ayat 1, 2). Dalam kesedihan Samuel, Allah memberikan petunjuk: Apa yang harus ia lakukan (Ayat 2-3). Samuel dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Allah. Sahabat, ia melakukan persembahan kurban untuk menguduskan serta mengundang Isai dan anak-anaknya datang ke upacara tersebut (Ayat 4-5). Ini merupakan awal proses pemilihan raja Israel yang baru di antara anak-anak Isai. Awalnya, Samuel berpikir Eliab, tetapi ternyata bukan. Kemudian tampil Abinadab, lalu Syama, sampai ketujuh anak Isai telah tampil di depan Samuel, namun semuanya bukan pilihan Allah (Ayat 6, 8, 9-10). Allah mengingatkan Samuel bahwa bukan yang dilihat manusia yang dilihat-Nya. ALLAH MELIHAT HATI, BUKAN PENAMPILAN LUAR (Ayat 7). Ternyata masih ada anak bungsu Isai yang belum dilihat Samuel. Si bungsu, Daud, bekerja sebagai gembala, ternyata yang dipilih Allah. Sejak itu, Roh Allah berkuasa di atasnya (Ayat 11-13). Samuel terkecoh oleh penampilan luar seseorang. Kita dapat mengelabui orang dengan sandiwara melalui penampilan luar kita,  Namun sesungguhnya, hal tersebut menjadikan kita sebagai orang munafik semata. Kita harus ingat bahwa tidak seorang pun yang dapat mengelabui Allah. Allah melihat sampai ke relung hati kita yang terdalam sehingga tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Sahabat, mari kita tidak menilai saudara seiman secara kasatmata. Kiranya pada saat kita menilai seseorang, kita perlu mencari tahu isi hati orang tersebut. Mari kita juga memohon hikmat Allah untuk dapat menilai orang lain sesuai dengan apa yang Allah nyatakan kepada kita sehingga tidak terjadi perbedaan dalam menilai. Belajarlah melihat hati. Belajarlah melihat lebih dalam! MELIHAT HATI. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang penampilan luar. Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah melihat dan memilih orang yang akan dipakai menjadi alat-Nya bukan dari fisik tetapi dari hatinya. (pg).

UJUNG PENA PAULUS

(Sebuah refleksi untuk senior,  Pdm. Paul Gunawan, yang hari ini, 29 September 2023, berulang tahun) Saudaraku, Paulus merupakan penulis yang produktif pada masanya.  Tulisannya berupa surat-surat tersebar untuk meretas jarak.  Dalam suratnyalah Paulus menyampaikan rasa hati, refleksi dan sikapnya terhadap permasalahan dalam jemaat atau orang yang dia kasihi. Mari kita merenungkan salah satu tulisan Paulus yang terakhir, 2 Timotius 4:6-8, sebuah surat yang ditujukan kepada Timotiius, anak rohani yang dikasihinya.  Paulus  memang tidak membuahkan karya berupa buku atau jurnal, namun ia menuangkan padangan teologi dan refleksinya lewat SURAT.   Surat-surat itu menjadi pegangan bagi jemaat dan pribadi yang dituju sebagai perwakilan kehadiran Paulus di situ.  Begitu pentingnya tulisan surat Paulus bagi jemaat dan pribadi yang bergumul dan menghadapi masalah.  UJUNG PENA Paulus berbicara, menyapa, menegur dan meluruskan jemaat yang sedang menghadapi masalah.  Ujung pena itu juga menyapa dengan mesra pribadi-pribadi yang dikenalnya dengan dekat (Timotius, Filemon)  dan bahkan memberikan nasihat yang dalam. Dari sekian banyak surat  Paulus, ada beberapa yang dituliskan saat Paulus dalam penjara yaitu surat Efesus, Kolose, Filipi dan Filemon.  Namun Surat 2 Timotius dituliskan justru saat Paulus berusaha mencari keadilan atas kasusnya dan mendapati bahwa perjuangannya akan gagal.  Ujung pena Paulus berbicara dalam berbagai situasi hidupnya: Saat ia sehat dan kuat, saat ia bergumul dengan sakit yang menyiksa dan bahkan saat dalam penjara.  Bahkan ketika hidup akan berakhir, ujung pena Paulus tetap berbicara meneguhkan Timotius dan mengingatkannya terhadap panggilan untuk melayani jemaat sampai akhir.  Paulus menyadari bahwa di sisa waktunya, ia harus memanfaatkan waktu dengan baik dengan terus menuliskan surat yaitu untuk menyatakan iman percayanya dan perjuangannya mengikut Kristus. Ujung pena Paulus dipakai Tuhan untuk meneguhkan banyak orang.  Melaluinya nama Tuhan dikenal oleh banyak orang dari generasi ke generasi.  Bahkan saat semua tempat tujuan surat itu sudah hancur, tulisan Paulus menjadi referensi untuk orang Kristen masa kini mengenal Kristus dengan lengkap.  Teologi Paulus melengkapi orang Kristen untuk merefleksi Kristus.  Ujung pena Paulus mengukir wajah kekristenan seperti yang kita kenal sekarang. Menulis bisa menjadi berkat manakala tulisan itu memperkenalkan Sang Kristus dan perbuatan ajaib-Nya bagi sang penulis.  Lewat tulisan, kisah perjuangan untuk tetap beriman kepada Allah menjadi hidup.  Bahkan saat genting kehidupan, seperti yang dituliskan Paulus dalam perenungan kita,  iman dihidupkan dengan tulisan.  Menulis bukan tugas sederhana. Menulis adalah penginjilan, penyebaran kabar baik.  Menuliskan tentang Kristus akan menghidupkan Kristus dalam pemikiran para pembacanya.  Mari bersyukur untuk tulisan Rasul Paulus dan mari temukan Kristus melalui tulisan anak-anak Tuhan yang diberi karunia untuk melakukannya. Teruslah gigih membaca karena ada Kristus dalam setiap ujung pena orang yang takut akan Allah. Selamat ulang tahun Pak Paul. Teruslah menulis. Tuhan memberkati. (Ag)

PERUMPAMAAN: JEMBATAN DAN PEMISAH

Saudaraku, Yesus merupakan Guru yang populer.  Ia bagaikan magnet bagi pendengarnya karena pengajaran-Nya lebih berkuasa daripada ahli Taurat (Markus 1:22).  Injil Markus mencatat bahwa Yesus mengajar banyak hal dengan perumpamaan kepada masyarakat umum.  Mari kita merenungkan Markus 4:1-2. Mengajar dengan perumpamaan merupakan metode yang lazim dilakukan oleh beberapa guru Yahudi untuk mengajarkan hal-hal yang sulit atau abstrak.  Ada beberapa alasan mengapa Yesus menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah : Yesus ingin menjembatani konsep abstrak dengan realitas. Perumpamaan yang diambil Yesus berasal dari realitas keseharian masyarakat saat itu.  Markus 4 bebicara tentang Konsep Kerajaan Allah yang rumit tapi penting akan lebih mudah dipahami dengan menggunakan perumpamaan yang melaluinya segala yang tersembunyi akan dapat dipahami (Matius 13:35). Merangsang kemampuan reflektif para murid seusai mendengarnya. Walaupun menjadi jembatan untuk menghubungkan para pendengar  dengan materi pengajaran, tidak semua orang paham dengan apa yang dimaksud.  Itulah sebabnya refleksi perumpamaan juga menjadi pemisah bagi mereka yang ingin memahami atau mereka yang mendengar dengan sambil lalu.  Para murid justru mencari Yesus untuk mendapat pencerahan lebih lanjut (Markus 4:12). Perumpamaan memang menjembatani namun juga memisahkan.  Ia menjembatani yang tersembunyi dan yang nyata, namun memisahkan pendengar yang reflektif dan tidak.  Mereka yang reflektif akan diperkaya dan menemukan MUTIARA FIRMAN  yang berharga, mereka yang tidak memikirkan lebih dalam hanya akan terpesona dengan CERITA  namun gagal menemukan MAKNA.   Perumpamaan membantu PENGAJAR  dan PEMBELAJAR  sehingga Kerajaan Allah dapat diperkenalkan, dipahami dan dihadirkan dalam realitas manusia.  Ada banyak pengajaran yang berlalu lalang di sekitar kita dan seringkali pengajaran itu terlalu sulit dipahami dan terasa terbang di awang-awang sehingga memisahkan prinsip Firman dengan kehidupan sehari-hari.  Ada juga pengajaran yang kelewat aplikatif sehingga bahkan dasar pijak Firman terlalu rapuh sehingga berpotensi menyimpang.  Penting untuk menjembatani konsep abstrak Firman dengan kehidupan sesehari, juga untuk mengajak jemaat  berpikir reflektif terhadap kebenaran Firman.  Dengan refleksi dan berdialog dengan Firman,  jemaat tidak hanya menikmati cerita perumpamaan itu namun juga memahami dengan sungguh-sungguh makna dan pesan Firman dibalik perumpamaan itu.  Kiranya Tuhan mengaruniakan hikmat kepada para pengajar untuk menemukan jembatan yang mempertemukan Sang Firman dengan para pendengarnya serta membuat pendengar mendapatkan Sang Firman dengan refleksi dan perenungannya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)