AMARAH SEORANG PEREMPUAN

Saudaraku, perempuan sering digambarkan sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi laki-laki.  Karena hal ini maka seorang perempuan seringkali dianggap tidak berdaya dan tanpa kekuatan, padahal anggapan ini sangat jauh dari kenyataan. Kemarahan seorang perempuan yang terluka akan menimbulkan akibat yang fatal. Mari kita merenungkan Markus 6:14-28. Semua orang Israel sangat menghormati Yohanes Pembaptis, bahkan penguasa Yehuda saat itu (Herodes Antipas) pun sadar bahwa Yohanes orang yang benar dan suci (Markus 6: 20).  Walaupun Yohanes dipenjarakan,  Herodes segan mengambil tindakan yang lebih tegas karena ia pun suka mendengarkan Yohanes.  Benci tapi rindu.  Perasaan yang berbeda dirasakan oleh Herodias, istri Herodes Antipas. Ada peristiwa yang sangat melukai hati Herodias saat Yohanes berulang kali menegur Herodes karena sudah menikahinya (Markus 6:18).  Pernikahan itu melanggar Taurat.  Karena Herodias memang pernah menjadi istri orang dan Herodes sendiri juga sudah beristri.  Teguran Yohanes melukai hati Herodias karena menganggap Yohanes menghalangi keinginan dan tujuan hidupnya.  Luka hati ini mendorong Herodias bergerak untuk melenyapkan Yohanes dengan cara :  Membujuk suaminya memenjarakan Yohanes Dengan memasukkan Yohanes dalam penjara, Herodias hendak melokalisir berita kebenaran.  Ia tahu Yohanes memiliki massa yang loyal di luar sana yang bisa menggoyang kedudukannya dan bahkan menghancurkan harapan masa depannya sebagai istri penguasa. Memanfaatkan anaknya untuk menghancurkan Yohanes Herodes tidak bisa membunuh Yohanes karena rasa hormatnya.  Hal ini membuat Herodias terus mencari cara untuk menuntaskan dendamnya.  Herodias sabar menunggu waktu.  Markus menuliskan: “ … tibalah kesempatan yang baik bagi Herodias, …” (Markus 6:21) yang menandakan bahwa Herodias benar-benar menunggu setiap saat untuk membunuh Yohanes dengan cara yang “bersih”.  Anak perempuannya yang menjadi alat untuk mengeksekusi Yohanes, orang yang dibencinya.  Perempuan ternyata tidak lemah, apalagi saat ia tersakiti.  Kekuatan dan kesabaran untuk membalas dendam seorang perempuan yang tersakiti sungguh di luar dugaan bahkan seorang yang dihormati dan disegani seperti Yohanes pun mati karena dendam seorang perempuan. Melihat kekuatan ini maka seorang perempuan harus belajar selalu hidup dalam takut akan Allah (Amsal 31:30) agar kekuatan itu digunakan untuk perkara yang positif dan membangun sesamanya.  Dalam keluarga pun seorang perempuan harus belajar tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22, Kolose 3:18, 1 Petrus 3:2).  Ketika kemarahan menguasainya, seorang perempuan perlu untuk meletakkan Allah sebagai Pribadi yang harus dihargai lebih dari segalanya sehingga tidak membalas demi memuaskan egonya sendiri.  Mari kaum laki-laki belajar memandang dan memperlakukan para perempuan dengan lebih baik sesuai Firman Tuhan.  Mari kaum perempuan makin belajar hidup takut akan Tuhan karena kemarahan akibat luka hati bisa menghancurkan orang lain dan juga diri sendiri.  Belajarlah menundukkan ego di hadapan Tuhan dan membuat hidup ini menjadi berkat dan bukan menjadi laknat untuk orang lain.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Living As A Refugee

PENGUNGSI. Sahabat, pengungsi (pelarian)  adalah seseorang atau sekelompok orang yang terpaksa meninggalkan negaranya atau wilayahnya  karena ancaman, penganiayaan, perang atau kekerasan. Seorang pengungsi mempunyai ketakutan yang beralasan akan ancaman dari penguasa di negaranya atau kelompok mayoritas. Kemungkinan besar, mereka tidak dapat kembali ke rumah atau takut untuk melakukannya.  Lazimnya setiap pengungsi biasanya ditempatkan di sebuah tempat penampungan untuk memudahkan para relawan mengurusi dan menolong mereka. Lama pengungsi berada di sebuah tempat penampungan tidak dapat diprediksi. Tergantung dari kondisi atau situasi itu sendiri. Biasanya pengungsi diurus oleh pemerintah setempat, tetapi itu tidak menutup kemungkinan para relawan datang untuk membantu. Dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) saya mendapat informasi bahwa  Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi, mendefinisikan pengungsi sebagai:  “Orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada diluar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.” Ketika pengungsi meninggalkan negara asal atau tempat tinggalnya, mereka meninggalkan hidup, rumah, kepemilikan dan keluarganya. Pengungsi tersebut tidak dapat dilindungi oleh negara asalnya karena mereka terpaksa meninggalkan negaranya. Karena itu, perlindungan dan bantuan kepada mereka menjadi tanggung jawab komunitas internasional. UNHCR bersama dengan para mitranya mempromosikan aktivitas perlindungan dan program bantuan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dan pencari suaka terpenuhi selama mereka menantikan solusi jangka panjang yang paling tepat. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Living As A Refugee (Hidup Sebagai Pengungsi)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 21:1-22:5. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, perjalanan hidup Daud  sepertinya menjauh dari prospek yang mungkin pernah terbayang olehnya, saat ia diurapi Samuel. Hidupnya bukan semakin menanjak menuju puncak karier, malah terus turun ke lembah.  Saat itu  Daud menjadi pelarian.  Ia menjadi seorang pengungsi. Ada tiga peristiwa yang dicatat dalam bacaan kita pada hari ini menunjukkan betapa tidak nyamannya Daud dalam pengungsian. Pada peristiwa pertama, Daud terpaksa berbohong kepada imam Ahimelekh agar kedatangannya tidak dicurigai. Pelajaran pahit akan diterima Daud kemudian karena kebohongannya itu menjadi malapetaka buat keluarga Ahimelekh (1 Samuel  22:16-17). Daud belajar agar dalam situasi apa pun, dia tidak boleh berbohong, melainkan bersandar kepada Tuhan. Peristiwa kedua sesungguhnya sangat memalukan. Hal yang ironis terjadi. Pahlawan Israel yang telah mengalahkan pendekar Filistin dan banyak pasukannya, harus lari ke wilayah Filistin demi keselamatannya. Lebih menghancurkan harga diri lagi, Daud harus berpura-pura gila demi menutupi identitasnya sebagai musuh Filistin. Peristiwa ketiga, dalam pelarian ternyata Daud tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami hal serupa dengan yang dialami Daud, bergabung dengannya. Mereka harus lari dari kenyataan hidup yang keras, walau tidak berarti mereka bisa menghindar dari kesulitan. Hal yang sedikit menghibur hati ialah mereka menjadi satu gerombolan yang termobilisasi dengan baik. Kita percaya pada pemeliharaan Allah atas orang urapan-Nya. Pemeliharaan Allah tidak berarti pemanjaan, melainkan pendisiplinan. Apa yang Daud alami, merupakan latihan mental untuk siap kelak menjadi pemimpin yang tidak mengulangi kesalahan pemimpin lama, Saul. Sahabat, mari belajar dari kisah pelarian Daud ini, untuk menjadi lebih bersandar kepada Tuhan daripada mengandalkan hikmat dan kekuatan sendiri. Ada waktunya, dunia berupaya menghancurkan orang percaya dari iman mereka kepada-Nya. Saat-saat seperti itu, kita boleh tetap percaya dan mengandalkan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari 1 Samuel 21:13-15? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam situasi apa pun, marilah kita belajar bersandar kepada-Nya. Dalam Tuhan, selalu ada jalan keluar atas segala permasalahan hidup kita. (pg).

Being A Brother in the Difficult Times

SAHABAT SEJATI. Banyak persepsi tentang sahabat sejati, coba kita simak pernyataan Hellen Keller, seorang penulis yang buta dan tuli asal Amerika: “Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang.” Dalam menjalani kehidupan ini, kita akan bertemu banyak orang. Kita akan bertemu teman-teman baru, saling bergaul, kemudian akrab dengan seseorang yang paling cocok dengan kita. Saat kita sudah menemukan teman yang paling sesuai dengan kita, maka kita menyebutnya sebagai sahabat sejati. Sahabat sejati adalah orang yang selalu bisa menerima kita apa adanya. Seseorang yang selalu mau menerima keluh kesah ketika kita ada masalah. Seseorang yang tidak pernah menjelekkan atau menceritakan aib sahabatnya kepada oang lain. Sahabat sejati adalah seseorang yang selalu memercayai kita, seseorang yang tidak akan pernah berkhianat dengan kita. Sahabat sejati adalah seorang yang selalu menasihati saat kita berbuat salah. Seorang yang selalu memberikan semangat dan dorongan saat kita terpuruk. Seorang yang ikut bahagia saat kita meraih keberhasilan, dan seorang yang  akan menangis saat kita mendapat musibah. Mendapatkan sahabat sejati yang selalu mengerti setiap keadaan kita, baik senang maupun susah merupakan anugerah Tuhan yang  indah dalam hidup. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Being A Brother in the Difficult Times (Menjadi Saudara di Masa Sulit)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 20:1-43 dengan penekanan pada ayat 42. Sahabat, salah satu kisah persahabatan yang paling indah dicatat dalam Alkitab adalah persahabatan Yonatan dan Daud. Dalam 1 Samuel 18:3 disebutkan Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Yonatan adalah putra mahkota kerajaan Israel, anak tertua raja Saul. Meskipun ada perbedaan status sosial yang sangat mencolok antara dia dan Daud yang hanyalah seorang gembala kambing dan domba. Dalam sebuah peristiwa ketika akan maju berperang Yonatan memberikan jubah yang dipakainya bersama baju perang, pedang, panah, dan ikat pinggang.  Padahal jubah dan perlengkapan perang adalah lambang kehormatan dan kedudukan. Yonatan bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawanya demi Daud. Bagi Yonatan prinsip hidupnya sederhana,  ia rela berkorban demi sahabatnya. Sahabat, ujian terberat dalam persahabatan antara Yontan dan Daud adalah ketika Saul ayah Yonatan menyatakan sikap menjadikan Daud tidak hanya sebagai musuh pribadinya tetapi juga musuh negara. Saul berusaha melenyapkan Daud dari kehidupannya akibat kecemburuannya yang sangat besar terhadap keberhasilan Daud, selain itu juga untuk menjaga status dan kedudukannya dalam kerajaan. Saul melihat Daud sebagai ancaman bagi mahkotanya. Yonathan pasti berada di sisi yang sulit. Kalau ia memilih Daud maka ia akan dicap anak  durhaka, jika ia memilih berdiri di sisi ayahnya ia mengkhianati hati nuraninya sebagai seorang sahabat yang telah berjanji menjaga dan mengasihi sahabatnya. Sahabat,  Yonatan adalah seorang manusia yang memiliki komitmen tinggi kepada kebenaran. Ia memilih di sisi Daud bukan karena Daud sahabatnya tetapi karena Daud ada di pihak yang benar. Untuk itu tidak ada pilihan lain dia harus melawan, meskipun itu ayah kandungnya.  Marilah kita belajar menjaga hati dan pikiran kita seperti Daud dan Yonatan. Daud tidak membenci Yonatan karena perbuatan ayahnya yang tidak adil, dan Yonatan tidak memihak Saul meski itu ayah kandungnya. Persahabatan sejati justru teruji melalui peristiwa-peristiwa besar, dan penuh pergumulan.  Benarlah apa yang dinyatakan oleh Pengamsal: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang Sahabat Sejati? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sahabat sejati tidak memaksa engkau memercayainya, tetapi ia memastikan engkau memercayai Allah. (pg).

The Journey of Life

TRAGEDI DAN KOMEDI. Sahabat, mana yang membuat kita tertawa, tragedi atau komedi? Semua orang, kecuali mereka para penikmat derita (masokis), hampir pasti akan memilih komedi. Tragedi dan komedi adalah dua tema besar yang dikotomi di atas kanvas kehidupan kita. Tragedi dan komedi adalah bentuk sastra yang paling tersebar luas dalam teater Yunani Kuno. Terdapat beberapa karya sastra dalam genre ini bahkan hingga saat ini, namun karya-karya yang ditulis oleh para penulis Yunani Kuno adalah yang paling berharga. Dari artikel di Kompasiana  saya mendapat informasi bahwa secara etimologis, tragedi berangkat dari kata Yunani tragoidia, terbagi dari kata tragos, artinya kambing dan aeidein yang berarti nyanyian. Menggambarkan nyanyian yang mengiringi nasib seekor kambing yang dikorbankan pada acara ritual dalam budaya Yunani kuno. Sedangkan komedi berasal dari bahasa Yunani komoida berarti suatu karya lucu yang semata bertujuan untuk menghibur dan menimbulkan tawa. Sastra Yunani mengenal yang namanya tragedi dan komedi. Tragedi artinya perjalanan hidup seseorang yang sedang merosot sampai ke titik nadir (paling rendah). Sedangkan dari komedi sebaliknya, perjalanan seseorang yang menanjak sampai ke puncak. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “The Journey of Life (Perjalanan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 19:1-24. Sahabat, berbarengan dengan kisah hidup Saul yang merosot terus dalam berbagai aspek kehidupannya (tragedi), Daud dikisahkan sedang menanjak oleh anugerah Tuhan menuju posisi puncak, yaitu menjadi raja atas Israel (komedi). Saul telah terobsesi untuk membunuh Daud. Namun karena teguran Yonatan, putranya, Saul urung membunuh Daud. Bahkan sikapnya itu dikuatkan dengan suatu sumpah yang berat (Ayat 6). Ternyata sumpahnya hanya bertahan di bibir. Saat Daud kembali menang perang, kedengkian Saul terhadap Daud menggelora kembali. Mari kita sejenak kembali mengamati 1 Samuel 18, untuk menyingkirkan Daud, Saul menggunakan berbagai cara. Cara yang satu tidak berhasil (Ayat 9-10), cara lain digunakan (Ayat 11-17; 20-24). Sahabat, hidup Saul semakin merosot. Perhatiannya sekarang bukan pada bagaimana memerintah bangsanya, tetapi bagaimana membinasakan Daud. Di satu sisi, jelas kekalapan Saul merupakan akibat dari ketidaktundukannya pada kehendak Tuhan, dan sekaligus penghukuman Tuhan atas kedegilan hatinya. Namun di sisi lain, Saul sendiri menolak bertobat dari dosanya. Bagi Daud, perjalanan menuju puncak sepertinya masih harus melewati jalan yang landai. Berulang kali dalam pasal ini, dan masih akan terjadi di pasal-pasal berikut, ia harus melarikan diri dari rencana keji Saul untuk menyingkirkannya. Syukur kepada Tuhan, dalam salah satu pelariannya ia dapat berjumpa dengan Samuel. Samuel secara jabatan sebagai nabi sudah emeritus, tetapi hatinya tetap penuh kasih dan peduli. Penyertaan Samuel pada Daud pasti menguatkan Daud yang sedang galau. Sahabat, mungkin saat ini, dalam perjalanan hidup kita, ada diantara kita yang merasa galau seperti Daud. Ada sosok “Saul” yang membayangi kita. Ingat, kita tidak sendirian. Tuhan siap menyediakan “Samuel” untuk mendampingi dan menguatkan kita. Percayalah dan tetap bersandar kepada-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Usaha apa saja yang telah dilakukan Saul untuk membunuh Daud? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah menginginkan kita menjauhkan diri dari niat dan perbuatan jahat. (pg).

YAIRUS MELAWAN ARUS

Saudaraku, orang tua yang menghadapi anak sakit parah bukanlah akan menempuh segala cara agar anaknya pulih kembali.  Gelisah, putus asa, merasa bersalah dan takut kehilangan, akan berkecamuk, sehingga bisa membuat mereka menjadi pribadi yang pemberani untuk mencari solusi.  Mari kita merenungkan Markus 5:21-24. Profesi Yairus menuntutnya selalu berada di sinagoge (rumah ibadat Yahudi) untuk memastikan semua kegiatan peribadatan berlangsung baik dan teratur.  Karena pekerjaannya, ia memiliki hubungan baik dengan para Imam, kaum Farisi dan bahkan para ahli Taurat. Ia terbiasa dengan suasana rohani dan situasi khusyuk saat berdoa. Namun anehnya saat menghadapi anaknya sekarat, Yairus  malah mencari Yesus yang saat itu banyak dibicarakan dengan nada negatif oleh para rohaniawan.  Yairus melihat Yesus sebagai jalan keluarnya, maka  itulah yang menyebabkan ia rela berdesakan dengan banyak orang yang mengerumuni Yesus dan bahkan berlutut di kaki-Nya di hadapan orang banyak itu.  Yairus benar-benar merasa putus asa karena tekanan pikiran gara-gara anaknya dan ia tahu bahwa satu-satunya yang bisa menolong adalah Yesus, walaupun  Yairus tahu bagaimana lingkungan sekitarnya bersikap.  Yairus melawan arus para rohaniawan yang menjadi rekan dan atasannya,  ia bahkan mempertaruhkan reputasinya dengan tanpa malu berlutut di kaki Yesus sebagai lambang penundukan dan sekaligus ekspresi keputus asaan Yairus sendiri.  Yairus tidak peduli dengan penilaian orang banyak yang pasti mengenali dirinya dan profesinya.  Baginya yang penting anaknya tertolong.  Ia bahkan rela menunduk dan memohon kepada Yesus, guru muda yang masuk dalam pengawasan para rohaniawan.  Ia bertaruh dengan pekerjaan dan masa depan keluarganya.  Yairus tidak peduli. Setiap manusia memiliki hal yang berharga dalam hidupnya, yang bila itu akan hilang maka akan diperjuangkan mati-matian bahkan ia rela untuk melawan orang di sekitarnya demi mempertahankan apa yang berharga.  Bagi setiap pengikut Kristus, tidak ada yang lebih berharga selain Kristus sendiri.  Alkitab mencatat para pejuang iman yang gigih dan rela untuk memberikan apapun demi tetap memegang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Salah satunya adalah  Rasul Paulus yang rela melupakan masa lalunya  (Filipi3:13)  dan bahkan rela menanggung segala derita demi Kristus (2 Korintus 4:8-9 ;  11:23-28). Kisah pejuang iman akan terus dilanjutkan sampai saat ini.  Mungkin sekarang para pembacalah yang sedang menorehkan nama masing-masing di Buku Kehidupan sebagai pejuang iman.  Selama Kristus masih menjadi yang paling berharga, orang Kristen akan terus memperjuangkan imannya.  Di masa sekarang orang Kristen menghadapi tantangan yang berat dan kompleks.  Arus dunia sedang mengarah jauh dari Tuhan dengan kemunculan ajaran-ajaran yang menyimpang, kehidupan yang makin bebas, penyimpangan seksual yang terekspos dengan bebas, kekerasan yang menjadi info sehari-hari ataupun pertengkaran yang memecah belah gereja dan pekerjaan Tuhan.  Di zaman ini  orang yang benar-benar memegang Sang Kristus akan terus berjuang walau harus melawan arus.  Inilah zaman seleksi iman yang ketat,  maka jadilah pejuang iman yang bergantung pada Allah.  Jangan takut melawan arus selama engkau disertai Sang Kristus. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).