The Foolish Conscience

HATI NURANI. Sahabat, dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa hati nurani adalah suatu proses kognitif yang menghasilkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang. Hati nurani berbeda dengan emosi atau pikiran yang muncul akibat persepsi indrawi atau refleks secara langsung, seperti misalnya tanggapan sistem saraf simpatis. Dalam bahasa awam, hati nurani sering digambarkan sebagai sesuatu yang berujung pada perasaan menyesal ketika seseorang melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai moral mereka. Selanjutnya dari beberapa literatur saya mendapat informasi bahwa hati nurani atau suara hati berperan terutama saat kita mau mengambil sebuah keputusan. Ia dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran moral seseorang dalam situasi yang konkret. Artinya, dalam menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup, ada semacam suara dalam hati kita untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan dan menuntut kita bagaimana merespons kejadian tersebut. Hati nurani yang baik, dapat menjadi kompas moral dan menuntun kita menjadi pribadi yang berperilaku positif. Sebagai umat beragama, hati nurani ini dipercayai menjadi tempat Tuhan mewahyukan diri secara hidup dalam hati kita. Jadi, hati nurani juga dapat dikatakan sebagai sebuah perasaan moral dalam manusia, yang dengannya dia memutuskan mana yang baik dan jahat, dan mana yang menyetujui atau menyalahkan perbuatannya. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “The Foolish Conscience (Hati Nurani yang Bebal)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 15:1-35. Sahabat, kendati hati Saul memberontak kepada Tuhan, Tuhan masih berkenan kepada-Nya. Hukuman yang Tuhan jatuhkan adalah dinasti Saul tidak akan bertahan (1Samuel 12:14). Namun sejauh yang dicatat Alkitab, Saul tidak sedikit pun menunjukkan penyesalan. Ia terus mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Berbeda dengan Samuel yang hingga masa tuanya tetap hidup berintegritas sehingga bisa menjadi teladan bagi umat Israel, Saul tampaknya hanya mengandalkan jabatan dan kekuasaannya. Alih-alih menjadi pemimpin yang tegas bagi umat Israel agar sesuai kehendak Tuhan, Saul malah memilih menjadi pemimpin yang populis dan mengabaikan kehendak Tuhan demi disukai rakyatnya. Sahabat, dalam kehidupan sehari-hari kita juga seringkali dihadapkan pada pilihan untuk taat pada pimpinan Tuhan atau memilih keuntungan di depan mata. Jika Tuhan sudah mengubah hati kita, maka mengikuti tuntunan Tuhan akan menjadi sesuatu yang alami, bukan lagi pilihan. Bagi rakyat Israel, bacaan kita pada hari ini memaparkan dengan gamblang kondisi kerohanian mereka yang sesungguhnya. Kehidupan mereka telah menjadi hidup yang menomorsatukan keuntungan duniawi, sehingga tanpa berpikir panjang umat beramai-ramai mengabaikan perintah Tuhan dan menyimpan barang jarahan. Sahabat, kegagalan Saul menjalankan fungsinya sebagai raja yang seharusnya dengar-dengaran pada pimpinan Tuhan dan memimpin umat Tuhan untuk tetap taat kepada-Nya, telah menjadi sedemikian parah sehingga Tuhan menolaknya. Ketidakpekaan terhadap pimpinan Tuhan yang diteladankan oleh Saul telah merasuki sendi-sendi kehidupan umat Israel sehingga mereka tak lagi bisa mengenal apa yang benar dan apa yang salah. Samuel sebagai pemimpin yang hidup dekat Tuhan merasa sakit hati atas apa yang terjadi (Ayat 11). Sementara Saul, bahkan setelah ditolak oleh Tuhan, lebih mementingkan gengsinya di hadapan publik, alih-alih menunjukkan pertobatan yang sungguh (Ayat 30). Jika Tuhan menegur, baiklah kita peka. Jangan biarkan hati kita perlahan-lahan menjadi semakin kebal terhadap suara-Nya. Jangan sampai hati nurani kita menjadi bebal. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 22-24? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hendaknya kita menyadari bahwa kesombongan merupakan  dosa besar yang membuat telinga hati kita menjadi tuli sehingga tidak bisa mendengar suara Allah. (pg).

The Impulsive Saul

IMPULSIF. Pagi itu saya dikejutkan oleh seorang teman dalam grup WA yang saya ikuti. Secara tiba-tiba dia menyatakan keluar dari grup WA tanpa sebuah alasan yang jelas, namun tiba-tiba dia juga ingin kembali bergabung dengan grup WA tersebut. Seorang psikiatri yang juga menjadi anggota grup WA tersebut berkomentar: “Dia mulai terkena sindrom Impulsif” Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti impulsif adalah bersifat cepat  bertindak secara tiba-tiba mengikuti  gerak hati. Impulsif adalah sebuah perilaku yang ditandai ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya dan dilakukan secara berulang-ulang. Biasanya seseorang dengan perilaku impulsif merasa perlu untuk melakukannya demi memperbaiki perasaannya meski hanya sementara. Perilaku impulsif bisa muncul karena seseorang tersebut memiliki tekanan atau ketegangan yang sudah lama dipendam sehingga ia perlu meluapkan dengan tindakan yang terbesit di dalam pikirannya. Namun, beberapa orang yang memiliki sifat impulsif ini juga merasa perasaan bersalah atau malu setelah melakukan tindakan yang mereka lakukan. Sifat impulsif ini juga bisa terjadi saat seseorang menggunakan uang. Beberapa orang menghabiskan uang tanpa berpikir panjang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Bahkan kadang mereka ingin berbelanja hanya karena penat atau stres sehingga mereka hanya ingin berbelanja untuk membuat perasaan mereka lega. Tidak jarang beberapa orang seperti itu kemudian akan berakhir dengan tunggakan hutang dan tagihan karena mereka tidak pernah memikirkan akibatnya  saat melakukan tindakan impulsif. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “The Impulsive Saul (Saul yang impulsif)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 14:24-52. Sahabat, dalam rentang yang singkat, bertubi-tubi kita disodori kisah Saul yang gegabah dan IMPULSIF.  Saul bukan lagi sosok yang ketika muda menjadi pengharapan umat dan yang merasa diri tidak layak di hadapan Tuhan. Kini Saul merasa diri seorang raja yang layak dan Tuhan hanya sebagai pelengkap yang sewaktu-waktu bisa dipakai atau diabaikan tergantung suasana. Sikap Saul yang merasa dirinya semakin penting ternyata membuat kelemahannya menjadi terpaparkan kepada publik. Di tengah pertempuran, dengan gegabah ia membuat sumpah konyol: Rakyat disuruh bersumpah untuk berpuasa justru ketika peperangan menuntut stamina dan kesegaran. Motifnya pun sangat pribadi: “… sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku” (Ayat 24). Bukan kepentingan Tuhan dan apa yang Tuhan sukai yang menjadi kriteria berpikir Saul, melainkan dirinya sendiri yang menjadi tolok ukur dalam pengambilan keputusan. Sahabat, mulai ayat 36, sekali lagi Saul menunjukkan sikap IMPULSIFNYA hingga ia sampai perlu diingatkan untuk memohon perkenan Tuhan atas rencananya (Ayat 36). Ketika Tuhan tidak menjawab, segera pedang menjadi alternatif bagi Saul. Ia tak segan membuat keputusan untuk membunuh Yonatan karena janji yang dibuatnya secara gegabah tersebut (Ayat 44). Rakyat kemudian membela Yonatan dengan bersumpah kepada Tuhan untuk menganulir sumpah Saul sebelumnya yang mengawur (Ayat 39). Umat yang mengidam-idamkan seorang raja yang kuat untuk menjadi hakim atas diri mereka kini pada akhirnya harus mengintervensi sang raja dengan akal sehat mereka. Umat yang seharusnya dipimpin malah bisa melihat pimpinan dan kepentingan Tuhan dengan lebih jelas daripada raja yang seharusnya menjadi pemimpin mereka dalam mengenali dan menaati kehendak Tuhan. Sahabat, mari kita mendoakan para pemimpin kita, agar mereka menjalankan fungsi mereka dengan takut akan Tuhan, dan bukan dengan motivasi kepentingan diri. Kalau Sahabat saat ini menjadi seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang dipandu oleh hikmat Tuhan, bukan mengandalkan impuls kedaginganmu. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan Apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 24? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada hal baik yang dihasilkan dari perkataan kita yang buruk. Karena itu dalam situasi yang tersulit sekalipun, belajarlah untuk mengendalikan hati dan perkataan kita. (pg).

God Behind The Story

KEBETULAN. Kata kebetulan adalah kata yang terkadang kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata kebetulan sendiri menunjuk pada sesuatu yang tiba-tiba terjadi tanpa ada rencana di dalamnya. Namun, sebenarnya tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Alkitab tidak pernah mencatat peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Bahkan hidup kita sebenarnya sudah ditata oleh Tuhan dan masuk dalam rencana-Nya. Tidak ada yang kebetulan di dalam hidup ini, karena Allah berdaulat atas kehidupan manusia. Jika sesuatu terjadi, diluar keputusan dan pilihan kita, hal itu menunjukkan ada rencana dan tangan Tuhan di atasnya (Roma 8 : 28).   Kebetulan adalah realitas yang terjadi dan disadari, namun tidak disadari kedatanganya. Kebetulan bisa jadi bermakna dan tidak bermakna tergantung situasi apa yang terjadi pada individu. Kebetulan yang sejalan dengan harapan akan menumbuhkan energi positif bagi individu yang mengalaminya. Namun, apabila kebetulan itu tak sejalan bahkan bertentangan dengan harapan akan menjadi konflik bagi individu yang mengalami bahkan orang lain pun bisa terkena imbas dari energi negatif yang dihasilkan oleh individu tersebut. Karena kebetulan sebagai realitas yang tidak direncanakan, maka cukup banyak orang yang meyakini bahwasanya kebetulan merupakan jalan hidup yang telah digariskan oleh Tuhan dan akhirnya menentukan kehidupan selanjutnya. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “God Behind the Story (Tuhan Dibalik Kisah)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 9:1-10:16 dengan penekanan pada 1 Samuel 9:15-16. Sahabat,  hidup itu misteri, tidak mudah ditebak. Namun satu hal yang pasti, Allah berkuasa memerintah dan menata segala sesuatu. Sesungguhnya tidak ada kebetulan dalam hidup ini karena Allah bekerja dalam segala sesuatu. Kisah Saul yang diurapi oleh Samuel memberitahukan bahwa hidup ini tidak kebetulan. Kisah, ayah Saul, kehilangan keledai-keledai betinanya. Ia kemudian menyuruh Saul mengajak seorang bujangnya untuk mencari keledai-keledai tersebut. Di tengah jalan, Si Bujang mempunyai ide untuk menanyakan kehilangan mereka itu kepada Samuel. Akhirnya, mereka bertemu dengan Samuel, lalu Samuel mengurapi Saul menjadi raja. Sahabat, sebelum mengurapi Saul, Samuel menceritakan petunjuk Allah tentang siapa yang harus ia urapi. 1 Samuel 9:15-18 jelas menunjukkan bahwa peristiwa kehilangan keledai dan kisah perintah kepada Saul untuk mencari keledainya bukanlah hal yang kebetulan. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk menggenapi rencana-Nya, dan rencana Allah pasti mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya. Memang, kadang rencana Allah dapat tampak seolah kebetulan. Untuk menyadari dan mengetahui semua itu, dibutuhkan relasi yang dekat dengan-Nya dan kepekaan. Samuel selalu hidup dekat dengan Allah. Ia mempunyai kepekaan dan hikmat dalam mendengarkan suara-Nya. Sedari muda, Samuel sudah melatih telinganya untuk peka terhadap firman Allah. Allah senantiasa memberi petunjuk kepadanya. Sahabat, di tengah zaman yang penuh hiruk pikuk dan tantangan ini, kita diajak untuk peka terhadap apa yang terjadi. Allah ingin kita senantiasa berdialog dengan-Nya dan merenungkan: “Apa kehendak Allah atas segala peristiwa yang sedang  kita hadapi.” Satu hal yang pasti, dalam segala keadaan, Allah hendak mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Ia ingin menyatakan kasih-Nya bagi kita semua, baik melalui peristiwa yang baik maupun yang tampaknya menyakitkan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari 1 Samuel 9:15-16? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mengatur jalan hidup kita! Di balik perjumpaan kita dengan sesama, Ia sedang berkarya untuk mengubah hidup kita. (pg).

Trust is Like A Piece of Paper

KEPERCAYAAN. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Kita butuh orang lain di dalam hidup kita untuk hidup kita. Di saat kita diberi kepercayaan oleh orang lain, kita pun harus percaya pada mereka. Kepercayaan harus dilandasi kejujuran. Ketika seseorang itu jujur, ia akan bisa dipercaya dan menjaga kepercayaan dari orang lain. Meski begitu, membangun kepercayaan satu sama lain tidaklah semudah yang dibicarakan dengan kata-kata. Itulah mengapa, menjaga kepercayaan bukan sekadar omong belaka, melainkan harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Kepercayaan merupakan suatu amanat yang telah diberikan kepada kita, oleh karena itu kita harus bisa menjaganya dengan baik. Menjaga kepercayaan itu tidak mudah, karena sekali saja kita mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada kita, maka selamanya kita tidak akan dipercaya lagi dan itu akan sangat sulit untuk mengembalikannya lagi. Untuk membangun kepercayaan itu lagi membutuhkan waktu yang sangat panjang, sebab suatu kepercayaan itu adalah modal yang paling utama dalam kehidupan kita. Jangan pernah memgkhianati kepercayaan yang telah diamanatkan kepada kita, yang terpenting kita harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepada kita. Dengan kita bisa menjaga kepercayaan, akan membuat seseorang merasa nyaman dan tenang dalam kehidupannya. Menjaga kepercayaan itu sangat mahal dan tidak bisa dinilai harganya. Oleh karena itu supaya kita bisa dipercayai oleh orang lain, jangan sampai kita mengecewakannya. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Trust is Like A Piece of Paper (Kepercayaan itu Ibarat Selembar Kertas)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 13:1-14 dengan penekanan pada ayat 13-14. Sahabat, menjaga kepercayaan itu susah. Ketika seseorang tak lagi dipercaya, maka ia bisa kehilangan segalanya. Sebuah hubungan yang baik hancur karena orang tidak lagi dipercaya; karir seseorang hancur karena kepercayaan yang dikhianati; sebuah janji indah pun bisa batal karena si penerima janji tak lagi bisa dipercaya. Tadinya Saul sangat dipercaya Tuhan. Tuhan pun berjanji akan mengokohkan kerajaannya jika ia setia. Tetapi sayang, ia berkhianat. Saul tidak sabar untuk menantikan kehadiran Samuel dan ia nekat mengambil alih tugas keimaman yang seharusnya tidak boleh dilakukannya. Pelanggaran demi pelanggaran terhadap perintah Tuhan dilakukannya demi ambisi diri. Teguran dari Tuhan pun diabaikannya. Saul sudah tidak lagi dipercaya Tuhan. Janji kokohnya kerajaan pun tidak terjadi karena Tuhan telah memilih orang lain untuk menggantikan posisinya. Kecerobohan tindakan Saul kiranya menjadi pengingat bagi kita. Sahabat, menjaga kepercayaan dari Tuhan itu tidaklah mudah. Seorang yang dipercaya Tuhan adalah seorang yang tetap tunduk dan setia melakukan kehendak Tuhan bagaimanapun situasinya. Pada akhirnya, situasilah yang akan menguji apakah kita mampu menjaga kepercayaan dari Tuhan itu. Ada saat di mana Tuhan akan membawa kita pada sebuah situasi yang begitu mencekam, mendesak, menakutkan, dan menuntut untuk diselesaikan dengan segera. Saat itulah hati kita diuji! Apakah kita akan tetap konsisten dan setia berjalan dalam kehendak Tuhan? Apakah kita tetap menantikan Tuhan di tengah situasi yang paling sulit? Apakah kita orang yang dapat dipercaya?    Kepercayaan itu ibarat selembar kertas. Sekali saja terkoyak dan kusut, ia tidak akan pernah kembali sempurna lagi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-12? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang punya komitmen takkan berubah sikap, bagaimanapun keadaannya! (pg).

Samuel is not An Angel

MALAIKAT. Dari Alkitab Edisi Studi saya mendapat informasi bahwa kata malaikat seakar dengan kata Ibrani yang berarti UTUSAN. Dalam Alkitab, malaikat membawa pesan dari Allah kepada manusia. Malaikat menyampaikan pesan atau memberi perintah secara  langsung (Kejadian  16:7-12; Bilangan 22:22-35; Lukas 1:11-20, 26-38), ataupun lewat mimpi (Kejadian 31:10-13; Matius 1:20-21). Malaikat sering hadir dalam penglihatan. Mereka mengarahkan orang kepada penglihatan dan menafsirkan maknanya (Zakharia 1:7-17, 5:5-11; Kisah Para Rasul 10:3-23; Wahyu 10:1-11). Namun, malaikat lebih dari sekadar pembawa pesan. Mereka melaksanakan kehendak Allah dengan bertindak sebagai wakil Allah. Mereka melindungi umat Allah (Keluaran 14:19, 23:23; Mazmur 34:7; Daniel 6:22) atau menghukumnya ketika mereka berdosa kepada Allah (1 Samuel 24:11-17). Malaikat juga menghukum musuh umat Allah atau menghukum kuasa jahat lain (Keluaran 12:23, 29:30; Yesaya 37:36; Matius 13:49-50; Wahyu 14:14-20, 20:1-3). Malaikat datang melayani Yesus sesudah diuji oleh iblis di gurun (Matius 4:11). Sesudah Yesus wafat di salib dan dikuburkan, malaikat melepaskan Yesus dari kubur (Matius 28:2). Malaikat sering digambarkan dalam karya seni sebagai makhluk bersayap dan berjubah panjang. Namun, dalam Alkitab mereka menampakkan diri dalam berbagai wujud. Beberapa malaikat dalam Alkitab mempunyai nama. Daniel menyebutkan Gabriel (Daniel 9:21), yang juga menampakkan diri kepada Maria (Lukas 1:26-28), dan Mikhael, salah satu malaikat pelindung yang terkuat (Daniel 10:13). Mungkin Iblis tadinya merupakan bagian dari dewan malaikat (Ayub 1:6; Zakharia 3:1). Dalam masa Perjanjian Baru, malaikat kian dikenal sebagai makhluk rohani yang menolong Allah berperang melawan iblis, roh-roh jahat. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Samuel is not An Angel (Samuel Bukan Malaikat)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 12:1-25. Sahabat, hidup Samuel tidak sempurna. Dia manusia biasa seperti kita. Dia bukan malaikat. Seperti anak-anak Imam Eli yang jahat (1 Samuel 2:12-17, 29), anak-anak Samuel mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan (1 Samuel 8:3). Berbeda dengan Eli yang ditolak Tuhan (1 Samuel 2:30-36), Samuel tetap hidup berkenan kepada Tuhan. Ia menjaga hidupnya bersih di hadapan Tuhan dan umat, menjadi teladan (Ayat 4), pendoa syafaat, dan setia mengajar umat (Ayat 23-24). Sahabat, bacaan kita pada hari ini diawali dengan kesaksian umat atas kehidupan Samuel menjelang akhir masa pelayanannya, saat ia akan undur diri. Seumur hidupnya hingga saat itu Samuel terus hidup di bawah sorotan publik. Semua orang bisa melihat bagaimana Samuel menjalani hidup yang berintegritas. Walaupun Tuhan bisa memakai siapa saja, tetapi kehidupan Samuel yang bersih dan berintegritas memberikan keleluasaan baginya untuk menjadi pemimpin yang efektif bagi Tuhan. Kita menyaksikan bagaimana dengan singkat, gamblang, dan efektif, Samuel dapat menuturkan pengalaman hidup bangsa Israel dan menyodorkan kepada mereka kenyataan bahwa mereka telah berdosa kepada Tuhan. Tuhan pun menunjukkan kepada umat bahwa Ia berkenan kepada Samuel dengan memberikan tanda alam yang anomali (Ayat 18). Umat Israel masih memiliki kepekaan terhadap kebenaran firman Tuhan sehingga mereka mudah dinasihati oleh Samuel (Ayat 19). Tuhan juga berbelaskasihan kepada umat-Nya yang penuh kelemahan. Yang penting mereka sadar dosa, bertobat, dan mau menundukkan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Ayat 24). Samuel sendiri, walau secara formal sudah menyelesaikan pelayanannya, tetap peduli dan mendoakan mereka agar hidup sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan (Ayat 23). Sahabat, sebagaimana Samuel, diantara kita tidak ada yang sempurna. Kita manusia biasa, bukan malaikat. Banyak kelemahan kita yang bisa menjatuhkan kita atau merusak kesaksian kita akan Tuhan. Akan tetapi, anugerah dan penyertaan-Nya akan memampukan kita menjalani hidup berintegritas, sehingga kita pun dapat mengakhiri pelayanan kita dengan gemilang di hadapan Tuhan dan menjadi teladan bagi sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Manusia tetaplah manusia. Sehebat bagaimanapun dia, ia tetaplah manusia yang punya kekurangan. Hanya Allahlah yang Empunya kesempurnaan. (pg).

Evidence of God’s Participation

PENYERTAAN TUHAN. Selama kita menjalani hidup,   pasti tidak bisa lepas dari yang namanya pergumulan, musibah, kegagalan, kesulitan, dan sebagainya. Ketika hidup kita berjalan baik dan lancar, hampir pasti kita dapat merasakan arti penyertaan Tuhan. Namun, ketika keadaan sebaliknya,  kita mengalami pergumulan yang berat, mungkin dalam hati kita timbul tanda tanya besar:  “Mengapa Tuhan tidak menyertai saya???” Lalu apa arti penyertaan Tuhan bagi kita yang percaya kepada Yesus? Penyertaan Tuhan bukan berarti Tuhan menjaga kita sedemikian rupa sampai tidak ada satu pun masalah yang datang menghampiri kita. Ketika kita berjalan bersama dengan Yesus bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan dan pergumulan hidup. Sesungguhnya arti penyertaan Tuhan adalah kita percaya Tuhan selalu ada bersama dengan kita, sekalipun harus melewati padang gurun, lautan, dan badai kehidupan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Karena itu, janganlah bersungut-sungut kalau kesulitan dan pergumulan datang dalam hidup. Janganlah menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Tuhan. Tetaplah teguh dan mantap berjalan bersama Tuhan. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel 11:1-15 dengan topik: “The Evident of God’s Participation (Bukti Penyertaan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 11:1-15. Sahabat, menciptakan persatuan dan kesatuan bukanlah hal yang mudah. Ada saja kelompok yang ragu, memusuhi dan secara frontal melawan. Untuk itu, dibutuhkan ketekunan untuk menyatakan kebenaran. Waktulah yang akan membuktikan. Sahabat, ketika Saul dinobatkan menjadi raja, ada kelompok yang meragukan bahkan memusuhinya (1 Samuel 10:27). Namun, selalu ada kesempatan yang diberikan Allah untuk menunjukkan bukti bahwa tidak ada yang perlu diragukan. Saat itu, daerah Yabesh-Gilead dikepung oleh orang-orang Amon. Orang Amon mengancam penduduk Yabesh-Gilead: Mata kanan mereka akan dicungkil. Ancaman tersebut mendatangkan rasa malu kepada segenap orang Israel. Mendengar hal tersebut, Saul yang dikuasai oleh Roh Allah mengajak segenap orang Israel untuk bersama-sama melawan Nahas dan orang-orang Amon. Ia berhasil menggerakkan orang-orang Israel untuk bersatu mengalahkan musuh. Kemenangan Saul tersebut membuat Samuel bermaksud untuk membunuh orang-orang yang tidak suka akan penobatan Saul. Namun, Saul mencegah hal itu. la mengajak semua orang untuk fokus kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka. Akhirnya, Samuel bersama segenap umat Israel ke Gilgal untuk meneguhkan jabatan Saul sebagai raja. Mereka bersukaria atas semua hal itu. Sahabat, bukti itu perlu untuk mehapus  keraguan. Jika ada kesempatan untuk membuktikan kebenaran, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan tersebut. Seperti yang dialami oleh Saul, kita sadar bahwa hanya karena kuasa dan kekuatan Allah saja kebenaran itu terbukti. Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati agar dipenuhi oleh Roh Allah. Roh Allah akan menolong kita memanfaatkan kesempatan untuk menyatakan bukti, memampukan kita mengasihi, dan melakukan kebaikan kepada orang yang tidak senang dan melawan kita. Kisah Saul telah menunjukkan hal tersebut (Ayat 13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang  penyertaan Tuhan selama ini? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan  selalu menyertai kita, memberikan penghiburan dan kekuatan untuk melewati semua pergumulan hidup. (pg).