Di Medan Hidup: Prinsip Jadi Senjata

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan surat Roma 12:1-2. Di tengah riuhnya dunia yang terus berputar, kita seolah berjalan di tepi jurang, terperangkap dalam arus yang tak henti menggoda. Setiap detik, suara-suara asing menyergap, memaksa kita untuk bertanya: di mana posisi kita? Sebagai orang beriman, tantangan ini terasa semakin pelik. Kita dipanggil untuk hidup berbeda, namun dihadapkan pada pilihan yang tak pernah mudah. Dalam medan pertempuran ini, apakah kita berani berdiri teguh atau justru menyerah pada tekanan? Paulus mengingatkan kita dalam Roma 12:1-2, sebuah seruan yang tak sekadar kata-kata, tetapi panggilan untuk bertindak. “Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.” Kata-kata tersebut memaksa kita untuk merenung: apakah kita benar-benar mempersembahkan diri kita, atau hanya berperan sebagai pengamat dalam perjalanan iman kita? Kehidupan sehari-hari kita harus menjadi bentuk ibadah yang sejati, bukan sekadar rutinitas kosong. PERUBAHAN adalah kata yang sering kita dengar, tapi seberapa banyak dari kita yang benar-benar siap untuk berubah? Kita diajak untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi untuk mengalami pembaharuan budi. Apa artinya? Ini berarti merombak cara kita berpikir, membongkar prasangka-prasangka yang menjerat, dan menggantinya dengan perspektif ilahi.  Dalam dunia yang menormalkan kebencian dan egoisme, kita harus berani menjadi agen kasih dan pengampunan. Pertanyaannya: apakah kita siap menghadapi perlawanan saat berdiri dalam kebenaran? Setiap hari kita berhadapan dengan PILIHAN. Apakah kita akan menyesuaikan diri dengan arus besar yang menghanyutkan, atau mengambil jalan sempit yang penuh tantangan? Seperti Yosua yang menantang bangsanya untuk memilih kepada siapa mereka akan beribadah, kita juga harus memilih dengan bijak. Pilihan ini tidak hanya menyangkut hidup kita, tetapi juga dampaknya pada orang lain. Ketika dunia mengagungkan kesuksesan individu, kita dipanggil untuk merangkul prinsip pelayanan dan kasih. Apakah kita akan tetap teguh dalam iman, atau berkompromi demi popularitas sesaat? Saudaraku, PRINSIP, senjata kita yang paling kuat, menjadi landasan ketika badai kehidupan menerpa. Tanpa prinsip yang kokoh, kita bagaikan daun kering yang ditiup angin. Prinsip yang berakar dalam Firman Tuhan memberi kita kekuatan untuk berdiri teguh, meski banyak yang meragukan. Dalam setiap keputusan, dari bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain hingga cara kita menghadapi tantangan, prinsip ini mengarahkan langkah kita.  Ketika dunia menyuguhkan jalan pintas untuk kesuksesan, kita harus ingat: nilai sejati terletak pada kasih dan integritas. Kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk memancarkan cahaya di tengah kegelapan. Hidup adalah medan pertempuran yang penuh dengan pilihan dan konsekuensi. Di tengah segala tantangan, kita tidak bisa berjuang sendirian. Dengan perubahan yang berkelanjutan, pilihan yang bijaksana, dan prinsip yang kokoh, kita bisa tidak hanya bertahan, tetapi juga menang.  Saudaraku, jadi, mari kita ambil senjata kita, perubahan, pilihan, dan prinsip, dan berjuanglah dengan sepenuh hati di medan hidup ini. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap untuk mengambil tantangan ini dan menulis cerita iman kita dengan tinta keberanian? (EBWR).

God is Care and Powerful

MAZMUR 33. Sahabat, dalam Mazmur 33, jelas bahwa hati Pemazmur bersukacita. Ia mengajak pembacanya, orang-orang yang sudah mengenal Tuhan, untuk bersorak-sorai, memuji-muji, bersyukur bersama kepada Tuhan. Ia mengajak mereka mengekspresikan sukacita mereka dengan bernyanyi dan bermazmur bagi Tuhan dengan kecapi (Ayat 1-3).  Kapan terakhir kali Sahabat mengekspresikan sukacita kepada Tuhan? Selain bersaksi tentang kebaikan/berkat Tuhan kepada orang lain, jangan lupa mengekspresikan secara langsung kepada Tuhan. Tuhan akan mengangkat jiwa kita seiring dengan pujian yang kita naikkan kepada-Nya. Sangat menarik, berbeda dengan kebanyakan orang yang bersukacita karena mendapat sesuatu, barang atau uang, Ppemazmur bersukacita karena Tuhan. Mulai ayat 4 yang diawali dengan kata “sebab”’, Pemazmur menguraikan alasan mengapa ia begitu bersukacita karena Tuhan, yaitu karena Tuhan menciptakan bumi yang ia tinggali dengan kuasa dan kasih yang hangat. Dengan firman-Nya, Tuhan membuat bumi menjadi tempat yang dapat ditinggali manusia, maka patutlah kita takut, kagum, hormat, dan mengasihi Tuhan (Ayat 4-9).  Kita mungkin tidak menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal kita adalah karya Tuhan melalui tangan manusia. Selain itu, dalam hubungan dengan rencana-Nya terhadap umat manusia, Tuhan berdaulat penuh. Manusia mungkin saja mengatakan bahwa ia punya sumber daya yang cukup untuk memastikan rencananya berjalan (Ayat 16-17) meskipun hal itu melawan dan menentang Tuhan. Akan tetapi, Tuhan memastikan bahwa rencana-Nyalah yang akan terlaksana (Ayat 10-11). Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “God is Care and Powerful (Tuhan itu Peduli dan Berkuasa). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 33:1-22. Sahabat, salah satu arti dari kuasa adalah wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan sesuatu. Dalam arti demikian, seorang yang berkuasa bisa menggunakan kekuasaannya sesuai seleranya. Bisakah seseorang yang berkuasa peduli kepada yang dikuasainya?Kalau kita  membaca Mazmur 33  segera terbayang mengenai kekuasaan Tuhan. Kekuasaan-Nya tampak dalam alam. Langit dijadikan hanya oleh firman-Nya (Ayat 6), air laut bisa dikumpulkan-Nya dan samudera dapat diwadahi-Nya (Ayat 7). Kekuasaan-Nya dibandingkan dengan berbagai kekuatan yang sering kali diandalkan oleh manusia. Kalau raja-raja memiliki kekuasaan, maka kuasa Tuhan jauh melampaui mereka (Ayat 16). Jika dibandingkan dengan kekuatan seorang pahlawan, maka kekuatan Tuhan tidak ada batasnya (16). Kuda yang hebat pun tidak sehebat Tuhan (Ayat 17).  Namun, Tuhan yang berkuasa itu tidak digambarkan sebagai penguasa yang arogan. Karena Dia tidak bertindak sewenang-wenang. Malahan Dia peduli dengan ciptaan-Nya. Dia memandang dari surga untuk menilik anak-anak manusia (Ayat 13). Bahkan Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhanlah sumber pengharapan manusia (20-22). Itu sebabnya Pemazmur mengajak umat senantiasa memuji-muji Tuhan.Sahabat, TUHAN yang BERKUASA tetapi tetap PEDULI  membuat kita percaya diri menjalani kehidupan ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Dia berkuasa atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, Tuhan dapat dijadikan sumber pengharapan kita. Untuk alasan itulah, kita harus menjalani hidup penuh puji-pujian kepada Tuhan. Puji-pujian itu harus menjadi konkret dalam kehidupan kita dengan meneladani perbuatan Allah.Lagipula setiap orang percaya juga memiliki kuasa yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain dan ciptaan lain. Karena itu, kehidupan kita harus dijalani dengan peduli kepada sesama ciptaan Tuhan dan tidak bertindak sewenang-wenang. Haleluyta! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Bagaimana Sahabat mengekspresikan sukacita kepada Tuhan?Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita meneladani Tuhan dalam keseharian kita, berkuasa tapi tetap peduli. (pg).. 

KELELAHAN TOTAL

Saudaraku, sayamelanjutkan perbincangan dengan dengan Pak Direktur Ministry Center. Dia menginformasikan malam itu ada satu gereja, Majelis dan rohaniawannya ingin bertemu. Gereja tersebut mau ulang tahun yang ke-40 dan ingin merayakannya dengan cara unik, yaitu memoratoriumkan kegiatan dan hanya menyisakan ibadah, doa dan kelompok kecil. Gereja tersebut mau mengambil waktu diam beberapa minggu, retret doa, untuk mencari pimpinan Tuhan atas tahun yang baru. Saya bertanya,. “Wah, gereja tersebut defisit dan jemaatnya susut ya? Karenanya kegiatan-kegiatannya mau dihentikan.” “Bukan karena defisit namun karena kelelahan, lengkaplah bentuk kelelahannya, kelelahan spiritual, kelelahan mental, kelelahan fisik, masih beruntung bisa menyadari kelelahan. Banyak gereja tidak sadar, sedang burn out (kondisi stres kronis, seseorang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya).” Jadi ceritanya di gereja ada banyak kegiatan, yang ikutan banyak, tapi setelah selesai kegiatan ya tidak ada bekas-bekasnya, tidak ada catatan sejarahnya, apalagi tindak lanjut, yang tertinggal hanya foto-foto meriah, orang-orang atau anggota jemaat tertawa-tawa renyah, laporan keuangan pokoknya dana sudah terpakai. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun …. beberapa tahun kemudian generasi mendatang tidak tahu itu kegiatan apa dan tidak kenal nama-nama orang yang tertawa renyah karena tidak ada keterangan di foto. Ngenes ya, tiga tugas panggilan gereja tradisional yakni Marturia, Diakonia, dan Koinonia sudah terlaksana, tapi seperti angin berlalu. Marturia, berarti kesaksian atau pemikiran, dalam konteks gereja berarti kesaksian iman, yaitu pemberitaan Injil sebagai berita keselamatan bagi manusia. Diakonia, berarti pelayanan atau perbuatan, bisa berupa kegiatan sosial, dukungan untuk komunitas sekitar, atau partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan. Sedangkan Koinonia, berarti persekutuan atau kelompok, diwujudkan dengan menghayati hidup berjemaat, seperti berkumpul bersama, bernyanyi, berdoa, melakukan pelayanan dan saling melayani. Tiga tugas panggilan gereja sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi mengapa tiba-tiba merasa kelelahan total, kelelahan spiritual, kelelahan mental, kelelahan fisik/tenaga. Tugas panggilan gereja sudah dilakukan, hasilnya ada, namun bila hal-hal ini dilakukan tanpa dilandaskan pada doa, maka apa yang dilakukan gereja hanya seperti kegiatan organisasi umum lainnya bahkan dilakukan juga oleh parpol, hanya beda visi dan misinya. Kini Gereja merasa lelah dan menyadari semua kegiatannya untuk beberapa saat ke depan perlu dimoratorium, perlu ditangguhkan atau ditunda, dan Gereja mau mengambil waktu diam beberapa minggu, mengadakan retret doa, untuk mencari pimpinan Tuhan atas tahun-tahun yang baru. Dengan adanya doa bukan saja mendekatkan Gereja pada Tuhan, tapi menyadarkan kembali bahwa ladang yang gereja layani yakni terkait kehidupan rohani, bukan jasmani. Ladang yang dilayani Gereja memang tidak kelihatan, namun berorientasi jangka panjang dan kekal. Rasul Paulus menasihatkan, sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:18).  Ayat berikut mungkin sering kita baca, Matius 11:28:  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tapi saat kondisi kita sedang jaya-jayanya dan sehat walafiat, ayat tersebut mungkin sering diabaikan dan dilupakan, belum dibutuhkan … Saudaraku, perhatikan gereja yang usianya sudah 40 tahun,  yang disebut rumah rohani dan punya pengurus banyak, ternyata bisa kelelahan, karena justru terlalu banyak kegiatan. Bandingkan dengan diri kita, yang seorang diri. Apakah Saudara selalu merasa kuat, jaya dan dapat memperoleh segala-galanya?  Kapan Anda merasa lelah? Inilah saatnya datang berdoa, merendahkan diri di hadapan Allah. Ingatlah selalu: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (Yesaya 40:29). (Surhert)..

WISTLE-BLOWER

Saudaraku, hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Samuel 12 : 1-5 dan terlebih dahulu kita akan menghafalkan Amsal 10:10: “Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh”. Di dalam pengelolaan organisasi, lembaga, atau pemerintahan, pengawasan dibutuhkan untuk mencapai tata kelola yang baik (good governance).  Salah satunya melalui “whistle-blowing system”, yaitu sistem pelaporan sesuatu perbuatan yang diduga pelanggaran. Seorang “whistleblower” sendiri adalah “orang dalam” yang mengungkap dugaan pelanggaran yang terjadi di tempatnya bekerja. Keberadaan seorang “whistleblower” menjadi sangat penting dalam upaya pembuktian suatu masalah. Keberadaan “whistleblower” tidak hanya dibutuhkan di dalam organisasi atau lembaga formal. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, “whistleblower” bisa jadi adalah orang yang terdekat kita, pasangan kita, orangtua, anak, pemimpin di gereja, atau majelis. Keberadaan kita sebagai manusia yang memiliki kecenderungan berdosa, dimana tidak ada seorangpun yang menjamin dirinya selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan, kita semua memiliki “blind spot” (titik buta).  Daud tidak ada rencana untuk tidur dengan Batsyeba, namun keinginan yang berdosa itu muncul ketika ia berjalan-jalan dan melihatnya dari atas sotoh istana. Dosa itu terus berlanjut hingga ia membunuh Uria. Alkitab mencatat apa yang dilakukan Daud adalah jahat di mata Tuhan, maka Ia mengutus Nabi Natan untuk menjadi seorang “whistleblower” dalam kasus Daud.  Setelah kejahatannya terungkap, Daud mengaku dosa, menyesali dan menghadapi konsekuensi dosanya. Bukan hanya Raja Daud yang membutuhkan “whistleblower”, melainkan kita semua tanpa terkecuali. Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikaplah terbuka atas koreksi dan siap berubah melakukan yang benar. Saudaraku,  Bapa akan mendidik dan mengingatkan kita, anak-anak-Nya, ketika kita keluar jalur (Ibrani 12:4-6), dan kitab Amsal menuliskan, “Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat (Amsal 10:17). Refleksi Diri: Siapa “whistleblower” Saudara belakangan ini? Apa yang harus diperbaiki dalam kehidupan Saudara?  Apa Yang Harus Kita Lakukan? Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikap terbuka atas koreksi dan siap untuk berubah melakukan yang benar. Pokok Doa: Bapa surgawi, terima kasih telah senantiasa mendisiplinkan aku, agar aku terus hidup benar. Berikanlah aku terus melakukan apa yang benar di hadapan-Mu. Kumohon penyertaan Roh Kudus senantiasa ada padaku. Dalam nama Yesus. Amin. Hikmat Hari Ini: Siapa enggan mengakui kesalahan berada dalam bahaya. (PW)

TERUS BELAJAR

Saudaraku,  tujuan pendidikan adalah perubahan.  Manusia menjalani pendidikan dengan harapan ada perubahan dalam pemikiran, pengetahuan dan karakter.  Kitab Kisah Para Rasul merupakan salah satu kisah perjalanan ragam manusia yang berjuang melakukan kehendak Allah.  Mari mulai merenungkan kitab Kisah Para Rasul  dengan membaca Kisah Para Rasul 1:1-8. Lukas menyambung kisah Yesus yang diceritakan dalam Injil yang ditulisnya dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Lukas mengambil titik berangkat yang menarik yaitu fakta kerapuhan dan gagal pahamnya para murid menangkap misi-Nya ke dunia. Lukas menceritakan juga berbagai upaya Yesus untuk membuat para murid mengerti yaitu dengan pengajaran visual dengan menampakkan diri berulang kali selama empat puluh hari dan pengajaran verbal dengan terus berbicara tentang Kerajaan Allah (Kisah Para Rasul 1:3).   Secara intensif Yesus berusaha untuk menyadarkan para murid setelah Ia bangkit namun tetap saja para murid tidak memahami maksudnya.  Pertanyaan dalam Kisah Para Rasul 1:6 menunjukkan bahwa pemikiran para murid belum berubah dan tetap memikirkan tentang pemulihan Israel.   Seakan tak lelah dengan kenyataan lambannya daya cerap para murid, Yesus memberikan respons yang sangat baik dengan membuka kenyataan bahwa para muridlah yang akan menjadi pelaku sejarah Kerajaan Allah karena mereka akan dipakai Allah untuk mendirikan kerajaan-Nya di dunia sehingga tidak hanya Israel yang pulih namun seisi dunia menggemakan tentang pekerjaan Allah  (Kisah para Rasul 1:7-8).   Sekalipun para Murid masih belum bisa mengubah pemikirannya karena mereka adalah orang-orang Yahudi yang kuat dalam pengharapan mesianis yang sempit, namun Allah tak lelah mengajar untuk membongkar tembok identitas yang yang membelenggu mereka.  Menjadi Kristen membutuhkan proses dan kesetiaan untuk bertahan terus belajar sepanjang proses tersebut. Tak disangkal bahwa orang Kristen adalah manusia biasa yang rapuh dan membutuhkan proses untuk memahami pekerjaan Allah dalam kehidupannya.   Tak jarang orang Kristen masih memiliki pemikiran lama, mengambil keputusan yang keliru dan bahkan berangkat dari prasangka dalam perjalanan imannya, namun terpujilah Allah yang tak lelah untuk mengajar dan mendidik hingga orang itu mencapai kemajuan dalam pemahamannya dengan perubahan pemikiran, perubahan karakter yang ditampilkan secara visual dengan perubahan gaya hidup ke arah Firman Tuhan.   Hidup adalah proses belajar, maka mari menjadi manusia pembelajar.  Saat seorang menerima Kristus maka saat itulah dia memulai proses belajar tentang Dia, inilah pesan yang disampaikan Lukas melalui Kitab Kisah Para Rasul.   Saudaraku, orang Kristen adalah pembelajar sejati sebagaimana nasehat Rasul Paulus dalam Kolose 2:7 : Hendaklah kalian membangun hidupmu dengan Kristus sebagai dasarnya. Hendaklah kalian makin percaya kepada Kristus, menurut apa yang sudah diajarkan kepadamu. Mari terus menjadi Kristen pembelajar dan terus diubahkan sesuai Firman Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

MENGABDI KEPADA ALLAH ATAU MAMON

Saudaraku, saya berjumpa dengan seorang Direktur Ministry Center dan berdiskusi terkait Tuhan atau Mamon. Perhatikan dua ayat berikut yang dikatakan oleh Tuhan Yesus saat mengajar: Matius 6:24 (TB-1): “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan …. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16:9 (TB-1): “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur ….” Nah, di Matius dinyatakan bahwa kita tidak bisa setengah-setengah mengabdi kepada Allah, juga setengahnya ke Mamon. Tapi di Lukas dinyatakan bahwa kita bisa bersahabat dengan Mamon. “Pak Direktur, zaman Tuhan Yesus mengajar, itu di zaman Kekaisaran Romawi yang juga mendewakan banyak dewa dari zaman Yunani. Kita bisa menemukan beberapa nama dewa disebutkan di Kisah Para Rasul seperti Hermes, Zeus, juga Artemis atau Diana, diidentifikasi juga sebagai Selena, dan memiliki saudara bernama Apollo. Ini nama-nama dewa-dewi yang terkenal, mengapa tidak disebut Tuhan Yesus. Malahan menyebut Mamon, merupakan istilah Yahudi yang dapat merujuk pada uang, kekayaan, keserakahan, atau setan yang mewakili pengejaran kekayaan?.” Nah, Pak Direktur hanya mengguman, “Itu pergumulan kita sepanjang hidup.” Lho, Beliau membawahi suatu organisasi Ministry Center, memotivasi dan mendorong banyak rohaniwan dan awam untuk mengabarkan Injil, tapi mengapa juga menghadapi pergumulan seumur hidup dengan Mamon? Ya itulah kehidupan, kalau mau pergi bermisi ke suatu daerah terpencil ya mesti memikirkan berapa ongkosnya, begitu? Saya pernah menghadiri acara pengutusan lulusan salah satu STT di kawasan blusukan di Jakarta Timur. Para lulusannya tampilannya sederhana saja, baju tidak nampak ada yang ngejreng, tapi tidak ada yang sandalan, hanya sepatu butut. Mereka diutus pulang ke daerah asalnya, kebanyakan ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, NTT, Maluku, semuanya di pedalaman. Setelah acara seremonial ada resepsi, itulah makan siang terakhir mereka di STT yang mereka ikuti 3-4 tahun terakhir. Saya ikut mengambil makanan di meja mahasiswa, bukan untuk tamu undangan. Nasi putih ndak putih, ada tempe dan tahu goreng ukuran sekitar 3×4 cm, ukuran tahu tempe terkecil yang pernah saya rasakan, sayur bening isi labu dan bayam, dan ada satu potong ayam goreng, saya masih ingat ukurannya hingga saat ini, itu kalau kita beli paha bawah KFC ukurannya dibagi empat, jadi satu ayam goreng lebih kecil dari sendok makan. Satu orang dapat satu ayam goreng, satu tahu, satu tempe dan nasi secukupnya, ada kecap dan sambal di ujung meja. Usai makan saya menghampiri seorang lulusan, mau pergi kemana? Kalimantan Tengah, bawa uang berapa? Dia tunjukkan tas dan dompetnya, hanya ada 2 lembar Rp. 20.000,-  dan 2 lembar Rp. 10.000,-. Lho, cukup? Dia tunjukkan, ada satu kilogram garam dan 3 sabun yang dibawa. Lalu, dia bilang, akan nunut truk bak terbuka yang jurusan ke pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara, kemudian ikut kapal kayu yang pulang ke Kalimantan Tengah, kapal ini kosong dan cukup ngomong dengan awak kapal dalam bahasa Kalimantan Tengah, pasti gratis, dia sudah 3 kali pulang ke rumahnya saat praktik dengan cara ini. Garam dan sabun akan menjadi barang sangat berharga di pedalaman sana, sabun yang dipotong dua bisa dijadikan ongkos naik boat ke pedalaman. Ingat kembali kenangan ini, saya jadi mikir, para lulusan STT itu hanya dengan modal semangat menginjil yang berkobar, tidak perlu mikir Mamon lagi. Sementara itu Pak Direktur menunjukkan makalah dari Lausanne Movement 2024, yang mengetengahkan adanya banyak gereja yang mengajarkan “prosperity teaching”, kemakmuran materi terkait dengan kepercayaan kepada Kristus. Pendekatan ini mengajarkan orang-orang bahwa ketika mereka percaya kepada Tuhan, Dia akan menyediakan semua kebutuhan fisik dan kenyamanan hidup mereka. Dengan ajaran ini muncul kepercayaan yang menyesatkan bahwa siapa pun yang percaya dijamin akan mendapatkan kekayaan dan kesehatan dalam hidup ini.  Pendekatan “prosperity teaching” ini cenderung berpusat pada manusia daripada berpusat pada Kristus, untuk mencari pemenuhan kebutuhan duniawi manusia daripada kebutuhan mendalam akan pengampunan dosa dan rekonsiliasi dengan Tuhan. Jadi mengenal Tuhan agar supaya cepat dapat berkat, cepat mendapatkan kesehatan, cepat dapat uang, dan di ujungnya sebenarnya mengajarkan tentang mendapatkan Mamon melalui mengenal Tuhan. Pak Direktur menambahkan, memang tantangan besar spiritual adalah material, untuk itu Tuhan Yesus mengajarkan berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh atau spiritual memang penurut, tetapi daging lemah terhadap hal-hal materi (Matius 26:41). Yang bisa menguatkan spiritual agar tidak tergoda material apa? Ya hanya dengan melalui doa, dengan berdoa. BERDOALAH  yang SUNGGUH-SUNGGUH, jangan konsentrasi terpecah, Tuhan akan menunjukkan Jalan-Nya kepadamu, dan ikutlah. Saudaraku, memang tidak mudah memilih untuk mengabdi kepada Allah atau kepada Mamon, terlebih lagi bila ajaran tentang Mamon itu disamarkan melalui ajaran-ajaran yang menjanjikan bila menaati kehendak Allah maka akan mendapatkan kelimpahan materi dan kesehatan. Waspadalah dan berjaga-jagalah. (Surhert).