JAM TANGAN SWISS

Saudaraku,  Industri jam di Swiss dimulai tak lama setelah Reformasi tahun 1517 yang dipelopori Martin Luther. Reformasi terhadap ajaran agama Katholik Roma ternyata menimbulkan perang antar pengikut agama, meluas dari Jerman ke negara-negara lain. Perang penganut agama terjadi di Perancis menyebabkan penganiayaan terhadap kaum Huguenot (Protestan Perancis), yang banyak berprofesi sebagai ahli besi dan ahli (pandai) kerajinan emas, akhirnya melarikan diri dan mengungsi ke Swiss Barat, terutama ke Jenewa. Para pandai atau pengrajin ini terkenal sebagai ahli dalam membuat perhiasan dan ukiran-ukiran yang menjadi simbol kemewahan. Saat itu juga terjadi revolusi di Jenewa yang dipimpin oleh John Calvin (10 Juli 1509–27 Mei 1564). Ajaran Calvin menolak segala bentuk pamer kekayaan dan penggunaan perhiasan, memaksa para pandai besi dan emas dari Perancis mencari saluran baru bagi bakat kreatif mereka, bukan lagi membuat perhiasan-perhiasan yang mencolok tetapi bagaimana membuat sesuatu yang kecil dan mahal namun dibutuhkan,  dan mereka menemukan cara membuat jam tangan yang kecil, tidak dalam bentuk yang besar dipajang di luar gedung, tapi jam kecil tidak mencolok saat dipakai, hingga tidak bisa dikategorikan sebagai perhiasan mewah tapi sebagai alat penunjuk waktu. Pada masa itu orang-orang hanya mengenal waktu matahari terbit dan terbenam. Waktu dianggap sebagai suatu rahasia Tuhan Allah yang menciptakan langit dan bumi, pagi, siang dan malam. Para ahli astronomi di Babil dan Mesir berusaha memetakan waktu jalannya matahari dan menciptakan jam matahari, bahkan bisa memetakan atau membagi waktu 1 hari = 24 jam. Dalam 2 Raja-raja 20:11 ada bayangan jam atau penunjuk matahari yang dibuat zaman Raja Ahas (732-715 SM), dan bayang-bayang jam matahari itu mundur ke belakang sepuluh tapak. Salah satu ajaran John Calvin menjelaskan tentang Kolose 3:23:  “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini sangat memengaruhi para pandai besi pembuat jam yang bentuknya besar-besar, bagaimana bisa membuat alat yang bisa memetakan hari Tuhan dalam suatu bentuk petunjuk waktu yang pas dan tepat, jadi saat pagi hari ya jam 6 tepat, siang jam 12 tepat, juga saat matahari terbenam mesti jam 18.00 tepat, satu hari harus pas 24 jam. Saudaraku, saat itu bentuk jam masih dalam bentuk yang besar dan tampilannya hanya satu jarum saja menunjukkan jam. Nah bagaimana jam ini dibuat kecil hingga bisa jadi dipasang di tangan atau dimasukan kantong, lalu ada 2 jarum yang bisa menunjukkan jam dan menit, kemudian satu jarum lagi yang selalu berputar menunjukkan detik. Untuk membuat jam dalam bentuk yang kecil yang bisa otomatis jalan sendiri, mesti membuat kumparan per sebagai penggerak, juga ada berbagai roda dan perangkat kecil lainnya dalam satu jam kecil, belum lagi cara memasangnya agar semua yang kecil-kecil ini bisa terhubung rapi dan jalan sendiri. Para pandai dalam membuat jam tangan sangat dipengaruhi ajaran Calvin, yakni sebagai manusia boleh mendapatkan kehormatan dalam bekerja mewakili Tuhan yang membagi waktu satu hari dalam jarum-jarum jam, menit dan detik, dan menunjukkan waktu yang tepat. Bisa menciptakan jam tangan yang kecil dengan dengan segenap hati, seperti mempersembahkan kepada Tuhan dan bukan untuk manusia, suatu persembahan yang tidak boleh ada cacat celanya. Akhirnya, ketika peraturan pemerintahan di Jenewa yang melarang pemakaian barang mewah dilonggarkan – sekitar tahun 1600, orang-orang dapat mengenakan perhiasan lagi, keahlian pembuatan jam dapat dipadukan dengan seni dekoratif. Dalam waktu singkat, jam tangan Swiss yang diproduksi di Jenewa menjadi terkenal karena keterampilan para ahlinya, kualitas pembuatan jamnya, juga tampilan jam-jam yang semakin indah, – dan semakin mahal harganya. Saudaraku, menyimak lagi Kolese 3:23, Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kita mungkin tidak melakukan pekerjaan kita dengan sepenuh hati, alasannya mungkin ya lumayan dapat pekerjaan daripada nganggur, pekerjaan ternyata tidak cocok dengan bakat atau ketrampilan, dapatnya duit hanya kecil tidak cukup untuk kebutuhan-kebutuhan yang terus meningkat, menjadi generasi sandwich yang mesti membiayai hidup orangtua, dan berbagai alasan lainnya. Pdahal Tuhan sudah memberikan suatu pekerjaan bagi kita, namun kita tidak bersyukur atas anugerah pekerjaan ini, jadilah dalam bekerja hanya asal-asalan, asal memenuhi target atau sesuai job description, tapi tidak menampilkan kualitas yang mestinya harus menjadi lebih baik, cukup mendapatkan pujian atau predikat lumayan, itu sudah cukup. Nah apa jadinya kalau diri kita hanya bertujuan mendapatkan predikat lumayan, lalu keluarga juga hanya memikirkan cukup dan lumayan, satu daerah dan wilayah merasa cukup dan lumayan, begitu seterusnya dari hal-hal lingkup kecil menjadi lingkup makro, semuanya hanya menginginkan prestasi yang cukup dan lumayan, akibatnya tidak ada kemajuan bahkan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan sumber daya alam yang ada di lingkungan, yang disediakan Tuhan malahan dikorupsi atau diolah dengan tidak bertanggung jawab. Saudaraku, para ahli atau pandai besi dan perhiasan di Swiss 400 tahun, meski hanya menggunakan alat-alat manual, tidak memakai alat-alat listrik, bahkan di rumahnya hanya diterangi oleh lampu minyak, tapi a bisa menghasilkan jam-jam tangan yang kecil, indah dan tepat waktu, Bagaimana dengan kita saat ini? (Surhert)

Kerendahan Hati Mendahului Kehormatan

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Amsal 18:12. Di sebuah kota modern, hidup seorang pria bernama Jeresh. Dia adalah seorang pengusaha sukses dan sangat bangga dengan pencapaiannya. Dalam setiap pertemuan, dia selalu berbicara tentang kekayaan dan kesuksesannya, menganggap bahwa semua orang di sekitarnya harus menghormatinya. Dalam kesehariannya, Jeresh seringkali memandang rendah orang-orang disekitarnya. Jeresh berpikir tidak ada orang lain sebaik dirinya, sehingga dia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Namun tiba-tiba ada satu kejadian yang membuat bisnisnya mengalami masalah besar. Kesombongannya membuat Jeresh enggan mendengarkan nasihat orang lain. Dia mengabaikan peringatan dari rekan-rekannya dan tetap berpegang teguh pada caranya sendiri. Akibatnya, perusahaannya bangkrut.  Setelah jatuh, Jeresh mulai berubah. Dia belajar mendengarkan orang lain, mengakui kelemahannya, dan mulai bekerja keras dengan sikap yang lebih rendah hati. Perlahan-lahan, dia mulai bangkit kembali, namun kali ini dengan sikap yang mau menghargai orang-orang di sekitarnya, bukan karena kekayaannya, tetapi karena kerendahan hatinya. Kisah Jeresh mengajarkan kita bahwa kesombongan hanya akan membawa kehancuran. Tuhan memandang kerendahan hati sebagai jalan menuju kehormatan. Ketika kita bersikap rendah hati, kita membuka pintu bagi Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita dan mengangkat kita pada waktunya. Kerendahan hati tidak berarti kita memiliki kualitas diri yang rendah, tetapi kita mengakui bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan bukan dari kemampuan kita sendiri. Hanya dengan sikap kerendahakan hati, kita bisa mendapatkan kehormatan sejati dari Tuhan. Dalam kehidupan, kita sering melihat bagaimana orang yang penuh dengan kesombongan, jatuh ke dalam kehinaan. Sebaliknya, orang yang rendah hati sering kali berakhir dengan kehormatan yang lebih besar, meskipun awalnya mereka mungkin tidak terlihat menonjol. Saudaraku, Amsal 18:12 mengingatkan kita untuk menjadi orang-orang yang rendah hati, sekalipun ada banyak alasan untuk kita memegahkan diri di depan orang-orang yang tidak sebanding dengan kita. Yesus adalah teladan sejati akan kerendahan hati. Dia adalah Tuhan, yang mau menjadi manusia. Seberapa pun beratnya menjadi manusia, Yesus tetap dengan rendah hati menyelesaikan semua misinya di dunia ini. Banyaknya orang yang tidak percaya, menghina-Nya, melecehkan-Nya, bahkan menyalibkan-Nya, tidak membuat Yesus memegahkan diri, dan membalas dengan cara yang sama orang-orang yang telah berbuat jahat kepada-Nya. Refleksi :  Mungkin saat ini kita sedang diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan, kesehatan, jabatan yang tinggi, mari kita belajar untuk terus rendah hati, dengan tidak memandang rendah orang-orang yang ada di bawah kita. Atau justru kita sedang berada di posisi terendah dalam hidup kita,  banyak orang mungkin menghina kita, tidak menganggap kita, mengabaikan, kita. Mari kita tetap berteladan kepada Yesus. Sekalipun sulit, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang adil, yang tidak akan selamanya membuat kita dalam situasi yang sama.  Mari kita selalu ingat, Ketika Tuhan melepaskan kita dari masa yang sulit, jangan pernah membalas orang-orang yang telah menghina bahkan mengabaikan kita. Tetap menjadi orang yang rendah hati, tetap mau menolong orang-orang disekitar (termasuk orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita). Pesan: Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

Blessed Those who are Forgiven

MAZMUR 32. Sahabat, Mazmur 32 dibuka dengan pernyataan bahwa orang yang berbahagia  adalah orang yang diampuni pelanggarannya dan dosanya ditutupi (Ayat 1). Dalam Mazmur 32 kita dapat melihat perbedaan yang kontras antara orang yang hidup dalam dosa dan orang yang diampuni Tuhan dosanya. Kita mendapat pengajaran yang berharga melalui pengalaman hidup Daud ketika dia melakukan dosa dan ketika Tuhan mengampuni dosanya. Dosa itu akan membuat kita lemah dan lelah, dosa itu adalah beban yang berat dan seperti terik panas yang mengeringkan sampai ke tulang-tulang. Tuhan Yesus mengatakan bahwa dosa itu adalah penyakit mematikan yang segera harus disembuhkan sebagaimana yang dikatakan-Nya,  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9: 12).  Dosa adalah penyakit yang mematikan yang segera harus ditangani dan penawarnya hanya satu yaitu Tuhan Yesus. Mukjizat terbesar yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita manusia adalah pengampunan dosa. Namun yang terpenting adalah orang yang diampuni dosanya mau untuk diajar dan dituntun kepada jalan yang benar (Ayat 8).  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tooik: “Blessed Those who are Forgiven (Berbahagialah Mereka yang Diampuni). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 32:1-11. Sahabat, kita sadar, dalam kehidupan ini salah satu problem yang harus kita selesaikan di hadapan Tuhan adalah persoalan rasa bersalah.  Manusia bisa berusaha menekan perasaan bersalah ini dan mengalihkannya pada hal-hal yang lain, atau melakukan semacam kompensasi melalui moralitas, melalui agama, ataupun kebudayaan. Tetapi, apa pun yang dilakukan manusia, kecuali dia kembali kepada Tuhan, sebetulnya tidak ada kebahagiaan yang sejati, tidak ada jalan keluar yang sesungguhnya dari rasa bersalah. Itu sebabnya Saudara membaca di ayat pertama dikatakan: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” Sahabat,  lihat di sini, berapa jauhnya yang disebut “berbahagia” oleh Tuhan dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di dalam dunia. Di dalam dunia ini, mereka punya konsep kebahagiaannya sendiri; tetapi Sahabaat perhatikan, perasaan bersalah ini kalau tidak diselesaikan, tidak mungkin manusia mendapatkan kebahagiaan yang sejati.  Orang seringkali berpikir bahwa pengakuan dosa itu sesuatu yang hiper-religius, semacam penyakit, atau seolah-olah sesuatu yang terlalu radikal secara keagamaan. Tetapi kalau kita membaca dalam bacaan kita pada hari ini, sebetulnya Tuhan memberikan suatu jalan yang bukan hanya benar secara teologis namun juga manusiawi, ada aspek kemanusiaannya, bahwa manusia boleh mengaku dosanya di hadapan Tuhan.  Justru manusia boleh mengaku dosanya di hadapan Tuhan ini sesuatu yang manusiawi, sedangkan yang tidak manusiawi adalah ketika manusia sudah bersalah tapi tidak ada tempat atau pribadi untuk dia mengaku dosanya. Mengapa? Karena manusia akan terus dihantui perasaan bersalah tanpa ada jalan keluar. Bahkan di dalam ayat 3, dikatakan tentang pengalaman Pemazmur yang awalnya dia berdiam diri, tidak mau mengaku dosa, dan di dalam saat  seperti itu  tulang-tulangnya menjadi lesu, dia mengeluh sepanjang hari, tangan Tuhan menekan dia dengan berat. Meskipun demikian, Mazmur 32 juga mengatakan bahwa pengakuan dosa ini mesti dilakukan dengan kejujuran, dengan integritas. Kita tidak boleh menganggap sepi anugerah atau belas kasihan Tuhan. Kita tidak dipanggil untuk mempermainkan kesabaran atau anugerah Tuhan. Itu sebabnya Sahaba baca di ayat 2 dikatakan: “Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Apa maksudnya “tidak berjiwa penipu”? Yaitu jangan berpura-pura seperti kelihatan menyesal padahal tidak menyesal, jangan berpura-pura seperti mengaku dosa tapi sebetulnya tidak ada pertobatan.  Ada kaitan antara mazmur pengakuan dosa (penitential psalm) pasal 32 ini dengan penitential yang lain yang mungkin paling terkenal, yaitu Mazmur 51. Kalau Sahabat membaca Mazmur 51, dikatakan di ayat 19: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk … .” Sahabat lihat di ayat ini, pengakuan dosa jelas bukan sesuatu yang murahan, bukan suatu praktik yang easy going, yah, pastilah diampuni Tuhan,  melainkan ada pertobatan yang sejati. Berbahagialah mereka yang diampuni dosanya oleh Tuhan; di sini kebahagiaannya bukan berhenti pada diampuni dosanya saja, tetapi di sini disebut berbahagia karena hanya orang yang diampuni dosanyalah yang bisa hidupnya masuk ke dalam kekudusan yang disediakan oleh Tuhan.  Kita berbahagia karena kita tidak harus dan tidak lagi menjadi hamba dosa, sebaliknya kita boleh menjadi hamba kebenaran. Ini adalah kebahagiaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan, percaya kepada Kristus. Kita tidak harus menyelesaikan dengan kekuatan kita sendiri perasaan bersalah itu, apalagi tangan Tuhan yang menekan. Kita datang kepada Tuhan di dalam pertobatan yang sejati, dan Tuhan yang setia dan adil itu mengampuni Sahabat dan saya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah menyesali kejujuran yang Sahabat lakukan, karena nilainya begitu tingggi di hadapan Allah. (pg).

Elia dan Overthinking: Belajar Percaya di Tengah Ketakutan

Saudaraku, renungan kali ini saya tulis berdasarkan 1 Raja-Raja 19:4 dan 12. Dalam dunia yang serba cepat ini, kita sering kali tenggelam dalam overthinking, terus memikirkan masalah hingga semuanya terasa lebih besar dari yang sebenarnya. Kita terjebak dalam kekhawatiran dan skenario terburuk yang belum tentu terjadi. Padahal, semakin kita memikirkannya, semakin kita kehilangan ketenangan. Bagaimana jika kita, seperti Elia, bisa belajar untuk berhenti sejenak dan memercayai Tuhan di tengah semua kebingungan? Elia, seorang nabi yang penuh kuasa, baru saja menyaksikan kemenangan besar di Gunung Karmel, ketika Tuhan membuktikan diri-Nya lebih besar dari Baal. Namun, tak lama setelah itu, ancaman Izebel membuatnya lari ketakutan. Di tengah ketakutannya, Elia duduk di bawah pohon arar dan meminta Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. “Cukuplah itu, ya Tuhan, ambillah nyawaku”, katanya dalam keputusasaan (1 Raja-Raja 19:4). Elia yang berani ini, tiba-tiba terjebak dalam overthinking, merasa kalah dan tidak berguna, meskipun baru saja meraih kemenangan besar. Sering kali, kita pun terjebak dalam pola yang sama. Kita merasa takut dan tidak berharga ketika dihadapkan pada masalah yang tampak besar. Pikiran kita dipenuhi kecemasan, dan kita lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita kemarin masih ada bersama kita hari ini. Seperti Elia, kita sering melupakan siapa yang berdaulat di tengah badai kita. Ketakutan dan overthinking membuat kita buta terhadap kuasa Tuhan. Namun, Tuhan tidak meninggalkan Elia dalam keadaan putus asa. Dia tidak muncul dalam gemuruh angin, gempa, atau api, melainkan dalam suara angin sepoi-sepoi (1 Raja-Raja 19:12). Tuhan mengingatkan Elia, dan juga kita, bahwa Dia hadir dalam keheningan, bukan dalam kebisingan. Di tengah kekacauan pikiran dan kecemasan, Tuhan berbicara dengan lembut, memberi kita ketenangan. Pelajaran ini sangat relevan bagi kita hari ini. Kita hidup dalam dunia yang bising, di mana segala sesuatu bergerak cepat dan sering kali membuat kita terjebak dalam overthinking. Namun, Tuhan memanggil kita untuk berhenti sejenak, tenang, dan mendengarkan suara-Nya. Dia mengajarkan kita bahwa kepercayaan kepada-Nya tidak memerlukan kepanikan atau usaha berlebihan, melainkan keyakinan bahwa Dia bekerja dalam cara yang mungkin tidak selalu terlihat. Jadi, bagaimana kita mengatasi overthinking dalam hidup sehari-hari? Pertama, KITA HARUS MENGALIHKAN FOKUS KITA,  dari masalah yang tampak besar ke Tuhan yang lebih besar. Ketika pikiran kita dipenuhi dengan kecemasan, kita harus memilih untuk menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Elia merasa sendirian, tapi Tuhan memberitahunya bahwa masih ada ribuan orang yang setia. Ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita merasa terisolasi dalam masalah kita, Tuhan selalu memiliki rencana, dan kita tidak pernah benar-benar sendirian. Kedua, KITA HARUS MENDENGARKAN TUHAN DALAM KETENANGAN. Dalam dunia yang sibuk, kita cenderung mencari jawaban dalam kebisingan, lebih banyak kerja, lebih banyak analisis, lebih banyak usaha. Namun, Tuhan mengundang kita untuk berhenti dan mendengarkan. Dalam momen tenang itu, kita dapat merasakan kehadiran-Nya yang memberi damai. Overthinking hanya akan membawa kita lebih jauh dari Tuhan, tetapi kepercayaan pada-Nya membawa kita mendekat pada ketenangan sejati. Ketiga, KITA HARUS PERCAYA PADA RENCANA TUHAN,  bahkan ketika kita tidak mengerti semua detailnya. Elia merasa segalanya sudah berakhir, tapi Tuhan masih memiliki rencana besar untuknya. Begitu juga dengan kita. Ketika kita merasa tidak ada jalan keluar, Tuhan sedang bekerja dalam keheningan. Dia memanggil kita untuk percaya, untuk melepaskan kendali, dan membiarkan Dia memimpin. Kisah Elia mengajarkan bahwa overthinking adalah lawan dari iman. Ketika kita terus memikirkan semua yang bisa salah, kita lupa bahwa Tuhan yang berkuasa. Namun, ketika kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan dan memilih untuk percaya, kita menemukan ketenangan. Seperti Elia, kita dipanggil untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara Tuhan yang lembut di tengah kekacauan pikiran. Percaya kepada Tuhan tidak berarti kita memahami segala sesuatu; itu berarti kita berserah, bahkan ketika jalan di depan kita tampak gelap. Tuhan tidak hanya bekerja dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam momen-momen kecil yang penuh kedamaian. Di tengah badai pikiran kita, Dia memanggil kita untuk percaya, berhenti overthinking, dan menemukan damai dalam hadirat-Nya. (EBWR).

JEBAKAN RASA INGIN TAHU

Saudaraku, setiap manusia memiliki rasa ingin tahu.  Suatu saat seorang lewat di depan sebuah tembok dan ia melihat sebuah lubang kecil di tembok itu dengan tulisan di bawah lubang itu: “dilarang mengintip!”. Gegara tulisan itu, pejalan kaki itu penasaran dan mengintip dari lubang tersebut.  Karena rasa ingin tahu membuat  larangan bagaikan himbauan. Dahsyatnya pengaruh rasa ingin tahu juga dirasakan oleh Hawa, maka mari membaca dan merenungkan Kejadian 3:1-7. Ular yang cerdik tahu pergolakan batin Hawa dan mengatakan sebuah fakta tentang buah pengetahuan baik dan jahat yang sengaja dibuka untuk menggoda Hawa.  Saat Hawa mendengar informasi faktual dari binatang secerdik ular, ia percaya.   Buah yang tadinya nampak biasa, menjadi luar biasa sehingga ia mengabaikan larangan Tuhan.    Penulis Kejadian menginformasikan dengan buah di pohon itu baik dan menarik untuk dipandang (Kejadian 3:6).  Inilah awal dari kejatuhan manusia. Tuhan memberikan rasa ingin tahu kepada manusia untuk dapat mengembangkan dirinya, namun saat rasa ingin tahu tak terkuasai lagi maka itu akan menjadi jebakan bagi manusia itu sendiri.   Dalam kasus Hawa, sudah ada aturan dari Tuhan tentang pohon itu (Kejadian 2:17) namun Hawa merasa memakan buah adalah solusi memuaskan rasa ingin tahunya.  Hanya saja Hawa tidak mawas diri dan apalagi menyadari bahwa apa yang nampak menarik tak selalu benar.  Hawa terjatuh dalam jebakan keingin tahuan yang tak terkendali sehingga membuat apa yang terlarang menjadi kewajaran dan kejatuhannya berdampak luas hingga berpengaruh terhadap keturunannya.   Gegara rasa ingin tahu yang berlebihan itu, rasa respek kepada Tuhan luntur dan ia tidak lagi mempercayai apa yang dikatakan Tuhan kepadanya tentang akibat memakan buah pengetahuan itu.  Hawa tak lagi percaya, maka itulah yang disebut dengan pemberontakan kepada Allah.  Bagi Hawa, rasa ingin tahu harus dipuaskan tanpa mengindahkan aturan kebenaran. Saudaraku, Aristoteles mengatakan bahwa keingin tahuan adalah gairah awal pengetahuan.  Melalui rasa ingin tahu, manusia mengembangkan pengetahuan dan pengenalannya terhadap sekitarnya.  Namun rasa ingin tahu rawan untuk menjebak manusia dalam  situasi yang tak diinginkan, maka manusia perlu untuk memiliki rasa respek kepada kebenaran dalam Tuhan, padahal hanya kebenaran itulah yang dapat membuat manusia mengendalikan dirinya.   Tak semua rasa ingin tahu harus dipuaskan, karena masih ada norma, aturan dan tentunya Firman Tuhan agar manusia tetap hidup dalam harmoni.  maka manusia harus waspada dengan keinginannya sendiri sebagaimana  Rasul Yakobus mengatakan: Sesungguhnya keinginanmu sendirilah yang membuat kamu tergoda, karena kamu membiarkan dirimu terseret sampai terjerat pada hawa nafsu itu (Yakobus 1:14, TSI).   Saudaraku, mari terus mengembangkan rasa mawas diri agar keinginan tidak menjebak dan menjadi jerat bagi diri sendiri.  Mari pahami bahwa semua rasa ingin tahu tak harus terjawab karena misteri kehidupan akan membuat manusia tetap respek kepada Sang Pencipta.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)