Waiting God’s Times Patiently

MAZMUR 35. Sahabat, Mazmur 35 merupakan Nyanyian Ratapan. Nyanyian Ratapan termasuk satu bagian yang cukup besar dalam kitab Mazmur; dan ini menyatakan bahwa Firman Tuhan memberikan tempat untuk kita berespons di hadapan Tuhan dengan benar waktu kita sedang menderita. Kita bisa membagi Mazmur 35 dalam 2 bagian: Nyanyian Ratapan, dan Nyayian Pujian atau Ucapan Syukur. Mengingat Ratapan termasuk bagian yang besar dari Mazmur, ini berarti Tuhan juga mau mendewasakan kita melalui kita meratap di hadapan-Nya.   Ada orang yang di dalam penderitaan, dia tetap tidak bertumbuh. Meski dia mengalami penderitaan, kehidupannya tidak bertumbuh, karena dia tidak berespons di hadapan Tuhan, dia tidak bergumul di hadapan Tuhan,dia tidak mencari relasi dengan Tuhan, sehingga sia-sia saja penderitaan itu terjadi dalam kehidupannya, tidak menjadikan apa-apa.  Yang pasti, orang tidak perlu bangga karena dia menderita; tidak ada yang perlu dibanggakan dengan penderitaan. Sama juga dengan keberhasilan tidak perlu membuat kita bangga karena itu adalah berkat Tuhan, terlebih lagi, tidak ada yang perlu dibanggakan karena kita menderita. Tidak ada apa pun yang mulia dengan penderitaan. Penderitaan akan menjadi satu sarana yang baik, kalau kita berespons dengan benar di hadapan Tuhan. Inilah yang dilakukan Pemazmur dalam Mazmur 35. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Waiting God’s Times Patiently (Menunggu Waktu Tuhan dengan Sabar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 35:1-28. Sahabat, Pernahkah  diperlakukan dengan jahat oleh orang-orang yang Sahabat perlakukan dengan baik? Dalam ketidakmengertian atas perbuatan mereka, apa yang biasanya kita lakukan? Mengutuki, bersungut-sungut, mengecam, menyimpan dendam, atau mencari cara untuk membalas perbuatan mereka dengan lebih kejam?Daud pernah mengalaminya. Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik olehnya justru membalasnya dengan kejahatan, antara lain: mereka ingin mencabut nyawanya (Ayat 4a), merancangkan kecelakaan baginya (Ayat 4b), tanpa alasan menjebaknya (Ayat 7), menuntutnya (Ayat 11), menistanya terus-menerus (Ayat 15), mengolok-oloknya (Ayat 16), memusuhinya tanpa sebab (Ayat 19), dan menipunya (Ayat 20). Padahal Daud tidak tahu apa kesalahan yang telah ia perbuat (Ayat 11). Ia berbuat baik kepada mereka (Ayat 12) dan menemani mereka yang sakit (Ayat 13-14). Karena perbuatan jahat yang tanpa alasan itu, Daud merasa hidupnya telah dirusak habis-habisan (Ayat 17).Menariknya, dalam ketidakmengertiannya atas kejahatan yang dialaminya, Daud tidak menyalahkan Tuhan. Ya, ia marah terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat itu. Ia sakit hati atas kekejian mereka. Ia merasa dikhianati karena perbuatan baiknya dibalas dengan kejahatan. Tetapi semua kemarahan, sakit hati, dan perasaan dikhianati itu diserahkan kepada Allahnya.Kesadaran bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil (Ayat 24), membuat Daudmenyerahkan perkaranya kepada-Nya. Daud paham, pembalasan bukanlah haknya, melainkan hak Tuhan. Daud belum jelas apa yang akan Allah lakukan atas perkaranya, dan entah sampai berapa lama Daud mengalami semuanya kejahatan itu (Ayat 17). Namun Daud tetap bersorak-sorak karena Tuhan (9) dan bersyukur kepada-Nya (Ayat 18). Daud menutup Mazmur 35 dengan doksologi yang agung atas kebesaran Tuhan (Ayat 27-28).Orang-orang di sekitar kita bisa berbuat jahat dan menyakitkan, tetapi percayalah bahwa kita punya Sang Hakim yang Adil. Bagian kita adalah menyerahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan-Nya, maka Ia akan bertindak. Daud sadar bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri dalam bertindak, entah membalas mereka saat itu juga atau di kemudian hari. Sikap Daud yang benar yaitu tetap memuji Tuhan dalam keyakinan imannya akan Tuhan, DIA MENUNGGU WAKTU TUHAN DENGAN SABAR,  bukan menuntut Tuhan bertindak sesuai dengan keinginannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9 dan 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di bagian tengah Mazmur 35 ada sebuah perubahan besar yaitu ketika Daud mengakui bahwa keselamatan itu berasal dari Tuhan (Ayat 9), dan Daud tetap setia memuji Tuhan dalam segala hal (Ayat 18). (pg).

SATU BUKAN SERAGAM

Saudaraku,  Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ada pada lambang negara Garuda Pancasila.  Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda tetapi satu.  Alkitab ternyata juga memuat nilai Bhinneka Tunggal Ika, maka mari kita merenungkan Kisah Para Rasul 2:1-40. Perayaan Pentakosta yang ramai menjadi makin hiruk pikuk dengan  kabar mabuknya para murid Yesus di pagi hari sehingga  rumah itu ramai dikerumuni massa.  Mereka yang mendatangi rumah itu kaget dan heran karena para murid itu bisa berbicara dalam berbagai bahasa dan massa memahami pesan yang disampaikan padahal para murid Yesus adalah orang Yahudi Galilea yang tak menguasai bahasa asing apalagi menerima mereka yang berbeda dengan bangsa dan adat mereka.   Yang lebih mengherankan adalah dari sekian banyak bahasa yang keluar dari mulut para murid yang tersampaikan kepada banyak orang asing itu memiliki  pesan yang sama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar. Pesan inilah yang membuat mereka membuka telinga kepada Injil dan setelah Petrus menjelaskan situasi, mereka menjadi percaya dan dibaptiskan.   Peristiwa Pentakosta ini menjadi titik balik dari para pengikut Yesus dari sekumpulan para penakut yang pesimis, menjadi sekumpulan orang yang berani memberitakan tentang Kristus.  Berita tentang Kristus tersebar dari Yerusalem menuju ke luar Yerusalem melalui orang-orang yang menerima Injil dan dibaptiskan.  Dari lokal menjadi global dalam satu peristiwa dengan satu berita pokok: Pekerjaan Allah yang besar.   Inilah kerja Roh Kudus yang Maha Dahsyat.  Ia menyatukan bangsa-bangsa yang berbeda dalam satu irama, satu frekuensi dalam pekerjaan-Nya.   Manusia membuat banyak tembok dalam kehidupan, diantaranya: Etnisitas, adat istiadat, bahasa dan dialek.  Tak jarang karenanya manusia tidak bisa bersatu dan hidup dalam pertikaian dan kesalah pahaman sehingga saling menjegal dan menjatuhkan.  Namun Roh Kudus datang untuk menyatukan perbedaan dan mengarahkannya kepada pekerjaan Allah.   Tembok pemisah warisan Menara Babel dihapuskan oleh Roh Kudus.  SATU bukan berarti SERAGAM, melainkan menghargai PERBEDAAN untuk SATU TUJUAN.    Indonesia disatukan oleh Pancasila, bukan berarti Indonesia harus menjadi seperti satu suku mayoritas  melainkan segala perbedaan itu dijembatani oleh Pancasila untuk satu tujuan bersama.   Demikian juga Roh Kudus MENJADI PENYATU  setiap orang yang percaya kepada Kristus, apa pun etnisnya, aliran gerejanya, tingkat pendidikannya ataupun usianya.  Roh Kudus menyatukan untuk membuat yang berbeda memiliki satu tujuan bersama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar.   Saudara, masihkah hal ini menjadi tujuan bersama umat Allah?  Atau karya Roh Kudus hanya dipersempit dengan manifestasi ritual yang memperuncing perbedaan dan membuat diskriminasi baru?  Mari kembali kepada asal.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Tasting the Goodness of God

MAZMUR 34. Sahabat, dalam Mazmur 34 Daud mengecap kebaikan Tuhan dan mengajak kita ikut menikmatinya. Saat itu, Daud baru saja lolos dari bahaya maut. Sebelumnya, karena dikejar Raja Saul bersama tentaranya yang bermaksud membunuhnya, ia pun melarikan diri sampai ke Gat. Raja Akhis, raja kota itu pun mendapat laporan dari para hambanya bahwa mereka menemukan Daud, pahlawan Israel.  Di tengah rasa takut yang hebat, Daud berakting seolah-olah gila. Daud pun diusir (1Samuel  21:10-15) sehingga ia dapat melarikan diri kembali. Hal tersebut sangat melegakan hati Daud sehingga ia menulis Mazmur 34. Daud bisa lolos karena Tuhan memberi hikmat dan meloloskannya (Ayar 5).Ketika Daud terhindar dari peristiwa mencekam itu, ia belum terbebas sepenuhnya dari bahaya. Ia masih harus bersembunyi sementara di gua Adulam (1Samuel  22:1). Namun, rasa takutnya lenyap. Dengan demikian, mengecap kebaikan Tuhan tidaklah harus menunggu segenap keadaan sudah  menjadi baik.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Tasting the  Goodness of God (Mengecap Kebaikan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 34:1-23 dengan penekanan pada ayat 9, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”  Sahabat, Daud, seorang pemimpin yang dihadapkan pada banyak tantangan dan rintangan, sering mencari perlindungan dan kekuatan dari Tuhan dalam pengalaman hidupnya. Dalam konteks bacaan kita pada hari ini, Daud telah menemukan bahwa ketika seseorang memilih untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan, mereka akan menemukan bahwa Tuhan baik dan setia dalam memenuhi kebutuhan dan memberikan perlindungan.  Jadi, secara keseluruhan, bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk mengamati dan merenungkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, serta untuk mencari perlindungan dan kebahagiaan dalam hubungan yang erat dengan-Nya. Hal ini merupakan undangan untuk hidup dengan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, serta untuk mengalami kegembiraan yang bersumber dari ketergantungan kita pada-Nya. Bacaan kita pada hari  ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal penting: Pertama, Kebaikan Tuhan. Pemazmur menekankan bahwa Tuhan itu baik. Meskipun hidup kita penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan, kita dipanggil untuk memerhatikan kebaikan Tuhan di sekitar kita. Banyak kali, kebaikan Tuhan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti berkat yang diberikan, perlindungan yang diberikan, atau kasih yang ditunjukkan kepada kita melalui orang lain. Dengan merenungkan kebaikan Tuhan, kita dapat memperoleh sikap syukur yang lebih besar dalam hidup.  Kedua, perlindungan dalam Tuhan. Pemazmur juga menyatakan bahwa orang yang berlindung pada Tuhan akan berbahagia. Hal ini menunjukkan pentingnya memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita mencari perlindungan dalam Tuhan, kita meletakkan keyakinan kita pada-Nya untuk memberikan bimbingan, perlindungan, dan kekuatan dalam menghadapi segala situasi.  Sahabat, hal tersebut membawa kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, karena kita tahu bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi hidup ini. Karena itu,  kita diingatkan untuk senantiasa mencari kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan untuk memperkuat hubungan kita dengan-Nya sebagai sumber perlindungan dan kebahagiaan yang abadi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kecaplah dan lihatlah kebaikan-kebaikan Tuhan, nikmati perlindungan dan penyertaan-Nya setiap hari. (pg).