Sungai Limmat, Zurich

Saudaraku, dalam rangka menyambut Hari Reformasi pada tanggal 31 Oktober 2024, saya haturkan renungan ini. Tanggal 5 Januari 1527, penduduk Zurich berkerumun di kedua sisi Sungai Limmat yang bermuara di Danau Zurich untuk menyaksikan adegan mengerikan.  Felix Manz, dengan tangan dan kaki terikat, berjongkok di dek pondok nelayan dan menyanyikan mazmur “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” dengan penuh semangat. Dari sebuah perahu kecil, seorang pendeta menceramahinya dengan bertele-tele, sementara algojo menarik sekuat tenaga tali yang diikatkannya di leher terhukum. Teriakan putus asa terdengar di seberang danau, yakni ibu Felix Manz, yang memanggilnya dari tepi sungai dan menyuruhnya untuk tetap teguh dalam imannya. Sebelum kisah ini, ada Gerakan Reformasi yang dimulai oleh Martin Luther pada 31 Oktober 1517, yakni Luther menempelkan “Disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum” atau 95 Tesis Perdebatan tentang Kuasa Indulgensi di pintu Gereja Wittenburg Jerman. Dimulailah Gerakan Reformasi yang mengoreksi ajaran gereja Katolik saat itu, kemudian hari gerakan ini disebut sebagai Protestan, yang segera meluas ke Perancis, Swiss, dan negara-negara lainnya. Ajaran Reformasi Sola Scriptura mendorong para pengikut Reformasi untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa lokal. Felix Manz awalnya adalah orang kepercayaan Huldrych Zwingli, – seorang Reformator di Zurich Swiss, dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Swiss Jerman. Kaum muda di Zurich bisa membaca bahwa ada ajaran gereja saat itu yang tidak berdasarkan Alkitab, yakni keberadaan api penyucian, pengampunan dosa dengan cara memberikan persembahan, dan baptisan bayi. Beberapa reformis di Swiss yang lebih progresif mulai bertemu sendiri untuk mempelajari Alkitab, sekitar tahun 1523 William Reublin mulai berkhotbah menentang baptisan bayi di desa-desa di Zurich, mendorong para orangtua untuk tidak membaptis anak-anak mereka, tapi hanya penyerahan bayi dan setelah menjadi dewasa barulah dibaptis. Gerakan ini dikenal sebagai Anabaptis, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Reformasi Zwingli. Pada 17 Januari 1525, Zwingli dan para penentangnya berdebat di depan umum untuk pertama kalinya. Menurut Felix Manz, baptisan hanya masuk akal jika orang yang akan dibaptis mampu menyatakan iman mereka sendiri, jadi bukan saat masih bayi. Zwingli dan dewan kota Zurich bersikap keras, dan memerintahkan semua anak atau bayi yang belum dibaptis untuk segera dibaptis dalam waktu seminggu, atau orangtua mereka harus meninggalkan wilayah Zurich.  Malam itu, ada baptisan orang dewasa pertama di Zurich berlangsung di rumah keluarga Felix Manz. Sepuluh hari kemudian, Felix ditangkap, dan Zwingli mencoba membujuknya untuk berubah pikiran. Namun Felix tetap keras kepala dan ditahan, namun dapat melarikan diri dari penjara dan pergi ke wilayah lain di Swiss untuk melanjutkan ajarannya. Sangat populer di kalangan petani, yang berharap bahwa penafsiran Alkitab secara harfiah akan menghasilkan perbaikan status sosial mereka dan ada penghapusan pajak. Pada 7 Maret 1526, konsili Zürich mengeluarkan dekrit yang menyebutkan mereka yang melakukan pembaptisan ulang bagi orang dewasa dapat dihukum. Beberapa bulan kemudian Felix ditangkap lagi dan dideportasi ke Zurich, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Dua minggu kemudian Felix Manz berhasil melarikan diri bersama dengan 13 tahanan laki-laki dan 7 tahanan perempuan, memanjat melalui lubang di atap sel dan menuruni dinding luar penjara. Ia sekali lagi berkeliling negeri untuk berkhotbah dan membaptis, hingga ditangkap dan diadili sekali lagi pada awal Desember, pengadilan menjatuhkan hukuman mati dengan cara ditenggelamkan ke sungai. Pada tanggal 5 Januari 1527, Felix Manz menjadi korban pertama yang menjadi martir Anabaptis. Pada pukul 3:00 sore hari itu, Felix Manz dibawa ke sebuah perahu ke Sungai Limmat, kedua tangannya diikat dan ditarik ke belakang, lalu sebuah tiang ditaruh di antara kedua tangannya, dan ditenggelamkan di muara Sungai Limmat Danau Zürich. Kata-kata terakhirnya yang terdengar adalah, “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan nyawaku.”  Ya itulah kisah awal dari Gerakan Anabaptis. Pada tahun 1983, gereja Reformasi Swiss meminta maaf untuk pertama kalinya atas penderitaan yang telah ditimbulkannya kepada kaum Anabaptis. Sebuah plakat peringatan yang didirikan pada tahun 2004 di tepi Sungai Limmat mengenang Felix Manz dan rekan seimannya yakni Hans Landis, yang dipenggal di Fischmarkt, Zurich. Ajaran Anabaptis dan Reformasi memang ada beda di baptisan. Yang jelas Tuhan Yesus memberikan perintah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, …” (Matius 28:19).  Saudaraku, orang yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus mesti dibaptis. Namun dibaptis saat bayi atau saat dewasa, itulah ranah tafsir para rohaniwan di gereja masing-masing. Hal tersebut sangat tergantung dari kesepakatan, doktrin, dan denominasi, di gereja masing-masing. Yang perlu  kita pegang perintah Tuhan Yesus: “ … baptislah mereka …” (Surhert).

SELALU ADA KEJUTAN

Saudaraku, kebiasaan dan pengalaman seorang individu seringkali membuat individu itu membuat persepsi kuat sehingga sering memadamkan semangat saat menghadapi masalah, padahal seringkali Tuhan memberikan banyak ‘kejutan’ dalam kehidupan.  Mari renungkan salah satu kejutan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 3:1-10. Pengemis di Pintu Gerbang Indah sudah lama mencari nafkah di sana dan bertemu ribuan orang yang keluar masuk ke Bait Allah untuk berdoa, sementara ia sendiri tak pernah bisa melakukannya karena tiada tempat bagi orang cacat di Bait Allah.   Sungguh sebuah ironi karena sebenarnya Pintu Gerbang Indah punya nama lain Pintu Gerbang Emas dan orang lokal menyebutnya Pintu Gerbang Rahmat, namun bagi orang lumpuh itu rahmat hanya ilusi walau ia berada di sana.  Ia hanya mampu memandang kemegahan Bait Allah dari jauh, memandang kebahagiaan orang yang datang dan pergi untuk berdoa, mendengarkan mereka yang bercengkerama tentang perkara rohani sementara ia tak penah tahu bagaimana rasanya berjalan, berdiri sejajar dengan orang-orang itu apalagi beribadah bersama mereka karena sejak lahir ia sudah lumpuh.  Ia mendengar bahwa Allah itu mengasihi umatnya, namun ia tak mengharapkan kasih Allah itu terlalu besar selain cukup makan pada hari ini.   Ketika bertemu Petrus dan Yohanes ia menduga bahwa kedua orang itu akan memberi uang sebagaimana biasa dilakukan orang-orang yang kasihan padanya namun hari itu ia menerima kejutan karena Petrus dan Yohanes mempertemukannya dengan rentetan rahmat Tuhan baginya. Bukan uang, namun kesembuhan dalam nama Yesus yang membuka rahmat yang lain :  Pemulihan sosial dan hak-hak nya untuk beribadah.   Tak heran respons pertama yang dilakukannya adalah berjalan, karena ia tak pernah berjalan seumur hidupnya. Hal kedua yang dilakukannya adalah masuk ke Bait Allah bersama Yohanes dan Petrus dan memuji Allah.  Ia sadar bahwa kedua hal inilah yang diinginkan seumur hidupnya yang sore itu diterimanya melalui murid Kristus. Tuhan MAMPU MEMBERI KEJUTAN  dalam kehidupan dan membuat manusia menyadari kelemahan mereka.  Manusia belajar dari pengalaman namun pengalaman kadang kala menghalangi mereka untuk menerima rahmat Allah yang besar.  Keterbatasan inilah sebenarnya yang membuat manusia seharusnya membuka dirinya kepada Sang Rahmat, sebagaimana rasul Paulus mengatakan : “Sungguh hebat kekayaan Allah! Sungguh besar kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya!  Siapa yang dapat menyelidiki keputusan-keputusan-Nya?  Siapa yang dapat mengerti cara-caranya Ia bekerja?”  (Roma 11:33 – Versi BIMK).    Andaikan iman ini terus dipegang dalam hati pemuda pemudi yang sangat putus asa beberapa waktu lalu, maka mereka tak akan bunuh diri.  Andaikan iman ini dipegang dalam hati orang percaya, maka mereka akan mampu terus berjuang dalam kehidupan yang makin keras ini.  Tuhan Sang Pemilik Rahmat pasti memberikan KEJUTAN YANG TAK TERDUGA  di MASA SULIT.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Evil Temptation

MAZMUR 37. Sahabat Mazmur 37  dapat digolongkan sebagai Mazmur Hikmat yang bersifat didaktis, bukan sebagai doa.  Pemazmur memulai Mazmur 37 dengan satu pernyataan  yang menusuk persoalan tentang bagaimana respons kita kepada ketidakadilan dalam hidup ini: “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang” (Ayat 1).  Ya, memang banyak orang yang jujur dan hidup tulus merasakan kecemburuan yang besar, ketika melihat betapa nyaman dan makmurnya hidup orang-orang yang melakukan kejahatan. Sedangkan ia sendiri harus berjuang dan mengalami kesusahan, meski hidup tulus dan jujur.Bukan tanpa alasan Pemazmur memulai mazmurnya dengan pernyataan tersebut. Melalui Mazmur 37 Pemazmur menegaskan betapa rentan dan terbatasnya hidup orang yang berbuat jahat (Ayat 2, 9, 10, 13, 20, 22, 35-36, 38). Itu  berarti, meski kelihatan hidup orang jahat dipenuhi dengan kelimpahan, namun sesungguhnya hidup mereka seperti telur di ujung tanduk. Begitu rentan dan begitu mudah jatuh.  Beda halnya dengan orang-orang yang hidupnya takut akan Allah. Pemazmur menggambarkan hidup mereka itu kokoh karena ditopang Allah (Ayat 17, 19, 23-24, 30-31, 33, 39-40), penuh kelimpahan dari Allah (Ayat 9, 11, 22, 25-26, 29, 34 ), dan dipelihara selamanya oleh Allah (Ayat 18, 28, 37).Pemazmur mengingatkan kita bahwa di tengah kesusahan dan ketidakadilan yang kita hadapi dalam hidup ini, Allah tidak pernah tinggal diam dan mengabaikan kesusahanumat-Nya. Ia peduli dan memerhatikan, meski tidak selalu kita melihat jalan dan karya-Nya atas hidup kita. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Allah sedang bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Syukur kepada Tuhan kalau pada hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Evil Temptation (Godaan Untuk Berbuat Jahat)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 37:1-11 dan 39-40. Sahabat dalam suatu pertandingan, kadang kita mendengar  keluhan: “Kalau main curang begitu, ya, pasti menang. Percuma saja saya susah payah bermain dengan jujur jika yang menang adalah orang yang berbuat curang, tetapi tidak ketahuan juri,”  Memang menyesakkan hati ketika kita harus mengalami kekalahan akibat orang lain bermain curang dan tidak ketahuan oleh juri. Mungkin bukan hanya merasa sesak, tetapi kita tergoda juga untuk menempuh jalan yang curang; tergoda untuk berbuat jahat. Pemazmur memberikan nasihat yang konkret dan aplikatif agar kita tak marah dan iri kepada orang-orang yang berbuat jahat dan curang. Sebuah petunjuk bahwa fenomena seperti ini sudah berlangsung lama; sejak ribuan tahun yang lalu.  Mengapa tidak boleh iri hati atau marah kepada orang-orang yang berbuat curang? Pemazmur menggambarkan bahwa orang yang berbuat jahat atau curang itu seperti rumput dan tumbuhan hijau yang akan segera lisut dan layu. Artinya, orang-orang yang berbuat jahat atau curang tidak akan lama menikmati kemenangannya. Mengapa demikian?  Tuhan yang melihat segala sesuatu akan memberikan ganjaran kepada tiap orang menurut perbuatannya. Jangan pernah kita lupakan bahwa Tuhan memerhatikan segala sesuatu. Apa yang kita peroleh dengan cara yang jahat tidak akan bertahan lama. Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dlam di hati: Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. (pg).

Kasih Tak Bertepi, Pilihan Manusia

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Ulangan 6:5: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.”. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, kasih yang tulus kepada Tuhan seolah menjadi barang langka. Kehidupan modern menawarkan begitu banyak hal yang terlihat lebih menarik daripada menjalani hidup dalam kasih kepada Sang Pencipta.  Dengan segala kesibukan, tujuan hidup yang berubah, dan godaan yang memikat, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mengarah pada Tuhan. Persoalan besar dari judul ini adalah: Mengapa Tuhan tidak membuat manusia secara otomatis mencintai-Nya? Mengapa Dia membiarkan manusia memiliki pilihan yang berpotensi membawa mereka jauh dari-Nya?  Kasih sejati selalu melibatkan pilihan. Tuhan yang Maha Pengasih tidak memaksakan cinta. Kasih yang dipaksakan tidak pernah menjadi kasih yang tulus. Jika kita tidak memiliki kebebasan untuk memilih, cinta itu hanyalah kepatuhan buta, tanpa makna.  Tuhan tidak menginginkan robot, melainkan hati yang rela. Kita melihat hal ini dari permulaan sejarah manusia di Taman Eden. Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memilih menaati Tuhan atau melanggar perintah-Nya. Sayangnya, mereka memilih untuk jatuh. Kejatuhan itu membuka jalan bagi penderitaan, rasa sakit, dan kematian. Tapi apakah ini berarti Tuhan gagal? Tidak. Justru di dalam kebebasan itu kita melihat besarnya kasih Tuhan. Kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan hari ini tidak jauh berbeda. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan:  Apakah kita akan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau kita akan mengarahkan kasih kita kepada hal-hal lain yang lebih menarik di mata dunia?  Kerap kali, tanpa kita sadari, kita memilih yang kedua. Kesibukan, ambisi pribadi, kenikmatan sementara, semua itu menjadi tuhan-tuhan kecil yang mencuri tempat Tuhan di hati kita. Namun di balik itu semua, Tuhan tetap memberikan kita kebebasan. Dia tidak menghapus pilihan kita untuk mencintai atau menolak-Nya. Bayangkan seorang ayah yang memberikan kunci mobil kepada anaknya yang baru belajar mengemudi. Sang ayah tahu risiko yang ada, namun dia juga ingin memercayai dan memberi kesempatan kepada anaknya untuk bertumbuh. Dalam cinta yang sejati, ada risiko. Risiko bahwa kita akan salah memilih. Risiko bahwa kita mungkin berpaling.  Namun, kasih sejati juga memberi ruang untuk bertobat, kembali, dan mengasihi dengan tulus. Tuhan memilih untuk mencintai kita dengan cara yang sama, membiarkan kita bebas memilih, meski ada risiko kita jatuh, bahkan ketika kita sering kali salah arah. Saudaraku, Firman Tuhan dalam Ulangan 6:5 dengan jelas mengajarkan kita tentang jenis kasih yang Tuhan inginkan: kasih yang total, yang tidak terbagi-bagi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Ini bukan hanya panggilan untuk kasih emosional semata, tetapi kasih yang melibatkan segenap keberadaan diri kita: Pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan.  Mengasihi Tuhan berarti mengutamakan-Nya dalam segala hal, menempatkan Dia di pusat hidup kita, meskipun ada banyak hal lain yang menarik hati kita. Namun, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dengan tulus di tengah dunia yang penuh dengan pilihan? Jawabannya terletak pada pengenalan akan kasih Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita.  Kita mengasihi Tuhan bukan karena kita dipaksa, tetapi karena kita sadar betapa besarnya kasih yang telah Dia curahkan kepada kita. Ketika kita merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib, kita melihat kasih yang tak bertepi. Tuhan tidak sekadar mengasihi kita dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan konkret yang membawa keselamatan. Kasih itu harus menjadi sumber kekuatan kita untuk membalas cinta-Nya dengan ketulusan. Apa yang harus kita bangun dalam diri kita sebagai anak-anak Tuhan? Pertama, kesadaran akan kebebasan kita untuk memilih. Kita harus memahami bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk mengasihi Tuhan atau mengejar hal-hal lain.  Kedua, keinginan yang tulus untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Kasih kepada Tuhan bukanlah kewajiban yang berat, tetapi respons alami dari hati yang telah mengalami cinta-Nya. Ketiga, komitmen untuk menjaga kasih itu tetap hidup, bahkan ketika godaan datang untuk menarik kita jauh dari-Nya. Saudaraku, ketika kita memilih untuk mengasihi Tuhan dengan tulus, kita tidak hanya memilih kebahagiaan kekal, tetapi juga kehidupan yang penuh makna. Dalam kasih kepada Tuhan, kita menemukan siapa diri kita yang sebenarnya.  Dunia mungkin menawarkan begitu banyak pilihan yang terlihat menarik, tetapi pada akhirnya, hanya kasih Tuhan yang tak bertepi itu yang memuaskan hati kita. Apakah kamu memilih untuk mengasihi-Nya hari ini? Tuhan tidak akan memaksa, tetapi Dia SELALU MENUNGGU. (EBWR).

Life is a Choice

MAZMUR 36. Sahabat, dunia yang kita tempati hari ini adalah dunia yang telah jatuh dalam dosa dan penuh dengan kejahatan. Setiap hari, kita mendengar, membaca, atau menonton medsos dan berita televisi tentang berbagai kejahatan di lingkungan kita, di kota tempat kita tinggal, di negara kita, serta di belahan lain dunia ini. Bagaimana tanggapan kita terhadap berita-berita seperti itu? Dalam Mazmur 36, Daud menyaksikan bahwa orang-orang fasik memenuhi hidup mereka dengan dosa dan kejahatan. Hati mereka tidak memiliki rasa takut terhadap Tuhan. Segala perkataan, pikiran, dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan dan tipu daya.  Menyaksikan hal seperti itu tidak membuat Daud takut, melainkan membuat Daud makin menyadari betapa besar dan berharganya kasih setia Tuhan dalam kehidupannya dan dalam kehidupan orang-orang lain yang mengenal Tuhan. Tuhan yang penuh dengan kasih setia selalu menyelamatkan, melindungi, memelihara, dan menuntun kehidupan umat-Nya. Tuhan adalah Tempat Perlindungan paling aman di dunia ini. Melalui pembacaan Mazmur 36 pada hari ini, marilah kita belajar untuk tidak terpaku pada dunia di sekeliling kita yang sering nampak menakutkan. Sebaliknya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Life is A Choice (Hidup itu Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, sesungguhnya hidup ini penuh dengan pilihan, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Mulai dari urusan memilih mau pakai baju apa hari ini, hingga pilihan yang menentukan arah hidup kita di masa mendatang. Terlepas dari begitu banyaknya pilihan dalam keseharian kita, ada pilihan paling penting yang tidak boleh kita abaikan dan harus kita putuskan di dalam hidup ini, yaitu: menjalani hidup penuh dosa ataukah hidup penuh kebaikan Allah?Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud memerlihatkan kontrasnya gambar dari orang berdosa yang penuh kejahatan dan Allah yang penuh kebaikan. Digambarkan bagaimana bagi orang berdosa: Hatinya dipenuhi dosa (Ayat 2) dan hidupnya dipenuhi dengan kesalahan, kebencian serta kejahatan (Ayat 3-5). Akar dari kehidupan yang penuh dosa adalah orang berdosa tidak takut kepada Allah (Ayat 2b).  Gambaran ini sangat kontras sekali dengan gambaran Allah yang penuh kebaikan, seperti: kasih-Nya luas (Ayat 6), keadilan-Nya teguh (Ayat 7), Ia sumber kehidupan bagi segala ciptaan-Nya (Ayat 8-10). Oleh karena itu, bagi orang-orang yang takut akan Allah dan mengenal-Nya, hidup mereka dipenuhi oleh kasih setia dan keadilan Allah (Ayat 11).  Beda halnya dengan akhir hidup dari orang berdosa. Daud menegaskan di akhir mazmurnya:  “…orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi” (Ayat 13).Sahabat, pertanyaan bagi kitah: Hidup manakah yang mewakili kehidupan yang kita jalani sekarang ini? Kehidupan yang tidak takut akan Allah dan penuh dengan keberdosaan? Atau kehidupan yang takut akan Allah dan penuh dengan kebaikan-Nya? Banyak orang mengaku menjalani hidup yang takut akan Allah, namun hidupnya penuh dengan dosa dan kejahatan. Tentu bukan itu yang Tuhan inginkan dari hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikekang dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan.