ReKat: When the King is Being God (07 Juni 2023)

Bacaan Sabda: Yehezkiel 28:1-19 Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan: Pesan yang saya peroleh dari perenungan Firman Tuhan hari ini:  Tuhan adalah Sang Pencipta, sedangkan kita adalah ciptaan-Nya. Manusia itu terbatas, sedangkan Tuhan tak terbatas, manusia tidak mungkin menjadi Tuhan, tapi Tuhan sangat mungkin mengosongkan diri untuk menjadi manusia. Ketika Tuhan memberikan keberhasilan kepada kita, sehingga kita berada pada posisi puncak, janganlah kita menjadi angkuh dan sombong, sebab tanpa campur tangan Tuhan  tak mungkinlah kita mencapai semuanya itu. Tuhan-lah yang menjadi sumber berkat bagi manusia. Kita harus menjadi hamba yang tahu diri dan harus mengembalikan semua yang ada pada kita untuk menjadi berkat bagi sesama dan demi kemuliaan nama-Nya. Tidak ada karena saya menyadari bahwa  ketika saya  berhasil menyelesaikan suatu masalah, itu karena saya mencari hikmat Allah, bukan karena kekuatan dan ketrampilan saya sendiri.  (Swan Lioe)

Understanding the Explanation of Others

KONFLIK. Konflik terjadi karena ada kesalahpahaman antar dua pihak atau lebih. Masing-masing pihak mengutamakan pendapatnya sendiri, sementara pihak yang berseberangan harus dihancurkan. Padahal, untuk meredakan suatu konflik, kita perlu membangun situasi saling memahami.  Konflik secara etimologi berasal dari kata kerja Latin yaitu “con” yang artinya bersama dan “fligere” yang artinya benturan atau bertabrakan. Secara umum, konflik merupakan suatu peristiwa atau fenomena sosial di mana terjadi pertentangan atau pertikaian baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, maupun kelompok dengan pemerintah. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, gagasan, dan lain sebagainya.  Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial,  konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik juga timbul karena ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan sosial, seperti kesenjangan status sosial, kurang meratanya kemakmuran dan akses yang tidak seimbang yang kemudian menimbulkan masalah-masalah diskriminasi. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Understanding the Explanation of Others (Memahami Penjelasan Orang Lain)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 22:9-34. Sahabat, Yosua memerintahkan bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah, pergi ke Gilead, tanah milik mereka.  Mereka kembali sebagai umat Allah yang hidup dengan mengikuti segala perintah Musa. Ketiga suku Israel ini berangkat menuju ke seberang sungai Yordan (Ayat 9). Dalam perjalanan, mereka mendirikan mezbah besar menghadap ke Kanaan di Gelilot (Ayat 10-11). Hal tersebut dipandang salah oleh umat Israel lainnya. Alasannya, itu dianggap meniru penyembahan berhala di Kanaan atau memberontak kepada Allah.Imam Pinehas bin Eleazar dan sepuluh pemimpin suku Israel diutus menemui mereka. Tujuannya meminta mereka untuk kembali setia kepada Allah (Ayat 13-19). Mereka juga diingatkan akan murka Allah jika berkhianat kepada-Nya (Ayat 20).Sahabat, kemudian Bani Ruben, Gad, dan suku Manasye yang setengah mencoba menjelaskan maksud membangun mezbah tersebut. Mereka ingin mengingat identitasnya sebagai umat Allah serta bertekad untuk patuh kepada-Nya. Atas penjelasan itu, umat Israel memuji kebesaran Allah (Ayat 33).Perbedaan gagasan dari dua pribadi merupakan hal wajar. Tuhan memberi kita kemampuan berpikir dan mengambil keputusan. Ini adalah anugerah Allah. Jadi, kita belum tentu merupakan pihak yang paling benar. Kita membutuhkan kerendahan hati agar memahami penjelasan pihak lain.  Sahabat, dengan jalan demikian, setiap pribadi dimampukan untuk peka pada kehendak Allah dan bukan mengutamakan kehendaknya sendiri. Kehidupan akan terasa indah jika ada sikap saling memahami. Mari kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi pribadi rendah hati. Jadi, kita jangan selalu merasa sebagai pihak yang paling benar. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Tolong ceritakan secara singkat pengalaman Sahabat dalam menyelesaikan konflik di keluargamu. Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Manusia harus mengembangkan metode penyelesaian konflik kemanusiaan yang menentang balas dendam, serangan, maupun pembalasan. Dasar dari metode seperti itu ialah kasih sayang.” (Martin Luther King). (pg)

Good Shepherd’s Love

GEMBALA DOMBA. Dari Media Online Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) saya mendapatkan informasi bahwa domba  merupakan salah satu bagian sentral dari ekonomi Israel sejak awal sekali (Kejadian  4:2). Beberapa tokoh di dalam Alkitab  seperti Abraham, Ishak, Musa, Daud dan Amos adalah seorang gembala (Kejadian 12:16; 26:14; Keluaran 3:1; 2 Samuel 7:8; Amos 1:1). Gembala dalam arti harfiah pada zaman dulu dan sekarang, mengemban panggilan tugas yang banyak tuntutannya. Gembala harus mencari rumput dan air di daerah yang kering dan berbatu-batu (Mazmur 23:2), harus melindungi kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas (Amos 3:12), harus mencari dan membawa kembali setiap domba yang tersesat (Yehezkiel 34:8; Matius 18:12). Jika tugas-tugasnya mengharuskan dia jauh dari perkemahan gembala, segala kebutuhan utamanya ia bawa dalam suatu kantung (1 Samuel 17:40, 49), dan kemah menjadi penginapannya (Kidung Agung. 1:8). Gembala juga menggunakan anjing sebagai pembantunya seperti gembala modern (Ayub 30:1). Alat utama gembala adalah GADA (untuk mengusir binatang buas dan liar) dan TONGKAT panjang yang ujungnya melengkung (untuk membimbing atau menyelamatkan domba), dan juga UMBAN untuk melontarkan batu ke binatang liar yang menyerang (1 Samuel 17:34-37). Hari ini kita akan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Good Shepherd’s Love (Kasih Gembala yang Baik)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 34:1-31 dengan penekanan pada ayat 31. Sahabat, andaikan kita menjadi gembala dan suatu saat kita harus diperhadapkan dengan suatu pilihan yang berat:  Melindungi domba kita dari binatang buas tapi kita harus mati, atau kita membiarkan domba itu mati asal kita selamat, mana yang kita pilih?  Mari kita jujur saja sebagai manusia kita pasti memilih menyelamatkan diri sendiri daripada harus berkorban nyawa hanya demi domba-domba kita.  Gembala upahan pun melakukan hal yang sama: “… ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.”  (Yohanes 10:12). Sahabat, hampir semua orang pasti tidak mau mati demi seekor domba, karena nyawa domba itu tidak sebanding dengan nyawa manusia.  Tetapi Tuhan Yesus justru datang dengan tujuan mati untuk domba-domba-Nya.  Kalau manusia saja tidak pantas mati bagi domba, maka sangat tidak layak Raja di atas raja mau mati bagi manusia; namun Tuhan Yesus melakukan hal yang tidak lazim itu.  Itulah yang disebut anugerah.  Melalui perumpamaan dalam Lukas 15:1-7 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Dia, Allah, rela turun dari surga untuk mencari domba yang hilang, walaupun hanya seekor saja yang hilang, padahal ia masih punya sembilan puluh sembilan ekor yang lain.  Apalah artinya seekor dibanding dengan sembilan puluh sembilan ekor? Satu domba yang tersesat adalah gambaran dari manusia yang berdosa dan tersesat.  Orang lain mungkin melupakan atau membuang kita, tetapi Tuhan tetap peduli;  Ia mencari dan menyelamatkan kita walau kita sebenarnya adalah orang-orang yang tidak layak dicari, bahkan sebaliknya layak dibuang.  Namun kasih Tuhan begitu besar, bahkan Dia rela menderita dan mati di kayu salib.  Sahabat, hal ini membuktikan  bahwa Dia adalah GEMBALA  yang BAIK.  Tidak hanya itu, Dia menuntun domba-dombanya masuk ke kandang dan membawanya ke padang rumput hijau dengan tongkat dan gadanya.  Dia pun mengenal kita secara pribadi, seperti tertulis:  “… Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.”  (Yohanes 10:14).  Ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, penuh cinta kasih.  Bukan sekadar mengenal, tapi Dia tahu segala penderitaan dan pergumulan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan Yesus adalah Gembala kita yang sejati, yang mengenal kita. (pg).