“Aku Berikan yang Aku Punya”

  PENGANTAR. Kalau kita perhatikan, banyak pengemis yang hanya pura-pura sakit. Bila kita benar-benar tahu bahwa kepura-puraan menjadi sarana ia mengemis, hal yang demikian tidak perlu kita bantu. Dalam Amsal 3:27 berkata: “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya”. Secara implisit menunjukkan bahwa ada orang-orang yang tidak berhak menerima kebaikan, yaitu terhadap siapa kita justru harus menahan kebaikan tersebut. Firman Tuhan di Kisah Para Rasul 3:2: “Lalu, seorang laki-laki yang lumpuh sejak dalam kandungan ibunya digotong. Setiap hari mereka meletakkannya di pintu gerbang Bait Allah yang bernama Pintu Gerbang Indah untuk meminta sedekah dari orang-orang yang akan masuk ke Bait Allah.” Orang laki-laki dalam kisah di atas benar-benar lumpuh. Ini terlihat dari ayat 2: “sejak dalam kandungan hingga saat itu”, “harus diusung”, “diletakkan”. Juga dari ayat 9-10, kita saksikan banyak orang yang tahu bahwa ia memang lumpuh. Orang itu mengemis di pintu gerbang Bait Allah dan meminta uang kepada Petrus dan Yohanes. Ia tidak mempunyai harapan sembuh, ia hanya meminta uang. BANYAK PENGEMIS SEJATI DI SEKITAR KITA. Sebegitu dekat dan lekat orang dengan problema hidup, hingga karena terbiasa dengan persoalan, hingga hidup adalah persoalan. Inilah yang semestinya butuh pertolongan Tuhan, inilah juga yang seharusnya disebut “pengemis sejati” di hadapan Tuhan. Wsapadai iblis yang sudah mencuri “rasa butuh Tuhan” itu, kemudian membunuh rasa itu dan akhirnya membinasakannya (Yohanes 10:10a). Oleh hikmat dari Roh Kudus, Petrus meminta si lumpuh menatapnya agar perhatian si lumpuh akan sesuatu yang sia-sia berpaling kepada hadirat Kristus yang ada di dalam Petrus. Doa kesembuhan, harus kepada hal yang hakiki ini: Menarik perhatian si sakit kepada hadirat Tuhan Yesus Kristus yang penuh kuasa. Saya yakin bahwa rasul-rasul itu tidak mempunyai emas dan perak. Mereka bukan hanya tidak kaya, tetapi bahkan miskin. Murid Kristus tidak harus kaya. Petrus berkata: “Apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu”. Ini suatu konsep yang penting dalam banyak hal, seperti: Pada waktu menolong orang. Tolonglah dengan apa yang ada pada kita. Pada waktu mau memberi persembahan bagi pekerjaan Tuhan, tak perlu berkhayal menjadi miliarder supaya bisa memberi banyak. Berikan apa yang ada dengan tulus ikhlas. Pada waktu mau melayani Tuhan, tak perlu berkata: “Andaikata saya bisa berkhotbah dan mengajar”. Mari kita melayani dengan karunia yang ada pada kita, tak perlu berkhayal tentang karunia yang tidak kita miliki. “Demi nama Yesus Kristus”. Ini bukan semacam mantera. Kalau kita tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, tidak ada gunanya kita menggunakan kata-kata itu, baik dalam doa maupun mengusir setan (bdk. Kisah Para Rasul 19:13-16), dsb. Petrus menggunakan nama Yesus di sini untuk menunjukkan bahwa ia melakukan mukjizat kesembuhan itu bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Yesus. Setelah disembuhkan si lumpuh itu menjadi pengikut Yesus. KESIMPULAN. Banyak orang melakukan penginjilan tergesa-gesa tanpa menegur dosa, langsung menyuruh orang percaya Yesus. Memang dalam kasus-kasus tertentu dimana waktunya memang tidak ada, hal itu terpaksa harus dilakukan. Tetapi kalau waktunya memungkinkan, maka itu adalah cara penginjilan yang kurang tepat. Sebelum orang itu sadar bahwa ia adalah orang yang berdosa, ia tidak akan membutuhkan Yesus sebagai Juruselamat dosa. Dalam “memberitakan Injil” seseorang hanya memberitakan Yesus sebagai penyembuh, pemberi berkat/kekayaan, biasanya juga tidak melakukan penyadaran akan dosa. Ini lagi-lagi adalah penginjilan yang kurang tepat. Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita dalam kitab Kisah Para Rasul 3 di atas, mari kita jawab pertanyaan berikut: Pesan apa yang kita peroleh dari hasil perenungan kita pada hari ini? Apa yang kita pahami dari Kisah Para Rasul 3:2? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dijadikan-Nya saksi Kristus yang berdampak hingga efektif dan efisien bagi dunia. Amin (sp).

SAAT HASIL MENGKHIANATI USAHA

Ada sebuah pepatah yang mengatakan siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.  Maknanya adalah setiap orang yang berikhtiar, berusaha, melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh maka ia akan menuai keberhasilan.  Namun sepertinya pepatah itu harus berhadapan dengan realitas yang berbeda. Mari kita renungkan Matius 10:1-4. Saudaraku, nama Yudas Iskariot memiliki jejak negatif dalam Injil.  Namun bila kita membaca ayat-ayat renungan kita, kita mendapati kenyataan yang mengejutkan di awal panggilan Yudas menjadi murid Yesus.  Keterangan tentang Yudas Iskariot oleh Matius menjadi menarik.  Perlu diketahui bahwa keterangan ini diberikan saat Matius menyusun Injil Matius yang dilakukan jauh setelah peristiwa penyaliban Yesus, setelah Yudas melakukan pengkhianatan.  Namun saat Matius dan Yudas Iskariot ditetapkan menjadi murid (sebelum terjadi pengkhianatan), tentunya Matius memandang Yudas sebagai pribadi yang netral yaitu sesama manusia yang dipilih Yesus menjadi murid-Nya.  Mereka berdua belas diberi kemampuan untuk mengusir roh jahat, penyakit dan difabilitas (Matius 10:1), walau Yesus sejak awal tahu bahwa Yudas bukanlah orang yang akan setia kepada-Nya.  Yesus tidak membedakan keduabelas orang itu dan memberikan perhatian yang sama.  Inilah usaha Yesus untuk menjadikan mereka sebagai murid yang memiliki kemampuan melayani orang lain.  Namun semua orang tahu bahwa Yudas Iskariot memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya, bahkan Matius memberikan keterangan saat menyebutkan kembali nama Yudas Iskariot: … yang mengkhianati Yesus (Matius 10:4).   Untuk kasus Yudas, sepertinya hasil telah mengkhianati usaha Yesus. Dalam kenyataan seringkali didapati hal yang sama. Endog sak petarangan, netes e beda-beda, demikian pepatah Jawa mengatakan.  Maknanya telur dalam satu sarang, hasil tetasannya bisa berbeda.  Dalam berbagai film juga sering dikisahkan musuh yang paling berbahaya adalah para barisan sakit hati dari sebuah perkumpulan, yang tadinya satu tujuan namun pada akhirnya memilih jalan yang berbeda.  Dalam satu keluarga, ada anak-anak yang bisa memahami orang tua namun ada anak yang egois.    Bagaimanapun lingkungan belajar tidak hanya dalam komunitas para murid, namun juga dari proses mengolah apa yang dipelajari.  Hasil dari proses mengolah pun unik sehingga bisa saja pada akhirnya bisa berbeda pada akhirnya. Tugas seorang pendidik seperti Yesus adalah menabur dengan setia, apapun hasilnya nanti. Mungkin bukan hanya pendidik namun juga para orangtua dan para senior yang lain. Saudaraku, dari perenungan ini kita belajar tentang kesetiaan Yesus untuk tetap memberikan yang terbaik untuk para murid.   Walau Yesus tahu siapa Yudas Iskariot nantinya, bahkan Yesus pernah menyatakan kekecewaaan-Nya tentang sikap Yudas (Markus 14:21), Yesus tidak bersikap diskriminatif kepada calon pengkhianat-Nya.  Yesus tetap menabur dengan cara dan porsi yang sama seperti Yesus memperlakukan murid-murid-Nya.  Yesus tidak lelah mengingatkan Yudas dan memberikan pengertian bahkan di titik kritisnya sebelum Yudas memutuskan untuk mengkhianati-Nya (Matius 26:10-13, 21-25).  Tetaplah menjadi berkat untuk orang lain walau pada akhirnya mungkin harapan tidak sesuai dengan kenyataan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).

RENCANA GEMILANG UNTUK SANG PECUNDANG

Saudaraku, sebuah meme di salah satu situs mengatakan : “Watuk iso diobati, watak iku digowo mati.”  Kalimat tersebut berbicara tentang karakter manusia yang akan hidup dalam manusia itu sepanjang hayatnya.  Seorang pecundang akan terus menjadi pecundang.  Mari membaca  Matius 9:9-13. Orang Yahudi dikenal sebagai bangsa yang sangat menjaga identitasnya sebagai bangsa pilihan Allah.  Apa pun yang bukan berasal dari kalangan mereka, akan diterima dengan prasangka dan bahkan ditolak mentah-mentah.  Maka dalam pengembangan Hukum Taurat, ada berbagai pemisahan antara yang halal dan haram.  Salah satu pekerjaan yang dianggap haram adalah memungut pajak, sehingga pelakunya dikategorikan sebagai orang berdosa, seorang pecundang.  Hal ini dikarenakan : Pemungut cukai bekerja untuk orang Romawi Pemerintah Romawi adalah orang asing dan tidak bersunat.  Haram hukumnya untuk  bekerja dengan orang non Yahudi. Mengambil uang lebih dari pajak yang seharusnya Sudah ada aturan dalam Taurat bahwa sesama Yahudi tidak boleh mengambil untung dari pinjaman (Ulangan 23:19-20) Cara mereka mengambil pajak seringkali dengan kekerasan Tekanan kerja kepada pemerintah membuat pemungut cukai seringkali melakukan Tindakan apa pun untuk memenuhi target kerjanya, termasuk memaksa, mengancam dan merampas. Membaca alasan itu saja sudah cukup membuat pemungut cukai mengalami diskriminasi dan masuk daftar pekerjaan yang menjadi musuh masyarakat.  Yesus sendiri menyadari hal itu.  Maka Ketika Yesus memanggil Matius menjadi pengikut-Nya, Yesus menerima kecaman dari para Penjaga Taurat yaitu orang Farisi (Matius 9:11).  Mari kita renungkan jawaban Yesus dalam ayat ke 12–13: Yesus menerima realita bahwa Matius memang pecundang. Kenyataan bahwa Matius memang berdosa diakui oleh Yesus.  Sebagai Yahudi, Yesus juga memiliki pemikiran yang sama dengan orang Yahudi pada umumnya.   Kenyataan itu tidak ditolak oleh-Nya.  Para Farisi mengingatkan Yesus tentang status Matius karena memang orang seperti Matius tidak akan pernah menjadi perhatian bagi para Rabi apalagi dijadikan murid. Bibitnya sudah buruk, begitu ibaratnya. Yesus memanggil Matius untuk sebuah tujuan yang gemilang Realitas yang memang buruk tidak membuat Yesus menyerah dengan Matius.  Yesus memberikan jawaban yang menohok kepada orang Farisi bahwa orang berdosa membutuhkan orang yang paham Firman untuk membimbing sehingga mereka mencapai kesadaran.  Proses membimbing membutuhkan hati.  Orang Farisi punya otak cerdas karena tahu baik dan buruk namun bagi Allah itu tidak cukup.  Allah ingin tiap manusia saling memerhatikan dan menolong sehingga yang orang yang ditolong mencapai kesadaran tentang Allah. Saudaraku, Yesus menyentuh pecundang untuk menjadi pemenang.  Sapaan, penerimaan dan kepercayaan Yesus kepada Matius berbuah manis.  Matius menjadi rasul yang luar biasa dan setia dengan pelayanannya.  Tradisi gereja mengatakan Matius menjadi misionaris di Ethiopia.  Bahkan Injil yang kita renungkan ini adalah tulisan Matius, mantan pecundang itu. Bila Saudaraku saat ini merasa menjadi pecundang dalam kehidupan, dengarlah Kembali sapaan Yesus yang memanggil untuk menjadi pengikut-Nya dan Kembalilah untuk hidup dalam lingkaran kesadaran Allah.   Bila Saudaraku saat ini melihat pecundang di sekitar saudara, ingatlah bagaimana Yesus memandang Matius.  Yesus datang kepada Matius bukan untuk berkompromi, namun menjadi Rekan sejati untuk mengintrospeksi diri.  Siapa bilang pecundang akan hilang?  Di tangan Yesus, pecundang akan masuk dalam rencana Allah yang gemilang. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

God Never Breaks His Promises

MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI. Itu merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh Paramitha Rusady yang menjadi soundtrack dari film “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji”  yang dirilis pada tahun 1986. Film tersebut merupakan film arahan sutradara Wim Umboh dan dibintangi oleh Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Mira W. Dikisahkan dalam film tersebut, Maria (Paramitha Rusady) sejak kecil diarahkan ayahnya untuk menjadi biarawati. Akibat pengarahan yang kaku oleh ayahnya, Maria selalu merasa serba salah. Ia jatuh cinta pertama dengan Guntur (Adi Bing Slamet), tetapi Maria akhirnya tetap menjadi biarawati juga. Hari ini kita akan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “God Never Breaks His Promises (Tuhan Tidak Pernah Ingkar Janji)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 21:43-45 dengan penekanan pada ayat 45. Sahabat,  kita hidup dalam dunia yang dibanjiri dengan janji. Televisi dan media sosial, menjadi corong janji itu diumbar. Namun sering kali, tebaran janji itu hanya semu. Janji itu akan terpenuhi kalau kita memenuhi syarat yang disodorkannya. Kita terlebih dahulu harus membayarkan sejumlah uang baru kemudian janji itu bisa dirasakan. Bahkan, sering janji itu memanipulasi syarat-syaratnya. Akibatnya, siapa saja yang tidak cermat malah menjadi tertipu. Sahabat, manusia sering lupa akan janjinya. Banyak orang berjanji tetapi ternyata tidak menepatinya. Manusia dengan berbagai alasan mengingkarinya. Akibatnya kita kecewa dengan janji dan akhirnya apatis dengan janji. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Kalau Tuhan berjanji pasti akan menepatinya. Tuhan berjanji kepada nenek moyang bangsa Israel untuk memberikan Tanah Perjanjian. Sekalipun nenek moyang mereka sudah tidak ada, janji Tuhan tetap berlaku untuk keturunan mereka. Sahabat, bacaan kita berbicara tentang janji. Tuhan selalu menepati janji-Nya. Dia tidak mengajukan syarat yang manipulatif. Sebaliknya, syarat pemenuhan janji-Nya cukup sederhana: Melakukan perintah-Nya. Contoh yang paling awal adalah Abraham. Tuhan menjanjikan kepadanya tanah perjanjian asalkan Abraham mau bertindak sesuai firman-Nya. Hal serupa terjadi kepada bangsa Israel. Selama Israel taat pada perintah Tuhan, maka penyertaan dan penggenapan janji-Nya pasti nyata. Tuhan akan membuat semua hal menjadi mudah. Bahkan, jika tantangan musuh datang, mereka tidak akan tahan berdiri menghadapi Israel (Ayat 43-45). Tuhan menjamin keamanan bangsa Israel. Sahabat, relasi dengan Tuhan ternyata cukup sederhana, walau sulit dalam praktik. Kita berhubungan dengan dia dijembatani oleh janji-Nya dan ketaatan. Dua hal ini harus berjalan seimbang sama seperti antara hak dan kewajiban. Kita akan mendapatkan hak jika sudah melaksanakan kewajiban. Prinsip ini tidak bisa dibalik. Jika kita mengklaim janji-Nya, maka perintah-Nya pun harus kita eksekusi. Pendeknya, mukjizat itu nyata jika firman-Nya pun dilaksanakan. Hanya ketaatan kita yang bisa membuat Tuhan bertindak, bukan uang, korban, atau “sogokan” lainnya. Pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana kedua aspek ini menjadi seimbang dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya merengek menuntut janji-Nya, namun kita lupa menjalani kewajiban? Bagian kita hanyalah TAAT karena Tuhan pasti setia dalam janji-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apakah Sahabat pernah kecewa dengan janji Tuhan? Apa yang harus Sahabat lakukan sambil menunggu janji Tuhan digenapi dalam hidupmu? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sambil menunggu waktu Tuhan menggenapi janji-Nya, jangan tinggal diam, berusalah melakukan perintah-perintah-Nya. (pg).

Jangan Beri Tempat Pada Egoisme

PENGANTAR. Seri pembelajaran Kisah Para Rasul 2, mari kita fokus pada Kisah 2:41-47. Kita akan mempelajari persekutuan gereja mula-mula. Pola persekutuan yang memerhatikan sesamanya secara langsung. Berbeda dengan era kini, era informasi, era digital, era HP; orang cenderung individualis, mementingkan diri sendiri. Terlebih dengan munculnya teknologi yang membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri. Mari kita kupas sedikit lebih dalam ajaran Kristus berdasarkan Kisah Para Rasul 2:41-47 dan aplikasinya dalam bergereja di era digital. Pola persekutuan yang memerhatikan sesamanya. Ada sisi positif dari teknologi yakni mempercepat penyebaran informasi. Mari kita temukan kembali semangat persekutuan yang mengutamakan kepentingan orang lain. Pendekatan yang digunakan adalah kontektualisasi teks yang kita pelajari bersesuaian dengan kekinian. Dalam hal pendekatan tersebut Kisah 2:41-47 ada empat hal yang dapat dipraktikkan yakni, (1) Menerima seorang dengan sukacita, (2) Kebiasaan belajar bersama, (3) Memperkuat persekutuan, dan (4) Membangun kebersamaan melalui makan bersama. PELUANG EMAS BAGI GEREJA MASA KINI. Gereja, dewasa ini menghadapi banyak tantangan dengan hadirnya teknologi yang semakin melaju. Menurut analisis SWOT, ada tantangan tetapi juga ada peluang. Fokus, membangun jejaring kepada orang atau lembaga melalui media sosial seperti facebook, whatsApp, instagram, dan medsos lain sebagai sarana jemaat berakar, bertumbuh dan berbuah dengan jiwa-jiwa baru bagi Kristus. Di sisi lain, ada tantangan baru lainnya yakni tidak semua orang memanfaatkan teknologi ini sebagai alat komunikasi untuk membangun silahturahmi kepada orang lain. Medsos hanya dipakai sekadar mengupdate status, menfitnah satu dengan lainnya bahkan menyebarkan berita-berita hoax. Hal tersebut dibenarkan oleh bapak Jokowi Presiden kita bahwa medsos menjadi sarana perbuatan negatif. Penggunaan teknologi digital sangat baik untuk jejaring berbasis teknologi karena dapat menjangkau orang-orang yang membutuhkan  kasih Kristus hingga dapat mengembangkan pelayanan kristiani. Perkembangan teknologi informasi harus menjadi bagian integral gereja dalam menjawab berbagai tantangan di masa mendatang. Untuk dapat berkembang, media gereja (seperti halnya media Christopherus) harus memiliki visi dan misi yang kuat, pekerja media yang kompeten, insentif yang layak, dan peran signifikan gereja/lembaga PI dalam memberikan dukungan. Tanpa kejeIasan peran gereja/lembaga PI, keberadaannya akan menjadi beban tersendiri bagi jemaat dan/atau pengurus. Model pelayanan yang sudah berkembang dan masih perlu dikembangkan dengan melibatkan para milenial yang sedang mekar dalam dunia digital. Pertama, praktik doa yang adalah minyak bagi sebuah persekutuan doa, penghiburan, dorongan semangat, dan inspirasi. Kedua, menawarkan keramahtamahan, menciptakan suasana refleksi, menginjili dengan penuh hormat dan santun, kerjasama bersinergi seluas-luasnya antara gereja dan lembaga pelayanan. Ketiga, pemuridan seperti yang sedang dikembangan oleh Departemen Misi dan Pengajaran Christoperus (DMPC) dan memperkaya kehidupan spiritual para milenial melalui khotbah, pendidikan dan pelayanan kelompok kecil. Keempat, melibatkan para pakar yang senang berpelayanan dan membantu menjadi jembatan penghubung satu sama lain. Kelima, berbagi kesaksian melalui aktivitas, praktik keadilan sosial. Akhirnya, saya menawarkan sebuah tema di saat Radio Siaran Ichthus Semarang berusia 50 tahun: “Berjejaring Dan Bersinergi Seluas-luasnya”. KESIMPULAN. Persekutuan jemaat mula-mula merupakan model hubungan antar sesama saat ini untuk membangun kebersamaan melalui media sosial dan menyampaikan pesan yang baik bagi semua orang. Kita memakai media, bukan media memakai kita. Kita gunakan medos sebagai alat pemberitaan Injil.  Orang mengenal Kristus melalui tulisan kita, hingga berakar, bertumbuh dan berbuah lebat dalam firman dan karakter Kristus. Hidup dalam persekutuan yang kokoh, peduli sesama, kebiasaan doa terus-menerus bertumbuh kreatif inovatif. Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita dalam kitab Kisah Para Rasul 2, mari kita jawab pertanyaan berikut: Pesan apa yang kita peroleh dari hasil perenungan kita pada hari ini? Apa yang kita pahami dari Kisah Para Rasul 2:41-47? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dijadikan-Nya saksi Kristus yang berdampak hingga efektif dan efisien bagi dunia. Amin (sp).

When there are Chances Still

KESEMPATAN UNTUK BERUBAH. Ada satu ungkapan lama yang sangat familier: “Waktu adalah uang.” Hal ini menunjukan bahwa setiap detik waktu yang ada  begitu berharga, dan tidak boleh di sia-siakan. Sesungguhnya ungkapan “Waktu adalah uang” bisa dimaknai banyak hal seperti:  Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada; jangan pernah menunda-nunda pekerjaan; hendaklah kita dalam hidup menghargai waktu; dan lain sebagainya. Tapi ada juga segolongan orang yang memaknai: Setiap detik waktu yang dimiliki, itu harus dimanfaatkan dengan baik supaya bisa menghasilkan uang. Tentu pandangan seperti itu lebih banyak dianut oleh orang-orang yang mengarahkan fokus hidup mereka untuk mengejar perkara-perkara dunia dengan segala kesenangan dan kenikmatannya. Sahabat, kita sebagai orang percaya,  harus memandang waktu hidup yang kita miliki saat ini dengan sudut pandang yang berbeda. Waktu hidup yang kita miliki saat ini harus dilihat sebagai sebuah anugerah dan kesempatan untuk berubah dari cara hidup yang lama, cara hidup yang sia-sia selama ini, dan kembali mengarahkan fokus hidup ini hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di surga. Memanfaatkan waktu hidup yang masih ada sebagai anugerah, untuk hidup melakukan kehendak Allah Bapa di surga, adalah sebuah keputusan yang bernilai tinggi, sebab akan berdampak pada masa depan kehidupan kita di kekekalan nanti. Hari ini kita  belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “When there are Chances Still (Ketika Masih Ada Kesempatan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 33:1-20. Sahabat, dalam menekankan kedaulatan Allah, sering sekali kita salah mengerti dan berpikir bahwa Allah yang tidak berubah adalah Allah yang tidak merespons apa pun yang dilakukan umat-Nya. Pemikiran tersebut salah, coba kita cermati apa yang disampaikan Allah melalui Yehezkiel: “Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! – tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati … Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! – tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, orang jahat itu mengembalikan gadaian orang …, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, …” (Ayat 13-15). Allah menyatakan diri-Nya tidak berubah. Tetapi, bukan berarti Ia tidak merespons perbuatan umat-Nya. Pernyataan itu sama dengan yang dinyatakan-Nya dalam Yeremia 18:7-10. Dalam pernyataan tersebut ada paradoks antara doktrin “ketidakberubahan” Allah dan Allah yang merespons. Di satu sisi, Allah bukan seperti manusia sehingga Ia menyesal. Ia melakukan apa yang difirmankan-Nya (Bilangan 23:19; 1 Samuel 15:29). Artinya, apa yang ditetapkan Allah tidak mungkin berubah. Misalnya, kehancuran Yehuda tidak dapat diubah karena hal itu merupakan ketetapan Allah. Di sisi lain, Alkitab menekankan bahwa Allah merespons terhadap perilaku manusia. Misalnya, Allah merespons ratapan Hizkia dan Ia memperpanjang hidupnya 15 tahun lagi. Keduanya merupakan ajaran yang terdapat dalam Alkitab dan kita harus berpegang pada kedua ajaran tersebut. Sahabat, bagaimana harmonisasi kedua doktrin itu? Ketika Allah menyatakan akan melakukan sesuatu, belum tentu itu merupakan ketetapan Allah. Bisa saja itu merupakan kesempatan yang Allah berikan kepada manusia untuk bertobat. Jika demikian, doa orang benar pun tidak dapat mengubahnya (bdk. Yehezkiel 14:14, 20). Marilah kita bertobat dari dosa kita selama masih ada kesempatan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Yehezkiel 33:13-15? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pertobatan tidak dapat dilakukan hanya sekali seumur hidup, melainkan suatu proses terus-menerus dalam hidup kita. (pg).

The Serving Leader

PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN. Dari Kompas.com saya mendapatkan informasi bahwa pemimpin adalah satu atau beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur kelompoknya agar bisa bekerja sama mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan kepemimpinan ialah seni untuk membimbing atau menuntun orang lain dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bisa disimpulkan bahwa bedanya pemimpin dan kepemimpinan, yakni pemimpin lebih mengarah pada orang (manusia), sementara kepemimpinan mengacu pada sifat. Adapun sifat kepemimpinan: Kemampuan membimbing, mengajak, dan menuntun, hsmpir pasti dimiliki seorang pemimpin. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “The Serving Leader (Pemimpin yang Melayani)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 19:1-20:9. Sahabat, sekalipun memiliki tanggung jawab yang lebih besar, para pemimpin juga memiliki berbagai hak istimewa. Misalnya, ketika ada sesuatu yang hendak dibagi-bagi di antara pemimpin dan anggota-anggotanya, biasanya sang pemimpin tidak pernah menjadi yang terakhir memilih bagiannya. Hal tersebut sangat berbeda dengan yang dilakukan Yosua. Sangatlah mengharukan bila kita memerhatikan bahwa setelah lebih dulu menyelesaikan pembagian tanah bagi segenap bangsa Israel, barulah Yosua, pemimpin tertinggi bangsa Israel, memikirkan hak bagi dirinya untuk memperoleh milik pusaka (19:49). Yosua tidak menuntut agar dirinya diistimewakan. Walaupun dia adalah pemimpin tertinggi bangsa Israel, Yosua tetap membangun sendiri kota yang dia diami (19:50). Setelah itu, barulah kemudian TUHAN memerintahkan agar kota-kota perlindungan ditetapkan (20:1-2). Sangatlah wajar bila kota-kota perlindungan, yaitu tempat yang aman bagi orang-orang yang melakukan pembunuhan tanpa sengaja, ditetapkan belakangan karena kota perlindungan harus ditempatkan di tempat yang strategis agar dapat dijangkau dengan mudah dari seluruh daerah Israel. Sahabat, sikap Yosua yang tidak mementingkan diri sendiri itu mengingatkan kita pada sikap pemimpin yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu PEMIMPIN yang MELAYANI,  bukan yang dilayani (Matius 20:25-28). Tuhan Yesus telah mendemonstrasikan sikap PEMIMPIN  yang MELAYANI  semasa dia masih berada di bumi ini secara fisik. Dengan tidak mengenal lelah, Tuhan Yesus melayani orang lain. Yang Dia prioritaskan adalah melakukan kehendak Allah Bapa, bukan mencari keuntungan atau penghargaan bagi diri sendiri. Bagi Tuhan Yesus, seorang pemimpin tidak boleh memimpin dengan sewenang-wenang, tetapi harus memimpin dengan cara MELAYANI.  Sebagai pemimpin Israel, Yosua tidak mencari kesenangan diri sendiri. Dia berusaha menyelesaikan dulu tugasnya sampai tuntas dalam hal pembagian tanah bagi segenap bangsa Israel. Sesudah itu, barulah ia meminta tanah yang menjadi bagiannya. Tanah yang dia minta pun bukan kota yang sudah dibangun rapi (siap pakai), melainkan kota yang harus dia bangun lebih dulu supaya nyaman untuk ditempati. Adanya pemimpin nasional yang melayani rakyat merupakan dambaan rakyat di semua negara sampai saat ini. Bila saat ini Sahabat adalah seorang pemimpin, Sahabat harus selalu mengingat bahwa setiap pemimpin harus MELAYANI orang-orang yang dipimpinnya, bukan menuntut untuk dilayani. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Injil Matius 20:25-28? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kiranya kita terus belajar untuk melayani Tuhan dan umat-Nya dengan kerendahan hati. (pg).