Saudaraku, saat ini umurku 65 tahun. Ketika aku membaca Mazmur 37:25-26: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; … dan anak cucunya menjadi berkat”, tiba-tiba aku sadar bahwa dahulu aku pernah menjadi orang muda, dan kini memang menjadi orang tua. Syukur banyak kenangan indah di masa lalu yang tidak hilang, akibat pikun ataupun kena alzheimer, jadi bisa aku ceriterakan kenangan-kenangan indah kepada anak dan keluarga lain, serta pembaca “Sejenak Merenung”.
Salah satu yang aku ingat saat lewat jalan Pandanaran (Jendral A, Yani), di seberang Timlo Solo, ada rumah warna hijau cokelat dan aku saat SD-SMP sering diajak Mama ke situ. Itulah rumah Tante Non (Djwa Non Nio atau Ruth Irawati), yang ahli menjahit. Sering Mama membuat baju di situ karena Tante Non bisa menjahit baju dengan pas untuk Mama yang ada sedikit kelainan di bagian punggung, jadi baju bagian belakangnya bisa rata.
Mama memang ada kena gejala sakit jantung, susah tidur, banyak makan obat, dan terutama sejak adiknya yang di Kudus meninggal dunia karena kecelakaan, sering waktu malam seakan-akan ada penampakan yang datang, menakutkan, hingga jarang bisa tidur lagi.
Sekitar tahun 1974, Mama mengajak aku ke rumah Tante Non. Kebetulan Kong Gombak sedang menginap di rumah Tante Non. Aku ingat Kong Gombak pakai baju putih, berjalan dengan tongkat, memakai cincin coklat di jarinya. Ternyata Kong Gombak adalah perintis dan Gembala Jemaat GKMI Jepara.
Mama diminta duduk di kursi. Kong Gombak membacakan ayat Alkitab dan menyampaikan renungan singkat, lalu berdoa. Ada beberapa orang saudara yang ikut mendukung doa. Doanya cukup panjang, aku buka mata dikit-dikit untuk ngintip: Kepala Mama dipegang Kong Gombak, saat menyebut “Dalam Nama Yesus!” aku lihat kepala dan tubuh Mama bergetar hebat. Entah berapa menit doanya, ketika “Amin” Mama menangis lalu dipeluk Tante Non. Berkat Tuhan turun, setelahnya Mama bisa tidur tenang, penampakan-penampakan hilang, dan jantung Mama semakin membaik.
Di rumah Tante Non, aku mengenal keponakan-keponakannya yang tinggal di situ, yakni Om Yesaya Abdi Djajadihardja (Djwa Tiong Hauw) yang menjadi Pendeta di GKMI. Adiknya, yakni Ev. Esther K. Djajadihardja, menjadi hamba Tuhan. Kemudian ada adiknya lagi Dr Lydia Djajadihardja SpOG (Obgyn). Terakhir menjadi dokter di RS Mitra Keluarga Bekasi. Ketika dikabarkan sakit. Mama dan aku sempat menengok ke rumahnya di Kemang Pratama, masih nampak sehat saja. Juga adiknya lagi Ev. Hanna P. Djajadihardja, alumni SAAT Malang, skripsinya pada tahun 1982 berjudul “Hidup Membujang”. Adik yang paling kecil yakni M. Ratna Djajadihardja, kuliah di FE Satya Wacana Salatiga.
Saudaraku, aku ingat benar, 23 Maret 1982 aku bertemu Ci Ratna di toko buku di jalan Gajah Mada Semarang, dia sedang mencari beberapa buku ekonomi dan manajemen untuk bahan skripsi, tidak ada di toko buku itu, namun aku memilikinya. Lalu aku tawarkan beberapa buku untuk dipinjamnya, dan dua hari kemudian aku ke rumah Tante Non di Pandanaran. Ci Ratna melihat-lihat beberapa buku yang aku bawa, bertanya isinya apa saja, dan aku bisa menjawabnya dengan lancar. Dia mencatat beberapa bagian dari buku.
Lalu dia menatapku tajam, dia bertanya: “Sur, kamu hafal dan tahu semua buku manajemen ini, bagus itu. Tapi apakah buku-buku ini sudah kamu terapkan di gereja, digunakan untuk pelayanan gereja?” Aku kaget, lho apa hubungan buku ekonomi dan manajemen dengan pelayanan di gereja, karena aku menjadi guru Sekolah Minggu beberapa tahun dan tidak pernah cerita tentang manajemen kepada murid-murid SM. “Gini lho, gereja banyak tidak tahu tentang bagaimana manajemen yang benar, banyak yang hanya ditentukan perorangan atau pendetanya. Kadang cocok dengan majelis, kalau tidak cocok dan masing-masing pegang cara-cara sendiri-sendiri, ya gereja gampang ribut.”
Mungkin saat itu aku hanya melongo, tapi dalam perjalanan pulang ada suara yang mengingatkan betapa bodohnya aku, hanya tahu teori buku, tapi tidak tahu penerapannya, apalagi digunakan gereja. Malamnya aku merenung dan berdoa panjang, sempat menangis, minta Tuhan menolong.
Saudaraku, Tuhan memberikan gambaran kira-kira bagaimana, aku ambil pensil dan coret-coret di kertas bikin draf. Sekitar tiga hari kemudian aku ke pastori Pdt Andreas Hadi Simeon, Gembala Sidang GKI Stadion. Aku ceritakan pengalamanku bertemu Ci Ratna dan kira-kira apa yang bisa diterapkan di gereja. Pdt Simeon tersenyum: “Ini yang saya tunggu-tunggu.” Singkat cerita, setelah itu Pdt Simeon mengoreksi beberapa kali draf manajemen yang aku sampaikan. Bertepatan dengan hari Kenaikan Tuhan Yesus 20 Mei 1982 aku diminta Pdt Simeon memberikan ceramah tentang manajemen bagi gereja di acara pembinaan pengurus di Bandungan.
Pengalaman itu membekas sekali bagiku, dan ketika pindah ke Jakarta tahun 1983 aku menyampaikan hal-hal manajemen ke Gembala dan Ketua Majelis GKJMB (Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar), berganti menjadi Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY) di tahun 2002. Sejak tahun 1985 hingga hari ini para Penatua GKY memasukkan aku sebagai anggota Tim Tata Gereja, sudah hampir 40 tahun silam.
Saudaraku, Itulah KENANGAN INDAH masa mudaku tentang keluarga Djajadihardja. Aku berharap Tuhan menggenapkan ayat-ayat di Mazmur 37:25-26 kepada keluarga ini, dan kesaksian hidup mereka boleh menjadi teladan dan berkat bagi gereja-gereja Tuhan. (Surhert).
