KEMBALIKAN KE PEMILIKNYA

Saudaraku, nilai uang koin tidak lebih sebagai alat transaksi di mata rakyat kebanyakan. Namun uang koin bisa dipakai sebagai alat untuk mengantisipasi jebakan dari para haters (para pembenci), sebagaimana tertulis dalam Markus 12:13-17.  Mari kita merenungkan bersama. Para Farisi yang anti pemerintah Roma menggandeng para Herodian yang pro pemerintah untuk datang memberikan pertanyaan tepi jurang kepada Yesus: Bolehkah bayar pajak pada Kaisar?  Jawaban dari pertanyaan ini dilematik.  Bila Yesus menjawab ya maka Ia akan berhadapan dengan pengadilan rakyat karena sebagai Yahudi sejati pantang bagi mereka untuk tunduk pada Kaisar yang kafir.  Bila Yesus menjawab tidak,  maka jelas ini adalah pemberontakan dan Yesus harus berhadapan dengan pemerintah Roma.  Maka boleh dikatakan bahwa pertanyaan tersebut sungguh pertanyaan yang jahat karena motivasinya (Markus 12:13).  Namun bisa jadi pertanyaan itu menjadi pertanyaan bagi mereka juga dan walaupun mereka merasa tahu jawabannya.  Yesus menghormati pertanyaan itu walau Ia tahu motivasinya dan menjawab dan memberikan pengertian kepada mereka dengan media koin dinar.  Walaupun kecil, koin dinar memiliki nilai bagi masyarakat Yahudi saat itu.  Selain berfungsi sebagai alat transaksi resmi, koin dinar bergambar kaisar melambangkan kekuasaan dan kepemilikan.  Yesus tidak menyangkal realitas bahwa koin yang dipakai untuk membayar pajak itu milik kaisar dan harus dikembalikan kepadanya.  Jawaban itu menukik pada hal mendasar yaitu Yesus tidak datang untuk memimpin pemberontakan.  Yesus menyadari bahwa kaisar  adalah penguasa wilayah Israel saat itu jadi lebih baik kembalikan apa yang dianggap jadi milik kaisar karena itu adalah tanggung jawab mereka yang hidup dalam ‘perlindungan’ kaisar.  Namun Yesus juga mengatakan bahwa kekuasaan kaisar dibatasi oleh kekuasaan Allah dan manusia wajib melakukan  tanggung jawab yang sama kepada Allah yaitu mengembalikan apa yang menjadi milik Allah yaitu keseluruhan hidup. Jawaban Yesus menarik untuk direnungkan karena : Setiap orang harus melaksanakan tanggung jawabnya. Memberikan pajak merupakan pengembalian yang harus dilaksanakan oleh rakyat sebagai ‘upah’ perlindungan dan jaminan kehidupan yang dilakukan oleh penguasa (Roma 13:7).  Memang bisa terjadi penyimpangan dalam  penetapan dan penarikan pajak, namun selama orang itu ada dalam kekuasaan manusia maka wajar bila ia harus mengembalikan apa yang menjadi milik penguasanya bila memang mereka meminta miliknya kembali.  Umat Kristus juga diajar untuk menghormati pemerintah tempat mereka berlindung dan mengikuti aturan yang berlaku. Kekuasaan manusia dibatasi oleh kekuasaan Allah Sebesar apapun kekuasaan manusia, semua ada batasnya dan Allah lah yang membatasi kekuasaan itu.  Bila manusia diwajibkan untuk mengembalikan milik penguasa dunia, maka manusia juga wajib mengembalikan milik Allah yaitu hidupnya sendiri.  Yesus mengingatkan bahwa manusia  memiliki rasa tanggung jawab yang sama terhadap Allah sebagaimana ia lakukan kepada pemerintah.  Manusia memiliki ‘hutang’ kepada Allah dengan kehidupan dan keselamatan yang ia terima dari Yesus maka manusia perlu menaklukkan diri kepada Kristus. Mari belajar memahami bahwa Allah selalu menginginkan umat-Nya belajar menghargai otoritas di atasnya dan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara dunia dan warga negara surga.  Lakukan kewajiban sebagai bentuk terimakasih kepada para pemilik: pemerintah di dunia dan Pemilik Kehidupan di surga.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

DOA YANG MEMULIHKAN

Saudaraku, banyak orang memiliki harapan saat ia berdoa namun tidak banyak orang menyadari bahwa doa memilki kuasa yang memulihkan. Mari kita kembali merenungkan tentang apa kata Yesus tentang doa sebagaimana tertulis dalam Markus 11:22-26. Kedahsyatan dampak doa tergambar dalam tanggapan Yesus tetang laporan keringnya pohon ara yang ditegur Yesus.  Ia menanggapi dengan satu pernyataan keras: Percayalah kepada Allah!  (Markus 11:22).  Itulah kunci doa.  Iman dan doa. Kedua hal itu berkaitan dan menjadi sebab akibat.  Doa akan memiliki kuasa kalau dinaikkan dengan iman yang teguh pada Allah sehingga bahkan gunung bisa pindah dan tercampak ke laut karenanya.  Benarkah iman bisa membuat gunung benar-benar berpindah tempat?  Dalam sebuah tulisan disebuah tafsir Alkitab  disebutkan bahwa memindahkan gunung adalah sebuah istilah untuk pemecahan  masalah yang dihadapi. Jadi iman yang memindahkan gunung bukan benar-benar membuat gunung-gunung berpindah namun lebih mengarah kepada rasa percaya yang total kepada Allah sehingga rasa percaya ini membuat orang itu mampu memecahkan masalah yang dialami.  Dengan iman seperti itu maka masalah yang sebesar, seberat dan setangguh gunungpun akan dapat diselesaikan (Markus 11:24).  Hal itulah yang membuat doa menjadi berdampak.  Tetapi hal tersebut bukan berarti bahwa rasa percaya membuat manusia bisa mengendalikan Allah untuk memenuhi apa yang diinginkannya.  Justru rasa percaya itu membuat manusia belajar untuk tunduk pada kehendak Allah sehingga bahkan ia akan mampu menghadapi masalah sebesar gunung.  Luar biasa! Namun itu belum selesai.  Yesus menambahkan bahwa doa yang berdampak bukan sekadar perwujudan rasa percaya yang total kepada Allah Yang Maha Kuasa, namun juga percaya kepada Allah Yang Maha Kasih.  Hal itu diwujudkan dengan himbauan untuk mengampuni sesama sebelum memulai doa agar Allah mengampuni dosanya. Dari kedua hal tersebut dapat direnungkan bahwa : Doa yang berdampak dilahirkan dari iman yang teguh. Rasa percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa menjadi bahan bakar doa seorang Kristen.  Memang sepertinya ini menunjukkan ‘kesaktian’ seorang manusia namun sebenarnya rasa percaya ini mengandung dua hal penting yaitu pengakuan terhadap kebutuhannya akan Allah dan kesediaan untuk tunduk dalam rencana Allah.  Itulah sebabnya doa bukanlah sebuah pertunjukan kuasa namun sebuah penundukan diri terhadap kehendak Allah untuk bisa memecahkan setiap masalah mereka. Doa membutuhkan kerendahan hati untuk mengampuni. Rasa percaya ternyata harus dibuktikan dengan pengampunan kepada sesama.  Yesus memberikan penekanan kepada orang percaya untuk tidak hanya mengejar kekuatan Allah namun juga menunjukkan belas kasih-Nya kepada orang lain.  Doa menjadi berdampak bila digerakkan juga oleh iman  pengampunan yang nantinya juga ditebarkan kepada orang lain (Yakobus 5:15-16) Berdoa pada dasarnya memiliki muatan ketundukan yang total sekaligus kerendahan hati yang mutlak.  Manusia banyak mengejar khasiat doa untuk dirinya sendiri namun lupa bahwa khasiat doa yang sejati adalah penyesuaian dirinya dengan kehendak Allah.  Ya, Allah sanggup untuk melakukan hal yang diluar pikiran manusia namun Allah lebih menginginkan manusia untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya, sehingga bisa dikatakan bahwa doa adalah pemulihan kepada kehendak Allah sekaligus pemulihan terhadap sesama.  Mari berdoa dengan penuh percaya dan pengampunan. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Pertobatan Paulus dan Pertobatan Kita

PENGANTAR: Dalam Kitab Kisah Para Rasul Bab 9 bagian utama dan pertama mengisahkan pertobatan Paulus di jalan menuju Damsyik. Yang menarik, pertobatannya terjadi di jalan, bukan di rumah atau di tempat ibadah. Hendaklah kita tidak mengecilkan arti penginjilan pribadi, di jalan bahkan di tempat sulit sekalipun Tuhan hadir, berkenan membuka hati setiap orang yang dikehendaki-Nya, walau nampaknya orang jahat, untuk menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus. Bacaan kita diambil dari Kisah Para Rasul 9:13 Jawab Ananias:  “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.” Dari ayat Kisah Para Rasul 9:13, kita belajar bahwa Paulus menaati perintah Kristus, menyerahkan dirinya untuk menjadi “pelayan dan saksi” Injil Kristus. Dia siap menjadi utusan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Paulus bertekun dalam doa. Paulus disebut “Saulus saudaraku” oleh Ananias. Ananias sudah menganggap Paulus sebagai orang yang sudah mengalami kelahiran baru, diserahkan kepada Kristus dan misi Tuhan. Paulus perlu dibaptiskan, memperoleh kembali penglihatannya, dan dipenuhi Roh Kudus. APA MAKNA PERTOBATAN PAULUS BAGI KITA? Bertobat artinya kembali ke jalan Tuhan, disebut orang percaya. Dalam PB disebut  “orang-orang kudus.” Pengertian dasar “orang kudus” (Yunani: hagios) adalah pemisahan dari dosa dan diperuntukkan bagi Tuhan. Dengan kata lain, orang kudus adalah “orang yang dipisahkan untuk Tuhan” atau “orang suci milik Tuhan”. Hidupnya dipimpin dan dikuduskan oleh Roh Kudus, berpaling dari dunia untuk fokus kepada Kristus. Orang kudus bukan berarti orang percaya yang sudah sempurna atau tidak dapat berbuat dosa. Keteladanan Paulus bagi kita, bahwa kita ini orang-orang berdosa, seperti halnya Paulus, yang sudah diselamatkan. Secara alkitabiah yang umum bagi semua orang percaya, maka “orang kudus” menekankan bahwa semua orang percaya menyesuaikan diri dengan jalan kebenaran Tuhan, perlu terus menerus diproses agar memiliki kesucian batiniah bagi seluruh tubuh (jemaat) Kristus. KESIMPULAN. Dalam Kisah Para rasul bab 9 ini, khususnya Kisah 9:1-19, dokter Lukas sebagai penulis Kisah Para Rasul menceritakan tentang pengajaran melalui Pertobatan Paulus. Hanya Tuhanlah yang kudus. Tetapi orang-orang yang membaktikan diri kepada Tuhan juga disebut kudus. Kemudian kita para pengikut Kristus dan para petobat baru adalah “umat kudus”. Oleh penahbisan dalam baptisan, mereka terpanggil untuk hidup secara kudus. Dia, Roh Kudus yang membuat mereka menjadi kudus seperti Yesus. Dalam Kisah Para 9 ada kisah penting tentang Ananias dan Saulus. Pertobatan Saulus, percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dalam perjalanan ke Damsyik. Ananias dan Paulus memberitakan Kristus juga dimulai di Damsyik. Tuhan itu jalan-Nya sempurna, Ia yang memulai, Ia pula yang mengakhiri. Ada kuasa di dalam pemberitaan nama Yesus, kita tidak perlu takut menginjil, hingga ke ujung bumi, Roh Kudus menyertai kita. Bila kita memberitakan Injil ke ujung bumi pasti upaya-upaya Saulus zaman ini untuk menghabisi pengikut-pengikut Yesus tidak dapat dihentikan lagi. Menganiaya umat Tuhan sama dengan menganiaya Tuhan Yesus sendiri. Berita Injil makin tersebar dan penganiayaan terhadap pengikut Kristus pun makin merebak. Peranan Paulus dan kita saat ini dalam karya penyelamatan dunia ini oleh Injil Kristus sangat penting. Itu sebabnya, kita harus cerdik seperti ular dan tulus bagai merpati, menginjil dengan menentukan terobosan- terobosan yang mengejutkan. Dalam hal bermisi bagi dunia ini, kita harus berani keluar dari zona nyaman dengan pengorbanan seperti Yesus dan Paulus berkorban. Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah Para Rasul bab 9, mari kita jawab pertanyaan: Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini? Jelaskan apa makna “PERTOBATAN PAULUS BAGI KITA?” Jelaskan, bahwa bermisi bagi dunia ini, kita harus berani keluar dari zona nyaman. Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita layak menderita. Amin. (sp).

Strengthen the Belief to God

MENGUATKAN KEPERCAYAAN. Dalam sebuah persekutuan Komisi Perempuan, seorang ibu berbagi, “Anak kami lahir autis, suami tidak bisa menerima. Ia menyalahkan saya. Katanya, saya tidak bisa menjaga diri selama masa kehamilan. Sejak itu sikapnya berubah, kata-katanya sering kasar,  pedas dan menyakitkan, bahkan tidak jarang main pukul. Lebih-lebih ketika ia terkena PHK. Ia menganggap saya ini biang kesialan hidupnya. Saya benar-benar habis akal. Mengurus anak yang autis, menghadapi suami yang ‘gila’, belum lagi harus mencari nafkah.” Sahabat, masih ingat dengan pepatah lama: “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Pepatah itu menggambarkan keadaan Ibu di atas.   Mungkin apa yang menimpa Ibu tersebut juga pernah kita rasakan, atau malahan sedang kita alami.  Orang-orang terdekat, pasangan hidup, teman, sahabat, dan kerabat yang kita harapkan dapat mendampingi, menolong, menguatkan dan meneguhkan, justru ikut memojokan kita, bahkan menambah keruwetan dan mendatangkan masalah baru. Dalam keadaan yang seperti itu, sebagai orang percaya, hendaknya kita tidak cepat putus asa, stress, dan gampang menyerah.  Mari kita belajar untuk menguatkan kepercayaan kita kepada Tuhan. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Strengthen the Belief to God (Menguatkan Kepercayaan Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 30:1-31 dengan penekanan pada ayat 4-6. Sahabat, musibah tak terduga bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Daud ketika ia kembali ke Ziklag. Ia merasakan kesedihan yang mendalam karena  Ziklag telah habis dibakar dan dikalahkan. Bahkan istri dan  anak  Daud, serta orang-orang Israel yang ikut dengannya ditawan oleh orang Amalek. Belum lagi, ia hendak dilempari batu oleh rakyat Ziklag. Daud merasakan kesedihan dan kegalauan. Namun, gejolak perasaan itu justru menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan (Ayat 7). Ia terus membangun kepercayaan itu dengan tetap bertanya kepada Tuhan terkait langkah selanjutnya untuk keluar dari permasalahan-Nya. Tuhan pun akhirnya memberikan instruksi kepada Daud. Tuhan bahkan menganugerahkan seorang  Mesir untuk membantunya menemukan orang Amalek (Ayat 11-16). Sahabat, akhirnya, Daud pun berhasil mengalahkan orang Amalek. Ia  membebaskan para tawanan dari tangan orang Amalek. Ayat 19 mengatakan tidak ada satu pun, baik orang tawanan maupun barang jarahan orang Amalek yang hilang. Akhirnya, Daud pun berhasil menemui kembali istri dan anaknya. Sementara semua barang jarahan diberikan kepada para tua-tua di Yehuda (Ayat 26-31). Semua kejadian ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu menjawab kebutuhan Daud. Waktu, kekuatan, dan orang-orang yang Tuhan sediakan baginya. Daud tidak pernah meragukan Allah walau dalam kedukaan. Ia justru semakin percaya pada rancangan Allah bagi hidupnya. Di sanalah kita melihat kepercayaan membuatnya mendapatkan segala yang ia butuhkan. Sahabat, karena itu mari kita juga terus-menerus memperkuat kepercayaan kepada Tuhan. Ketika masalah datang silih berganti, hendaknya iman kita jangan melemah. Sebaliknya, kita justru diajak untuk kian teguh percaya bahwa Tuhan akan menyediakan kebutuhan dalam menjalani pergumulan. Biarlah anugerah Tuhan menolong kita agar kita tetap percaya kepada-Nya. Yakinlah, peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita bukanlah sebuah kebetulan, sesungguhnya ada rencana Tuhan di balik itu semua. Rasul Paulus meyakinkan kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28).  Sahabat, ketika masalah berat menimpa kita, jangan panik!  Kuatkan hati untuk datang kepada Tuhan, karena dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.  (Yesaya 30:15).  Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan dan mau mendengarkan Tuhan sehingga ia dapat mengerti apa kehendak-Nya.  Daud tidak lagi lemah, semangatnya bangkit kembali.  Semangat menjadikan kita kuat, dan siap mengatasi setiap masalah yang ada.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-6? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Seberat apa pun masalah kita, jangan putus asa, tetapi kuatkan kepercayaan kita kepada Tuhan karena pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya! (pg).

The Ambition Controls

AMBISI. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan: “Dia, orangnya sangat ambisi.” Apa itu ambisi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisi merupakan keinginan yang besar untuk mencapai sesuatu dalam hidup. Hal itu melibatkan motivasi yang kuat dan keteguhan dalam menetapkan tujuan yang tinggi dan berusaha keras untuk meraihnya. Ambisi bisa mendorong individu untuk terus berkembang, mencapai kesuksesan, dan memperoleh kepuasan pribadi. Penting untuk membedakan antara ambisi yang positif dan negatif. Ambisi yang positif dapat menjadi sumber motivasi yang kuat dalam hidup seseorang. Ketika seseorang memiliki ambisi yang jelas dan positif, mereka cenderung menetapkan tujuan yang terukur dan merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya. Ambisi ini membantu seseorang untuk fokus pada diri sendiri, meningkatkan keterampilan, dan mengatasi rintangan yang mungkin muncul dalam perjalanan menuju tujuan tersebut. Sebaliknya, jika ambisi tidak diarahkan dengan baik, bisa berakibat negatif. Ambisi yang berlebihan dan tidak seimbang dapat menyebabkan seseorang menjadi rakus dan terobsesi dengan pencapaian diri, tanpa memerhatikan dampaknya pada lingkungan sekitar. Ambisi yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan seseorang menggunakan cara-cara yang tidak etis atau merugikan orang lain untuk mencapai tujuan mereka. Ambisi  yang besar bila tidak dikendalikan dengan baik akan membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Tetapi ambisi yang terkendali akan membuat seseorang maju, bila sabar menunggu waktunya Tuhan dan cara yang dipakai pun dengan cara Tuhan. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “The Ambition Controls (Mengendalikan Ambisi)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 4:1-12 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Rekhab dan Baana yang bertugas sebagai kepala gerombolan, dengan matinya Abner panglima raja Saul, mereka melihat suatu kesempatan besar untuk mereka mendapat imbalan bahkan kekuasaan bila mereka menyerahkan Isyboset kepada Daud. Isyboset adalah anak raja Saul yang menggantikan Saul setelah Saul mati. Dalam benak Rekhab dan Baana, Isyboset merupakan saingan bahkan penghalang bagi Daud untuk menjadi raja Israel. Oleh karena itu ketika terbuka kesempatan, mereka membunuh Isyboset dan kepalanya dibawa ke hadapan Daud. Sahabat, namun mereka sama sekali tidak memperhitungkan kesetiaan Daud kepada raja Saul dan keturunannya. Bagi Daud, Saul dan keluarganya bukanlah musuh, meskipun Isyboset bukanlah orang yang diurapi Tuhan untuk menjadi raja. Maka tindakan Rekhab dan Baana tidak dapat diterima Daud. Maka bukannya hadiah atau imbalan yang Rekhab dan Baana terima dari Daud, tetapi kematianlah yang mereka terima. Daud marah dengan perbuatan mereka yang telah membunuh Isyboset, anak raja Saul. Walau mengetahui ketetapan Allah bagi hidupnya, Daud tidak mau melangkahi Allah untuk mewujudkan ketetapan itu. Daud selalu memberi kesempatan Allah bertindak mewujudkan kehendak-Nya berdasarkan cara dan waktu-Nya sendiri, sehingga tak ada cara-cara kotor yang pernah dia setujui. Sahabat, kiranya hal tersebut menjadi teladan bagi kita. Bila Tuhan memang menghendaki kita untuk menjadi sesuatu, niscaya Dia sendiri yang akan membuka jalan itu. Karena itu kendalikan ambisi, jangan sampai ambisi mengendalikan kita. Jangan terlalu berambisi sampai membuat kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang ambisi? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Biarlah waktunya Tuhan yang digenapi dan biarlah Tuhan sendiri yang membuka jalan bagi kita.(pg).

Unpredictable God’s Working Way

PERANG. Dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia melancarkan operasi militer ke Ukraina, salah satu negara tetangganya di sebelah barat daya. Operasi tersebut menandai peristiwa penting dalam perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada tahun 2014. Invasi tersebut  juga menyebabkan sepertiga penduduk Ukraina untuk berpindah dan lainnya dari 7 juta orang Ukraina meninggalkan negaranya, yang memicu krisis pengungsi Eropa yang paling cepat sejak Perang Dunia II. Ketegangan dan perang Rusia dengan Ukraina belum juga selesai, tiba-tiba muncullah perang Israel dengan Hamas. Sekitar dua minggu berlalu sejak kelompok militan Palestina Hamas melancarkan serangannya terhadap Israel. Perang pecah saat kelompok Hamas yang menguasai Gaza menyerang konser yang diadakan Israel di perbatasan Gaza-Israel pada Sabtu 7 Oktober 2023. Israel pun membalas dengan mendeklarasikan perang. Menurut pihak berwenang Palestina, lebih dari 4.200 orang telah terbunuh di Gaza dan lebih dari 13.000 orang terluka sejak perang Israel-Hamas dimulai. Sahabat, sejarah mencatat bahwa perang itu membuat manusia menderita dan sengsara. Perang itu membinasakan ribuan manusia. Perang itu meluluh lantakan apa-apa yang telah dibangun ratusan tahun lamanya.Perang itu menyebabkan jutaan manusia pindah dari tempat tinggalnya. Kita sebagai orang percaya meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, termasuk perang. Maka marilah kita berdoa, minta belas kasihan Allah agar Allah berkenan turun tangan untuk mendamaikan mereka yang sedang berperang dan bertikai. Cara kerja Allah itu luar biasa. Cara kerja Allah itu tak terduga. Dia dapat memakai siapa saja untuk menjadi juru damai-Nya. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Unpredictable God’s Working Way  (Cara Kerja Allah Tidak Terduga)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 3:6-21 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, dalam hidup ini, di tempat kita bekerja atau di satu organisasi, kita tentu pernah bertemu orang yang tidak menyukai atau bahkan membenci kita. Ia mungkin  selalu mencari cara untuk menjatuhkan kita. Pada suatu hari karena suatu kejadian atau peristiwa, orang tersebut berbalik menjadi pendukung dan pembela kita. Sesungguhnya peristiwa tersebut benar-benar merupakan campur tangan Allah!  Abner adalah panglima tentara Saul. Selain berpengaruh, Abner juga sangat setia. Setelah kematian tuannya, ia tetap berpihak kepada keluarga Saul. Keberadaan Abner secara tidak langsung menjadi ancaman bagi Daud. Mengapa? Karena Abner dapat membantu Isyboset, anak Saul lainnya, untuk berperang melawan Daud. Siapa sangka, hari itu Abner mengirim utusan kepada Daud dengan pesan: “… aku akan membantu engkau untuk membawa seluruh orang Israel memihak kepadamu” (Ayat 12). Peristiwa tersebut tidak lain karena Isyboset, tanpa memeriksa terlebih dahulu kebenaran perkaranya, menuding Abner menghampiri Rizpa, gundik ayahnya (Ayat 7). Bagi Isyboset, peristiwa itu dapat disebut kemalangan karena kehilangan panglima yang setia. Namun, bagi Daud, dukungan Abner jelas merupakan keuntungan yang tidak terduga.  Sahabat, satu hal yang tidak terjangkau oleh logika manusia adalah cara kerja Allah. Karena itu, jangan ragu untuk berdoa memohon pertolongan-Nya. Melalui doa, kita dapat menyerahkan segala sesuatu, termasuk hubungan kita dengan sesama. Lihatlah, Allah sanggup bekerja dengan cara yang sungguh tidak terduga! Cara kerja Allah tidak terduga.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pehami tentang perang? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah bekerja untuk mendamaikan dan memulihkan hubungan, bukan memisahkan dan mencerai beraikannya. (pg).