Life is Battlefield

MEDAN PERANG. Sahabat, mungkin kita sering mendengar atau membaca ungkapan dalam bahasa Inggris: Life is a battlefield. Hidup ini adalah sebuah medan peperangan.  Pengalaman hidup kita bercerita bahwa hidup ini sungguh penuh perjuangan. Hampir di semua  lini kehidupan kita harus berjuang untuk mencapai keberhasilan. Orang rela belajar berpuluh-puluh tahun untuk  bisa menyelesaikan jenjang pendidikan yang kita harapkan. Dalam dunia agraris, jika kita ingin bisa memetik hasil, kita harus menanam terlebih dahulu dan memupuk, mengairi, membersihkan hama, dan lain-lain.  Merawat dan menjaga selama jangka waktu tertentu  terlebih dahulu. Seringkali di tengah perjuangan itu kita akan menghadapi berbagai hambatan.. Ada berbagai pergumulan yang harus kita hadapi dalam prosesnya dan itu bisa jadi tidak mudah. Kita berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan-keinginan daging yang terus berusaha menguasai dan menyesatkan kita. Kita juga menghadapi peperangan melawan roh-roh jahat di udara. Sahabat, semua berperang, namun tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Ada banyak orang yang tidak bisa terlepas dari pergumulannya, dari kebiasaan buruknya atau dari berbagai kesesatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ada banyak orang yang jatuh bangun, terus berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi gagal. Karena itu kita perlu belajar dari orang yang memiliki banyak pengalaman akan keberhasilan. Salah seorang  tokoh yang hidupnya penuh dengan kemenangan adalah Daud. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Life is Battlefield (Hidup adalah Medan Perang)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 8:1-18. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  kita melihat serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud dengan gemilang. Daud memukul kalah orang Filistin (Ayat 1), mengalahkan orang Moab (Ayat 2), menundukkan raja Hadadezer raja Zoba di hulu sungai Efrat (Ayat 3), daripadanya menangkap 1.700 tentara berkuda dan 20.000 pasukan berjalan kaki (Ayat 4), menumpas orang Aram yang hendak menolong Hadadezer sejumlah puluhan ribu orang (Ayat  5-6), dan dalam perjalanan pulang ia kembali mengalahkan 18.000 orang Edom di Lembah Asin. (Ayat 13). Lihatlah serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud. Tidak sekalipun disebutkan di sana bahwa ia kalah. Apakah itu karena kehebatan Daud? Apakah ia kita kenal sebagai ahli strategi perang? Apakah karena persenjataan Daud memiliki teknologi muktahir yang jauh di atas musuh-musuhnya? Bukan semua itu yang disebutkan Alkitab sebagai alasannya. Alkitab berkata bahwa kemenangan-kemenangan Daud itu bukan karena kuat dan hebatnya Daud, tetapi karena pemberian Tuhan, “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.” (Ayat 6-b dan 14-b). Dua kali kalimat tersebut diulangi, menunjukkan penekanan bahwa keberhasilan Daud adalah berkat penyertaan Tuhan dalam setiap peperangan yang ia hadapi. Bagaimana Daud bisa mendapat penyertaan Tuhan seperti itu yang membuatnya berhasil dalam setiap peperangan? Kita bisa melihat penyebabnya dalam Mazmur 60:1-12.  Ayat tersebut menuliskan apa yang dilakukan Daud sebelum ia berperang melawan orang Aram dan Edom seperti yang tertulis pada bacaan kita pada hari ini. Sahabat, peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Ada yang mudah tapi banyak pula yang sulit. Setiap saat kegagalan bisa mengintip, setiap saat kita bisa dikalahkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan kemenangan, dan kita bisa melihat kunci untuk memperolehnya melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Dia tidak mengandalkan kekuatannya, kehebatannya, ketenarannya, kharismanya, namun ia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia merendahkan dirinya secara total karena ia tahu semua itu tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup. Tuhan ingin kita menyambut-Nya seperti sikap seorang anak kecil. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya seperti anak kecil yang mengandalkan orang tuanya. Tuhan ingin kita bersikap polos, jujur apa adanya ketika berhadapan dengan-Nya. Ini semua yang akan membawa kita kepada berbagai kemenangan, bukan kekuatan atau kepintaran dan kehebatan diri kita sendiri atau manusia lainnya. Belajarlah dari Daud agar kita bisa memperoleh hasil gemilang dari setiap peperangan yang kita hadapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-b dan 14-b? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Kalau kita ingin menang dalam peperangan, kita harus meminta penyertaan Allah. (pg)

Life is Battlefield

MEDAN PERANG. Sahabat, mungkin kita sering mendengar atau membaca ungkapan dalam bahasa Inggris: Life is a battlefield. Hidup ini adalah sebuah medan peperangan.  Pengalaman hidup kita bercerita bahwa hidup ini sungguh penuh perjuangan. Hampir di semua  lini kehidupan kita harus berjuang untuk mencapai keberhasilan. Orang rela belajar berpuluh-puluh tahun untuk  bisa menyelesaikan jenjang pendidikan yang kita harapkan. Dalam dunia agraris, jika kita ingin bisa memetik hasil, kita harus menanam terlebih dahulu dan memupuk, mengairi, membersihkan hama, dan lain-lain.  Merawat dan menjaga selama jangka waktu tertentu  terlebih dahulu. Seringkali di tengah perjuangan itu kita akan menghadapi berbagai hambatan.. Ada berbagai pergumulan yang harus kita hadapi dalam prosesnya dan itu bisa jadi tidak mudah. Kita berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan-keinginan daging yang terus berusaha menguasai dan menyesatkan kita. Kita juga menghadapi peperangan melawan roh-roh jahat di udara. Sahabat, semua berperang, namun tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Ada banyak orang yang tidak bisa terlepas dari pergumulannya, dari kebiasaan buruknya atau dari berbagai kesesatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ada banyak orang yang jatuh bangun, terus berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi gagal. Karena itu kita perlu belajar dari orang yang memiliki banyak pengalaman akan keberhasilan. Salah seorang  tokoh yang hidupnya penuh dengan kemenangan adalah Daud. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Life is Battlefield (Hidup adalah Medan Perang)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 8:1-18. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  kita melihat serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud dengan gemilang. Daud memukul kalah orang Filistin (Ayat 1), mengalahkan orang Moab (Ayat 2), menundukkan raja Hadadezer raja Zoba di hulu sungai Efrat (Ayat 3), daripadanya menangkap 1.700 tentara berkuda dan 20.000 pasukan berjalan kaki (Ayat 4), menumpas orang Aram yang hendak menolong Hadadezer sejumlah puluhan ribu orang (Ayat  5-6), dan dalam perjalanan pulang ia kembali mengalahkan 18.000 orang Edom di Lembah Asin. (Ayat 13). Lihatlah serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud. Tidak sekalipun disebutkan di sana bahwa ia kalah. Apakah itu karena kehebatan Daud? Apakah ia kita kenal sebagai ahli strategi perang? Apakah karena persenjataan Daud memiliki teknologi muktahir yang jauh di atas musuh-musuhnya? Bukan semua itu yang disebutkan Alkitab sebagai alasannya. Alkitab berkata bahwa kemenangan-kemenangan Daud itu bukan karena kuat dan hebatnya Daud, tetapi karena pemberian Tuhan, “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.” (Ayat 6-b dan 14-b). Dua kali kalimat tersebut diulangi, menunjukkan penekanan bahwa keberhasilan Daud adalah berkat penyertaan Tuhan dalam setiap peperangan yang ia hadapi. Bagaimana Daud bisa mendapat penyertaan Tuhan seperti itu yang membuatnya berhasil dalam setiap peperangan? Kita bisa melihat penyebabnya dalam Mazmur 60:1-12.  Ayat tersebut menuliskan apa yang dilakukan Daud sebelum ia berperang melawan orang Aram dan Edom seperti yang tertulis pada bacaan kita pada hari ini. Sahabat, peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Ada yang mudah tapi banyak pula yang sulit. Setiap saat kegagalan bisa mengintip, setiap saat kita bisa dikalahkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan kemenangan, dan kita bisa melihat kunci untuk memperolehnya melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Dia tidak mengandalkan kekuatannya, kehebatannya, ketenarannya, kharismanya, namun ia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia merendahkan dirinya secara total karena ia tahu semua itu tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup. Tuhan ingin kita menyambut-Nya seperti sikap seorang anak kecil. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya seperti anak kecil yang mengandalkan orang tuanya. Tuhan ingin kita bersikap polos, jujur apa adanya ketika berhadapan dengan-Nya. Ini semua yang akan membawa kita kepada berbagai kemenangan, bukan kekuatan atau kepintaran dan kehebatan diri kita sendiri atau manusia lainnya. Belajarlah dari Daud agar kita bisa memperoleh hasil gemilang dari setiap peperangan yang kita hadapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-b dan 14-b? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Kalau kita ingin menang dalam peperangan, kita harus meminta penyertaan Allah. (pg)

TERPESONA DENGAN YANG SEMENTARA

Saudaraku, pepatah Jawa mengatakan: Ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh (jangan mudah terpesona, jangan mudah kagum dan jangan sombong).  Ketiga hal tersebut mengingatkan manusia untuk selalu sadar diri dan rendah hati.  Ternyata Yesus pernah secara tidak langsung mengungkapkan hal yang sama.  Mari kita merenungkan Markus 13:1-3. Kemegahan Bait Suci Herodes tidak diragukan.  Bangunan itu mulai dibangun tahun 20-19 SM dan menjadi mega proyek Herodes saat itu.  Pada zaman Yesus bangunan itu belum selesai, padahal sudah lebih dari satu dasawarsa sejak awal pembangunannya. Semua orang mengagumi Bait Suci itu.  Semua yang melihatnya pasti terpesona.  Bait Suci Herodes memang canggih dan hebat.  Bayangkan saja, bangunan itu berdiri bukan di lahan yang datar melainkan di atas tembok buatan raksasa yang yang menutupi area puncak Sion. Wow.  Sejarahwan Yosefus mengatakan bahwa beberapa batu memiliki Panjang 12 meter, tinggi lebih dari 3,5 meter dan lebarnya hampir 5,5 meter.  Batu-batu inilah yang membuat murid-murid Yesus gumun, terpesona.    Bahan penyangga bangunan itu memang luar biasa penampakannya, ditambah dengan kemegahan yang dinampakkan oleh beberapa bagian bangunan yang sudah jadi.  Wajar bila para murid terpesona dan mengagumi habis-habisan.  Mungkin Yesus juga memiliki pendapat yang sama dengan para murid.  Memang bangunan itu hebat. Namun Yesus tahu benar bahwa apa yang dilihat-Nya bersama para murid saat itu hanyalah sementara.  Tidak ada yang abadi.  Yesus dengan luar biasa justru memakai bangunan megah itu untuk menjelaskan mega proyek Allah yang akan menghancurkannya hingga bahkan satu batupun tidak akan bertumpuk dengan yang lain.  Hancur total.  Yesus bukan skeptis ataupun iri hati kepada Herodes.  Yesus justru mengingatkan para murid untuk selalu sadar dan tetap berjaga-jaga karena semua hanya sementara (Markus 13:37).  Yesus berhasil mengimbangi kekaguman para murid dan membawa mereka kembali dalam situasi yang lebih netral untuk melihat sebuah kenyataan dan mengajak para murid sedikit ‘mengintip’ situasi zaman akhir yang akan membuat mereka sadar bahwa mereka harus siap dengan segala perubahan yang akan terjadi. Manusia memang diberi kemampuan lebih oleh Tuhan untuk bisa menghasilkan hal-hal yang mempermudah dan melancarkan kehidupannya.  Misalnya saja kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang saat ini sedang dikembangkan maksimal.  Manusia terpesona dengan kemampuan AI untuk menjawab semua permasalahan dan mulai bergantung kepadanya.  Namun manusia harus sadar bahwa semua akan segera berubah karena apa yang ada di dunia hanya sementara.  Manusia harus terus waspada dan menjaga hubungannya dengan Allah, yang membuatnya terus menyadari kefanaan sehingga belajar bergantung kepada kekekalan Allah. Dengan kesadaran itu, manusia belajar meminimalisir kesombongannya dan hidup dalam takut akan Tuhan.  Sebagaimana Pengamsal mengatakan: “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan.  Itulah yang akan memulihkan tubuhmu dan menyembuhkan tulang-tulangmu” (Amsal 3:7-8).  Mari belajar untuk selalu waspada dan tidak lekas terpesona dengan apa pun yang dikagumi manusia sehingga ketergantungan kepada kasih karunia Tuhan tetap terjaga. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Amazed by God

TAKJUB. Sahabat,  Liam dan Zoe, cucu kami,  mendekati tanaman perdu “Putri Malu”  karena bunga indahnya. Keduanya terpekik. Daun-daunnya menguncup saat mereka menyentuhnya. Hal itu terjadi tiap kali mereka menyentuh daun-daun yang lain. Seruan takjub pun tak henti terucap dari mulut mereka. Rasa takjub menguasai hati saat orang dicengkam kekaguman. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapat informasi bahwa takjub adalah  kagum atau heran akan kehebatan, keindahan, keelokan seseorang atau sesuatu. Rasa takjub adalah anugerah amat berharga. Hal itu membuat Pemazmur berseru, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazmur 19:2). Rasa takjub membuat kita tergetar oleh karya Allah, dan merasakan kasih-Nya. Rasa takjub menolong kita merasakan bahwa dibalik hal yang amat sederhana pun ada tangan Allah yang luar biasa. Rasa takjub menolong kita merasakan kehadiran Allah, dan mensyukurinya.  Rasa takjub, yang menolong kita terhubung dengan Tuhan itu, menolong kita untuk tidak berhenti pada fakta, tetapi merasakan tangan Tuhan di balik fakta itu. Betapa gersang hidup ini jika rasa takjub tak lagi kita miliki. Kita patut mensyukuri rasa takjub itu, bukan merendahkan, apalagi mengingkarinya. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Amazed by God (Takjub akan Tuhan)” Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 7:18-29 dengan penekanan pada ayat 18-20. Sahabat, Jika melihat hidup kita sekarang ini, apakah yang bisa kita katakan? Apakah kita akan merasa sedih dan kecewa? Apakah kita merasa biasa-biasa saja? Atau seperti Daud? TAKJUB dan heran (Ayat 18-20). Ketika berdoa, kita sedang berhadapan dan berkomunikasi dengan Dia yang Mahabesar, Mahakuasa, Mahamulia dan Mahakudus. Di hadapan Allah yang seperti itu, betapa kecil dan hinanya manusia. Dalam kesadaran seperti itu, selayaknya kita bersikap seperti Daud dalam doanya kepada Tuhan. Daud sangat hormat, khusyuk, sungguh-sungguh, sopan, tertib, penuh iman, dan taat kepada Tuhan. Sering kali manusia bersikap tidak pantas di hadapan Allah dan manusia, yaitu menyombongkan diri karena merasa kaya, kuat, pandai, berkedudukan tinggi. Bahkan menyombongkan kerohanian karena merasa telah tekun berbakti kepada Tuhan serta telah berusaha melakukan segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan. Sahabat, Daud sebaliknya. Ia memberikan teladan kerendahan hati. Ia bersikap serendah-rendahnya di hadapan Allah yang Mahatinggi. Ia sadar akan keberadaannya. Daud TAKJUB kepada Allah (Ayat 19-22). Tidak ada yang seperti Allah (Ayat 22). Allah yang juga telah menyelamatkan umat-Nya (Ayat 23). Daud TAKJUB, bersyukur, dan dengan rendah hati berdoa kepada Allah memohon berkat-Nya (Ayat 24-29) Sikap rendah hati itu tidak hanya ditunjukkan dalam doa saja, tetapi juga dinyatakan dalam seluruh hidup kita. Sikap rendah hati harus mendasari dan mewarnai perilaku kita dalam hidup sehari-hari, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, siapa pun dia dan apa pun latar belakang hidupnya. Ada pepatah yang mengatakan: “Kerendahan hati adalah kekuatan singa yang diwujudkan dalam lembutnya burung dara”. Marilah kita selalu berusaha bersikap rendah hati, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Jauhkanlah diri kita dari sikap dan perilaku sombong yang selalu meninggikan diri sendiri di hadapan orang lain, terlebih di hadapan Tuhan. Tetaplah rendah hati dan berbuat yang terbaik dalam hidup ini dan bagi kehidupan ini. Sahabat, semoga kita, khususnya para Sahabat yang saat ini sudah berusia 60 tahun ke atas, yang sudah memasuki masa emeritus atau pensiun atau purna tugas, merasa TAKJUB dan bersyukur akan karya Tuhan dalam hidup kita beserta keluarga. Kita begitu TAKJUB, heran bahkan merasa begitu besar  kasih Tuhan kepada kita dan keluarga. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah bebeberpa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-19? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Rasa takjub menolong kita untuk tidak berhenti pada fakta, tetapi merasakan tangan Sang Cinta dibalik fakta itu (O.S. Raille). (pg).

The Sensivity of God’s Presence and Holiness

MENGHORMATI ALLAH. Sahabat, ketika kita memuji dan memuliakan Allah, sesungguhnya kita memberi hormat kepada-Nya. Hormat berasal dari hati kita dan sedang merujuk kepada nilai yang ditaruhkan kepada sesuatu atau seseorang. Para kolektor memberi nilai lebih pada barang tertentu dibanding orang awam. Sesuatu yang diabaikan oleh seseorang mungkin sangat bernilai bagi orang yang lain dan dihormati. Kita menghormati orang lain dengan cara menilai penting posisi dan kontribusi mereka. Kita diperintahkan untuk menghormati satu sama lain karena posisi mereka, bukan kinerja mereka. Kita diperintahkan untuk menghormati ibu dan ayah kita (Ulangan 5:16; Markus 7:10), para orang tua (Imamat 19:32), dan mereka yang memerintah (1 Petrus 2:17). Ketika kita menghormati Allah, kita sedang memperlakukan-Nya menurut penilaian tinggi kita akan Dia. Kita sedang mencerminkan kemuliaan-Nya kembali kepada-Nya dengan pujian dan penyembahan. Alkitab menunjukkan berbagai cara menghormati dan memuliakan Allah. Kita mengindahkan-Nya dan mencerminkan karakter-Nya dengan cara mengabdikan hidup kepada-Nya (Roma 14:8), dan  dengan berbagi dari  penghasilan dan harta kita (Amsal 3:9). Tidaklah cukup  menghormati Dia hanya dengan cara yang terlihat. Allah menghendaki hormat yang berasal dari hati. Coba kita simak yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13). Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “The Sensivity of God’s Presence and Holiness (Sensitivitas terhadap Hadirat dan Kekudusan Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 6:1-23. Sahabat, pelanggaran terhadap kekudusan Allah dan pelecehan terhadap hadirat Allah dipandang sebagai kejahatan serius oleh Allah. Namun kekurangpekaan kita terhadap hadirat Allah dan kekudusan-Nya membuat kita kurang memiliki rasa hormat kepada Allah ketika memasuki hadirat-Nya. Bacaan kita pada hari ini  memperlihatkan bahaya kurangnya sensitivitas terhadap hadirat dan kekudusan Allah. Dengan dijadikannya Yerusalem sebagai pusat pemerintahan, membuat Daud ingin menempatkan tabut Allah di kota itu sebagai lambang kehadiran-Nya (Ayat 1-3). Namun sayangnya, pemindahan tabut dilakukan tidak sesuai dengan aturan Tuhan (bdk. Keluaran  25:12-15). Tabut dibawa dengan kereta, padahal seharusnya diusung oleh orang Lewidari keluarga Kehat (Bilangan 4:15). Pelanggaran terjadi lagi saat lembu-lembu yang menghela kereta itu tergelincir. Uza yang mengkhawatirkan jatuhnya tabut, kemudian memegang tabut itu (Ayat 6). Ini mengakibatkan Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman mati kepada Uza (Ayat 7). Terlalu berlebihankah hukuman mati itu bila dibandingkan dengan kesalahan Uza? Daud menganggap demikian dan ini membuat dia marah (Ayat 8). Padahal tindakan menyentuh tabut merupakan hal terlarang. Menyentuhnya berarti mati! Dalam hal ini, Uza tidak melihat perbedaan antara tabut dan barang berharga lain. Maksud Uza untuk mencegah terjatuhnya tabut tidak salah, tetapi tidak ada kepekaan mengenai kekudusan tabut itu. Orang Lewi saja dilarang menyentuhnya. Mikhal, istri Daud, juga tidak memiliki sensitivitas terhadap hadirat Allah. Ia melecehkan suaminya yang merendahkan diri di hadirat Allah (Ayat 16, 20). Penulis 2 Samuel menyatakan bahwa Mikhal tak memiliki anak hingga akhir hayatnya (Ayat 23). Sahabat, kisah dalam bacaan kita pada hari ini memberikan peringatan keras bagi kita. Hadirat Allah dan kekudusan-Nya tidak bisa kita pandang remeh. Dia Allah dan berada di hadirat-Nya mengharuskan kita untuk memiliki sikap hormat. Bicara soal kekudusan-Nya, bukan bicara tentang sesuatu yang bisa ditawar-tawar, melainkan suatu harga mati, yang harus kita junjung tinggi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang Menghormati Allah? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menghormati Allah  mulai dari hati dan pikiran, terucap dalam kata-kata, dan terwujud dalam perbuatan kita. (pg).

Live in Harmony and in the Rhytm of God’s Heart

BREAKTHROUGH. Sahabat, kita sering mendengar ungkapan: Making a breakthrough. Jika Sahabat pernah mendengar istilah breakthrough mungkin  sudah memahami arti  ungkapan tersebut secara umum. Betul, making a breakthrough artinya membuat terobosan baru dalam perjalanan hidup. Memang tidak banyak orang yang berani mengambil keputusan besar dan mengubah arah perjalanan hidupnya. Namun, jika perubahan adalah hal yang diharapkan maka kita harus berani menjadi berbeda. Secara umum satu-satunya cara bagi kita untuk menjadi yang terdepan dalam persaingan adalah dengan menjadi berani, mengejar impian kita dan berani mengambil risiko. Saat ini kita sedang belajar dari kitab 1 Samuel dan 2 Samuel. Dari dua kitab tersebut kita dapat  belajar dari Daud, bagaimana dia selalu mendapat terobosan baru dalam strategi perang. Bagaimana cara Daud mendapatkannya? Berikut kunci rahasianya: Daud melibatkan Tuhan dalam segala aspek hidupnya. Sebelum dia berperang dia terlebih dahulu bertanya kepada Tuhan. Sahabat, saat ini mungkin ada diantara kita yang bertanya-tanya: Bagaimana caranya untuk membuat terobosan baru dalam perjalanan hidup? Yang utama dan pertama jagalah kedekatan kita dengan Tuhan. Libatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Sebelum kita memutuskan, bertindak, dan melangkah, bertanyalah kepada Tuhan terlebih dahulu. Mari kita resapi dalam-dalam apa yang dinyatakan oleh Ayub: “ … pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.” (Ayub 12:13). Kita tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, kehebatan, kedudukan, dan kekayaan kita saja. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Live in Harmony and in the Rhytm of God’s Heart (Hidup Selaras dan Seirama dengan Hati Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 5:17-25 dengan penekanan pada ayat 25. Sahabat, pada waktu itu Daud sudah diurapi menjadi raja Israel.  Ia punya segalanya:  Jabatan, kekayaan dan tentara.  Setelah tahu bahwa Daud menjadi raja Israel, orang-orang Filistin berusaha menangkap dia dan bisa jadi tujuannya adalah untuk menghabisi nyawanya. Ketika mendengar hal itu Daud tidak langsung bertindak dengan menghimpun kekuatan dan mengumpulkan orang-orang pilihan atau pasukan tentaranya lalu mengatur strategi perang menghadapi orang-orang Filistin, atau meminta nasihat kepada penasihat pribadinya sebagaimana biasa dilakukan oleh pemimpin atau raja.  Sahabat, hal pertama yang Daud lakukan adalah datang kepada Tuhan untuk bertanya kepada-Nya tentang apa yang harus diperbuat:  “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” TUHAN menjawab Daud: “Majulah, sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.”  (Ayat 19).  Daud tidak pernah melupakan Tuhan di setiap langkah hidupnya, ia selalu melibatkan Tuhan di setiap keputusan dan tindakan, ia selalu mengandalkan Tuhan.  Dengan kata lain Daud tidak bertindak dengan kekuatan sendiri, tidak mengandalkan kepintaran atau kehebatannya, dan tidak membangga-banggakan pengalaman yang dimiliki. Daud sadar apalah artinya hidup ini tanpa Tuhan!  Di sepanjang perjalanan hidupnya ia memiliki pengalaman hidup yang luar biasa bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangatlah terbukti  (Mazmur 46:2).  Sahabat, hal tersebut menunjukkan betapa Daud punya kepekaan rohani:  Suatu kemampuan untuk memahami dan menempatkan kehendak Tuhan sebagai yang terutama.  Seorang yang peka rohani selalu belajar bagaimana agar hidupnya selaras dan seirama dengan hati Tuhan.  Sebelum bertindak Daud BERTANYA kepada Tuhan, dan setelah mendengar jawabannya ia pun TAAT MELAKUKAN  apa yang Tuhan perintahkan  (Ayat 25).  Karena selalu melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya,  Daud berhasil memukul kalah orang-orang Filistin. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melibatkan Tuhan dalam segala hal adalah bukti bahwa seseorang sangat menghormati Tuhan dan meninggikan-Nya. (pg).