CARI SAMPAI DAPAT

Saudaraku, nilai sebuah benda bisa ditentukan dari seberapa gigih seseorang mendapatkannya.  Semakin ia gigih berjuang, semakin bernilai benda itu bagi dirinya.  Apa nilai manusia di mata Allah?  Mari renungkan Injil Lukas 15:8-10 Bagi pembaca saat ini mungkin tidak terlalu memahami mengapa perempuan itu harus begitu serius mencari koinnya yang hilang.  Apakah perempuan itu begitu miskin sehingga hilangnya koin itu memengaruhi ekonominya ? Kemungkinan tidak.    Ada tafsir mengatakan bahwa uang itu adalah salah satu koin uang mahar perkawinan yang biasa dirangkai dan dipakai sebagai hiasan kepala perempuan Yahudi yang sudah menikah.  Nilai sosial itulah yang membuat perempuan itu mencari koin yang hilang dengan gigih, mencarinya sampai dapat.   Koin itu sungguh berharga bagi kehidupan dan perkawinannya sehingga ia saat menemukan kembali koin yang hilang itu, sukacitanya memuncak sehingga  ia berbagi sukacita dengan tetangga-tetangganya.  Yesus menyampaikan perumpamaan itu saat orang Farisi mengomentari sikap-Nya yang mau bergabung bersama orang yang dianggap tidak baik dan sampah masyarakat.  Terlihat bagaimana nilai manusia di mata Yesus, yaitu : Orang berdosa bernilai sama dengan orang yang dianggap baik. Penghargaan Tuhan kepada manusia inilah yang membuat Allah benar-benar melakukan tindakan yang serius hanya untuk mengembalikan manusia menjadi milik-Nya.  Allah menghargai bukan dari fisik namun dari hakikat manusia itu sendiri.   Senada dengan itu Firman Tuhan kepada Israel yang mengatakan, “Oleh karena engkau berharga di mataku dan mulia, maka aku ini mengasihi engkau maka aku memberikan manusia sebagai gantimu dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4).   Surga bergembira karena pertobatan manusia Apa yang terpenting bagi Allah adalah manusia yang menyambut anugerah yang diberikan-Nya, seperti koin yang kembali ditemukan.  Inilah yang membuat surga bersukacita.  Bukan ritual, bukan agama namun pertobatan, itulah yang membuat surga gempar karena sukacita.  Manusia kembali menjadi milik-Nya. Saat dunia cenderung menghargai materi dan apa yang kasat mata,  Yesus ingin umat-Nya memandang sesamanya berharga.  Umat Allah seharusnya memiliki mata seperti mata Yesus dalam memandang manusia dan memikirkan seperti pikiran Yesus kepada mereka yang berdosa.   Perlu terus berjuang tanpa henti dan pantang menyerah untuk mengabarkan anugerah Allah kepada mereka.  Sebagai agen keselamatan dalam diri Yesus, setiap umat Allah perlu memahami berharganya nilai seorang manusia terlepas dari latar belakang, etnisitas, pekerjaan, orientasi seksual dan pemikirannya dan tidak membuat kotak-kotak yang mendiskriminasi mereka yang dianggap tidak sama dan berdosa.   Mari gigih berjuang mendoakan dan menginjil dalam segala keadaan dan kepada siapa pun  sebagaimana Kristus sudah terlebih dahulu melakukannya untuk umat kepunyaan-Nya.  Mari terus mengerjakan tugas yang diberikan Kristus dengan gigih dan pantang menyerah bersama dengan Roh Kudus .  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)  

ANUGERAH UNTUK YANG MEMBUTUHKAN

Saudaraku, manusia bisa memiliki respons yang berbeda saat menerima pemberian yang biasanya disebabkan oleh tingkat kebutuhan terhadap pemberian tersebut.  Mereka yang memiliki rasa butuh yang tinggi akan bersukacita saat menerima pemberian. Mari renungkan respons para penerima anugerah Kerajaan Allah sebagaimana dituliskan dalam Lukas 14:15-24. Orang-orang yang menolak undangan dari penyelenggara pesta  itu masing-masing memiliki alasan yang rasional untuk tidak menghadiri pesta.  Namun di atas semua alasan itu, orang-orang yang sebenarnya mendapatkan hak istimewa tersebut menganggap urusan pribadi mereka lebih penting dan merasa tidak perlu dalam pesta.  Mereka adalah orang-orang yang saat itu tidak membutuhkan pesta.   Respons berbeda terlihat saat sang penyelenggara pesta mengajak orang-orang yang cacat, miskin, buta dan lumpuh untuk datang ke pesta itu.  Mereka adalah lapisan masyarakat yang tersingkir sehingga membutuhkan makanan dan pengakuan sosial.  Mereka menyambut gembira dan memenuhi rumah pesta itu.  Mereka kenyang dan merasa dimanusiakan.  Mereka yang bersukacita menerima berkat tak terduga. Kerajaan Allah menawarkan anugerah bagi mereka yang mau datang dengan rasa butuh.  Rasa membutuhkan menjadi kunci untuk menikmati anugerah dan  hidup di dalamnya.  Seburuk apa pun nilai seseorang, ketika ia datang kepada Tuhan dengan rasa butuh maka ia akan menemukan Allah, sang pemilik Kerajaan Allah itu.  Rasa butuh muncul karena kesadaran yang muncul sebagai karya Roh Kudus dan membutuhkan kerendahan hati untuk menerima pemberian Allah. Kehidupan sering kali mengaburkan prioritas manusia sehingga mereka menjadi salah fokus.  Apa yang penting malah diabaikan  dan apa yang kurang penting malah dikejar dengan sepenuh kekuatan.  Mengejar kebutuhan hidup jauh lebih penting daripada menerima dan menghidupi anugerah Allah.  Oleh karena itu butuh untuk sadar diri supaya bisa memahami apa yang paling penting dalam hidup: Anugerah Allah, karena dengan anugerah Allah manusia akan memiliki kekuatan menjalani kehidupan dengan cara yang sesuai dengan Firman Tuhan dan menggenggam keselamatan kekal.  Tetaplah rendah hati dan peliharalah rasa butuh kepada anugerah-Nya  sebagaimana Matius 5 ayat yang ketiga mengatakan, “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah karena mereka yang punya Kerajaan Allah”   dan   ayat yang keenam yang mengatakan, “Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, maka mereka akan dipuaskan”. Hiduplah dalam anugerah dan nikmati penyertaan Tuhan dalam dinamika kehidupan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

The Ambitions of Two Women

AMBISI. Sahabat,  definisi ambisi menurut The Webster’s Dictionary adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan. Sesungguhnya ambisi dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan seseorang bahkan komunitasnya. Baik kita tertarik untuk memulai bisnis sendiri, menekuni olahraga atau seni, belajar bahasa, meraih kekuasaan, atau memperjuangkan persamaan hak, ambisi yang sehat dapat menjadi titik awal yang baik. Sahabat, ketika kita memiliki tujuan yang jelas, kita mungkin akan lebih fokus pada tujuan tersebut dan lebih termotivasi untuk berupaya mencapainya. Ambisi dapat membantu kita memprioritaskan tindakan dan membuat keputusan yang membawa kita lebih dekat ke tujuan. Ambisi berpotensi mendorong pertumbuhan pribadi dan penemuan diri. Kita sering kali belajar lebih banyak tentang kemampuan  diri sendiri  ketika kita menantang diri sendiri dan melampaui zona nyaman. Pertumbuhan seperti itu memungkinkan kita mengembangkan keterampilan baru dan menjadi kreatif, mencari cara baru untuk menjadi sukses. Lalu apa bedanya ambisi dan obsesi? Obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas.  Jika kita punya rencana, lalu memfokuskan energi dan pikiran untuk merealisasikannya, berarti kita memiliki ambisi. Jika keinginan itu sudah mendominasi pikiran tanpa terkendali sampai membuat emosi meluap, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti kita sudah terobsesi.  Untuk meraih ambisi, kita sering memaksakan diri. Alhasil, ketika sukses tidak dicapai, kita sangat kecewa. Punya ambisi sebenarnya boleh-boleh saja (bahkan wajib), tapi tak perlu sampai terobsesi. Pasalnya, obsesi hanya akan membuat kita berbuat atau mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.  Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “The Ambitions of Two Women (Ambisi Dua Orang Perempuan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-Raja 11:1-21. Sahabat, bacaan Alkitab hari ini berkaitan dengan dua orang putri raja yang memiliki AMBISI yang berbeda, yaitu Atalya yang AMBISInya jahat dan Yoseba yang AMBISInya baik. Atalya, istri Raja Yoram, adalah ibu dari Raja Ahazia. Saat mengetahui bahwa suami dan anaknya sudah mati, ia berniat membunuh semua keturunan raja (Ayat 1).  Sahabat, bagaimana mungkin seorang nenek bisa melakukan tindakan yang begitu kejam, yaitu membunuh cucu-cucunya sendiri? Tindakan Atalya yang amat sadis itu bisa dimengerti bila kita mengingat bahwa ia adalah putri raja Ahab dan ratu Izebel yang terkenal jahat (2 Tawarikh 21:6). Ia mempunyai AMBISI jahat, yaitu menjadi orang yang paling berkuasa di Kerajaan Yehuda.  AAMBISI Yoseba, putri Raja Yoram, saudara perempuan Raja Ahazia yang menjadi istri imam Yoyada (2 Tawarikh 22:11), amat berbeda. Ia menyembunyikan Yoas, anak Raja Ahazia yang masih berusia setahun, bersama dengan inang penyusunya (Ayat 2).  Selama enam tahun, Yoseba dan Yoyada menyembunyikan Yoas (Ayat 3) di rumah Tuhan. Mereka mempersiapkan Yoas untuk naik takhta pada usia tujuh tahun (Ayat 4-12). Walaupun harus berhadapan dengan Atalya yang berhati Iblis, Yoseba dan Yoyada berambisi untuk menobatkan Yoas sebagai raja (Ayat 12). Atalya dengan AMBISI  jahatnya mati dibunuh dengan cara yang tidak hormat (Ayat 15-16). Yoseba dengan AMBISI kudusnya membuat segenap rakyat Yehuda bersukaria (Ayat 20). Sahabat, jauhilah AMBISI jahat yang akan menghancurkan reputasi dan masa depan kita sendiri! AMBISI jahat akan membuat orang lain marah dan memusuhi diri kita, sehingga nama Tuhan dipermalukan. Kejarlah AMBISI  kudus dengan motivasi dan tujuan yang benar. AMBISI kudus akan menghasilkan sukacita dan damai sejahtera bagi orang-orang di sekitar kita dan membuat nama Tuhan dipermuliakan. Apakah kita memiliki ambisi yang kudus? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1 dan 2? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ambisi bukanlah apa yang kita lakukan  tetapi apa yang akan kita lakukan. (pg). 

Live for God with all your Heart

MUNAFIK. Sahabat, orang munafik adalah orang yang giat melayani Tuhan, tetapi sesungguhnya hati mereka jauh dari Tuhan. Menurut Tuhan Yesus, orang munafik itu seperti firman Allah yang disampaikan oleh nabi Yesaya, “… Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, …” (Yesaya 29:13). Orang munafik bukan orang dengan kepercayaan lain, tetapi orang yang sama-sama percaya kepada Tuhan. Keberadaan orang munafik bukan di luar gereja, tetapi di dalam gereja. Pada hakikatnya, kemunafikan berbicara tentang tindakan seseorang mengklaim percaya sesuatu namun bertindak dengan cara yang berseberangan dengan klaim itu. Istilah yang dipakai dalam Alkitab berasal dari istilah Yunani yang berarti aktor,  secara harafiah: Seseorang yang mengenakan topeng. Dalam kata lain, seseorang yang berpura-pura menjadi sesuatu yang berbeda dari kenyataannya.Alkitab menyebut kemunafikan sebagai dosa. Ada dua bentuk kemunafikan: Menyatakan percaya sesuatu kemudian bertindak berlawanan dengan kepercayaan itu, dan memandang rendah orang lain walaupun dia sendiri bercela.Sahabat, nabi Yesaya mengecam kemunafikan pada zamannya (Yesaya 29:13). Berabad-abad kemudian, Yesus mengutip ayat tersebut ketika menunjuk kepada para pemuka agama di zaman-Nya (Matius 15:8-9). Yohanes Pembaptis menjuluki kerumunan orang yang tidak tulus, yang datang untuk dibaptis, sebagai  “keturunan ular beludak” dan menghimbau orang-orang munafik itu “hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3:7-9). Yesus juga mengecam keras kemunafikan, Ia menjuluki orang munafik “menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Matius 7:15), “seperti kuburan yang dilabur putih” (Matius 23:27), “ular-ular,” dan “keturunan ular beludak” (Matius 23:33).Kita tidak bisa mengatakan kita mengasihi Allah jika kita tidak mengasihi sesama kita (1 Yohanes 2:9). Kasih haruslah jangan pura-pura (Roma 12:9). Seorang yang munafik mungkin tampak saleh secara luaran, namun itu hanya topeng saja. Kebenaran sejati dihasilkan oleh perubahan di dalam diri seseorang akibat Roh Kudus, bukan ketaatan secara lahiriah terhadap peraturan (Matius 23:5; 2 Korintus 3:8).Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: : Live for God with All Your Heart (Hidup bagi Tuhan dengan Segenap Hati)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 10:18-36 dengan penekanan pada ayat 31. Sahabat,  patut diakui betapa hebat dan giatnya Yehu dalam melaksanakan perintah Tuhan untuk memusnahkan keluarga besar dan para pengikut Ahab. Ia berani, tegas, sangat bersemangat, dan tidak menyia-nyiakan waktu dalam menjalankan perintah Tuhan. Tuhan bahkan memuji Yehu: “Oleh karena engkau telah berbuat baik dengan melakukan apa yang benar di mata-Ku, dan telah berbuat kepada keluarga Ahab tepat seperti yang dikehendaki hati-Ku, maka anak-anakmu akan duduk di atas takhta Israel sampai keturunan yang keempat” (Ayat 30).Sahabat, dibalik giatnya Yehu, ada sikap-sikap yang menodai kepatuhannya kepada Tuhan. Pertama, Yehu melakukan kebohongan dan penipuan (Ayat 18-28). Kedua, Yehu tidak menjauhkan dosa-dosa penyembahan anak-anak lembu emas di Betel dan di Dan (Ayat 29 dan 31). Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat sangat giat bekerja bagi Tuhan, tetapi melakukan kedua hal itu? Jawabannya ada di ayat 31: “Tetapi Yehu tidak tetap hidup menurut hukum TUHAN, Allah Israel, dengan segenap hatinya; …”Pada bagian ini kita mungkin berpikir Tuhan sepertinya tidak melakukan apa-apa terhadap kesalahan Yehu, namun sesungguhnya Tuhan tahu dan Ia bertindak. Hosea 1:4 mencatat: “…  sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel.” Tuhan tetap menghukum Yehu, meski ia pernah dipakai sebagai alat-Nya.Sahabat, hal tersebut menjadi peringatan keras bagi setiap kita, yang melayani Tuhan. Kesalahan yang Yehu lakukan juga bisa terjadi dalam hidup pelayanan kita. Misalnya: ketika kita sangat rajin melayani tetapi tidak sungguh-sungguh hidup bagi-Nya; ketika kita lebih mencintai pekerjaan-Nya dibanding menaati kehendak-Nya dengan segenap hati; ketika kita terlalu sibuk memberantas dosa orang lain, tetapi lalai untuk peka terhadap dosa kita sendiri. Kuncinya adalah pada kata “TETAP”. Adakah kita TETAP hidup bagi Tuhan dengan segenap hati? Bersandiwara tempatnya di atas panggung, bukan dalam hidup sehari-hari kita. JANGAN MUNAFIK. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Hosea 1:4? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Munafik ditandai dengan adanya sebuah perbedaan di antara hati dan perkataan, adanya perbedaan di antara sesuatu yang tersembunyi dengan yang tampak. (pg)

The Deceiver’s End of Life

PENYESAT. Sahabat, jangan mau disesatkan. Hati-hati!!! Penyesat ada di sekitar kita dan mungkin dia adalah orang yang kita kenal atau dekat dengan kita. Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sudah cukup kita kenal: “Ojo gumunan” (jangan mudah terpesona). Ungkapan tersebut hendak menasihati agar kita tidak mudah terpesona ketika kita melihat seseorang atau sebuah peristiwa yang menakjubkan,  supaya kita tidak mudah disesatkan. Kita perlu berhati-hati ketika bertemu dengan orang yang tebar pesona dan mengajak kita meninggalkan Tuhan, kemudian mengikuti allah lain. Penyesat semacam itu, bisa saja benar-benar membuat kita terpesona karena tanda atau mukjizat yang ia janjikan benar-benar terwujud. Tetapi, Tuhan berpesan agar hanya Dia saja yang kita ikuti; Dia seorang yang harus kita takuti; perintah-perintah-Nya yang kita pegang dengan teguh; dan suara-Nya yang kita dengarkan (Ulangan 13:1-4).  Hal tersebut  penting  kita ingat, sebab allah lain belum tentu berbentuk berhala. Bisa jadi, penyesat yang tebar pesona dengan tanda atau mukjizat itu justru memberitakan “Kristus.” Namun sayangnya, bukan Kristus sebagaimana disaksikan dalam Alkitab, melainkan kristus yang lain. Berhadapan dengan tipu muslihat semacam itu,  kita harus berhati-hati. Jangan mudah terpesona pada orang yang membawa-bawa nama Kristus, bahkan meskipun ia bisa membuat tanda dan mukjizat! Kristus tidak suka mengobral tanda dan mukjizat. Tidak tiap hari ada roti yang digandakan atau orang sakit disembuhkan. Tetapi, tiap hari, bahkan tiap detik, Ia selalu ada bersama kita karena Ia adalah Immanuel! Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “The Deceiver’s End of Life (Akhir Hidup Sang Penyesat)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 9:30-37. Sahabat, satu-satunya perempuan yang secara khusus dinubuatkan kematiannya dan kematiannya yang mengenaskan diceritakan secara mendetail adalah Izebel.Yehu sampai ke Yizreel, tempat Izebel tinggal. Izebel menghias diri serta menjenguk dari jendela dan menyindir Yehu yang ia sebut sebagai Zimri, seorang yang membunuh tuannya (Ayat 30-31; lihat 1Raj. 16:8-13). Yehu berteriak kepada pegawai Izebel, “Siapa yang di pihakku?” Ketika ada dua tiga orang pegawai istana menjenguk kepadanya, Yehu menyuruh mereka menjatuhkan Izebel (Ayat 32-33).  Mereka melakukannya,  sehingga darah Izebel memercik ke dinding dan ke kuda, dan mayatnya pun terinjak-injak (Ayat 33). Ketika Yehu meminta orang untuk menguburkan mayat Izebel, ternyata yang tertinggal dari Izebel hanyalah kepala, kedua kakinya, dan kedua telapak tangannya (Ayat 34-35). Ini menggenapi firman Tuhan: “Di kebun di luar Yizreel akan dimakan anjing daging Izebel” (Ayat 36; lihat 1 Raja-raja 21:23)Sahabat, mengapa Tuhan sampai secara khusus menubuatkan kematian Izebel dan mengisahkannya dengan begitu mendetail? Itu  karena Izebel adalah orang yang menyesatkan banyak umat Allah. Ia membawa Ahab dan seluruh Israel secara resmi menyembah Baal dan Asyera (1Raja-raja 16:30-33). Nama Izebel kemudian dipakai untuk menunjukkan orang yang membawa umat menyembah berhala (Wahyu 2:20).Nubuat kematian dan detail kematian Izebel yang mengenaskan menunjukkan betapa Allah sangat membenci Izebel dan orang seperti dia, yang menyesatkan umat dan membawa umat menyembah allah lain. Karena itu, kita harus sangat hati-hati, jangan sampai dalam kelemahan, kita juga membuat banyak saudara seiman kita ikut berdosa. Paulus juga mengingatkan kita untuk tidak menjadi batu sandungan bagi saudara seiman kita (1Korintus 8:13). Apalagi, jika kita sampai mengambil bagian dalam menyesatkan umat Allah.Sahabat, Tuhan kiranya memampukan kita bertindak benar dan mampu mengajarkan kepada orang lain hanya kebenaran-Nya. Tuhan juga kiranya menjauhkan kita dari perilaku atau keinginan menyesatkan umat-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Wahyu 2:20? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan buka celah yang dapat melemahkan iman percaya kita dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan. (pg).

God is Never Late

TERLAMBAT. Sahabat, saya sedang membicarakan terlambat dalam arti lewat dari waktu yang ditentukan. Dengan demikian pasti kerabat terdekatnya adalah waktu. Sampai saat ini cukup banyak masyarakat yang sangat suka berperilaku terlambat. Karena minimnya protes, maka terlambat menjadi membudaya. Ketika semua orang datang tepat waktu dan satu orang datang terlambat, penting atau tidak posisinya dalam acara, secara tak langsung melahirkan rasa bangga karena semua orang telah menunggunya. Sepenting itukah posisinya sehingga pantas ditunggu? Tidak masuk akal, tapi begitulah manusia. Menelisik prosesi tunggu-menunggu di Indonesia sendiri, bukan hal aneh jika tercetus istilah makin tinggi posisi, makin banyak toleransi. Saking membudayanya, pembenaran hal-hal yang umum tak jarang ditemukan. Utamanya perihal keterlambatan. Membenarkan kebiasaan terlambat adalah hal yang wajar. Namun tetap saja, setiap perbuatan buruk akan menemui dampaknya, apalagi jika sudah dalam kategori budaya. Sahabat, terlambat bisa disebabkan karena dua hal, peran individu dan sistem. Beberapa individu atau komponen yang terlibat, akan membentuk sistem. Individu akan memilih terlambat karena kurang maksimalnya sistem. Masing-masing individu memang harus sadar, namun apakah sadar saja cukup jika sistem yang dibuat longgar? Ada dua cara yang dapat digunakan dalam mengoptimalkan sistem. Yang pertama adalah sistem insentif dan disinsentif. Dalam sistem insentif, orang yang tepat waktu akan diberi penghargaan agar termotivasi untuk selalu tepat waktu. Sedangkan sistem disinsentif akan mengenakan hukuman bagi para oknum yang melakukan kesalahan. Dalam hal ini adalah pelaku terlambat. Sudah tahu bagaimana dampaknya, sudah pula cara mengatasinya,  Jadi, maukah kita bersama meluruskan budaya terlambat menjadi Indonesia berbudaya tepat waktu? Atau dengan sikap gotong royong kita lebih memilih terlambat bersama dan tak acuh terhadap disiplin waktu? Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “God is Never Late (Tuhan Tidak Pernah Terlambat)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 8:1-6 dengan penekanan pada ayat 2. Semoga Sahabat  masih ingat kisah perempuan Sunem yang mendapatkan anak setelah Elisa bernubuat. Namun setelah anak itu besar, ia tiba-tiba mati. Perempuan itu menunjukkan imannya yang besar dan Allah kemudian memakai Elisa untuk membangkitkan anak itu (2 Raja-raja 4:16, 18-20, 32-37). Sejak itu, kita tidak mendengar lagi kisah si perempuan Sunem. Barulah dalam bacaan kita pada hari ini, kita mendengar lagi tentang dia.Sahabat rupanya, ia mengungsi ke Mesir selama tujuh tahun, sesuai saran Elisa (Ayat1-2). Namun, ia menemukan bahwa tanahnya diambil orang. Tampaknya, kasusnya sama seperti yang dialami Naomi dalam kitab Rut. Maka perempuan Sunem mengadukan perkara itu kepada raja (Ayat 3). Pada saat itu, raja sedang bercakap-cakap dengan Gehazi, hamba Elisa, mengenai segala mukjizat yang telah dilakukan oleh Elisa (Ayat 4-5). Maka perempuan itu menjadi bukti dari apa yang telah dibicarakan oleh Gehazi. Raja pun mengajak perempuan itu berbicara dan dengan demikian, ia diyakinkan.  Sahabat, tampaknya raja berpendapat bahwa jika Allah saja berkarya secara ajaib bagi perempuan Sunem itu, bagaimana mungkin ia menolak permintaan perempuan itu (Ayat 6). Yoram memang raja yang jahat, tetapi ia dipakai Tuhan untuk memerhatikan apa yang diperlukan perempuan itu, saat Elisa tidak ada di sana (Ayat 6). Sekali lagi, Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib.Jika Allah bekerja di hati seorang raja yang jahat untuk memelihara umat-Nya, tidakkah Ia juga akan memerhatikan dan memelihara kita? Allah dapat memakai berbagai cara dan berbagai jenis orang untuk memelihara orang-orang yang dikasihi-Nya. Selain itu, Allah berkarya juga bukan hanya untuk waktu yang singkat saja. Perhatikanlah bahwa sejak si perempuan Sunem belum memiliki anak sampai masa tujuh tahun setelah itupun, Allah tetap menunjukkan pemeliharaan-Nya. Jadi ingatlah bahwa apa yang Allah telah mulai niscaya akan Ia selesaikan.Sahabat,  percayakanlah segala permasalahanmu ke dalam tangan Tuhan yang Mahakuasa. Dalam waktu-Nya yang terbaik, Ia akan menyelesaikan segala sesuatunya. Yakinlah: Tuhan tidak  pernah TERLAMBAT. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Bagaimana pengalaman Sahabat dengan masalah terlambat? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Tragedi kehidupan terjadi ketika kita tua lebih awal dan terlambat menjadi orang yang bijaksana.” (Benjamin Franklin). (pg).