PENGABDI TUHAN ATAU PENGABDI MAMON ?

Saudaraku, kehidupan selalu menguji ketulusan terhadap komitmen yang diambil manusia. Apa yang nampaknya baik, setelah diuji malah hasilnya buruk. Mari merenungkan Lukas 16:10-15. Sangat menarik saat membaca bagaimana Yesus menarik istilah Mamon untuk menggambarkan tentang kesetiaan. Mamon diartikan sebagai kekayaan (NIV : money). Istilah mamon berkonotasi negatif dalam budaya Yahudi. Yesus sendiri mengatakan bahwa Mamon dan Allah tidak dapat dilayani bersamaan dan manusia harus memprioritaskan salah satunya (Lukas 16:13), untuk memberikan respons kepada orang Farisi yang munafik. Lukas dengan jelas mengatakan mereka hamba-hamba uang (Lukas 16:14). Yesus menegur keras karakter orang Farisi yang sinis terhadap orang berdosa, padahal mereka sendiri juga terikat dengan sesuatu selain Allah. Pelajaran yang diberikan Yesus adalah :Mamon menguji kesetiaan.Bila seseorang dapat mengolah mamon dengan jujur, maka ia orang yang bisa dipercaya untuk memelihara harta rohani. Hal ini dikarenakan mereka bisa menggunakan mamon sebagaimana mestinya dan bebas dari kekuasaannya. Karakter demikian menunjukkan keteguhan hati karena mamon bagaikan perempuan cantik dan menarik untuk dimiliki. Mamon menguji ketulusan dan kesetiaan kepada Tuhan.Pengabdi mamon bukanlah pengabdi Allah.Mamon dan Allah jelas berseberangan maka manusia perlu untuk memutuskan mau menghamba kepada siapa. Yesus menyindir dengan keras karakter orang Farisi yang cinta uang dan meragukan kesungguhan mereka mengabdi pada kebenaran. Yesus meragukan ketulusan orang Farisi sebagai penjaga Taurat karena sikap mereka mendua. Hingga sekarang mamon masih bagaikan gadis cantik dan menarik untuk dimiliki, sangat banyak manusia yang takluk kepadanya. Namun Mamon dan Tuhan tidak pernah bersatu, maka manusia yang mau mengabdi kepada Tuhan maka ia harus netral terhadap daya pikat si mamon. Mamon tetap relevan menjadi batu uji karakter orang yang mengatakan dirinya pengabdi Tuhan sampai saat ini. Para pengabdi mamon akan terseleksi dan sedikit demi sedikit akan menjauh dari Tuhan. Sebagai Pengabdi-pengabdi Tuhan, mari terus berjuang tanpa lelah untuk menempatkan mamon sebagaimana mestinya dan tidak tunduk dalam kuasanya. Arahkanlah pegabdian kepada Tuhan dengan tulus karena Dia tahu benar isi hati manusia sebagaimana dikatakan manusia melihat apa yang dipandang mata namun Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7). Tetaplah tulus dan setia kepada Tuhan.Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

TAHUN NAGA

Naga atau Liong atau Lung. Binatang apakah ini? Kok sedemikian ditunggu-tunggu sebagian orang yang memercayainya, hingga jadwal pernikahan pun dikebut agar bisa punya anak shio naga? Jelas mitologi naga dalam tradisi Tionghoa digambarkan sebagai mahkluk atau binatang yang memiliki gabungan dari beberapa binatang lainnya.  Bentuk panjang bisa meliuk-liuk mirip ular, bisa terbang seperti burung meski tidak punya sayap. Paha kaki seperti paha kuda yang kuat, cakar tajam seperti cakar burung elang, punya sungut entah ini seperti kumis kucing atau sungut ikan lele atau gurami. Lidahnya panjang seperti lidah ular kobra. Badannya bersisik besar seperti ikan arwana, giginya menyeringai kuat tajam seperti gigi ikan hiu atau gigi buaya. Ada tanduk seperti tanduk rusa atau kambing jantan, dan terutama matanya yang besar melalak,  tidak pernah berkedip jadi kalau terbang tidak pernah kelilipan debu atau mesti pakai kacamata helm. Karena binatang jerapah atau griraffe tidak ada di China zaman dulu, maka ciri jerapah yang berleher panjang jenjang tidak dimasukkan dalam ciri naga. Mungkin kalau dimasukkan maka naga bisa berdiri tegak menjulurkan lehernya.  Banyak suku atau daerah di Indonesia maupun di dunia yang punya gambaran binatang seperti naga yang menjulur di lukisan-lukisan, tiang, alat musik, dan lain-lain. Bahkan kata orang yang pekerjaannya meramal, katanya naga adalah binatang yang paling kuat sakti mandraguna hingga hanya motif naga yang dicantumkan di jubah kaisar-kaisar China, tapi peramal ini lupa, bahwa di jubah kaisar ada gambar mitologi lain yakni burung hong atau phoenix, juga ada bentuk singa yang menjaga pintu gerbang. Juga kalau para peramal membaca kisah-kisah Soen Go Kong atau Kera Sakti, maka ada banyak naga yang dihajar oleh kera ini. Jadi istilahnya, di atas langit masih ada langit.  Namun di kitab Ayub  ada binatang yang paling perkasa: “Dari dalam mulutnya keluar suluh, dan berpancaran bunga api.  Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap bagaikan dari dalam belanga yang mendidih dan menggelegak isinya. Nafasnya menyalakan bara, dan nyala api keluar dari dalam mulutnya.  Bila ia diserang dengan pedang, ia tidak mempan, demikian juga dengan tombak, seligi atau lembing.  Tidak ada taranya di atas bumi; itulah makhluk yang tidak mengenal takut.”  (Ayub 41:10-12, 17, dan 24). Kalau Anda suka menonton film-film Godzilla, maka mungkin yang digambarkan di Ayub 41 itu mirip Godzilla. Tapi kalau Anda membaca kitab Wahyu mulai pasal 12 hingga pasal 20 akan menemukan binatang Naga yang merepresentasikan si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan yang akan dihajar dan diikat oleh Malaikat. Nah, jadinya binatang naga itu baik atau jahat? Saudaraku, kalau Anda punya keyakinan akan tahun-tahun yang memiliki shio atau cabang bumi dengan lambang-lambang hewan sejumlah 12 shio, lalu masih dikombinasi lagi dengan 5 elemen (wuxing): tanah, kayu, api, logam dan air. Jadinya 1 putaran bumi akan 5×12 tahun = 60 tahun. Padahal masih ada unsur penentu lainnya, seperti jam di zaman Tiongkok dulu hanya 40 menit untuk 1 jam, lalu ada 10 batang langit (tiangan), masih ada lagu 28 xiu atau konstelasi bintang, dan masih banyak lagi ketentuan tergantung kemauan Kaisar dari zaman dinasti apa.  Kalau Anda memikirkan itu semua, akan ruwetlah jalan dan alur pikir Anda karena memikir-mikirkan metafisika, salah satu cabang filsafat yang berusaha mencari hakikat dari segala yang ada. Kenyataannya, belum tentu ada orang menyebut dirinya “suhu” atau ahli ramal yang menguasai itu semua, karena setidaknya dia harus bisa membaca abjad China kuno agar bisa mempelajarinya.  Saudaraku, jelas pikiran dan visi Anda-lah yang akan diruwetkan jika terus membaca berbagai ramal meramal berdasar astrologi China. Padahal Tuhan memerintahkan jelas-jelas, hanya ada 7 hari dalam penciptaan dunia dan salah satunya adalah Sabat atau hari berhenti bekerja. Jadi di hari Sabat,  kita mesti mengkhususkan untuk beribadah dan memuliakan Tuhan.  Datang ke gereja pada hari perhentian Sabat atau Minggu dengan hati yang penuh syukur, membuka diri menerima Firman Tuhan, menyimpannya dalam hati, dan melaksanakan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, maka berkat Tuhan akan dicurahkan. Tidak takut akan berbagai goncangan yang disebutkan di astrologi, karena Tuhan memimpin hidup kita dan beserta kita di sepanjangan hidup. Untuk Saudaraku yang merayakannya: Selamat  merayakan Tahun Baru Imlek 2575. Semoga berkah keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kelimpahan, selalu ada untuk kita. Semoga segala usahamu membuahkan hasil yang gemilang, rezeki mengalir semakin deras, dan semakin banyak impianmu yang menjadi kenyataan. Oh ya, jangan lupa, dukunglah Yayasan Christopherus dengan DOA, DANA, DAN KARYA. (Surhert).

Over Confidence

PERCAYA DIRI. Apakah Sahabat tipikal seorang yang cukup percaya diri, atau tidak? Apakah  Sahabat pernah merasa tidak nyaman dalam melakukan apa pun, termasuk kamu tidak percaya atas kemampuanmu sendiri ketika diperhadapkan dengan lingkungan yang semakin menantang? Percaya diri (confidence)  merupakan suatu keyakinan dan sikap seseorang terhadap kemampuan pada dirinya sendiri dengan menerima secara apa adanya baik positif maupun negatif yang dibentuk dan dipelajari melalui proses belajar dengan tujuan untuk kebahagiaan dirinya. Seseorang yang percaya diri dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan tahapan perkembangan dengan baik, merasa berharga, mempunyai keberanian, dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya, mempertimbangkan berbagai pilihan, serta membuat keputusan sendiri merupakan perilaku yang mencerminkan percaya diri.   Sahabat, percaya diri  merupakan dasar dari motivasi diri untuk berhasil. Agar termotivasi seseorang harus percaya diri. Seseorang yang mendapatkan ketenangan dan kepercayaan diri haruslah menginginkan dan termotivasi dirinya. Ada cukup banyak orang yang mempunyai kekurangan tetapi mampu bangkit menaklukan kekurangannya sehingga benar-benar mengalahkan kekurangan dengan mempunyai kepercayaan diri dan motivasi untuk terus tumbuh serta mengubah rintangan menjadi tantangan. Coba simak contoh berikut: Napoleon Bonaparte yang tinggi badannya hanya 158 cm,  tak satu hari pun merasa pendek dan kerdil dihadapan lawan lawannya dan pasukannya. Namun, melihat dirinya menjadi raksasa diantara laki-laki lainnya, meskipun sebenarnya tidak demikian. Kepercayaan diri dan kebesaran hati membuatnya bersikap, bergaul, bersama orang lain dengan penuh percaya diri dan kemampuan menghadapi segala kesulitan dengan kepercayaan diri yang besar. Sahabat,  memiliki kepercayaan diri adalah hal yang baik dan perlu, namun demikian jika berlebihan bisa berbahaya. Sebuah studi yang dilakukan psikolog Carmen Sancez dan David Dunning menyatakan bahwa percaya diri berlebihan berdampak tidak baik. Ada tiga hal yang terjadi pada orang yang percaya diri berlebihan: Pertama, rentan melakukan kesalahan. Kedua, tertutup untuk menerima masukan dari orang lain, dan ketiga, sulit untuk instrospeksi diri. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Over Cofindence (Terlalu Percaya Diri)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 14:1-22. Sahabat, percaya diri yang berlebihan itulah yang terjadi pada Amazia, raja Yehuda. Memang wajar untuk menjadi bangga atas sebuah keberhasilan, tetapi kita tidak pernah dianjurkan untuk terus berkanjang di dalamnya.Riwayat Raja Amazia yang memerintah Yehuda selama 29 tahun (796-767 SM), mengingatkan betapa mudahnya kita mengandalkan peruntungan (Ayat 2). Keberhasilan Amazia menaklukkan 10.000 orang Edom di Lembah Asin (Ayat 7) membuatnya menjadi bangga dan membawa dia menjadi orang yang terlalu percaya diri dan takabur. Kecerobohannya kemudian membawa kehancuran Yehuda.Sahabat, pada awal pemerintahannya, Amazia bin Yoas menunjukkan sikap yang positif (Ayat 1-3). Namun, ia gagal menghapus kompromi penyembahan kepada Tuhan. Penulis Kitab Tawarikh menggambarkan tindakan Amazia dengan ungkapan “tidak dengan segenap hati” (2 Tawarikh  25:2).  Kemenangan Amazia atas orang Edom membuatnya takabur dan terlalu percaya diri. Ia menantang raja Israel untuk beradu tenaga. Ia mengabaikan peringatan dari Yoas untuk tidak menantang malapetaka (Ayat 8-10).Kekalahan Amazia menghancurkan Yerusalem, membuat Yerusalem kehilangan benda-benda perkakas Bait Allah (Ayat 4-12). Peristiwa ini memicu pemberontakan dalam negeri, hingga Amazia terpaksa melarikan diri ke Lakhis. Pelariannya tidak dapat menyelamatkan dirinya dari pemberontakan. Amazia dibunuh di Lakhis (Ayat 18-22). Nama Amazia berarti kekuatan yang datang dari Allah; sayangnya, Amazia lebih mengandalkan kekuatan sendiri.Sahabat, kehidupan yang kita terima dari Tuhan adalah sebuah perjalanan yang harus kita tempuh bersama Tuhan. Ingatlah, kesempatan yang baik dan semua keberhasilan yang kita alami adalah bagian dari perjalanan bersama dengan Tuhan. Ada kekuatan Tuhan yang menopang.  Pengalaman dari raja Amazia hendaklah selalu mengingatkan kita untuk tidak menjadi orang yang takabur dan terlalu percaya diri. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bangga akan pencapaian tidak salah. Tetapi, jangan sampai menjadikan kita terlalu percaya diri. Jangan menjadi takabur! (pg).

Can I Help You?

RINGAN TANGAN. Sahabat, kiasan adalah kata yang digunakan untuk memberi kesan indah atau penekanan pada suatu makna. Salah satu contoh kata kiasan yang sering kita jumpai dalam bahasa Indonesia adalah ringan tangan. Tahukah Sahabat apa maknanya? Dalam bahasa sehari-hari, kiasan ringan tangan memiliki dua konotasi yang berbeda. Kiasan itu bisa diartikan sebagai konotasi yang positif tetapi bisa juga diartikan dalam konotasi yang negatif.Kiasan ringan tangan dalam makna yang positif artinya suka menolong, suka memberi, suka membantu, dan dermawan. Kiasan ringan tangan bisa ditunjukkan kepada seseorang yang baik hati, suka memberi, dan suka menolong orang lain yang sedang mengalami kesusahan.Saat kamu bertemu dengan seseorang yang sering berperilaku baik, senang berbagi dengan sesama, dan orang yang suka menolong, berarti kamu sedang bertemu dengan seseorang yang ringan tangan. Sikap tersebut tentu merupakan sikap yang terpuji dan harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.Sahabat, dalam konotasi yang negatif, ringan tangan bisa diartikan sebagai orang yang suka memukul. Seseorang yang ringan tangan mudah sekali memukul orang lain walaupun hanya permasalahan yang kecil.Ketika kamu menemukan seseorang yang sering memukul orang lain, maka kamu bisa melabeli orang tersebut dengan kiasan ringan tangan. Mereka suka melakukan kekerasan untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik, “Can I Help You? (Ada yang Bisa Saya Bantu?)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 13:14-21 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, ketika kita datang kepada Customer Service (CS) sebuah bank, biasanya dia akan menyapa: “Ada yang bisa saya bantu?”  Dia menyapa seperti itu karena itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang Customer Service dan dia dalam keadaan sehat.  Saya punya pengalaman ketika saya mengunjungi seorang rekan hamba Tuhan yang sedang sakit di rumahnya. Kaki dan tangan kanannya bengkak akibat dia jatuh ketika bersepeda. Dia masih jumblo walau usianya sudah mendekati 50 tahun.   Tak lama HP nya  itu berbunyi. Ada WA masuk. Dia  minta saya membacakannya. Ada warga jemaatnya  yang mengeluhkan persoalannya. Dia mendiktekan jawaban pada saya. Isinya sangat menghibur dan menguatkan. Saya tak mengira dalam kondisi kaki dan tangannya sakit jika digerakan, dia masih punya kemauan untuk menolong jemaatnya yang lebih sehat tubuhnya. Sahabat, Elisa memiliki karakter yang luar biasa. Ia tidak membiarkan sakitnya menghalangi pelayanannya. Saat itu pasti penderitaannya  tidak ringan. Penyakit itulah yang menyebabkan kematiannya. Ya, tak lama kemudian ia menemui wafat. Namun, ia sempat memberikan banyak petunjuk walaupun tidak sepenuhnya ditangkap oleh Yoas. Ia tetap berusaha menolong (Ayat 14-19). Tuhan Yesus juga mencontohkan hal yang sama. Dalam penderitaan-Nya di kayu salib, Dia tidak mengabaikan penjahat di sebelah-Nya (Lukas 23:43). Apakah di masyarakat kita dikenal sebagai orang yang ringan tangan, yang siap memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan? Apakah kita siap menyapa orang yang datang kepada kita dengan sapaan: “Ada yang bisa saya bantu?” Sahabat, orang yang sedang sakit dan menderita cenderung memikirkan diri sendiri, mengasihani diri, dan kurang memedulikan orang lain. Tuhan sering bekerja melalui manusia, termasuk mereka yang sedang sakit dan menderita. Saat seseorang minta pertolongan pada Tuhan, bisa saja Tuhan memakai kita untuk menolong orang itu. Siapkah kita saat Tuhan ingin memakai kita sebagai kepanjangan tangan-Nya sekalipun kita sendiri sedang sakit dan menderita? Saat Tuhan ingin memakai kita, apakah kita selalu siap, di mana pun dan dalam kondisi bagaimanapun? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tolong menolong membuat hidup penuh dengan kemudahan, menjadikan hidup penuh dengan kebajikan. (pg).

Finishing Well

MENGAKHIRI DENGAN BAIK. Sahabat, segala sesuatu yang BERAWAL pasti akan BERAKHIR. Maka kita perlu mengendapkan kesaksian  Rasul Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2 Timotius 4:7-8) Hidup manusia di bumi ada awal dan pasti ada akhir. Saya sebagai seorang penulis sangat senang mengibaratkan hidup itu bagai sebuah buku. Sampul paling depan merupakan catatan awal dari kehidupan dimulai yaitu kelahiran. Pada bagian dalam dimulai dari halaman pertama dan diikuti dengan halaman-halaman selanjutnya, itulah torehan sejarah atau jejak langkah berisi catatan kehidupan dari setiap peristiwa dalam hidup kita.  Semua hal yang baik dan buruk yang kita alami dan yang kita lakukan terekam semua. Pada bagian belakang ada sampul belakang (penutup), artinya tidak ada lagi kisah karena semua sudah berakhir, itulah kematian. Hal terpenting bukan pada panjang-pendeknya kisah atau umur seseorang, tetapi bagaimana kita mengisi catatan kehidupan dari awal sampai akhirinya. Mungkin ada Sahabat yang akan menjadikan sebagai  status di WA-nya pada hari ini: “Mengawali, menjalani dan mengakhiri dengan baik.”   Ada yang mengatakan jika memulai sesuatu dengan baik pasti akhirnya akan baik. Wait …. Wait …. BELUM TENTU. Dalam kisah hidup Simson menunjukan hal sebaliknya, hidupnya diawali sangat baik, ia seorang nazir Allah. Namun dalam perjalanan hidup bersama kekasihnya Delila, ia tergoda dan hidupnya berakhir tragis.  Ada pula yang berpendapat, tidak penting bagaimana memulainya,  yang penting bagaimana mengakhirinya. Wait … Wait … TUNGGU DULU. Jika berawal dengan tidak baik, kemungkinan besar tidak menghasilkan sesuatu yang baik. Ibarat pohon yang baik dapat dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula.  Saya yakin, kita semua berharap bahwa akhir kehidupan kita akan baik, maka masa hidup yang kita jalani kini merupakan kesempatan untuk memperbaikinya agar terarah pada maksud dan tujuan Tuhan menciptakan kita. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Finishing Well (Mengakhiri dengan Baik)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-Raja 11:21 – 2 Raja-raja 12:21. Sahabat, ada cukup banyak orang bisa mengawali segala sesuatu dengan baik, dalam hal pekerjaan, pelayanan, pernikahan, persahabatan, dan lain-lain. Namun awal yang baik tidak menjamin akhirnya baik juga.  Seperti itulah juga kehidupan Yoas, sang raja muda. Ia menjadi raja sejak usia tujuh tahun (2 Raja-raja 11:21). Ia diasuh oleh putri Yoseba (bibinya) dan Imam Yoyada (pamannya). Firman Tuhan mencatat: “Yoas melakukan apa yang benar di mata Tuhan seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia” (Ayat 2). Ia juga melakukan reformasi dan renovasi terkait dengan rumah Tuhan (Ayat 4-16). Namun Yoas tidak menjauhkan bukit penyembahan berhala (Ayat 3), sehingga Yehuda kembali terjerumus ke dalam penyembahan berhala (2 Tawarikh 24:18).Sahabat, ketika Tuhan mengutus para nabi untuk menegurnya, ia dan para pemimpin Yehuda tidak mau mendengarkan (2 Tawarikh 24:19). Yoas bahkan membunuh Zakharia, anak Yoyada, ketika ia berusaha mengingatkan Yoas akan kesalahannya (2 Tawarikh 24:22). Hidup Yoas berakhir dengan pemberontakan dari para pegawainya dan ia terbunuh (Ayat 20).  Meski ia mengawali perjalanan hidupnya sebagai raja dengan baik, namun ia mengakhirinya dengan tidak baik. Ketika ia mulai kompromi terhadap dosa penyembahan berhala, jalan hidupnya mulai bergeser dari jalan Tuhan. Hatinya tidak lagi berpaut kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya. Ia merenovasi rumah Tuhan, tetapi ia tidak merenovasi hati dan hidupnya.Sahabat, belajar dari kehidupan Yoas, mari kita belajar untuk tidak kompromi terhadap dosa. Sekali kita mulai kompromi terhadap dosa, tanpa disadari kita akan berjalan terlalu jauh dari jalan Tuhan. Mari senantiasa merenovasi hidup kita, agar tetap terpaut kepada Allah sehingga kita tidak tersesat. Dengan demikian, perjalanan hidup kita yang sudah kita awali dengan baik, akan berakhir dengan baik pula. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari 2 Raja-raja 12:3? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan takut hidup. Percayalah bahwa hidup itu layak dijalani, dan keyakinanmu akan membantu menciptakan fakta  (William James). (pg)