Fruitful Life

BERBUAH. Sahabat, secara alami, buah adalah hasil tanaman sehat yang menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkannya (Kejadian 1:11-12). Dalam Alkitab, kata buah sering digunakan untuk menggambarkan tindakan lahiriah seseorang yang diakibatkan dari kondisi hatinya. Buah yang baik adalah buah yang dihasilkan oleh Roh Kudus. Galatia 5:2223 memberi kita titik awal. Buah dari Roh-Nya ialah: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri Semakin kita mengizinkan Roh Kudus bebas mengendalikan hidup kita, semakin nyata buahnya (Galatia 5:16, 25). Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya: Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, ” (Yohanes 15:16). BUAH yang BENAR mempunyai MANFAAT yang KEKAL. Yesus memberitahu kita dengan jelas apa yang harus kita lakukan untuk menghasilkan buah yang baik. Dia berkata: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:45). Sahabat, cabang harus tetap melekat erat pada batangnya agar tetap hidup. Sebagai murid Kristus, kita harus tetap terhubung erat dengan-Nya agar tetap produktif secara rohani. Ranting memperoleh kekuatan, makanan, perlindungan, dan energi dari pokok anggur. Jika dipatahkan, ia cepat mati dan tidak berbuah. Ketika kita mengabaikan kehidupan rohani kita, mengabaikan Firman Tuhan, jarang berdoa, dan menutup bagian-bagian kehidupan kita dari pimpinan Roh Kudus, kita seperti ranting yang patah dari pokok anggur. Hidup kita menjadi tidak membuahkan hasil. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: Fruitful Life (Hidup yang Berbuah). Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 8:20-23. Sahabat, Allah memulihkan Yehuda dan Israel. Hal itu berdampak tidak hanya secara internal, tetapi juga eksternal. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, mereka harus memancarkan kasih Allah kepada bangsa-bangsa lain. Intinya adalah Yehuda dan Israel harus setia menjadi pelaku firman Allah. Banyak bangsa telah mendengar Yehuda menjadi berkat, sehingga banyak bangsa-bangsa dan penduduk kota akan mendatangi mereka (Ayat 20). Selanjutnya mereka akan menyampaikan berita tersebut ke kota-kota yang lain. Mereka ingin mengenal Allah Yehuda dengan tujuan ingin melunakkan hati Tuhan dengan mencari-Nya (Ayat 21). Akhirnya, mereka akan datang ke Yerusalem untuk beribadah. Sahabat, kejadiannya sangat menakjubkan. Sepuluh orang dari berbagai bangsa akan memegang erat ujung jubah seorang Yahudi. Mereka berkata akan mengikuti Allah Yehuda (Ayat 23). Mereka seperti haus dan ingin menikmati ranumnya berkat yang dinikmati oleh bangsa Yehuda. Yehuda akan menjadi berkat jika hidup seturut perintah Allah. Mereka akan BERBUAH BANYAK dan harum namanya di antara bangsa lain. Kehebatan dan kemahakuasaan Allah Yehuda akan terus diperbincangkan. Allah Yehuda akan menjadi buah bibir dan dicari bangsa lain. Inilah yang disebut BERBUAH RANUM BERLIPAT GANDA, sehingga, bangsa lain pun ingin ikut serta menikmatinya. Yesus memerintahkan para murid untuk hidup berbuah. Jika kita hidup tinggal di dalam- Yesus, maka kita akan berbuah. Buahnya bisa beratus kali lipat ganda, sehingga orang lain akan memuliakan nama Yesus. Sahabat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebagai murid Kristus, hati kita wajib menjadi tanah yang subur agar firman Allah bertunas dan bertumbuh, sehingga, pohonnya akan menghasilkan buah ranum yang bisa dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan. Dengan demikian, hal yang perlu kita renungkan: “Buah hidup apakah yang sedang kita hasilkan?” Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?2. Sahabat, apa yang kamu kerjakan agar hidupmu dapat terus berbuah? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetap terhubung erat dengan Pokok Anggur yang sejati merupakan satu-satunya cara agar sampai masa tua pun kita masih dapat berbuah. (pg).

Harmoni Hidup dalam Nada-Nada Kehidupan

Saudaraku, dalam perjumpaan kali ini, mari kita merenungkan: “Berdering-deringlah kepada TUHAN, hai seluruh bumi, teriaklah, bersoraklah, bernyanyilah bagi-Nya! Pujilah TUHAN dengan kecapi, nyanyilah bagi-Nya dengan kecapi yang berbunyi indah! Dengan sangkakala dan bunyi trompet, bersoraklah di hadapan Raja, TUHAN!” (Mazmur 98:4-6) Musik merupakan bahasa universal yang menghubungkan banyak hal, tanpa memandang perbedaan bahasa, budaya, maupun latar belakang. Harmoni, melodi, dan ritme yang seimbang akan menghasilkan musik yang indah untuk didengar. Tapi tentu saja, untuk menghasilkan keseimbangan antara harmoni, melodi, dan ritme, dibutuhkan latihan, latihan, dan latihan. Saudaraku, di dalam kehidupan kita saat ini pun ada banyak orang yang akhirnya menyerah dalam hidupnya. Ketika mereka berpikiran bahwa hidup ini terlalu berat, hidup ini terlalu keras, tidak ayal akhirnya orang-orang yang berpikir seperti itu justru memilih menyakiti dirinya sendiri, hingga berujung kepada tindakan bunuh diri. Berbeda dengan orang-orang yang justru berpikir bahwa hidup ini seperti musik. Perlu adanya latihan supaya bisa menghasilkan sesuatu yang indah.  Mari kita renungkan ilustrasi sederhana ini: Dalam sebuah orkestra, setiap pemain harus bertanggung jawab dengan dirinya sendiri dan instrumen musik yang dipakai. Tidak ada instrumen yang paling sulit atau mudah, karena pasti ada tantangan di setiap permainan masing-masing. Pemain biola tidak bisa berkata jika alat musik saxophone lebih mudah, atau pemain saxophone berkata alat musik bass lebih mudah. Beberapa kali saya diminta tolong untuk bergabung di orkestra. Karena saya bisa memainkan beberapa alat musik, jadi saya dikondisikan untuk memainkan alat musik yang berbeda. Di acara ini saya diminta untuk menjadi pianis, berikutnya bisa diminta untuk menjadi bassis, dan lain-lain. Satu kesimpulan: Setiap alat memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Ketika saya menjadi pianis, saya tidak bisa berkata lebih enak main bass, notnya lebih mudah. Atau sebaliknya, ketika saya menjadi bassis, saya tidak bisa berkata lebih enak menjadi drummer, hanya membaca ketukan saja. Semua pasti memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Saudaraku, ketika saya bergabung dengan tim orchestra, hal yang pertama saya lakukan adalah meminta partitur sesuai dengan alat musik yang saya mainkan, dan mengobservasinya. Tidak berhenti di situ, hal yang paling banyak menyita waktu adalah latihan mandiri.  Saya akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk latihan mandiri. Hal itu saya lakukan supaya terbiasa dengan not-not yang sulit. Saya rasa semua pemain orkestra akan melakukan hal yang sama seperti saya, sehingga pada waktu latihan bersama (sekalipun dengan alat musik yang berbeda, teknik yang berbeda, notasi balok yang berbeda), semua instrumen dapat disatukan dan menghasilkan suara yang indah karena harmoni, melodi, dan ritme, dapat berpadu dengan seimbang. Saudaraku, dalam hidup ini, kita tidak bisa berkata Tuhan tidak adil, Tuhan hanya sayang dan peduli kepada orang itu, atau keluarga itu, bukan kepada saya, dan lain-lain. Sama halnya dalam musik, setiap orang memiliki tingkat kesulitan dalam hidupnya masing-masing. Kadang-kadang kita membandingkan diri kita dengan orang lain, atau kehidupan kita dengan orang lain.  Kita harus ingat seringkali hal yang tidak kita inginkan, justru itulah yang diinginkan orang lain dalam hidup kita. Tuhan adalah Allah yang adil, yang mampu mengkoordinasikan setiap orang dengan baik, sesuai talenta dan bagiannya masing-masing. Tidak ada yang terlalu sulit, tidak ada yang terlalu mudah. Semua pas pada bagiannya. Untuk itulah dalam Mazmur 98:4-6, kita diingatkan untuk selalu memuji Tuhan karena kebesaran dan keadilan-Nya bagi semua orang. Perenungan: Saudaraku, seperti halnya dalam musik, terkadang kehidupan kita juga bisa mengalami disonansi (ketidakselarasan). Kadang-kadang, kita bisa mengalami kesulitan, kekecewaan, atau kegagalan. Namun, seperti halnya dalam sebuah komposisi musik yang indah, disonansi tersebut bisa menjadi bagian dari perjalanan yang mengarah pada kemenangan akhir. Mari kita hargai keindahan musik, dan mari kita terus mencari harmoni dalam setiap langkah hidup kita. Pesan: Apakah Saudara ingin menjadi pemusik atau pemuji yang handal? Mari Bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Segera hubungi HP: 081292081227. (Inthan).

The Correct Worship

IBADAH YANG BENAR. Sahabat, apakah arti ibadah yang benar? Tidak semua orang percaya yang biasa rutin beribadah di gerejanya memahami apa yang dimaksud dengan ibadah yang benar. Ada cukup banyak orang percaya yang  menjalankan ibadah hanya sebagai suatu rutinitas dan kewajiban. Padahal, sebenarnya makna ibadah  lebih daripada itu. Ibadah yang benar melibatkan ketulusan hati yang lahir dari cinta dan kesetiaan kepada Allah. Termasuk juga keinginan yang tulus untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya. Arti ibadah yang benar meliputi pemahaman, sikap, dan tindakan yang mendalam terhadap peribadahan kepada Allah. Ibadah yang sejati bukan hanya tentang rutinitas keagamaan, tapi melibatkan hati, jiwa, dan perilaku sehari-hari. Coba kita hayati nasihat rasul Paulus berikut ini: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1) Sahabat, dari kutipan ayat Alkitab tersebut, dijelaskan bahwa orang percaya sebaiknya melaksanakan ibadah yang sejati dalam segenap  aspek kehidupannya. Bapak Pdt. Jusuf Roni dalam bukunya “Menang Atas Penderitaan” (2021) menjelaskan arti ibadah sejati adalah pencarian kudus dan kesejatian. Lebih tepatnya mengupayakan pertumbuhan  dan kesempurnaan dalam kasih kepada Allah dan sesama.  Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “The Correct Worship (Ibadah yang Benar)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 7:1-14. Sahabat, bagaimanakah caranya kita menyenangkan Tuhan? Jawaban pada umumnya adalah dengan melakukan kebaikan bagi sesama. Apakah itu menyenangkan hati Tuhan, sesama, atau untuk memuliakan diri sendiri? Apakah itu berdasarkan kecintaan kepada Tuhan atau supaya kita tidak ditolak oleh lingkungan kita?Sisa orang Yehuda masih mempertahankan kebiasaan berpuasa. Sarezer dan Regem-Melekh diutus penduduk Betel untuk melunakkan hati Tuhan dengan mengajukan sebuah pertanyaan: “Apakah umat Yehuda harus menangis dan berpantang dalam bulan kelima seperti tradisi yang telah diturunkan selama ini?” (Ayat 2-3).Sahabat, ternyata, jawaban Tuhan sungguh mengejutkan. Berpuasa, tampaknya, sudah menjadi kebiasaan tanpa makna dalam kehidupan ibadah Israel dan Yehuda. Tuhan tahu bahwa puasa yang mereka lakukan bukan lagi untuk-Nya, tetapi untuk diri sendiri (Ayat 5-6). Hal itu menyakitkan Tuhan, sehingga Tuhan membuang mereka dari hadapan-Nya.Sekarang yang Tuhan mau adalah mereka beribadah dengan benar dan menunjukkan kesetiaan serta kasih sayang kepada sesama, memerhatikan janda, anak yatim, orang asing, dan orang miskin, serta melarang mereka merancang kejahatan terhadap sesama (Ayat 9-10). Perintah ini menjadi petunjuk hidup baru setelah puasa mereka tidak lagi diterima.Tuhan memperingatkan umat Yehuda agar hidup lebih baik daripada nenek moyangnya yang telah gagal dalam mempraktikkan ajaran ibadah puasa dengan benar. Sekarang mereka memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik setelah pulang dari pembuangan. Mereka harus memperlakukan sesama dengan baik, sama seperti Tuhan sudah memerhatikan mereka. Sudah saatnya mereka beribadah dengan iman.  Sahabat, relasi kita dengan sesama akan baik kalau persekutuan dengan Tuhan berjalan akrab. Ini adalah langkah iman yang Tuhan tunggu-tunggu dari gereja-Nya. Mari kita mencermati tindakan dan perbuatan pada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanggalkan sekat-sekat pembeda yang seringkali merintangi kita untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada sesama. (pg). 

The Caring Shepherd and The Foolish One

GEMBALA YANG PANDIR. Gembala dalam kekristenan adalah orang yang bertugas menuntun dan menjaga domba atau umat Tuhan. Kata menuntun memiliki pengertian bahwa semua yang menjadi kewajiban umat Allah berada dalam pengawasan sang gembala. Sedangkan kata menjaga merupakan kata kerja yang bertujuan agar semua yang menjadi tanggung jawabnya bisa memiliki kelangsungan hidup yang lebih baik. Tetapi gembala yang pandir atau tidak berguna meninggalkan domba-dombanya, tidak mencari yang hilang, tidak menyembuhkan yang luka, tidak memelihara yang sehat dan memakan daging yang gemuk. Ada waktunya kelak Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kepada para gembala yang dipercayakan menggembalakan domba-domba-Nya. Tuhan sudah menyiapkan suatu hukuman bagi gembala yang pandir karena melalaikan tugasnya. Sesungguhnya setiap  orang percaya adalah gembala dan akan selalu ada domba-domba yang Tuhan percayakan, mungkin domba itu berupa keluarga kita, bawahan di kantor atau di pekerjaan, di komunitas dan lain sebagainya. Mereka harus digembalakan dengan baik. “Gembalakanlah domba-domba-Ku! kata Tuhan kepada murid-Nya” (Yohanes 21:15-17) dan kalau kita mengasihi Tuhan maka kita akan melakukan perintah-Nya menggembalakan domba-domba yang Tuhan percayakan dengan baik. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “The Caring Shepherd and The Foolish One (Gembala yang Peduli dan Gembala yang Pandir)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 11:4-17. Sahabat,  Zakharia diminta untuk mendemonstrasikan firman Allah dengan tindakannya kepada sekumpulan domba sembelihan. Allah ingin menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel yang baru saja pulang kembali dari tanah pembuangan, melalui Zakharia yang diperintahkan untuk menggembalakan domba-domba sembelihan.  Domba sembelihan adalah domba yang sebenarnya tidak dipedulikan, karena nantinya juga akan diperjual-belikan untuk disembelih, sehingga pedagang domba ini mengiyakan saja ketika Zakharia memberi diri menggembalakan domba-dombanya.  Zakharia menggembalakan mereka dengan dua sikap yang dilambangkan oleh dua tongkat, yaitu kemurahan dan ikatan. Hanya saja dalam jangka waktu tertentu, Zakharia kemudian tidak tahan lagi untuk menggembalakan domba-domba tersebut, hingga akhirnya domba-domba itu dibiarkan semau-maunya.  Sahabat, hal itu melambangkan Allah yang tidak tahan lagi terhadap Israel, mereka sebenarnya seperti domba sembelihan yang tidak dipedulikan siapa-siapa tapi dipedulikan Allah, namun mereka tetap tidak menghargai itu. Pada akhirnya kemurahan dan ikatan Allah diangkat dari mereka, dan mereka akan diserahkan kepada gembala yang pandir, yang hanya mencari kepentingannya sendiri atas domba-dombanya. Mengapa Allah mengizinkan Israel ada di bawah “gembala yang pandir”? Supaya mereka dapat membedakan bagaimana hidup dalam penggembalaan Allah yang murah hati dan gembala yang pandir. Gembala yang pandir mungkin akan membiarkan mereka semau-maunya sehingga dirasa enak buat mereka. Tetapi sebenarnya gembala semacam ini tidak akan memedulikan mereka.  Sahabat, berbeda sekali dengan Allah yang telah berulang kali menunjukkan kepedulian-Nya, bahkan membawa mereka pulang dari tanah pembuangan. Bagaimana dengan kita, yang sekarang sudah ada dalam penggembalaan Tuhan Yesus, Sang Gembala sejati? Apakah kita mau menundukkan diri dalam penggembalaan-Nya? Ataukah kita seperti Israel, yang terus ingin semaunya dan akhirnya malah kembali celaka dan mempermainkan kemurahan Allah atas kita? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Bagaimana Sahabat menggembalakan domba yang Tuhan percayakan? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Setiap  orang percaya adalah gembala dan akan selalu ada domba-domba yang Tuhan percayakan. (pg).

FAT CAT

Saudaraku, nama aslinya adalah Liu Jie, anak petani dari Provinsi Hunan kelahiran 2003. Fat Cat jagoan otodidak main game online Honor of Kings, main hampir 15-18 jam per hari selama 2 tahun. Mengingat rating pointnya tinggi dia menjadi joki atau game boosting, menjalankan game atas nama orang lain, karenanya dia mendapat honor bayaran dari orang yang gamenya dijalankan, dan jumlah uang yang didapatkan ini sangat besar bagi pemuda umur 21 tahun. Nah Fat Cat juga berkenalan dengan seorang follower bernama Tan Zhu, tampilannya cantik menawan dengan polesan make-up, wajah aslinya, maaf, lihatlah sendiri di medsos. Fat Cat demikian terpesona dengan Tan Zhu, selama hampir dua tahun baru dua kali ketemuan onsite, namun Tan Zhu benar-benar merebut hatinya. Mula-mula tampilan dan mulut manis Tan Zhu menimbulkan rasa suka, lalu merebut hati dan perasaan, dan akhirnya merenggut isi kantong dan dompet Fat Cat, yakni selalu merengek minta dikirimin uang, dan Fat Cat akhirnya mentransfer nyaris seluruh hartanya sejumlah RMB 510,000 setara lebih dari Rp 1.133.897.164,-(Satu koma satu miliar lebih). Uang hasil game disetorkan ke pujaan hati, sementara itu untuk makan dia hanya membeli berbagai junkfood yang murah meriah, pokoknya asal kenyang, menimbulkan sakit penyakit dan sempat muntah darah. Di bulan April 2024 Tan Zhu minta putus hubungan, Fat Cat bagaikan layangan putus benangnya, bingung tidak tahu kemana, tapi malahan mengirimkan isi dompetnya terakhir sebesar RMB 66,000 (Rp 146 juta lebih),  konon untuk membeli bunga sebanyak 720 batang, sebagai kenangan sudah 720 hari berhubungan. Kemudian Fat Cat bunuh diri dengan cara terjun di jembatan Sungai Shihanpo Yangtze di Chongqing yang airnya dingin dan sangat deras, baru 12 hari kemudian mayatnya diketemukan. Tan Zhu setelah kejadian tersebut muncul di medsos minta maaf …  Saudaraku, ratusan bahkan ribuan orang di Tiongkok menjadi marah dan muncul rasa simpati yang meluas, bahkan beritanya disebarkan ke seluruh penjuru dunia, diberitakan juga di Amerika, Eropa dan juga di Indonesia. Ratusan penduduk Chongqing membawa rangkaian bunga ke jembatan tempat bunuh dirinya, juga banyak yang membawakan junkfood kesukaan Fat Cat terutama burger. Gara-gara publikasi Fat Cat meluas di Indonesia, diberitakan pula oleh koran Kompas, seorang amoy cantik di Kalbar memposting di Tiktok: “Oh seandainya pacarku Fat Cat, aku akan selalu setia.” Cewek lain dari Jatim bilang: “Oh pujaan hatiku, kenapa kamu ndak mau sama aku.”  Tentu masih ada ribuan komentar dan rasa gelo terutama dari cewek-cewek muda. Ya jelas, Fat Cat umur 21 tahun bisa punya uang lebih dari Rp 1,1 miliar, wajahnya ya lumayan mirip beberapa pemain Drakor, bisa setia ke satu perempuan dan selalu mengirimkan uang bagi pujaan hati, tentu ini setidaknya menjadi idaman para gadis-gadis belia. Fat Cat menjadi hero bagi ribuan, bahkan puluhan ribu gadis-gadis remaja yang mata batinnya dibutakan kemewahan harta benda. Mungkin nantinya malahan akan memantik ratusan anak muda di Indonesia untuk main MOBA multiplayer online battle arena, yakni game saling membunuh dan menyerang yang anggotanya terdiri dari satu kelompok, umumnya 5 orang, dan harus mengalahkan kelompok lainnya dengan berbagai taktik dan senjata yang disediakan oleh app penyedia game.  Di Tiongkok populer Honor of Kings, di sini Mobile Legends,  bahkan dikategorikan sebagai esports (olahraga elektronik),, dianggap sebagai olahraga otak,  tidak jelas kriterianya. Yang pasti ada turnamennya, mulai dari tingkat kecamatan Kelapa Dua Tangerang berlangsung di lapangan Dasana Indah diikuti 50 tim, hingga ada kejuaraan tingkat nasional, yang terutama, para juara akan mendapat hadiah berupa barang dan uang yang jumlahnya mencapai Rp 1,1 miliar! Katanya esports ini bisa untuk membina generasi muda … Benar begitu  Pak Pendeta? Saudaraku, mohon perhatikan!!! Anak-anak muda yang kecanduan game online, bisa main berjam-jam, hanya menunduk melihat ke handphone terutama yang layarnya besar, dan yang bergerak-gerak memainkan kursor hanya 1-3 jari tangan kanan kiri, sering kali keluar teriakan dari mulut dan reflek kaki menendang jengkel atau kesenangan. Yang olahraga sehat otaknya?  Malahan diajarkan cara-cara bagaimana hanya untuk menang, mengalahkan orang lain, bagaimana menggunakan senjata, bagaimana menembak dan membunuh, hanya itu yang diajarkan!!! Tidak ada orang yang mengajak bicara atau tegur sapa dalam game online, dunia rohani yang sebenarnya sepi, hanya ada dunia musik game yang hingar bingar memacu emosi dan pokoknya ayo jadi satu tim untuk menang perang.  Tidaklah heran di Amerika banyak orang yang terobsesi dengan game dan menganggap senjata hanya mainan, bawa senjata ke tempat-tempat umum dan menembaki membunuh orang-orang secara acak. Saudaraku, nasihatilah anak cucu kita yang kecanduan game online, bahwa ini hanya tipu muslihat iblis untuk menjerumuskan generasi muda, bukan membina generasi muda. Pengalaman bisa hebat dan banyak di game online, bahkan bisa menjadi joki menerima uang seperti Fat Cat, tapi itu semua di dunia maya. Begitu remaja beranjak menjadi pemuda, masuk di masyarakat, akan selalu ditanya: “Apa pekerjaanmu, apa sekolahmu, apa prestasimu?” Pengalaman dan ketrampilan di game online tidak bisa menjadi referensi, bagaimanakah masa depanmu nanti? Mari kita merenungkan dalam-dalam nasihat Rasul Paulus yang terdapat di 1 Korintus 15:33:  “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Apakah kita sudah berteman, bergaul, dan memiliki komunitas yang membangun kehidupan yang berkenan di mata Tuhan? Selanjutnya, sebagai orangtua, apakah kita mengenal dengan baik lingkungan pergaulan anak cucu kita? Terakhir, namun bukannya kurang penting, sebagai teman, apakah kita sudah memberikan dampak yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan? Orang yang memiliki kebiasaan buruk juga memerlukan sentuhan untuk menjadi baik. Semoga dalam pergaulan, kiranya kita tidak terhanyut oleh pengaruh negatif, tetapi berpengaruh pada teman-teman secara positif.  (Surhert)