Telling About the Miraculous Deeds of God

HATI YANG BERSYUKUR. Sahabat, bersyukur adalah kunci di dunia dan akhirat. Bersyukur merupakan wujud ungkapan perasaan terima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan dan anugerah yang setiap hari kita rasakan. Namun, tidak jarang kita semua luput dan lupa untuk bersyukur, apalagi ketika kita sedang mendapatkan masalah dan cobaan yang berat. Pemazmur merasakan perbuatan Allah yang ajaib dalam dirinya. Perasaan yang mendalam itu hendak diberitakannya kepada setiap orang. Itulah sebabnya Pemazmur menuliskan Mazmur 9.  Hati yang bersyukur adalah hati yang berterima kasih. Tuhan telah berbuat, maka kita patut berterima kasih. Tidak menceritakan berarti tidak berterima kasih. Inilah dasarnya mengapa ada ibadah syukur, yakni ibadah untuk berterima kasih kepada Tuhan. Tuan rumah biasa menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami dari Tuhan.  Sahabat, perbuatan Tuhan mana yang diceritakan? Menurut Pemazmur, perbuatan Tuhan yang ajaib. Ajaib di sini maksudnya, datangnya tindakan Tuhan disaat kita tidak bisa menolong diri kita sendiri. Hanya Tuhan yang dapat melakukannya.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur  dengan topik: “Telling About the Miraculous Deeds of God (Menceritakan Perbuatan Tuhan yang Ajaib)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 9:1-21 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, mengapa syukur atau rasa terima kasih, kemudian, harus dinyatakan dengan menceritakan perbuatan Tuhan? Karena hati yang berterima kasih selalu berorientasi ke situ. Inilah inti kekuatan pemberitaan gereja di mana-mana: menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan: “… beritakanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” (Ayat 12).  Perbuatan Tuhan, dalam segala bentuknya, selalu berakibat baik dan orang yang menerimanya akan berbahagia. Kebahagiaan ini biasanya tidak terbendung, orang ingin meluapkannya melalui doa, pujian, air mata bahagia dan seruan. Tetapi ternyata ini tidak cukup, kebahagiaan itu ingin keluar melalui kesaksian, melalui kata-kata lisan atau pun tulisan agar orang lain tahu. Alkitab penuh dengan kesaksian-kesaksian orang yang menerima perbuatan Tuhan. Gereja-gereja diwarnai dengan kesaksian seperti ini. Dorongan ini jugalah yang bergelora di dada Pemazmur sehingga dia berseru, “Aku mau bersyukur kepada Tuhan …aku mau menceritakan perbuatan-Mu yang ajaib.” (Ayat 2). Ia tidak dapat menahan rasa bahagianya untuk konsumsi sendiri melainkan meluapkan itu dalam kata-kata sehingga orang lain pun tahu. Andaikan dia tidak menyatakan kesaksiannya, kita tentu tidak tahu bagaimana Allah bertindak membela perkaranya, melindunginya dari orang fasik. Kita juga mungkin tidak tahu betapa kuat keyakinannya pada Tuhan. Tapi dari kesaksiannya itu kita boleh mendengar lagi tentang kebaikan Tuhan.  Salah satu moto gereja adalah bersaksi. Apa yang kita saksikan? Yang kita saksikan bukanlah keluarga kita, pekerjaan kita, jabatan kita atau diri kita, melainkan perbuatan Tuhan! Perbuatan Tuhan dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kehidupan anak-anak dan dalam diri kita.  Sahabat, jikalau kita mampu mematahkan rasa enggan untuk bersaksi, maka “ruang-ruang kesaksian” tidak akan sepi atau kekurangan orang yang bersaksi karena banyak orang rindu menguraikan ceritanya tentang perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Tolong sharingkan secara singkat apa yang Sahabat lakukan ketika menerima kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam hidupmu? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janganlah lupa untuk bersyukur. Bagaimanapun keadaan kita, sejatinya semua itu adalah karunia Tuhan semata. (pg).

GAJAH TIDAK KELIHATAN

Saudaraku, kemarin aku menghadiri pameran lukisan yang diselenggarakan oleh seorang pelukis, ternyata pelukis ini gemar melukis gambar gajah, dalam berbagai model, warna dan ukuran. Aku tanya dia kenapa, dan dia fasih sekali menjelaskan sifat-sifat gajah yang suka berkelompok, yang terutama solidaritas gajah dalam kelompoknya yang sangat tinggi, bahkan gajah akan menunggui rekannya yang dalam kondisi sakit atau menjelang ajal. Oh begitu ya. Nah ini sepulang dari pameran aku berpikir mengapa gambar gajah jarang atau mungkin tidak pernah ditampilkan di lukisan-lukisan China. Memang negeri China bukan habitat binatang gajah, tapi gajah banyak di India dan Siam atau Burma, bahkan dijadikan kendaraan tempur oleh raja-raja. Juga yang paling terkenal yakni Jenderal Hannibal dari Kartago (247-181 SM) yang memiliki pasukan gajah perang melawan Kerajaan Roma. Gajah dalam bahasa mandarin ditulis 大象 dà xiàng, dan ketika saya cari-cari lagi di pepatah China ternyata di Daodejing ada disebutkan 大象无形 dà xiàng wúxíng, daxiang artinya gajah, sedangkan wuxing artinya di google translate sebagai tidak terlihat, formless, jadi daxiang wuxing secara harafiahnya berarti gajah yang tidak kelihatan atau tidak terlihat. Lho, gajah, binatang yang besar, tapi kok tidak kelihatan?  Nah ternyata artinya lebih lanjut yakni menunjukkan suatu aset atau harta yang tidak berwujud, seperti ilmu pengetahuan, hak paten, kebijaksanaan, tutur kata yang halus, semuanya itu nampak ada, memberikan pengaruh dan ada harganya, tapi wujudnya tidak bisa dipegang, hanya bisa dirasa. Menarik ya. Di Alkitab memang tidak ada kata gajah, karena memang di negeri Israel sana tidak ada binatang gajah, jadi memang tidak disebutkan adanya gajah, hanya di gambar-gambar bahtera Nuh selalu disertakan gambar gajah sepasang yang berbaris masuk ke bahtera. Tapi tentang gajah tidak kelihatan sebenarnya secara tidak langsung disebutkan di Alkitab. Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” (Yohanes 3: 5-8)  Jadi ada pekerjaan besar yang dilakukan oleh Roh Kudus, memberikan kelahiran baru bagi orang yang percaya, namun proses yang dilakukan oleh Roh Kudus itu bagaikan angin, tidak kelihatan, tapi hasilnya ada, nampak, dan orang yang dilahirkan kembali akan berubah perilaku kehidupannya. Memang di beberapa bagian Alkitab ada disebutkan tentang penampakan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis mengatakan: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.” (Yohanes 1:32). Di Kisah Para Rasul 2: 2-3: “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.”  Saudaraku, akhirnya Roh Kudus dalam gambar-gambar Kristiani dilukiskan sebagai burung merpati atau lidah-lidah api. Namun itu semua hanya gambar, tapi wujud aslinya tidak nampak. Kuasa Roh Kudus yang Maha Besar, bisa mengubah segalanya, terutama mengubah perilaku manusia yang cenderung berdosa menjadi manusia baru yang melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Roh Kudus benar ada, tapi tidak nampak. Penjara disebut sebagai lembaga pemasyarakatan (lapas) karena dimaksudkan untuk membantu memperbaiki perilaku seseorang sehingga tidak lagi melakukan kejahatan, tapi kita sering membaca berita eks napi yang kembali melakukan tindakan kriminal justru belajarnya dari penjara. Jadi adanya rumah penjara belum tentu bisa mengubah perilaku seseorang, tapi saat orang itu mau bertobat dan membuka diri kepada Tuhan, turunlah Roh Kudus bagaikan angin ke dalam hatinya, mengubah kehidupannya. Banyak promosi tentang turunnya Roh Kudus, yang sering digambarkan sebagai penumpangan tangan, orang yang mendadak rebah atau bahkan menari-nari, atau juga sebagai bahasa lidah yang disebut-sebut sebagai bahasa roh. Semuanya itu yang kelihatan, dalam berbagai bentuk dan cara, tapi saat-saat turunnya Roh Kudus yang Maha Besar itu tidak kelihatan. Ya bagaikan gajah yang tidak kelihatan.  Coba simak 2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Saudaraku, kapan yang lama berlalu, dan kapan yang baru datang, tidak ada yang tahu, tidak bisa dinantikan dalam sekejap, karena ini hanya dimungkinkan karena pekerjaan Roh Kudus. Mau bertobat, menyerahkan diri kepada Tuhan, membuka hati, dan Roh Kudus yang Maha Besar datang, tapi tidak terlihat, namun memberikan perubahan dari MANUSIA LAMA  menjadi MANUSIA BARU  yang memiliki PERILAKU YANG YANG BARU. (Surhert).

DEWA UANG

Hari Minggu kemarin saya dan istri makan siang di sebuah restoran di bilangan PIK, ruang resto tidak begitu besar, jadi meja makan antar pengunjung relatif dekat hanya muat untuk satu orang jalan. Di sebelah saya duduk satu keluarga, suami istri dan dua anaknya yang nampak remaja, sepanjang makan sepertinya makan namun tidak menikmati atau gimana, pokoknya sambil main handphone. Yang dua anak pakai Iphone, papanya pakai S dan mamahnya pakai Flip. Begitulah, satu keluarga santap bersama, tidak saling menegur, matanya hanya ke handphone. Pada waktu aku ke kasir untuk membayar, ternyata Si Ibu di meja sebelah menanya ke istriku dalam bahasa Mandarin, “Asalmu dari mana?” Mungkin melihat tampilan istriku yang biasa-biasa dan kami saat santap sama sekali tidak menatap handphone, mungkin dianggap tidak punya handphone atau gaptek atau aneh. Istriku menjawab, dari Jawa Tengah, juga dalam bahasa Mandarin. Eh Si Ibu yang bertanya malahan nyeletuk, juga pakai bahasanya: “Eh kamu datang jauh-jauh ke Jakarta bawa uang banyak ndak?”  Istriku hanya tersenyum lalu berdiri keluar resto, kebetulan chef resto ada di pintu keluar, asli dari daratan, aku dan istri ajak ngomong sebentar kalau masakannya enak, pakai Mandarin. Keluarga yang nanya-nanya tadi melihat saja, mungkin mikir ini dua orang yang tidak bawa duit banyak ke Jakarta ternyata bisa juga bahasa Mandarin ya.  Yah itulah secuplik kehidupan di sebuah penggalan kota Jakarta yang keras, yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Ada kelompok orang yang memandang kita dari tampilan, dari handphone yang dibawa, dari baju yang dipakai, dari mobil yang dikendarai, dan apakah mampu berbahasa seperti bahasa asal kampungnya, yang terutama, jauh-jauh datang ke Jakarta bawa uang banyak ndak? Semoga gaya hidup semacam ini tidak menular ke gereja kita, maunya melihat siapa yang datang, tampilannya gimana, dan kalau duitnya banyak dan sering menyumbang, pasti didekati banyak pengurus dan rohaniwan, ditarik-tarik menjadi aktivis dan panitia. Latar utamanya, ya banyak duit. Minggu pagi kemarin di gereja pak Pendeta dari gereja lain yang khotbah bilang ada kesaksian satu orang jemaatnya yang dulu-dulunya hampir 20 tahun kerja di nightclub, keuangannya melimpah, hingga suatu hari di KKR di gereja mendapat teguran Roh Kudus atas pekerjaannya.  Dia mundur dari nightclub, lalu coba melamar ke berbagai kantor dan instansi, tidak ada yang mau menerima, keuangannya menipis, hingga akhirnya jualan roti-roti dan krupuk di foodcourt. Hingga suatu hari ketemu dengan mantan pelanggannya di nightclub, yang menawarkan adanya pekerjaan di nightclub yang baru dibukanya, gajinya lebih tinggi.  Tapi orang ini menolak, dan berani menyaksikan bagaimana kasih Tuhan meskipun kekurangan uang, tapi dia bisa lebih akrab dengan anak istri, tidak seperti dulunya setiap sore hingga pagi malahan berangkat kerja di nightclub dan tidak pernah ketemu keluarga. Memang di kehidupan sehari lebih banyak orang yang memandang kita dari seberapa banyak uang yang kita miliki, seberapa sukses posisi kita di masyarakat, bukan seberapa dekatnya iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Nampaknya kepemilikan tentang uang menjadi tolok ukur dalam kehidupan, jadi uang menjadi dewa atau raja kehidupan. Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13) Saudaraku, Tuhan Yesus tidak mengatakan: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Iblis – atau menjadi pengadi setan, seperti di film tempo hari. Jadi yang menjadi persaingan sebagai penguasa agung yang mesti disembah saat ini yakni antara Tuhan melawan Mamon sebagai pesaingnya. Mamon ini dewa baru, tidak ada di zaman Perjanjian Lama, juga di kitab Wahyu tidak disebut lagi Si Mamon ini. Namun di Perjanjian Baru, Mamon atau μαμμωνᾷ (bahasa Yunani) dibaca mammoná artinya kekayaan, umumnya dianggap berarti uang, kekayaan materi, atau entitas apa pun yang menjanjikan kekayaan, dan dikaitkan dengan keserakahan dalam mengejar keuntungan. Karena banyak ajaran Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan itu sumber berkat, sumber kekayaan, persembahanmu itu bagaikan kamu  menabur di padang dan kelak akan menuai 30 kali lipat, bahkan bisa 100 kali lipat, maka dekat dengan Tuhan berarti dekat dengan sumber dan janji kekayaan. Inilah, Tuhan bukan lagi sebagai sumber keselamatan tapi sudah menjadi sumber berkat, terutama uang, bahkan menjadi dewa uang. Jadi saingan Tuhan hari ini bukanlah Si Iblis, tidak ada orang yang mau mengejar dan mengikut Iblis, kecuali di film-film horor, tapi semakin banyak orang yang dengan sukarela mau menjadi pengikut Mamon yang menjanjikan kekayaan materi, mau mengorbankan waktu, keluarga, bahkan kesehatannya dan dirinya, demi mendapatkan Mamon yang lebih banyak. Saudaraku, coba jawab dengan jujur: “Kita masing-masing ada di pihak yang mana? Tuhan atau Mamon?” (Surhert)

KEMURAHAN HATI

Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Mazmur 41:2-4: “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.” Sebuah percakapan singkat siang kemarin saat kami menunggu obat di rumah sakit: Kensa (K) : Ma, buku Kensa’s Adventure masih ada 4 pax ya stok nya.. Saya (S) : Iya Dik, tinggal sedikit. Sebentar lagi semua buku mungkin akan habis K : Ok, aku mau beli juga ya. S : Oh ya? Kenapa? K : Ya supaya stoknya berkurang lagi. Aku mau ikut menyumbang. Nanti aku bayar dua ratus ribu. S : Kamu punya uangnya? K : Iya, nanti aku pakai uang yang ada di celenganku.  Lalu mendadak lidahku terasa kelu. Aku tidak tahu harus berkata atau memberi komentar apa pun. Buku Kensa’s Adventure itu kutulis dan kuterbitkan karena dia. Buku yang berisi tentang perjalanan imanku sepanjang mendampingi Kensa melawan kanker Limfoma Hodgkin. Jadi tanpa membeli pun, sesungguhnya secara otomatis dia berhak untuk memiliki buku itu. Tapi siang itu dia memilih untuk ingin membelinya. Karena dia ingin ikut berpartisipasi di program persembahan kasih bagi penderita kanker dan penyakit kritis lainnya. Ya, ketika cita – cita untuk menerbitkan buku ini terwujud, aku memang merancangkan bahwa hasil donasi yang kuterima dari teman-teman yang ingin memiliki buku Kensa’s Adventure adalah untuk program persembahan kasih. Mungkin yang kubantu bukan nominal angka yang besar. Tapi aku percaya itu akan sedikit meringankan dan berguna.   Siang itu tanpa prolog apa pun Kensa menyatakan ingin memiliki buku itu dengan memberikan uang celengannya. Uang celengan Kensa adalah uang yang dikumpulkannya dari sisa uang saku sekolah, atau pemberian dari nenek atau kerabat. Uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Ternyata dia dengan sangat tulus akan menyerahkannya kepadaku. Melihat matanya yang tulus dan terlihat sangat bening siang itu, tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca, hatiku seperti disiram air sejuk yang mengademkan siang yang terik hari itu.  Inilah kasih yang besar. Yang ditunjukkan dan diajarkan anakku melalui pemikirannya yang sangat sederhana untuk menolong sesama. Seringkali, kita yang lebih dewasa, membuat terlalu banyak pertimbangan sebelum menolong orang lain. Menunda-nudanya sampai pada akhirnya menjadi terlambat dan urung menolong Bahkan tidak jarang, kita sangat egois, enggan menolong karena takut bahwa nanti kita akan berkekurangan.  Padahal, seperti yang Tuhan selalu ajarkan, tidak akan pernah berkekurangan orang yang bersedia berbagi dan menolong sesamanya. Ilmu matematika tidak berlaku di dalam Seni Berbagi. Jika menunggu kaya terlebih dahulu baru mau menolong dan berbagi, mungkin selamanya kita tidak akan pernah menolong dan berbagi. Inilah kasih yang besar. Yang tidak menghitung-hitung berapa uang yang dimiliki dan berapa lama dia harus mengumpulkan uang itu. Kensa hanya ingin, salah seorang teman sesama pasien kanker, bisa membeli tiket bus atau kereta untuk menuju ke rumah sakit Kariadi dengan uang persembahan yang diberikannya. Atau supaya teman sesama pasien kanker, bisa membeli susu dan dan kue-kue karakter yang dijual di sebuah toko roti di depan rumah sakit sehingga hati mereka bisa tertawa dan berbahagia. Sesederhana itu.Selamat Bermurah Hati! (Novi Reksanto)

MEMBANGUN KELUARGA KOKOH,DI TENGAH ARUS SEKULARISME

Saudaraku, di tengah derasnya arus sekularisme yang melanda dunia saat ini, membangun keluarga Kristen yang kokoh menjadi tugas yang semakin menantang bagi orang Kristen. Sekularisme, dengan segala kemajuan dan kemudahannya, seringkali membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan iman Kristen atau ajaran Alkitab. Kita perlu memahami pola pikir sekularisme. Sekularisme adalah sebuah paham atau aliran filsafat (ideologi) yang mengarahkan manusia pada pemisahan antara unsur- unsur agama dan hal-hal dunia, seperti pemerintahan, urusan kepentingan umum. Paham atau aliran ini benar-benar sudah menjadi fenomena yang bersifat universal (umum) dan menyeluruh dan mengakibatkan pengaruh besar dalam perjalanan proses kehidupan manusia modern. Dampaknya banyak orang Kristen hidup dalam dua “dunia”. Hari minggu penuh suasana surgawi dan di hari-hari lain hidup dalam dorongan duniawi. Di gereja orang Kristen hidup rohani namun berbeda saat di luar gereja. Kita terkadang berjumpa dengan orang Kristen yang berkata: “Ah …, itu kan kalau di gereja, udah jangan terlalu rohani lah.” Atau “Ini dunia kerja, tidak bisa dengan cara seperti itu (ajaran Alkitab), terlalu naiflah kamu, jangan sok suci.”  Bahkan, kemajuan teknologi memberi kontribusi besar dalam pola pikir sekularisme kepada kaum muda. Pada kalangan kaum muda terjadi penurunan pada hal atau nilai-nilai rohani. Hal-hal rohani menjadi dunia yang sangat jauh di hati mereka dibanding pada teknologi. Ada kesulitan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Alkitab pada pikiran dan hati mereka. Juga dampak sekularisme saat ini, orang Kristen hidup di tengah gempuran pola pikir materialisme, relativisme moral, dan individualisme yang berlebihan, kita dihadapkan pada pilihan penting setiap hari: Mengikuti arus sekularisme atau mengikuti nilai-nilai dalam kehidupan sebagai orang Kristen.  Materialisme menjebak pada keinginan memiliki lebih banyak barang dan kekayaan. Relativisme moral mengaburkan Batasan antara benar dan salah. Individualisme mendorong kita mengejar kepentingan diri sendiri di atas kepentingan bersama, mengikis nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam keluarga. Disinilah kita sadar bahwa menghadapi sekularisme bukanlah tugas yang mudah. Dunia modern menawarkan banyak godaan supaya dapat mengalihkan perhatian orang-orang Kristen dari Tuhan. Namun, dalam menghadapi tantangan ini, kita dapat menemukan inspirasi dari Yosua 24:15 yang berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Kata-kata Yosua ini bukan sekadar pernyatan biasa, melainkan sebuah komitmen yang kuat. Yosua menantang kita untuk membuat pilihan yang tegas, memilih untuk beribadah kepada Tuhan di atas segalanya. Ketika kita merenungkan bagaimana membangun keluarga yang kokoh, fondasi utamanya adalah iman kepada Tuhan. Seperti yang dinyatakan dalam Yosua 24:15, komitmen untuk melayani Tuhan harus menjadi pusat kehidupan keluarga kita. Ini berarti menanamkan nilai-nilai Kristen sejak dini kepada anak-anak kita, memastikan bahwa mereka memahami dan menghargai pentingnya iman dalam kehidupan sehari- hari. Ketika keluarga berdoa bersama, membaca Alkitab bersama, dan berdiskusi tentang iman bersama, mereka membangun ikatan yang kuat dan pemahaman yang mendalam tentang tujuan hidup mereka. Orangtua tidak perlu ragu untuk membangun pendidikan Kristen di tengah keluarga. Orangtua menjadi pendidik Kristen mula-mula kepada anak-anak sejak dini dan membantu mereka untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai iman. Hal ini wajib menjadi pola hidup dalam keluarga Kristen. Karena itu orangtua pun perlu sadar pentingnya keberanian mereka untuk membangun akan pola hidup ini. Kesadaran sebagai orangtua tidak sempurna justru mendorong orangtua menjadi pembelajar bersama dengan anak-anak sejak dini. Saudaraku, keterlibatan dalam komunitas gereja juga sangat penting. Bergabung dengan komunitas gereja yang aktif membantu keluarga untuk mendapatkan dukungan dan dorongan dari sesama orang percaya. Melalui persekutuan dan pelayanan bersama, keluarga dapat terus bertumbuh dalam iman dan saling menguatkan dalam menghadapi tantangan sekularisme. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga TEMPAT untuk BERBAGI, BELAJAR, dan BERTUMBUH bersama dalam IMAN. Dalam menghadapi arus sekularisme, kita perlu selalu ingat bahwa pilihan untuk melayani Tuhan haruslah menjadi keputusan yang bulat dan disertai dengan tindakan nyata. Sekularisme mungkin menawarkan jalan yang lebih mudah dan nyaman, tetapi sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk berjalan di jalan yang benar meskipun itu sulit. Seperti yang diingatkan dalam Yosua 24:15, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”  Saudaraku, dengan komitmen ini, kita bisa membangun keluarga yang kokoh, siap menghadapi setiap tantangan yang datang, dan menjadi saksi yang hidup bagi dunia tentang kasih dan kebenaran Tuhan. Akhirnya, mari kita merenungkan pesan ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap keputusan dan tindakan, mari kita selalu memilih untuk beribadah kepada Tuhan, membangun keluarga yang kuat di atas dasar iman yang kokoh, dan menghadapi arus sekularisme dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup yang tidak hanya berakar dalam iman, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain, menunjukkan kepada dunia bahwa DALAM TUHAN, KITA MENEMUKAN KEKUATAN DAN HARAPAN YANG SEJATI. (EBWR).

SEPULUH EKOR UNTA

Saudaraku, Kejadian 24:10:  “Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya …”. Ini merupakan sebuah ayat yang biasa-biasa saja di kitab Kejadian, ketika hamba Abraham disuruh oleh Abraham pergi ke negeri Aram-Mesopotamia, asal Abraham, mencarikan calon istri bagi Ishak.  Akhirnya hamba ini tiba di pinggiran kota di Aram, di dekat sebuah sumur. Lalu dia berdoa: “Kiranya ada seorang anak gadis yang mau memberikan air minum dari buyungnya, dan anak gadis itulah yang akan menjadi calon istri bagi Ishak, anak Abraham.” Benarlah …  Datang seorang anak gadis yang sangat cantik parasnya, mengambil air dari sumur dari buyungnya. Hamba itu minta minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, anak gadis itu berkata: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”  Kemudian segeralah anak gadis ini menuangkan air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur atau mata air untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu (Kejadian  24:20). Ya cerita yang nampak biasa-biasa saja. Nah, ada sepuluh ekor unta, berapa banyak air yang dapat diminum oleh seekor unta? Ini di Wikipedia, unta memiliki penyimpanan air yang berada di punuknya. Punuk tersebut mengandung sekitar 40 kg lemak yang menjadikan unta mampu berjalan lama tanpa makan dan minum. Dalam sepuluh menit, unta mampu meminum air sebanyak ⅓ berat badannya. Artinya, seekor unta mampu meminum 130 liter air dalam sekali minum. Ada 10 ekor unta, berarti semuanya akan minum 1.300 liter air. Nah anak gadis yang sangat cantik parasnya ini, kita tahu selanjutnya bahwa ia bernama Ribka, menimba air memakai buyung. Berapakah besar buyung yang dibawa Ribka, apalagi Ribka menurut website di JWA.org (Jewish Women’s Archive, Amerika) berusia sekitar 14 tahun.  Jelas kalau 1 buyung air itu seperti galon Aqua yang isi 19 liter, tentu Ribka sudah kepayahan memikulnya setiap hari dari sumur ke rumahnya, jadi yang dibawa Ribka boleh jadi kendi yang cukup besar, yang menampung sekitar 4 liter air, beratnya sekitar 5 kg termasuk kendi. Jika Ribka memakai kendi untuk mengambil air minum bagi 10 ekor unta yang minum 1.300 liter air, berarti dia mesti bolak-balik mengambil air dari sumur lalu menuangkan ke palungan unta sebanyak 300 kali!  Zaman itu belum ada pompa listrik Sanyo atau pompa air Dragon yang mudah menyalurkan air, jadi menimba air 300 kali pasti perlu waktu 2-3 jam lebih.   Melihat pelayanan Ribka, hamba Abraham memberikan anting-anting dan gelang emas yang dibawanya kepada Ribka dan dia menemui orangtua Ribka untuk melamarnya, kemudian Ribka dibawa pulang menemui Abraham untuk dijodohkan dengan Ishak. Ribka yang memberi minum 10 ekor unta dan akhirnya dijodohkan dengan Ishak menjadi sangat penting, karena hari ini kita mudah menemukan di google ada banyak website dan tafrsir sesat yang mengolok-olok usia Ribka saat dijodohkan dengan Ishak, yang mengatakan saat itu Ribka usianya 3 tahun, karena katanya di usia 3 tahun pada zaman itu sudah umum seorang anak gadis dikawinkan. Jelaslah Ribka yang mampu memberi minum untuk 10 ekor unta tidaklah dapat dilakukan oleh seorang anak usia 3 tahun. Bila kita baca di Kejadian 27:46, kita akan membaca curahan hati Ribka kepada Ishak  mengenai Esau yang telah mengambil beberapa orang istri dari kaum Het, yang dikenal kafir: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?”   Syukur kepada Tuhan, dengan sigap Ishak segera merespons curahan hati Ribka: Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: “Janganlah mengambil isteri dari perempuan Kanaan. Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang isteri dari anak-anak Laban, saudara ibumu. …”  (Kejadian 28:1-2). Saudaraku, renungan bagi kita, sebagai orangtua, apakah kita memerhatikan kehidupan anak-anak kita dalam mencari pasangan hidup? Apakah kita biarkan anak-anak kita mencari calon pasangan hidup dari kalangan  orang yang di luar keselamatan Kristus? Bersediakah kita menjadi pendoa dan pemdamping bagi anak-anak kita dalam pergumulan mereka untuk mendapatkan pasangan hidup? Mari kita renungkan dengan hati dan pikiran yang bening nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ini: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6:14-15). (Surhert).