MERANGKUL PERBEDAAN
Saudaraku, orang Kristen hampir selalu diajarkan dan ditarik pada polarisasi antara dunia atau Tuhan, yang selalu beriringan bagaikan rel kereta api yang tak pernah bertemu. Maka setiap orang Kristen hampir selalu diperhadapkan pada pilihan kontras: Mau ikut Tuhan atau ikut dunia. Itukah yang diinginkan Yesus? Mari merenungkan Injil Yohanes 15:18-20. Kekhawatiran para murid yang merasa akan ditinggalkan mendorong Yesus untuk menjelaskan posisi mereka terhadap lingkungan mereka dimana posisi Yesus dan para pengikut-Nya akan berseberangan dengan dunia. Kata “dunia” mengarah kepada norma, nilai dan bahkan sudut pandang yang berlaku, juga tentang sistem pemerintahan yang sedang berlangsung. Yesus mengusung dan mengajarkan tentang Kerajaan Allah dimana para pemimpin adalah pelayan, dimana penghargaan tertinggi diberikan kepada yang melayani orang lain. Nilai-nilai ini berbeda dengan nilai yang dianut masyarakat pada umumnya, maka ketika menjadi pengikut Yesus otomatis juga menjadi agen Kerajaan Allah sehingga konsekuensi untuk menjadi berbeda harus ditanggung para murid Yesus. Namun perbedaan yang dinyatakan Yesus di ayat-ayat ini tidak berbicara tetang superioritas Kerajaan Allah dan merendahkan yang berbeda. Yesus justru memberikan gambaran tentang tantangan yang besar yang akan dihadapi para murid yaitu perbedaan nilai yang membuat mereka harus berhadapan dengan masyarakat dan pemerintah. Yesus meyakinkan bahwa hal itu memang akan dialami oleh para murid dan mereka tidak boleh takut karenanya. Ya, Injil Yohanes memang dituliskan untuk para jemaat yang menghadapi pengajaran sesat dan pemerintah yang kejam, maka ayat-ayat ini menjadi penguat untuk mereka tetap setia kepada Kristus. Alih-alih memandang rendah kepada dunia, justru para murid diajak untuk tetap menjadi warga Kerajaan Allah dan memahami situasi yang mereka hadapi tanpa menyalahkan siapa pun serta giat mengerjakan keselamatan yang dianugerahkan kepada mereka. Yesus justru menyuruh mereka harus menjadi garam dan terang dunia yang memengaruhi dunia dengan Kerajaan Allah (Matius 5:5-7). MERANGKUL DUNIA UNTUK KRISTUS dan bukan merendahkannya. Memang disadari bahwa umat Kerajaan Allah memiliki nilai yang berbeda, namun tugas mereka adalah memperkenalkan nilai yang mentranformasi dunia bukan untuk membanggakan superioritas sebagai umat pilihan. Sejarah membuktikan bahwa kolonialisme masa lalu yang mengusung 3G (gold, glory and gospel) justru berdampak fatal dan jauh dari nilai Kerajaan Allah serta menimbulkan luka yang mendalam. Maka sikap umat Tuhan seharusnya bukan bukanlah merasa superior dan jatuh dalam polarisasi kebenaran melainkan mengusahakan nilai itu terus dihidupi dan diberitakan dalam kondisi dan situasi apa pun. Saudaraku, mari TERUS SETIA dan MENGHIDUPI nilai Kerajaan Allah dengan memberitakan Kabar Baik bagi dunia dengan merangkul mereka untuk Kristus. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)
Akhir sesuatu lebih baik daripada awalnya. Meme Firman Hari Ini.
SI MAMON
Saudaraku, ini kelanjutan tentang kisah Dewa Uang, Si Mamon. Apakah jika seseorang sudah menyembah dan memuja Si Mamon agar mendapatkan banyak rezeki, maka apakah Mamon akan terbang turun dari langit untuk menyertai orang itu dalam bekerja agar mendapatkan banyak uang? Kita tidak pernah melihat hal ini. Hanya Si Mamon masuk ke dalam hati orang itu, dan orang itu akan lebih bersemangat dalam bekerja, tidak mengenal lelah dan upaya, pokoknya mesti mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dan mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang dirasa merugikan. Jadi setiap pengeluaran uang yang keluar dari dirinya mesti diperhitungkan, apakah ini sekadar keluar duit pemborosan, atau nanti dapat prospek dan imbalan yang besar. Bagi orang yang gemar memancing pasti paham, kalau pakai umpan yang hanya roti tawar ya dapat ikan kecil-kecil yang benar-benar kelaparan. Tapi kalau ingin mendapatkan ikan tuna, ya mesti melaut ke tempat yang dalam tempat banyak ikan tuna bergerombol, dan memakai umpan ikan cakalang atau cumi atau ikan tertentu lainnya yang punya warna cerah dan sedikit kilau untuk memancing ikan tuna datang. Nah ini kok sepertinya mirip-mirip dengan upaya mendapatkan proyek-proyek tertentu, ada yang mesti menabur uang di depan hingga 30% dari suatu proyek untuk mendapatkan order dari orang-orang dalam. Ini juga yang menyebabkan banyak barang yang dipasok jauh dari kualitas dan kuantitas yang ditentukan, seperti kita sering membaca berita tentang robohnya suatu bangunan atau jembatan karena material yang dipakai dikurangi kualitasnya karena tidak mampu menanggung beban berat dinamis yang timbul. Inilah kalau Si Mamon dari dalam hati yang memberikan motivasi, akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan proyek meskipun mesti menabur banyak uang di depan, dan proyek yang dipasok nanti dapat dikurangi kualitasnya, terutama untuk bagian-bagian yang tidak terlihat langsung, seperti kedalaman pondasi di dalam tanah dikurangi 20-40 cm, ukuran besi beton cor dikurangi 1-2 mm toh tidak kelihatan, pemakaian semen yang dikurangi, dan lain-lain. Aku pernah ikutan dalam panitia Pembangunan Gereja dan mencari saniter untuk dipakai. Datang ke seorang pemilik pabrik saniter ternama, menjelaskan bahwa produknya ingin dipakai di gereja. Surprise, owner ini memanggil sales managernya, dan mengatakan, ini khusus untuk gereja beri harga dari daftar harga lama dipotong 30%, sementara dalam daftar baru sudah naik 10% dan diskon hanya maksimal 17%. Lalu owner juga berpesan, gereja supaya diberi produk tipe terbaru, dan kalau ada customer mau lihat contohnya, supaya pergi datang melihat di gereja, sebab pemakai kamar mandi dan WC jumlahnya ratusan dan gereja sering kurang perawatan untuk kamar mandi, jadi customer bisa lihat produk kita dipakai secara asal-asalan tanpa perawatan, tapi tidak rusak dan tetap bagus. Aku ingat persis, ini di tahun 1989, dan hingga kini sudah 35 tahun, gereja tetap memakai produk saniter itu, tidak ada yang retak maupun rusak, juga warna tidak pudar meskipun timbul kerak karena kurang perawatan. Belakangan hari saya ketemu lagi sama si owner, sudah sepuh dia, saya bilang barang saniternya tetap bagus digunakan di gereja. Dia senyum, bilang, pabriknya tetap jaga kualitas sejak semula berdiri, cacat produksi meskipun hanya satu rambut tetap disortir supaya hasil akhir tetap bagus, karena dari satu rambut retak lama-lama akan menjadi satu milimeter dan crack lebih lebar lagi. Lebih jauh, waste atau barang yang disortir saat produksi bisa 70%-80% karena sering bahan baku material tidak stabil kualitasnya, juga panas pembakaran kalau tidak dijaga benar-benar akan naik turun dan ini mempengaruhi pembakaran. Nah, ini seperti bunyi Amsal 22:29: “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” Bagi pabriknya, karena bisa menghasilkan produk yang bagus dan cakep, harga jual bisa disegmen atas atau harga mahal, dan yang bisa membeli yang orang-orang yang berduit, termasuk kalangan raja-raja ya. Lalu ada seorang pemuda masih umur di bawah 35 tahun bisa menjadi wapresdir salah satu apps online terbesar, dan mamanya cerita bangga kalau anak sulungnya itu sekarang digaji Sin$ 25,000 per bulan dan dapat fasilitas apartemen 180 meter persegi. Dan cerita-cerita seperti ini masih banyak lagi saya lihat dan dengar di sepanjang usia saya yang sudah punjul 60 tahun, intinya orang yang cakap dalam pekerjaannya akan mendapatkan hasil yang lebih besar. Jadi Si Mamon punya saingan, yakni cakap dalam perkerjaan. Hati boleh dikuasai Si Mamon, tapi kalau orang itu tidak cakap, tidak trampil, tidak bijaksana, tidak tekun, ya motivasi dari Si Mamon tidak bermanfaat, karena akan menghasilkan sesuatu yang kualitasnya tidak baik. Mungkin masyarakat atau instansi mau membelinya, tapi hanya sekali atau dua kali, akhirnya merasa tertipu dan tidak memilih produk itu lagi. Jika Anda saat ini dapat tergolong sebagai orang yang cakap, supaya Si Mamon tidak masuk di hatimu dan menjadi penguasanya, sadarlah bahwa untuk mendapatkan kecakapan dan berkat itu karena adanya berkat dari Tuhan, yang dicurahkan setiap hari kepadamu, namun tidak kelihatan, seperti datangnya gajah yang besar tapi tidak nampak. Tuhan menguatkan perjuangan dalam pekerjaanmu, saat menghadapi kesukaran berdoalah, hanya berdoa ya, Tuhan pasti memberikan petunjuk jalan yang terbaik. Saudaraku, percayalah, seperti dituliskan di Amsal 22:4: “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Selamat menikmati berkat Tuhan ini. (Surhert).
When God Seems So Far Away
TERASA JAUH. Sahabat, terkadang kita merasa Tuhan TERASA JAUH dan menyembunyikan wajah-Nya bagi kita saat kita mengalami kesesakan dan pergumulan. Kita merasakan seolah-olah kita sendirian dalam menghadapi pergumulan hidup yang berat. Saat seperti itu sangatlah menyakitkan. Suatu ketika kalau kita dijauhi oleh seorang sahabat saja, kita sudah resah dan gelisah, apalagi Tuhan yang adalah Sang Pencipta dan pemberi hidup, menjauhi kita, PASTILAH TERASA SAKIT DAN MENYEDIHKAN. Ketika kita sedang bergulat dengan masalah atau kita sedang sakit yang serius, kita mulai bertanya: “Di manakah Tuhan?”. Mungkin beberapa dari kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kehidupan kita. Lalu, pertanyaannya adalah: Apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan terasa berjuta-juta mil jauhnya dari kita? Apakah bisa kita tetap sama menyembah Dia seperti ketika keadaan kita baik-baik saja? Justru masa-masa seperti itulah Tuhan pakai untuk mendewasakan hubungan kita dengan-Nya. Untuk membentuk karakter dan iman kita. Seperti halnya kita menjalin persahabatan dengan manusia yang sering diuji, persahabatan kita dengan Tuhan sering juga diuji oleh perpisahan dan kesunyian; kita dipisahkan oleh jarak fisik atau kita tidak dapat berbicara. Untuk mendewasakan hubungan kita, Tuhan akan mengujinya dengan apa yang tampaknya sebagai masa-masa perpisahan, masa dimana seolah-olah Ia telah meninggalkan atau melupakan kita. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “When God Seems So Far Away (Ketika Tuhan Terasa Begitu Jauh)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 10:1-18 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, Daud pun yang mempunyai hubungan persahabatan yang paling akrab dengan Tuhan, pernah mengalami keadaan yang demikian. Ayat 1 jelas mengatakan seruan dari Daud: “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” Apakah Tuhan sungguh-sungguh meninggalkan Daud? Tentu saja tidak benar-benar meninggalkan Daud, dan Ia juga tidak meninggalkan kita. Di dalam Ulangan 31:8 Ia berjanji: “Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati”. Ada saat-saat dimana Ia kelihatannya tidak ada dalam kehidupan kita. Hampir setiap orang percaya pernah mengalaminya setidaknya sekali, dan biasanya beberapa kali. Itu memang menyakitkan dan tidak nyaman rasanya, tetapi sangat penting untuk perkembangan iman kita. Jika kita masih seorang percaya yang baru, mungkin Tuhan memberikan kita banyak emosi yang meneguhkan dan sering mengabulkan doa-doa yang mementingkan keinginan diri sendiri dan tidak dewasa, supaya kita tahu bahwa Ia ada. tetapi ketika kita sudah tumbuh dalam iman, Ia akan menyapih kita dari ketergantungan tersebut. Sahabat, lalu pertanyaannya, bagaimanakah sikap kita dalam suatu krisis seperti itu? Bagaimana kita bisa terhubung dengan-Nya kembali? Bagaimana kita tetap mengarahkan mata kepada Yesus jika mata kita penuh air mata? Pertama, katakanlah kepada Tuhan apa yang kita rasakan. Curahkanlah isi hati kita kepada Tuhan secara jujur. Tuhan menyukai kita apa adanya. Jujur pada diri sendiri dan jujur pada setiap perasaan yang kita alami. Kalau kamu terluka, katakan terluka pada-Nya. Kalau kamu marah, katakan marah pada-Nya. Kejujuran yang Tuhan minta. Saya kadang melakukan itu. Jujur pada perasaanku sendiri kepada Tuhan. Tuhan dapat menangani keraguan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebingungan, dan pertanyaan-pertanyaan kita yang lain. Mengakui keputusasaan kita kepada Tuhan dapat menjadi suatu pernyataan iman kita. Mazmur 116:10 merupakan suatu pernyataan iman Daud: “Aku percaya, sekalipun aku berkata: Aku ini sangat tertindas”. Kedua, pusatkan perhatian pada Tuhan. Bagaimanapun situasi dan perasaan kita, berpeganglah pada sifat Tuhan yang tidak berubah. Ingatkanlah diri sendiri tentang kebenaran kekal Tuhan: Ia baik, Ia mengasihiku, Ia menyertaiku, Ia mengetahui apa yang sedang aku hadapi, Ia peduli, Ia memegang kendali, Ia mempunyai rencana atas hidupku. Sahabat, teruslah percaya kepada-Nya walaupun perasaanmu kacau, sembahlah Dia dengan cara yang paling dalam. Justru di dalam situasi yang tidak mengenakan, iman kita diuji. Biarlah Tuhan mendapati iman kita murni seperti emas. Bersyukur dan sembahlah Dia dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu, yakinlah dan percayalah bahwa TUHAN tidak pernah jauh dari kita di kala kita sedang dalam kesesakan tetapi Ia sedang menggendong kita untuk memulihkan, menyembuhkan, dan memenangkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Pernahkah Sahabat merasakan “Masa Keterpisahan Dengan Tuhan”? Bagikanlah secara singkat. Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janganlah iri kepada kemakmuran dan kenyamanan hidup orang fasik. (pg).
TUHAN adalah SETIA. Meme Firman Hari Ini.
MENJALIN RELASI YANG SEHAT DAN MENGUATKAN DI ERA DIGITAL
Saudaraku, marilah kita membaca dan merenungkan Efesus 4:2-3: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:” Pada zaman sekarang, di era digital, dunia terkoneksi dan terintegrasi secara menyeluruh selama 24 jam. Seluruh aktivitas di dunia ini berjalan selama 24 jam terkoneksi. Dari dunia usaha, media sosial, dan interaksi antar pribadi dapat dilakukan dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Akibatnya pola pikir, budaya, psikologi manusia mengalami perubahan. Menariknya dunia yang terkoneksi dan terintegrasi ini justru membuat hubungan antar manusia terasa makin jauh. Nilai-nilai kerendahan hati, kesabaran, kelemahlembutan, saling membantu, kesatuan Roh, dan damai sejahtera mulai langka dan asing dalam interaksi sehari-hari, baik secara online maupun offline. Hal ini dipengaruhi juga dengan kecerdasan sosial manusia yang menurun atau terdegradasi. Budaya yang tampak di era digital yaitu kecenderungan manusia hidup dalam high-speed. Simbol-simbol atau emoticon menjadi gaya bahasa sehari-hari dalam WA dan itu menjadi pesan singkat dan instan. Dalam IG, hitungan detik, manusia mendapat banyak informasi tentang berbagai hal: Makanan, Lokasi healing, kursus, dunia penghasil uang, informasi kegiatan Rohani suatu gereja, pesan moral, pesan motivasi, renungan singkat, dan sebagainya. Kita dipanggil oleh Allah untuk menjadi garam dan terang dunia. Bagaimana kita dapat menggarami dan menerangi bila kita terbawa kondisi arus zaman ini? Karena itu Efesus 4:2-3 menjadi pesan supaya kita menjadi orang-orang Kristen yang dapat menjalin relasi yang sehat dan menguatkan di era digital ini agar mampu menggarami dan menerangi dunia. Sikap-sikap yang perlu kita perhatikan dan kembangkan supaya dapat menjalin relasi yang sehat dan menguatkan di era digital, adalah: KERENDAHAN HATI adalah menjadi dasar atau pondasi dari setiap hubungan yang sehat. Kerendahan hati mengajarkan kita untuk melihat diri kita dengan jujur dan menghargai orang lain tanpa merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Namun di era digital ini, kita cenderung merasa iri dan cenderung membandingkan diri dengan orang lain secara tidak sehat. Kita terjebak dalam persaingan dan keinginan untuk tampil lebih baik dari orang lain. Kita perlu belajar kerendahan hati sebab sikap ini menjadikan kita melihat setiap orang memiliki keunikan dan kontribusi masing-masing. KELEMAHLEMBUTAN adalah bukan sikap yang lemah, tetapi kekuatan yang terkendali. Artinya kita dapat memberi respons dengan tenang dan bijak. Ada pendapat bahwa hanya 10% tentang kehidupan ini sedangkan 90% tentang bagaimana sikap kita terhadap kehidupan. Jadi kelemahlembutan sangat penting untuk membantu kita menghindari konflik yang tidak perlu dan menjaga hubungan tetap harmonis. Media sosial adalah media yang seringkali dipakai tanpa dengan “hati”. Komentar dan kritik dapat begitu tajam, sehingga kita sebagai orang Kristen harus dapat memberikan tanggapan yang positif dan membangun. Di era digital ini, kita lebih mudah kehilangan kesabaran. Ciri khas di era ini adalah terjadinya ekselerasi global. Hal yang terjadi adalah sulitnya masyarakat untuk dapat mensikronkan dengan berbagai ritme kehidupan. Stres dan penurunan metalitas menjadi efek samping dari desinkronisasi tersebut. Ketidaksabaran, keresahan dan kecemasan sangat tinggi. Padahal, firman Tuhan mengingatkan kita untuk sabar dalam segala hal. Kesabaran bukan hanya soal menunggu, tetapi jya soal merespons dengan tenang dalam situasi sulit. Era digital mempermudah segala sesuatu dengan kemajuan teknologi. Namun, interaksi sosial menjadi berkurang, kehilangan tenggang rasa antar sesama dan bahasa komunikasi langsung menjadi miskin sebab banyak melalui layar saja. Sifat individualisme tumbuh dan kecenderungan orang untuk makin mementingkan diri sendiri. Kasih menjadi inti ajaran Kristus menghadapi tantangan. Sikap saling membantu dan membangun kesatuan Roh tidak mudah diwujudkan. Paulus dalam surat di Efesus mendorong supaya pengikut Kristus kembali pada panggilan Tuhan untuk menghidupkan kasih. Tujuan akhir dari semuanya ini adalah bagaimana damai sejahtera Allah dapat dihadirkan oleh kita sebagai pengikut Kristus. Kita menghadirkan damai sejahtera Allah dalam relasi yang sehat dan saling menguatkan. Di zaman sekarang yang penuh destraksi dan tekanan ini, kita dipanggil untuk menjalin relasi yang sehat dan menguatkan. Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip melalui Efesus 4:2-3 ini, Mari kita menjalin relasi terhadap sesama dengan baik dan benar. Mari kita mewarnai zaman di era digital ini dalam terang firman Tuhan agar dunia tahu bahwa kita adalah anak-Nya dan murid-murid-Nya. Tuhan Yesus memberkati. (EBWR).
