Kesaksian

Perkenalkan nama saya Debora Maria Wijayanti. Anak-anak Panti Asuhan  Christopherus (PA Chp), ada memanggil saya Bu Maria, ada yang panggil Mami, dan ada yang panggil Bunda. Saya ingin berbagi cerita selama saya melayani di PA Chp. Saya senang memasak, menjahit dan pekerjaan tangan lainnya, selain itu latar belakang saya adalah seorang pendidik, dan saya pernah jadi guru SD di satu sekolah swasta. Pada tahun 2012, saya pernah berdoa kepada Tuhan, “Saya ingin melayani Tuhan dalam sisa hidup saya sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan.”. Ketika pertama kali saya ada di PA Chp, sepertinya saya sedang bermimpi, tidak percaya. Saya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan saya kok bisa ada di tempat ini?”. Saya mendengar Tuhan berbisik, “Inilah jawaban doamu dan di sinilah tempatmu melayani Aku”. Saya terkejut dan jadi teringat  apa yang pernah saya minta kepada Tuhan. Sebetulnya saya  sudah lama ikut melayani di Christopherus melalui Departemen Persekutuan Biji Sesawi (PBS) dari sekitar tahun 1998 sampai sekarang, tapi baru pada  tanggal 1 Juni 2014, Tuhan bawa saya untuk tinggal 24 jam bersama anak-anak PA Chp.  Tidak mudah bagi saya untuk melayani di PA Chp, karena saya terlebih dulu harus memberi pengertian kepada anak saya  (anak tunggal) dan mengingat usia saya yang sudah tidak lagi muda, saat ini sudah memasuki usia 60 tahun. Banyak suka duka yang saya rasakan selama melayani dan tinggal bersama anak-anak PA Chp. Membimbing anak-anak secara jasmani setiap hari untuk melakukan tugas belajar, mengajarkan anak-anak untuk dapat mandiri dan bertanggung jawab dengan piket kebersihan dan lain-lain. Juga membimbing anak-anak secara kerohanian setiap malam menjelang tidur dengan renungan Firman Tuhan. Selain itu  setiap hari Jumat sore ada persekutuan dengan hamba Tuhan. Setiap hari saya  ke pasar berbelanja, kemudian memasak dengan dibantu oleh teman-teman sepelayanan, layaknya memiliki keluarga besar, sebagai sosok ibu yang melakukan tugas sehari-hari. Pengalaman yang tak terlupakan yaitu waktu pertama kali yang saya  memandikan anak-anak TK sekaligus 3 orang anak dalam satu kamar mandi. Dimandikan bergantian, demikian pula gosok giginya. Hal tersebut saya lakukan karena sekolah mereka pagi hari, agar tidak telambat. Suatu ketika terjadi hal yang tak terduga, terjadinya menjelang fajar menyingsing sekitar pukul 00.30. Semua anak masih tertidur lelap dan saya kalau malam sering terbangun. Pada waktu itu saya di kamar mendengar suara pintu dipukul-pukul dan suara sayup minta tolong. Kemudian saya buka pintu kamar dan mencari arah suara tersebut, ternyata dari kamar mandi. Antara kamar mandi dan kamar saya letaknya berjauhan. Setelah saya ketuk-ketuk pintunya dari luar dan saya tanya siapa yang di dalam, ternyata anak dari Papua yang bernama Prince, dia terkunci dari dalam sudah lama dan tidak bisa keluar. Saya panggil Ayu yang malam itu tidur di panti, akhirnya dengan terpaksa pintu dibuka, dan keluarlah Prince, si hitam manis dengan ketakutan dan bekeringat. Kami berdua merasa kasihan dan geli melihat Prince. Kenapa harus dikunci malam-malam, kan tidak ada orang lain. Saya juga sering membuat kue donat dan anak-anak suka sekali. Pernah sekali ada anak kami yang ulang tahun, saya buatkan kue ulang tahun dari donat yang ditumpuk dan dihiasi dengan buah strawberry. Mereka senang menggoreng sendiri dan menghiasi  sesuai selera  masing-masing. Melihat anak-anak seperti itu, saya merasa senang karena dapat berbagi dengan mereka. Sering juga anak-anak bandel, tidak melakukan tugasnya dengan baik dan semaunya sendiri , membuat hati saya sedih. Kerinduan saya, supaya anak-anak PA Chp  tidak usah rendah diri dan malu, tetapi pakailah kesempatan yang Tuhan berikan, waktu yang disedia oleh Tuhan jangan disia-siakan untuk meraih masa depan. Saya merasa bangga, nyatanya tahun ini ada anak PA Chp yang bernama Karenina, mendapat penghargaan dengan meraih nilai UNBK tertinggi, jurusan IPS. (pg/sb) Catatan: Kesaksian ini disampaikan dalam perayaan HUT ke-40 Panti Asuhan Christopherus yang telah diselenggarakan pada tanggal 21 Juni 2019.

Kesaksian

Shalom! Perkenalkan nama saya Tan Agatha Endang Kumalaningrum, kebanyakan orang memanggil saya Ibu  Agatha dan anak-anak Panti Asuhan (PA) Christopherus (Chp) biasa memanggil saya Mami. Saya bersyukur kalau masih mendapatkan kesempatan untuk melayani di PA Chp sebagai wakil Koordinator Panti Asuhan.             Karena pada saat itu Pengurus PA Chp semuanya adalah laki-laki, maka saya diminta untuk dapat membantu Ibu Sri Subiyanti sebagai Pimpinan PA. Selain sebagai satu-satunya pengurus wanita di PA, saya juga masih bekerja menjabat sebagai staf di Pabrik Jelly. Ibu Yanti selaku pimpinan selalu menceritakan permasalahan yang terjadi di PA, dan tidak jarang setelah pulang bekerja, saya usahakan untuk datang ke PA untuk bertemu dengan beliau. Pada saat itu pengasuh PA masih berjumlah 2 orang yaitu, Ibu Edi Sat Hiendarti dan Suster Puryati.  Ada ibu Maria Sutopo sebagai juru masak dan Bapak Rudi juga Bapak Widodo sebagai sopir. Pengasuh bergilir untuk jaga pagi dan siang. Saat sore hari mereka akan bertemu bersama untuk mendampingi anak-anak belajar.  Banyak sekali suka duka yang saya alami selama menjadi Pengurus PA Chp dari tahun ke tahun, saya terus berusaha dan mencoba untuk dekat dan belajar  memahami karakter anak-anak dengan terjun langsung di dalam segala aktivitas & rutinitas ke PA. Tidak jarang banyak hal yang menyakitkan selama saya mendampingi anak-anak yang bermasalah tetapi karena kuasa, kasih dan hikmat yang dari Tuhan, saya dimampukan untuk dapat melewati dan menyelesaikannya satu persatu.  Saya juga membantu untuk mendampingi Ayu (Staf Tata Usaha) untuk menjalankan tugasnya, sehingga saya dapat memahami dan mengerti tugas serta pergumulan dari pengasuh dan karyawan. Saya sering bersama sama dengan Ayu pergi ke sekolah untuk melakukan konsultasi dengan wali kelas ataupun kepala sekolah, jika terjadi permasalahan dengan anak.  Karena saya menginginkan agar dapat terjalin hubungan serta kerja sama yang baik antara PA dan Sekolah anak-anak. Saya juga pernah ikut mendampingi Ayu untuk mengikuti rapat yang diadakan oleh Dinas Sosial, karena PA Chp masih dalam naungan Dinas Sosial kota Semarang. Tidak jarang saya pergi ke bank bersama Ayu untuk menerima dana bantuan yang diberikan Pemerintah untuk setiap Panti Asuhan, termasuk PA Chp. Selain itu saya bertugas mencari dan meminta bantuan pelayanan untuk  melayani Renungan Malam setiap hari Jumat pada pukul 19.00 WIB dan juga menyiapkan waktu untuk hadir.  Saya juga menghubungi hamba TUHAN untuk  menyampaikan Firman TUHAN dalam Kebaktian Bersama dengan Keluarga anak asuh,  anak-anak alumni serta pengurus PA Chp setiap Minggu ke-3 di Kapel Sechinah mulai pukul  10.00 -11.30 WIB. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, pada tahun 2017 saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan di Pabrik Jelly dan waktu saya sekarang murni saya pergunakan untuk mengabdi melayani keluarga, pelayanan di gereja dan PA.  Melihat anak-anak yang tumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan berprestasi adalah suatu hal yang sangat membanggakan. Saya semakin menyadari hidup itu adalah satu kesempatan. Kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama. Kiranya di dalam segala keterbatasan kemampuan saya, Tuhan Yesus-lah yang selalu memberi kekuatan baru dan memampukan saya  untuk melayani Dia dan hidup saya masih dapat berguna dan menjadi berkat dan berkenan di hati Bapa. Segala puji dan hormat hanya bagi Yesus yang telah menebus dosa kita. (pg/sb) Catatan: Kesaksian ini disampaikan dalam perayaan HUT ke-40 Panti Asuhan Christopherus yang telah diselenggarakan pada tanggal 21 Juni 2019.

Oh Indahnya Berbagi

Bacaan Alkitab: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (Amsal 11:25) Hari ini, Rabu, 01 Juli 2020 bertepatan dengan Hari Bayangkara ke-74, kita kado apa buat Polri kita? Mari kita ucapkan selamat dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada setiap polisi kita sebagai garda terdepan dalam mengamankan NKRI bergandengan tangan dengan TNI. Fasilitas apa di HUTnya yang ke-74 ini? Ada pelayanan SIM Gratis bagi yang lahirnya di tanggal 1 Juli, hanya membayar biaya kesehatan saja, baik bagi yang perpanjangan maupun SIM baru. Konon, danau Galilea dan Laut Mati di Palestina memiliki karakteristik yang berbeda. Di Danau Galilea hidup banyak ikan. Para nelayan biasa menangkap ikan di sana. Di sekitarnya hidup bermacam tumbuhan hijau dan subur. Kontras dengan Laut Mati. Air Laut Mati banyak mengandung garam, sehingga tak ada makhluk hidup yang mampu bertahan di sana. Daerah di sekelilingnya pun kering dan gersang. Mengapa bisa demikian? Rupanya begini, danau Galilea memperoleh air dari sungai-sungai kecil yang ada di sekitarnya, lalu mengalirkannya ke Sungai Yordan. Membuat tanah di sepanjang aliran antara danau itu dengan Sungai Yordan menjadi subur. Sebaliknya, Laut Mati memperoleh air dari Sungai Yordan, tetapi ia tidak mengalirkannya ke mana pun. Laut itu sama sekali tidak punya saluran keluar. Apakah hikmah dari keduanya? Oh Indahnya Berbagi. Berbagi itu menyehatkan. Bukan saja bagi orang yang menerima, melainkan juga bagi yang memberi. Maka, mari kita tidak memandang sepele berbagi berkat kepada yang lain, seolah-olah kita melulu yang berkorban. Tidak. Sebab pada saat kita memberi, saat itu juga sebetulnya kita menerima, walau pun mungkin dalam bentuk yang berbeda. Berkat yang kita tebar akan selalu berbunga dan berbuah. Sebaliknya, berkat yang kita simpan hanya untuk diri sendiri malah bisa membusuk. Contoh nyata berbagi 5 roti dan 2 ikan, kita menuai dengan sisa 12 bakul (Yohanes 6:1-13). Sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi penyalur berkat, seperti Danau Galilea; bukan menjadi penimbun berkat seperti Laut Mati. Dengan memberi kita mendapat, dengan menahan berkat kita justru akan kehilangan (Amsal 11:24) Hikmat hari ini: Di balik berkat yang kita terima, tersimpan tanggung jawab untuk berbagi dengan sesame. Selamat memasuki hari baru hari ini, Selamat ulang tahun Polri ke-74, Tetap semangat jadi berkat bagi NKRI di era New Normal Ini. Jesus Christ bless you (sp)

TUHAN, TOLONG JANGAN PAKAI LAMA YA

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sebagai anak-anak Tuhan semoga kita tetap berkeyakinan bahwa  janji Tuhan adalah ya dan amin!  Tidak ada janji yang tidak Tuhan tepati. Masalahnya saat ini dunia sedang menuntut serba cepat dan serba instan. Mungkin ada diantara kita kalau berdoa memberi catatan, “Tuhan, tolong jangan pakai lama ya.” Padahal  terkadang Tuhan  mengizinkan kita   mengalami proses penantian yang teramat panjang sampai janji tersebut digenapi di dalam hidup kita.  Banyak orang percaya tidak sabar dalam menantikan waktu Tuhan.  Mereka menyangka Tuhan telah meninggal mereka dan tidak mau menolong, “Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” (Mazmur 22:2b) Mereka seringkali bertindak secara tergesa-gesa, selalu ingin serba cepat dalam menyelesaikan masalah atau dalam mencapai keberhasilan.  Ketahuilah bahwa Tuhan bekerja sesuai dengan waktu-Nya sendiri, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya.  Banyak orang berpendapat bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan sehingga kita tidak sabar menanti-nantikan Tuhan.  Ketidaksabaran menunggu jawaban dari Tuhan inilah yang seringkali menjadi penyebab kegagalan kita mengalami penggenapan janji Tuhan.  Daud dalam mazmurnya menasihati,  “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”  (Mazmur 27:14).  Maka  ketika pertolongan Tuhan sepertinya berlambat-lambat kita pun menyerah di tengah jalan dan tidak lagi tekun berdoa.  Sesungguhnya berdoa itu membutuhkan konsistensi dari orang yang melakukannya.  Karena itu Tuhan Yesus menasihati kita agar berdoa dengan tidak jemu-jemu. Jangan mudah menyerah,  teruslah berdoa sampai apa yang kita doakan ada di depan mata. Saya yakin  Tuhan tidak berniat mengulur-ulur waktu, tetapi Ia tahu waktu yang tepat dan terbaik bagi kita.  Waktu Tuhan itu tidak pernah terlambat atau terlalu cepat,  “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” (Pengkotbah 3:11).  Selalu ada maksud dan tujuan Tuhan di balik penundaan-Nya:  Ia ingin menguji kesabaran kita, menguji ketekunan kita dan mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya.  Yang pasti janji Tuhan adalah ya dan amin!Ingatlah! Sabda Yesus, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”  (Lukas 18:7) dan “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan…”  (Yeremia 33:14). GBU & Fam. (pg)

Gedung Tempat Ibadah?

Bacaan Alkitab: ”Dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’ bagi kemiliaan Bapa Surgawi” (Filipi 2:11) Hari ini, Selasa, 30 Juni 2020 genap 6 bulan, setengah tahun kita memasuki tahun baru 2020, tentu sudah bukan baru lagi. Angka-angka statistik menunjukkan bahwa pandemi covid-19 belum mereda. Kita tetap prihatin memasuki era New Normal, bukan berarti kita kembali kepada normal sebelum ini, yakni boleh bebas berkumpul tanpa jaga jarak, tanpa pakai masker, tanpa terlebih dulu cuci tangan, bukan! Kita tetap hati-hati, waspada ketat dengan mengikuti protokol kesehatan pemerintah NKRI dan WHO. Di penghujung bulan Juni 2020 dini ini saya diberkati oleh pernyataan Muma, asal Modelomo-Boalemo-Gorontalo berkata: ”Tujuh tahun lebih saya menjadi santri di Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, saya santri saya Pancasila, saya menulis bukan karena saya pandai menulis, melainkan karena ada yang mesti saya sampaikan. Saya ingin memberi kepada bangsa ini dan berbagi dengan anak-anak negeri walau hanya dalam sebentuk tulisan. Hitung-hitung juga sebagai deposito amal untuk nanti setelah mati. Salam kenal buat semua.” Pada masa kini, ada kesan kuat bahwa tempat ibadah seolah-olah hanya tempat pertunjukan dan hiburan. “Pengunjung” datang dan pergi sesukanya demi mencari acara yang memuaskan selera. Jumlah hadirin dinilai sukses tidaknya tempat ibadah, sukses tidaknya pemimpin tempat ibadah. Atas perkenan TUHAN, Petrus mengaku bahwa Tuhan Yesus Kristuslah pendiri Gereja, Kepala Gereja, bukan dalam arti gedung, tetapi persekutuan dengan-Nya. Keberadaan gereja ditentukan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Sejarah gereja membuktikan bahwa oleh pertolongan Roh Kudus, pengakuan itu bertahan walaupun diterjang pelbagai badai berupa: tantangan, siksaan, penganiayaan, dipersulitnya pembangunan gereja dan pembantaian. Hanya oleh anugerah-Nta saja gereja justru makin berkembang. Betapa kita tidak bersyukur, masa pandemi covid-19 seperti ini gereja bukan dalam arti gedungnya, KKR-nya, jumlah hadirin dan kehebatan pemimpin gereja memukau, tetapi gereja rumah, persekutuan pribadi, lekat dengan-Nya sebagai Sang Empunya Gereja. Gereja bukan lagi: Gedung Tempat Ibadah! Hikmat hari ini: Gereja bukanlah gedungnya, melainkan orang-orangnya! Selamat memasuki  hari baru ini. Selamat mengakhiri bulan Juni 2020. Semangat mematuhi protokol kesehatan di Era New Normal Ini. Jesus Christ bless you (sp).

TUHAN YANG TAK TERBATAS

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Syukur kalau semalam kita boleh tidur nyenyak dan pagi ini kita boleh bangun dengan tubuh yang segar. Itu merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa bagi kita. Tidak selamanya kita bisa menikmati seperti apa yang kita bisa nikmati hari ini. Coba kita amati produk-produk makanan dan obat-obatan, hampir selalu dicantumkan kedaluwarsanya, batas waktu layak untuk dikonsumsi. Hampir semua barang mempunyai batas ketahanannya. Demikian juga dengan produl-produk elektronik dan produk-produk lainnya. Maka semua masa garansi barang juga atas batasnya. Tidak ada barang yang bisa kekal. Termasuk hidup manusia di dunia, ada batasnya. Daud berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;  sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Di dalam Pengkotbah 3:1-2 tertulis:  “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.  Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;” Di sini dapat disimpulkan bahwa untuk segala sesuatu ada masanya atau waktunya.  Ada waktu untuk membajak, mencangkul dan juga menabur.  Jadi tidak seluruh waktu harus digunakan untuk membajak, atau tidak seluruh waktu kita gunakan untuk menabur saja, sebab nantinya juga ada waktu untuk menuai. Pengalaman hidup saya bercerita   bahwa kehidupan ini seperti roda yang terus berputar, tidak selamanya kita berada di atas, kadangkala kita berada di bawah.  Ada saatnya seseorang berada di puncak karir, berhasil dan punya segalanya, tapi ada waktunya ia harus mengalami kegagalan dan harus merangkak dari bawah lagi.  Ada kalanya kita bersukacita karena hal-hal yang menyenangkan, tapi suatu waktu kita juga harus menangis, bersedih dan berduka karena mengalami masalah atau kesesakan.  Oleh karena itu Salomo menasihati,  “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”  (Amsal 27:1).  Tidak ada alasan bagi kita memegahkan diri dan sombong sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.  “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.”  (Pengkotbah 9:12). Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita pasti ada tujuannya. Tidak ada yang kebetulan. Semuanya pasti mendatangkan kebaikan.  Ia ingin membentuk dan memurnikan iman kita.  Ketika masa-masa sukar dan kelam terjadi, jangan mengeluh, percayalah bahwa kita tidak sendirian, Tuhan ada bersama kita:  menuntun, menyertai, bahkan akan menggendong kita  (baca Yesaya 46:4). Ingatlah! Tuhan layak dan berhak untuk mendapatkan tempat yang tertinggi, terutama, dan teristimewa dalam hidup kita, mengingat hanya Dia yang tak terbatas. Karena itu takutlah akan Tuhan dan akuilah Dia sebagai segala-galanya.  GBU & Fam. (pg).

Bersyukur Saat Bisa Menderita

Bacaan Alkitab: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang ENGKAU, tetapi sekarang mataku sendiri memandang ENGKAU.” (Ayub 42:5) Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa hari ini, Sabtu, 26 Juni adalah ”Hari Anti Narkotika Internasional” Kalau merokok saja bisa membunuhmu, demikian kata iklan, terlebih narkotika! Demi generasi penerus, marilah kita ikut memberikan dorongan dan keteladanan supaya anak-anak pewaris kita jauh dari rokok terlebih narkotika. Lebih baik kita menderita untuk memberikan teladan daripada tidak melakukan apa-apa di satu hari ini saja, Kita menderita untuk tidak merokok, Esok adalah hari ini lainnya. Bersyukur saat kita bisa menderita. Banyak dari kita mungkin sering mendengar ungkapan ini: “Mengapa ia bisa mengalami hal itu? Padahal ia orang baik. Kasihan, ya?” Orang cenderung berpikir bahwa tidak adil bila ada orang baik yang hidup menderita. Ibarat orang tak bersalah yang harus menerima hukuman. Orang berpikir bahwa hidup orang baik itu selalu diberkati Tuhan. Atau, bila ia harus mengalami kesulitan, TUHAN akan segera menolong. Alkitab Firman Tuhan mencatat bahwa Ayub adalah orang saleh, yang bahkan dipuji oleh TUHAN sendiri (Ayub 1:1). Namun, Ayub harus mengalami penderitaan yang datang bertubi-tubi. Dari yang awalnya kaya raya jatuh miskin; dari sehat jatuh sakit. Semua anaknya tewas dalam sebuah kejadian. Istri serta teman-temannya meninggalkan Ayub. Apa salah Ayub? Tidak, Ayub tidak bersalah. Lalu mengapa ia mengalami penderitaan yang begitu berat, hebat, dahsyat? Karena TUHAN ingin mengajar Ayub tentang siapa diri-Nya. Melalui penderitaan, TUHAN ingin Ayub mengenal DIA lebih dalam. Dan inilah yang diakui Ayub pada akhir cerita tentangnya. Pengenalan Ayub akan TUHAN menjadi lengkap saat ia berkata: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5). Penderitaan bukan dari TUHAN (Kejadian 1:31), tetapi kerap kali TUHAN mengizinkan hal itu supaya kita dapat memetik hikmah dari penderitaan; baik itu hikmah mengenai kekudusan, pertobatan, ataupun mengenai TUHAN sendiri. Jadi, ”daripada menangis dan mengeluh, saat kita menderita, mari temukan apa yang hendak Tuhan ajarkan lewat penderitaan kita”. Hikmat hari ini: ”TUHAN kerap kali mengizinkan hujan lebat terjadi, supaya kita dapat melihat indahnya pelangi” Selamat berakhir pekan. Hati yang lekat dengan Tuhan Yesus Kristus, Mulut dan Wajah memancarkan indahnya kehidupan. Jesus Christ bless you (sp).

TIDAK TERGONCANGKAN

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga hari ini kita masih bisa menikmati damai sejahtera walau saat ini situasi di sekelilling kita masih menakutkan dan mengkhawatirkan, sebab kita punya Tuhan, Sang Raja Damai. Seorang teman berbagi melalui WA. Sudah hampir 2 bulan,  ia merasa damai sejahteranya direnggut oleh Pandemi Covid-19. Ia merasa sangat terguncang. Ia merasa sangat tertekan. Sampai ia minta izin keluar dari hampir semua grup WA yang ia ikuti karena ia merasa di grup  WA terus menerus dibombardir oleh berita seputar pandemi Covid-19.   Pelajaran berharga apa yang kita dapatkan dari kasus yang dialami oleh teman saya tersebut?   Pandemi Covid – 19 benar-benar memporak-porandakan dan menggoncang dunia.   Dalam situasi seperti saat ini wajar bila ada cukup banyak orang menjadi tergoncang karena dihinggapi oleh rasa takut dan khawatir.  Banyak orang yang depresi. Namun sebagai orang percaya kita tak perlu larut dalam ketakutan dan kekhawatiran yang berkepanjangan, sebab Alkitab menegaskan bahwa orang percaya menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”  (Ibrani 12:28)   Oleh karena itu agar tidak tergoncang di tengah goncangan, kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai fondasi hidup!  “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?”  (Ibrani 12:25).  Ini sama seperti seorang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu, ketika goncangan terjadi rumah itu tidak goyah dan tetap tegak berdiri  (Lukas 6:47-48). Kita akan mudah tergoncang bila dalam segala hal kita mengandalkan kekuatan sendiri.  Alkitab mengajarkan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya.  Karena itu jangan terpaku pada masalah atau situasi, carilah Tuhan, Sang Penolong,  “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  (Mazmur 121:1-2). Saudara, bersukacitalah senantiasa! Jagalah supaya hati kita lita tetap bersukacita dan jangan sampai segala hal yang menakutkan dan mengkhawatirkan  menggoncangkan hidup kita.  Ingatlah! “Biar pun gunung beranjak dan bukit bergoyang, tapi kasih setia Tuhan takkan beranjak dari hidup orang percaya.”  (Yesaya 54:10).  GBU & Fam. (pg)

BAGIAN DARI KEHIDUPAN MANUSIA

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga pagi ini kita tetap bersukacita karena kita yakin bahwa Tuhan kita jauh lebih besar daripada masalah dan pergumulan kita. Saya ingat dalam filosofi Jawa ada sebuah ungkapan,  “Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang artinya kurang lebih:  “Hakikat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan”. Kita sering terjebak ketika kita melihat kehidupan tetangga atau teman kita dari luar atau dari jauh, kehidupan keluarga mereka Nampak begitu bahagia, harmonis, seolah-olah mereka tidak mempunyai masalah, pergumulan, dan beban hidup. Sebaliknya mereka juga melihat kehidupan keluarga kita seperti itu. Sesungguhnya setiap keluarga pasti mempunyai masalah,  pergumulan dan beban hidup. Memang masalah, pergumulan, dan beban hidup setiap keluarga itu berbeda, tapi tidak ada satu keluarga pun yang imun dari permasalahan tersebut.  Itu adalah bagian dari kehidupan manusia.  Musa berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Hal-hal tak terprediksi, tak disangka, tak diduga, peristiwa atau kejadian yang tak pernah diharapkan bisa saja menimpa seperti pandemi, sakit penyakit, bencana, kecelakaan, kegagalan, kebangkrutan, dan bahkan kematian.  Inilah realitas hidup manusia yang tak bisa dimungkiri. Sebagai manusia seharusnya kita menyadari betapa terbatasnya kekuatan dan kemampuan kita.  Seharusnya pula kita bersikap rendah hati di hadapan Tuhan.  Orang-orang yang rendah hati selalu merasa miskin di hadapan Tuhan karena kekuatannya terbatas.  Ada tertulis:  “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”  (Matius 5:3).  Jika menyadari betapa terbatas kekuatan kita seharusnya kita merasa sangat membutuhkan Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya.  Orang yang berserah kepada Tuhan secara benar pasti berusaha agar hidupnya selaras dengan kehendak-Nya.  Jadi hidup berserah kepada Tuhan itu tidak dapat dipisahkan dari hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Pemazmur menasihati,  “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”  (Mazmur 55:23).  Seburuk bagaimana pun keadaan, asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita akan mampu tetap bersukacita.  Ketika kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan kita berpotensi beroleh kekuatan adikodrati sehingga kita dapat berkata seperti rasul Paulus berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13). Berserah kepada Tuhan bukan berarti bersikap pasif dan menjadi malas.  Berserah kepada Tuhan artinya membawa segala pergumulan yang kita khawatirkan kepada Tuhan dengan penuh penyerahan. Ingatlah! Berserah kepada Tuhan berarti kita memercayai Dia sebagai Pribadi yang Mahasanggup, yang kuasa-Nya jauh lebih besar dari masalah kita! GBU & Fam. (pg).