JARAK 37-40 KM
Saudaraku, di kitab Yohanes 4:46-52 ada sebuah cerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan anak seorang pegawai istana, yang tidak dicatat namanya, hanya saja si pegawai ini rumahnya ada di Kapernaum, dan dia datang ke tempat Yesus yang ada di Kana, Galilea. Jadi kisah ini berjarak dua kota yang disebutkan, yakni Kapernaum dan Kana di Galilea. Hari ini ada Google Maps, dan kita bisa mengetahui jaraknya, oh ternyata sekitar 37-40 km, karena kita tidak mengetahui lokasi rumah si pegawai hingga tempat Yesus di Kana. Ceritanya si pegawai istana di Kapernaum memiliki anak kesayangan yang sakit dan kondisinya semakin parah, jadi dia selalu mencari tabib atau dokter zaman itu yang bisa mengobati, hingga dia mendengar kabar tentang Yesus yang melakukan mukjizat kesembuhan. Karenanya dia ingin sekali menemui Yesus mohon pertolongan bagi anaknya. Ternyata Yesus ada di Kana, yang jaraknya 37-40 km dari rumahnya. Pergi ke Kana, naik apa? Zaman itu, masa Kerajaan Romawi, belum ada motor, mobil ataupun sepeda, apalagi taksi. Naik kuda, oh itu larangan, karena kuda dipakai oleh tentara, sedangkan rakyat bolehnya naik keledai atau kereta yang ditarik lembu, kecepatannya hanya sekitar 6-9 km per jam, jadi untuk jarak 40 km perlu 5-7 jam, apalagi jika mesti berjalan kaki, dari Kapernaum ke Kana di Galilea bisa mencapai 12-14 jam! Bahkan mungkin ada keraguan selama perjalanan, apakah Yesus masih ada di Kana atau sudah pergi ke kota lain, jadi mesti disusul lebih jauh lagi. Setelah berjumpa Yesus, dia mengutarakan keinginannya supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Tapi kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Untuk kedua kalinya Yesus berkata: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Dan ketika si pegawai istana itu masih di tengah perjalanan pulang, hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Jadi untuk pergi dari Kapernaum ke Kana perlu waktu hampir 1 hari, berjumpa Yesus hanya singkat, mungkin kurang dari 30 menit, dan ketika balik mau pulang mungkin sudah malam gelap dan perlu menginap karena di sepanjang jalan pasti tidak ada lampu jalan, dan esok pagi-pagi dia mesti melanjutkan perjalanan pulang. Hamba-hambanya memberitahu, kemarin siang pukul satu anaknya sembuh, bertepatan dia disuruh pergi oleh Yesus. Nah, balik lagi ke jarak Kapernaum ke Kana yang 37-40 km. Ternyata jarak ini di Google Maps identik dengan jarak dari GKMI Kudus di Panjunan Kudus hingga GKMI Jepara. Bayangkan, bila daerah Panjunan Kudus itu kita anggap sebagai Kapernaum, maka si pegawai istana mesti berjalan kaki atau naik keledai atau naik kereta ditarik lembu ke Jepara yang kita anggap sebagai Kana. Zaman sekarang, saat transportasi demikian mudah, adakah orang seperti si pegawai istana yang mau menempuh jarak 37-40 km untuk menjumpai Tuhan Yesus di gereja? Saat ini lebih banyak orang yang mencari gereja yang dekat-dekat dengan rumah, agar berangkat dari rumah tidak butuh waktu lama, padahal yang terjadi karena bangunnya lebih siang jadi berangkatnya tidak perlu pagi-pagi. Itu pun ternyata banyak yang datangnya terlambat ke gereja. Saudaraku, jarak 37-40 km bagi si pegawai istana bukanlah jarak yang jauh, karena dia ingin sekali menjumpai Yesus, meskipun berjumpa hanya sebentar, hatinya lega dan dia percaya bahwa anaknya akan disembuhkan, maka dia pergi untuk pulang ke rumahnya. Nah, bagi diri kita, jarak 37-40 km untuk datang ke gereja, mungkin benar jarak yang jauh, tapi akan dirasa semakin jauh dan berat bila tujuan ke gereja itu tidak ada dalam keinginan hati kita. Pokoknya bisa sampai ke gereja sudah cukup, duduk dengar sebentar, kenapa gereja tidak bisa liturgi ibadahnya cukup satu jam saja atau bisa lebih singkat lagi? Jadi, jarak 37-40 km bukan sekadar jarak, tapi apakah di hati kita masih merindukan untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus di gereja-Nya? Saudaraku, cerita di Injil Yohanes 5: 46-52 menunjukkan niat yang teguh ingin berjumpa Yesus, dan benar-benar melakukan tindakan yang nyata, mesti harus berjalan jauh, a long way, entah berapa jam, entah berapa hari, POKOKNYA MESTI BERTEMU YESUS. (Surhert).
STEFANUS TAK PERNAH MUNDUR
Saudaraku, nama Stefanus hanya tercatat di bagian awal dalam Kitab Kisah Para Rasul, namun dampak dari kehidupannya mengubah peta sejarah Kristen awal secara drastis. Mari kita renungkan Kisah Para Rasul 6. Dikisahkan waktu itu terjadi kesenjangan perhatian terhadap para janda Yahudi yang berbahasa Ibrani dan Yunani, maka para rasul menunjuk tujuh orang diakon yang mengurus keperluan itu. Ada tujuh nama laki-laki yang dituliskan dan menariknya adalah ada catatan khusus untuk seorang diakon yang bernama Stefanus. Khusus Stefanus ada tambahan catatan: Seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Ayat 5), padahal untuk menyeleksi para diakon ini dimunculkan beberapa kriteria : Dikenal baik, penuh Roh dan hikmat (Ayat 3). Kesungguhan iman Stefanus teruji saat ternyata ia sanggup untuk berdiskusi dengan jemaat Libertini, sebuah kelompok agama yang dibentuk oleh orang Yahudi mantan budak kekaisaran Romawi. Stefanus mampu mempertanggung jawabkan iman percayanya sehingga orang-orang Libertini merasa ‘kalah’ dan memakai cara kotor untuk memfitnahnya (Ayat 9-11). Stefanus mengejawantahkan iman dengan tidak mundur walau ia ditekan oleh keadaan. Di Zaman yang makin cepat, sibuk dengan situasi politik Indonesia yang nampak “stabil” membuat orang percaya merasa berada di zona nyaman yang membuat orang percaya terlena untuk mengabaikan kebutuhan memperlengkapi diri dengan pemahaman Firman yang dalam dan bahkan enggan terlibat dengan tantangan rohani. Banyak yang berpikir bahwa menyambut panggilan Tuhan menjadi pengikut Kristus saja sudahlah cukup, padahal Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Kolose : Saudara-saudara sudah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan. Sebab itu hendaklah kalian hidup bersatu dengan Dia, dan berakar di dalam Dia. Hendaklah kalian membangun hidupmu dengan Kristus sebagai dasarnya. Hendaklah kalian makin percaya kepada Kristus, menurut apa yang sudah diajarkan kepadamu. Dan hendaklah hatimu meluap-luap dengan ucapan terima kasih. (Kolose 2:6-7, BIS). Perjuangan orang percaya tidak hanya sampai di tahap menerima Kristus namun harus terus berakar, bertumbuh dan berbuah. Mari belajar bertumbuh secara rohani, makin mantap dari hari ke hari sehingga tugas mengabarkan kabar baik terus dapat dilaksanakan dengan berani apa pun tantangan yang dihadapi. JANGAN TERLENA DENGAN ZONA ZAMAN. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)
Bukan Hanya Berlari, Tapi Menuntaskan!
Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan: 2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” Hidup sebagai orang beriman adalah perjalanan panjang, kita dipanggil bukan hanya untuk memulai, tetapi menuntaskan panggilan hidup dengan setia. Layaknya seorang atlet yang berlari di lintasan, kita diundang untuk mencapai garis akhir, meskipun perjalanan penuh tantangan. Di tengah lintasan ini, sering kali kita menemui situasi seperti memakan “buah simalakama”, pilihan-pilihan sulit yang keduanya tampak penuh konsekuensi. Mungkin kita pernah merasa berada di persimpangan, dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak ideal, tetapi harus tetap memilih. Seperti memilih antara pekerjaan stabil yang menguras hati, atau mengejar panggilan yang penuh ketidakpastian. Situasi “buah simalakama” ini menghadirkan konsekuensi di setiap pilihan dan menguji iman kita. Di saat seperti inilah kita bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau inginkan?” Terkadang, jawaban tidak langsung muncul, membuat kita terjebak dalam keraguan atau kecemasan. Namun, hidup beriman adalah berani menyelesaikan pertandingan, bahkan di tengah pilihan sulit. Paulus dalam 2 Timotius 4:7 berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” Ini adalah suara ketenangan dari seseorang yang telah menyelesaikan lintasannya, bukan karena semuanya berjalan mulus, melainkan karena ia setia pada panggilan Tuhan. Paulus menghadapi berbagai pilihan serupa dengan “buah simalakama” sepanjang pelayanannya, sering kali harus memilih antara keselamatan diri atau setia pada misi yang berisiko. Namun, ia tetap berpegang pada iman, meskipun banyak yang dipertaruhkan. Ini menginspirasi kita untuk terus setia dan menuntaskan pertandingan hidup dengan penuh keyakinan. Bagi kita, menyelesaikan hidup dengan baik berarti BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN yang sesuai dengan kebenaran Kristus, meskipun itu sulit. Ketika dihadapkan pada pilihan sulit, yang utama bukanlah mencari jalan termudah, tetapi jalan yang paling mendekati kehendak dan kasih-Nya. Misalnya, ketika kita memilih untuk mengampuni meski sakit hati, atau memilih jujur meski berisiko, kita sedang berusaha menyelesaikan pertandingan iman dengan ketulusan dan keteguhan. Kita tidak hanya berlari; kita belajar menyelesaikan lintasan dengan komitmen pada nilai-nilai Tuhan. Dalam setiap musim kehidupan, kita menghadapi “garis finis” yang berbeda. Di masa muda, kita mungkin diuji dalam mempertahankan integritas di pergaulan atau tetap setia kepada kebenaran di tengah tawaran kesenangan. Bagi yang berkeluarga, kita mungkin sering bertemu “buah simalakama” dalam membesarkan anak, antara tegas atau longgar, antara bekerja keras atau menyediakan lebih banyak waktu. Meski berat, setiap keputusan yang kita buat untuk menuntaskan pertandingan adalah langkah menuju garis akhir yang telah Tuhan tetapkan. Kita tidak dipanggil untuk menyelesaikan pertandingan ini sendirian. Dalam setiap keraguan atau pilihan yang membingungkan, kita bisa mendekatkan diri pada komunitas iman, sahabat seiman, mentor, atau pemimpin rohani yang bisa membantu memberi pandangan dan dukungan. Pendampingan serta doa dari mereka membantu kita lebih kuat menghadapi situasi-situasi “buah simalakama,” ketika semua terlihat samar. Saudaraku, aada akhirnya, menyelesaikan pertandingan bukanlah soal hasil gemilang, tetapi soal ketenangan dalam hati, bahwa kita telah hidup menurut kehendak-Nya. Di akhir perjalanan hidup kita, damai yang kita rasakan bukan dari pencapaian duniawi, melainkan karena kita telah memilih setia dan jujur pada panggilan-Nya. Biarlah kelak kita dapat berkata seperti Paulus, bahwa kita telah menyelesaikan pertandingan yang baik, mencapai garis akhir, dan memelihara iman kita dengan teguh. Kiranya Tuhan memberi kebijaksanaan dan keberanian untuk menuntaskan panggilan hidup dengan setia, bahkan ketika dihadapkan pada “buah simalakama.” (EBWR)
Aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Meme Firman Hari Ini.
Hendaklah kamu menjadi PELAKU FIRMAN. Meme Firman Hari Ini.
Berdoalah bagi mereka yang berbuat jahat terhadap kamu. Meme Firman Hari Ini
Kasih Gembala yang Baik
GEMBALA DOMBA. Dari Media Online Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) saya mendapatkan informasi bahwa domba merupakan salah satu bagian sentral dari ekonomi Israel sejak awal sekali (Kejadian 4:2). Beberapa tokoh di dalam Alkitab seperti Abraham, Ishak, Musa, Daud dan Amos adalah seorang gembala (Kejadian 12:16; 26:14; Keluaran 3:1; 2 Samuel 7:8; Amos 1:1). Gembala dalam arti harfiah pada zaman dulu dan sekarang, mengemban panggilan tugas yang banyak tuntutannya. Gembala harus mencari rumput dan air di daerah yang kering dan berbatu-batu (Mazmur 23:2), harus melindungi kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas (Amos 3:12), harus mencari dan membawa kembali setiap domba yang tersesat (Yehezkiel 34:8; Matius 18:12). Jika tugas-tugasnya mengharuskan dia jauh dari perkemahan gembala, segala kebutuhan utamanya ia bawa dalam suatu kantung (1 Samuel 17:40, 49), dan kemah menjadi penginapannya (Kidung Agung. 1:8). Gembala juga menggunakan anjing sebagai pembantunya seperti gembala modern (Ayub 30:1). Alat utama gembala adalah GADA (untuk mengusir binatang buas dan liar) dan TONGKAT panjang yang ujungnya melengkung (untuk membimbing atau menyelamatkan domba), dan juga UMBAN untuk melontarkan batu ke binatang liar yang menyerang (1 Samuel 17:34-37). Mari kita membaca dan merenungkan Yehezkiel 34:1-31 dengan berfokus pada ayat 31. Sahabat, andaikan kita menjadi gembala dan suatu saat kita harus diperhadapkan dengan suatu pilihan yang berat: Melindungi domba kita dari binatang buas tapi kita harus mati, atau kita membiarkan domba itu mati asal kita selamat, mana yang kita pilih? Mari kita jujur saja sebagai manusia kita pasti memilih menyelamatkan diri sendiri daripada harus berkorban nyawa hanya demi domba-domba kita. Gembala upahan pun melakukan hal yang sama: “… ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” (Yohanes 10:12).Sahabat, hampir semua orang pasti tidak mau mati demi seekor domba, karena nyawa domba itu tidak sebanding dengan nyawa manusia. Tetapi Tuhan Yesus justru datang dengan tujuan mati untuk domba-domba-Nya. Kalau manusia saja tidak pantas mati bagi domba, maka sangat tidak layak Raja di atas raja mau mati bagi manusia; namun Tuhan Yesus melakukan hal yang tidak lazim itu. Itulah yang disebut anugerah. Melalui perumpamaan dalam Lukas 15:1-7 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Dia, Allah, rela turun dari surga untuk mencari domba yang hilang, walaupun hanya seekor saja yang hilang, padahal ia masih punya sembilan puluh sembilan ekor yang lain. Apalah artinya seekor dibanding dengan sembilan puluh sembilan ekor?Satu domba yang tersesat adalah gambaran dari manusia yang berdosa dan tersesat. Orang lain mungkin melupakan atau membuang kita, tetapi Tuhan tetap peduli; Ia mencari dan menyelamatkan kita walau kita sebenarnya adalah orang-orang yang tidak layak dicari, bahkan sebaliknya layak dibuang. Namun kasih Tuhan begitu besar, bahkan Dia rela menderita dan mati di kayu salib. Sahabat, hal ini membuktikan bahwa Dia adalah GEMBALA yang BAIK. Tidak hanya itu, Dia menuntun domba-dombanya masuk ke kandang dan membawanya ke padang rumput hijau dengan tongkat dan gadanya. Dia pun mengenal kita secara pribadi, seperti tertulis: “… Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” (Yohanes 10:14). Ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, penuh cinta kasih. Bukan sekadar mengenal, tapi Dia tahu segala penderitaan dan pergumulan kita. Dia Gembala Yang Baik yang mengasihi kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan Yesus adalah Gembala kita yang sejati, yang betul-betul mengenal kita. (pg).
Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus Yesus ada di dalam dirimu? Meme Firman Hari Ini.
God is the Relief Provider
PUTUS ASA. Sahabat, karena tekanan hidup yang kian berat dan permasalahan yang dialami, maka cukup banyak orang menjadi putus asa dan frustasi. Mengapa bisa terjadi?Rasa putus asa muncul ketika seseorang mengalami jalan buntu. Celah inilah yang digunakan Iblis untuk menanamkan rasa putus asa dalam diri seseorang, sehingga dalam dirinya timbul rasa mengasihani diri sendiri (self pity) dan merasa sudah tidak ada pertolongan lagi. Kita tidak lagi mengarahkan pandangan kepada Tuhan dan mulai meragukan kuasa-Nya. Dengan kata lain kita putus asa dan menjadi tawar hati, merasa bahwa Tuhan tidak sanggup melakukan perkara besar dalam kehidupan kita. Sesungguhnya rasa putus asa bukanlah karakter anak-anak Tuhan! Kita adalah lebih dari pemenang karena Tuhan selalu ada di pihak orang percaya. Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, jangan putus asa, serahkan semuanya kepada Tuhan. Jangan buang waktu dan tenaga pada hal-hal yang membuat kita putus asa dan lemah. Mari kita lebih lagi melekat kepada Tuhan. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God is the Relief Provider (Tuhan adalah Pemberi Kelegaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 43:1-5. Sahabat, tahukah bahwa tingkat stres manusia ternyata ada skalanya? Menurut acuan Skala Stres Holmes dan Rahe, kematian pasangan menempati angka tertinggi, yakni 100, terhadap stres yang dialami oleh seseorang. Sementara, perceraian, kematian keluarga dekat, dan pemecatan (PHK) mendapat nilai masing-masing 73, 63, dan 47. Dalam waktu berdekatan, ambang batas maksimal jiwa seseorang dinilai masih mampu menangani stres sampai angka 300. Skala stres 300 disebut dapat berisiko tinggi membuat seseorang sakit, bahkan mengalami goncangan jiwa.Pemazmur juga pernah mengalami tekanan dalam hidupnya. Kejaran orang-orang yang tidak menyukai hingga kejaran para musuh membuat jiwanya tertekan dan gelisah. Namun, Pemazmur tidak mengizinkan jiwanya mengalami tekanan dan gelisah terus-menerus. Ia memahami bahwa Allah ada di pihaknya, yang akan menolong dan melepaskan dirinya dari setiap kesesakan yang mengimpit jiwanya. Suatu kunci ketenangan jiwa yang juga dapat kita alami, karena Allah, Sang Pemberi Damai Sejahtera itu ada dalam hidup kita. Meski kita juga perlu belajar mengelola stres dan sedapat mungkin menghindari penyebab stres.Sahabat, namun, kita menyadari bahwa tak mungkin kehidupan ini sepenuhnya berlangsung tanpa ada tekanan, masalah, atau pergumulan hidup. Tindakan pencegahan mungkin sudah kita lakukan, tetapi tetap jiwa kita dapat mengalami tekanan karena masalah kehidupan. Namun setidaknya, hari ini kita mengerti cara merespons stres dengan tepat, yakni datang kepada Allah dan berharap akan pertolongan-Nya. Ketika tekanan melanda jiwa, hanya Allah yang dapat memberi kelegaan. Tuhan adalah pemberi kelegaan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita penuhi hati kita dengan kepercayaan akan janji Firman TUHAN yang merpakan kepastian jawaban dan dasar kebenaran bahwa TUHAN sanggup menolong dan melakukan mukjizat bagi kita. (pg).
