Tautan yang Tak Terputus

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan  Yohanes 15:5. Pernahkah Saudara kehilangan sinyal internet di saat yang paling krusial? Bayangkan,Saudara sedang mengikuti rapat penting, memesan transportasi online, atau mencari informasi mendesak, dan tiba-tiba koneksi terputus. Rasa frustrasi yang muncul terasa begitu nyata. Di dunia modern ini, sinyal internet menjadi penghubung vital yang memungkinkan banyak hal berjalan. Tanpanya, perangkat paling canggih pun menjadi tak berguna. Kehilangan sinyal ini mengingatkan kita pada kehidupan rohani. Relasi kita dengan Tuhan sering kali seperti jaringan internet: Ada kalanya stabil, namun ada pula saat-saat di mana koneksi terasa lemah atau bahkan terputus. Yesus menggambarkan hubungan ini melalui perumpamaan pokok anggur dan ranting dalam Yohanes 15:5: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yesus adalah pokok anggur, sumber kehidupan sejati. Seperti ranting yang hanya bisa hidup dan berbuah jika tetap terhubung dengan pokoknya, kita membutuhkan hubungan yang erat dengan Tuhan agar hidup kita berbuah. Namun, tidak jarang kita seperti ranting yang ingin hidup sendiri, mencoba melepaskan diri dari pokoknya dengan berbagai alasan: Kesibukan, kelelahan, atau merasa cukup mampu mengandalkan kekuatan sendiri. Akibatnya, kita mulai merasakan kekeringan rohani. Ketika “sinyal” dengan Tuhan melemah, gejalanya segera terasa. Kehidupan doa mulai terasa hambar, ibadah menjadi sekadar rutinitas, dan membaca Firman Tuhan kehilangan daya tariknya. Keputusan-keputusan besar diambil tanpa meminta hikmat dari Tuhan, sering kali berujung pada kebingungan dan kekeliruan. Tidak hanya itu, BUAH-BUAH ROHANI  yang seharusnya menjadi ciri khas hidup orang percaya: Kasih, sukacita, damai sejahtera, perlahan MEMUDAR. Kita menjadi seperti ranting yang kering, kehilangan kemampuan untuk menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan. Namun, kabar baiknya, Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu menanti kita untuk kembali tersambung kepada-Nya. Yesus berkata, “Tinggal di dalam Aku.” Tinggal di sini bukan sekadar hadir secara pasif, melainkan hidup dalam hubungan yang intim, penuh kesadaran, dan terus-menerus dengan Tuhan. Sama seperti perangkat elektronik yang perlu terus terhubung ke jaringan untuk dapat berfungsi, kita juga perlu memastikan koneksi kita dengan Yesus tetap terjaga. Koneksi ini dapat diperbarui melalui doa, yang menjadi jalur komunikasi langsung antara kita dan Tuhan. Dalam doa, kita tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar suara-Nya, mencurahkan isi hati, dan membangun kedekatan. Selain itu, Firman Tuhan adalah sumber kekuatan yang mengalir dari pokok anggur kepada kita. Dengan merenungkan Firman, kita mendapatkan nutrisi rohani yang diperlukan untuk bertumbuh dan berbuah. Saudaraku, komunitas iman juga menjadi sarana penting untuk menjaga koneksi ini tetap kuat. Dalam persekutuan yang sehat, kita saling mengingatkan, menguatkan, dan mendukung untuk tetap terhubung dengan Yesus. Bersama-sama, kita menjadi ranting-ranting yang menghasilkan buah, saling melengkapi dalam tubuh Kristus. Ketika koneksi dengan Yesus terhubung kembali, hidup kita mulai menunjukkan perubahan. Sukacita, kasih, dan damai sejahtera kembali terpancar. Hidup yang sebelumnya terasa hampa menjadi bermakna. Dalam hubungan yang erat dengan Yesus, kita bukan hanya menemukan kehidupan, tetapi juga menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan dan membawa berkat bagi sesama. Kehilangan sinyal internet mungkin membuat kita sadar betapa pentingnya koneksi dalam kehidupan sehari-hari. Kehilangan koneksi dengan Tuhan jauh lebih berdampak besar, karena kita kehilangan SUMBER KEKUATAN SEJATI.  Namun, Tuhan tidak pernah menutup akses kepada-Nya. Dia terus menanti kita untuk kembali tinggal di dalam-Nya, menjadikan Dia pusat kehidupan kita. Saudaraku, TAUTAN  dengan TUHAN adalah hubungan yang dirancang untuk TIDAK TERPUTUS.  Jika Saudara merasa sinyal spiritualmu mulai melemah atau bahkan hilang, sekaranglah waktunya untuk menyambung kembali. Pastikan koneksi Saudara  dengan Sang Pokok Anggur TETAP TERHUBUNG,  agar hidup Saudara BERBUAH BANYAK  dan memuliakan nama-Nya. Di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, di dalam Dia, kita menemukan kehidupan yang sejati. Apakah Saudara sudah memastikan KONEKSIMU hari ini? (EBWR)

Menjadi Lengah

LENGAH. Sahabat, Bruce Lee, aktor laga terkenal dari Hong Kong era 1960-1970-an, pernah berkata demikian, ”Jangan pernah memalingkan matamu dari lawan, bahkan pada saat kamu dalam posisi menunduk!” Saat bertarung, lawan adalah fokus sasaran kita. Sekali saja kita lengah, ia akan dapat menjatuhkan kita dengan kekuatan yang mungkin tak pernah kita perkirakan. Sekalipun kita terpaksa harus menundukkan  kepala, seperti kata Lee, pandangan kita harus tetap terarah pada lawan.. Pernahkah Sahabat menyesal karena menjadi lengah? Misalnya saja, ketika sedang berjalan, kamu tidak memerhatikan jalan yang kamu lalui karena asyik melihat dan bermain dengan HP, maka kamu sangat terkejut ketika kamu tiba-tiba terperosok masuk ke lubang selokan yang ada di jalan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita juga lengah dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Misalnya saja, menjelang bulan Desember biasanya kegiatan gereja dan jadwal pelayanan kita naik drastis, kemudian kita menjadi kelelahan, akibatnya kita sering tidak melakukan saat teduh pribadi. Jadwal saat teduh kita sering terlewatkan begitu saja.  kita lupa bersaat teduh ketika sedang sibuk atau kelelahan. Kita lupa untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan merenungkan Firman-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah lengah dalam menjaga dan menyertai kita, namun sebaliknya kita kadangkala lengah karena kesibukan dan kelelahan kita. Lengah juga dapat muncul dalam bentuk kesombongan rohani. Kadangkala kita juga lupa berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan atau suatu perjalanan. Kita merasa mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Akibatnya, kita lupa menyerahkan persoalan yang akan kita hadapi kepada Tuhan. Sahabat, kita dapat menjadi lengah setiap saat, oleh karena itu kita harus selalu  berhati-hati dan waspada, jangan lengah. Rasul Paulus mengingatkan:  “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Seringkali, kita merasa bahwa kita cukup aman sehingga kita lengah untuk terus intim dengan Tuhan. Kita perlu terus terjaga, karena di dunia ini penuh dengan tipu muslihat dan aneka jebakan. Mari kita membaca dan merenungkan 1 Raja-raja 13:1-34 dengan berfokus pada ayat 18. Sahabat, ketaatan kepada Allah adalah suatu keputusan yang harus terus dilakukan selama orang percaya menjalani kehidupan di dunia. Selama manusia hidup khususnya bagi orang percaya, iblis akan terus mencobai supaya orang percaya tidak taat kepada Allah. Kita tidak tahu pasti, mengapa abdi Allah dari Yehuda yang bersikukuh tidak mau dijamu Yerobeam, ternyata hatinya luluh dan menerima tawaran makan dan minum dari nabi tua yang tinggal di Betel. Seorang nabi Yehuda yang Allah utus untuk menyampaikan pesan kepada Yerobeam jatuh dalam ketidaktaatan. Setelah beberapa kali dicobai, akhirnya karena kelengahannya, ia jatuh juga dalam ketidaktaatan yaitu melanggar perintah Allah. Iblis memakai teman sejawatnya, seorang nabi juga untuk menyampaikan pesan Tuhan kepadanya. Suatu pesan bohong atau tidak benar. Karena kelengahannya yaitu percaya kepada teman sejawatnya, tanpa mengecek kebenaran pesan tersebut, nabi Yehuda mati diterkam singa (Ayat 24). Jangan lengah dan ujilah setiap pesan yang disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan berasal dari Tuhan. Sekalipun yang menyampaikan seorang yang kita kenal dan mengatasnamakan Tuhan. Iblis tidak pernah berhenti mencobai kita. Keintiman dan kedekatan dengan Tuhan akan membuat kita tahu dan peka dengan suara dan pesan Tuhan. Waspadalah! Waspadalah! JANGAN MENJADI LENGAH! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mukjizat terbesar Allah bagi kita ialah dengan mengubah para pendosa yang pantas dibinasakan menjadi anak-anak-Nya yang terkasih. (pg).

Selalu Ada Jalan

TANTANGAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tantangan berarti: Ajakan berkelahi (berperang dan sebagainya); Hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; Rangsangan (untuk bekerja lebih giat dan sebagainya); Hal atau objek yang perlu ditanggulangi. Pada sebagian orang sering menganggap tantangan adalah sesuatu yang membuat sulit, kadang menghambat sesuatu yang ingin kita capai. Tapi sebenarnya kalau kita mau melihat dari sisi yang agak berbeda dari pemahaman tersebut, sebenarnya tantangan merupakan bahan bakar yang sangat dahsyat dalam pencapaian sesuatu tujuan. Sahabat, sesungguhnya tantangan akan menggairahkanmu, memberimu arah, dan membangkitkan yang terbaik dalam dirimu. Tantangan akan mendorong Sahabat untuk mempelajari keterampilan baru, meraup pengetahuan baru. Tantangan memotivasimu  untuk memberi hasil terbaik dari dirimu. Pernahkah Sahabat perhatikan atau sadari, bahwa saat kamu memiliki sedemikian banyak tugas yang harus dikerjakan, kamu justru memiliki lebih banyak energi untuk menyelesaikan apa yang semestinya harus selesai dikerjakan. Tapi sebaliknya saat sedikit hal yang perlu dikerjakan, ternyata lebih sedikit lagi hal yang selesai dikerjakan. Usahamu akan meningkat sesuai dengan volume pekerjaan yang harus dikerjakan. Tantangan mendorong hasil kerjamu. Tantangan tidak muncul untuk menarik kamu ke bawah, tapi tantangan ada untuk mendorong Sahabat ke atas, sehingga menghasilkan hal yang terbaik dalam pencapaian target. Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 10:1-43. Sahabat, catatan panjang sejarah manusia merekam banyak peristiwa. Selain tragedi, sejarah juga menyuguhkan kepada kita kisah yang mencengangkan. Kita dihipnotis dengan kekaguman lantaran sejarah menyajikan banyak peristiwa yang melampaui nalar. Sejarah, terkadang, memaksa kita untuk mengakui ada tangan yang tidak terlihat sedang bekerja. Sejarah orang Israel membuktikan hal tersebut . Orang Gibeon mendapat ancaman dan intimidasi dari raja-raja di sekitar wilayah mereka (Ayat 3-4). Mereka berencana untuk memerangi Gibeon. Kondisi ini membuat orang Gibeon datang kepada Yosua untuk meminta bantuan (Ayat 6). Tantangan ada di depan mata Yosua.  Dia tidak bisa menolak ini sebab sudah ada ikatan perjanjian di antara mereka. Dia tidak punya pilihan, sehingga dia dan bala tentaranya pergi maju ke medan perang (Ayat 7). Sahabat, Yosua menyambut tantangan yang ada. Dia maju bertempur dengan memegang janji Tuhan bahwa semua lawannya akan takluk (Ayat 8). Betul saja, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Hujan batu dikirimkan untuk membunuh musuh Israel (Ayat 11). Bahkan, matahari bisa berhenti karena Yosua memintanya kepada Tuhan (Ayat 12-14). Yosua mengatakan semua itu berasal dari Tuhan yang berperang bersama mereka (Ayat 25). Sisa ceritanya sudah kita ketahui bahwa Israel berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya (Ayat 42). Tuhan kerap bekerja di luar akal sehat kita. Bagaimana mungkin hujan batu bisa turun dari langit? Bagaimana mungkin matahari berhenti? Itu membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong umat-Nya. SELALU ADA JALAN. Sahabat, hari ini kita kita diingatkan untuk TIDAK ALERGI  terhadap TANTANGAN. Permufakatan jahat yang didorong Iblis mungkin saja dibuat orang untuk menghambat pekerjaan Allah melalui kita. Namun keberanian untuk mengandalkan dan mengimani kuasa Tuhan yang tidak dapat dilawan kuasa dunia ini akan membuktikan bahwa kita adalah pemenang, bukan pecundang. Yakinkah, selalu ada jalan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang tantangan? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan  selalu hadir dengan cara yang tak terduga. (pg).

Sourced from God

MAZMUR 44. Sahabat, Sahabat, mungkinkah kita memiliki iman yang tidak mudah goyah? Sangat mungkin. Kita akan belajar melalui pengalaman Pemazmur. Mazmur 43 dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, Pemazmur mengingat akan kemurahan dan karya Tuhan atas bangsa Israel di masa yang lampau. Bagaimana dengan kekuatan kuasa Tuhanlah, maka bangsa itu beroleh kemenangan (Ayat 1-9). Bagian kedua, Pemazmur memaparkankehancuran dan hukuman dari Tuhan atas bangsanya (Ayat 10-17). Pada bagian ketiga, Pemazmur menyatakan keteguhan diri dan bangsanya kepada Tuhan. Sekalipun tangan Tuhan menekan dan meremukkan mereka, namun mereka tidak berpaling daripada-Nya (Ayat 18-22). Pada bagian keempat, Pemazmur menyatakan seruan permohonan kepada Tuhan agar segera menolong mereka (Ayat 23-27). Apa yang membuat Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakan yang dialami bangsanya? Pertama, Pemazmur menyadari bahwa kehidupan dirinya dan bangsanya dikarenakan kekuatan kuasa tangan Tuhan (Ayat 2-9, 10-15). Selain itu, Pemazmur sadar, baik senang maupun susah, baik menang ataupun kalah, Tuhan berkuasa mengatur hidupnya. Kedua, Pemazmur mengenal siapa Tuhan yang disembah olehnya dan bangsanya (Ayat 5). Perhatikan perubahan kata “kami” di ayat 2 menjadi “-ku” di ayat 5. Pemazmur mengenal Allahnya bukan hanya sebagai Allah bangsanya, melainkan sebagai Allahnya pribadi. Ia mengenal Allah bukan karena apa kata bangsanya, melainkan ia mengalami Allah dalam hidupnya. Karena itulah ia berseru “Rajaku dan Allahku” (Ayat 5). Pengenalan dan iman kepada Allah secara personal sangatlah penting, karena kita benar-benar memiliki relasi intim dengan Allah yang kita sembah. Sekalipun kenyataan hidup meremukkan hati, iman kita tidak akan mudah goyah. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang punya kuasa untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Sourced from God (Bersumber dari Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 44:1-27 dengan berfokus pada ayat 7-8. Sahabat, Serena Williams merupakan seorang Afro-Amerika yang lahir 26 September 1981 di Saginaw, Michigan, Amerika Serikat.  Ia adalah salah seorang petenis puteri terhebat di muka bumi ini.  Di bulan Januari 2017  Serena  mengukir sejarah baru yaitu merebut gelar grandslam-nya yang ke-23 di Australia Open 2017 setelah mengalahkan Venus Williams  (kakak kandungnya)  dalam partai all Williams final dengan skor 6-4 6-4.  Itu berarti Serena berhasil melewati rekor sang legenda tenis asal Jerman, Steffie Graff, yang mengoleksi 22 gelar grandslam di sepanjang karirnya.  Luar biasa! Meraih kemenangannya adalah impian setiap olahragawan yang biasanya memiliki semboyan vini vidi vici, yang berasal dari bahasa Latin klasik veni, vidi, vici yang artinya:  Saya datang, saya melihat, saya menang.  Awalnya kata-kata ini digunakan dalam pesan Julius Caesar, seorang jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM yang disampaikan pada senat Romawi. Kata-kata tersebut menggambarkan kemenangannya dalam pertempuran Zela atas Pharnaces II dari Pontus.  Sesungguhnya tak seorang pun olahragawan yang mau mengalami kekalahan dalam setiap kejuaraan yang diikutinya, karena setiap kemenangan selalu mendatangkan kebanggaan tersendiri, apalagi kemenangan itu diraih dalam kejuaraan yang bertaraf internasional. Sahabat, dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan liku-liku ini setiap orang pasti berharap mampu melewati hari-hari dengan sebuah kemenangan.  Bagi orang percaya hidup berkemenangan bukanlah sekadar impian atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah janji yang pasti dari Tuhan:  “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37).  Tuhan telah membuka jalan kemenangan bagi umat-Nya melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yang oleh-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan.  Orang percaya bukan lagi menjadi orang-orang yang kalah, melainkan umat pemenang! Kemenangan orang percaya merupakan KEMENANGAN yang BERSUMBER DARI TUHAN, ketika memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kasih setia Tuhan berkuasa untuk membebaskan kita dari segala penderitaan, asalkan kita tetap setia kepada-Nya. (pg).

Mengendalikan Keinginan

AKHAN. Wikipedia mencatat bahwa Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, adalah tokoh yang muncul dalam Kitab Yosua dalam Alkitab Perjanjian Lama di Alkitab Kristen  sehubungan dengan jatuhnya Yerikho dan penaklukan Ai. Namanya ditulis sebagai Ahar (Achar) dalam 1 Tawarikh 2:7. Menurut penuturan Yosua, Akhan menjarah jubah yang indah buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya dari Yerikho, hal itu bertentangan dengan perintah Yosua (dari Allah) bahwa  segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN (Yosua 6:19). Meskipun dalam catatan tersebut tampaknya hanya Akhan seorang diri yang bersalah karena mengingini dan mengambil jarahan tersebut, Yosua pasal 7 dimulai dengan pernyataan bahwa segenap umat (orang Israel) berubah setia (Yosua 7:1). Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 7:1-26. Sahabat, sesudah peristiwa tembok Yerikho, bangsa Israel tampak semakin percaya diri untuk memasuki tanah perjanjian. Kali ini, mereka akan masuk ke kota Ai yang dihuni orang Amori. Setelah melakukan pengintaian, mereka memutuskan dua atau tiga ribu saja yang akan menggempur.  Menurut laporan, penduduk di sana sangat sedikit (Ayat 2-3). Jadi, cukup logis jika tidak seluruh bangsa datang untuk menyerang kota Ai. Tiga ribu orang Israel berangkat untuk melaksanakan misi itu. Namun, apa yang terjadi? Mereka malah dipukul balik, bahkan melarikan diri (Ayat 4). Dari pihak Israel jatuh tiga puluh enam korban (Ayat 5). Rakyat kota Ai berhasil mempermalukan bangsa Israel. Bahkan, mereka dibuat lari tunggang-langgang. Kenyataan ini membuat Yosua tawar hati. Dia mengoyak jubahnya sebagai tanda perkabungan yang mendalam (Ayat 6). Dia sujud di hadapan tabut Tuhan untuk menunggu jawaban mengapa hal tersebut bisa terjadi. Sahabat, setelah Yosua mengadu kepada Tuhan, didapati bahwa kekalahan tersebut disebabkan oleh Akhan yang melanggar perintah Tuhan dengan mengambil barang yang dikhususkan, yang tidak boleh diambil ketika mengalahkan Yerikho. Keinginannya yang tidak dapat ia kendalikan atas barang-barang yang indah serta perak dan emas, mendatangkan kekalahan bagi bangsa Israel (Ayat 7-12).  Hal tersebut membuat Akhan jatuh dalam dosa besar hingga akhirnya mencelakakan dirinya beserta segenap keluarga. Harta Akhan dan segenap barang-barang khusus yang ia ambil serta anak-anaknya dilempari batu dan dibakar api hingga musnah (Ayat 16-25). Sahabat, Yakobus mengingatkan kita: Sering kali keinginan-keinginan yang timbul menjadi pencobaan bagi diri kita sendiri. Keinginan-keinginan yang belum diuji, apakah sesuai firman Tuhan dan kehendak-Nya, bila tidak kita KENDALIKAN dengan baik, akan menyeret dan memikat kita sehingga mengakibatkan kita jatuh ke dalam dosa, bahkan mendatangkan maut (Yakobus 1:14-15) Belajar dari pengalaman Akhan, tidak bisa MENGENDALIKAN KEINGINAN  yang tidak sesuai dengan firman Tuhan bisa berdampak besar dan mencelakakan orang lain juga. Memiliki keinginan tidaklah salah, namun kita perlu sangat hati-hati dalam mewujudkan keinginan kita. Perlu minta hikmat dan petunjuk Tuhan terlebih dahulu: “Apakah keinginanku sudah selaras dengan kehendak-Nya?” Kita perlu terus belajar untuk MENGENDALIKAN KEINGINAN KITA. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? Apa yang Sahabat pahami dari Yakobus 1:14-15? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menguji dan menyerahkan keinginan pada Tuhan menghindarkan diri dari pencobaan dan kejatuhan. (pg).