Aku akan mendengarkan kamu. Meme Firman Hari Ini (21 Juni 2023).
Vision of the New Temple
PENGLIHATAN. Dari SarapanPagiBiblika ministry saya mendapat informasi bahwa penglihatan berasal dari bahasa Ibrani : hāzōn, Yunani : horama, Inggris : vision, sight, a spectacle, appearance, yang hampir selalu menandakan suatu arti pewahyuan ilahi. Pertama, kata hāzōn menunjuk pada pengertian dari “visi kenabian/profetik” dimana pesan-pesan ilahi dikomunikasikan (Yehezkiel 12:21-22). Kedua, kata itu juga berarti menampilkan kembali pesan yang diterima melalui penglihatan profetik (Amsal 29:18). Ketiga, arti kata hāzōn yang lainnya adalah menyajikan/menampilkan kembali secara keseluruhan dari pesan kenabian/nabi, seperti yang tercatat dalam Yesaya 1:1. Jadi, kata hāzōn menunjuk pada hubungan antara isi fokus komunikasi ilahi dengan pengertian-pengertian dari pesan-pesan tersebut yang tidak dapat dipisahkan. Sahabat, dapat disimpulkan bahwa penglihatan adalah salah satu cara Allah dalam menyampaikan maksud ataupun rencana-rencana-Nya kepada seseorang yang dipilih-Nya dalam keadaan sadar diri (tidak sedang tidur) mengenai orang lain, kelompok orang, suku ataupun bangsa. Orang yang dipilih Allah tersebut di beri karunia nabi atau diangkat sebagai nabi oleh Allah sendiri dan Allah juga memberi pengertian untuk menafsirkan penglihatan tersebut. Biasanya, penglihatan berhubungan erat dengan proses penyampaian pesan-pesan nubuatan. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Vision of the New Temple (Penglihatan tentang Bait Suci yang Baru).” Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 40:1-47. Sahabat, empat belas tahun telah berlalu setelah kejatuhan Yerusalem dan pembuangan ke Babel. Ketika Nabi Yehezkiel mengenang peristiwa tersebut (bdk. 2 Tawarikh 36:10), ia mendapat penglihatan dari Allah. Ia dibawa kembali ke tanah Israel dan sebuah gunung yang tinggi. Di sana, ia melihat gambaran yang menyerupai “kota” (Ayat 2-3a). Penglihatan yang Allah berikan kepada Yehezkiel harus disampaikan kepada bangsa Israel.Bentuk Bait Suci baru berbeda dengan yang didirikan oleh Salomo (Ayat 5). Bait Suci yang baru ini dikelilingi oleh tembok setinggi dan setebal enam hasta (1 hasta = 0, 5 meter). Malaikat Allah melakukan pengukuran seluruh bangunan Bait Suci yang mulai dari pintu gerbang Timur (Ayat 6-16). Setiap pintu gerbang berukuran 50×25 hasta (Ayat 13, 15). Di dalamnya terdapat serambi, kamar, dan setiap tiang tembok diukir gambar pohon kurma (Ayat 10, 16). Di pelataran luar ada 30 kamar untuk beribadah (Ayat 17). Lebar pelataran luar adalah 100 hasta (Ayat 19).Lalu, Yehezkiel dibawa ke pintu gerbang Utara (Ayat 20-27, 32-37) dan Selatan (Ayat 28-31). Deskripsi pintu gerbang Utara sama dengan gerbang Timur dan Selatan, sedangkan tembok Barat tidak memiliki pintu gerbang. Yang berbeda hanya ada tambahan tujuh anak tangga dari luar kompleks Bait Suci menuju pintu gerbang itu (Ayat 22) dan delapan anak tangga untuk pelataran dalam (Ayat 31).Dalam Bait Suci itu terdapat pelbagai bilik dan perabot yang berfungsi sebagai tempat menyembelih dan membersihkan korban bakaran (Ayat 38-43). Ada juga berbagai ruang untuk para imam Lewi yang bertugas, baik di Bait Suci atau pun di mezbah (Ayat 44-46). Selain itu, pelataran dalam berbentuk bujur sangkar (100×100 hasta). Di sini terdapat mezbah (Ayat 47).Sahabat, kita harus menjaga kekudusan hidup kita, jangan cemari tubuh kita dengan hal-hal yang najis supaya Allah tetap tinggal dalam hidup kita; Allah adalah kudus dan kita harus hidup kudus sebagai bait-Nya. Dengan demikian orang percaya harus belajar memisahkan hal yang kudus dari yang berdosa. Ia tidak boleh mencampuradukkan kehidupan yang disucikan Allah dengan kehidupan yang berdosa. Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus untuk menjaga kesucian hidup dan berani menolak segala godaan yang dapat menghambat kita takut akan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang menjaga kekudusan hidup? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah hadir dan tinggal dalam setiap orang percaya. Bahkan tubuh setiap orang percaya adalah Bait Kudus-Nya bukan lagi bicara suatu tempat (1 Korintus 6:19). (pg).
The Resurrected Dry Bones
PENGHARAPAN. Dalam komunitas orang percaya, kita sering mendengar, membaca, dan memperkatakan kata pengharapan. Apa arti pengharapan? Di dalam bahasa Yunani, kata pengharapan ditulis elpis, yang artinya menantikan yang baik. Sedangkan di dalam bahasa Ibrani, kata pengharapan ditulis miqveh, yang artinya sangat menantikan dan mengumpulkan. Sahabat, sangat menarik, kata pengharapan selain berarti menantikan ternyata mempunyai arti mengumpulkan. Di dalam Filipi 4:8 dikatakan pikirkanlah (mengumpulkan) semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Lalu, Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa pengharapan adalah SAUH {Ibrani 6:19). Sauh atau jangkar digunakan supaya perahu atau kapal tidak terbawa tiupan angin, gelombang, atau badai di tengah laut. Artinya, di tengah masalah, setiap orang membutuhkan pengharapan, supaya hidupnya tidak terombang-ambingkan arus masalah. Pengharapan yang adalah sauh, membuat kita terkait kepada sesuatu yang kuat, stabil, dan kokoh, dalam hal ini adalah janji TUHAN di dalam hidup kita, yang membuat hidup kita teguh bertahan di tengah hantaman badai. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Resurrected Dry bones (Tulang-Tulang Kering Dibangkitkan)”. Bacaan Sabda diambil darikitab Yehezkiel 37:1-14 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, sudah hampir setahun Thomas menganggur. Meski dia rajin mengirim surat lamaran, belum ada perusahaan yang menerimanya. Ia kehilangan harapan. Mengetahui keadaan anaknya, ayah Thomas mengajaknya ke kuburan. Sambil menunjuk batu nisan, ia berkata, “Di sinilah tempat orang-orang yang tak lagi punya pengharapan!”Pengharapan di dalam diri manusia menjadi sirna tatkala ia meninggal dunia. Menariknya, kitab Yehezkiel menunjuk pada pengharapan yang tidak biasa. Di tengah lembah penuh tulang-belulang manusia, Allah bertanya, “Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Jawabnya tentu: Mustahil! Akan tetapi, Yehezkiel tahu kalau di tangan Allah, tidak ada yang mustahil. Karenanya, Yehezkiel menjawab: “Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahui!” (Ayat 1-3). Melalui nubuatan, tulang-tulang itu kemudian diubahkan-Nya menjadi tentara yang sangat besar (Ayat 4-10). Tulang kering menunjuk pada kehidupan yang mati, bukan secara fisik melainkan secara rohani. Hidup tanpa tujuan, tanpa pengharapan, dan tak lagi mampu melihat masa depan. Menghadapi situasi demikian, kuasa firman Tuhan benar-benar diperlukan. Daripada mengeluh, lebih patut memperkatakan firman Tuhan.Firman Tuhan bekerja lebih dahsyat daripada logika atau perkataan manusia. Mungkin kita dikatakan sebagai pribadi yang tak punya masa depan. Mungkin juga kita mengganggap diri kita sudah mati bagaikan tulang-tulang kering. Jika benar demikian, ingatlah bahwa bersama Tuhan yang hidup, kita selalu memiliki pengharapan. Tidak peduli seberapa kering pengharapan itu, Bersama Tuhan kita mampu melihat masa depan yang penuh harapan. Apakah Sahabat sedang menghadapi pergumulan hidup yang berat? Jangan menyerah, tetaplah berharap dan bersandar kepada Allah karena Ia pasti mampu membuka jalan keluar, “Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.” (Mazmur 71:1 dan 5). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 6:19? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Selama kita hidup, kita pengharapan. Sebaliknya selama kita berpengharapan, kita hidup. (pg).
Tetaplah berdoa. Meme Firman Hari Ini (20 Juni 2023).
MENGHINDAR ALA YESUS
Bagi beberapa orang sikap menghindar adalah salah satu hal yang tabu. Lebih baik masalah dihadapi daripada dihindari, itulah gentleman sejati. Benarkah selalu demikian? Mari belajar dari Yesus dengang merenungkan Matius 12:14–21. Demonstrasi kesembuhan beruntun yang dilakukan Yesus pada hari Sabat ternyata sungguh mengusik jiwa penjaga tradisi orang Farisi. Mereka menganggap Yesus sesat dan layak untuk dilenyapkan. Situasi sungguh tegang. Alih-alih melawan atau mempertahankan diri, Yesus malah pergi dari tempat itu dan menjauh. Sikap Yesus menimbulkan beberapa pertanyaan : Mengapa Yesus menghindar padahal Ia adalah Anak Allah? Mengapa Yesus tidak melawan saja orang Farisi itu secara frontal mengingat sikap mereka yang licik dan penuh kebencian terhadap Yesus? Mengapa Yesus tidak menghabisi saja orang Farisi dengan argumen yang tidak dapat disangkal oleh mereka sehingga orang-orang Yahudi mengakui ke-Mesiasan-Nya? Secara manusia sikap Yesus ini aneh dan menunjukkan kekalahan. Yesus pergi dari arena dan bahkan Ia berpesan supaya orang-orang yang sudah disembuhkan merahasiakan kebaikan-Nya. Yesus memilih melanjutkan pekerjaan-Nya daripada mengikuti aturan main orang-orang Farisi. Ternyata Yesus tidak sepenuhnya menghindari para Farisi itu. Sebelum pergi, Yesus sudah menyatakan sikap-Nya terhadap hukum Sabat (Matius 12:3-8 dan 11). Yesus menghindar karena melihat niat jahat dari para Farisi itu. Dari sikap tersebut dapat direnungkan : Yesus memberitakan Kerajaan Allah dengan damai, bukan untuk berkonflik dengan siapa pun. Penulis Matius mengutip kitab Yesaya tentang Hamba Pilihan Tuhan yang memiliki ciri rendah hati, penuh dengan damai dan fokus kepada karya misi-Nya sebagai komentar terhadap sikap Yesus ini. Yesus tidak mau terpancing dengan kondisi panas itu, Yesus pergi supaya keadaan menjadi lebih damai di sana. Larangan Yesus untuk menceritakan kebaikan-Nya juga dilakukan untuk meredakan suasana yang sudah riuh dan panas. Matius 12:19 menegaskan kutipan Yesaya sudah tergenapi dalam Yesus: Pelayanan penuh damai namun pasti. Yesus memprioritaskan tugas-Nya. Yesus memilih sebuah prioritas dalam hidup-Nya yaitu melaksanakan tugas sesuai misi kedatangan-Nya, yaitu melenyapkan segala kelemahan. Melayani kemarahan para Farisi akan menghambat efektifitas kerja-Nya, maka Yesus memilih apa yang paling penting dalam hidup-Nya: melanjutkan pekerjaan-Nya. Menghindar kadang diperlukan dalam situasi tertentu, apalagi Ketika emosi sudah menguasai pikiran. Paulus pernah mengatakan “dari pihakmu, berusahalah sedapat mungkin untuk hidup damai dengan semua orang.” (Roma 12:18). Hidup dalam kondisi yang damai adalah hal yang harus diupayakan oleh setiap orang percaya. Yesus sudah memberikan contoh dan teladan yang luar biasa. Menghindar bukan selalu pengecut. Kadang kala menghindar adalah sikap gentleman sejati untuk meredam letusan konflik serta untuk memastikan tugas dan tanggung jawab tetap terlaksana sesuai rencana. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)
PRASANGKA MERAMPAS SUKACITA
Saudaraku, berhadapan dengan orang yang penuh dengan prasangka memang serba salah karena apa pun yang dilakukan akan ditanggapi dengan sikap skeptis dan curiga. Akibatnya orang yang dipenuhi prasangka akan kehilangan sinar kehidupan, yaitu sukacita. Mari kita renungkan dampak prasangka dalam bacaan dari Matius 11: 1-11. Yesus merasakan rasa frustasi Yohanes saat seorang utusan menemui Yesus untuk memastikan ke-Mesiasan-Nya. Yohanes sudah bekerja maksimal: membaptis banyak orang dan menegur para pemuka agama dengan berani. Tanggapan yang ia dapat adalah sikap prasangka para pemimpin Israel terhadapnya. Maka dalam penjara, Yohanes ingin memastikan bahwa Yesus adalah Mesias itu. Konsep Mesianis memang sudah mandarah daging dalam pemikiran orang Yahudi, apalagi mereka saat itu benar-benar menantikan kelepasan dari genggaman bangsa asing. Frustasi Yohanes juga dialami oleh orang Israel pada umumnya. Sebelum Yesus muncul, sudah banyak orang yang mengaku diri sebagai Mesias namun terbukti gagal. Pengalaman pahit itu membuat mereka penuh prasangka kepada para utusan Tuhan dan menutup diri kepada Yesus, Mesias sejati. Dampak dari sikap penuh prasangka dalam bacaan ini adalah : Menghalangi pandangan untuk melihat anugerah Allah. Prasangka telah membuat mereka menutup pintu terhadap karya Allah yang besar, sehingga mereka tidak merasakan anugerah Allah melalui Yesus. Mungkin mereka melihat bahwa kriteria Mesias tidak ada dalam Yohanes maupun Yesus sehingga inilah yang membuat akhirnya mereka menjadi sombong dan berpikir bahwa Allah harus bekerja sesuai dengan kriteria yang dipahami mereka. Mereka kehilangan kesempatan melihat pekerjaan Allah. Menghilangkan sukacita sehingga tidak menikmati kreatifitas Allah. Prasangka membuat pemimpin Yahudi kehilangan sukacita menyambut karya Tuhan yang sedang terjadi dalam bangsa mereka. Banyak orang menerima mukjizat dan dipulihkan karena pelayanan Yesus dan Yohanes, namun mereka tidak merasakannya. Yesus memberi penggambaran yang sangat lugas dan mengatakan bahwa sikap acuh, penuh prasangka dan skeptis akan membunuh pengharapan dan sukacita. Mereka menjadi pemain yang kehilangan makna permainannya, menjadi aktor yang kehilangan kenikmatan memerankan tokohnya. Saudaraku, apa yang paling mengkhawatirkan dalam hidup ini selain hidup penuh prasangka? Dalam kehidupan memang ada banyak hal yang mengecewakan, namun jangan memelihara prasangka hingga akhirnya kehilangan sukacita dan pengharapan yang akan menerangi jalan hidup manusia sehingga mampu melihat pekerjaan Allah yang menembus kemustahilan. Pengalaman memang guru yang terbaik, namun pengalaman tidak bisa menjadi tolok ukur mati untuk menilai kondisi atau pun seseorang. Masih ada Allah yang bekerja untuk mengubah keadaan ataupun memakai seseorang (yang mungkin tidak memenuhi syarat ) untuk melakukan hal yang benar. Belajar dari pengalaman memang penting, namun jangan sampai pengalaman manusia menjadi batas untuk melihat Allah Sang Mahakreatif bekerja sesuai dengan kehendak-Nya. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)
End Up with VICTORY
MEWARISKAN NAMA BAIK. Di Yope terdapat seorang perempuan bernama Tabita atau yang lebih dikenal dengan nama Dorkas. Ia adalah orang yang baik dan mengabdikan hidupnya untuk menebarkan cinta kasih kepada mereka yang membutuhkan. Apa yang terjadi ketika ia meninggal? Semua orang yang menerima kebaikannya meratapi, merasakan sangat kehilangan dan berharap ia hidup kembali. Karena itu mereka mendatangi Rasul Petrus sembari menunjukan bukti cinta kasih Dorkas. Sang Rasul pun akhirnya memberikan pelayanan yang terbaik atas permintaan mereka dan Dorkas pun hidup kembali. Cerita tersebut merupakan penggalan kisah pelayanan Petrus dalam Kisah Rasul pasal 9. Cerita kebaikan hati Dorkas yang sudah meninggal menunjukan bahwa orang yang baik budi dalam kata dan karya bagi kebaikan diri, keluarga dan masyarakat, walaupun sudah mati, namanya tetap dikenang dengan penuh kasih. Hal tersebut mengingatkan saya pada pepatah lama, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, menusia mati meninggalkan nama”. Pengamsal menyampaikan keyakinannya: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaaan besar, …” (Amsal 22:1). Pengamsal mengingatkan kita bahwa nama baik jauh lebih berharga daripada harta dan kekayaan. Harta dan kekayaan tidak akan dibawa mati, ia akan berakhir seiring dengan datangnya ajal, tetapi nama baik tak lekang oleh zaman. Artinya nama baik jauh lebih bernilai daripada kekayaan dan sebaliknya, kekayaan tidak ada artinya tanpa nama baik yang mewujud dalam setiap tindakan. Sebagaimana pepatah di atas dan keyakinan Pengamsal, mari kita berusaha dengan sepenuh hati supaya dapat mewariskan nama baik kepada anak cucu kita. Syukur, hari ini kita belajar dari pasal terakhir dari kitab Yosua dengan topik: “End Up with VICTORY (Akhiri dengan KEMENANGAN)”. Bacan Sabda diambil dari Yosua 24:29-33. Sahabat, akhir dari hidup manusia di dunia adalah kematian. Apakah kematian akan menghilangkan manusia, kemudian dilupakan seolah tidak pernah ada kala ajal menjemputnya? Ternyata tidak! Nama seseorang akan terus dikenang. Tubuhnya telah tiada, namun namanya terus ADA.Akhir kisah Yosua merupakan cerita bahagia. Alkitab mencatatkan namanya sebagai bukti perannya yang penting bagi sejarah umat Israel (Ayat 29). Yosua disebut sebagai hamba TUHAN. Artinya, kehadiran dan jasanya penting dalam perjalanan bangsa Israel. Dia meninggal dalam usia seratus sepuluh tahun. Dengan menyebutkan usianya, maka dia menjadi sejajar bersama nenek moyang Israel, seperti Abraham, Musa, dan Yusuf. Yosua dikuburkan di pegunungan Efraim (Ayat 30). Kiprahnya membuat umat Israel hidup beribadah kepada Allah (Ayat 31). Mereka menjadi mengenal perbuatan-Nya yang memengaruhi masa depan mereka kelak.Tulang-tulang Yusuf dikuburkan di Sikhem, tanah miliknya (Ayat 32). Ini membuktikan bahwa Allah mengindahkan kepercayaan Yusuf. Dia yakin bahwa Allah akan memerhatikan umat Israel. Dia percaya tangan Tuhan pasti kembali membawa mereka ke tanah Perjanjian.Selain itu, Eleazar bin Harun juga diceritakan mati dan mencapai keberhasilannya dalam pelayanan (Ayat 33).Sahabat, kematian hamba Tuhan bukan akhir dari segala sesuatu. Itu masih akan berdampak bagi orang lain. Status hamba Tuhan tidak hanya untuk sosok tertentu. Ini tentang kehidupan seorang yang melakukan kehendak Tuhan dan memuliakan Dia. Yosua dan pelayan Tuhan lainnya telah melaksanakan tugas dengan baik. Akhirnya, namanya selalu dikenang setelah mereka tiada karena memberikan dampak baik bagi komunitasnya.Kita dikenang bukan hanya pada saat dilahirkan, tetapi juga pada saat kematian. Saat dilahirkan, kita tidak dapat memilih. Namun, kita dapat memilih menjadi siapa ketika nafas terakhir terhembus. Sudahkah kita mempersiapkan dengan baik untuk dapat mewariskan nama baik? Semoga Sahabat dan saya dapat mengakhiri hidup dengan KEMENANGAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari kisah hidup Dorkas di Kisah Para Rasul 9:38-41? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pilihlah untuk selalu percaya dan setia kepada Tuhan Allah saja, maka nama baikmu akan terjaga. (pg)
God is at our Side
KOALISI. Tahun 2024 akan ada Pesta Demokrasi di negara kita, maka saat ini kita sering mendengar atau membaca kata koalisi. Lalu apa itu koalisi? Dari Kompas.com saya mendapat informasi bahwa koalisi merupakan istilah yang sering digunakan dalam kaitannya dengan partai politik atau hubungan internasional. Walau sebenarnya tak selalu berhubungan dengan partai politik, istilah koalisi memang sebenarnya banyak dipakai dalam dunia politik. Dilansir dari situs Encyclopaedia Britannica, koalisi adalah kelompok orang yang mengoordinasikan perilaku secara terbatas, guna mencapai tujuan bersama. Sebagai bentuk kerja sama, keanggotaan koalisi bersifat sukarela dan berorientasi pada tujuan yang ingin diraih bersama. Meski mencakup beberapa orang, tiap individu dalam koalisi sering memilih mempertahankan identitas juga kepentingan mereka yang khas. Namun, keinginan mereka tetaplah sama, yakni meraih tujuan bersama yang tidak dapat diraih oleh masing-masing individu. Menurut Faljurrahman Jurdi dalam buku Pengantar Hukum Partai Politik (2020), istilah koalisi menunjukkan adanya ikatan yang tidak organik di antara beberapa orang. Kata koalisi juga sering mengarah pada kepentingan orang tertentu, sehingga kebersamaan dalam koalisi sangat dipengaruhi oleh latar belakang Sesungguhnya koalisi tidak selalu berupa organisasi politik, karena ada pula koalisi, yang terdiri atas organisasi kampus atau perusahaan. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: God is at our Side (Allah di Pihak Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 38:1-39:29. Sahabat, ketika Tuhan melakukan pemulihan bagi umat-Nya, segala sesuatu tidak secara otomatis akan berjalan lancar. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kesulitan dan penderitaan hadir dalam hidup kita. Dalam situasi seperti ini, kita cenderung berpikir bahwa angin badai dan awan gelap akan memporak-porandakan proses pemulihan dari Tuhan. Semua peristiwa yang terjadi, apakah baik atau buruk, dalam kehidupan kita bertujuan memperdalam pengenalan kita akan kebesaran Tuhan. Sahabat, kita tidak tahu persis tentang siapa dan apa yang dimaksud dengan Gog di tanah Magog serta negeri Mesekh dan Tubal. Yang jelas, Gog adalah raja yang agung, yang didukung oleh orang Persia, Etiopia, Put, Gomer, dan Bet-Togarma. Ada banyak orang yang beranggapan bahwa Magog menunjuk kepada Rusia, tetapi banyak orang pula yang meragukan pendapat tersebut. Koalisi tujuh negara di atas mengepung Israel dari sebelah Utara (Mesekh, Tubal, Gomer, Bet-Togarma), dari Selatan/Barat (Etiopia, Put) dan dari Timur (Persia). Penyebutan tujuh nama bangsa (negara) menunjuk pada kelengkapan. Perkataan “banyak bangsa menyertai engkau” (38:6, 9, 15) menunjukkan bahwa jumlah anggota koalisi mungkin saja lebih dari tujuh negara. Koalisi dari bangsa-bangsa itu berniat untuk menyerang Israel (38:12). Sekalipun koalisi bangsa-bangsa yang menyerang israel itu kuat sekali, sedangkan bangsa Israel adalah bangsa yang lemah secara militer, namun Allah mengatakan bahwa Dia sendirilah yang akan melawan koalisi tersebut (39:1). Karena Allah menyertai umat-Nya, bangsa Israellah yang memenangkan pertarungan tersebut (39:9). Perhatikan bahwa pemusnahan persenjataan kayu yang dipakai oleh koalisi tersebut (yang dipakai sebagai kayu bakar oleh bangsa Israel) memerlukan waktu tujuh tahun! Fakta tersebut menunjukkan betapa kuatnya persenjataan koalisi yang hendak memusnahkan bangsa Israel itu. Sahabat, merupakan suatu hal yang umum bila umat Tuhan sepanjang masa harus menghadapi berbagai persoalan besar. Walaupun permasalahan yang harus kita hadapi kadang-kadang terasa terlalu berat, kita tidak perlu takut. Bila Allah di pihak kita, permasalahan seberat apa pun pasti akan sangggup kita hadapi (Roma 8:31). Tetaplah pegang keyakinan bahwa Allah pasti menyertai kita dalam menghadapi setiap persoalan! Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Roma 8:31? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Perbedaan perlakuan Allah terhadap bangsa Israel dan terhadap bangsa-bangsa lain membuktikan bahwa keselamatan kita sepenuhnya karena anugerah Allah. (pg).
