Kuasa Doa | Pdt. Yonathan Sionari Hendrik S.Th., M.Pdk. | #3
Kuasa Doa | Pdt. Yonathan Sionari Hendrik S.Th., M.Pdk. | #2
Kuasa Doa | Pdt. Yonathan Sionari Hendrik S.Th., M.Pdk. | #1 “Tetaplah Berdoa”
Vengeance is God’s Right
BALAS DENDAM. Sahabat, dendam yang membara sulit dipadamkan. Dendam itu akan terus-menerus menuntut korban. Pada sekitar tahun 1970-an gedung-gedung bioskop di Indonesia didominasi oleh film-film Kung Fu (Silat) yang diproduksi oleh perusahan perfilman dari Hongkong. Pada umumnya film-film pada waktu itu banyak bertemakan balas dendam. Bahkan dikisahkan, acapkali pembalasan yang dilakukan melebihi hal yang telah dialami sebelumnya. Balas dendam terjadi sejak awal kehidupan manusia, dan terus berlanjut sampai saat ini dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Ada kecenderungan orang tidak akan merasa puas kalau belum melakukan pembalasan. Bahkan, orang seakan mendapat kepuasan ketika pihak lawan lebih menderita. Mungkin itulah juga penyebab terjadinya main hakim sendiri. Sesungguhnya pembalasan bukanlah hak kita, melainkan haknya Tuhan. Bagi orang yang menaruh dendam atau niat pembalasan terhadap orang lain, di dalam hatinya tidak ada hal-hal yang positif, melainkan hanya rancangan-rancangan jahat. Sahabat, persoalan balas dendam, tidak diajarkan dalam Alkitab. Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sejak saya masih mengikuti Sekolah Minggu, kemudian di Komisi Pemuda, dan kini sudah termasuk kelompok senior, gereja tempat saya berjemaat, justru mengajarkan supaya kita mengasihi musuh, mendoakan musuh, membalas kejahatan dengan kebaikan, dan sangat menekankan cinta damai dan pantang kekerasan. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Vengeance is God’s Right (Pembalasan itu Hak Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 24:2-23 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, berbagai upaya dilakukan Saul untuk menghancurkan, dan bahkan membunuh Daud, karena itu ia terus mengejar Daud ke mana pun ia pergi. Hidup Daud menjadi tidak tenang karena Saul. Ketika mendengar kabar bahwa Daud berada di padang gurun En-Gedi, segeralah Saul mengajak tiga ribu orang pilihannya untuk mencari keberadaan Daud. Setelah sampai di tujuan, Saul masuk ke gua hendak membuang hajat, sedangkan Daud dan anak buahnya duduk tepat di belakang gua itu. Berkatalah orang-orang itu kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” (Ayat 5). Itu adalah kesempatan emas bagi Daud untuk melampiaskan dendamnya atas kejahatan yang Saul perbuat. Tapi apa yang diperbuat Daud? Daud bangun, lalu memotong punca (ujung) jubah Saul dengan diam-diam Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul (Ayat 5b-6). Sahabat, sekalipun beroleh kesempatan membalaskan dendamnya, Daud tidak melakukannya. Sebaliknya ia mengizinkan hatinya dikuasai oleh kasih Tuhan. Daud melarang anak buahnya untuk menyerang Saul, malah kemudian melepaskan dia pergi: “TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.” (Ayat 13-14). Ribuan tahun kemudian, “Anak Daud”, yaitu Kristus, juga mengambil keputusan yang sama. Sekalipun memiliki kuasa, Kristus tidak menggunakan kuasa itu sehingga membiarkan dirinya ditangkap, disalib, dan dipermalukan di atas kayu salib itu demi menggenapi rencana Bapa untuk keselamatan manusia. Anak Daud berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).Kristus justru memohonkan pengampunan atas perbuatan jahat mereka. Sahabat, sebagai orang percayakita dituntut untuk meneladani Kristus: Kita tidak boleh melakukan pembalasan terhadap orang yang berbuat jahat, melainkan mengasihi dan mengampuni! Pembalasan itu hak Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-20? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Dalam relasi dengan sesama, terutama mereka yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi kita, jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh sikap mereka, sehingga kita tak dapat menyatakan kasih. (pg).
Imanmu telah menyelamatkan engkau. Meme Firman Hari Ini.
Damai sejahtera Allah. Meme Firman Hari Ini.
KASIH menutupi segala pelanggaran. Meme Firman Hari Ini.
Respect the Anointed Ones
DIURAPI. Sahabat, dari “Got Question” saya mendapat informasi bahwa pengurapan berasal dari kebiasaan para gembala. Kutu dan serangga lainnya sering masuk ke dalam bulu domba. Ketika sampai ke dekat kepala domba, kutu dan serangga ini bisa masuk ke dalam liang telinga sehingga membunuh domba tersebut. Jadi, gembala-gembala di zaman dulu menuangkan minyak di atas kepala domba. Hal tersebut membuat bulu domba menjadi licin, sehingga mustahil bagi serangga untuk mendekati telinga domba. Dari kebiasaan inilah, urapan menjadi simbol dari berkat, perlindungan, dan pengesahan. Kata Yunani yang dipakai di Perjanjian Baru untuk “mengurapi” adalah chrio, yang berarti untuk mengolesi memakai minyak dengan maksud untuk menahbiskan ke dalam satu jabatan pelayanan.Selain itu juga dipakai kata aleipho, yang berarti untuk mengurapi. Pada zaman itu, orang diurapi dengan minyak untuk menyatakan berkat Allah atau mengesahkan panggilan hidup orang tersebut (Keluaran 29:7; Keluaran 40:9; 2 Raja-Raja 9:6; Pengkhotbah 9:8; dan Yakobus 5:14). Sahabat, seseorang diurapi untuk tujuan tertentu: Untuk menjadi raja, untuk menjadi seorang nabi, untuk membangun sesuatu, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan praktik mengurapi seseorang dengan minyak pada hari ini. Kita hanya perlu memastikan bahwa tujuan pengurapannya itu alkitabiah. Minyak urapan jangan dilihat sebagai ramuan ajaib. Minyak itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun. Hanya Tuhan yang bisa mengurapi seseorang untuk tujuan tertentu. Jika kita menggunakan minyak, itu seharusnya hanya menjadi simbol dari apa yang Tuhan lakukan. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Respect the Anointed Ones (Menghormati Orang yang Diurapi)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 26:1-25 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, menghormati pemimpin merupakan sikap terpuji. Tentu tidak semua pemimpin melakukan kebaikan. Tindakan penghormatan dilakukan karena kita percaya bahwa Tuhanlah yang menghadirkan pemimpin. Menghormati pemimpin adalah tanda menghormati Tuhan. Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud kembali menunjukkan penghormatan kepada Saul, sekalipun Saul memperlakukannya sebagai buronan. Daud memiliki kesempatan untuk membalas tindakan jahat Saul. Saat itu, Saul bersama dengan pasukannya tengah beristirahat. Agaknya kelelahan hebat membuat mereka terlelap (Ayat 7). Sebuah kesempatan tepat untuk bertindak menghentikan langkah Saul yang selalu hendak membunuh Daud. Abisai berinisiatif untuk menghabisi Saul (Ayat 8). Daud menolak dengan alasan karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan (Ayat 9). Sababat, bagi Daud, Tuhan sendiri yang akan bertindak menghentikan Saul. Daud menyuruh Abisai mengambil tombak dan kendi minuman Saul. Dengan tombak dan kendi di tangan, Daud mempertanyakan alasan Saul memburunya. Jika memang Tuhan yang memerintahkan hal itu, Daud akan datang dan bertobat. Jika manusia yang menyuruhnya, Daud mendoakan agar orang itu dikutuk Tuhan (Ayat 19). Pernyataan Daud membuat Saul menyesal. Saul berjanji akan menghentikan tindakannya (Ayat 21). Daud pun mengembalikan tongkat dan kendi Saul. Daud memercayai bahwa pemimpin datang dari Tuhan. Jika pemimpin melakukan hal yang buruk, Tuhan yang akan bertindak. Keyakinan Daud ini membuatnya menghargai Saul sekalipun sikap Saul terhadapnya buruk dan menyakitkan. Sahabat, di tengah kehidupan yang cenderung tidak menghargai pemimpin, kita diingatkan untuk menaruh hormat kepada pemimpin. Sikap hormat bukan berarti asal bapak senang. Kritik tetap boleh dilakukan asal semuanya disampaikan dengan sikap hormat. Tuhan telah mengizinkan keberadaan sosok tertentu sebagai pemimpin dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mempunyai cara dan waktu sendri untuk menolong kita. Bersabarlah! (pg).
