DALAM TOPANGAN TUHAN

Saudaraku,  surat wasiat yang dituliskan oleh mendiang aktor Korea Selatan yang ditemukan meninggal bunuh diri berbunyi seperti ini,”Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan.  Ini satu-satunya cara.” Sang aktor meninggal tragis karena ia tidak melihat cara untuk memulihkan dirinya dari skandal yang sedang dihadapinya.  Manusia masa sekarang dituntut untuk memiliki daya lenting agar bisa meneruskan hidupnya. Daya lenting adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.   Mari kita renungkan Yosua 1 : 1-9 sebagai renungan di  awal tahun 2024. Perjalanan eksodus sudah belangsung 40 tahun, generasi sudah berganti dan tidak ada kesempatan untuk kembali.  Orang Israel hanya punya satu pilihan: Maju sampai Tanah Perjanjian.  Namun di saat yang paling krusial justru Tuhan mengambil Musa karena kesalahan yang pernah dilakukannya.   Dalam kondisi seperti itulah Tuhan memilih Yosua untuk menjadi pemimpin yang baru dan memimpin manusia yang berjumlah begitu banyak, dengan karakter tegar tengkuk dan mencapai target untuk memberikan tempat tinggal bagi dua belas suku. Bukanlah perkara mudah bagi seorang Yosua yang selama ini ada di belakang seorang pemimpin besar bernama Musa.  Yosua perlu punya ketangguhan, fokus yang kuat dan daya lenting yang memadai untuk bisa mengerjakan tugasnya..   Ada dua hal yang menjadi syarat penyertaan Tuhan atas Yosua supaya bisa menyelesaikan pekerjaan besar itu, yaitu:  Menguatkan kepercayaan kepada Tuhan  Tantangan pertama yang harus ditaklukkan Yosua adalah dirinya sendiri mengingat Yosua butuh waktu dan nyali untuk menerima tanggung jawab yang begitu besar.  Maka Tuhan menawarkan diri-Nya kepada Yosua dengan menjadi jawaban sekaligus penjamin bagi  Yosua.   Dunia digital sudah menjadi dunia sesehari manusia masa kini.  Dengan adanya kecerdasan buatan, kecanggihan gadget dan keinginan manusia untuk terus belajar, menjadikan manusia overconfident, merasa bisa mengatasi semua.  Manusia perlu untuk menyadari keterbatasannya dan belajar mempercayai Tuhan, bahwa Tuhan mampu bekerja dengan cara yang luar biasa untuk MENOPANG  dan memberi kekuatan manusia untuk bangkit dari masa sulitnya. Mengikuti semua hukum dengan tegak lurus Tantangan kedua yang harus dikuasai Yosua adalah menetapkan fokus hidupnya. Fokus kehidupan inilah yang menjadi dasar dan semangat untuk terus berjuang di masa sulit. Yosua nantinya akan berhadapan dengan bangsa-bangsa yang asing sekaligus berjuang bersama orang-orang yang labil dalam iman.  Karena itulah Tuhan menginginkan Yosua memiliki keyakinan Firman yang kuat dengan menjalankan Firman Tuhan dengan tegak lurus dan taat dengan sungguh.   Manusia yang percaya Kristus perlu menata fokus hidupnya kepada Tuhan dengan komitmen untuk melakukan Firman-Nya dengan sungguh-sungguh agar mampu memulihkan diri dari segala luka hatinya.  Ketika ia menjadi pelaku Firman, maka hatinya akan dipenuhi damai sejahtera untuk dapat bertahan dalam kebenaran.  Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, tahun 2024 bukanlah tahun yang mudah.  Mari menjalani tahun yang baru dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, karena Tuhan berfirman, ”janganlah takut sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan bahkan menolong engkau, Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).   Mari tetap percaya dan jangan bimbang. Walaupun nantinya banyak tantangan yang harus dihadapi, mari miliki daya lenting dengan kekuatan Tuhan.  Teruslah maju, jangan menyerah. Selamat bertumbuh dewasa. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2024.  (Ag).  

MANUSIA BERENCANA, TUHAN YANG MENENTUKAN

Tahun 2023 sudah kita tinggalkan, dan kita memasuki tahun 2024. Setiap kita pasti memiliki rencana masing-masing di tahun yang baru. Yang belum punya pasangan mungkin berencana menikah, yang sekolah mungkin merencanakan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yang lain mencari pekerjaan, membeli rumah, atau rekreasi dengan bepergian ke luar negeri, dan lain sebagainya.  Dalam ilmu manajemen, rencana selalu berada di depan, sebelum pelaksanaan dan evaluasi. PDC atau Plan, Do and Check, merupakan kegiatan dalam sebuah aktivitas manajemen yang selalu berurutan. Rencana merupakan fondasi setiap langkah berikutnya. Ibarat rumah tanpa fondasi maka bangunan rumah akan mudah roboh atau hancur berantakan. Seperti seluruh aktivitas kehidupan tanpa berencana dulu, maka langkah selanjutnya akan tidak menentu, dan yang pasti sulit untuk melakukan apa yang harus dikerjakan dan dievaluasi.  Semua orang mempunyai rencana, namun seringkali rencana tidak berjalan sesuai harapan. Segala sesuatunya selalu berubah, peluang baru muncul, dan terkadang hambatan menghalangi. Nah, banyak orang bilang “Man Proposes but God Disposes” artinya kita merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Dalam Amsal 19:21, dikatakan: “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” Dengan kata lain manusia boleh saja merencanakan segala macam hal, tetapi kehendak TUHANlah yang akan terjadi.  Ada satu pelajaran penting mengenai perencanaan yang dapat kita petik dari ayat ini bahwa kecuali rencana kita merupakan bagian dari rencana kekal Allah, maka rencana itu tidak akan berhasil. ​ Kalau demikian, apakah lebih baik kita tidak berencana saja, toh Tuhan yang akan menentukan, jadi kita serahkan saja hidup kita kepada Tuhan. Mengalir saja, kata banyak orang. Sebanarnya Amsal 19:21 tidak menyurutkan atau melarang kita membuat rencana. Faktanya, di bagian lain dalam Alkitab, Allah meminta kita untuk merencanakan masa depan kita, “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan” (Amsal 21:5). Versi lain menerjemahkan ayat ini sebagai berikut, “Berencanalah dengan matang maka kamu akan berkelimpahan.” Menurut ayat terebut kita harus membuat rencana dengan hati-hati, namun saat kita membuat rencana, hendaklah kita menyadari bahwa rencana kita tunduk pada kedaulatan dan kehendak Tuhan. Rencana kekal Allah adalah yang tertinggi di atas semua rencana kita. Oleh karena itu, tidak semua yang kita rencanakan akan pasti terwujud. Kata rencana dalam Amsal 19:21 berasal dari kata kerja Ibrani khawshab yang berarti memikirkan sesuatu yang ingin dilakukan: “Banyak rencana yang ada di benak manusia.” Rencana adalah pikiran kita, yaitu hal-hal yang ada dalam pikiran kita atau hal-hal yang ingin kita capai atau peroleh.  Dalam bahasa aslinya kata pikiran dalam Amsal 19:21 bisa juga diterjemahkan sebagi hati. Itu sebabnya dalam alkitab versi King James kita membaca, “Ada banyak rencana di dalam hati manusia.” Hati dianggap sebagai pusat kehidupan kita. Rencana kita adalah apa yang menjadi pusat kehidupan kita. Ini adalah hal-hal yang kita sangat peduli, atau memotivasi kita untuk hidup.  Dalam Perumpamaan Orang Kaya yang Bodoh, sebuah perumpamaan yang menggambarkan dosa ketamakan, kita melihat orang kaya yang bodoh membuat rencana-rencana yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyenangkan dirinya saja (Lukas 12:18-19). Orang kaya yang bodoh membuat rencana yang egois dan serakah. Tetapi Tuhan berkata dalam Amsal 19:21, “Banyak rencana yang ada di benak manusia, tetapi kehendak TUHANlah yang terlaksana.” Oleh karena itu, sekali lagi, kecuali rencana kita merupakan bagian dari rencana kekal Allah, maka rencana itu tidak akan berhasil. .Apa pun rencana kita tahun ini, serahkan semua pada Tuhan. Mari kita dengan rendah hati mengakui bahwa Dia mengendalikan segala sesuatu. Seseorang penulis mencatat, “Livingstone berencana pergi ke Tiongkok, namun Tuhan menuntunnya ke Afrika, untuk menjadi misionaris-negarawan, jenderal, dan penjelajah. Alexander Mackay bersiap untuk bekerja di Madagaskar, namun diarahkan ke Uganda, untuk membantu pendirian salah satu misi paling luar biasa di dunia. Carey mengusulkan untuk pergi ke Laut Selatan, namun dibimbing secara illahi ke India, untuk memberikan Alkitab dalam bahasa ibu mereka kepada jutaan orang di India.” Mungkin anda punya rencana yang sangat besar dalam hidup anda, tetapi Tuhan bisa menuntun anda untuk melakukan hal besar lainnya untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk tunduk pada kehendak  dan kedaulatan-Nya yang kekal, bijaksana, dan sempurna. Ingat, tempat terbaik untuk kita berada adalah dalam kehendak Tuhan. Jika kita melakukan kehendak Tuhan, di mana pun kita berada, kita akan berada di tempat yang terbaik. Yang pasti adalah, “kehendak Tuhan tidak akan pernah membawa kita ke tempat di mana kasih karunia Tuhan tidak dapat menjaga kita.” Selamat berencana untuk tahun yang baru.  Ingatlah sekali lagi apapun yang kita rencanakan, semua itu bisa terjadi atau tidak pernah sama sekali, semua Tuhan yang menetapkan. Jagadeesh Kumar berkata, “Terkadang hal-hal tidak terjadi dalam hidup kita seperti yang  kita rencanakan tetapi terkadang hal-hal yang terjadi dalam hidup kita bahkan tidak tidak direncanakan, tetapi keduanya terjadi sebagai rencana Tuhan.”  Selamat memasuki tahun baru 2024. Tuhan memberkati! (SHJ). ​

A Unique and Different Call

PANGGILAN YANG UNIK. Sahabat, pada Selasa, 28 November 2023, saya diajak oleh bapak Ev. Andreas Christanday untuk menghadiri acara Ibadah Penahbisan Stephanus Damaris Hall di Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu (STAKT) “Pesat” Salatiga. Mengapa gedung pertemuan tersebut diberi nama Stephanus Damaris? Karena bapak Damaris merupakan “PAHLAWAN DESA” dan Yayasan Pesat sesuai dengan namanya Pelayanan Desa Terpadu, fokus pelayanan mereka di PEDESAAN. Pada tahun 1967 Stephanus Damaris memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten menteri dan memfokuskan hidupnya untuk memberitakan injil. Dia menerima panggilan yang unik. Walau  saat itu ia berada dalam kondisi yang cukup mapan, namun dengan kesadaran penuh ia berkomitmen menjadi penginjil dengan menjual segenap hartanya. Hati Ev. Damaris sangat mencintai Indonesia, utamanya yang ada di pedesaan atau daerah-daerah pelosok di Indonesia. Ketika Damaris semakin terkenal sebagai penginjil yang bisa berkotbah dan memiliki karunia nubuatan, hatinya tidak berubah terhadap kecintaannya dengan orang-orang yang ada di pelosok-pelosok daerah. Ia begitu peduli dan memerhatikan hamba-hamba Tuhan yang tinggal dan melayani di sana. Kerap kali ia membawa pakaian, memberikan motor, perahu, sejumlah uang atau apa pun yang diperlukan  hamba-hamba Tuhan yang kurang mampu guna kebutuhan hidup atau kebutuhan pelayanan mereka.. Setiap ia berkunjung dan memberitakan firman Tuhan di suatu gereja yang ada di desa, ia hanya membawa sehelai atau dua helai pakaian saja, karena isi tasnya diutamakan untuk membawa pakaian atau barang-barang yang dibutuhkan jemaat dan hamba-hamba Tuhan di desa tersebut. Uang persembahan yang ia terima setelah selesai berkotbah pun ia berikan kembali kepada istri hamba Tuhan yang ada di desa itu.Semua tindakan dan ajaran Evangelis Damaris banyak menginspirasi dan memberi dampak positif bagi dunia pelayanan gereja, kususnya untuk menyadarkan gereja-gereja di kota untuk peduli pada gereja-gereja di desa.  Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “A Unique and Different Call (Panggilan yang Unik dan Berbeda)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 19:19-21 dan Lukas 5:1-11. Sahabat,  ada berbagai macam cara Tuhan memanggil kita, baik untuk percaya atau untuk melayani-Nya (pelayanan apapun; tentu tidak harus menjadi pendeta). Dalam bacaan kita pada hari ini, Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa supaya Elisa mengikut Dia. Elisa izin ke orang tuanya, dan mengikuti Elia (1 Raja-raja 19:21). Panggilan berbeda diterima oleh Yohanes, Yakobus dan Petrus. Melihat kejadian yang ajaib, Petrus merasa tidak layak hidup dekat dengan rabi (guru) Yesus yang mengadakan mukjizat. Namun justru ia dipanggil untuk mengiring perjalanan Yesus (Lukas 5:10-11). Sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Sahabat, bagaimana Tuhan memanggilmu untuk percaya? Bagaimana Sahabat menerima panggilan untuk melayani? Setiap kita mempunyai panggilan yang unik dan berbeda satu dengan yang lain. Namun ada hal yang perlu kita miliki: Menanggapi panggilan itu dengan segenap hati, dan menjalani panggilan itu dengan penuh ketaatan.  Taatkah kita menjalaninya? Taatkah kita mengikuti-Nya? Mari, hari ini Tuhan mengingatkan panggilan-Nya kepada kita, karena itu mari kita menjalaninya dengan penuh ketaatan dan ketekunan.  Sahabat, perjalanan yang tidak mudah mungkin kita alami. Jalan berliku harus kita jalani. Namun ingatlah: Yesus sudah menjadi yang sulung dari apa yang kita alami dan kita hadapi sebagai orang yang mengikut Dia. Mari kita berjalan dengan langkah tegap. Dia yang kita percayai selalu di depan kita dan menyertai kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Ceritakan secara singkat bagaimana Sahabat dapat mengenal Yesus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu. Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Panggilan Tuhan untuk melayani adalah kasih karunia yang harus disambut dengan spontan, penuh sukacita dan rasa syukur. (pg).

MEREFLEKSI MASA LALU

Saudaraku,  Alkitab mencatat siapa Saulus orang Tarsus (Kisah Para Rasul 8 dan 9).  Surat Filipi menuliskan refleksi Rasul Paulus tentang fokus dan tujuan hidupnya setelah ia mengenal Sang Kristus.  Benarkah ia sengaja membuang masa lalunya demi Kristus? Mari membaca Filipi 3:1-16 Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari bacaan ini, yaitu: Perubahan fokus kehidupan Ayat 7 menjelaskan fokus hidup Paulus bukanlah Taurat lagi namun Kristus.  Perubahan ini tentunya berasal dari krisis kehidupan yang dialami Paulus dalam perjumpaan pertamanya dengan Kristus (Kisah Para Rasul 8: 3-6).  Dari masa krisis itulah Paulus menemukan bahwa Kristus lebih berharga dari apa yang dimilikinya saat itu.  Saking berharganya Kristus, ia menganggap masa lalunya bagaikan sampah (ayat 8) yang harus dibuang demi memperoleh Kristus.  Paulus sengaja mencatat pencapaiannya di masa lalu yang dulu menjadi kebanggaannya (Filipi 3:5-6).  Namun saat fokus hidup berubah, maka Paulus berani melepaskan segala pencapaian itu untuk mengejar Kristus, sekuat keinginannya mengejar Taurat di masa lalu.   Perubahan tujuan kehidupan Karena fokus berubah, maka tujuan hidup Paulus juga mengalami pergeseran.  Ia mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah mengenal Kristus agar ia menjadi serupa dengan-Nya sehingga pada akhirnya ia mengalami kebangkitan dari orang mati (ayat 10-11).  Bahkan dengan jelas Paulus mengatakan bahwa ia berlari (berusaha keras) untuk menuju panggilan surgawi dalam Kristus.  Paulus tidak santai untuk meraih panggilan surgawi, ia gigih untuk meraihnya, Keseriusan Paulus terhadap iman percayanya dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya.  Sebuah pepatah mengatakan: “Pengalaman adalah guru yang terbaik.”  Karena pengalaman didapat dari masa lalu, maka tidak salah kalau dikatakan bahwa masa lalu adalah guru yang terbaik. Pribadi Paulus dibentuk oleh masa lalunya, yang tidak lain adalah seorang Farisi yang oleh karenanya Paulus punya keseriusan dan kegigihan dalam mengejar dan membangun kepada Kristus.   Apa yang dikatakan masa lalu adalah sampah bukan berarti Paulus ingin sama sekali menghilangkan masa lalunya.  Paulus justru memakai energi masa lalunya untuk mengejar Kristus yang menjadi fokus dan tujuan hidupnya yang baru.  Ia melihat Kristus jauh lebih berharga dari apa yang dikejarnya dulu, maka ia mengarahkan mata rohaninya kepada Kristus secara penuh untuk mengejar-Nya dengan gigih dan semangat. Masa lalu bisa jadi pahit dan menyedihkan, namun pada realitasnya masa lalu tetaplah sejarah yang tidak mungkin bisa terhapus dari hidup seorang manusia.  Selalu masih ada sisa guratannya, masih ada samar jejaknya.  Daripada berusaha membuang, mari belajar untuk merefleksi, seperti Paulus.  Manusia ada sekarang karena masa lalu.    Daripada meratapi atau berusaha menutupi masa lalu, mari pakai pembelajaran masa lalu untuk menuju kepada fokus dan tujuan hidup yang lebih baik, makin serius dan dewasa dalam iman kepada Kristus.   Mari syukuri masa lalu karena jika Tuhan tidak bekerja dalam masa lalu, maka orang tidak akan menemukan-Nya di masa kini dan masa depan.  Tuhan masih dan akan terus bekerja menuliskan sejarah manusia.  Mari berjalan bersama-Nya dengan kepala yang tegak karena Dia. Selamat memasuki tahun 2024 dan selamat bertumbuh lebih dewasa. (Ag)

Keep Believe and Hope

HARAPAN. Sahabat, pada Minggu 24 Desember 2023 setelah saya dan istri mengikuti kebaktian pagi, saya menyempatkan berbincang-bincang dengan beberapa teman. Saya ingin tahu apa yang menjadi harapan mereka di tahun baru 2024. Sebagian besar dari mereka menjawab agar di tahun baru 2024 Pandemi Covid-19 tidak lagi melanda dunia, terutama Indonesia. Kedua terbanyak yaitu agar Pemilu di Indonesia pada 14 Februari 2024 berjalan lancar, aman, dan jujur, serta menghasilkan pemimpin yang mengedepankan NKRI dan kesejahteraan masyarakatnya. Ada cukup banyak orang memahami harapan sebagai impian belaka, sama seperti ucapan “Saya berharap sesuatu terjadi.” Akan tetapi itu bukan yang dimaksud Alkitab mengenai harapan. Definisi harapan yang Alkitabiah adalah “pengharapan yang pasti.” Harapan adalah sebuah bagian dari kehidupan orang benar yang teramat penting (Amsal 23:18). Tanpa harapan, kehidupan kehilangan maknanya (Ratapan 3:18; Ayub 7:6) dan di dalam kematian pun tidak ada harapan (Yesaya 38:18; Ayub 17:15). Orang benar menaruh kepercayaan dan harapannya pada Allah sehingga ia akan dibantu (Mazmur 28:7), dan mereka tidak akan bingung, malu, atau kecewa (Yesaya 49:23). Orang benar, yang mempunyai harapan yang memercayai Allah, mempunyai keyakinan bahwa Allah melindungi dan membantu (Yeremia 29:11) dan mereka bebas dari ketakutan dan kecemasan (Mazmur 46:2-3).Sahabat, ide harapan dalam Perjanjian Baru adalah kesadaran bahwa Kristus telah menggenapi janji Perjanjian Lama (Matius 12:21; 1 Petrus 1:3). Harapan kristiani berakar dalam iman dalam keselamatan illahi pada Kristus (Galatia 5:5). Harapan orang percaya diadakan oleh keberadaan Roh Kudus yang dijanjikan (Roma 8:24-25). Ialah harapan masa depan dimana orang mati dibangkitkan (Kisah Para Rasul 23:6), janji yang diberikan kepada Israel (Kisah Para Rasul 26:6-7), penebusan tubuh jasmani dan semua ciptaan (Roma 8:23-25), kemuliaan yang kekal (Kolose 1:27), kehidupan kekal dan warisan para orang saleh (Titus 3:5-7), kedatangan kembali Kristus (Titus 2:11-14), perubahan/transformasi menyerupai Kristus (1 Yohanes 3:2-3), keselamatan dari Allah (1 Timotius 4:10) atau sederhana saja, Kristus Sendiri (1 Timotius 1:1). Dalam rangka menyambut  tahun baru 2024, saya mengajak Sahabat untuk merenung surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dengan topik: “Keep Believe and Hope (Tatap Percaya dan Berharap)”. Bacaan Sabda diambil dari Roma 4:18-22 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat,  ketika menjalani hidup ini  terkadang tidak berjalan dengan baik ataupun tidak sesuai dengan yang kita harapkan, ada kalanya mengalami masalah, ataupun tantangan.  Namun tidak perlu takut karena kita memiliki Yesus sebagai sumber pertolongan dan pengharapan. kita perlu percaya serta tetap berharap pada Tuhan saja karena kepercayaan di dalam Dia bukanlah sesuatu hal yang sia-sia, Tuhan akan memperhitungkan semua kepercayaan kita kepada-Nya.  Firman Tuhan mengisahkan tentang Abraham yang memiliki kepercayaan serta pengharapan penuh kepada Tuhan, dan menantikan janji Tuhan, sekalipun sudah tidak ada dasar lagi untuk berharap,  namun Abraham terus percaya Tuhan pasti menepati janji-Nya dan memang pada akhirnya menggenapi perjanjian-Nya. Begitu juga saat ini,   walaupun sepertinya sudah tidak ada dasar lagi untuk berharap namun kita harus percaya bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan perkara yang ajaib. Jangan pernah melepaskan iman percaya kita, sebab Tuhan bukanlah manusia yang seringkali mengingkari janji. Jangan pernah bimbang, Firman Tuhan  mengatakan mereka yang bimbang tidak akan memperoleh apa pun. Juga dikatakan berbahagialah kita yang tidak melihat namun percaya. sekalipun saat ini kita belum melihat pertolongan Tuhan, tidak perlu khawatir, tetaplah percaya pada waktunya Tuhan pasti akan menolong kita. Di saat kita terus percaya pada Tuhan, maka kita akan melihat kuasa-Nya yang dinyatakan, sebab percaya adalah salah satu kunci untuk melihat dan menikmati mukjizat Tuhan, Sahabat, selain itu, kita juga harus tetap  kuat di dalam pengharapan, sebab hal itu akan  menjadikan kita kuat dalam menjalani hari-hari ke depan di tahun 2024. Jangan pernah hilang pengharapan, tidak peduli seberapa lamanya kita berharap pada Tuhan, tetaplah bertekun pada-Nya sampai pengharapan kita mewujud.  Jadikanlah pengharapan itu untuk kita meraih janji-janji-Nya. Untuk itu yang dibutuhkan: Tetap percaya kepada Tuhan Yesus saja. Mari mulai 1 Januari 2024 kita senantiasa tetap percaya dan berharap pada Tuhan selama-lamanya. Nantikanlah Dia berkarya dalam hidup kita. Selamat memasuki tahun baru 2024. Tetaplah percaya dan berharap. (pg). Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang menjadi harapan Sababat di tahun 2024 bagi dirimu, keluargamu, dan gerejamu? Terima kasih Sahabat telah bersedia menjadi pembaca setia “Sejenak Merenung”. Bagikanlah setiap hari “Sejenak Merenung” kepada handai tolan dan sanak saudara. Pesan di awal tahun 2024: Tetaplah percaya, pada waktunya Tuhan pasti akan menolong kita. (pg).

HADIAH BAGI PASANGAN HIDUP

Natal memang peristiwa tentang kelahiran Tuhan Yesus, tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa natal juga sering dilihat sebagai peristiwa yang digunakan pasangan suami istri untuk saling memberikan hadiah. Tentu saja hadiah tersebut umumnya diberikan sang suami kepada sang istri. Meskipun sebaliknya, ada juga seorang istri yang memberikan hadiah kepada sang suami.  Hadiah pada saat natal ternyata juga bisa diberikan dengan nilai yang spektakuler. Tengok saja bagaimana suami aktris Elizabeth Taylor, Richard Burton pernah memberikan kado natal berupa cincin berlian serta Ruby 8,24 Van Cleef & Arpels dengan total US$ 4,2 juta atau Rp. 59 miliar kepada sang istri.  Ada juga artis Beyonce memanjakan pasangannya, Jay-Z dengan arloji super mahal pada Desember 2012, berupa arloji Hublot “Bing Bang” yang saat itu dibanderol seharga US$ 5 juta atau Rp 70,2 miliar. Masih banyak lagi bagaimana para pasangan memberikan hadiah natal dengan nilai yang fantastis. Bagaimana dengan kita semua? Apakah Natal harus ditandai dengan pemberian materi yang menakjubkan kepada pasangan kita? Pengamsal mengingatkan: “Sekalipun ada emas dan permata banyak, tetapi yang paling berharga ialah bibir yang berpengetahuan.” (Amsal 20:15).  Tuhan dengan lembut mengingatkan kita bahwa batu Ruby dan berlian hanyalah batu, namun pengetahuan akan Tuhan adalah hal yang paling berharga di dalam hidup kita. Kita harus belajar bagaimana memahami  Natal dengan lebih fokus pada Firman Tuhan dan hubungan baik dengan pasangan dengan mengurangi dan memikirkan hal-hal yang sifatnya duniawi. Memang tidak selalu mudah untuk menghindari konsumerisme yang mendorong kita untuk menginginkan lebih banyak hal, padahal keinginan tersebut dapat menimbulkan konflik dalam sebuah pernikahan. Maka inilah yang harus kita lakukan, dan yang bisa membantu kita mengurangi gangguan terhadap dunia material. Tuhan memperingatkan kita supaya kita menjauhi materialisme. Melalui ayat ayat alkitab berikut, peringatan itu sangatlah jelas: 1 Yohanes 2:16 mengatakan: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia”.   Matius 6:33 berbunyi: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.  Galatia 5:16-17 berbunyi:  “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”  Ibrani 13:5  juga mengingatkan:  “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu …”  Jelas sekali ayat-ayat di atas mengingatkan kita untuk tidak memikirkan dan memusatkan hidup kita kepada materialisme, tetapi harus berpusat kepada Tuhan. Dalam rangka merayakan Natal, agar kita terhindar dari hal-hal yang sifatnya duniawi dan terus berpusat pada firman Tuhan, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri. Hindari Berbelanja Terus Menerus Kita harus mengurangi belanja dan membaca dengan teliti semua yang akan kita beli. Setelah menetapkan anggaran Natal bersama pasangan, kita harus membuat daftar belanja dan patuhi itu. Selanjutnya kita harus berhenti mempelajari setiap tawaran yang muncul di ponsel kita atau di mana pun. Kita cenderung ingin membeli lebih banyak daripada yang ada di daftar kita karena kita merasa bisa menemukan sesuatu yang lebih baik. Namun menemukan hadiah yang “sempurna” tidak sepenting hubungan kita dengan pasangan atau kesehatan rohani kita. Prioritaskan Pengalaman, Bukan Materi Merencanakan kegiatan yang murah dapat membuat kita tetap dalam semangat Natal dan jauh dari keinginan daging dan mata. Kita bisa mengajak pasangan kita makan bersama di warung sambil berdiskusi tentang Natal, kita bisa menghabiskan waktu untuk nonton bersama pasangan film-film keluarga yang menyegarkan, atau berkunjung ke panti asuhan, melayani orang-orang yang membutuhkan. Ciptakan Tradisi Sederhana Ada banyak hadiah yang diberikan kepada para pasangan, yang diberikan selama bertahun-tahun dan hadiah itu kemudian sering dilupakan. Namun ada hadiah tertentu yang memiliki makna mendalam yang bertahan lama, meskipun tidak mahal atau tidak dipungut biaya, dan itulah yang harus kita usahakan. Misalnya, setiap tahun pasangan bisa memberi hiasan pohon Natal sebagai lambang cintanya. Memberikan buku tentang bagaimana membangun hubungan suami istri, atau tentang mengurus anak-anak, dan lain sebagainya.  Semua tradisi sederhana itu harus kita ciptakan agar dapat membantu kita fokus pada permata hubungan kita dengan pasangan dan Tuhan, bukan pada permata dunia. Mungkin pasangan kita belum memiliki batu Ruby, atau pakaian yang gemerlap, tetapi itu bukan kebutuhan mendasar. Maka  kita perlu dengan lembut memberitahu pasangan kita bahwa ada yang lebih penting dan lebih berharga daripada batu permata dan pakaian atau tas yang mahal. Anugerah firman Tuhan melalui Amsal 20:15 memberi kita konsep merayakan Natal yang luar biasa. Bukan berfokus pada materi tetapi fokus pada pengetahuan akan firman Tuhan,  yang merupakan anugerah yang jauh lebih berharga daripada batu permata dan barang berharga apa pun. Selamat Natal, Saudaraku. Bersukacitalah. (SHJ).