HADAP KIDUL ATAU HADAP SELATAN

Nah ini, bagi orang yang jadi broker rumah atau real estate (perumahan) paham, rumah yang menghadap arah Selatan harganya akan lebih mahal daripada rumah yang menghadap arah lain. Kalau ditanya mengapa, ya dijawab ndak tahu, pokoknya begitu. Tapi bagi masyarakat di Jawa, khususnya yang tinggal di bagian Selatan Pulau Jawa lebih paham mengapa memilih rumah menghadap Selatan, karena katanya menghadap “sesuatu” kerajaan yang gaib, yang berasal dari lautan di Selatan Pulau Jawa. Maaf, pemikiran yang sesat, terlebih lagi bila pola pikir semacam  itu juga merasuki misalnya panitia Pembangunan Gedung Gereja.  Memang di Selatan Pulau Jawa tidak ada pulau-pulau lagi, hanya terbentang Samudera Indonesia yang luas. Udara dingin dari arah kutub Selatan senantiasa menghembuskan arus udara dingin yang dahsyat ke daerah khatulistiwa yang menyebabkan gelombang besar di Samudera Indonesia. Jadi tiupan angin di Pantai Selatan Jawa memang lebih kencang daripada di pesisir Utara Pulau Jawa. Ini bukan karena di Selatan ada sesuatu yang dahsyat, tapi memang hanya ada lautan luas yang tidak terhalang satu pun pulau. Meski rumah hadap Selatan katanya lebih mahal, namun saat membayar PBB ternyata Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) untuk harga tanah di suatu jalan tidak membedakan arah mana saja, pokoknya satu harga saja, entah itu menghadap Utara, Selatan, Timur atau Barat. Jadi preferensi rumah yang hadap Selatan lebih mahal hanyalah bentukan dari para broker atau marketer (pemasar) saja, namun secara NJOP harga tanah di sepanjang jalan yang sama ya harganya sama. Nah arah yang benar sesuai Alkitab gimana? Penulis kitab Ayub dan Mazmur rupanya sepakat bahwa arah utara lebih baik dari arah lainnya. Mari kita perhatikan Ayub 37:22:  “Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat.” dan  Mazmur 48:3:  “Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.”  Jadi dari kota Yerusalem ketika memandang ke arah Utara maka akan nampak Gunung Hermon, Gunung Tabor dan Gunung Gerizim. Khusus Gunung Gerizim ditetapkan menjadi tempat untuk memberikan berkat. Kitab Ulangan 27:12 mencatat: “Sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka mereka inilah yang harus berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, …”  Bahkan Gunung Hermon yang ada di paling utara tanah Perjanjian Kanaan, menjadi gunung yang paling istimewa. Mazmur 133:3 mencatat: “Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”  Gunung-gunung di Sion yakni Gunung Tabor, Gerizim dan Ebal ada di Selatan Gunung Hermon, jadi nampaknya udara dingin yang sejuk datang dari arah Utara atau Gunung Hermon bergerak ke selatan, bahkan udara sejuk ini mencapai kota Yerusalem yang ada di bagian selatan tanah Kanaan. Lebih selatan dari dari Yerusalem ada kota Bersyeba, setelahnya kawasan gurun belantara.  Jadi di Alkitab mencatat MENGHADAP ARAH UTARA merupakan suatu berkat, karena datangnya udara sejuk dan awan hujan dari arah Utara, yang bahkan oleh Ayub disebutkan sebagai sinar keemasan melambangkan keagungan Tuhan.  Saudaraku, dari nyanyian ziarah Daud di Mazmur 133:1-3 kita diingatkan bahwa kerinduan hati Tuhan adalah memberkati keluarga yang rukun yang dibangun di atas firman-Nya. Seperti Tuhan memberkati jemaat mula-mula yang setiap hari selalu berkumpul, bersehati, berdoa, memuji Tuhan, belajar firman, dan saling berbagi! Sungguh betapa indahnya sebuah keluarga yang menunjukkan kerukunan seperti itu. Ketika Sang Sumber Berkat itu berdiam di tengah-tengah keluarga yang rukun, maka keluarga itu pun menikmati kehadiran Pribadi-Nya yang limpah dengan ketenangan dan kedamaian sebab Ia memerintahkan berkat-berkat-Nya. (Surhert). 

SAM SUNG ALIAS SAN XING

Penjelasan di Google, menurut pendiri Samsung, arti dari kata “Samsung” (三星) dalam “hanja” Korea adalah “tiga bintang”. Sanxing (Hanzi: 三星; “Bintang Tiga”) adalah dewa dari tiga benda langit yang dianggap penting dalam astrologi dan mitologi Tiongkok: Jupiter, Ursa Major, dan Canopus. Tiga Bintang ini juga dikenal oleh orang Tionghoa sejak zaman dinasti-dinasti sebagai Fu Lu Shou, populer selama berabad-abad dalam kultur tradisional China yang menganggap tujuan hidup yakni untuk mencapai kebahagiaan (Fu), kemakmuran atau memiliki pangkat tinggi (Lu), dan umur panjang (Shou). Jadi memang orientasi dan tujuan orang-orang Tionghoa hanya mendapatkan kebahagiaan, kemakmuran atau memiliki strata sosial yang tinggi, dan umur panjang. Terlebih lagi untuk mencari kebahagiaan yang dalam bentuk riilnya yakni memiliki uang, maka uang menjadi sesembahan dan diciptakanlah Dewa Judi.  Pokoknya apa yang dapat memberikan fu–lu– shou, itulah yang akan disembah dan dipuja, kemudian digambarkan dalam berhala-berhala sesembahan. Bahkan di Singapura ada satu mall yang memakai nama Fu-Lu-Shao mall maksudnya agar semua tenant (Penyewa toko) di situ mendapatkan kebahagiaan.  Juga ada mainan patung kucing yang tangannya dibuat melambai-lambai, biasanya diletakkan di meja-meja kasir, maksudnya supaya uang datang, tidak tahu asal-usulnya mengapa memakai dewa kucing, hanya saja bunyi māo kucing memang mirip dengan bunyi mào yang artinya trading atau perdagangan.  Itulah adat Tionghoa, siapa yang bisa memberikan keberuntungan, itulah yang akan dipuja-puji. Saudaraku, baiklah kita belajar dari kisah nyata Raja Salomo yang demikian kaya raya berlimpah Fu-Lu-Shao dalam hidupnya. Salomo menuliskan pengalamannya: “Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur; …  membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku. Aku mengumpulkan bagiku perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah, mencari biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. (Pengkhotbah 2:4, 7-9) Namun akhirnya, dia merasa ngenas (sedih) melihat kehidupannya: “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin;  …” (Pengkhotbah 2:11)  Kita semua tahu ketika Salomo digantikan oleh anaknya, Raja Rehabeam, Kerajaan Israel pecah menjadi dua, Israel dan Yehuda, juga emas dan barang-barang berharga yang dikumpulkan oleh Raja Salomo dirampas oleh Raja Mesir. Jadi Raja Salomo yang sudah mendapatkan demikian melimpahnya kebahagiaan (Fu), kemakmuran atau memiliki pangkat tinggi (Lu), dan umur panjang (Shou), akhirnya merasa sia-sia saja, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin … Namun di bagian lain  Raja Salomo sempat mendapatkan hikmat untuk menuliskan kalimat indah berikut: “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”  (Amsal 22:4) Sebagai penutup Raja Salomo menyimpulkan:  “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pengkhotbah 12:13) Saudaraku, hari ini kita diberi dua pilihan, yaitu hidup dalam kesia-siaan atau hidup bermakna. Jika ingin hidup bermakna, jadikanlah Tuhan yang terutama dalam hidup kita. Tidak peduli apakah kita kaya atau miskin, sehat atau sakit, berpendidikan tinggi atau rendah, jika hidup tanpa Tuhan semua akan berakhir sia-sia.Oleh karena itu, marilah kita takut akan Tuhan dan menempatkan-Nya di atas segalanya. Dengan begitu, hidup kita akan berakhir dengan sukacita kekal. Sampai kapan pun juga, kita mau menghidupi firman Tuhan supaya tidak berakhir dengan sia-sia. Kita mesti optimis dan setia pada firman Tuhan yang menuntun kepada hidup sejati. (Surhert)

DEWA DAPUR

Saudaraku, ini kenyataan hidup, kalau Anda ada kesempatan piknik ke Taipei atau Taiwan, hampir di setiap blok ada kuil tempat pemujaan. Jumlahnya bisa ratusan, dan masing-masing punya HUT. Saking banyaknya permintaan libur untuk HUT masing-masing kepercayaan, Pemerintah Taiwan menetapkan hari libur resmi, fakultatif dan perayaan atau observances.  Untuk tahun 2024, sesuai di google, ada 54 hari – bandingkan dengan Indonesia yang hari libur 24 hari saja sudah diributin asosiasi pengusaha, ini di Taiwan yang resmi ada 54 hari, belum nambah lagi yang lokal. Jadi libur resmi sekitar 15 hari terutama imlek dan tahun baru, lainnya fakultatif.  Karyawan menganut suatu aliran boleh libur HUT pas perayaan setempat, tapi lainnya yang beda kepercayaan mesti masuk kerja, bahkan hari Natal 25 Desember bukan hari libur, yang Kristen boleh libur Natalan 1 hari, tapi lainnya tetap masuk. Nah, mengapa ada banyak kepercayaan dan aliran? Karena masing-masing suku dan marga punya jagoan masing-masing. Pokoknya siapa yang disembah harus bisa menurunkan rezeki dan kesehatan. Ini karena leluhur orang Tionghoa hidup di zaman kaisar-kaisar yang kejam, perlu mendapat banyak harta agar bisa menjadi orang kaya dan minta perlindungan dari penguasa setempat supaya bebas dari ancaman anak buah kaisar-kaisar yang semena-mena. Untuk itu orang-orang hanya yang menyembah siapa yang bisa menurunkan rezeki, juga tidak ada ikatan mesti doa jam berapa, bebas saja.  Rupanya menjadi kebiasaan orang Tionghoa sekarang ini, kebanyakan datang terlambat ke gereja, dan gereja yang menjanjikan banyak berkat akan mendapatkan banyak jemaat. Kalau Anda berkesempatan jalan-jalan ke daerah Gang Baru Semarang, perhatikan, dalam radius kurang dari 2 km, ada setidaknya 5 kuil besar dan kecil, yang masing-masing beda isinya. Ya karena masing-masing didirikan oleh berbeda marga, klan dan suku. Karenanya total sesembahan tradisional bisa lebih dari 1.000 oknum, ada arhat, dewa, malaikat, jenderal-jenderal perang, tokoh-tokoh zaman dulu, dan lain-lain. Tapi meskipun ada banyak sesembahan, hanya 2 saja yang nampaknya wajib ada sejak zaman awal dinasti-dinasti.  Kita bahas satu dulu, yakni Dewa Dapur. Namanya dalam lafal sini Tjioe Kun Kong, atau Zao Shen atau Zao Jun Gong. Kita tidak perlu tahu asal muasalnya, tapi jelas ini merupakan dewata orisinal di China daratan, bahkan menyebar ke Korea dan Jepang. Ceritanya dewa ini diutus Penguasa Langit agar mesti ada di setiap rumah, tugasnya mengawasi pemilik rumah dan kelakuannya. Diletakkan di dapur karena dapur menjadi lokasi utama setiap rumah, suami, istri, dan anak-anak selalu bertemu dan ngobrol-ngobrol, termasuk kalau-kalau ada KDRT. Nah si Dewa Dapur akan mencatatnya dan setiap tahun 6 hari sebelum imlek tiba dia akan naik ke surga untuk melaporkan tingkah laku pemilik rumah dan keluarganya.  Zaman dulu, mungkin dia bawa buku tebal atau ingatan di dalam otaknya demikian jernih sistematis sehingga bisa lapor dengan tepat.  Penguasa Langit kalau murka mendengar laporan Dewa Dapur, akan menjatuhkan lebih banyak kemalangan atau sakit daripada berkat ke pemilik rumah di tahun mendatang. Nah pemilik rumah juga punya akal untuk membujuk Dewa Dapur agar tidak lapor macam-macam. Tiap hari ada hio dipasang, dan sebelum dia naik ke surga maka mulutnya akan dioles madu, matanya ditutup manisan, jadi saat melapor hanya ngomong yang manis-manis dan mulutnya tidak ngoceh macam-macam. Nampaknya lucu, tapi ini kenyataan. Altar sembahyang lainnya di rumah ya untuk pemujaan leluhur atau sesembahan lainnya, diletakkan di tengah rumah atau dekat pintu masuk. Tapi Dewa Dapur tetap diletakkan di dapur.  Saudara, bagi kita yang percaya pada Tuhan Yesus, kita sebenarnya juga sudah mendapat pengawasan dan diawasi setiap saat oleh Tuhan. Nabi Musa menuliskan menulisnya dalam Kitab Ulangan 30:14 “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” Jadi Firman Tuhan atau perintah-perintah Tuhan sebenarnya sudah diletakkan di setiap hati kita dan siap dilakukan. Apa yang Saudara lakukan setiap hari? Raja Salomo menuliskan dalam Amsal 15:3 “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” Sedangkan di Kitab Maleakhi 3:16 dicatat “TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.” Ya, ada sebuah kitab peringatan yang ditulis di hadapan Tuhan terhadap orang-orang yang takut akan TUHAN. Siapa yang menulis? Malaikat. Jelas di zaman sekarang ini ada berbagai CCTV yang mengawasi gerak-gerik masyarakat, lalu ada “Big Daddy” dari satelit yang mampu mengawasi setiap orang, dan tentunya catatan kehidupan bukan lagi di kitab atau buku, tapi mungkin ada perangkat yang lebih canggih dari USD atau flashcard atau Google record yang dimiliki oleh TUHAN, jadi tidak perlu berlembar-lembar kertas untuk mencatat. Device ini ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik. Hati-hatilah dengan hidupmu. Untuk Saudaraku yang merayakannya: Selamat  merayakan Tahun Baru Imlek 2575. Semoga berkah keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kelimpahan, selalu ada untuk kita. Semoga segala usahamu membuahkan hasil yang gemilang, rezeki mengalir semakin deras, dan semakin banyak impianmu yang menjadi kenyataan. Oh ya, jangan lupa, dukunglah Yayasan Christopherus dengan DOA, DANA, DAN KARYA. (Surhert).

Doa Menghadirkan Kuasa Tuhan dan Mukjizat-Nya

PENGANTAR:Dalam Kitab Kisah Para Rasul bab 12 dikisahkan tentang peristiwa tragis karena ada martir kedua. Kali ini seorang rasul, yaitu Yakobus, saudara Yohanes yang Tuhan izinkan dibunuh karena Injil. Herodeslah pembunuh Rasul Yakobus dan kemudian menangkap serta memenjarakan Petrus. Malam sebelum Petrus dieksekusi, seorang malaikat menolong dia melarikan diri dari tahanan. Injil terus bergerak makin meluas.  Bacaan kita diambil dari Kisah Para Rasul 12:3-4: “Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.” Menurut ayat 3, adakah yang merasa senang dengan kematian Yakobus? Disebutkan “orang Yahudi”, merujuk pada pemimpin orang Yahudi yang berpengaruh di Yerusalem yang mendorong penganiayaan terhadap orang-orang percaya kepada Yesus Kristus (Gereja). Herodes telah berupaya untuk menyenangkan hati para pemimpin orang Yahudi ini.  Apa rencana Herodes selanjutnya setelah dia melihat bahwa pembunuhan terhadap Yakobus telah membuat senang orang-orang Yahudi? Dia ingin tampil di depan umum untuk menghukum mati Petrus. Jika kita mengupayakan untuk menyenangkan hati orang banyak, bukan Tuhan, yang pasti kita akan dituntun lebih jauh ke dalam dosa. Pada hakikatnya, semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan (Roma 3:23), dengan begitu menyenangkan manusia dapat membawa seseorang untuk berbuat dosa. APA MAKNA DOA MENGHADIRKAN KUASA TUHAN DAN MUKJIZAT-NYA? Setelah Petrus ditangkap, jemaat dengan tekun mendoakannya. Hal penting yang dapat kita pelajari dari kisah ini tentang dampak dari doa-doa kita terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Doa-doa kita yang tulus dan sungguh-sungguh mengundang mukjizat dan berkat Tuhan ke dalam kehidupan kita dan kehidupan orang lain. Apa artinya berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh? Maksud dari doa bukanlah untuk mengubah kehendak Bapa, tetapi untuk memperoleh bagi diri kita dan bagi yang lain berkat-berkat yang telah Tuhan berikan, tetapi yang dibuat dengan syarat bahwa kita memintanya dengan segenap hati. Berkat menuntut kerja atau upaya tertentu di pihak kita sebelum kita dapat memperolehnya. Doa adalah suatu bentuk kerja, dan merupakan sarana yang ditetapkan untuk memperoleh yang tertinggi dari segala berkat. KESIMPULAN: Dalam Kisah Para Rasul bab 12 ini, khususnya Kisah Para Rasul 12:1-5, dokter Lukas sebagai penulis Kisah Para Rasul menceritakan tentang pengajaran melalui kesungguhan dan ketulusan hati dalam berdoa. Berdoa, walau dipanjatkan oleh orang-orang dan tangan yang kecil tetapi doa menggerakkan hadirat Tuhan yang besar dan dahsyat.   Dalam Kisah Para Rasul 12:5 ada pernyataan, “Dengan tekun mendoakan”. Betapa pentingnya peranan doa bagi para pemimpin, seperti diuangkapkan oleh Presiden Thomas S. Monson berikut ini: “Saya menyampaikan terima kasih saya kepada Anda untuk kebaikan hati Anda kepada saya ke mana pun saya pergi. Saya berterima kasih kepada Anda untuk doa-doa Anda bagi saya. Saya telah merasakan doa-doa itu dan sangat bersyukur untuk hal itu”. Suatu gereja akan terdiri atas orang-orang yang dibentuk dalam jemaat setempat dan dipersatukan oleh Roh Kudus, yang dengan tekun mencari suatu hubungan pribadi dengan Bapa Surgawi dan Tuhan Yesus Kristus dalam doa. Melalui doa jemaat memiliki kesaksian yang berkuasa, orang berdosa akan diselamatkan, dilahirkan kembali, dibaptiskan dalam air dan dijadikan anggota jemaat. Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita dari Kisah Para Rasul bab 12, mari kita jawab pertanyaan berikut: Pesan apa yang Saudara peroleh pada pemahamanmu pada hari ini? Jelaskan apa makna “DOA MENGHADIRKAN KUASA TUHAN DAN MUKJIZAT-NYA?” Jelaskan, melalui doa jemaat memiliki kesaksian yang berkuasa. Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Doa yang sungguh-sungguh dengan tulus hati amat besar kuasanya. Amin (sp).

U L E

Saudaraku, ini ULE bukan istilah dari Nias ataupun Batak atau lainnya. Tapi lazim digunakan di bank, khususnya di kalangan bank yang mengedarkan uang. ULE artinya Uang Layak Edar, yakni uang kertas yang kondisinya masih bagus, masih bisa dihitung dengan menggunakan mesin, dan diedarkan lagi di masyarakat maupun melalui ATM. Bank Indonesia mengedarkan uang baru melalui bank-bank, yakni uang baru dikirimkan ke bank dan bank menyalurkan ke masyarakat. Dengan cepat uang kertas baru,  misalkan Rp10.000, berpindah tangan dari bank ke pedagang, ke pelanggan, ke penjual sayur mayur di pasar, ke nelayan dan penjual ikan, ke toko kelontong, ke sales canvasser, ke distributor susu,  disetor balik ke bank, lalu diambil ibu rumah tangga,  diberikan ke anaknya, jajan ke tukang es, si Rp10000 berputar lagi ke penjual sembako, dan masih berputar teruuuuss.  Pindah dari dompet ke tas, ke kantong, dompet lagi, dan berkeliling dari BI Jakarta ke bank di Bandung, terus ke Tasik, eh ikutan naik kereta ke Solo, lalu diajak terbang ke Medan, terbang lagi ke Batam terus ke Pontianak, lanjut ke Labuhan Bajo, diajak naik kapal barang ke Ambon, dan seterusnya. Hingga 8 bulan kemudian uang Rp10000 ini sudah kucel dan lusuh, diterima anggota jemaat, lalu dicemplungkan ke kantong kolekte, bendahara gereja agak ngomel:  “Kok uangnya bau”.  Lalu besoknya disetorkan ke bank. Nah, bank menangkap uang ini untuk disetorkan ke Bank Indonesia karena si Rp10000 sudah menjadi Uang Rupiah Tidak Layak Edar (UTLE) yang terdiri atas uang lusuh, cacat maupun rusak. Setelah diadministarsikan oleh BI, UTLE akan dimusnahkan. Meskipun si Rp10000 dari dari uang baru nyis-nyis keluar dari bank sudah berjalan-jalan berpindah tempat sesuai siapa yang menempatkannya dalam dompet atas tasnya hingga jadi ULE, diberikan ke berbagai orang dan kalangan, mulai dari artis, caleg DPRD, sopir, tukang bakso, PRT, anak sekolah hingga masuk kantong kolekte. Namun di mana pun si Rp10000 ini diberikan, maka si penerima akan mengucapkan TERIMA KASIH  karena sudah mendapatkan pembayaran atas jasa atau barang yang dijualnya.  Meski si uang kertas Rp10000 sudah menjadi UTLE, lusuh. sobek tetap diterima dengan disyukuri, karena setoran uang ke bank kalau kurang Rp10000 saja akan tetap ditagih oleh kasir bank. Alkisah, ini ada si Aliong. Lahir di Kudus. Sekolah SD,SMP, SMA, dan bergereja di Kudus. Kuliah di Semarang, lalu diterima kerja di Semarang di cabang pabrikan dari Kudus. Dia jadi sales rokok untuk wilayah Kabupaten Semarang, paling jauh ke Kendal,  Boja, Gunung Pati, Ungaran. Menikah dengan si Aling sekuliahan di Semarang, dan Aling kerja di percetakan di Kudus, jadi punya rumah merangkap toko di Bareng. Setiap Sabtu pagi Aliong balik ke Kudus, ketemu Aling, tahu-tahu anaknya dua.  Suatu ketika Aliong pensiun, lalu buka toko sembako dan jualan rokok di pasar Bareng. Suatu hari Pak Gembala besuk ke ruko Aliong, dan bertanya: “Ko Aliong, kalau ke gereja kok Minggu sore, sedangkan Ci Aling ke gereja pagi hari sekalian antar anak ikut SM. Apakah bisa ke gereja bersama-sama?”  Aliong menjawab “Pak Pendeta, kalau pagi pasar di sini ramai sekali, jadi mesti buka hingga jam 2 siang, jadi giliran saya sore ke gereja”.  Saudaraku, suatu ketika juga, tiba-tiba Ko Aliong kolaps. Jiwanya, karena sudah masuk kriteria diselamatkan, ya terbang ke pintu Surga. Ada Malaikat yang menyortir siapa-siapa yang boleh masuk. “Aliong, sini. Maju. Tangan kamu bawa oleh-oleh apa ke sini?” tanya Malaikat agak sangar. “Tangan saya tidak bawa apa-apa, di terbelo (peti mati) saya tidak bisa pegang apa-apa”,  Aliong menjawab. “Bukan oleh-oleh itu. Melalui tanganmu, berapa jiwa yang sudah kamu hantarkan ke Kristus?” Aliong mikir-mikir cukup lama. “Malaikat, hanya ada satu jiwa … “ “Siapa? “Itu Aling istriku, dia sebelum menikah tinggal di Gang Baru pojokan Capkauking, ibadah di seberang rumahnya, yang warna merah. Pacaran sama saya, mau masuk gereja, dibaptis … “ “Hanya satu?! Kamu dulu kerja di Semarang, jadi canvasser hingga ke pelosok-pelosok Kabupaten Semarang. Mana oleh-oleh dari situ? Kamu sehari ketemu orang sedikitnya 10 orang, kenapa tidak kamu kenalkan ke Tuhan Yesus? Anak-anakmu,  pernahkah kamu antarkan ke Sekolah Minggu dan kamu ketemu gurunya? Oleh-oleh jiwa hanya satu, tapi kamu dikasih umur hingga 71 tahun, bonus 1 tahun?” Aliong hanya diam.  Saudaraku, uang kertas, Si Rp10000 umurnya hanya 8 bulan, dari uang baru menjadi ULE, lalu masuk kategori UTLE, tapi di mana pun diberikan memberikan kebahagiaan kepada penerimanya, bahkan banyak yang mengucapkan terima kasih. Aliong atau mungkin kita, sudah dapat hidup sekian tahun di bumi ini karena anugerah Tuhan. Apakah kita selalu memberikan kebahagiaan kepada orang lain? Khususnya membawakan berita sukacita penebusan Tuhan Yesus Kristus? Berapa hasil dari tanganmu?  Saudaraku, kita sebagai orang percaya dan Pendukung Christopherus hendaknya selalu ingat dan setia melaksanakan amanat dari Tuhan Yesus sendiri: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). (Surhert)

PEMILIHAN UMUM

Bicara tentang pemilihan umum, sebenarnya peristiwa semacam  juga dicatat di Alkitab dalam kitab Bilangan pasal 16-17, hanya bukan berbentuk coblosan. Begini ceritanya: Setelah beberapa lama bani Israel dipimpin Musa keluar dari perbudakan Mesir, ada banyak kejenuhan dan kejengkelan di kalangan umat.  Terutama akibat ketidakpercayaan 12 orang pengintai yang dikirim meninjau Tanah Kanaan, karena hanya 2 orang, yakni Yosua dan Kaleb yang yakin bani Israel dapat masuk ke Tanah Perjanjian. Sedangkan yang lainnya malahan takut dan ingin balik ke Mesir karena 10 orang pengintai mengatakan ada raksasa  di sana dan pasti akan menggilas bani Israel.  Akibatnya TUHAN murka dan menghukum bani Israel untuk berkelana di padang belantara hingga segenap angkatan – yang umurnya di atas 20 tahun harus mati karena tidak percaya kepada Janji TUHAN. Umat yang menerima hukuman TUHAN dan diprovokasi oleh Datan dan Abiram memberontak ke Musa dan Harun. TUHAN menghukum Datan dan Abiram termasuk keluarganya dengan cara mengerikan karena tanah mendadak terbuka dan menelan mereka semua.  Namun setelah itu bani Israel kembali mempertanyakan kepemimpinan Musa dan Harun, apakah mampu membawa umat masuk ke Tanah Perjanjian. Mereka menuntut pergantian pemimpin. Menghadapi tantangan ini Musa cukup goyah, dan mungkin membuat perhitungan-perhitungan untuk pemilihan pimpinan tunggal.  Kira-kira begini: Ada berapa jumlah umat? Diperhitungan awal (Bilangan 1) dihitung ada 603.550 orang dari 11 suku,  tidak termasuk suku Lewi,  yang berumur 20 tahun ke atas dan sanggup berperang, jadi ini kira-kira semuanya pria. Belum yang berumur 20 tahun ke bawah dan kelompok wanita. Mungkin totalnya kira-kira 1.200.000 orang. Nah, cara memilih 1 orang pemimpin bagaimana? Apakah ada pemilihan tiap suku dulu, lalu caranya bagaimana, mengingat jumlah orang dalam tiap-tiap suku berbeda. Ada yang jumlahnya besar seperti suku Yehuda, ada yang jumlahnya sedikit seperti sku Manasye. Bagaimana memilih calon-calonnya? Belum lagi perhitungan untuk TPS dan KPPS (petugasnya). Kalau di Indonesia 1 TPS untuk 300 suara,  kalau 1.200.000 jiwa akan dibutuhkan  4.000 TPS. Dimana tempat TPS-nya? Zaman itu belum ada kertas, jadi bukan coblosan, tapi mungkin memasukkan ranting kayu atau bambu ke kotak suara seperti pemilihan kepala desa. Nah akan ada berapa pohon yang akan ditebang dan dibuat tusukan pemilihan? Tentu Musa sangatlah mumet membuat draf untuk pemilihan calon tunggal pemimpin. Dia pasti meletakkan segala kesusahannya  di hadapan TUHAN, dan TUHAN berfirman: “Katakanlah kepada orang Israel dan suruhlah mereka memberikan kepadamu satu tongkat untuk setiap suku. Semua pemimpin mereka harus memberikannya, suku demi suku, seluruhnya dua belas tongkat. Lalu tuliskanlah nama setiap pemimpin pada tongkatnya.  Pada tongkat Lewi harus kautuliskan nama Harun. Kemudian haruslah kauletakkan semuanya itu di dalam Kemah Pertemuan di hadapan tabut hukum, tempat Aku biasa bertemu dengan kamu.”  (Bilangan 17:2-4). Jadi tiap suku hanya boleh mengajukan satu calon tunggal, total 12 calon, dan ada 1 petahana dari suku Lewi yakni Harun. Setelah keputusan TUHAN ini pastilah tiap-tiap suku ribut dengan pemilihan awal kita-kira siapa yang akan dicalonkan sebagai caleg mewakili sukunya. Duabelas tongkat para caleg diletakkan di dalam Kemah Pertemuan, dan esoknya ketika Musa menengok hasil pemilihan TUHAN, tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam (Bilangan 17:5-8). Jadilah Harun ditetapkan sebagai pemimpin umat, seumur hidupnya hingga dia meninggal.  Itulah gaya pemilihan umum yang ditentukan TUHAN saat bani Israel keluar dari tanah Mesir. Di Google dicatat peristiwa keluar dari Mesir itu terjadi pada tahun Yahudi 2448 AM atau sekitar 1313 Sebelum Masehi, lebih dari 3300 tahun yang lampau.  Saudaraku, dalam beberapa hari mendatang kita semua akan melakukan coblosan memilih caleg DPRD, DPR, DPD dan calon Presiden. Kesempatan lima tahunan ini hukumnya wajib bagi kita yang percaya pada TUHAN, karena TUHAN melalui tangan-tangan umat-Nya akan memilih siapa-siapa yang akan menjadi pemimpin Indonesia untuk periode 5 tahun mendatang. Jangan ikut bujukan setan yang mengajak Saudara untuk tidak ikut coblosan atau merusak TPS dan surat suara, hingga terjadi kekacauan.  Berdoalah, minta TUHAN sendiri memberikan hikmat di dalam hati kita, dan kita mantap menuju TPS untuk melakukan coblosan, sesuai yang dikehendaki TUHAN. Berdoalah supaya TUHAN menyertai dan memberkati pemilihan umum di Indonesia. Saat pemimpin-pemimpin Indonesia terpilih nanti, biarlah mereka semua ini dengan tulus dan rendah hati dapat berdoa di hadapan TUHAN: “Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Umat Indonesia, lebih dari 270 juta jiwa. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”  (1 Raja-Raja 3:8-9). (Surhert).

“BONUS” UCAPAN TERIMA KASIH

Saudaraku,  ada tiga kata penting  diajarkan kepada anak-anak di usia mereka, yaitu maaf, tolong dan terima kasih.  Ketiga kata itu penting diucapkan dengan tulus untuk menunjukkan penghargaan kepada orang lain.  Yesus pernah menyinggung hal ini dalam Lukas 17: 11-19.  Mari renungkan. Ada hal menarik yang diceritakan oleh Lukas dalam kisah ini, yaitu apa yang diperoleh oleh mantan orang kusta yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih.  Apa itu? Kesembuhan fisik dan pemulihan masa depannya. Sebagaimana sembilan temannya yang lain, orang ini pun disembuhkan.  Saat ia memeriksakan diri pada para imam dan mendapatkan pernyataan resmi bahwa ia sudah tahir maka itu berarti kehidupannya kembali cerah.  Ia akan kembali ke keluarganya, masyarakat harus kembali menerimanya, segala hinaan akan ditinggalkan dan ia akan bisa menata hidupnya kembali.  Sungguh luar biasa pengaruh kesembuhan ini bagi hidupnya.  “Bonus” yang didapatnya saat ia kembali untuk berterima kasih pada Yesus adalah pemulihan spiritualnya.  Yesus menyatakan bahwa imannya lah yang menyelamatkannya, yang berarti orang ini telah memercayai Yesus sebagai Sumber kesembuhannya.  Ia mengakui kuasa Sang Kristus sehingga ia mengalami pemulihan yang sejati.  Pertemuannya dengan Yesus mengubah hidupnya.  “bonus” ini menjadi modal utamanya untuk menata hidupnya dengan lebih sempurna sebagai orang yang sudah dipulihkan. Meminta kepada Tuhan merupakan bagian dalam kehidupan orang percaya.  Ayat-ayat yang menghimbau untuk berani meminta kepada Tuhan bertebaran di dalam Alkitab dan sering kali dikutip oleh para pelayan Tuhan.  Ayat-ayat itu meneguhkan dan sering kali menjadi kekuatan dalam kesulitan.  Namun saat Tuhan sudah menolong, masihkah ada kesadaran untuk mengucap terima kasih dan memuliakan Dia?  Atau setelah mendapat manisnya pertolongan, lalu Dia ditinggalkan karena urusan telah selesai?  SesungguhnyaTuhan tidak gila hormat.  Bagi-Nya ada atau tidak ucapan terima kasih manusia tidak mempengaruhi-Nya.  Justru kesadaran untuk mengucap terima kasih kepada Tuhan memiliki dampak bagi manusia itu sendiri,  yaitu pemulihan dalam spiritualnya.   Saat manusia berterima kasih kepada Allah, manusia itu memberikan penghargaan akan kehadiran-Nya yang Maha Kuat dan pengakuan akan kelemahannya sendiri.  Kesadaran inilah yang membuat manusia akan makin bergantung penuh kepada Tuhan dan hidup dengan sikap berjaga-jaga.  Di zaman yang semakin cuek dengan sesama ini,  tetaplah selalu mengucap terima kasih untuk kepedulian Allah kepada anak-anak-Nya. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Directing Life to Christ

KENANGAN BURUK. Pernahkah Sahabat  tiba-tiba dihampiri kenangan buruk ketika sedang  berkegiatan sehari-hari? Hal itu tentu saja mengganggu. Apalagi jika hal tersebut muncul ketika bersantai bersama orang tersayang, atau bahkan ketika mau tidur! Kita perlu menyadari bahwa kenangan baik maupun buruk menghampiri saat kita tidak sepenuhnya sadar akan apa yang sedang kita lakukan.  Seperti ungkapan berikut: “Tubuhnya memang di sini tetapi pikirannya tidak”. Dengan begitu otak akan mengambil alih sebagian kesadaran kita yang hilang dengan mendatangkan kenangan dari masa lalu. Sering kali kenangan yang datang adalah kenangan buruk. Sesungguhnya semua orang  memiliki kenangan buruk di masa lalu, namun sebaiknya tidak usah diratapi. Kadang memang tidak mudah untuk melupakannya,  tetapi jika terlalu dipikirkan maka akibatnya tubuh menjadi lebih gampang terserang penyakit.Sebuah penelitian di University of Granada menemukan bahwa sikap seseorang saat memikirkan masa lalu bisa memengaruhi kesehatannya secara fisik. Makin banyak kenangan negatif, maka persepsi tentang hidup dan juga status kesehatannya cenderung lebih buruk.Jika kenangan masa lalunya didominasi oleh kemarahan, kesedihan dan hal-hal negatif lainnya maka kemampuan untuk menjalani pekerjaan sehari-hari akan menurun termasuk dalam menjaga kesehatan. Demikian juga persepsinya tentang rasa sakit, biasanya menjadi lebih peka terhadap rasa nyeri. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Directing Life to Christ (Mengarahkan Hidup Kepada Kristus)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 17:1-23. Sahabat, setiap orang pasti memiliki pengalaman dari masa lalu yang ingin dilupakan. Kenangan buruk itu sering kali menghantui kita dan sangat mengganggu kehidupan kita hari ini. Kita ingin melupakannya, tetapi sayangnya, hal tersebut tidak mudah.  Bacaan kita pada hari ini meriwayatkan kenangan buruk dalam sejarah kerajaan Israel. Sedapat mungkin mereka ingin melupakannya, tetapi peristiwa itu dicatat supaya tidak diulangi kembali.Pada waktu Hosea memerintah sebagai raja Israel, ia melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat di mata Tuhan (Ayat 1-2). Hosea secara sengaja bersekutu dengan raja Mesir dan mencoba mengkhianati raja Asyur. Ketika perbuatannya terbongkar, raja Asyur merebut Samaria, dan mengangkut orang-orang Israel ke tempat pembuangan (Ayat 3-6).Sahabat, penulis Kitab Raja-raja kemudian menguraikan dosa-dosa yang diperbuat oleh Kerajaan Israel: Mereka menolak Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir dengan cara menyembah allah lain (Ayat 7), mereka menolak teguran Allah yang memanggil mereka bertobat dari penyembahan berhala (ayat 8-14), mereka menolak ikatan perjanjian dengan Tuhan dengan cara memilih membuat dua anak lembu tuangan dan patung Asyera (Ayat 15-16), serta mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban dalam api (ayat 17-23). Apa yang mereka lakukan adalah kekejian di hadapan Tuhan, dan karena itu, mereka mendapat pendisiplinan dari Tuhan.Bagaimana cara terbaik agar kita dapat menghapus kenangan buruk yang tidak ingin kita ingat kembali? Alkitab menegaskan perlunya kita sebagai orang percaya untuk menjadi ciptaan baru, mengalami pembaruan pikiran dan cara pandang, agar kita tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan mengarahkan pandangan kita sepenuhnya kepada Kristus (2 Korintus 5:16-17; Roma 12:1-2).Sahabat, hanya dengan pikiran yang sudah diperbarui, kita dapat menilai diri secara tepat, serta memahami apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita. Anugerah Kristus bukan hanya tentang melepaskan kita dari dosa, melainkan juga mengarahkan hidup kita hanya kepada Kristus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika Sahabat ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusikmu. Sahabat boleh melihat ke belakang, namun jangan membawanya kembali. (pg).