TERUS BERGERAK BERSAMA YESUS

Saudaraku,  kaum muda Zaman sekarang akrab dengan kata mager yang merupakan akronim dari malas gerak.  Mager menandakan seseorang enggan bergeser dari tempatnya dan sudah berada dalam posisi yang nyaman. Mari merenungkan Markus 4:35-41. Ajakan Yesus untuk menyeberang ke Gerasa menjadi sesuatu yang  karena daerah Gerasa dikenal sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat non Yahudi.  Ini adalah pengalaman pertama untuk para murid pergi ke sana bersama Yesus dan mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan di sana.  Yesus mengajak mereka pergi meninggalkan kota Kapernaum yang Yahudi dan merupakan daerah yang nyaman buat para murid untuk menuju daerah yang lain.   Yesus menarik para murid untuk keluar dari zona nyaman mereka untuk belajar melangkah dalam suasana yang baru.  Dalam proses keluar itu, mereka berhadapan dengan topan yang begitu dahsyat dan mereka sangat ketakutan hingga membangunkan Yesus yang sedang tidur dengan kata-kata yang pedas, seakan meminta tanggung jawab Sang Guru yang membawa mereka keluar dari zona nyaman mereka.  Namun Yesus menunjukkan otoritasnya atas alam dan membuat badai itu berhenti seketika.   Sebagaimana para murid, Tuhan sedang membawa gereja masa kini untuk keluar dari zona nyaman.  Lepas dari pandemi yang mengubah Sebagian besar metode pelayanan, kini gereja di Indonesia harus terus sigap dengan berbagai perubahan yang bisa terjadi kapan saja.  Pemilu yang baru saja diselesaikan oleh sebagian besar rakyat Indonesia (ada beberapa daerah yang pencoblosannya ditunda karena berbagai faktor), jelas akan memberikan suasana baru bagi langkah gereja untuk melaksanakan misi penginjilannya bagi Indonesia.    Tuhan tidak menginginkan gereja mager dan terlena dengan zona nyaman. Gereja harus mulai bersiap dengan perubahan zaman. Perubahan politik yang memengaruhi kebijakan, perubahan teknologi yang memengaruhi pola berpikir masyarakat, perubahan sosial yang besar dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, dan lain lain.   Tuhanlah yang memimpin gereja untuk terus bergerak menuju zona pelayanan yang terus berkembang sesuai dengan konteks masa kini, yang dalam prosesnya gereja akan berhadapan dengan banyak kesulitan, jenis “badai” yang baru yang mengejutkan dan mungkin sulit untuk dihadapi dengan pengalaman dan kekuatan sendiri.  Namun percayalah bahwa Tuhan sanggup untuk memberi pertolongan, walau seakan pertolongan itu serasa kurang cepat.   Mari bergerak dengan percaya.  Selama Tuhan masih menjadi pusat dan memimpin perjalanan menuju kepada perubahan itu, maka setiap tantangan akan bisa dihadapi.  Tidak perlu takut dengan perubahan, tetaplah jalankan misi Allah karena Allah sendiri yang akan memimpin perjalanan itu.  Mari belajar taat dan percaya pada pimpinan-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Abandoned by God

DIBUANG. Sahabat, dibuang mempunyai konotasi: Sudah tidak dapat dipakai lagi; sudah tidak ada nilainya atau harganya; sudah tidak dibutuhkan; dan sudah tidak disukai.  Post power syndrome acapkali menyerang orang-orang yang memasuki masa pensiun. Kondisi kejiwaan yang memicu rasa tidak nyaman lantaran merasa TERBUANG dan terlupakan. Perubahan yang bertolak dari penurunan aktivitas ini ternyata sanggup memengaruhi cara berpikir seseorang dalam menyikapi kehidupan secara negatif. Tak sedikit yang mengalami keterpurukan hidup ketika tidak mampu keluar dari perangkap pemikiran semacam itu. Sahabat, masa tua menjadi menakutkan karena ada perasaan DIBUANG dan ditinggalkan TUHAN. Itulah sebab Pemazmur meminta agar TUHAN tidak meninggalkannya sampai masa tua dan rambutnya memutih. Memang harus kita akui bahwa menjadi tua bukanlah pilihan tapi kepastian. Persoalannya adalah bagaimana kita mengisi hari-hari di masa tua yang menjadi pilihan itu. Tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam perasaan seolah-olah DIBUANG ketika usia makin bertambah.  Kegelisahan menghadapi masa tua ini juga pernah dialami oleh orang sehebat dan sebesar Daud. Dalam Mazmur 71:1-24, tercermin perasaan Daud yang dalam masa tuanya sering muncul pikiran negatif. Ia sudah tidak setangguh ketika masih muda, orang-orang yang dulu menghormatinya berbalik memusuhinya, mengejek dan mengancamnya. Dalam kondisi seperti itu Daud mengenang perjalanan hidupnya bersama Tuhan sejak ia masih muda. Dia yang dulu telah terbukti setia dan berkuasa, kepada Dialah kini ia semakin bersandar dan akan terus melayani-Nya.  Usia mungkin menjadi batasan bagi kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Berapa pun usia kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk terus berbuah. Tuhan akan tetap bisa memakai kita secara luar biasa, tanpa melihat berapa pun umur kita sekarang. Syukur hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Abandoned by God (Dibuang Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 24:18 – 25:21 dengan penekanan pada 2 Raja-raja 24:20. Sahabat,  Zedekia termasuk raja dalam akhir sejarah Yehuda. Karena memberontak terhadap Babel (2 Raja-raja 24:20), Zedekia diserang Nebukadnezar (2 Raja-raja 25:1-6), anak-anaknya dibunuh (2 Raja-raja 25:7), dan dia sendiri dibunuh di Babel (2 Raja-raja 25:21).Alkitab menggambarkan kehancuran Yehuda secara menyeluruh. Perkakas dari Bait Allah dan semua orang penting diangkut ke Babel (2 Raja-Raja 25:13-21). Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah sendirilah yang MEMBUANG Yehuda (2 Raja-raja 24:20).Sahabat, harapan masa depan dan hidup yang lebih baik hanya mungkin jika ada kesadaran akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Itulah yang disuarakan oleh para nabi. Kesabaran dan pengampunan dari Tuhan tidak dapat dipermainkan. Yehuda tak bisa lagi mengelak dari kehancuran.Berbagai tonggak kehancuran juga terjadi dalam sejarah umat manusia: Berlin, Auschwitz, Stalingrad, Hiroshima dan Nagasaki. Kejahatan kemanusiaan dan kengerian sejarah akibat kejahatan hati manusia bukan hal yang asing dalam sejarah modern. Jika terus terjadi penyangkalan terhadap dosa-dosa sejarah, maka tidak mungkin ada masa depan dan kehidupan yang lebih baik.Konsekuensi dosa bisa sangat menghancurkan, seperti yang kita baca pada sejarah Yehuda. Kenyataan hari-hari gelap harus dijalani di pembuangan di Babel.Berbagai dosa dalam kehidupan kita juga sering menghasilkan tragedi, korban, dan kehancuran, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam keluarga kita. Betapa sering kita hidup dalam penyangkalan dosa-dosa tersebut. Namun, Tuhan terus hadir dan bekerja dalam kehidupan kita. Selalu ada harapan untuk masa depan jika kita berbalik dan mengarahkan hati kepada Tuhan.  Sahabat, memang perubahan tidak terjadi seketika, sama seperti Israel yang harus menjalani hukuman pembuangan. Meski demikian, Allah yang bekerja dan menyertai di Yerusalem juga ikut dan menyertai Israel di pembuangan di Babel. Menjalani hidup bersama Tuhan, baik dalam waktu susah, maupun waktu yang baik, itulah harapan dan kekuatan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersykurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Mazmur 71:17-19? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan menjanjikan kepastian bahwa kita tak akan pernah bersentuhan dengan hidup sebagaimana diisyaratkan oleh peribahasa habis manis sepah dibuang. (pg).

EMAS

Hampir semua orang paham tentang emas atau gold. Termasuk sebagai Logam Mulia, karena harganya mahal, bahkan banyak orang mewariskan emas kepada anak cucunya. Dalam  surat 1 Korintus 3:10-14 Rasul Paulus mengatakan: Dia sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memerhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.  Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.  Jadi suatu hari akan ada ujian rohani bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Hidup rohani berkualitas, yang bagaikan EMAS akan paling tahan uji, sedangkan lainnya akan hangus. Benarkah demikian? Sejak SMA kita belajar ilmu Kimia antara lain tentang air (H2O) punya massa jenis 1,0 g/cm3 dan mendidih di 100 derajat Celcius, juga tentang logam emas (Au), massa jenisnya 19,3 g/cm3 dan titik didihnya 1.064 derajat Celcius.  Alkisah,  ada satu kantor pegadaian yang punya banyak cabang, banyak nasabahnya yang menggadaikan barang-barang berharganya seperti emas dan berbagai perhiasan, namun kemudian para nasabah itu tidak mengembalikan pinjamannya, otomatis barang-barang jaminannya tidak ditebus. Jumlah barang jaminan itu hingga ratusan kilogram. Akhirnya pemilik pegadaian bingung modalnya habis karena pinjaman nasabah tidak kembali.  Dia semula merasa senang melihat banyak jaminan berupa emas dan perhiasan, tapi berubah jadi sangat khawatir karena  tidak ditebus, padahal harga emas naik. Mestinya nasabah mengembalikan dana sesuai pinjaman dan barang jaminan bisa ditarik kembali. Bingunglah, apakah barang jaminan bentuk emas ini asli atau palsu. Bagaimana membuktikannya? Pergi ke tukang atau toko emas di pasar, mereka mengecek kadar emas dengan menggosok-gosokkan emas ke batu hitam asal Sungai Klawing Purbalingga, kemudian sisa gosokan yang menempel di batu ditetesin cairan kimia “air raja” (aqua regia), campuran asam klorida (HCL) pekat dan asam nitrat (HNO) pekat. Tukang emas bisa membandingkan kadar karat emas dengan hasil gosokan. Tapi kalau jumlah yang dites sedemikian banyak, ya perlu waktu berhari-hari.  Kebetulan istri pemilik pegadaian adalah seorang dokter radiolog, lalu ditanya apakah X-ray atau alat XRF analyser bisa mendeteksi emas, seperti rontgen atau USG yang bisa menembus tubuh dari depan hingga belakang dan mampu mengenali setiap organ tubuh. Ternyata massa atom yang membentuk emas sangat tinggi, ketika menembakkan sinar X-ray ke permukaan emas dan pancaran sinar fluorescence X-ray dianalisa jadinya hanya bisa menganalisa permukaan emas, tidak bisa menembus emas yang batangan (bullion). Saudarku,  di Google bisa dibaca, pada tahun 2006 satu negara di kawasan Afrika membeli 529 kg “emas”, yang ternyata hanya 30 kg yang murni. Emas batangan yang dibeli tidak murni, tapi di dalamnya ada logam Tungsten yang memiliki massa jenis 19.25 g/cm3, mirip emas 19,3 g/cm3. Jadi kalau 1 kg Tungsten dan 1 kg emas ditimbang dalam air seperti halnya hukum Archimedes, luapan air yang tumpah hasilnya mirip, apalagi kalau tidak ditimbang memakai timbangan khusus laboratorium yang bisa menghitung berat hingga 0,00001 gram (5 digit di belakang 0). Logam Tungsten disepuh dengan emas asli, dan dijual sebagai emas batangan bisa mengelabuhi pembeli. Harga Tungsten memang lebih murah daripada harga emas. Kacaulah kalau orang tidak bisa mengenali emas asli (murni) atau emas palsu. Petugas  di pegadaian mungkin memeriksa emas jaminan dengan cara menggosok-gosok memakai batu hitam, dapat mengetahui kadar karat emas, tapi kenapa nasabah tidak menebus barang jaminannya? Akhirnya pemilik pegadaian diingatkan tentang ayat-ayat di kitab 1 Korintus. Satu-satunya pembuktian kemurnian emas hanya dengan cara dibakar.  Pergilah dia ke Perusahaan yang menyediakan fasilitas peleburan. Barang-barang perhiasan mulai dilebur dilelehkan. Suhu semakin panas, semakin banyak cincin dan gelang yang nampak emas mulai meleleh, ternyata di dalamnya memakai rangka kawat atau rangka aluminium. Lalu banyak yang berwarna kuning emas mulai meleleh, ternyata kuningan (brass) yang meleleh di 940 derajat.  Suhu dinaikkan terus hingga 1.064 derajat Celcius, emas yang meleleh, dan mengumpul sesama emas. Yang tersisa copper (tembaga) baru meleleh di 1.084 derajat. Logam-logam bukan emas terpisah dengan sendirinya dan mengumpul sesuai jenisnya, dan yang sekelas kawat menjadi abu. Saudaraku, benarlah kata Alkitab, bagaimana kerohanian masing-masing orang akan diuji oleh api, api Tuhan. Jika kualitas hidup rohani kita hanya dibalut hal-hal yang remeh-temeh, apalagi seperti kayu, rumput kering atau jerami, ya akhirnya hanya menjadi abu rongsok. Namun kalau kita membangun hidup rohani kita dengan standar sesuai Firman Tuhan, itu seperti dibuat dari emas murni, saat berbagai pencobaan datang iman kita tetap teguh berdiri. Bukan seperti orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, saat kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya (Matius 7:27). (Surhert).

Live in God’s Plan

RENCANA TUHAN. Sahabat, bukan perkara mudah untuk memahami segenap rencana Tuhan dalam hidup kita, terutama ketika rencana-Nya berbeda dengan rencana kita. Ketika kita mengikuti rencana-Nya, kita seringkali harus melewati jalan yang berliku yang membuat kita ragu untuk terus melangkah atau berhenti dan mencari jalan lain yang lebih mudah. Dalam buku kumpulan khotbahnya “Pengharapan Memberi Keberanian”, pendeta Eka Darmaputera menuliskan: Selama menjadi pendeta, pertanyaan yang banyak disampaikan dalam PA, ceramah, katekisasi, atau percakapan pribadi adalah apakah ketetapan Tuhan itu ada? Apakah Tuhan benar-benar sudah punya rencana atas masing-masing kita? Sebelum saya lahir, misalnya, apakah Tuhan sudah menetapkan pada jam sekian, menit sekian, detik sekian, saya berdiri di hadapan jemaat untuk berkhotbah seperti yang sering saya lakukan? Apabila Tuhan telah memiliki rencana yang begitu detail, begitu rinci, lalu apa artinya segala usaha dan perencanaan kita? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Bahkan, mustahil untuk dijawab sampai tuntas. Ketika kita berbicara tentang Allah, bagaimana mugkin kita yang sangat terbatas hendak menangkap dan memahami segala sesuatu tentang Allah yang tidak terbatas?  Sebenarnya tak seorang pun dapat menjelaskan dan menjawab pertanyaan tersebut secara tuntas dan penuh. Misalnya, ada pertanyaan: Mengapa ada orang yang dilahirkan miskin dan cacat? Apakah Tuhan menghendakinya? Apakah Tuhan telah menetapkannya untuk cacat? Jika Tuhan menetapkan seseorang lahir dalam keadaan cacat, betapa mengerikannya Tuhan kita. Tetapi, jika bukan Tuhan yang menetapkan seseorang lahir dalam keadaan cacat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Itu adalah bagian dari misteri. Bagian dari rahasia hidup yang barangkali tidak akan bisa kita jawab dan ketahui sepenuhnya. Sebagai manusia kita cenderung ingin tahu. Akan tetapi, sebagai makhluk, Tuhan tidak memperkenaankan kita mengetahui segala sesuatu. Tuhan tidak memberikan kita ketidakterbatasan, sehingga kita bisa memahami segala sesuatu. Bahkan tertulis di Alkitab bahwa justru berbahaya apabila kita yang terbatas ingin mengetahui tentang yang tidak terbatas. Bukankah manusia jatuh ke dalam dosa ketika manusia ingin mengetahui apa yang diketahui Tuhan dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang buruk? Hari ini kita  akan melajutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: Live in God’s Plan (Hidup dalam Rencana Tuhan)”.  Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 23:1-30.  Sahabat,   Yosia melancarkan reformasi di Yehuda dengan segenap kekuatan. Ia membawa segenap rakyat kembali kepada perjanjian dengan Tuhan (Ayat 1-3); menghapus segala penyembahan Baal, Asyera, dan Molokh (Ayat 4-10); merobohkan mazbah ilah yang dibangun raja sebelumnya (Ayat 11-20); serta kembali merayakan Paskah untuk Tuhan (Ayat 21-23).Yosia disebut sebagai raja yang berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati. Tidak ada raja sebelumnya dan sesudahnya yang sama dengan Yosia (Ayat 25). Walaupun perubahan yang dilakukan memberikan banyak harapan, namun Tuhan tidak beralih dari murka-Nya kepada Yehuda yang ditimbulkan oleh kejahatan Manasye (Ayat 26).Sahabat, hidup dalam rencana Tuhan kadang penuh paradoks dan tak selalu dapat kita pahami. Kitab Tawarikh mencatat kerumitan dari kematian Yosia. Diceritakan bahwa Yosia melawan pesan Allah dan berperang melawan Raja Nekho dari Mesir hingga akhirnya tewas dalam peperangan di Megido (2Tawarikh 35:20-26). Walau demikian, dalam catatan Kitab 2 Raja-raja, tidak ada kisah komplikasi Yosia yang melawan pesan Allah. Hanya ketaatan dan reformasi yang dilakukan Yosia yang menjadi fokus dan sentral cerita.Mungkin Kitab 2 Tawarikh mencoba menjelaskan kematian dini Yosia dengan lebih mendetail yang menyebutkan kesalahan Yosia. Mungkin Kitab 2 Raja-raja lebih menekankan ketaatan Yosia, dan kematian dialaminya sebagai pemenuhan janji Allah bahwa Yosia akan mati dengan damai dan tidak akan melihat kehancuran Yehuda (2Raja-raja 22:20).Sahabat, memang hidup dalam rencana Tuhan kadang penuh kerumitan dan paradoks, karena manusia terbatas dalam memahami keseluruhan rencana Tuhan. Mati dalam peperangan bisa jadi termasuk kematian dalam damai, dibandingkan dengan mati dalam kehancuran Yehuda karena murka Allah. Atas seluruh kerumitan itu, Yosia memilih taat. Dengan sepenuh hati dan kekuatan, Yosia mengajak umat bertobat dan meruntuhkan penyembahan berhala. Di tengah paradoks hidup dan misteri rencana Allah, tetaplah taat dan setia kepada Tuhan! Tetaplah hidup dalam rencana Tuhan! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-5? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua yang tidak berkenan dengan Allah harus kita buang dan musnahkan agar reformasi rohani kita alami dan pembebasan seutuhnya akan terjadi. (pg).

U L E (2)

Ini cerita tentang ULE atau Uang Layak Edar yang lain, yakni Si Rp50.000. Dibuat dari bahan serat kapas. Ada gambar desain uang yang rumit. Ada gambar Pahlawan Nasional, ada berbagai fitur pengaman seperti tinta yang tahan lama, cetakan khusus yang disebut 3-D yang dapat dilihat, diraba,  dan  diterawang, lalu ada nomor seri yang dicetak secara khusus.  Yang terutama, penerbitan uang memiliki tujuan sebagai alat penukar atau alat pembayar dan pengukur harga, yang mendukung tujuan bernegara yaitu mencapai masyarakat adil dan makmur. Karena itu di atas uang disematkan gambar lambang negara “Garuda Pancasila” sebagai bentuk simbol kedaulatan negara dan identitas nasional. Juga ada tulisan misi: “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia Mengeluarkan Rupiah Sebagai Alat Pembayaran Yang Sah Dengan Nilai Lima Puluh Ribu Rupiah”. Sejak kinyis-kinyis dari Bank Indonesia Jakarta dikirim ke BI Surabaya lalu diedarkan di bank-bank setempat dan masuk mesin ATM. Pas ada pedagang di Pasar Atom mengambil di ATM, masuk dompet ditekuk, agak lama, tapi kemudian diberikan sebagai uang kembalian ke pembeli. Maka berputarlah Si Rp50.000 dari tangan ke dompet ke saku ke dashboard mobil, kantong celana, eh dibawa sopir bus ke Madiun, dibelikan pecel, lalu dibawa orang lagi jalan keliling,  naik dokar,  naik mobil, akhirnya tiba di Pasar Klewer Solo,dikaretin tiap seratus lembar,  disetorkan ke salah satu bank. Karena Si Rp50.000 masih bagus dan masuk kategori ULE, dia dapat dengan mudah dihitung dan keluar dari mesin ATM. Kali ini diambil calon ART yang hendak berangkat jadi TKW di Singapura. Si Rp50.000 katut terbawa di dompetnya, jadilah dia tinggal di Singapura beberapa waktu lamanya. Pas hari lbur pergi  ke Mustafa Center, uang Rp50.000 niatnya mau dibelikan odol, eh ditolak penjual: ”Ini tidak laku disini, tuh tukarkan dulu ke money changer”. Jalanlah dia ke tempat yang ditunjuk, ditukar ke Singapura dollar, hanya dapat Sin$ 4.00 dan beberapa puluh sen, tidak cukup untuk beli odol, hanya bisa beli sebotol air putih.  Kemudian Si Rp50.000 dibawa pedagang valas naik feri ke Batam, disetorkan di bank, karena masih bagus, masuk mesin ATM lagi di airport. Kali ini Si Rp50.000 ditarik pelancong yang hendak ke Bali, di sana, pindah tangan beberapa kali, tahu-tahu sampai di Semarang. Saat dibayarkan oleh Aliong ke tukang buah, dikipas-kipas sebagai penglaris, eh terjatuh, pas hujan, hanyut di air dan sempat kelindas motor bebek yang lewat. Tetap dikejar tukang buah, ketangkap, eh keambil, dan transaksi selesai, ada senyum terima kasih dari si penjual buah.  Malamnya uang digelar di atas koran, masih basah-basah dikit, malahan disetrika sama istrinya supaya cepat kering. Warnanya agak pudar dan uang jadi lusuh. Esoknya dibelikan meterai di kantor pos, petugas lihat-lihat teliti, oh uang asli, diterima. Besoknya lagi disetorkan ke BI, karena sudah masuk kategori UTLE, Uang Tidak Layak Edar, diadministrasikan petugas, dan dari arsip BI diketahui Si Rp50.000 sudah beredar sejak 16 bulan silam. Nah, akhirnya dimusnahkan. Umurnya 16 bulan. Singkat atau panjang? Saat Raja Firaun bertanya kepada Yakub (Kejadian 47:8-9): “Sudah berapa tahun umurmu?” Jawab Yakub kepada Firaun: “Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya …” Saudaraku, ULE 16 bulan atau usia Yakub yang 130 tahun, mana yang lebih panjang? Sama-sama menjadi pengembara, pindah tempat berkali-kali, dan sebagian besar situasinya buruk adanya. Si Rp50.000 mengalami masa disayang saat masih kinyis-kinyis, lalu dilipat-lipat, dikaretin, ditolak-tolak di luar negeri, masuk mesin ATM dipukul oleh bilah mesin, jatuh ke air, bahkan disetrika hingga warnanya pudar. Namun tetap mengemban misi sebagai alat pembayaran yang sah, dan lambang kedaulatan negara Garuda Pancasila tetap tertera di gambarnya. Saudaraku, apakah kita sadar, saat kita mengaku percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, maka Allah menempatkan Roh Kudus yang memeteraikan kita? Kita punya misi sebagai garam dan terang bagi dunia, dan mengemban tugas mulia untuk pergi dan menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus, dan dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan Yesus perintahkan? (Matius 28:19-20) Kita sama-sama mengalami penderitaan dalam kehidupan, pernah mengalami masa disayang saat masih punya kelimpahan harta benda kinyis-kinyis. Lalu melewati masa dilipat-lipat berbagai tipu daya dan cobaan, serasa dikaretin karena akibat perbuatan yang tidak benar, ditolak-tolak oleh lingkungan sekitar, hingga hati merasa dipukul berbagai kesedihan, jatuh ke air dan bahkan sakit menderita berpanjangan. Apakah ketika menjalani  semua ini warna kehidupan kita menjadi pudar?  Saudaraku, mari kita sejenak hening, dengan hati bening merenungkan apa yang ditulis oleh Rasul Yohanes:  “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wahyu 22:12 dan 14). (Surhert).