DIAMOND IS FOREVER

Judul di atas bukan judul film James Bond, tapi ceritera tentang bagaimana suatu barang yang sebenarnya murah tapi mendadak harganya menjadi sangat mahal dan dicari orang. Apakah itu? Diamond atau berlian, yang umumnya ditambang di kawasan Afrika dan Brazil, namun pemasarannya justru dari Eropa. Dari Google “Tracking the D-Flawless” harga berlian kualitas standar per karat, saat-saat awal penemuan berlian tahun 1900-1920, harganya sekitar $ 100 per karat. Tahun 1920–1929 penemuan tambang berlian semakin banyak, dan orang mulai memerhatikannya untuk perhiasan dan pisau potong karena kekerasannya. Harga menjadi $ 500. Saat depressi dan Perang Dunia tahun 1929-1945, harga berlian jatuh, tidak menentu. Nah pada tahun 1949 Frances Gerety, seorang perempuan yang bekerja di biro iklan di Philadelphia mendapatkan order dari Perusahaan De Beers, perusahaan pedagang berlian, untuk kampanye iklan berlian yang saat itu tidak diperhatikan orang setelah Perang Dunia II. Sebelum tidur dia menuliskan 4 kata di secarik kertas, dan esok paginya dia mempresentasikannya ke ruang rapat yang dihadiri semuanya oleh kaum laki-laki, kalimatnya: “A Diamond is Forever”.  Ternyata kalimat tersebut mengubah industri berlian dan dunia periklanan selanjutnya. Berlian dari barang biasa-biasa saja, tidak memiliki nilai jual tinggi, bisa menjadi dambaan laki-laki dan perempuan yang menginginkan kisah cintanya atau perkawinannya dapat langgeng seperti berlian, bahkan berlian juga menjadi barang kolektor. Saudaraku, Berlian semakin popular setelah upacara penobatan Ratu Elizabeth II tahun 1953. Ratu tiba di balkon Istana Buckingham untuk melambaikan tangannya kepada rakyatnya dengan Mahkota Kekaisaran, dibuat pada tahun 1937, memiliki 2.868 berlian, 17 safir, 11 zamrud, 269 mutiara, dan 4 rubi. Bagian tengahnya adalah Cullinan II seberat 317,4 karat. Wah. Selanjutnya di tahun 1956 ada novel Ian Fleming berjudul Diamonds Are Forever, menjadi best seller, kemudian dibuat film James Bond pada tahun 1971. Mulailah harga berlian $ 1.600 per karat di tahun 1960 naik dan naik terus. $ 30.000 per karat pada 1979, naik turun, menjadi $ 41.000 di tahun 1981, dan kini rata-rata $16,500 per karat. Ada yang memecahkan harga rekor $ 926.315 untuk 0,95 karat berlian warna merah.  Gemological Institute of America (GIA) membuat persyaratan untuk mengukur kualitas berlian, yakni 4C: color, clarity, cut and carat weight. Skala kejernihan berlian berdasarkan warna, ukuran, titik-titik kotoran (cacat) yang nampak dan kuantitas kejernihan. Semua terlihat pada pembesaran minimal 10X. Semakin tinggi skala yang dicapai, mendekati sempurna, tentu harganya semakin mahal.  Namun karena berlian adalah bahan alami yang paling keras di bumi dan punya ketahanan aus yang ekstrim, maka diperlukan dalam skala industri sebagai bahan abrasive, bahan penggosok atau pemotong untuk industri elektronik dan kaca, bahkan untuk peralatan operasi kedokteran.  Ada banyak perusahaan riset yang mengembangkan berlian sintetis dari campuran kimia, disebut CVD (Chemical Vapor Deposition) Diamond, dan terakhir ini malahan dipasarkan berlian sintetis yang dikenal sebagai Lab-Grown Diamond (LGD) yakni berlian yang diproduksi melalui proses teknologi, bukan tercipta melalui proses geologi hasil penambangan.  Berlian LGD atau CVD juga dapat diukur 4C-nya, tentu malahan mendekati sempurna  karena memang dibuat untuk menjadi itu. Harga berlian LGD atau CVD hanya sekitar 20%-40% dari harga berlian asli. Namun karena kualitas dan tampilannya sangat sukar dibedakan dengan berlian asli, membuat banyak orang awam membeli “berlian” dengan harga berlian asli, tapi mendapatkan berlian LGD atau CVD. Saudaraku, di kitab Yudas 1:20 ada permintaan kepada Saudara-saudara jemaat yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci. Mungkin dasar iman yang paling suci ini bisa diibaratkan bagaikan berlian asli: Keras tidak goyah, tidak lekang dan tidak aus karena situasi zaman, tetap terang bersinar bagai Berlian saat bersaksi bagi sekitarnya.  Orang-orang yang teguh dan bersinar imannya,  mungkin seperti yang dilihat oleh Daniel dalam Daniel 12:3 sebagai orang-orang bijaksana yang bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya. Di akhir zaman, Tuhan sedang mencari orang-orang yang seperti Daniel yang mau menjadi terang dan bercahaya di tengah kegelapan dan membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Untuk menjadi seperti Daniel tidak mudah dan ada harga yang harus dibayar yaitu bertahan dalam masa kesesakan. Ketika kita mampu melewati masa kesesakan maka kita akan menjadi orang bijaksana dan bercahaya. Saudaraku, Dolly Parton berkata:  “Sulit menjadi berlian di dunia berlian imitasi.”  Daniel telah melewati ujian demi ujian sehingga pada akhirnya Daniel dapat berkata bahwa orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cakrawala. Daniel muncul sebagai orang muda yang bercahaya di tengah kegelapan malam seperti bintang yang memancarkan sinarnya. (Surhert).

ALLAH ORANG HIDUP

Saudaraku, ada orang yang berpikir bahwa hidup hanya sekali dan setelah itu mati, selesai.  Namun ada yang memercayai sebaliknya.  Mari kita renungkan pandangan Kristus tentang hal itu dengan membaca Lukas 20:27-40. Saduki adalah sebuah lapisan masyarakat Yahudi pada masa itu yang tidak memercayai ada kebangkitan tubuh setelah seseorang meninggal.  Mereka memercayai bahwa  Musa tidak pernah mengajarkan tentang kebangkitan tubuh dan sejarah seorang selesai setelah mereka meninggal karena tubuh akan hancur binasa.   Dalam kasus perkawinan levirate (Perkawinan antara seorang janda dengan saudara laki-laki suaminya yang sudah meninggal dunia) ekstrem yang menjadi contoh kasus mereka saat bertemu Yesus, mereka mempertanyakan bagaimana status si istri setelah mati karena karena sepanjang hidup ia sudah menikah dengan tujuh bersaudara  bila memang ada kebangkitan tubuh.  Ada beberapa hal menarik dari jawaban Yesus : Kondisi tubuh setelah kebangkitan berbeda dengan kondisi tubuh yang fana. Kematian menjadi sebuah pintu untuk manusia mengalami kekekalan yang membuat manusia kehilangan sifat kedagingan untuk mempertahankan kehidupan.  rasa lapar, haus, erotis tidak akan dimiliki lagi karena tubuh sudah tidak membutuhkannya.  Oleh karena itu Yesus menjelaskan bahwa manusia setelah kematian mereka akan hidup seperti malaikat. Allah adalah Allah orang hidup, Allah kehidupan. Kisah pertemuan Musa dengan Tuhan dalam semak belukar menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah bahkan bagi mereka yang sudah tidak ada lagi di dunia: Abraham, Ishak dan Yakub.  Saat Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa maka itu menunjukkan bahwa Allah menjadi Tuhan bagi para bapa leluhur yang jelas sudah tidak ada di dunia, namun yang akan bangkit pada saatnya.   Pesan yang disampaikan dalam Perjanjian Baru sangat jelas yaitu Yesus yang menang atas apa yang paling ditakuti manusia, yaitu kematian. Oleh karena itu jawaban Yesus kepada orang Saduki itu jelas dan tegas: Ada kebangkitan tubuh setelah kematian.  Itulah mengapa Yesus mengatakan orang Saduki  sesat dan belum lengkap memahami Kitab Suci (Markus 12:27; Matius 22:29). Yesus menginginkan setiap orang belajar untuk hidup dalam Firman Tuhan karena cerita manusia belum berakhir saat ia meninggalkan dunia.  Kehidupan manusia di dunia yang sesaat saja memengaruhi kehidupan kekal manusia.  Oleh karena selagi masih ada waktu, hiduplah bergantung kepada Allah yang Hidup.   Saudaraku, manusia yang menerima anugerah keselamatan perlu menyadari benar bahwa sekarang hidup mereka bukan milik mereka lagi melainkan milik Kristus (Galatia 2:20) sehingga mereka harus menyelaraskan diri dengan kehendak Sang Kristus.  Mari syukuri anugerah Allah yang memberi kemenangan dari kematian dan belajar hidup dengan lebih serius dalam iman.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

A Life Full of Questions

KITAB HABAKUK. Sahabat, masalah kejahatan dan penderitaan adalah masalah yang ada di sepanjang zaman. Kita berharap bahwa masalah kejahatan dan penderitaan itu akan segera berakhir, tetapi ternyata pengharapan kita tak pernah terwujud secara permanen di dunia ini. Sebenarnya, masalah kejahatan dan penderitaan telah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa, dan akan terus ada sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia untuk kedua kali. Masalah kejahatan dan penderitaan itu juga berkembang pada zaman Nabi Habakuk. Kitab Habakuk diawali dengan percakapan antara Nabi Habakuk dengan Allah menyangkut masalah penderitaan. Nabi Habakuk hidup sekitar tahun 610-605 SM, sebelum Kerajaan Yehuda dihancurkan oleh tentara Babel. Menurut seorang tokoh dalam sejarah gereja yang bernama Jerome, kata tersebut berasal dari sebuah kata Ibrani yang artinya “mengenggam” atau “memeluk”, dan ia berkata bahwa Habakuk disebut “pelukan” baik karena kasihnya terhadap Tuhan dan bangsanya, maupun karena ia bergumul dengan Allah. Pertanyaan Habakuk, “Berapa lama lagi, …” (Habakuk 1:2) dan “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, …” (Habakuk 1:3) memperlihatkan keprihatinan Sang Nabi terhadap umat Yehuda yang tidak kunjung bertobat, bahkan semakin jahat, dan Allah seperti membiarkan hal itu. Para nabi jarang mengemukakan pertanyaan, tetapi kitab ini memakai pertanyaan untuk beralih dari pemikiran sang nabi menuju kebijaksanaan Allah. Hal ini memperlihatkan perjalanan iman yang jujur, yang diungkapkan sambil  memandang kepada Allah. Syukur mulai hari ini kita dapat belajar dari kitab Habakuk dengan tema: “A Life with Full of Questions (Kehidupan yang Penuh dengan Pertanyaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Habakuk 1:12-17. Sahabat, hidup yang kita jalani ini penuh dengan berbagai pertanyaan. Kadang kala kita dapat menemukan jawabannya, namun lebih sering pertanyaan tersebut tidak kita temukan jawabannya. Karena itu, kita mengeluh atas pertanyaan yang tanpa jawaban itu.Nabi Habakuk juga mengalami hal yang sama. Pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah “Mengapa Tuhan sering terlihat berbeda dalam menghadapi kejahatan? Di manakah keadilan Tuhan?” Dalam keluhannya yang kedua kepada Tuhan, Habakuk mempertanyakan, “Mengapa Tuhan harus menggunakan bangsa Babel untuk menghukum Yehuda? Mengapa Tuhan harus menggunakan bangsa yang lebih jahat dari Yehuda?” (Ayat 13-14).  Bangsa Babel bertindak dengan kejam dan tanpa belas kasihan terhadap bangsa-bangsa yang ditaklukkannya (ayat 17). Dalam perspektif sang nabi, sulit sekali baginya untuk melihat mengapa Allah mengizinkan hal itu terjadi dalam kehidupan umat pilihan-Nya, yang menurutnya lebih baik dari bangsa Babel yang keji itu.Sahabat, dalam perspektif kita sebagai umat Allah saat ini, kita dapat melihat bahwa Allah berdaulat untuk segala hal yang terjadi. Tidak ada satu hal apa pun yang terlepas dari kendali-Nya.Bangsa Babel dipakai oleh Allah untuk menolong umat pilihan ini kembali kepada-Nya. Bagaimana seluruh praktik kehidupan mereka yang telah menyimpang dikoreksi melalui pembuangan ke Babel.Seperti kehidupan sang nabi, kita juga pasti pernah mengalami kehidupan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Kita datang kepada Allah di dalam doa. Kita mengeluh kepada-Nya, namun seolah-olah Dia diam. Kita melihat kesewenang-wenangan terjadi dan keadilan seolah-olah lenyap dari bumi, tetapi Tuhan tidak bertindak sama sekali.Sahabat,  dalam keterbatasan dan pergumulan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu, kita bisa datang kepada Allah. Dari misteri kehidupan, kita dapat belajar untuk menggapai Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia adalah Allah sumber jawaban yang berdaulat dalam kehidupan kita, umat pilihan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?  Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang percaya, Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang dan garam dunia dan bukan untuk berdiam diri agar selamat. (pg).

RATAPAN SANG KRISTUS

Saudaraku,  Alkitab hanya mencatat peristiwa Yesus menangis sebanyak dua kali.  Yang pertama dalam Yohanes 11:35 saat mendengar kabar duka dari Betania tentang meninggalnya sahabat-Nya, Lazarus.  Yang kedua tercatat dalam Lukas 19.  Mari kita renungkan tangisan Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 19:41-44. Kedatangan Yesus ke Yerusalem berkaitan dengan persiapan pra Paskah.  Selesai Yesus mengikuti arak-arakan dan melihat kota dengan segala keriuhannya, Yesus menangis.  Mengherankan?!   Semua orang hari itu gembira menyambut Paskah namun hari itu Yesus memandang kota Yerusalem secara berbeda dan Yesus meratapinya.  Ratapan  seorang Guru, ratapan Tuhan.   Sebagai seorang guru, Yesus melihat Yerusalem begitu sombong sehingga mereka ‘menolak’ pengajaran sehingga bahaya mengancam di depan mata.  Tidak ada yang menyedihkan bagi seorang guru selain menghadapi murid yang keras kepala dan menolak untuk belajar karena itu berarti sang murid menuju kehancuran dengan kesadaran sendiri. Yesus adalah Tuhan yang Mahamelihat masa depan.  Apa yang paling menyedihkan Tuhan? Saat manusia dengan menggunakan hak pilihnya untuk memilih yang salah, yang menghancurkan manusia itu sendiri,  bahkan mereka tidak melihat lawatan Tuhan atasnya.  Mereka menolak keselamatan dengan kesadaran sendiri dan Tuhan menangisi kedegilan hati mereka. Tangisan Yesus atas Yerusalem selepas Ia dielu-elukan di Yerusalem menunjukkan bahwa euphoria masa pra Paskah di kota itu tidak menetralisir kesedihan-Nya menghadapi kekerasan hati manusia.  Yesus meratapi masa depan kota itu walau saat itu kondisi terlihat sangat baik-baik saja.  Kota itu akan hancur lebur karena kedegilan mereka sendiri (Ayat 44) Kebebalan “menginfeksi” tanpa disadari oleh manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bebal berarti sukar mengerti, lamban menanggapi sesuatu. Manusia bisa menjadi bebal saat ia merasa dirinya benar dan orang lain salah, overconvidence.  Sikap bebal membuat manusia kurang peka dengan keadaan dan sukar dididik sehingga ia menjadi tersesat (Amsal 5:23).   Manusia yang bebal akan menuju kepada kehancuran bagaikan seseorang yang menghancurkan rumahnya sendiri (Amsal 14:1). Celakanya orang ini tidak menyadari kejatuhannya yang parah dan malah bangga dengan kebebalannya. Saudaraku, walaupun saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjawab sebagian kebutuhan manusia, mari tetap memiliki hati yang lembut untuk mau mendengarkan suara-Nya dan menyadari kehadiran-Nya.  Asahlah kepekaan dan terbukalah kepada pengajaran-Nya agar hidup terhindar dari kehancuran.  Jangan sampai  Dia meratap saat melihat anak-anak-Nya saat ini.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

DEWA JUDI

Istilah Dewa Judi makin dikenal terlebih setelah film “God of Gamblers” tahun 1989 yang dibintangi Chow Yun Fat dan Andy Lau, dan disusul beberapa seri lagi. Di kalangan adat Tionghoa, Dewa Judi jarang disebut karena lebih dikenal Dewa Rezeki atau Dewa Keberuntungan yang terkait dengan keberuntungan dan kekayaan.  Dewa kelompok rezeki ini rupanya juga menjadi banyak idaman orang di berbagai kebudayaan, antara lain seperti Dewa Hermes (mitologi Yunani), Dewi Fortuna (mitologi Romawi), tujuh dewa keberuntungan dari Japan terutama Fukurokuju, Dewi Laksmi (mitologi Hindu), Dewi Sri atau dewi padi,  yang juga berarti kemakmuran, kekayaan, kesehatan, kecantikan, keberuntungan, bahkan ada Julaihud yang arcanya banyak dibuat pengrajin kayu jati dari Jepara, dan masih banyak lagi.  Di Tiongkok sendiri Dewa Rezeki ada beberapa, yakni Cai Shen (baju merah, topi dengan dua penutup seperti sayap) juga disebut Zhao Gong Ming atau Xuan Tan Zhen Jun yang dikawal Dewa Harta dari 4 penjuru: Timur, Barat, Selatan, Utara, disebut Dewa Harta dari Lima Jalan “Wu Lu Cai Shen”. Ada pula dewa Bigan (perdana Menteri zaman Dinasti Shang). Mengapa ada banyak dewa untuk sumber rezeki? Karena orang menginginkan segala yang detail untuk mendapatkan rezeki. jadi semua gambaran tentang dewata yang bisa mendatangkan rejeki dikreasikan. Sangat mungkin saja bila di zaman sekarang ada dewa Krypto, dewa Saham maupun dewa Dollar. Berikut ini  pengalaman Pak Is yang pernah bekerja bersama kami. Sebelumnya Pak Is bekerja beberapa bulan di kasino legal yang pernah dibuka di Jakarta pada zaman Gubernur DKI yang silam. Dia bercerita: Tempat kasino ini sangat mewah dan megah, ruangannya full tertutup, sinar ruangannya terang, tidak redup-redup, AC dan sirkulasi udara nyaman, toilet sangat bersih, juga disediakan ruang-ruang istirahat lengkap dengan petugas yang bisa memijat, dan ada berpuluh set makanan/minuman mewah siap selama 24 jam. Yang terutama tidak ada jam dinding atau petunjuk waktu apa pun sehingga orang lupa waktu. Sekali masuk, kalau bawa uang banyak, ya diharapkan lupa diri, lupa waktu berapa jam atau berapa hari main judi.  Saudaraku, di salah satu sudut ruangan ada altar untuk pemujaan dewa rejeki. Yang main judi suka bersembahyang di situ,  tentu minta menang. Karyawan kasino doa di situ, minta ketrampilan dalam mengocok kartu. Bandar atau orang kepercayaan bandar juga bersembahyang di situ, tentu mintanya supaya bandar bisa lebih menang. Seandainya Saudara   menjadi dewa rejeki di situ, pasti bingung, akan mengabulkan doa-doa yang mana, terutama doa dari pihak pemain atau dari pihak bandar? Main judi nampaknya mudah, kalau pas hoki  bisa menang taruhan dan menjadi kaya mendadak. Tapi kalau kalah, akan habis-habisan, bisa langsung kolaps atau jadi gila. Ini bukan sekadar permainan atau ketangkasan atau untung-untungan hoki, tapi juga ada dampak psikologis bagi pemain. Tuhan  tidak berkenan umat-Nya untuk mendapatkan rezeki dari upaya yang singkat mendadak baik seperti dari hasil main judi, penipuan, merampok, penyelundupan, manipulasi, korupsi atau hasil-hasil kejahatan lainnya. Saudaraku, mari kita renungan perumpamaan tentang seorang  penabur yang diceritakan Tuhan Yesus  di Matius 13:  Waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Jadi sang penabur menghadapi berbagai kondisi dalam ladang pekerjaannya, ada tempat yang subur, ada yang berbatu, ada yang mudah dicocol burung dan lain-lain, kondisi hingga problema kesuburan tanah yang menyebabkan gagal tumbuh.  Saat bekerja tentu sang penabur juga berharap dan berdoa mohon berkat dari Tuhan agar bisa mendapatkan hasil yang baik. Setelah menabur masih perlu waktu dan tenaga untuk merawat tanaman agar tumbuh bagus, bahkan di persawahan kita melihat para petani berjaga dari hama burung. Saat panen pun perlu tenaga untuk memanen, kemudian mengolah lagi hasil panen agar dapat dijual, mendapatkan harga yang baik. Semuanya ada keringat. Untuk menumbuhkan jagung perlu sekitar 100 hari, untuk menanam padi perlu 3-4 bulan tergantung kondisi tanah, tanaman kopi perlu 3-4 tahun sebelum berbuah, bahkan kalau menanam pohon duren mungkin perlu 8-10 tahun hingga duren dipanen. Tuhan  mengajarkan tentang perlunya KETEKUNAN dalam pekerjaan, karena saat menabur atau memulai usaha kita belum melihat hasil akhirnya,  yang baru nampak di waktu-waktu kemudian. Entah itu berhasil, mungkin hanya biasa-biasa saja, atau malahan mungkin gagal. Firman Tuhan mengingatkan kita: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11:6) dan “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23) Saudaraku, pekerjaan yang benar dan diberkati Tuhan bukan berasal dari rezeki tiban mendadak. Juga bukan  diperoleh dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Bekerja dan berusahalah sesuai dengan titah Tuhan supaya kita bisa menikmati buah yang manis dari hasil kerja kita. Mari wariskan berkat Tuhan kepada anak cucu, bukan kutuk.  (Surhert)

KEMALINGAN (02)

Masih ingat dengan cerita Kemalingan (01)? Saudaraku, hidup terus berjalan, setiap hari Tuhan tetap menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45). Suatu siang saat saya belanja di supermarket, tiba-tiba seseorang datang menyalamiku. “Pak Sur, masih ingat saya? Saya pak Is, yang berapa tahun lalu ada di kantor Bapak.” Aku takjub melihat Pak Is. Dulu sebagai kepala gudang dia pasang berewok dan kumis, rambut setengah gondrong, kini tampak rapi meskipun keriput wajah tuanya kelihatan, tapi sinar wajahnya tampak berwibawa.  “Pak, selama ini saya bersyukur kalau mengingat pernah kerja di tempat Bapak, di-PHK  gara-gara kasus si Ma dulu. Kalau tidak ada peristiwa tersebut, kehidupan saya tidak berubah,” Pak Is mengawali percakapan. Ceritanya, saat menjadi kepala gudang Pak Is sudah Sarjana Muda Teknik dari sebuah universitas. Dia berhenti kuliah karena merasa bosan kuliah hanya itu-itu saja. Kemudian bekerja di kontraktor sebagai pengawas bangunan dan akhirnya pindah sebagai kepala gudang. Ketika di-PHK, dia sangat frustrasi, karena sekonyong-konyong kehilangan pekerjaan. “Untung istri saya bisa menerima kondisi saya, nangis semalam, kemudian mengajak doa bersama, tapi esoknya dia bilang supaya saya bisa menyelesaikan S-1 karena kalau cari pekerjaan lebih gampang,” cerita Pak Is.  Pak Is melanjutkan ceritanya: “Saya nurut saja. Datang ke Fakultas Teknik, ketemu Dekan. Saya tanya: Apakah bisa meneruskan kuliah hingga lulus? Pak Dekan menjawab: “Dulu nilai SKS-mu rata-rata 3,7 tapi kenapa kok tiba-tiba berhenti kuliah? Memang kamu sudah 9 tahun meninggalkan  kuliah, tapi kalau lihat prestasimu dulu, saya bisa memberikan kesempatan ke kamu satu semester dulu, baru lihat nanti.”   Saya pun kuliah lagi. Istri sangat mendukung, Uang belanja dihemat-hemat, bahkan dia juga jualan Pisang Goreng, Roti Soes dan lain-lain, memang cukup maju. Berdua kami bergiliran mengantarkan kue-kue. Saya kuliah sekelas dengan mahasiswa-mahasiswa yang tidak saya kenal sebelumnya. Mereka ini banyak yang anak orang kaya, datang ke kampus pakai mobil sport. Kuliahnya ya gitu-gitu saja. Saya hanya tekad lulus segera supaya bisa kerja lagi dan istri tidak terlalu ngoyo jualan roti. Syukur, nilai SKS semester itu 3,85, jadi boleh lanjut kuliah tapi tetap dihitung per semester, kalau nilai jelek ya drop-out langsung.” Ceritanya, Pak Is selalu menuai prestasi di kampus. Skripsinya malahan dibimbing seorang dosen yang dijuluki killer, kemudian Pak Is menjadi asistennya. Ternyata dia bakat mengajar. Jadi dosen favorit. Saat lulus nilai SKS-nya masuk dalam kelompok 10 terbaik, dan ditawarin sebagai dosen oleh Pak Dekan. Pak Is mengajar beberapa tahun, menjadi dosen favorit, lalu menjadi kepala jurusan di fakultas. Upayanya semakin bagus, dapat beasiswa S-2, kemudian beasiswa S-3 di luar negeri. Pak Is memberikan kartu namanya ke saya: DR IS … Wah … Hebat!. Lebih lanjut Pak Is bersaksi: “Saya sangat beryukur pada Tuhan yang telah menolong kami sekeluarga. Memang mulanya tidak enak,  kena PHK, tapi istri dan anak tetap mendukung saya. Firman Tuhan ya dan amin, Dia tidak membiarkan anak-Nya jatuh tergeletak. Tuhan menopang saya. Sepuluh tahun lebih saya jalani kehidupan baru di kampus, Tuhan menganugerahkan otak yang encer, jadi saya mudah sekali dalam belajar di kampus. Selain itu saya juga ada pengalaman kerja, jadi tahu kondisi orang membangun rumah dan gedung-gedung tinggi”  Tiba-tiba aku ingat peristiwa-peristiwa kemalingan di tahun-tahun yang sudah silam. Kami saat ini tidak lagi muda,  sudah makan asam garam menjalani kehidupan. Syukur aku bisa berjumpa kembali dengan Pak Is. Coba kalau dulu dia marah-marah kepada Tuhan: Mengapa di-PHK, mengapa kerjanya bisa teledor? Syukur dia tidak tawar hati pada waktu mengalami pencobaan.   Saudaraku, aku teringat dengan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)  Belajar dari pengalaman Pak Is, aku semakin diyakinkan bahwa ketika kesesakan itu datang, janganlah hati kita menjadi tawar. Hendaknya kita tetap berpaut kepada Tuhan. Tetap tegar, jalani hidup bersama Tuhan. Teruslah berdoa dan berjuang. Lihatlah … di ujung jalan ada CAHAYA GEMILANG yang dipersiapkan oleh Tuhan. (Surhert).  

Fully Destroyed

NINIWE YANG JAHAT. Sahabat, Nahum memulai kalimatnya di awal pasal  3 dengan mengatakan celakalah KOTA PENUMPAH DARAH itu, kota yang penuh dengan dosa dan kekerasan.  Berita Nahum tidaklah sama dengan Yunus. Sudah tidak ada berita pertobatan lagi di dalamnya, yang ada adalah berita penghakiman. Nahum mengungkapkan kemarahan Allah, kesabaran Allah terhadap Niniwe telah cukup, anugerah telah ditarik dan penghakiman dinyatakan.  Kalau Allah di zaman Yunus masih sayang kepada Niniwe dengan berkata kepada Yunus: Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, yang semuanya tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (Yunus 4:11). Maka sekarang Allah berkata kepada Nahum:  Aku sudah tidak sayang lagi kepada Niniwe. Sahabat,  kita telah banyak mempelajari tentang Niniwe yang terkenal dengan kekerasannya sehingga mendapatkan julukan KOTA PENUMPAH DARAH, namun sebetulnya kejahatan kota Niniwe tidak hanya sebatas pada kekerasannya saja, melainkan juga dosa-dosa keji lainnya yang selalu berjalan beriringan seturut natur dari  dosa itu sendiri.  Kalau Sahabat mengetahui dosa merupakan satu paket kegelapan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ide tersebut bisa kita dapatkan melalui Kitab suci yang salah satunya terdapat di dalam surat Galatia 5:19-21: “Perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, marah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. …” Niniwe telah memiliki semua dosa itu, dan dosa Niniwe sudah begitu matang dan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kejadian 6:5). Syukur hari ini kita dapat mempelajari bagian akhir dari kitab Nahum dengan topik: “Fully Destroyed (Dihancurkan secara Keseluruhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Nahum 3:8-19. Sahabat, Nahum membandingkan kekuatan Niniwe dengan Tebe, kota Amon, yang bentengnya adalah laut, dan memiliki sekutu yang kuat seperti Etiopia dan Mesir, yang akhirnya juga dihancurkan (Ayat 8-10).  Ia menggambarkan kekuatan Niniwe sebagai kekuatan yang sama sekali tidak diperhitungkan. Niniwe digambarkan sebagai orang mabuk yang tidak berdaya, kubunya seperti pohon ara dengan buah yang masak, yang jika diayunkan, maka jatuhlah buahnya (Ayat 11-12).Tentara Niniwe yang dahsyat dan menakutkan digambarkan hanya terdiri atas perempuan-perempuan yang lemah. Kubu-kubunya yang kuat digambarkan dengan pintu gerbang yang terbuka lebar untuk musuhnya (Ayat 13-14). Babel di bawah Nebukadnezar mulai memberontak terhadap Asyur mulai 626 SM, dan pertempuran berlangsung selama 14 tahun sampai akhirnya gabungan tentara Nebukadnezar dan Media menghancurkan kota Niniwe pada 612 SM.Sahabat, Niniwe diminta untuk berjuang sekuat tenaga, termasuk mempersiapkan air yang banyak untuk dipakai ketika mereka dikepung dan memperkuat kubu-kubu mereka (Ayat 14). Namun, semua persiapan itu akan sia-sia karena Niniwe akan dimakan habis dengan api dan pedang, bahkan ketika jumlah mereka sangat banyak (Ayat 15). Jumlah mereka yang begitu banyak tidak ada gunanya karena semua orang, dari penjaga sampai para pemuka akan melarikan diri secepat belalang terbang menghilang (Ayat 17-18).Kehancuran Niniwe merupakan kehancuran total, secara keseluruhan, yang tidak akan dipulihkan (Ayat 19). Kehancuran Niniwe telah ditunggu-tunggu oleh banyak bangsa yang merasakan perlakuan kejam Niniwe. Mereka akan bertepuk tangan mendengar kehancurannya (Ayat 19).Sahabat, kadang-kadang kekuatan jahat diizinkan Tuhan menjadi sangat luar biasa dan sepertinya tidak terkalahkan. Ketika sudah tiba waktunya, betapa pun dahsyatnya kekuatan tersebut, ternyata tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Jangan putus asa menghadapi kejahatan yang ada disekeliling kita! Ketika tiba waktunya, kekuatan tersebut akan hancur tanpa sisa. Dihancurkan secara keseluruhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang Kota Penumpah Darah? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua yang kita miliki bukan untuk  kita sombong dan arogan tetapi untuk kita pakai  memuliakan Tuhan. (pg).