PERNAK PERNIK PASKAH

Saudaraku, pada hari ketiga Tuhan Yesus bangkit dari kematian, dan peristiwa ini disebut sebagai Paskah. Istilah Paskah di PL yakni perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir. Pada saat itu diadakan upacara Roti Tak Beragi dan persembahan anak sulung dengan upacara korban domba. Ini merupakan perintah Tuhan yang harus dikenang oleh Musa. Lalu mengapa kemudian umat Kristen memperingati kebangkitan Tuhan Yesus sebagai Paskah atau Easter, aku kutipkan dari source Encyclopaedia Britannica, Inc tahun 2024 dan beberapa sumber  lainnya. Paskah atau Easter (bahasa Inggris) paralel dengan kata Jerman Ostern. Ada pendapat bahwa kata ini berasal dari Eostre, atau Eostrae, dewi musim semi dan kesuburan Anglo-Saxon. Pandangan tersebut seperti mengaitkan asal mula Natal pada tanggal 25 Desember sama dengan perayaan titik balik matahari musim dingin.  Kini ada konsensus berasal dari kata Pascha (Latin dan Greek) kemudian menjadi kata Pâques (Perancis). Kemungkinan lain asal kata Easter dari bahasa Jerman kuno Eostarum yang berarti FAJAR. Jadi menunjukkan pada saat fajar di hari Paskah, saat Maria Magdalena pergi ke kuburan Yesus. Bagaimana menentukan tanggal hari Paskah? Saat Tuhan Yesus disalib dan bangkit dicatat dalam penanggalan Republik Romawi yakni kalender Julian yang ditetapkan oleh Julius Caesar dan kemudian oleh Kaisar Agustus pada akhir abad 1 SM.  Gereja mula-mula merayakan hari Penyaliban pada hari yang sama dengan hari orang Yahudi merayakan persembahan Paskah, yakni, pada hari ke-14 bulan purnama pertama musim semi, tanggal 14 Nisan (kalender Yahudi).  Maka, Kebangkitan terjadi dua hari kemudian, pada tanggal 16 Nisan dalam minggu itu. Tentu penanggalan kalender Yahudi ini cukup menyulitkan karena saat itu berlaku penanggalan Republik Romawi. Kemudian ada 318 orang uskup dari seluruh Gereja pada zaman itu mengadakan Konsili Nicea pada tanggal 20 Mei – 19 Juni 325 M. Perlu diketahui saat itu ada 5 pusat kekristenan yakni: Yerusalem, Anthiokia, Roma, Aleksandria dan Konstantinopel. Setiap pusat Gereja memang menyelenggarakan Gerejanya sendiri-sendiri, namun ajarannya bersumber dari satu yaitu Tuhan Yesus Kristus yang kemudian disebarkan oleh Para Rasul. Hasil dari Konsili Nicea adalah Pengakuan Iman (Rasuli) yang disetujui oleh semua Gereja dan diikrarkan di Kebaktian Raya hari Minggu hingga saat ini. Selain itu Konsili juga menetapkan bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah equinox musim semi (20 Maret). Equinox yakni saat matahari melintasi garis khatuliswa. Equinox terjadi 2 kali setiap tahun yakni 20 Maret sebagai awal musim semi dan 23 September sebagai awal musim gugur, dan perhitungan Paskah dihitung dari equinox awal musim semi. Oleh karena itu, Paskah dapat jatuh pada hari Minggu mana pun antara tanggal 22 Maret dan 25 April. Untuk jelasnya kita dapat download kalender lunar. Dari kalender lunar ini dapat diketahui kapan bulan purnama atau bulan pas tanggal 15 setelah equinox di bulan Maret, dan cari hari Minggu terdekat setelahnya, itulah Paskah. Contoh untuk tahun 2024, equinox tanggal 20 Maret 2024 dan bulan purnama pada Senin 25 Maret 2024, jadi Paskah pada tanggal 31 Maret 2024, hari Minggu terdekat dari bulan purnama 25 Maret.  Tapi kalau Pembaca tidak mau jelimet ya bisa ketik Easter tahun 2024 di Google, langsung keluar tanggal 31 Maret 2024, dan Anda bisa tahu tanggal Paskah tahun 2050 yakni tanggal 10 April 2050. Dari penetapan tanggal Paskah bisa dihitung kapan lent atau puasa enam minggu, tidak termasuk hari Minggu, sebelum Paskah dan dimulai pada hari Rabu Abu. PERNAK-PERNIK PASKAH begitu banyak, sesungguhnya intinya tetap satu, yakni memperingati KEBANGKITAN  Tuhan Yesus Kristus dari KEMATIAN. Dasar iman kita percaya pada Yesus Kristus yang telah bangkit, yang hidup, bukan mati. Karena kebangkitan ini maka YESUS KRISTUS TETAP SAMA, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8) Saudara, kita mempunyai Allah yang tidak berubah. Kita dapat memercayai-Nya seratus persen dan tidak perlu ragu terhadap janji-janji-Nya. Apabila bangsa Israel pernah ditolong dan dilepaskan dari tentara Mesir, maka saat ini juga Dia sanggup menolong kita dan melepaskan kita dari KEJARAN MASALAH KITA.  DIA TIDAK BERUBAH!!! Karena itu teruslah hidup bersama Yesus. (Surhert). 

DARKNESS OVER ALL THE EARTH

Saudaraku, Yesus disalib, melalui  Google kita  dapat mengetahui tanggalnya, yakni 3 April AD 33. Hari itu ada fenomena alam dahsyat, Lukas 23:44-45 mencatat: “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar.” Saat itu di Israel jam 12.00 siang dan matahari tidak bersinar hingga jam 15.00. Kita tidak tahu apakah matahari mendadak tidak bersinar di lokasi penyaliban, atau meliputi seluruh dunia yang pas siang hari, sebab wilayahnya luas sekali. Kegelapan melanda seluruh siang hari di dunia saat itu, Alkitab KJV menyebutkan “darkness over all the earth”, yakni dari jam UTC (Universal Time Coordinated) atau Greenwich Mean Time (GMT) saat kegelapan jam 12.00-15.00 Israel ini juga terjadi di: Kawasan Britain, London, jam 10.00 – 13.00 (2 jam lebih awal). Kota Roma Italia zaman Kaisar Tiberius, jam 11.00 – 14.00 (1 jam lebih awal). Di wilayah Kashmir India zaman Kaisar Meghavahana Dinasti Gonanda II, jam 15.30 – 18.30 (3,5 jam lebih maju). Di wilayah Kaisar Guangwu Dinasti Han Timur di China, mendadak gelap saat matahari terbenam jam 18.00 – 21.00 (6 jam lebih maju). Di Pulau Jawa saat itu Jawa-Dwipa, jam 17.00 – 20.00 (5 jam lebih maju), mendadak petang hari menjadi gelap, bulan bintang tidak kelihatan, dan tiba-tiba jam 20.00 langit malam kembali cerah. Wah peristiwa alam yang mahadahsyat. Di zaman Firaun Mesir pernah ada kegelapan setempat selama tiga hari penuh. Keluaran 10:22-23 Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya. TUHAN pencipta semesta alam, TUHAN Yang Mahakuasa, dapat membuat perubahan alam semesta, berkuasa membuat matahari tidak bersinar selama beberapa hari atau tidak bersinar pada jam saat penyaliban. Di kitab Yosua, matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Juga di 2 Raja-raja 20:11 Nabi Yesaya berdoa kepada TUHAN, dan dibuat-Nyalah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak, yang sudah dijalani bayang-bayang itu pada penunjuk matahari buatan Ahas. Jadi jarum jam malahan berjalan mundur. Hati orang mana yang merasa tidak gentar dan sangat takut melihat fenomena alam matahari mendadak gelap selama 3 jam, membuat kepala pasukan Romawi yang berdiri berhadapan melihat kematian Yesus disalib berkata: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39)  Saudaraku, dari Lukas 23:44-48, kita diajak memahami bahwa peristiwa penyaliban Yesus sesungguhnya menjadi peristiwa kasih yang melahirkan banyak peristiwa dan perubahan ajaib: Langit yang gelap karena mentari tidak bersinar, tabir Bait Suci terbelah dua, kepala pasukan memuliakan Allah, hingga orang banyak yang menyesali apa yang terjadi (Ayat 44-48).   Orang-orang yang mengenal Yesus dari dekat serta para pengikut-Nya melihat dan menjadi saksi akan peristiwa kasih terbesar sepanjang masa (Ayat 49) ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya (ayat 46). Karena kasih-Nya, Yesus telah mati untuk kita (bdk. Yohanes 3:16). Dengan lebih dalam, mari kita lihat dan resapi semua peristiwa ini, dan katakan: “Yesus, terima kasih untuk kasih-Mu”.Saudaraku, tatanan masyarakat kita sekarang ini sedang kering dengan cinta kasih. Semua orang sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri. Di tengah kehidupan dunia yang dipenuhi oleh nilai-nilai egoisme dan individualisme ini, kita belum bisa memiliki kualitas kasih seperti Yesus.Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada-Nya agar kita bisa mengasihi sama seperti Ia mengasihi dunia dan umat manusia. Dengan demikian, kasih terbesar yang telah Ia lakukan dan tunjukkan tidak hanya terjadi di atas salib 2.000 tahun yang lalu, namun bisa terus tampak nyata sampai akhir zaman MELALUI DIRI KITA. (Surhert).

MENGHAMPARKAN PAKAIAN MEMBUKA JALAN

Saudaraku, di awal perenungan kita pada hari ini, coba kita menelaah apa yang dicatat oleh Markus: “ … mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang.” (Markus 11:7-8) Lho kok mau-maunya orang sampai menghamparkan pakaian untuk jalan? Tapi ada juga di PL, pasukan Panglima Yehu masing-masing mengambil pakaiannya dan membentangkannya di hadapan kakinya begitu saja di atas tangga, kemudian mereka meniup sangkakala serta berseru: “Yehu raja!” (2 Raja-raja 9:13). Gereja kami saat acara HUT di Istora Senayan mengundang Gubernur Ahok untuk hadir. Saat masuk Istora Ahok didampingi Ketua Majelis berjalan gagah, hadirin sekitar 10.000an orang berdiri bertepuk tangan, dan Ahok tersenyum cerah beberapa kali melambaikan tangan ke jemaat. Saya pernah menonton show penyanyi raja ndang-dut, yang saat masuk di stadion setidaknya sekitar 10 orang kekar membuka jalan menyibak massa yang ingin berebut bersalaman. Juga saya melihat seorang paslon presiden datang ke kampanye puluhan ribu orang, berjalan masuk stadion dengan tegap, melambaikan-lambaikan tangan, beberapa kali mengepalkan tangan, berteriak “Merdeka!”, hadirin gemuruh bertepuk tangan. Yang keren lagi, sekitar sepuluh tahun lalu, saat Pdt Benny Hinn datang memimpin KKR di Ancol yang dihadiri lebih dari 200.000 orang, wah … datang dari Hotel Borobudur ke belakang panggung KKR dengan naik helikopter. Itulah hidup, tapi aku belum pernah melihat orang menghamparkan pakaian di jalan untuk menyambut kedatangan seorang tokoh. Saudaraku, waktu Yesus naik keledai arak-arakan menuju Yerusalem, keledai berjalan di atas bentangan pakaian warga, dan di kanan-kiri warga melambai-lambaikan ranting-ranting hijau. Kira-kira saat itu apakah Yesus senyum-senyum bahagia, melambai-lambaikan tangan dan menyalami massa? Tidak dicatat begitu ya, malahan Yesus MENANGISI Yerusalem (Lukas 19:41). Mengapa warga Yerusalem yang menyambut Yesus rela menghamparkan pakaiannya agar keledai yang ditunggangi berjalan lewat hamparan itu? Saat itu Yesus tidak pakai voorijder untuk membuka jalan, rakyat pasti akan berebut menyalami, berebut, malahan akan menghambat jalan ke depan. Karenanya ada pakaian-pakaian yang dihamparkan di depan pasti dimaksudkan untuk membuka jalur jalan, dan orang-orang yang ingin berebut bersalaman tidak ikutan menginjak-injak pakaian, supaya rombongan Yesus lancar jalannya dan segera masuk kota Yerusalem. Menyambut kedatangan Yesus, bahkan menghamparkan pakain untuk membuka jalan, menunjukkan antusias yang sangat besar. Mungkin orang-orang Yahudi saat itu berpikir Yesus masuk Yerusalem, lalu akan cari panggung besar di alun-alun, berdiri di mimbar tinggi, umbar seyum dan tawa bahagia, dan di depan massa akan mengepalkan tangan ke atas, lalu meneriakkan: “Merdeka! Kita usir penjajahan Romawi hari ini!” dan mengharapkan Yesus mengadakan berbagai mukjizat, menandakan datangnya raja atau ratu adil makmur yang ditunggu-tunggu. Saudaraku, hari ini, kira-kira bagaimana suasana hatimu saat ibadah di hari Minggu Palem? Ikutan menyambut Yesus atau ah … merasa biasa-biasa saja karena ini rutin tahunan diadakan di gereja? Kalau kita benar ingin menyambut kehadiran Yesus di hati, apakah kita jelas maksud dan tujuannya? Supaya Tuhan Yesus selalu melakukan mukjizat dan melimpahkan berkat bagi diri kita? Jangan sampai Yesus kembali menangisi diri kita: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” (Lukas 19:42) Saudaraku, mengapa dan kapan saja kita menangis? Apakah kita lebih banyak menangis karena dan bagi diri sendiri? Saat kita merasa sakit, kehilangan, dirugikan, dan lain sebagainya?  Yesus menangis karena manusia berdosa terpisah jauh dari Bapa yang sangat mengasihi mereka. Mereka tidak juga mengerti bahwa jalan untuk kembali kepada Bapa dan kemuliaan-Nya sudah dijembatani oleh-Nya. Apakah hati kita juga menangis melihat jiwa-jiwa yang tersesat? Maukah kita terus mendoakan, memerhatikan, dan menyampaikan berita keselamatan-Nya, agar mereka tidak menangis selamanya dalam kebinasaan kekal? (Surhert).

God Never Sleeps

PENGANTAR KITAB ZEFANYA. Sahabat, ada cukup banyak orang percaya mengenal nama Raja Yosia sebagai salah seorang raja Yehuda yang baik, tetapi kurang mengenal nama Nabi Zefanya. Padahal, mereka hidup sezaman dan keduanya adalah keturunan dari Raja Hizkia (Zefanya 1:1).  Walaupun Raja Yosia termasuk generasi ketiga sesudah Raja Hizkia, sedangkan Nabi Zefanya merupakan generasi keempat, tampaknya usia Nabi Zefanya lebih tua daripada Raja Yosia, karena kondisi saat Nabi Zefanya menyampaikan pesan dari TUHAN lebih cocok bila disampaikan di awal pemerintahan Raja Yosia. Raja Yosia mulai memerintah pada usia delapan tahun. Pada tahun kedelapan belas pemerintahannya, yaitu saat dia berumur dua puluh enam tahun, dia memerintahkan agar Bait Allah di Yerusalem direnovasi. Saat renovasi dilakukan, Imam Besar Hilkia menemukan kitab Taurat, lalu kitab Taurat itu diserahkan kepada Panitera bernama Safan untuk disampaikan kepada Raja Yosia.  Saat Safan membaca kitab Taurat itu, sadarlah Raja Yosia bahwa kehidupan umat Yehuda telah sangat berdosa di hadapan TUHAN, sehingga ia merendahkan dirinya, menangis, lalu mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda penyesalan.  Konteks sejarah inilah yang membuat kita menduga bahwa Nabi Zefanya menyampaikan nubuat penghukuman TUHAN di awal pemerintahan Raja Yosia, dan besar kemungkinan bahwa nubuat Nabi Zefanya adalah salah satu penyebab munculnya reformasi pada zaman pemerintahan Raja Yosia (2 Raja-raja 22). Dalam kitab Zefanya dan juga dalam berbagai kitab lain dalam Perjanjian Lama, hari saat Tuhan menjatuhkan hukuman disebut hari TUHAN. Bagi umat Yehuda yang telah meninggalkan TUHAN dan menggantikannya dengan menyembah berhala, termasuk bagi para pemimpin umat yang telah menyelewengkan umat dari praktik penyembahan kepada TUHAN, hari TUHAN itu merupakan hari penghukuman yang amat mengerikan! Akan tetapi, bagi umat TUHAN yang setia atau bagi umat TUHAN yang telah bertobat, hari TUHAN itu merupakan hari yang membangkitkan pengharapan. Kita perlu menyadari bahwa hari penghukuman yang pernah dijatuhkan TUHAN kepada umat-Nya itu bukanlah penghukuman final. Hari penghukuman final masih belum tiba! Syukur kepada Tuhan, hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Zefanya dengan topik: “God Never Sleeps (Tuhan Tidak Pernah Tertidur). Bacaan Sabda diambil dari Zefanya 1:2-18. Sahabat, meraih suatu pencapaian yang luar biasa tentu membuat diri merasa bangga. Ada kalanya kegembiraan tersebut membuat orang lepas kendali dan ingin menceritakannya kepada setiap orang yang dijumpai, juga menuliskannya melalui dinding media sosial. Tujuannya tak lain untuk menunjukkan eksistensi diri, mencari pengakuan bahwa kitalah yang melakukan hal besar dan luar biasa itu.Jika kita memiliki kebiasaan mengagungkan kemampuan atau pencapaian diri, waspadalah supaya jangan sampai kita memiliki pandangan yang menganggap Allah tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan sehari-hari manusia. Padahal, bukankah TUHAN TIDAK PERNAH TERTIDUR? Dia tetap memegang kendali. Pada saat-Nya Dia akan menunjukkan kehadiran dan kuasa-Nya, tak segan menghukum setiap manusia yang berani berbuat dosa karena tidak memiliki kepedulian pada keberadaan-Nya.Sahabat, anggur yang baik mutunya, yakni jernih dan bebas ampas, didapatkan karena mengalami proses penuangan atau pemindahan dari tempayan satu ke tempayan lain melalui penyaring.  Karena itu mari kita perhatikan kehidupan kita, supaya hidup kita tidak mengental seperti anggur di atas endapannya: Berpuas diri karena merasa bahwa semua kemampuan dan pencapaian adalah hasil usaha sendiri; bertingkah sesuka hati dan berkubang dalam dosa tanpa perasaan takut kepada Allah layaknya seorang pemabuk yang sedang teler. Orang yang terbuai dalam kenyamanan karena merasa diri hebat tidak akan pernah mengalami PROSES PEMURNIAN TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-6? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Membuka hati dan menjadi peka membuat kita merasakan keterlibatan Allah secara aktif dalam kehidupan kita. (pg).   

PUASA: SOLIDARITAS DALAM KEHENINGAN

Saudaraku,  sebagai makhluk komunal, manusia saling membutuhkan satu sama lain.  Sekuat apapun, manusia akan selalu membutuhkan dukungan dari sesamanya.  Mari kita renungkan kekuatan dukungan spiritual yang mengubahkan dalam Ester 4. Walau Ratu Ester yang cantik jelita adalah kesayangan Raja Xerxes, ia tahu benar bahwa nyawanya dipertaruhkan kalau ia melanggar aturan.  Walaupun Raja sangat mencintainya, Raja bisa menjadi bertindak kejam kalau ada yang melanggar aturan yang satu ini:  Menghadap Raja tanpa dipanggil.   Kekuasaan Raja yang absolut membuatnya  bisa melakukan apa pun sesuai suasana hatinya dan itu sebabnya Ratu Ester sangat gentar saat ia didesak pamannya untuk menghadap Raja dengan inisiatif sendiri demi memperjuangkan nasib orang sebangsanya yang ada di depan moncong genosida (Pembunuhan secara massal untuk memusnahkan suatu kelompok tertentu) .   Kegentaran inilah yang membuat Sang Ratu gentar dan meminta dukungan spiritual kepada semua orang Yahudi.  Mereka diminta untuk berpuasa selama tiga hari lamanya sebagai tanda solidaritas dan dukungan dan karenanya Ratu Ester mantap menghadap Raja.  Ratu Ester bersama-sama dengan rakyatnya mengetuk pintu surga untuk meminta pertolongan.  Puasa mereka menjadi perjuangan spiritual yang yang masif dan membuat Allah bertindak menolong di saat genting itu.   Ternyata melawan kelaliman tidak harus dengan kekuatan yang frontal, dengan senjata ataupun peperangan dahsyat.  Dalam kasus Ratu Ester, yang dihadapi adalah penguasa dan peraturan yang absolut dimana Ratu mewakili pihak yang lemah.  Oleh karena itu puasa yang dilakukan Ratu Ester dan orang Yahudi menjadi simbol perlawanan bersama dalam keheningan dengan menggandeng Tuhan sebagai pembela kaum yang lemah.    Puasa menjadi lambang solidaritas perjuangan dalam diam.   Ratu Ester yang gentar, merasakan mukjizat besar setelah menerima dukungan setelah berpuasa bersama yaitu keberanian, kepasrahan dan kekuatan untuk menghadap Raja sebagaimana dikatakannya: ”… kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (Ester 4:16).    Ia mantap untuk berjuang walau harus mempertaruhkan nyawa dan kemantapan itu didapatnya dari kepasrahan kepada Sang Pemilik Kehidupan melebihi ketakutannya kepada Raja.  Dalam kepasrahan itulah Ratu Ester memperjuangkan nasib bangsanya dan Tuhan bertindak menyelamatkan mereka. Puasa bukan alat untuk memaksa Tuhan melainkan sebuah upaya untuk merendahkan diri sehingga manusia makin belajar untuk hidup tunduk dalam kehendak-Nya, menyesuaikan diri dengan cara kerja-Nya dan mengikuti jalan yang dikehendaki-Nya.   Puasa adalah bentuk solidaritas sebagaimana Yesaya 58:6 mengatakan, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk.”  Saudaraku, mari belajar untuk hidup dalam solidaritas dengan sesama melalui puasa dan nikmati mukjizat-Nya yang menguatkan dan mengubahkan. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

LAKI-LAKI PEMBAWA KENDI YANG MISTERIUS

Saudaraku, selalu ada orang di balik layar untuk sebuah acara.  Ia tidak terlihat, tidak tercatat dan bahkan tidak sempat menjadi fokus perhatian namun memegang peranan yang penting.  Ada seorang laki-laki misterius yang mengambil peranan penting dalam peristiwa Perjamuan Terakhir yang terkenal itu dan mari renungkan peranannya dalam Lukas 22:7-13. Pesan Yesus untuk Petrus dan Yohanes menemui dan mengikuti seorang laki-laki yang membawa kendi berisi air sudah terlihat janggal karena biasanya perempuanlah yang memanggul kendi.  Hari itu menjadi luar biasa untuk para murid.  Laki-laki itu sendiri membawa kendi entah untuk keperluan apa, namun saat Petrus mengatakan bahwa Sang Guru ingin memakai rumahnya untuk makan perjamuan Paskah, laki-laki itu memperbolehkan rumahnya untuk dipakai dan bahkan ia memperlengkapi lantai atas rumahnya dengan perabot dan peralatan untuk  Perjamuan Paskah.   Ia menyambut ramah para murid sebagaimana orang Yahudi yang lain.  Memang di kalangan orang Yahudi  tradisi menerima tamu adalah sebuah kewajiban  dan bahkan bisa disebut dengan kehormatan.  Menyambut tamu bagaikan menyambut Malaikat seperti kisah Abraham yang menerima para malaikat di rumahnya (Kejadian 18:1-5).   Ia hanya menyambut para murid dan menyediakan keperluan Perjamuan Paskah untuk Yesus dan rombongannya.  Namun perannya penting karena di ruangan atas rumah orang itulah terjadi peristiwa pembasuhan kaki, pemberian perintah baru untuk mengasihi dan bahkan  pengkhianatan Yudas kepada Yesus terungkap di sini.  Nama lak9i-laki pembawa kendi itu tetap tidak disebutkan namun ia memberi sumbangsih yang besar dalam rangkaian Kisah Paskah yang akan diingat sepanjang zaman. Menjadi orang di belakang layar bukanlah hal yang mudah.  Setiap orang ingin disadari eksistensinya dan berusaha menampilkan diri agar dikenal dengan mengangkat segala kebaikan dan karyanya di depan banyak orang.  Setidaknya namanya tercantum dalam daftar yang bisa dilihat orang, itulah yang banyak diperjuangkan.  Namun dalam kisah yang menjadi perenungan ini, Lukas menuliskan bahwa di balik berbagai peristiwa besar ada peran dari laki-laki misterius pembawa kendi  sekaligus pemilik rumah yang lantai atasnya dipakai oleh rombongan Yesus.   Mengerjakan segala tugas dengan sepenuh hati, rela dan tulus menjadi kunci untuk menjadi pribadi di balik layar.  Tidak perlu minder dengan situasi ini karena biasanya orang seperti ini justru memegang peranan penting dalam sebuah peristiwa atau keberhasilan seseorang.   Saudaraku, kerjakan saja tugas dan kewajiban seperti untuk Tuhan, besar ataupun kecil sebagaimana nasihat Paulus kepada para hamba di Kolose: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23).   Mari lakukan semua dengan sepenuh hati walau tak seorang pun mengingatnya. Tuhan melihat dan akan mencatatnya dalam Buku Kehidupan.  Lakukanlah semua untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

SIAPAKAH SESAMAKU?

Ini kisah dari rumah sakit, pasien satu kamar di bangsal 6 bed. Kemarin malam ada pasien dalam keadaan tidak sadar diangkut ke kamar, dari bagian UGD sudah dipasangi oksigen. Siangnya ada seorang bapak tua datang dengan wajah letih, dari Cilacap. Ternyata yang dirawat anaknya, jadi sopir travel borongan ke Jakarta.  Nyetir beberapa jam nonstop tanpa digantikan, setelah antar penumpang, sangat capai, tidur di mobil pakai AC hampir semalam. Nah tahu-tahu ditemukan sudah pingsan. Oleh teman-teman di pangkalan dibawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar, bapaknya ditelepon supaya datang. Ayahnya datang seorang diri, kebingungan, anaknya digoyang-goyang diteriakin tidak menjawab. Ini anak pertamanya, usia 21 tahun. Di Jakarta tidak punya siapa-siapa.  Anaknya 2 orang, yang kedua seorang anak perempuan, sedang belajar di SMK.  Anak pertamanya sudah memberikan cucu 2 orang. Cucunya kembar, perempuan dan laki-laki, berusia 3 tahun. Pasien dari sejak masuk sampai sekarang pakai oksigen, tidak ada pergerakan sama sekali, kata ayahnya tidak  ada respons, jantung bermasalah. Semakin siang, Sang Ayah semakin nampak bingung. Seorang ibu yang menjaga suaminya di bangsal mendengar cerita Sang Ayah, tergerak memberikan sejumlah uang sambil menyeka mata. Sang Ayah menerima uang dengan tangan sangat bergetar, namun tidak terucap kata-kata dari mulutnya, karena Sang Ibu yang memberikan uang dari etnik berbeda dan sama sekali tidak dikenalnya. Lalu ada beberapa keluarga pasien lainnya yang turut memberikan uang. Sang Ayah nampak semakin menangis, beberapa kali tangannya ditengadahkan ke langit, berdoa … Si ibu kembali kepada suami yang dijaganya, masih menangis, anak kembar Pak Sopir masih kecil-kecil, bagaimanamana nantinya? Suaminya yang sedang sakit menepuk-nepuk tangannya, dan berujar lirih, “Pemberianmu sangat berarti bagi Pak Sopir dan keluarganya.”  Si Ibu tadi mengusulkan ke Sang Ayah agar anaknya dibawa pulang ke desa saja sebab perawatan di RS akan sangat mahal dan kondisi pasien tidak sadarkan diri, mungkin dirawat di desa bisa cepat siuman. Sang Ayah lalu diajak seorang keluarga pasien lainnya ke bagian admin, dan bilang minta keluar dari RS dengan ambulan disewa sendiri. Suster datang ke kamar melihat kondisi pasien, tidak ada perubahan. Kemudian ada seseorang dari bagian admin yang membawa dokumen, menjelaskan SOP pasien pulang. Dia berkata cukup keras, semua dengar: “Bapak, ini pasien masuk dalam kondisi tidak sadar, koma, sekarang akan dibawa dengan ambulan sendiri ke Cilacap atas permintaan keluarga. Ada risiko kekurangan oksigen di jalan atau meninggal dunia, jadi ini di luar pelayanan rumah sakit dan menjadi risiko sendiri. Silakan bapak tandatangan di surat pernyataan ini”  Entah pakai meterai atau ndak. Kemudian admin memberikan surat keterangan untuk pengurusan pembayaran di kasir. Ambulan datang jam 10 malam, beberapa rekan sopir ikutan datang, menghibur Sang Ayah yang beberapa kali menunjukkan gestur berdoa. Entah jam berapa nantinya baru tiba di desa, kondisi anaknya juga tidak tahu lagi. Menyusuri jalan tol dan jalan negara yang gelap. Entah berapa ratus kilometer dari Jakarta ke Cilacap, segala kemungkinan bisa terjadi. Saudaraku, inilah kenyataan hidup, sesuatu yang tidak diinginkan bisa terjadi mendadak. Ketika aku sedang menggumuli hal tersebut, ada suara lembut berbisik di hatiku: “Sur, renungkanlah perumpamaan Orang Samaria Yang  Murah Hati”. Maka segera aku membaca dan merenungkan Injil Lukas 10:25-37.  Saudaraku, Tuhan Yesus Kristus menunjukkan melalui sebuah perumpamaan, bahwa orang yang darinya kita butuh perbuatan baik mereka dan yang siap membantu kita dengan perbuatan baiknya, tidak bisa tidak harus kita anggap sebagai sesama manusia kita.  Sama halnya juga, kita harus memandang sebagai sesama kita, semua orang yang memerlukan perbuatan baik kita dan yang perlu kita bantu dengan kebaikan hati kita, meskipun mereka bukan seetnik, bukan sebangsa dan bukan seagama dengan kita. Saudaraku, bagaimana dengan kita di Zaman Now:  Siapakah sesamaku manusia? Jawabannya jelas adalah semua orang, semua manusia. Tetapi Tuhan Yesus tentu hendak mengingatkan kepada si ahli Taurat, sekaligus kini mengajarkan kepada kita  bahwa orang-orang Samaria bukan orang kafir, melainkan jauh lebih luhur daripada para ahli taurat, imam dan pemuka Yahudi lainnya dalam konteks perumpamaan tersebut. Inti perumpamaan tersebut adalah: Tiap-tiap orang yang melihat orang lain dalam kesusahan, harus merasa dirinya sebagai sesama-manusianya dan wajib menolong dia, bahkan walaupun ia dipandang sebagai musuh. Konfirmasi kebenaran firman ini, kita tarik dari jawaban si ahli Taurat sendiri:  “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”  (Ayat 37).  Saudaraku, mari mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita manusia. Siapakah sesamaku manusia itu? Sekarang pasti kita sudah bisa lebih mantap menjawab dan melakukan dalam perbuatan nyata. (Surhert).