HOME SWEET HOME

Saudara, aku ingin menyaksikan pekerjaan Tuhan bagi kelompok yang terpinggirkan di sekitar gereja kami. Sekitar awal 1986 gereja kami mulai merintis pelayanan cell group, khususnya untuk menjangkau keluarga-keluarga yang tinggal di gang-gang sempit di kawasan jalan Labu yang padat di belakang gereja. Mereka umumnya tinggal di rumah yang sederhana. Jalanan di depan rumah hanya cukup untuk berpapasan becak dan gerobak tukang sayur. Got yang sering mampat dan bau, juga beberapa kali saat hujan deras pasti banjir menggenang. Pernah ada beberapa anggota jemaat yang mencoba pelayanan ke mereka, membagikan sembako dan mengajak ke gereja, namun nyaris nihil. Mereka minder bila mesti datang ke gereja di hari Minggu, karena mungkin tidak memiliki pakaian yang warnanya cerah tidak pudar, juga mungkin lebih banyak yang pakai sandal jepit atau sandal Asahi, sandal dari plastik yang dipakai asal kaki diselobokkan saja.  Sementara angota gereja banyak yang datang memakai mobil maupun motor, dan yang kaum perempuan mungkin memakai parfum yang baunya dapat dibaui dalam jarak 2 meter. Tentu ada perbedaan strata sosial dan ukuran kantong … Namun bagaimanapun setiap jiwa dipandang sangat berharga oleh Tuhan, tapi bagaimana menjangkau mereka? Ini yang perlu dipikirkan dan direnungkan. Suatu hari ada seorang encik usia 50 tahun lebih, ibu Chai Mei, seorang janda yang baru ditinggal mati oleh suaminya. Saat dia mengalami kesusahan, ada beberapa anggota gereja yang mengenalnya melayat, dan ibu Chai Mei terkesan sekali dengan perhatian yang diberikan.  Kemudian dia percaya pada Tuhan dan mengatakan kepada bapak Gembala Sidang bahwa dia ingin mempersembahkan rumah sederhana yang disewanya agar dapat dijadikan tempat pelayanan bagi tetangga sekitarnya. Ada sebuah peluang yang baik, namun bagaimana strategi yang mesti dipilih, karena tingkatan sosial dan budaya lingkungan yang akan dilayani berbeda dengan kondisi jemaat. Beberapa orang guru Sekolah Minggu (SM) yang aktif di Komisi Pemuda mengambil kesempatan ini, mereka dari kalangan menengah saja, menjadi guru SM biasa blusukan ke rumah murid-murid membawa gitar mengajak memuji Tuhan, juga kalau ngomong ya pakai bahasa yang mudah dimengerti. Ternyata kehadiran anak-anak muda ini mudah diterima oleh ibu Chai Mei dan tetangganya, ngobrol dengan bahasa sehari-hari, mengajak menyanyi gembira memuji Tuhan dengan bertepuk tangan, dan Firman Tuhan juga disampaikan oleh para guru SM ini, bukan oleh rohaniwan yang mungkin memakai istilah-istilah teologi yang rumit. Hadirin yang datang mencapai 25 orang kadang lebih, dari kalangan tua maupun anak muda, sedangkan tim yang berkunjung 3-5 orang, ruangan yang sempit, tidak cukup meskipun duduk di tikar hampir jongkok. Jadilah seminggu dua kali diadakan persekutuan, jadi semua dapat hadir. Dari rumah kontrakan sederhana dan sempit akhirnya menjadi “home sweet home” bagi warga, karena dari tempat ini dapat mendengarkan berita tentang keselamatan dan penebusan Tuhan Yesus untuk umat yang berdosa. Dan dari rumah ini pula timbul kerinduan dan keberanian dari warga untuk datang beribadah di gereja pada hari Minggu, khususnya di kebaktian pagi jam 6.30 dan jam 18.00 petang. Berjalan beberapa bulan, beberapa warga yang hadir tergerak ikut kelas katekisasi. Gembala Sidang dengan senang segera mengadakan kelas khusus katekisasi, tidak menunggu berlama-lama sesuai jadwal regular katekisasi yang rutin diadakan setahun 2 kali. Akhirnya pada tanggal 7 Desember 1986 Gembala Sidang dapat membaptis  22 orang anggota persekutuan jalan Labu dalam Kebaktian Minggu di gereja jam 6.30 dan 18.00. Inilah awal cell grup yang ada di gereja kami. Saat acara baptisan jam 18.00 aku berkesempatan menjadi juru foto baptisan. Foto anggota baptisan dengan Gembala Sidang dan Ibu ternyata menjadi salah satu foto paling bersejarah di gereja kami, karena menunjukkan bagaimana Tuhan juga mengasihi warga dari kalangan sosial yang berbeda dan kemudian para warga ini ternyata dapat bergaul dengan anggota jemaat yang ada.  Saudaraku, jadi foto sejarah gereja bukan tentang gedung gereja yang dibangun atau peresmian, atau pas ada retret atau KKR, tapi foto baptisan. Beberapa puluh tahun kemudian aku juga melihat foto ini disimpan oleh Pak Gembala Sidang di salah satu albumnya, sebagai kenangan yang manis dalam perjalanannya sebagai Hamba Tuhan. Oh ya, mari kita hayati dengan mendalam penggalan perumpamaan yang dituturkan oleh Tuhan Yesus: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4). (Surhert)

SEPATU JOHN HARVARD

Saudaraku, Harvard University di Cambridge Massachusetts USA didirikan pada tahun 1636, salah satu perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat. Awalnya bernama New College, dan dinamakan ulang menjadi Harvard College pada tahun 1639 untuk menghormati John Harvard, usianya 31 tahun (1607-1638), yang menjadi donatur terbesar dan menyumbangkan 400 buku literatur miliknya. Untuk menghormatinya di halaman kampus pada tahun 1884 didirikan patung John Harvard dalam posisi duduk setinggi 180 cm dan diletakkan di atas tugu setinggi 155 cm. Di Amerika Serikat banyak dibuat patung untuk menghormati para tokoh bangsa, antara lain patung Abraham Lincoln, Franklin Delano Roosevelt, Martin Luther King, Jr. dan masih banyak lagi. Hanya saja memorial John Harvard yang dibuat dari bronze (perunggu),  yang merupakan campuran dari Cu (tembaga) + Zn (seng) dan Sn (timah). Dikunjungi sekitar 20.000 pengunjung per tahun selama lebih dari 100 tahun terakhir. Hampir setiap pengunjung selalu memegang dan menggosok-gosok sepatu John Harvard, sehingga bagian sepatu nampak mengkilap karena perunggunya memudar sehingga nampak lapisan tembaganya yang berwarna merah-coklat.  Katanya, orang-orang menggosokkan tangannya ke bagian sepatu sembari mengucapkan suatu permohonan. Konon cukup banyak mahasiswa di Harvard  sebelum masa ujian datang ke patung ini untuk ikutan menggosok sepatu, maksudnya agar dapat lulus.   Saudaraku, nampaknya sebagai lucu-lucuan saja kok ada turis dan orang di Amerika yang ngalap berkah atau permohonan terhadap sesuatu benda. Tapi kalau kita perhatikan banyak pedagang di pasar tradisional yang sering mengebut-ngebutkan atau mengibas-ngibaskan uang penjualan yang diterimanya dengan mengatakan, semoga hari ini laris dan dagangan cepat habis, atau bisa pula si pedagang mengucapkan mantra-mantra yang lain agar cuannya (untungnya) banyak. Atau bahkan mungkin diri kita sendiri suka mengucapkan hal-hal yang mirip mantra atau menyombongkan diri ketika mendapatkan sesuatu prestasi, bukan justru mengucap syukur kepada Tuhan. Saudaraku, kadang  kita lupa untuk menjaga mulut agar tidak otomatis mengucapkan sesuatu ucapan bila melihat sesuatu, seperti saat melihat orang yang sering nyinyir dan orang itu mendapatkan musibah, kita otomatis mengatakan: “Nah rasa’in luh.” Atau mulut kita dengan mudahnya mengucapkan kutukan bila menemui hal-hal yang menentang kita. Untuk itu mari kita merenungkan peringatan dari Yakobus yang terdapat dalam Yakobus 3:1-12 dengan penekanan pada ayat 5. Saudaraku, sebuah berita di surat kabar memaparkan seorang laki-laki yang menabrakkan dirinya pada kereta api yang melintas. Diperkirakan laki-laki tersebut begitu terpuruk dan depresi karena tidak tahan menghadapi caci-maki orang-orang yang berurusan utang-piutang dengannya. Berbagai hujatan dan ancaman ditujukan kepadanya secara terbuka melalui media sosial. Kondisi tersebut akhirnya membuatnya makin putus asa hingga nekat mengakhiri hidupnya.   Demikian dahsyatnya dampak kata-kata yang diucapkan lidah. Yakobus mengingatkan kepada orang Kristen Yahudi saat itu tentang betapa pentingnya memperhatikan perkataan kita. Lidah merupakan anggota kecil dari tubuh, tetapi seperti api yang dapat membakar hutan (Ayat 5).  Bahkan, Yakobus menyebutnya dunia kejahatan (Ayat  6). Lidah dapat mengeluarkan kutuk, fitnah, hinaan, dan sebagainya. Karenanya, penting untuk mengekang dan mengendalikan lidah sehingga tidak keluar kata-kata yang menghancurkan perasaan dan kehidupan orang lain.   Mari kita menggunakan lidah untuk kebaikan dan memberkati sesama. Bukan lidah yang menguasai kita, tetapi kita yang menguasai lidah. Kita bisa memulainya dengan melatih diri bergaul dengan firman Tuhan sehingga terhindar dari perbendaharaan kata yang dapat melukai orang lain.  Hendaknya lidah kita gunakan untuk bersaksi tentang kasih Kristus pada manusia melalui kalimat-kalimat penghiburan, penguatan, teguran yang lembut dan peneguhan. Biarlah lidah kita bukan merusak sesama, melainkan membangun hidup mereka. Saudaraku, memang lidah tak bertulang, tetapi cukup kuat untuk menghancurkan atau memelihara sebuah kehidupan. (Surhert). 

PALING EGOIS

Saudaraku, pernah mengikuti pelatihan jurnalistik, seorang wartawan senior memberikan petunjuk dalam penulisan berita, yakni jangan menggunakan kata aku atau saya dalam menuliskan berita, sebab itu tidak obyektif dan tergantung ego atau kemauan si wartawan sendiri.  Dalam suatu laporan berita sampaikan hal-hal yang paling obyektif, mengungkapkan peristiwa dari banyak sudut pandang supaya pembaca mempunyai gambaran yang jelas tentang suatu berita, jangan menggiring pembaca ke suatu opini. Jadi jelas, jika suatu berita atau laporan menampilkan kata-kata aku atau saya, berarti itu opini, bukan sesuatu yang obyektif. Seperti kita melihat di tiktok banyak influencer yang mempromosikan suatu restoran. Menyampaikan narasi berita dan gambar: “Ini lho sudah aku nikmati bakmi ini, wuah rasanya seperti apa, uenaknya, dagingnya demikian crispy dan lezatnya, sayurannya tetap berwarna hijau terang, dan sebagainya.”  Semua di video dengan warna yang dibuat cerah, jadi menggiring opini orang yang melihatnya, padahal kalau benar-benar kita datang dan membeli bakmi yang dipromosikan, ternyata ya rasanya biasa-biasa saja, bahkan pemakaian micin atau vetsin demikian banyak, yang menstimulasi otak supaya mengatakan rasa enak … Nah ini, ketika kita membaca ayat di Mazmur 18:3 Terjemahan Baru (TB), ternyata ini satu-satunya ayat di Alkitab yang paling banyak menyebutkan opini kata aku. Perhatikan ya: Ya TUHAN, bukit batuku (1), kubu pertahananku (2) dan penyelamatku (3), Allahku (4), gunung batuku (5), tempat aku (6) berlindung, perisaiku (7), tanduk keselamatanku (8), kota bentengku! (9). Ada 9 kata aku. Ternyata di terjemahan King James Version (KJV) juga sama. Psalm 18:2 The LORD is my (1) rock, and my (2) fortress, and my (3) deliverer; my (3) God, my (4) strength, in whom I (5) will trust; my (6) buckler, and the horn of my (7) salvation, and my (8) high tower.  Ada 8 kata my dan I. Saudaraku, kalau dipikir-pikir, bagaimana jika kata-kata aku dihilangkan dari Mazmur 18:3? Mungkin jadinya seperti ini: Ya TUHAN, bukit batu, kubu pertahanan dan penyelamat, Allah, gunung batu, tempat berlindung, perisai, tanduk keselamatan, kota benteng!  Nah, jadinya aneh ya, sepertinya Tuhan itu ada di posisi sendiri nun jauh di sana, dan kita hanya memandang dari kejauhan. Mungkin seperti Saudara berdiri di Simpang Lima Semarang dan memandang Gunung Ungaran di kejauhan. Aku jadi ingat pengalaman ketika berkunjung ke Great Wall di Badaling sebelah utara Beijing. Berdiri berfoto di salah satu sisi Great Wall yang demikian megah dan tinggi, membayangkan tembok ini lebih dari 10.000 km membentang, dibangun dalam kurun waktu ratusan tahun, oleh ratusan ribu rakyat dari beberapa generasi dan kekaisaran.  Saat itu bermanfaat untuk menahan serbuan dari suku-suku asing dari utara negeri China. Ya, musuh dari posisi bawah menggunakan kuda, kereta, panah dan tombak, pasti tidak bisa melawan tentara yang ada di atas tembok pertahanan yang menjulang tinggi. Tapi kalau perang zaman sekarang, ya bubar, karena ada peluru kendali, tank, apalagi helikopter yang bisa menembak dari atas. Jadi tembok perlindungan zaman dulu tidak berlaku untuk perlindungan zaman now. Seperti kata-kata aku yang sembilan kali disebutkan Daud di Mazmur 18:3, itu merupakan pengalaman Daud terhadap Tuhan, ditulis sekitar tahun 1000 Sebelum Masehi. Zaman now, saat ini, sudah 3000 tahun dari saat penulisan ayat itu, ternyata kata-kata aku yang sembilan kali disebutkan itu tetap berlaku, bahwa Tuhan tetap menjadi perlindungan dan penyelamat bagi diri kita.  Entah umur Saudara hari ini 20 tahun atau 50 tahun bahkan 80 tahun, ayat tersebut tetap tidak berubah, bahwa TUHAN, adalah bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!  Saudaraku, Daud bersyukur kepada Allah karena Dia telah menyertainya dan memberi kemenangan dengan cara menjadi tempat perlindungan terkokoh bagi Daud. Semoga demikian juga dengan engkau dan aku. (Surhert)

The Vision of God’s Power

KUASA ALLAH. Kuasa dapat diartikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu berdasarkan kekuatan, keahlian, sumber daya, atau otoritas. Alkitab mengajar bahwa kuasa orang Kristen berasal dari Allah melalui Roh Kudus.Allah adalah sumber tertinggi kekuasaan. Segala kuasa datangnya dari Dia dan tergantung pada-Nya (1 Tawarikh 29:11-12) Berbagai bagian Perjanjian Lama menceritakan bahwa Allah memberi kuasa-Nya kepada mereka yang lemah (Yesaya 40:29). Allah memberi kuasa kepada umat-Nya (Mazmur 68:35). Seringkali kita membaca bahwa Allah memberi kuasa-Nya kepada para raja (1 Samuel 2:10) dan para nabi (Mikha 3:8).Kuasa tak terbatas Allah tercurah dalam kehidupan umat-Nya dalam berbagai aspek dalam Alkitab. Alkitab mengajar bahwa Injil sendiri ialah kuasa Allah bagi keselamatan: “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (Roma 1:16; baca juga 1 Korintus 1:18).Sahabat, kemampuan orang percaya melakukan sesuatu yang berarti berasal dari Roh Kudus. Ketika Yesus naik ke surga, Ia memerintah supaya murid-Nya menanti kuasa yang mereka butuhkan: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Tanpa Roh Kudus, para murid akan hanya berjalan di tempat, seberapa pun mereka berbakat, bersemangat, atau antusias terhadap pengabaran Injil.Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “The Vision of God’s Power (Penglihatan Kekuasaan Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 6:1-8. Sahabat, dunia berubah begitu cepat. Apa yang sekarang ada, mungkin tahun depan sudah hilang tertelan zaman. Roda sejarah berputar cepat menyimpan sejuta cerita tentang PENGUASA. Dari cerita mereka, kita seharusnya disadarkan untuk tidak mengandalkan manusia karena kalau masih bersandar pada manusia, maka kita harus bersiap untuk kecewa.Bacaan kita pada hari ini bercerita tentang penglihatan Zakharia yang terakhir. Malaikat Tuhan menyingkapkan tentang kebesaran KUASA ALLAH  yang dilukiskan oleh kereta yang ditarik kuda. Mereka keluar dari dua gunung tembaga sebagai simbol dari gerbang surga (Ayat 1).Kereta pertama ditarik oleh kuda merah, sementara kereta kedua ditarik oleh kuda hitam (Ayat 2). Kereta ketiga oleh kuda putih dan kereta keempat oleh kuda berbelang-belang dan berloreng (Ayat 3).Kereta yang ditarik kuda hitam menuju Tanah Utara. Kereta berkuda putih menuju arah Barat. Kereta berkuda belang-belang ke Tanah Selatan (Ayat 6). Sementara itu, kereta berkuda merah keluar dan tampak sangat gelisah untuk pergi (Ayat 7). Akan tetapi, pada akhirnya, ia pergi juga menjelajah bumi.Sahabat, hanya kereta hitam menuju Tanah Utara (Sinear) yang diberi keterangan. Kuasa Allah pergi ke sana untuk menenteramkan Roh-Nya (Ayat 7). Yehuda melihat kuasa Allah bekerja untuk memulangkan mereka kembali.Kuasa Allah tidak hanya berpusat pada tanah Sinear. Kuasa-Nya bekerja di seluruh belahan dunia. Di kemudian hari, kuasa Allah di dalam Kristus memanggil segenap manusia agar datang kepada-Nya. Kuasa ini menembus ruang, waktu, dan zaman.Sahabat, Zakharia melihat KUASA ALLAH  lewat PENGLIHATAN. Sedangkan kita masih bisa melihatnya melalui iman kepada Yesus. Kuasa-Nya sangat hebat, dahsyat, dan terus bekerja kapan dan di mana saja.Karena itu Jika kita menggantungkan hidup pada manusia, itu adalah tindakan bodoh. Seharusnya, kita bergantung pada kuasa Allah, yang kita kenal lewat Yesus Kristus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita memberi diri dipakai Tuhan agar misi-Nya mulai digenapi di tempat kita, dan kemudian meluas ke ujung bumi. (pg).

BLACK IS BLACK

Saudaraku, kalau di Photoshop, warna hitam itu ada 256 gradual warna, mulai yang lamat-lamat hingga yang pekat. Dunia kejahatan sering disebut sebagai dunia hitam, di dalamnya ada berbagai kejahatan, yang diukur dari hukuman pidananya yang beragam, ada yang hukuman 3 bulan, 3 bulan potong tahanan, hingga ada yang hukuman mati, atau hukuman seumur hidup, dan masih banyak lagi. Di antara sekian macam dunia hitam, di Indonesia  paling tidak ada tiga kejahatan yang dipandang paling diperhatikan aparat keamanan, yakni: Terorisme, narkoba dan senjata api. Aparat akan cepat bertindak, karena jaringan tiga tindak pidana ini bisa sangat luas dan melibatkan banyak pihak, bahkan bisa melibatkan pihak-pihak dari luar negeri. Sebagai renungan kita, apakah kita boleh berteman dengan orang dari dunia hitam? Alkitab tidak membedakan orang yang ada di dunia putih atau dunia hitam, hanya membedakan antara orang berdosa dengan murid Tuhan, yang dianggap sudah bertobat dan tidak hidup dalam dosa. Karenanya Alkitab mengajarkan agar kita dapat mengasihi sesama, tanpa memandang orang itu berkanjang dalam dosa atau tidak. Bahkan Alkitab mencatat bagaimana Daud tetap mengasihi Saul yang membenci dan ingin membunuhnya. Saudaraku, kedatangan Yesus ke rumah Zakheus (Lukas 19) zaman itu dipandang heboh, karena Zakheus saat itu bekerja sebagai pemungut cukai bagi pemerintah Romawi. Jadi Zakheus dianggap sebagai pengkhianat rakyat. Mungkin Zakheus saat menarik pajak dari rakyat juga mempergunakan beking (pelindung) dari pasukan Romawi, jadi rakyat yang tidak membayar pajak atau membayar pajak tidak sesuai aturan, mudah sekali mengalami kekerasan dari Zakheus dan bekingnya. Ya, zaman itu pekerjaan sebagai pemungut cukai bagi penjajah dianggap sebagai pekerjaan yang hina. Saudaraku, mari kita renungkan lebih dalam kisah pertobatan Zakheus yang terdapat di Lukas 19:1-10 dengan penekanan pada ayat 10. Dalam satu diskusi di gereja ada seorang teman yang mengatakan, “Orang berdosa jangan dijauhi, apalagi disingkirkan, tapi didampingi.” Dia mengambil contoh Tuhan Yesus yang berkenan datang ke rumah Zakheus.  Bertemu Zakheus saat melintasi Yerikho, Yesus menyempatkan diri menumpang di rumahnya. Tentu saja hal itu mengundang kontroversi orang Yahudi mengingat Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai. Jika pemungut cukai saja dipandang sebagai pendosa, bagaimana dengan dirinya yang menjabat sebagai kepala? Namun Yesus mau datang kepadanya. Bukan untuk menjatuhkan hukuman kepada Zakheus, kedatangan Yesus adalah untuk menyelamatkannya.Saudaraku, manusia cenderung mengedepankan emosi negatif terhadap orang yang dianggap bermasalah. Kutipan ayat “jauhilah yang jahat” (Mazmur 34:15) sering disalahtafsirkan untuk membenci pendosa (pelaku dosa). Yesus tidak demikian! Ia memang membenci tindakan dosa, namun tetap mengasihi pendosa.  Buktinya, kita yang dahulu hidup dalam dosa diselamatkan-Nya. Begitu pun yang Ia harapkan untuk kita lakukan sebagai pribadi yang telah menerima kasih karunia-Nya: Bukan menghukum mereka yang berdosa dengan mengucilkan atau membencinya, melainkan sebisa mungkin menjadi berkat yang menyelamatkannya.  Mari dengan hati dan pikiran yang bening kita refleksikan: Jika bukan karena kasih Kristus yang menyelamatkan, kita pun adalah pendosa yang tak berdaya. (Surhert).

PROGRESIF

Saudaraku, dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kita dapat memperoleh informasi bahwa progresif berarti (1) ke arah kemajuan;(2) berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang; (3) bertingkat-tingkat naik. Sedangkan menurut Cambridge Dictionary artinya developing or happening gradually (berkembang atau terjadi secara bertahap).  Saat ini sedang ramai di tiktok adalah Kristen Progresif, yang di Wikipedia dijelaskan sebagai mewakili pendekatan teologis postmodern,  yang berkembang dari kekristenan liberal di era modern,  yang berakar pada pemikiran Pencerahan. Apapun namanya, Kristen Progresif sering mempertanyakan apabila jalan keselamatan hanya melalui Tuhan Yesus Kristus, lalu bagaimana dengan penganut agama-agama lain apakah bisa mendapatkan keselamatan? Saudaraku, sesungguhnya yang perlu kita sadari dalam kehidupan ini ada sesuatu yang mutlak dan ada lawannya yakni nisbi. Mutlak berarti sesuatu tersebut tetap atau tidak bergantung pada faktor-faktor luar, contohnya 2×2 = 4. Ya jangan dibantah lagi. Sedangkan nisbi hanya terlihat (pasti; terukur) jika dibandingkan dengan yang lain; dapat begini atau begitu bergantung kepada orang yang memandang, jadi bersifat tidak mutlak atau relatif. Misalkan penyandang Miss Universe, Miss World, Miss International dan Miss Indonesia, sama-sama rupawan, namun siapa yang benar-benar paling rupawan mesti ditetapkan kembali, pada saat yang sama, bukan diukur dari saat satu tahun lagi, pasti sudah berubah. Contoh hal yang mutlak dan wajib dijalankan yakni saat sebuah pesawat mau take-off, maka pilot di dalam pesawat pertama-tama harus melakukan taxi atau bergerak di darat dengan mengikuti garis kuning dari apron (tempat parkir pesawat) dan memasuki runway (landas pacu) dan mengambil posisi untuk take-off. Kecepatan taxi itu sendiri dibatasi untuk menghindari pesawat terguling saat berbelok atau menabrak dengan pesawat lain, hingga sampai di runway dan siap take off. Pilot harus menunggu clearance dari tower control untuk melaju di runway dan take off dengan aman. Ini prosedur mutlak, wajib, tidak bisa dipertanyakan lagi. Nah dalam Kristen Progresif, banyak ajaran Alkitab yang dipertanyakan dan disanggah. Contoh di Sydney ada Dick Harfield yang konon ahli di bidang Ancient Greek Rhetoric, New Testament Textual Criticism, and Papyrology. Dick berkali-kali menulis bahwa Musa dan bani Israel yang menyeberangi laut Teberau adalah hanya dongeng fiktif, karena nama Firaun yang disebutkan tidak pernah ada bukti prasasti sejarahnya, juga di sejarah Mesir tidak pernah ada catatan tentang orang Israel yang saat itu dipekerjakan sebagai apa tidak jelas karena jarak lokasi Piramid Giza dan tanah Gosyen tempat pemukiman orang Israel lebih dari 70 km jadi tidak mungkin setiap hari ada ratusan buruh yang pergi-pulang menggarap pembangunan piramid.  Saudaraku, sebagai umat kristiani kita perlu mempunyai ketetapan hati, apakah kita akan tetap percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat melalui karya penebusan di kayu salib, atau kita juga akan meyakini ajaran dari suatu agama atau ajaran yang lain. Semoga kita meyakini,  mengamini dan mengimani sabda Yesus berikut: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Di saat kelompok Kristen Progresif sedang gencar mempromosikan keyakinannya, aku diteguhkan  dengan nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya yang terdapat di surat 2 Timotius 3:10-17, khususnya ayat 15-17. Pada akhir zaman, keadaan yang harus dihadapi semua orang adalah keadaan yang sukar. Ketika banyak orang mencintai diri sendiri dan hidup dalam kebodohan, Rasul Paulus memuji Timotius. Meskipun berada dalam penderitaan dan penganiayaan, Timotius masih mengikuti ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih dan ketekunan dari Rasul Paulus (Ayat 10-11).Saudaraku, penderitaan dan penganiayaan adalah konsekuensi dari mengikut Kristus (Ayat 12). Oleh karena itu, penting bagi Timotius agar mempunyai dasar yang kokoh dalam menghadapi semua ini, yakni dengan senantiasa mengingat ajaran Kitab Suci yang diterima dan diyakini olehnya sejak kecil (Ayat 14-15).  Pembacaan Kitab Suci penting karena dapat memberikan hikmat dan menuntun kepada keselamatan (Ayat 15), dan karena Kitab Suci mempunyai manfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakukan, dan mendidik orang dalam kebenaran (Ayat 16). Selain itu, Kitab Suci dapat memperlengkapi orang-orang milik-Nya untuk melakukan segala perbuatan baik (Ayat 17).Saudaraku, tidak ada jaminan apa pun di dunia ini yang dapat menjamin sepenuhnya agar seseorang mampu melewati penderitaan dan penganiayaan, apalagi yang harus dihadapi oleh para rasul jemaat mula-mula. Mereka setiap saat dapat mengalami kematian karena kepercayaan mereka kepada Kristus. Tetapi, justru dalam keadaan seperti itu, Rasul Paulus tidak menasihatkan agar Timotius belajar membela diri, melainkan bertekun dalam pembacaan firman Allah. Itulah rahasia kekuatan orang percaya dalam menjalani kehidupan hari demi hari.Dalam konteks kita hari ini, pembacaan firman Allah tetap penting dilakukan. Dalam menjalani kehidupan yang dipenuhi serba-serbi permasalahan dan serbuan pengajaran  dari berbagai aliran dan kelompok, kita dapat menjadi kuat karena kita memiliki pengajaran, peringatan yang menyatakan kesalahan, nasihat yang memperbaiki perilaku, dan didikan dalam kebenaran sejati.Saudaraku, semua itu adalah bekal untuk kehidupan kita sebagai anak Tuhan, dan penguatan serta pendorong bagi kita untuk tetap menghasilkan kebaikan dalam keadaan bagaimana pun dalam hidup kita.  Akhirnya, mari simpan dalam-dalam di hati sabda Yesus berikut ini: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Markus 13:31). (Surhert).