MAU DENGAR SIAPA?

Saudaraku, mari kita telaah kisah Kain dan Habil, anak Pak Adam dan Bu Hawa atau Bu Eva (Kejadian 4). Setelah Kain dan Habel akil balig zaman itu sekitar usia 16 tahun, Kain menjadi petani dan Habel menjadi gembala kambing domba. Jelas Adam dan Eva mengajarkan kedua anaknya ini menyembah Tuhan dan membuat korban bakaran sesuai aturan Tuhan, khususnya korban bakaran dari hasil usaha. Dikisahkan Kain menjadi petani mempersembahkan hasil tanah kepada TUHAN sebagai korban persembahan, dan Habel sebagai peternak mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya. Ini tidak ada yang salah.  Ternyata Tuhan mengindahkan Habel dan menerima korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Alkitab mencatat korban persembahan Habel yakni anak sulung kambing domba, termasuk lemak-lemaknya, jelas saja kalau daging dan lemak yang dibakar ya baunya harum semerbak seperti bau bakaran sate kambing. Karena Kain sebagai petani maka hasil bumi untuk persembahan tentulah gandum, juwawut (barley) dan sayur mayur termasuk buah-buahan, tentu saja saat dibakar tidak ada bau harum. Saudaraku, Tuhanpun bertanya ke Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”  Kain tidak bisa meredam amarahnya, dia mengajak Habel ke padang, dan Kain membunuh Habel. Bahkan ketika Tuhan bertanya: “Di mana Habel, adikmu itu?” Dijawab Kain: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Mari kita analisa tindakan Kain sesuai psychoanalytic theory id, ego, superego Sigmund Freud. Id adalah kumpulan hasrat naluri yang tidak terkoordinasi, yakni apa saja kejengkelan Kain terhadap Habel, mungkin bukan saja karena korban bakaran, tapi ada beberapa lainnya yang bertumpuk di dalam hati, tidak jelas, pokoknya jengkel dan marah, ini yang menyebabkan kurang bisa tidur nyenyak di malam hari karena selalu kepikiran. Ego (Kain) adalah perasaan dan sifat-sifat yang terbentuk di dalam dirinya, sudah jadi kebiasaannya, terorganisir dan benar-benar realistis, dan bisa menjadi stimulus atau rangsangan yang menimbulkan hasrat naluriah. Freud menyebutkan sebagai mempunyai kebiasaan untuk mengubah keinginan id menjadi tindakan, seolah-olah tindakan itu adalah keinginannya sendiri.  Saudaraku, karena ada rangsangan-rangsangan dari ego, maka id yang tidak jelas itu muncul sebagai tindakan, yakni super ego. Kalau id berbentuk kejengkelan dan iri hati, sedangkan perasaan ego mendukung, apalagi merasa bisa dan merasa tidak ada apa-apa bila dilaksanakan, maka muncullah tindakan super ego yang ditujukan untuk mengalahkan atau memusnahkan pihak lawan. Jadi mulainya dari id yang tidak jelas maunya, tapi sebenarnya bisa dikontrol atau dibiarkan liar. Tuhan bisa membaca wajah Kain yang sedang suram tidak berseri, dan memperingatkan Kain untuk mengendalikan perasaan dan insting id yang membujuk untuk tidak berbuat baik, dan Tuhan meperingatkan, hati-hati kalau kamu tidak menjaga id di hatimu, karena dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Kain gagal menjaga hatinya, cerita selanjutnya kita sudah tahu, pembunuhan berencana. Saudaraku, Pengamsal mengingatkan kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Dengan kata lain, jagalah id yang tidak jelas maunya apa, jagalah dengan segala kewaspadaan, jangan sampai mempengaruhi ego dirimu yang sudah terbentuk. Kalau kamu bisa mengontrol, ya dari dirimu akan timbul super ego yang mendatangkan kebaikan, memancarkan kehidupan. Kalau gagal kontrol, ya timbul tindak kejahatan. Kalau bisa mengontrol id dan ego, mungkin kita akan mengalami hal-hal yang penuh tantangan, tidak cepat-cepat menjadi kaya atau segera meraih sukses, ini menyakitkan, apalagi ada orang lain yang mengolok-ngolok bikin hati semakin panas. Tapi jangan lupa Firman Tuhan dalam Yesaya 30:20-21: “Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,’ entah kamu menganan atau mengiri.” Selamat berjalan bersama Tuhan. Selamat menghadapi dan mengalahkan tantangan. (Surhert).

Become God’s People

GEREJA SEBAGAI UMAT ALLAH. Sahabatku,  dalam ajaran Kristen, terdapat konsep gereja sebagai umat Allah. Ini merupakan konsep yang berkaitan dengan cara hidup jemaat yang mula-mula yang tercatat dalam Alkitab. Mengenai gereja, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya sebagai rumah tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen. Namun dalam bahasa Yunani, gereja juga diartikan sebagai ekklesia dan kuriake.  Ekklesia adalah orang-orang yang Tuhan panggil keluar dari dunia untuk menjadi saksi-Nya. Sedangkan kuriake merupakan orang-orang yang dipanggil untuk menjadi milik Kristus dan memuliakan nama-Nya. Hal ini seperti dijelaskan dalam buku “Gereja yang Bertumbuh dan Berkembang” tulisan Timotius Sukarman (2021) Gereja dapat dikenali dengan dua ciri: Pertama, kumpulan orang percaya sebagai hamba yang melayani untuk memuliakan Allah. Kedua, kumpulan orang percaya yang selalu dipelihara Tuhan melalui pelayanan firman, sakramen, dan kuasa Roh Kudus yang sudah dijanjikan-Nya. Konsep gereja sebagai umat Allah menekankan bahwa gereja bukan organisasi manusiawi, namun merupakan perwujudan karya Allah yang konkret. Dengan kata lain, arti gereja sebagai umat Allah, yaitu gereja bukan merupakan organisasi, namun keluarga dari orang-orang yang dipanggil oleh Sabda Allah.  Anggota gereja dikumpulkan bersama-sama menjadi umat Allah dan kemudian menjadi Tubuh Kristus dan hidup dari Tubuh Kristus. Gereja sebagai umat Allah juga mengacu pada persamaan setiap anggota gereja, di mana semua anggota gereja memiliki kesejajaran dan persamaan status yang fundamental.  Tidak ada kelas atau golongan tertentu dalam lingkup persekutuan anggota jemaat karena semuanya adalah orang terpilih, orang kudus, murid, dan saudara seiman. Keberadaan gereja sebagai umat Allah bukan tanpa alasan, persaudaraan tersebut bertujuan untuk menjadi saksi sebagai persekutuan religius melalui kegiatan keagamaan. Misalnya, peribadatan, pewartaan, hingga menjadi garam dan terang bagi kehidupan sekitar (Kisah Para Rasul 2:41-47). Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Become God’s People (Menjadi Umat Milik Allah). Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 9:1-8. Sahabat, dalam nubuatnya Zakharia menegaskan bahwa semua bangsa adalah milik Allah (Ayat 1). Allah berkuasa dan berdaulat terhadap semua bangsa di dunia. Sekali lagi karena mereka semua adalah kepunyaan-Nya. Pada masa itu bangsa-bangsa mempunyai dan menyembah dewanya sendiri, namun sesungguhnya semua bangsa itu adalah milik Allah. Karena itu, Allah memiliki wewenang mutlak untuk melakukan apa yang Dia anggap baik.Allah akan memiskinkan Tirus dan menghabiskannya dengan api (Ayat 4). Kota-kota Filistin seperti Askelon, Ekron, Gaza, dan Asdod juga akan merasakan hukuman Allah. Allah juga akan melenyapkan persembahan korban orang Filistin (Ayat 7). Meskipun mereka tidak mengakui Allah, namun pada akhirnya mereka akan menjadi milik Allah sendiri. Mereka akan dianggap kaum Yehuda dan orang Ekron digambarkan seperti orang Yebus (Ayat 7).Sahabat, inilah kabar baik nubuat ini mereka semua menjadi milik Allah. Ungkapan “seperti suatu kaum di Yehuda” dan “orang Ekron seperti orang Yebus” memperlihatkan betapa Allah juga mengasihi bangsa lain.  Di dalam penghukuman karena telah bertindak melawan Allah, menyembah allah lain dan menindas umat pilihan Allah, ada anugerah yang disediakan Allah. Orang Yebus pada masa Yosua diperbolehkan tinggal di tengah kaum Yehuda di Yerusalem, bukan sebagai orang yang ditaklukkan, melainkan sebagai orang yang sederajat (Yosua 15:63).  Dalam nubuat ini jelaslah, Allah tidak bersikap sewenang-wenang. Dia murah hati. Di balik hukuman yang disiapkan-Nya, Allah memberikan anugerah-Nya. Allah memberi kesempatan bagi bangsa lain menjadi umat milik-Nya.Sahabat, jika Allah ingin setiap orang menjadi milik-Nya, maka orang percaya pun harus bertindak demikian. Pekabaran Injil harus dilakukan dengan penuh ketulusan. Jangan sampai cara Pekabaran Injil malah membuat orang tidak merasakan kasih Kristus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang gereja? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita taat kepada Tuhan bukan karena takut hukuman melainkan karena kita mengasihi-Nya. (pg). 

PLERED

Saudaraku, saat jalan Tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang) belum dibangun pada tahun 2005, beberapa kali aku mengajak keluarga berlibur dari Jakarta ke Bandung mesti menempuh jalan arteri Cikampek, masuk kota Purwakarta, sering macet di depan pasar, lalu keluar mengikuti jalur jalan yang menanjak dan berliku ke arah Padalarang.  Dalam perjalanan yang penuh nuansa hijau di sepanjang jalan ini pasti lewat kota kecil Plered, yang terkenal sejak zaman Kolonial sebagai pusat kerajinan gerabah dari tanah liat, karena memang bahan lempung atau tanah liat warna putih ada di sekitar Plered. Bila anak-anak tidak sedang mengantuk di mobil, aku sering berhenti di Plered untuk mengajak anak-anak melihat pembuatan gerabah, sering ke kios Keramik Mulya, karena di bagian belakangnya bisa melihat karyawan mengerjakan gerabah. Anak-anak senang melihatnya, bagaimana lempung diletakkan di meja pemutar, diputar dengan piringan yang digerakkan kaki, dan lempung dibentuk dengan tangan pengrajin, tahu-tahu muncul gerabah, entah itu kuali atau pot.  Kalau istri melihat ini, pasti senyum-senyum ingat film Ghost (1990), adegan romantis Patrick Swayze dan Demi Moore membuat pot dengan iringan soundtrack Unchained Melody dari The Righteous Brothers. Dari beberapa kali ngomong-ngomong dengan Pak Pengrajin, dia mesti punya rencana mau membuat gerabah dalam bentuk apa, jika ingin membuat pot bunga atau kuali setinggi 50 cm atau 80 cm, mesti ada persiapan lempung yang cukup. Jadi tidak bisa jika sudah ada rencana mau bikin pot 50 cm, mendadak dirubah menjadi 80 cm. Pot setengah jadi tidak bisa dibiarkan setengah kering lalu ditambah lempung baru, karena adonan baru tidak akan bisa menempel di yang lama. Sekali rencana mau membuat apa ya mesti sampai selesai, tidak bisa ditinggal-tinggal karena hasilnya tidak bisa mulus. Kemudian ada proses lanjutan, yakni dijemur supaya kering, dihaluskan, diberi warna-warni dan dibakar, bisa memakan waktu hingga 5-7 hari ke depan.  Saudaraku, di Yeremia 18 ada juga kisah tentang tukang periuk, Yeremia datang kesitu dan melihat cara pembuatannya, apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.  Sedangkan di surat Roma 9:21 menyebutkan: Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia – yang harganya mahal, dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa – yang harganya umum atau pasaran? Saudaraku, jadi pengrajin gerabah mempunyai hak dan rencana dalam membuat sesuatu kerajinan, yang dihasilkan bisa bermacam jenis, mulai dari hiasan rumah tangga, kendi air, pot celengan bentuk ayam, gentong air, kuali atau dandang hingga pot bunga yang tinggi hingga 1 meter, dan tentunya masing-masing barang yang dihasilkan akan memiliki harga jual yang berbeda.  Pengrajin bisa membuat apa saja dengan lempungnya, tergantung atas pesanan, atau saat itu sedang laris barang apa, namun yang paling umum dan pasti ada pembelinya ya kendi, celengan, pot bunga dan gentong air.  Tuhan Allah Mahapencipta mungkin dapat diibaratkan sebagai tukang periuk atau pengrajin gerabah yang berhak membuat segala sesuatu sesuai keinginan dan kehendak-Nya. Mungkin saat ini Tuhan menempatkan kita sebagai pejabat di pemerintahan, bisa juga sebagai pegawai di kantor kelurahan, atau sebagai orang kantoran, atau  sebagai ibu rumah tangga, atau sebagai yang berdagang di pasar, dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas posisi dan kondisi kita saat ini ada bukanlah sebagai suatu kebetulan atau asal-asalan, tapi ada maksudnya dari Tuhan. Nah Saudaraku, apakah kita mengetahui maksud Tuhan terhadap diri kita masing-masing saat ini? Kita sedang menjadi dan melakukan apa saat ini, sadarkan kita? Jika kita sadar bahwa Tuhan menghendaki sesuatu dari kita, maka mestinya kita tidak mudah hanyut atau larut terhadap godaan-godaan dari dunia.  Misalkan kita bekerja di lingkungan yang selalu menggoda untuk melakukan tindakan korupsi, tapi kalau kita sadar bahwa kita adalah anak Tuhan yang telah ditebus dari dosa melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, maka kita akan tetap berdiri tegas menolak godaan untuk ikutan melakukan korupsi. Godaan-godaan dari dunia untuk melakukan dosa semakin banyak dan semakin sering, tapi dapatkah kita selalu untuk menolaknya? (Surhert)

NIKODEMUS SANG PEMBELAJAR

Saudaraku, seorang pembelajar dikenal gigih untuk terus menambah kualifikasinya: Dari tidak tahu menjadi tahu yang pada akhirnya mengubah cara dan wwasan hidupnya.  Ia rela menempuh berbagai cara dan menantang dirinya sendiri untuk terus belajar.  Injil Yohanes mencatat seorang PEMBELAJAR GIGIH  bernama NIKODEMUS.   Mari membaca dan merenungkan Yohanes 3:1-5. Nikodemus punya tiga hal yang menunjukkan keunggulan dirinya, yaitu: Ia seorang Farisi, satu lapisan masyarakat Yahudi yang menjadi pengamat, penegak dan pembela Taurat.  Dengan menjadi Farisi, Nikodemus adalah seorang yang religius dan saleh.  Ia juga diakui Yesus sebagai guru (Ayat 10). Ia adalah salah satu pemimpin Yahudi (Ayat 1).   Nikodemus masuk dalam anggota Sanhedrin dan menjadi orang yang pendapatnya dipandang serius oleh masyarakat Yahudi.  ia adalah seorang pembelajar.  Tidak seperti Farisi lain yang kontra dengan Yesus dan memilih untuk menjauh, Nikodemus justru menemui Yesus dan berdiskusi denganNya walau Nikodemus memilih waktu malam hari dengan sembunyi-sembunyi.  Nikodemus memandang Yesus memiliki status yang berbeda dari guru yang lain dan mengatakan Yesus adalah Utusan Allah karena tanda-tanda yang sudah dibuat Yesus (Ayat 2). Dengan melihat tiga hal ini maka kedatangan Nikodemus pada Yesus menjadi begitu istimewa dan percakapannya dengan Yesus menunjukkan kehausannya untuk belajar.  Yesus sendiri tidak menghindari Nikodemus dan menanggapi semua pertanyaan dengan baik walau kadang kala Yesus sedikit mencela kekurangtahuan  Nikodemus.  Percakapan malam itu memengaruhi cara hidup Nikodemus hingga ia mampu bersuara ketika kawan-kawannya berusaha menangkap Yesus (Yohanes 7:50) dan bahkan Nkodemus secara terbuka hadir di Bukit Kalvari untuk memberikan penghormatan kepada mayat Yesus dengan memberi 30 kilo minyak gaharu (Yohanes 19:19, TB2). Nikodemus berani menyatakan rasa hormatnya secara terbuka setelah sekian lama ia diam-diam menjadi pengikut Yesus dan bahkan Bersama Yusuf Arimatea, ia  mengurus mayat Yesus dan menguburkan mayat itu dengan layak.  Pertemuan dan diskusi dengan Yesus malam itu telah mengubah karakter Nikodemus. Saudaraku, PEMBELAJAR adalah pribadi yang rendah hati karena ia selalu ingin terus mengejar pengetahuan dan siap berubah karenanya.  Kerendahan hati dan kegigihan Nikodemus mencari kebenaran dalam diri Yesus,  mengubah  hidup orang Farisi itu.  Belajar harus dimulai dengan kebutuhan, kegigihan mencari dan dengan rendah hati menerima ajaran.  Kedahsyatan efek belajar dapat dirasakan bila hati telah siap untuk mendengarkan dan membangun ulang pemikiran.   Mendengarkan Firman Tuhan dalam ibadah adalah saat belajar bagi jemaat dan membutuhkan kesiapan hati, rasa butuh, kegigihan dan kerendahan hati.  Kalau seorang datang beribadah dengan perspektif kaku, prasangka, penolakan terhadap Firman, maka ibadah itu tidak akan mampu mengubah karakter sang pendengar.  Saudaraku, mari BELAJAR untuk menjadi PEMBELAJAR  dalam ibadah yang kita ikuti dan rasakan manfaat Firman yang dapat MENGUBAHKAN.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

PRASASTI HAGAI

Saudaraku, di salah satu gereja di Semarang saat dedikasi gedung gereja di tahun 1960 dibuatlah prasasti dari marmer dan ditempelkan di tembok. Teks prasasti diambil dari Hagai 1:8:  “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.” Pemilihan ayat Alkitab di prasasti itu tentu sudah menjadi pergumulan Gembala Sidang, Ketua Majelis dan Panitia Pembangunan pada saat itu.  Nah, yang agak aneh, karena umumnya gereja kalau membuat prasasti biasanya mengutip dari Yesaya 56:7: “… rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa”, atau ayat-ayat lain yang mirip, sedangkan prasasti dengan ayat Hagai 1:8 jelas mengingatkan warga jemaat di situ agar tetap membangun Rumah Tuhan, dan Tuhan akan berkenan. Aku coba bertanya-tanya mengapa ayat itu dipilih, tidak ada yang bisa memberikan latar belakangnya, bahkan di sejarah pendirian gereja juga tidak disebutkan kapan gereja didirikan, karena gereja ini rupanya tidak memerhatikan bidang pencatatan sejarah gereja, bahkan di websitenya pendirian gereja dituliskan berdasarkan visi penglihatan. Jadi asal mula pendirian gereja tidak diketahui jelas, meskipun di surat baptisan anak pertama di tahun 1960 gereja memakai nama Hwa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee. Saudaraku, rupanya visi agar jemaat di situ tetap membangun Rumah Tuhan menjadi gema sepanjang masa bagi jemaat. Jumlah anggota jemaat yang sekitar 300-400 orang, bukan semuanya dari warga kelas atas, sering dalam perjalanannya kekurangan dana, dan gereja dibiarkan jemaat sedemikian saja. Seperti hingga tahun 1970 gereja tidak memiliki pompa air Sanyo, tapi tetap memakai pompa air engkol Dragon yang dipompa setelah memasukkan air pancingan, dan air dialirkan ke tangki atas. Sering kekurangan air kalau pas hari Minggu, dan toiletnya, maaf, mirip toilet di tempat-tempat umum pada umumnya. Suatu ketika seorang rohaniwan memasukkan persembahan dan menulis di amplop sebagai perpuluhan, nilainya Rp 12.500. Itu berarti honor rohaniwan sebesar Rp 125.000. Kontrakannya di gang sempit dan kendaraan dinasnya sepeda merk Butterfly. Aku lihat saat itu beberapa orang anggota jemaat agak marah mengapa kondisi SDM gereja kok begitu. Gaji terlalu mepet, tentu tidak bisa membeli buku-buku referensi untuk bahan khotbah. Namun Tuhan rupanya juga menjaga gedung gereja-Nya, hingga jarang terjadi adanya bocor atap ataupun cat tembok yang terkelupas, tapi pencuri masuk pernah ada dan speaker gereja lenyap. Aku perhatikan lagi, jika ada anggota jemaat yang berkecukupan dan dia memberikan persembahan bagi gereja untuk renovasi atau pembangunan, eh ternyata gerakan dari perseorangan ini segera didukung anggota-anggota lainnya, jadi potensi dana sebenarnya ada. Aku perhatikan lagi, ternyata anggota-anggota jemaat yang mau mempersembahkan uangnya untuk gereja malahan nampak usaha bisnisnya semakin maju, jadi benarlah visi di prasasti bahwa siapa  yang membawa kayu dan membangun Rumah Tuhan, maka Tuhan akan berkenan kepadanya dan berkat dicurahkan. Dahulu aku masih muda, duduk di kelas Sekolah Minggu, Remaja dan kemudian Pemuda, namun aku bisa melihat upaya-upaya anggota jemaat dalam menjaga kelangsungan gereja di situ. Namun setelah puluhan tahun kemudian aku bisa melihat bagaimana janji Firman Tuhan digenapkan khusus bagi orang-orang anggota jemaat di situ yang percaya dan mau melaksanakan mandat Firman Tuhan yang ditulis di Kitab Hagai 1:8, hingga hari ini. Saudaraku, Firman Tuhan adalah kekal. Kitab Hagai ditulis sekitar tahun 520 SM sesaat setelah orang-orang Israel kembali dari pembuangan di Babel. Saat itu Tuhan menghendaki adanya Pembangunan Bait Allah, dan Firman ini disampaikan kepada Zerubabel dan Iman Besar Yosua yang menjadi pemimpin orang Israel. Mereka taat untuk membangun kembali Bait Allah. Ribuan tahun kemudian, hingga tahun 1960 amanat pembangunan itu dipilih dan ditulis dalam prasasti pembangunan gereja, dan JANJI TUHAN TETAP BERLAKU  bagi jemaat-Nya hingga kini. (Surhert).

Fruitful Life

BERBUAH. Sahabat, secara alami, buah adalah hasil tanaman sehat yang menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkannya (Kejadian 1:11-12). Dalam Alkitab, kata buah sering digunakan untuk menggambarkan tindakan lahiriah seseorang yang diakibatkan dari kondisi hatinya.Buah yang baik adalah buah yang dihasilkan oleh Roh Kudus. Galatia 5:22–23 memberi kita titik awal. Buah dari Roh-Nya ialah: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri…” Semakin kita mengizinkan Roh Kudus bebas mengendalikan hidup kita, semakin nyata buahnya (Galatia 5:16, 25). Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya: “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, …” (Yohanes 15:16). BUAH yang BENAR mempunyai MANFAAT yang KEKAL.Yesus memberitahu kita dengan jelas apa yang harus kita lakukan untuk menghasilkan buah yang baik. Dia berkata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:4–5).  Sahabat, cabang harus tetap melekat erat pada batangnya agar tetap hidup. Sebagai murid Kristus, kita harus tetap terhubung erat dengan-Nya agar tetap produktif secara rohani. Ranting memperoleh kekuatan, makanan, perlindungan, dan energi dari pokok anggur. Jika dipatahkan, ia cepat mati dan tidak berbuah. Ketika kita mengabaikan kehidupan rohani kita, mengabaikan Firman Tuhan, jarang berdoa, dan menutup bagian-bagian kehidupan kita dari pimpinan Roh Kudus, kita seperti ranting yang patah dari pokok anggur. Hidup kita menjadi tidak membuahkan hasil.  Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia  dengan topik: “Fruitful Life (Hidup yang Berbuah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 8:20-23. Sahabat, Allah memulihkan Yehuda dan Israel. Hal itu berdampak tidak hanya secara internal, tetapi juga eksternal. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, mereka harus memancarkan kasih Allah kepada bangsa-bangsa lain. Intinya adalah Yehuda dan Israel harus setia menjadi pelaku firman Allah.Banyak bangsa telah mendengar Yehuda menjadi berkat, sehingga banyak bangsa-bangsa dan penduduk kota akan mendatangi mereka (Ayat 20). Selanjutnya mereka akan menyampaikan berita tersebut ke kota-kota yang lain. Mereka ingin mengenal Allah Yehuda dengan tujuan ingin melunakkan hati Tuhan dengan mencari-Nya (Ayat 21). Akhirnya, mereka akan datang ke Yerusalem untuk beribadah.Sahabat, kejadiannya sangat menakjubkan. Sepuluh orang dari berbagai bangsa akan memegang erat ujung jubah seorang Yahudi. Mereka berkata akan mengikuti Allah Yehuda (Ayat 23). Mereka seperti haus dan ingin menikmati ranumnya berkat yang dinikmati oleh bangsa Yehuda.Yehuda akan menjadi berkat jika hidup seturut perintah Allah. Mereka akan BERBUAH BANYAK  dan harum namanya di antara bangsa lain. Kehebatan dan kemahakuasaan Allah Yehuda akan terus diperbincangkan. Allah Yehuda akan menjadi buah bibir dan dicari bangsa lain. Inilah yang disebut BERBUAH RANUM BERLIPAT GANDA, sehingga, bangsa lain pun ingin ikut serta menikmatinya.Yesus memerintahkan para murid untuk hidup berbuah. Jika kita hidup tinggal di dalam- Yesus, maka kita akan berbuah. Buahnya bisa beratus kali lipat ganda, sehingga orang lain akan memuliakan nama Yesus.Sahabat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebagai murid Kristus, hati kita wajib menjadi tanah yang subur agar firman Allah bertunas dan bertumbuh, sehingga, pohonnya akan menghasilkan buah ranum yang bisa dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan. Dengan demikian, hal yang perlu kita renungkan: “Buah hidup apakah yang sedang kita hasilkan?” Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Sahabat, apa yang kamu kerjakan agar hidupmu dapat terus berbuah? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetap terhubung erat dengan Pokok Anggur yang sejati merupakan satu-satunya cara agar sampai masa tua pun kita masih dapat berbuah. (pg).