KASIR BARU

Saudaralu, mari kita membaca dan merefleksikan surat Roma 12:15: “Bergembiralah dengan orang yang bergembira, dan berdukalah dengan orang yang berduka.” Nasihat Rasul Paulus tersebut  merangkum hakikat empati dengan mendorong kita untuk turut merasakan emosi orang lain, entah suka maupun duka, sehingga terjalin rasa kebersamaan dan keterhubungan yang mendalam. Aku dan keluargaku baru saja menyelesaikan makan malam di sebuah rumah makan. Setelah membayar kami pun segera beranjak keluar. Kukatakan kepada suamiku untuk mampir di sebuah supermarket ada beberapa barang yang kuperlukan. Aku cukup sering berbelanja di toko ini, karena selain tidak jauh dari rumah, toko ini juga cukup lengkap. Karena itu, aku jadi sudah cukup hafal dan kenal dengan beberapa orang pramuniaga di toko ini.  Malam itu setelah mendapatkan semua barang yang kuperlukan, aku segera berjalan menuju kasir. Sampai di depan kasir aku baru sadar bahwa aku belum pernah melihat kasir ini sebelumnya. Dia begitu hati – hati dalam mengerjakan pekerjaannya. Hmm …,  aku sudah bisa menebak ini pasti anak baru. Beberapa kali kesalahan saat memindai barcode tidak lepas dari pengamatanku. Beberapa barang belanjaanku seperti sabun dan shampo dimasukkan ke dalam plastik yang sama dengan makanan dan snack.  Kuingatkan dia sambil mulai membantu menata barang-barang itu serta memisahkan belanjaan yang memang tidak boleh dicampur dalam plastik yang sama. Aku bisa melihat sekali kegugupannya yang memang tidak akan bisa tersembunyikan. Sangat kentara. Sangat jelas.  Entah kenapa aku bisa membayangkan dan merasakan seandainya aku di posisi yang sama dengan gadis muda ini. Sambil menata, kutanya dia: “Baru ya?”.  Sambil tersenyum dan masih gugup dia mengiyakan. Ini hari pertamanya bekerja sebagai kasir. Lalu setelah semua selesai dihitung, tanpa memerhatikan tas-tas belanjaan aku mengambil uang di dompet dan membayar. Biasanya tas-tas itu sudah dibawa oleh suami dan anak-anak ke mobil.  Pada saat inilah satu hal yang lucu terjadi! Setelah membayar aku langsung mengajak suamiku pergi meninggalkan toko. Aku pikir dia sudah memasukkan belanjaan ke mobil dan menyusul aku ke toko lagi. Lah kok ternyata  malah dia bertanya “Belanjaannya mana?” “Loh … ???” Spontan aku melihat kasir baru tadi. Mendadak wajah polosnya panik dan dan mulutnya berteriak “Aduh, maaf sekali Bu, kok belanjaannya malah saya letakkan di bawah sini… *di bawah meja kasir*, Aduuh bagaimana sih saya ini…”  Melihat dia gugup dan sekarang terlihat takut-takut, sambil tersenyum kukatakan kepadanya: “Hei, tidak apa-apa ini hari pertama ya, tetap semangat, dan terus belajar, nanti pasti bisa dan tidak akan salah-salah lagi”. Kutepuk-tepuk tangannya untuk menenangkan. Bisa kulihat wajahnya yang panik dan takut mulai berangsur tersenyum: “Terima kasih Bu, iya saya akan belajar terus. Sekali lagi maaf untuk kesalahan ini” Ada rasa haru menyelimuti hatiku, melihat gadis yang masih sangat muda itu. Dalam hati aku berdoa untuknya, supaya dia bisa belajar dengan baik dan mendapatkan tempat yang baik bagi masa depannya. Aku sebagai seorang Ibu, juga merasa diingatkan bahwa di masa depan anak-anakku juga akan melewati fase ini. Fase di mana mereka akan masuk ke dunia kerja dan tiba pada hal-hal baru yang belum pernah mereka injak sebelumnya.  Di dalam perjalanan kehidupan kekristenan yang sesungguhnya, pelajaran berempati seperti inilah yang seharusnya terus menerus dipraktikkan. Karena kita semua pasti pernah merasakan apa yang disebut dengan Pengalaman Pertama.  Pengalaman pertama, adalah fase di mana kita belum memahami hal yang harus kita kerjakan. Di mana kita akan mengalami dan melakukan banyak kesalahan. Di mana akan banyak tatapan sebelah mata, sindiran, bahkan juga kemarahan yang akan kita terima dari kesalahan-kesalahan tersebut.  Kita sungguh bersyukur, karena Kasih Kristus mengajar kita untuk berempati, belajar menempatkan diri di posisi mereka yang sedang berada di fase menjalani Pengalaman Pertama seperti gadis muda yang kutemui di toko malam ini. Saudaraku, terkadang, tanpa sadar kita memandang sesuatu hanya melalui sudut pandang kita sendiri. Melihat gadis muda yang sedang belajar bekerja itu, bisa saja pikiran kita langsung menghakimi bahwa gadis itu tidak kompeten. Bahkan bisa terpikir, kok bisa-bisanya toko ini memilih pekerja yang kurang pintar. Kita lupa, bahwa dulu kita juga pernah berada di fase di mana kita juga tidak paham apa-apa. Perjalanan hiduplah yang memampukan kita melewati fase demi fase kehidupan. Ekstra sekian menit yang kuhabiskan untuk mengajari dan menunggu gadis kasir baru itu menghitung belanjaanku, sangatlah kecil nilainya dibandingkan dengan senyum semangat yang terbangkitkan di wajah gadis muda berjilbab ini. Masih termemori dengan jelas, sesaat ketika aku meninggalkan meja kasir, sekali lagi kulihat dia. Dia sedang menghela nafas lega dan mengguman “Alhamdulilah” dengan senyum di bibirnya. “God bless her” batinku.   Selamat Berempati! Selamat membuat lebih banyak senyum di wajah-wajah anak muda yang sedang berjuang merenda masa depan mereka! (Novi Reksanto).

GEREJA DOMINE QUO VADIS

Saudaraku, Gereja Domine Quo Vadis terletak di Via Appia Antica Italy, sekitar 800 meter di luar Porta San Sebastiano, dari kota Roma sekitar 15 km ke arah selatan-tengara. Kalau ikut tour ke Itali pasti tidak mengunjungi lokasi ini, padahal ada sejarahnya yang menarik.  Nah ini, dari ceritera-ceritera tentang Kaisar Nero dan juga dari Wikipedia. Kaisar Nero Claudius Caesar Germanicus, kaisar Romawi ke-5 dari dinasti Julio-Claudian, naik takhta dari tahun 54-68 Masehi. Kaisar Nero berniat mendirikan sebuah kota Roma yang baru, maka Nero dengan sengaja membakar kota Roma, dan Nero menyaksikan kebakaran kota dengan memainkan kecapinya, saat api berhasil dipadamkan enam hari kemudian, lebih dari 70 persen kota Roma hangus terbakar.  Penduduk Roma umumnya percaya bahwa dalang kebakaran adalah Nero, namun Nero menyalahkan umat Kristen yang ada di Roma sebagai penyebab kebakaran, yang saat itu umat digembalakan oleh Rasul Paulus dan Rasul Petrus. Nero memerintahkan untuk menangkap setiap orang Kristen di Roma, dijadikan tawanan, dan menghukum dengan cara yang sangat kejam. Dalam stadion perlombaan, sebagian tawanan ditutupi dengan kulit hewan lalu dilepaskan anjing-anjing pemburu, untuk menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati.  Siksaan lainnya  akan diadu dengan para gladiator di arena, atau akan diadu dengan singa, sementara rakyat Roma bisa bersorak-sorai menyaksikan tontonan gladiator hidup mati ini. Yang tidak bisa diadu, para tawanan ini diikat bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di dalam sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan tersendiri bagi Nero. Ceritanya, Rasul Paulus telah ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Roma. Rasul Petrus sangat ketakutan dan melarikan diri dari kota Roma. Dalam pelariannya hingga di daerah Via Appia Antica, Petrus bertemu dengan Tuhan Yesus, dan Petrus menyapa “Domine quo vadis?” (Tuhan, kemana kamu pergi)?  Tuhan Yesus menjawab “Venio Romam iterum crucifigi” (Aku datang ke Roma untuk disalib kembali).  Petrus, yang sadar akan teguran itu, menangis, dan memutuskan untuk balik kembali ke Roma meskipun itu untuk mati. Tuhan Yesus pun menghilang, namun saat menghilang, Ia meninggalkan bekas jejak kakinya di jalan.  Menurut tradisi yang dicatat oleh sejarawan Hieronimus, Petrus meninggal dengan cara disalibkan terbalik (kepala di bawah, kaki di atas) di Roma setelah menolak disalibkan dengan kepala di atas karena ia merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus disalib. Kemudian hari di tempat Petrus bersua kembali dengan Tuhan Yesus dibangun gereja Domine Quo Vadis, dan di dalam gereja ada replika batu bekas jejak kaki Yesus. Batu aslinya disimpan di Basilika San Sebastiano. Saudaraku, saat kota Roma dilanda prahara haru biru atau kerusuhan, keributan, kekacauan, huru-hara, justru di saat-saat paling susah itulah Rasul Petrus yang sudah balik lagi ke Roma menuliskan 1 dan 2 Kitab Petrus. Kondisi kesusahan ini tidak dituliskan langsung oleh Petrus, tapi disebarkan dalam beberapa ayat. 1 Petrus 1:5-7: “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” Diuji kemurniannya dengan api, bukan kiasan lagi, tapi diuji dalam kebakaran besar kota Roma, dan orang Kristen dianggap sebagai biang keladi pembakaran. Lalu Petrus menghibur jemaatnya dengan pernyataan di 1 Petrus 1:9: “ ,,, kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu”. Kenyataannya tubuh atau fisik orang-orang Kristen yang ditangkap pasukan Roma tidak ada yang selamat atau utuh lagi.  Petrus, salah seorang rasul yang dipilih Tuhan Yesus, dalam perjalanan hidupnya mengikut Kristus, ternyata di saat-saat terakhir di kota Roma, ingin lari dari pelayanan, meninggalkan domba-domba jemaatnya, agar tidak mati di tangan Kaisar Nero. Di situlah Tuhan Yesus datang kembali menemui Petrus, “Aku datang ke Roma untuk disalib kembali.” Saudaraku, iman kepercayaan kita semua tidaklah sekuat iman Rasul Petrus kepada Tuhan Yesus. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan pada berbagai percobaan dan kenyataan hidup yang sangat susah, kondisi ekonomi yang tidak menentu. Mungkin, … mungkin saja kita sudah penat dan putus asa, ingin melarikan diri, terutama kepada berhala-berhala di luar Kristus yang menjanjikan kekayaan dan kejayaan.  Saudaraku, ingatlah kisah Rasul Petrus ini. Domine quo vadis? (Surhert).

AMAN DALAM PERLINDUNGANMU

Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Filipi 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Memori di Facebook mengingatkanku pada sebuah peristiwa luar biasa yang mengajarku tentang perjalanan iman bersama Tuhan. Hari ini dua belas tahun yang lalu, Damai, kenang mbarepku,  berjuang di meja operasi karena pendarahan di otak yang harus ditaklukkannya. Kondisinya yang kritis dan koma saat itu sungguh menghancurkan hatiku. Hari yang sangat istimewa untukku. Hari yang menjadi tonggak perjalanan iman dan keberserahanku kepada Tuhan. Masih kuingat sekali betapa kencangnya detak jantungku saat menunggu operasi berjalan. Masih bisa kurasakan gemetar dan gentarku melewati menit demi menit yang menegangkan itu. Dokter hanya berpesan kepadaku untuk terus berdoa selagi mereka mengerjakan bagian mereka, membuka kepala Damai dan mengambil darah yang masuk di otaknya. Masih begitu jelas teringat bagaimana airmataku berjatuhan sendiri tanpa bisa kutahan.  Rasa takut dan khawatir itu menyerang dari segala penjuru mata angin. Rasa hancur dan gelisah itu mendera tanpa memberi sedikit pun ampunan. Dalam pikiranku, apa pun akan kulakukan untuk menolong dan membantunya melewati fase-fase yang kritis itu. Padahal, tepat setahun sebelum hari itu, di tanggal yang sama di tahun 2011, aku sendiri juga berjuang di meja operasi saat lutut kananku patah sehingga tidak bisa berjalan. Tapi saat itu tidak ada rasa takut, gentar atau gelisah yang sebesar saat menunggui Damai berjuang. Hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, Damai tumbuh dengan begitu sehat dan sempurnanya. Tidak ada satu hal pun yang kurang. Bahkan kekhawatiran dokter bahwa putusnya jaringan sel pada saat otak dibuka akan menyebabkan dia cacat pun tidak terjadi. Damai adalah anakku. Di dalam tubuhnya mengalir darahku. Aku yang menggendongnya selama hampir 10 bulan di rahimku sebelum dia lahir ke dunia ini. Aku yang menyuapinya bahkan sebelum dia hadir di bumi. Jadi sedemikian kuat dan eratnya ikatan kami. Di dalam setiap doaku selama dia sakit dan kritis di rumah sakit, namanya kusebut dan kuserukan kepada Tuhan. Memohon belas kasihan Tuhan untuk dia bisa disembuhkan dan dipulihkan. Memohon kesempatan kedua untuk aku dan suamiku bisa merawat dan menjaga dia dengan lebih baik dan hati-hati. Ketika Damai di ICU, kesempatan kami untuk bertemu sangatlah terbatas. Kami hanya bisa bertemu pada saat jam bezuk di pukul 10.30 – 12.00 dan pukul 17.00 – 19.00. Meski dia dalam keadaan koma dan tidak sadar, kami selalu mengakhiri pertemuan kami dengan doa bersama. Aku percaya dia mendengar meski tidak bisa merespons. Di malam hari, setiap pukul 00.00 aku dan suamiku berlutut dan berdoa, memohon kemurahan dan pertolongan Tuhan. Berseru kepada Tuhan, membawa hati kami yang dihancurkan Tuhan, yang kemudian dibentuk-Nya kembali dan diajari untuk benar-benar berserah penuh.  Akhirnya hal menakjubkan terjadi. Tuhan membuat keajaiban itu di hadapan kami. Damai selamat dan memenangkan pertempuran besar dalam hidupnya. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun menaklukkan momen kritis yang berat dan mengalahkan bayangan kematian. Dia turun dari tempat tidur dan mulai berjalan, lalu tertawa. Suatu KEAJAIBAN. Sekarang, setelah Damai bisa melewati tahun demi tahun yang ajaib dalam pemeliharaan Tuhan yang dahsyat, pada hari-hari ini kami diberikan kepercayaan untuk terus berjuang bersama. Bukan lagi berjuang untuk mengalahkan meja operasi, tapi berjuang untuk menyusun masa depan melalui pendidikan tinggi selepas sekolah menengah bahkan memasuki masa-masa kuliah. Sungguh, ini menjadi satu hal yang luar biasa untukku. Melihatnya tumbuh sehat, pandai menggambar, bisa bermain gitar dengan baik, rasanya itu sebuah keajaiban. Tuhan menjaga Damai dengan sedemikian unik dan indah. Puji Tuhan. Kami menerima kepercayaan ini dengan hati yang penuh sukacita. Kami terus mengingat perjuangan dua belas tahun yang lalu itu sebagai pelajaran sekaligus pengingat yang benar-benar membangun hidup kami.  Pengingat betapa Tuhan berkuasa dan menyertai perjalanan kami untuk memenangkan pertarungan hidup yang berat. Pengingat betapa segala perkara dapat kami tanggung ketika kami berserah dan mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati. Pengingat betapa Tuhan benar-benar bisa mendengar dan menjawab doa-doa bahkan lebih dari yang kami minta. Pengingat betapa kami harus senantiasa mengucap syukur di dalam segala peristiwa. Pengingat betapa kami harus semakin taat dan setia mengerjakan setiap rancangan yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kami.  Saudaraku, God is so good. Kami aman dalam perlindungan-Mu. (Novi Reksanto).

Nǐ Hǎo Ma?

Saudaraku, Nǐ Hǎo Ma? Merupakan salam yang  sering disampaikan  warga Tionghoa untuk menyapa sesamanya, seperti salam “How do you do” ataupun “Piye kabare awakmu?” bagi warga Inggris ataupun teman-teman kita dari Surabaya. Nah bagi warga Tionghoa setelah salam nǐ hǎo ma, biasanya dilanjutkan salam berikutnya: 吃饭了吗 (chī fàn le ma) artinya apakah sudah makan?  Zaman dulu khususnya di Tiongkok, saat berkunjung ke rumah saudara di luar kota jarang menemukan rumah makan atau penginapan, jadi saat bertemu dengan saudara pastilah akan disapa apakah sudah makan? Ucapan salam gabungan ini dianggap baik, jadi dirangkai menjadi salam yang lazim, ni hao ma, chi fan le ma. Khususnya salam apakah sudah makan? Atau sudah makan belum? Dipandang sebagai hospitality atau keramah-tamahan bagi sesama.  Mengajak makan dan menghidangkan makanan seadanya, saat makan bersama ada suasana hangat, dan terjadilah komunikasi yang lancar. Bahkan dalam acara rapat yang dihadiri banyak orang, bila dihidangkan minuman atau makanan kecil, maka suasana akan lebih rileks, bandingkan dengan rapat yang berjam-jam, tidak ada minuman, dan peserta rapat mesti terus menerus mendengarkan pimpinan rapat. Saudaraku, di kitab Wahyu 3:20 diceritakan Tuhan Yesus suatu hari mau berkunjung ke rumah hati kita: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”  Aku membayangkan,  Tuhan Yesus lama mengetok di depan pintu. Sementara keluarga yang di dalam rumah, ngintip-ngintip dikit, siapa yang datang. Eh … Ternyata Tuhan Yesus. Ketika yang di dalam sedang bergumul,  Dia tetap mengetok di depan pintu … Sang Suami bergumul: “Saya mau berangkat kerja nih. Ngapain Yesus kok datang? Saya baru repot, pekerjaan lagi banyak,  mau tender, mana Si Anu minta duit 30% duluan, kalau tidak diberi maka kompetitor yang dimenangkan. Selain itu urusan pajak juga baru ruwet, laporan SPT diperiksa pajak. Buruh juga  minta kenaikan gaji, padahal usaha baru sepi.” Sang Istri bergumul: “Wah aku baru sibuk ngurus anak, anak perempuanku suka pulang malam-malam, ikutan merokok sama temannya. Yang remaja laki-laki,  teman-temannya banyak yang kupingnya ditindik sebelah, pakai tato. Selain itu  aku juga bingung ngurus Papaku yang sudah sakit-sakitan, rewel lagi, ongkos dokter banyak. Mamaku juga cerewet terus, maunya itu ini, diturutin tidak ada habis-habisnya. Apakah ada Panti Jompo yang bisa menerima langsung suami-isteri yang sudah tua? Cukup bayar bulanan sudah beres.” Sementara itu Tuhan Yesus tetap mengetok di luar, cukup sabar menanti pintu yang tidak   dibukakan. Tapi, kalau kita yang di dalam rumah mau membukakan pintu. siapa yang pertama bilang Ni hao ma? Tuhan Yesus duluan atau diri kita yang duluan? Setelah itu, mungkin kita melihat Tuhan Yesus datang dari jauh, lalu kita tanya chi fan le ma? Sudah makan atau belum? Ayo, ayo masuk, silakan duduk, saya ambilkan Aqua atau mau kopi atau teh? Ini ada kacang atom dan nanas tar di meja, silakan Tuhan Yesus nikmati dulu sementara saya siapkan teh wasgitel (wangi, sepat, legi, kenthel), atau kopi tubruk yang manis? Tuhan Yesus tentu tidak akan menikmati segala hidangan yang kita siapkan. Tidak perlu. Malahan Tuhan Yesus akan bilang: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes 6:35) Juga, Tuhan Yesus akan berkata lembut: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14). Nah, Tuhan Yesus sebagai tamu malahan menawarkan roti hidup dan air hidup yang bisa dinikmati selamanya oleh sang empunya rumah yang mau membuka pintu hatinya bagi-Nya. Saudaraku, umurku saat  ini  65 tahun. Sudah sekian kali aku membaca Wahyu 3:20, dan setiap kali membayangkan gambar Tuhan Yesus yang mengetok di depan pintu, aku semakin memahami apa arti membuka pintu hati bagi Tuhan Yesus: Mengundang Dia masuk, segala apa yang aku capai dan miliki selama ini tidak ada artinya di hadapan-Nya, karena Roti Hidup dan Air Hidup itu sungguh berlimpah. (Surhert).

Christ for all, all for Christ

Saudaraku, aku kurang ingat secara pasti kapan orangtua kami mengenal Om Andreas Christanday. Belakangan aku tahu ternyata Om Andreas adalah adik kandung Pdt Charles Christano, Gembala Jemaat GKMI Kudus. Om Andreas alumni dari Institut Injil Indonesia (STT “I3”) Batu Malang. Kemudian Om Andreas sempat melanjutkan studi ke STT “Baptis” Simongan, Semarang.  Setelah lulus dari STT “I3” Om Andreas melayani di GKMI Kudus dan sudah ditahbiskan sebagai Guru Injil (GI). Tetapi pangggilannya untuk menginjil melalui satu yayasan yang bersifat mandiri dan interdenominasi semakin menguat, maka dia kemudian meninggalkan pelayanannya di GKMI Kudus. Dengan dukungan beberapa orang temannya, pada tanggal 3 Mei 1972 Om Andreas mendirikan Yayasan Christopherus. Aku sering melihat Om Andreas mengendarai VW Combi warna kuning dengan tulisan “Kristus Jawabnya” di bagian belakang mobil. Itulah satu-satunya mobil VW Combi yang berwarna kuning di Semarang. Dia bercerita kepada kami, penginjilan yang dia lakukan melalui khotbah (KKR), pelayanan musik (Vokal Grup, kadang band), dan pemutaran film. Christopherus  sering putar film di desa-desa sekitrar Semarang,Kudus, Jepara, Demak, dan Pati,  dengan memakai proyektor Sekonic dan film-film rohani Kristen produk dari luar negeri, kadang ada terjemahannya, kadang tidak.  Ya zaman itu masyarakat umum memang tahunya film “Beranak Dalam Kubur”,  “Satria Bergitar”, dan film-film Kung Fu produk dari Hong Kong,  yang mesti ditonton di bioskop dengan membayar karcis, maka mereka sangat antusias melihat tontonan film gratis di lapangan. Proyektor dipasang di atas kap mobil VW Combi,  layarnya kain seprei yang diikat bambu atau batang pohon. Ada  speaker yang dipakai untuk pengeras suara. Pemasangan properti sejak jam 3-4 sore, dikerjakan oleh  Ko Hok Djoen, yang rambutnya agak gondrong. Ko Djoen dibantu oleh beberapa orang teman.  Biasanya selewat maghrib film mulai diputar. Sebelumnya  ada pengantar pendek dari film yang akan diputar. Nah masyarakat yang datang menonton bisa ratusan, sering dari desa lain ikutan datang, lapangan jadi meriah karena banyak angkringan yang menawarkan berbagai makanan, terutama bakso. Sekitar jam 9 malam acara selesai, dan selanjutnya diharapkan ada gereja di daerah situ yang mau menindak lanjutinya. Saudaraku, karena Papa usahanya membuat sirup, pernah aku mengirimkan 1 krat sirup ke rumah Om Andreas di Pringgading Utara untuk digunakan dalam pelayanan di Mranggen. Ceritanya saat putar film disiapkan 1 drum besar dengan kran di bagian bawahnya untuk air minum, diisi air hampir penuh dan kira-kira ¼ blok es batu, sirup rasa jeruk dituang ke dalamnya.  Tim dari Christopherus dan anggota panitia setempat minum es sirup, pakai gelas plastik atau gelas kaleng. Zaman itu belum ada air botolan Aqua. Es setrup jadi favorit, hingga beberapa kali drum ditambah air dan es batu, bahkan botol sirup yang masih ada sirupnya juga diisi air es dibawa pulang oleh beberapa penduduk. Oh ya, karena Om Andreas sering pelayanan ke luar, maka kemana-mana dia sering membawa gitar. Juga saat beliau diundang khotbah ke Kelas Remaja maupun Komisi Pemuda di gereja kami, dia datang dengan gitarnya dan tim musik, menyampaikan khotbah dan puji-pujian. Nah ini, saat itu umumnya gereja tradisional alat musiknya memakai piano, maka kedatangan tim musik yang membawa gitar sering ditafsirkan mewakili denominasi gereja tertentu. Kemudian ada pelayanan Panti Asuhan Christopherus yang berlokasi di jalan  Karang Rejo Timur, jadi dari jalan Teuku Umar ke arah tanjakan Gombel belok ke kanan dan jalannya turun cukup tajam. Aku beberapa kali bersama Mama ke situ untuk membawakan beras atau sirup. Anak-anak panti sekitar 20-an orang ramai-ramai menggotong bahan makanan dari mobil, dan sepulangnya merupakan tantangan nyopir, karena jalan menanjak dari panti ke arah Teuku Umar, pakai mobil dengan kopling manual dan gigi satu mesin tidak boleh mati. Juga sebelum tahun 1980-an Christopherus punya pelayanan semacam sisterhood. Aku kurang paham pelayanan ini, tapi kemudian Yayasan Christopherus membuka pelayanan di pedalaman Kalimantan Tengah, yakni di Tumbang Marikoi. Untuk mencapai lokasi ini mesti menyusuri sungai Kahayan selama 4 hari. Pelayanan di sini berupa klinik pengobatan, dan pendidikan bagi warga masyarakat . Pelayanan ini  oleh beberapa orang Suster dari “Christustraeger” Jerman. Kita bisa membaca secara lengkap pelayanan mereka di buku “Cahaya Dalam Hutan Rimba” yang diterbitkan oleh Yayasan Christopherus pada tahun 2023. Saudaraku, setelah keluarga kami pindah ke Jakarta, aku tidak mengikuti lagi perkembangan aktivitas Yayasan Christopherus. Tahun ini Yayasan Christopherus sudah berusia 52 tahun. Selama 52 tahun lebih Christopherus tetap setia dengan visinya yaitu mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Aku paling terkesan dengan motonya: “Christ for all, all for Christ” (Kristus untuk semua, semua untuk Kristus) yang diambil dari 2 Korintus 5:14-15. KRISTUS UNTUK SEMUA mendorong kita untuk selalu mengingat,  semangat dan setia mengabarkan Injil di mana pun kita ditempatkan Tuhan. Sedangkan semua untuk Kristus akan selalu mengingatkan kita untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan memberikan segala sesuatu yang terbaik, karena SEMUA UNTUK KRISTUS. Bagaimana dengan kita sebagai Pendukung Christopherus? (Surhert).