SAAT TEDUH MENJADI GAYA HIDUP

Selamat jumpa para Pendukung Kristus , apa kabar? Siapa yang mau menjadi orang yang berbahagia? Pemazmur berkata bahwa orang yang berbahagia ialah orang yang suka akan firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan siang dan malam (Mazmur1:1-2). Lebih lanjut Pemazmur menyatakan keberadaan orang yang tinggal dalam firman  “…seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”  (Mazmur 1:3). Wouw! … Ternyata kunci untuk menjadi orang yang berhasil adalah tinggal di dalam firman. Banyak orang, termasuk saya,  berpikir bahwa keberhasilan hidup seseorang sangat ditentukan oleh kecerdasan intelektual atau kecerdasan dalam bidang akademik  (IQ)  sepenuhnya.  Benarkah?  Ternyata tidak. Riset  menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual  (IQ)  ternyata hanya menyumbang 20% dari keberhasilan seseorang, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor lain yaitu kecerdasan emosional  (EQ).  Kecerdasan emosional  (EQ)  adalah kemampuan untuk mengenali, memahami dan mengelola emosi kita sendiri dan emosi orang lain secara positif.  Karena itu orang yang memiliki kecerdasan emosional  (EQ)  tinggi akan mampu berkomunikasi lebih baik, membentuk hubungan yang lebih kuat dan mencapai sukses yang lebih besar di tempat kerja ataupun dalam kehidupan sehari-hari lainnya.Kecerdasan emosional  (EQ)  berbicara tentang karakter atau perilaku hidup seseorang.  Bagi orang percaya pedoman utama untuk meningkatkan kecerdasan emosional  (EQ)  adalah Alkitab, sebab  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16).  Penting sekali memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan.  Ada tertulis:  “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.”  (Hosea 4:6).  Nah, untuk memiliki pengenalan yang benar tentang firman Tuhan, tidak ada cara yang lain,  kita harus menyediakan waktu untuk membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan. Kita perlu mendisiplin diri untuk bersaat teduh. Jadikan saat teduh sebagai gaya hidup. Pilihlah waktu yang paling tepat, boleh pagi, boleh siang atau malam. Saat teduh menjadi saat yang menyenangkan, seperti Daud yang berkata,  “…Taurat-Mu adalah kegemaranku.”  (Mazmur 119:77). Ingatlah! “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). GBU & Fam. (pg).

Dialah Pusat Kehidupan Ini

Bacaan Alkitab: Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-KU, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, …”  (Yohanes 11:25) Dalam upacara pemakaman seorang jemaat, Pendeta Eloy Pacheco mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya sumber penghiburan yang abadi. Kemudian datanglah seorang wanita kepadanya dan berkata, “Semua pendeta memang sama saja. Yang selalu Anda bicarakan hanyalah Yesus, Yesus, Yesus!” “Benar,” jawab Pendeta itu dengan ramah. “Namun, penghiburan seperti apa yang bisa Ibu berikan kepada keluarga yang sedang berkabung?” Ibu itu terdiam sebentar, kemudian menjawab, “Anda benar. Setidaknya Anda mempunyai Yesus.” Cepat atau lambat orang yang kita cintai akan meninggal, dan kita ingin dihibur. pelukan, ungkapan belasungkawa dan air mata, serta kehadiran seorang teman, bisa sedikit meringankan penderitaan yang begitu pedih. Namun, semua ini tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita yang paling mendesak: *Apa yang terjadi setelah kematian? Di manakah orang yang kita cintai itu sekarang? Apakah kita akan dipersatukan kembali di surga? Bagaimana saya bisa mendapat kepastian mengenai kehidupan kekal? Jawaban atas semua pertanyaan itu ada pada diri Tuhan Yesus Kristus. Dia-lah yang telah mengalahkan dosa dan kematian dengan wafat di kayu salib bagi kita dan bangkit dari kubur (1 Korintus 15:1-28, 57). Karena DIA hidup, semua yang beriman kepada-Nya akan hidup selamanya (Yohanes 11:25). Ketika orang yang percaya kepada Kristus meninggal, kita yang ditinggalkan bisa menemukan penghiburan dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Maka marilah kita tetap membicarakan Yesus. DIA-lah Pusat Kehidupan Ini. Hikmat hari ini: Dalam hidup dan mati Yesus Kristus satu-satunya harapan kita. Selamat memasuki hari baru hari ini, Selamat beraktivitas. Tetap jalani protokol kesehatan di era New Normal dengan setia dan tulus hati. Jesus Christ bless you (sp)

MENJADI KEPANJANGAN TANGAN TUHAN

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan kompak-kompak selalu. Semoga di hari ini kita masih tetap bisa bersyukur. Masih bisa merasakan kasih dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita. Kalau Tuhan masih membuka kesempatan bagi kita untuk menikmati hidup di dunia sampai hari ini, tentu Ia mempunyai maksud dan tujuan. Salah satu tujuan-Nya, supaya kita mau menjadi kepanjangan tangan dan kaki-Nya untuk menolong saudara-saudara kita yang saat ini sedang menanti-nantinya uluran tangan-Nya. Tuhan rindu, kita mau mendengar panggilan-Nya. Ia memanggil kita untuk menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain, bukan lagi hidup untuk diri sendiri atau mementingkan diri sendiri.   Saudara, pengalaman hidup saya bercerita bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya perpecahan dalam kehidupan keluarga, gereja, lembaga, yayasan, perusahaan dan organisasi kemasyarakatan adalah sikap mementingkan diri sendiri.  Mementingkan diri sendiri disebut pula selfish atau juga egois, yang dalam kamus  Webster  didefinisikan:  memerhatikan diri sendiri secara tidak pantas atau secara berlebih-lebihan, mendahulukan kenyamanan dan keuntungan diri sendiri tanpa memerhatikan, atau dengan mengorbankan kenyamanan dan keuntungan orang lain. Kita perlu menyadari, ketika seseorang mementingkan dirinya sendiri, ia akan menjadikan dirinya sebagai pusat dan tidak lagi mempedulikan kepentingan dan perasaan orang lain.  Inilah yang menjadi sumber dari banyak kekacauan dan kejahatan, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”  (Yakobus 3:16). Orang yang mementingkan diri sendiri pasti sulit menjalin kerjasama dengan orang lain sebagai anggota tim di dalam menyelesaikan sebuah tugas.  Orang yang mementingkan diri sendiri juga cenderung mudah marah, tersinggung serta tidak bisa menguasai diri.  “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.”  (Mazmur 37:8).  Orang yang egois memiliki kecenderungan menghakimi dan mencela orang lain karena menganggap diri sendiri paling benar dan tidak pernah salah.  Rasul Paulus mengingatkan,  “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.”  (Galatia 6:4).  Sebagai orang percaya kita harus membuang jauh sifat mementingkan diri sendiri agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dalam segala perkara marilah senantiasa meneladani Kristus,  “…Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,…dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:1, 3, 4). Ingatlah! Ini dia kuncinya: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”  (Matius 7:12). GBU & Fam. (pg).