BAK MELEMPAR BATU KE LAUTAN

Nyaris Purnama Nyaris purnama, bulan datang di langitku. Memancar terang di langit yang gelap. Berbinar ceria bak wajah perempuan pujaanku. Jangan keindahan bentuk dan sinarmu membuatmu lupa diri. Tengoklah benda kecil yang  kelap-kelip di belakangmu. Bintang…, jauh… jauh sekali di angkasa, jauh dari kata pujian asmara. Sesungguhnya dia lebih besar darimu. Jangan hakimi dia hanya dari pancaran kelap-kelip cahayanya. Disepelekan “Anak kecil, masuk sana.” Masih terngiang di alam mayaku ucapan itu. Padahal sudah lima puluh lima tahun yang lalu. Seorang teman pernah menulis pernyataan   kekecewaannya, “Menyakiti seseorang itu ibarat kamu melempar batu ke lautan, gampang banget… Tapi kamu pernah berpikir nggak? Seberapa dalam batu itu akan tenggelam di lautan?” Jawabku: “lima puluh lima tahun++.” Koko dan teman-temannya sepulang sekolah singgah di rumah papa. Tertawa terbahak-bahak, rasa ingin tahuku muncul dan ikut bergabung. Seorang teman koko mengatakan “penyepéléan” itu padaku karena aku masih kecil. Jangan Mau Direndahkan Paulus menasihati Timotius yang muda, agar jangan sampai karena kemudaannya Timotius direndahkan. Timotius mempunyai tugas berat, menghadapi pengajar sesat. Menjadi pelayan Kristus Yesus yang  mengingatkan, memberitakan dan mengajarkan pokok-pokok iman dan ajaran sehat yang telah dihidupi Timotius selama ini. Lansia pun Tak Mau Direndahkan Saat ini aku sudah tidak muda lagi, tapi “penyepéléan” tetap masih bisa terjadi. Untuk itu aku akan berusaha menjadi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian, seperti nasihat Paulus pada Timotius yang muda, .”Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12) – (Simon NHK)

Minggu-Minggu yang Tetap Untuk Panen

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengiring Yesus Kristus. Kita menjadi murid yang senantiasa mau taat kepada Sang Guru yang telah memberi keteladanan kepada kita tentang ketaatan. Saudara, takut akan Tuhan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang percaya. Dalam kitab Amsal 1:7 dikatakan bahwa  “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Itulah sebabnya orang yang takut akan Tuhan pasti akan menjadi orang yang bijaksana, karena ia  “…mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”  (Ibrani 5:14).  Wujud sikap takut akan Tuhan adalah taat melakukan kehendak-Nya, sebagaimana Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia taat melakukan kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib.  Karena itu kita wajib mengikuti jejak-Nya yaitu hidup dalam ketaatan.  Kekristenan tanpa memiliki rasa takut akan Tuhan adalah sia-sia!  Hidup takut akan Tuhan adalah hidup yang penuh hormat kepada Tuhan, yang ditandai dengan rasa takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, sehingga dengan penuh komitmen kita mengasihi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidup ini.Secara sepihak kita seringkali menuntut Tuhan untuk memberkati atau menggenapi janji-janji firman-Nya, tetapi kita sendiri tidak mau membayar harga.  Adakalanya Tuhan mengizinkan masalah terjadi dalam hidup kita sebagai bagian dari proses pendewasaan iman, namun tidak sedikit masalah harus kita alami sebagai akibat dari ketidaksungguhan kita dalam mengikut Tuhan atau kita tidak takut akan Tuhan.  Padahal takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk kita mengalami berkat-berkat Tuhan.  Tuhan pasti akan mengerjakan bagian-Nya yaitu memberkati kita, asalkan kita juga mengerjakan bagian kita yaitu takut akan Dia.  Pemazmur menulis:  “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.”  (Mazmur 112:1-3). Dikatakan pula bahwa  “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia,”  (Mazmur 33:18)  dan  “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia,”  (Mazmur 145:19).  Berkat tidak datang secara otomatis dalam hidup saat kita memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus.  Tetapi berkat akan menjadi bagian hidup kita seiring dengan ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan! Ingatlah! Di hari-hari ini banyak orang merasa pesimis menghadapi hari esok karena melihat situasi yang semakin sulit dan serba tidak menentu.  Tetapi orang yang senantiasa takut akan Tuhan tak perlu merasa takut dan khawatir, karena keberadaan kita tidak ditentukan oleh situasi yang ada, melainkan karena kehadiran Tuhan dalam hidup ini.   “Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.”  (Yeremia 5:24). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

Setia Sampai Akhir

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Di saat pandemi seperti saat ini yang paling penting menjaga kesehatan rohani dan jasmani kita. Marilah kita terus setia dan disiplin menjalankan pola makan dan pola hidup. Semoga ketika Tuhan datang menjumpai kita, Tuhan menemukan kita sebagai orang yang setia. Saat ini mencari orang yang pandai dan berpendidikan tinggi sangat banyak, tapi untuk mencari orang yang setia, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit menemukannya. Saudara, Smirna  (di Turki)  adalah sebuah kota yang terkenal sangat makmur dan indah.  Di kota itu diberlakukan suatu aturan yang sangat keras,  rakyat diwajibkan untuk menyembah kaisar.  Hal tersebut untuk membuktikan kesetiaan dan loyalitas rakyat kepada pemerintahan Romawi, sampai-sampai rakyat menyerukan kaisar sebagai tuhan.  Ini menjadi suatu tantangan besar bagi para pengikut Kristus  (jemaat Tuhan)  di kota Smirna. Syukur kepada Tuhan, sekalipun berada dalam tekanan, jemaat di Smirna ini tetap teguh memertahankan imannya kepada Tuhan dan tidak mau berkompromi dengan dosa, mereka menolak untuk menyembah Kaisar.  Akhirnya mereka pun dianggap telah melanggar hukum, pembangkang, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengalami penganiayaan.  Jemaat Smirna rela mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran dan berpendirian teguh untuk tidak menyembah kepada  kaisar.  Mereka berkomitmen untuk tetap setia mengiring Kristus sampai akhir sekalipun ada harga yang harus dibayar.  Dalam perjalanan kehidupan rohani, kita seringkali diperhadapkan pada tantangan yang tak beda jauh dengan jemaat di Smirna.  Tapi karena tak kuat dengan tekanan, intimidasi, aniaya, atau penderitaan, ada cukup banyak orang percaya yang menyerah di tengah jalan, memilih untuk melakukan kompromi, dan menyangkal imannya.  Padahal Tuhan telah menyediakan upah yang besar bagi setiap orang percaya yang setia sampai akhir, yaitu mahkota kehidupan.  Tuhan menginginkan kita setia, apa pun keadaannya, sampai garis akhir hidup kita.  Kita bisa meneladani Rasul Paulus yang berkomitmen,  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”  (Filipi 1:21). Kata  Smirna  berarti mur, semacam damar yang pahit, tetapi baunya sangat harum dan sering dipakai sebagai bahan untuk membuat minyak wangi.  Itulah gambaran kehidupan orang percaya yang mampu bertahan sampai akhir, yang sekalipun harus diperhadapkan dengan hal-hal yang pahit  (penderitaan), tapi hidup mereka berbau harum di hadapan Tuhan, hidup yang mempermuliakan nama Tuhan.  Ingatlah! Tuhan minta supaya kita setia sampai akhir, dan mahkota tersedia bagi kita, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  (Wahyu 2:10b). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

Mbabat Alas

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Dalam situasi kita masih berperang melawan pandemi virus Corona, bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hari yang baru, menikmati rahmat-Nya yang selalu baru setiap pagi. Cukup banyak orang hanya memusatkan perhatian atau fokus kepada hal-hal yang besar saja, seringkali mereka melupakan, bahkan meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil dan sederhana. Padahal untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar, kita harus mulai dari hal-hal yang kecil. Untuk bisa mencapai puncak gunung, kita harus mulai pendakian dari bawah, melewati lembah, lereng, dan bukit terlebih dahulu. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa perjalanan beribu-ribu mil, dimulai dari langkah pertama. Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah. Kita tidak bisa secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan, dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi yang sangat menyakitkan, namun kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut. Itu adalah modal untuk beroleh kepercayaan lebih! Saat paceklik seperti saat ini, bisa kita pakai untuk mencoba aktivitas, bentuk pelayanan dan atau usaha yang baru. Kita mesti mbabat alas, mulai dari nol, mulai dari bawah, mulai dari kecil-kecilan dulu. Butuh hati yang mantap untuk memulai, butuh keuletan, ketekunan, dan kesabaran. Butuh doa dan perjuangan. Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Matius 13:32, “Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Mari kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa terhadap orang yang setia,  Tuhan berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela, Tuhan berlaku tidak bercela. Ingatlah! Terlebih dahulu kita harus bersedia melewati proses dari bawah sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. …” (Lukas 16:10). GBU & Fam. Better day are coming. (pg)

HASIL KERJA BERSAMA

Kemarin saya sempat melihat pekerja bangunan yang sedang bekerja di sebuah kompleks perumahan.Dari pembantu tukang, tukang dan mandor tukang, berjajar rapi walau tidak sama tinggi. Seorang mengisi èmbèr dengan adonan, diambil seorang tukang yang lain, kemudian dia mengoperkan ke rekannya yang berdiri di tangga, diterima rekan lain lagi yang berdiri di tengah-tengah antara tanah dan tujuan akhir. Yang di atas menerima dan menuang ke lubang kolom bangunan yang nantinya akan jadi salah satu penyangga bangunan rumah. Bekerjasama Tidak akan ada adonan bila tak ada yang menyiapkan dari bahan bangunan mentah menjadi siap dipakai. Yang menyiapkan tak bisa tinggi hati, karena tanpa teman-teman perantara adonan itu tak akan sampai ke atas. Yang mengeksekusi adonan di atas, yamg menuang ke lubang kolompun tak bisa meninggikan diri. Tanpa orang bawah dan orang tengah, dia hanya akan kelelahan dan kepanasan berdiri di atas. Bawah, tengah, atas, tak bisa mengatakan ini hasil kerjaku, karena memang ini hasil kerja bersama. Aduh  … Sementara di sudut yang  lain seorang pekerja berteriak kesakitan memegang tangannya yang berdarah. Rupanya akibat kurangnya kesepakatan diantara mereka berdua saat akan mengangkat anyaman besi untuk dirakit. Yang terjepit belum siap, yang mengangkat tanpa perasaan dengan sekuat tenaga: aduh … Organisasi Sebuah organisasi biasanya dikelola oleh  beberapa orang  yang menyandang jabatan berbeda:  Ketua, sekretaris, bendahara, anggota. Akan ada yang mengaduh jika salah seorang diantara mereka bekerja tanpa memerhatikan yang lain. Sebaliknya akan mencapai hasil yang baik jika berjajar rapi walau tidak sama tinggi di jabatan maupun tugasnya. Bila hasil baik tercapai, penyiap adonan maupun si pengeksekusi tak dapat meninggikan diri, karena secara keseluruhan adalah hasil kerja bersama. Setelah rumah jadi, pemilik akan menikmati kenyamanan rumah, menikmati pujian dari para penikmat, “wih cekli tapi bakoh,” “wih tampak gagah,” dan “wèlèh apik nemen…” Pekerja Di mana pekerjanya? Di mana yang berdarah-darah? Mereka telah pergi mengerjakan rumah lain lagi, siap dilupakan dan memberikan pujian pada yang memiliki. Demikian juga dengan sebuah organisasi. Pemiliknyalah yang akhirnya memiliki pujian dan kebanggaan: “Kerja organisasimu, apik” Badan Pelayanan Siapa yang dilayani oleh badan ini? Kepada dialah badan memberikan yang terbaik agar kepada siapa badan melayani, dialah yang mendapat pujian. Aku sebagai salah seorang anggota pengurus Badan Pelayanan yang melayani Penyelamat jiwaku, Tuhan Yesus. Berusaha bekerjasama dan sama-sama bekerja dengan anggota pengurus yang lain untuk mencapai pelayanan yang menyenangkan-Nya. Tapi aku kadang tergoda merasa lebih penting dari anggota badan yang lain, mengklaim ini hasil kerjaku dan meninggikan diri. Tapi aku kadang juga tergoda kerja serampangan dan membuat anggota pengurus yang lain berdarah-darah, sakit hati, marah, … Dan parahnya aku kadang juga tergoda mengambil alih pujian yang harusnya bagi Dia yang kulayani. Ampuni aku Juruselamat jiwaku, Tuhan Yesus. (Simon NHK)

STRATEGI PELAYANAN ANAK-ANAK KOS

Pendahuluan Seorang misionari yang bekerja di Amerika Selatan menulis sebuah artikel, dia mengungkapkan ketidaksetujuannya pada strategi perkembangan gereja. Gereja tidak perlu membuat strategi pelayanan, cukup berjalan dengan bergantung pada Roh Kudus. Misionari itu bahkan mengatakan: “Teori tentang Pertumbuhan Gereja membatasi kemahakuasaan Allah dan menghalangi Roh Kudus untuk bekerja dengan leluasa”. (Peter Wagner, Strateqi Perkembangan Gereja, Gandum Mas, Malang, 1996, hal. 6.) Dr. Peter Wagner, pengarang buku di atas, tidak menyetujui pendapat tersebut, ia mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan berbeda dengan binatang. Manusia mempunyai akal budi, binatang tidak. Akal budi adalah karunia Tuhan. Mazmur 32:9 mengatakan, “Jangan seperti kuda atau bagal yang tidak berakal”. la juga berkata :”Dengan menggunakan segenap akal budi kita dalam melakukan penginjilan, prakasa manusia bersatu dengan kehendak Ilahi. Selama hamba-hamba Tuhan mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, mereka bebas untuk merencanakan strategi, sambil menggunakan metode dan tehnik penginjilan yang dianggap tepat dalam melakukan pekerjaan Tuhan..”. (Ibid, hal. 11-12) Anak-anak kos di jalan dr. Cipto 44 (pav.) Semarang sependapat dengan teori Dr. Peter Wagner. Dalam melaksanakan “Amanat Agung” Tuhan Yesus, mereka menerapkan strategi-strategi tertentu. Mereka bergantung pada Roh Kudus, namun juga memakai akal budinya. Strategi yang diterapkan ternyata diberkati Tuhan, sudah 35 tahun melayani, dan ternyata pelayanan itu berkembang dan berbuah-buah. Anak-anak Kos dan Visinya Siapakah yang disebut anak-anak kos itu? Mereka adalah pemuda pemudi Kristen yang waktu itu mengadakan persekutuan doa di rumah kos jalan dr. Cipto 44 (pav.) Semarang. Sebagian dari mereka berasal dari GKMI yang terbangun rohaninya akibat Bible Camp yang diadakan oleh gerejanya pada tahun 1955-1960-an; sebagian lagi non GKMI yang memang berjiwa misioner misalnya Padmawati anggota GKI dan Eliatha Suteja yang akhirnya menjadi pendeta di Gereja Isa Almasih di kota Surabaya. Visi anak-anak muda ini sangat jelas, yaitu melaksanakan “Amanat Agung” selagi ada kesempatan. Pemuda pemudi Kristen yang bersekutu di rumah kos itu sangat giat melayani Tuhan. Sebuah tim vokal grup terbentuk dan diberi nama : All For Christ”. Tuhan memakai kesaksian serta lagu-lagu yang dinyanyikan mereka untuk membawa beberapa orang kepada-Nya. Namun terasa kurang cukup, mereka ingin menjangkau daerah pelayanan yang lebih luas dan lebih luas lagi. “Apa yang harus kami lakukan?”, tanya mereka kepada Tuhan. Tercatat demikian: “Dalam bulan Agustus 1968, Tuhan memberikan inspirasi kepada kelompok doa pemuda pemudi di JIn. dr. Cipto 44 (pav). Semarang yang sedang mencari kehendak Tuhan. Bagaimana dapat memberitakan Firman Tuhan kepada khalayak banyak yang dapat izin pemerintah. Seorang anggota persekutuan mengajukan pertanyaan: :bagaimana kalau kita membangun radio siaran?” Pertanyaan itu kemudian didiskusikan dan didoakan untuk meminta kepastian dari Tuhan”. (Jikalau Bukan Tuhan, Buku HUT 25 Radio Siaran lchthus, 1994, hal. 25) Mukjizat terjadi di kalangan mereka. Dalam waktu dua minggu kelompok doa ini mendapat jawaban dari Tuhan; ada seorang asal Surabaya ingin menjual seperangkat alat pemancar radio seharga Rp. 60.000,- yang lengkap berikut jasa pemasangannya; apalagi pembayarannya boleh diangsur. Tuhan bekerja luar biasa, sehingga dalam bulan September, tepatnya tanggal 28 tahun 1968, mengudaralah untuk pertama kalinya siaran radio baru di kota Semarang dengan gelombang 100 meter yang diberi nama ALPHA-OMEGA. Beberapa waktu kemudian pengurus mengganti nama ALPHA-OMEGA menjadi ICHTHUS. (Ibid, hal. 25) Setelah berdirinya Radio Siaran lchthus, pelayanan kelompok doa ini tetap berlanjut, bahkan kian meluas. Untuk lebih memantapkan serta mengarahkan kegiatan agar tidak terkesan liar, mereka sepakat untuk membentuk sebuah wadah baru guna menyalurkan visi mereka, yang juga merupakan strategi pelayanan ke depan. Andreas Christanday yang waktu itu baru saja pulang dari mengikuti International Visit Exchange Program dari MCC di Amerika merupakan motor pembentukan wadah ini. Tercatat yang hadir dalam rapat 11 Januari 1971 antara lain Soendjojo, Markus Hendra Kusuma, Chrismanto Jonathan, Agus Suwantoro, Christian Nugroho, Rina, Ang Giok Ing dan Padmawati. (Kenangan Perak, Buku HUT 25 Yayasan Christopherus, hal. 24) Anak-anak Kos dan Strategi Pelayanannya Kelompok doa anak-anak kos itu memutuskan memakai strategi pelayanan dengan tiga pilar yaitu: berwadahkan yayasan, bersifat interdenominasi dan pelayanan yang holistik. Pilar pertama, berwadahkan Yayasan. Kita mengenal lembaga gereja, lalu apakah “Yayasan Kristen” itu? Yayasan Kristen disebut “para­gereja”. Secara harafiah, “para-gereja” berarti “di samping gereja”, karena kata “para” adalah kata depan bahasa Yunani yang berarti : di dekat, di samping, dari samping, berjajar dengan dan berdekatan dengan. (Charles Christano, Hubungan Yang Serasi Antara Gereja dan Organisasi Para­ Gereja, dalam Sebuah Bunga Rampai Pertumbuhan Gereja, Yayasan Andi, Yogya, 1999, hal. 132) Definisi Yayasan Kristen adalah: “suatu lembaga Kristiani yang memiliki sifat nirlaba, beranggotakan orang-orang Kristen yang bekerja bersama-sama di luar kontrol denominasi, untuk mencapai tujuan pelayanan tertentu”. (Charles Christano, ibid, hal. 132). Sedang Jerry White mendefinisikannya sebagai: “Setiap bentuk pelayanan rohani yang organisasinya tidak diatur atau tidak di bawah otoritas suatu jemaat lokal”. (Jerry White, Gereja dan Yayasan Penginjilan, Gandum Mas, Malang, hal. 23) Keuntungan berwadahkan Yayasan Penginjilan adalah birokrasi ketat yang biasanya terdapat dalam organisasi gereja dapat dihilangkan. Menjamurnya yayasan PI memerlihatkan banyaknya orang Kristen yang merasa terhambat visinya dalam melayani Tuhan oleh sebab ketatnya birokrasi di dalam gereja. Seorang tokoh yayasan mengatakan dalam karangannya : “gereja terlalu kaku berorganisasi dan kurang memberi kebebasan Roh Kudus untuk bekerja”. (Andreas Christanday, Majalah Cresendo, nomor 298, Semarang, hal. 25) Struktur gereja disebut struktur modalitas, yang mementingkan penggembalaan bagi jemaatnya. Struktur ini biasanya digambarkan dengan sebuah rumah tempat bernaung bagi anggota keluarga. Keakraban, persatuan, kerukunan dan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah menjadi prioritas di dalam gereja; hal inilah yang menjadikan birokrasi dalam gereja ketat dan kadang-kadang berbelit-belit. Berbeda dengan gereja, struktur Yayasan Penginjilan disebut struktur sodalitas. Struktur ini berorientasi pada penyelesaian tugas; biasanya digambarkan dengan sebuah mobil truk yang siap dipakai bekerja. Birokrasi dalam tubuh yayasan PI biasanya kendor; kadang-kadang keputusan diambil hanya dengan penggunaan telepon antar sesama pengurus. Yayasan tidak mempunyai anggota jemaat yang harus digembalakan. Sasaran utama adalah merealisasi visi. Keuntungan lain memakai wadah yayasan adalah pelayanan menjadi terfokus. Gereja Tuhan mempunyai tiga panggilan utama, yaitu persekutuan, pelayanan dan kesaksian. (ada anggapan “pengajaran” sebagai panggilan keempat; ada yang menganggap dalam persekutuan ada pengajaran) Namun disebabkan kompleksnya kehidupan jemaat, maka panggilan persekutuan dan pelayanan lebih diprioritaskan dalam gereja. Pelayanan pastoral menjadi pelayanan utama. Pdt. Charles Christano mengatakan : “Pelayanan gereja dapat disimpulkan sebagai pelayanan pastoral dalam arti yang seluas-luasnya. (Charles …

Pemeliharaan Tuhan

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat. Syukur kepada Tuhan, kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memasuki dan menikmati hari terakhir di bulan Juli 2020. Hanya karena anugerah Tuhan semata, perjalanan hidup yang  penuh warna  di sepanjang bulan Juli 2020 telah mampu kita lewati dan esok kita akan memasuki hari baru di bulan Agustus 2020.  Penyertaan Tuhan di hari-hari lalu kiranya semakin meneguhkan iman kita bahwa janji firman-Nya adalah ya dan amin,  “… Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b).  Tuhan tidak hanya menyertai kita, tapi Ia juga memelihara hidup kita, karena Dia adalah Jehovah Jireh yaitu Tuhan yang menyediakan kebutuhan kita dan memelihara kehidupan kita seutuhnya;  tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani tetapi juga kebutuhan jasmani, karena Dia tahu bahwa kita memerlukan keduanya.  Hanya kita harus ingat firman-Nya yang berkata,  “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”  (Matius 6:33).  Ketika Elia berada di sungai Kerit dalam masa kekeringan dan kelaparan, dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan memelihara hidup nabi-Nya itu.  “Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.”  (1 Raja-Raja 17:6).  Coba kita simak Matius 6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”  Ayat tersebut merupakan bagian dari Doa Bapa Kami. Sesungguhnya Tuhan Yesus hendak mengajarkan supaya kita tidak khawatir akan kebutuhan kita hari ini, apalagi mencemaskan apa yang akan kita butuhkan pada hari esok.  “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”  (Matius 6:34).  Ingatlah selalu kisah perjalanan hidup bangsa Israel ketika berada di padang gurun, bukankah mereka dipelihara Tuhan setiap hari dengan manna, roti dari surga yang disediakan bagi umat-Nya. Oleh karena itu  “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  (Filipi 4:6).  Tuhan adalah sumber berkat, sumber segala-galanya bagi kita, maka dari itu marilah kita bergantung penuh kepada Tuhan hari demi hari.  Yakinlah, jika Tuhan sudah membuka pintu berkat bagi kita tak seorang pun dapat menutupnya. Ingatlah! “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

Terang Itu Bercahaya

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menjalani dan menikmati hidup yang Tuhan karuniakan kepada kita sampai hari ini. Tuhan memanggil kita untuk menjadi garam dan TERANG dunia. Saya sangat terkesan dengan sambutan dan kesaksian bapak Christopher Christanday (ayah alm.Giona dan Joel) dalam kebaktian  Pemberangkatan Jenazah pada Rabu pagi 29 Juli 2020 di Tiong Hwa Ie Wan. Dia membaca dari Yohanes 1:1-5. Dia sangat menekankan agar kita sebagai orang percaya dapat bercahaya di dunia yang gelap. Tuhan berbicara kepadanya tentang cahaya dan bercahaya. Sesungguhnya sebagai orang percaya di dalam diri kita ada terang ilahi yang harus terpancar.  Tugas kita bercahaya di tengah dunia yang diliputi kegelapan.  Itulah panggilan hidup kita!  “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”  (Yohanes 1:5). Nah, sekarang coba bayangkan bila dunia ini gelap gulita, tanpa secercah cahaya sedikit pun.  Pasti tidak akan ada kehidupan karena manusia tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak ada makhluk yang dapat hidup.  Karena itu berfirmanlah Tuhan,  “Jadilah terang. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam.”  (Kejadian 1:3-5a).  Tuhan pun melengkapi dengan benda-benda langit:  matahari, bulan dan bintang.  Dengan adanya terang, makhluk hidup dapat bertumbuh dan ada kehidupan, manusia pun dapat melakukan aktivitasnya.  Sungguh, semua orang membutuhkan terang atau cahaya.  Memang, kita memiliki mata yang berfungsi untuk melihat, tetapi apabila tidak ada terang atau cahaya, mata kita pun tidak dapat berfungsi untuk melihat. Saat ini dunia masih diliputi oleh kegelapan rohani karena dunia telah dipenuhi oleh segala macam kejahatan dan dosa.  Akibatnya banyak orang mata rohaninya menjadi buta sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran.  Kegelapan inilah yang menuntun manusia kepada kematian kekal.  Itulah sebabnya dunia sangat membutuhkan terang sejati.  Adapun terang sejati itu adalah Tuhan Yesus kristus:  “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”(Yohanes 8:12).  Dua ribu tahun silam Yesus menyinari dunia ini dengan terang-Nya yang ajaib.  Segenap waktu, tenaga dan hidupnya Dia curahkan untuk melayani jiwa-jiwa dengan penuh kasih:  mengajar, menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati.  Bukan hanya itu, Ia pun rela menyerahkan nyawa-Nya, mati di atas kayu salib untuk menebus dosa segenap umat manusia. Kini Tuhan Yesus menyerahkan tongkat estafet itu kepada kita, anak-anak-Nya, untuk melanjutkan tugas-Nya menyinari dunia ini dengan terang surgawi.  Tuhan Yesus bersabda,  “Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:14, 16). Ingatlah! Tuhan Yesus adalah Terang Sejati bagi dunia! Saat ini Dia menyerahkan tugas-Nya sebagai TERANG kepada anak-anak-Nya, kepada kita semua. Kita diminta menjadi terang untuk bangsa-bangsa,  “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,”  (Yesaya 42:6). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)