NYANYIAN PUJIAN MARIA

Saudaraku, tidak dapat dipungkiri, manusia cenderung akan bersukacita ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan secara daging. Siapa yang tidak senang ketika kita memiliki keluarga yang harmonis, pekerjaan yang bagus, pelayanan yang menjadi berkat? Saya yakin semua orang pasti akan mensyukuri ketika hal-hal itu terjadi di dalam hidupnya. Tetapi pertanyaannya, bagaimana jika hal yang kita dapatkan justru sebaliknya? Akankah kita tetap dapat bersukacita? Lukas 1:46-56 berisi tentang nyanyian pujian dari seorang perempuan yang bernama Maria. Dia diceritakan sebagai seorang perempuan yang belum bersuami tetapi hamil. Hal ini bukan perkara yang mudah diterima oleh Maria maupun masyarakat sekitar (sekali pun dalam sudut pandang Allah, Maria sedang mengandung Sang Juruselamat). Karena bagaimanapun, hamil di luar nikah adalah suatu kekejian dan aib bagi seorang perempuan.  Tidak mudah untuk menjadi Maria pada saat itu, seandainya kita yang diperhadapkan pada hal itu, akankan kita dapat  tetap bersukacita atau justru hal ini dianggap sebagai musibah? Di kisah lain, diceritakan bahwa sanak saudaranya yang bernama Elisabet juga mengandung. Kisah Maria dan Elisabeth sangat berbanding terbalik. Wajar jika Elisabeth bersukacita karena kehamilannya, karena bertahun-tahun Elisabeth menantikan seorang anak tetapi Tuhan tidak kunjung memberi. Di usianya yang semakin senja, justru Tuhan memberikan mukjizat bagi Elisabeth  untuk memiliki keturunan. Tetapi bagaimana dengan Maria? Tidak ada hujan maupun angin, dikabarkan hamil sebelum menikah? Dari kisah Maria, Kita dapat melihat contoh nyata seseorang yang sangat mengasihi Tuhan. Bukan hanya dalam keadaan tertentu Maria memuji Tuhan, tetapi Maria mau memuji Tuhan di dalam semua keadaan yang terjadi dalam hidupnya, karena : “Maria menyadari, kasih dan penyertaan Tuhan juga tidak hanya hadir di masa atau musim tertentu saja (kasih dan penyertaan Tuhan selalu ada di segala musim hidupnya). Saudaraku, pujian dalam Lukas 1:46-56 ini lahir “bukan pada saat Maria mendapatkan sesuatu yang menyenangkan secara daging.” Atau pujian ini lahir “ditengah-tengah pergumulan Maria.” Bukan tentang itu semua, pujian ini lahir sebagai wujud cinta kasih Maria atas kasih dan penyertaan Tuhan di segala musim kehidupannya. Refleksi : Bagaimana dengan hidup kita? Akankah kita dapat bersukacita dan memuji Tuhan hanya dalam keadaan tertentu? Atau justru sebaliknya? Sekalipun hari-hari ini kita mungkin sedang diperhadapkan pada pergumulan atau tantangan kehidupan, tetapi kita tetap dapat bersukacita dan memuji Tuhan. Orang dunia hanya dapat bersukacita ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan secara daging, Bagi orang percaya hanya satu alasan kita dapat bersukacita, yaitu KARENA TUHAN (sekalipun selama hidup tidak banyak hal yang kita dapatkan). Pesan: Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

BETTER THAN CHATTING

Saudaraku, tidak seperti sesuatu yang kita lakukan sehari-hari, seperti makan, berjalan, dan berbicara, ternyata doa sering bukan menjadi kegiatan yang wajar dan natural bagi orang Kristen. Sebaliknya sebagian orang menganggap : “O doa itu gampang, anggap saja seperti bercakap-cakap dengan Tuhan”; “Seperti chatting saja sudah cukup.” Tragedi yang terbesar dalam kehidupan orang Kristen adalah kecenderungan untuk berdoa hanya seperlunya. Doa sedikit saja, seadanya, mungkin dapat disamakan dengan chatting dengan Tuhan: Selamat pagi Tuhan; Terima kasih untuk makanan ini; Terima kasih untuk sehari ini.  Faktanya doa lebih sering menjadi ritual chatting dengan Tuhan yang diwajibkan ada dalam diri seorang Kristen. Berdoa cuma sebentar-sebentar, jangan lama-lama karena berdoa itu berat, membosankan, akhirnya menjadi kegiatan yang mudah terlupakan. Memang sebagian orang melihat doa hanya sebagai alat untuk meminta, atau sebagai pelarian belaka ketika terjepit, dan tidak melihat doa sebagai suatu jalan komunikasi dengan Tuhan dari hati ke hati yang selalu ada. Memanjatkan doa sebenarnya lebih dari sekadar chatting dengan Tuhan. Dalam Lukas 18:2: “ … Ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.” Pengadilan agama yang tertinggi di Israel adalah Sanhedrin Agung, terdiri dari 71 hakim, mereka menganggap diri ahli dalam kitab-kitab nabi PL dan tradisi pengajaran Israel. Tetapi dalam PB, digambarkan perbuatan mereka diwarnai dengan penindasan, korupsi dan bersikap tidak adil. Tidak heran, Dewan Sanhedrin dapat melakukan konspirasi, persekongkolan, bahkan membawa Tuhan Yesus dianiaya dan disalibkan.  Di masing-masing kota di seluruh Israel ada dewan Sanhedrin lokal untuk mengadili kasus-kasus pelanggaran agama berdasarkan aturan dan tradisi yang diterapkan semau mereka. Pemerintahan Romawi yang menjajah bangsa Yahudi juga mengutus hakim-hakim dan pemerintah lokal untuk mengadili perkara kriminal dan menjalankan kemauan kaisar Romawi. Mereka dibayar dengan gaji yang sangat tinggi dari perbendaharaan Bait Allah, meskipun mereka orang non Yahudi dan tidak percaya kepada Allah.  Hakim yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18:1-8 tergolong hakim yang ditunjuk pemerintah Romawi. Hakim ini lalim, artinya kejam, tidak adil, sewenang-wenang, korup, dan suka menindas. Suatu gambaran yang biasa saat itu, hakim yang tidak mau mempedulikan kebutuhan rakyat dan masalah-masalah mereka. Ia menjadi hakim hanya supaya dapat gaji yang tinggi dan mendapat kuasa, dan bukan karena mencintai keadilan. Di posisi lain ada seorang janda, gambaran rakyat yang ditindas, yang mencari haknya di pengadilan. Zaman itu pengadilan hanya dipenuhi oleh laki-laki, tidak ada perempuan yang pergi ke gedung pengadilan dan menghadap hakim, karena biasanya ada seorang laki-laki yang mewakili atas namanya. Perempuan itu janda dan tidak punya keluarga laki-laki maupun tetangga laki-laki yang bersedia mengajukan permohonan kasusnya.  Perempuan itu mewakili golongan masyarakat yang bukan saja miskin dan sangat kekurangan, tetapi juga tidak punya kekuatan, rendah, tidak diketahui siapa keluarganya, tidak dicintai, tidak dipedulikan, dan tidak berpengharapan. Perempuan itu terus memohon, minta keadilan, Lukas 18:3: “Belalah hakku terhadap lawanku.” Dia tidak memiliki apa-apa lagi, karena itu tiap hari ia datang kepada sang hakim, agar hak-haknya dipulihkan. Semula hakim ini merespons dengan dingin. Dengan gampangnya ia akan menolak dan menghapus kasus perempuan itu tanpa pertimbangan apa pun. Buat hakim itu, menolak tidak berakibat apa pun, tetapi bagi perempuan itu akan sangat kehilangan. Ini sampai beberapa waktu lamanya.  Tiba-tiba hakim lalim itu berubah pikiran. Memang ia tidak bertobat dari kejahatannya, tetapi ia sangat terganggu dengan permohonan janda itu yang datang terus menerus. Hakim ini dapat membuat perempuan itu berhenti berbicara, hanya dengan melakukan keadilan, “… supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” (Ayat 5) Apa artinya untuk kita? Yesus mengatakan perumpamaan ini untuk menegaskan, bahwa murid-murid-Nya HARUS SELALU BERDOA DENGAN TIDAK JEMU-JEMU,  tidak hanya sekadar chatting. Yesus menggambarkan, bahwa berdoa dengan tidak jemu-jemu adalah seperti seorang janda yang tidak memiliki apa pun, tidak punya kekuatan, tetapi terus menerus memohon.  Saudaraku, perumpamaan janda yang selalu memohon ini mengajarkan kita untuk berdoa tanpa lelah, memberikan diri sepenuhnya untuk berdoa dengan kuat, terus teguh meskipun keadaan tetap sulit, tidak kehilangan iman dan pengharapan, karena kita percaya Tuhan akan memberikan perubahan, bukan seperti seorang hakim yang kejam dan tidak adil. (Yohana Ang).

Masa Lalu Bukan Penghalang: Menggapai Hidup Baru

Saudaraku, setiap orang memiliki masa lalu, dengan berbagai kenangan dan pengalaman, baik yang indah maupun yang pahit. Namun, ada kalanya seseorang terjebak dalam masa lalu, membiarkannya menjadi alasan atas sikap dan tindakan yang tidak baik di masa kini.  Menyalahkan masa lalu menjadi jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab atas perubahan diri. Pola pikir seperti ini tidak sehat dan dapat menghambat pertumbuhan rohani dan emosional, serta membawa dampak buruk pada komunitas atau lingkungan di sekitarnya. Bayangkan seseorang yang terus-menerus menyalahkan masa lalu. Ia merasa terjebak dan tidak mampu bergerak maju, beranggapan bahwa luka-luka masa lalu, kegagalan, atau kesalahan yang pernah terjadi menjadi alasan sah untuk perilakunya yang sekarang.  Mungkin ia pernah mengalami penolakan yang menyakitkan sehingga kini sulit memercayai orang lain dan membangun hubungan yang sehat. Alih-alih mencari penyembuhan, ia bersembunyi di balik alasan bahwa masa lalu terlalu menyakitkan untuk diatasi. Namun, menyalahkan masa lalu bukanlah solusi. Pola pikir ini hanya memperpanjang penderitaan dan menghalangi kita dari menjalani hidup yang penuh dan bermakna. Ini adalah sikap yang berakar pada ketidakmauan untuk mengakui dan menghadapi masalah, serta ketakutan akan perubahan dan pertumbuhan.  Terus-menerus menyalahkan masa lalu menciptakan pola pikir yang tidak sehat. Ini menciptakan lingkaran setan di mana seseorang merasa tidak berdaya untuk berubah, terus-menerus mengulangi alasan yang sama untuk tidak bergerak maju. Pola pikir ini tidak hanya merusak hubungan dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Ketika kita terus melihat diri kita sebagai korban masa lalu, kita gagal melihat potensi kita untuk menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Dampaknya pada komunitas atau lingkungan pun tidak bisa diabaikan. Seseorang yang terus-menerus menyalahkan masa lalu dapat menyebarkan energi negatif di sekitarnya. Sikap pesimis dan keluhan yang terus-menerus dapat merusak semangat kolektif dan mengurangi produktivitas serta keharmonisan dalam komunitas. Orang-orang di sekitarnya mungkin merasa lelah, frustrasi, dan bahkan terpengaruh secara negatif oleh sikap tersebut. Ini bisa menciptakan atmosfer yang penuh ketegangan dan menghambat pertumbuhan bersama. Sebagai orang yang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam kebaruan yang diberikan oleh Kristus. Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menulis, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus, kita tidak lagi didefinisikan oleh masa lalu kita. Yang lama telah berlalu, dan kita telah diberi hidup baru yang penuh harapan dan kemungkinan. Pernytaan Rasul Paulus tersebut mengajarkan kita bahwa transformasi sejati hanya dapat terjadi melalui hubungan kita dengan Kristus. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita menjadi ciptaan baru. Masa lalu kita, dengan segala dosa dan kesalahannya, dihapuskan dan digantikan dengan identitas baru di dalam Kristus.  Untuk menjalani hidup baru ini, kita harus mengakui bahwa masa lalu tidak lagi mendefinisikan kita adalah langkah pertama menuju kebebasan. Kita harus melepaskan diri dari penyesalan, rasa bersalah, dan luka-luka masa lalu dengan percaya bahwa Kristus telah menebus semuanya di atas kayu salib. Roma 12:2 mengingatkan kita untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi untuk diperbarui dalam pikiran kita. Pembaruan ini terjadi ketika kita mengisi pikiran dan hati kita dengan Firman Tuhan, membiarkan Roh Kudus bekerja di dalam kita untuk mengubah cara kita berpikir dan merasakan.  Saudaraku, mengampuni adalah kunci untuk pembebasan sejati. Matius 6:14-15 mengingatkan kita akan pentingnya mengampuni, sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita. Mengampuni diri sendiri dan orang lain membantu kita melepaskan beban masa lalu dan melangkah maju dengan hati yang ringan. Dalam menghadapi orang-orang yang terus-menerus menyalahkan masa lalu, sikap kita juga harus didasarkan pada kasih dan kebenaran. Memaklumi dan mentoleransi tanpa batas bukanlah solusi yang tepat. Kita perlu mengasihi mereka dengan tulus, tetapi juga membantu mereka melihat kebenaran.  Ini berarti kita harus berani mengajak mereka untuk melihat bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang bagi hidup mereka sekarang. Orang-orang ini memerlukan bimbingan untuk mengakui kesalahan, mencari penyembuhan, dan memperbarui diri di dalam Kristus. Masa lalu bukanlah penghalang jika kita memilih untuk hidup dalam kebaruan yang diberikan oleh Kristus. Dengan mengakui dan meninggalkan masa lalu, memperbarui pikiran dan hati, mengandalkan kasih karunia Tuhan, dan mengampuni, kita dapat menggapai hidup baru yang penuh dengan harapan dan potensi.  Saudaraku, ingatlah selalu bahwa di dalam Kristus, KITA ADALAH CIPTAAN BARU: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Mari kita berjalan dalam kebaruan ini, meninggalkan masa lalu di belakang, dan HIDUP dalam KASIH  dan PENGAMPUNAN  Tuhan. (EBWR).

God is Real and Exist

KITAB MAZMUR. Sahabat sesungguhnya kitab Mazmur merupakan satu kitab pergumulan naik-turunnya emosi dan jiwa manusia; tidak ada yang tersembunyi di situ, kita bisa membaca di dalamnya kehidupan orang-orang saleh yang semuanya terbuka bagi kita. Selain itu  kita juga bisa mendapati diri kita dalam pergumulan tersebut,  kalau memang kita merupakan orang-orang yang bergumul.  Tapi yang penting di sini bukan pergumulan itu sendiri, lalu dengan bergumul, kita seakan-akan jadi lebih hebat daripada orang lain karena banyak pergumulan. Kita tidak mempermuliakan pergumulan itu sendiri. Hal yang penting kita pelajari di sini adalah bagaimana seseorang berespons di hadapan Allah, bahwa di dalam segala keadaan relasinya dengan Allah makin dekat dan semakin dekat, dia mengenal Allah dengan lebih baik, dia mengenal dirinya dengan lebih baik, dan dia juga mengenal dunia sekelilingnya dengan lebih baik. Sahabat, Mazmur 14 sangat mirip dengan Mazmur 12, sebuah mazmur yang menguatkan orang-orang benar yang minoritas, yang keadaannya di bawah, tidak punya kekuatan. Di sini juga ada semacam kontras antara kebebalan dan bijaksana; dalam pengertian paradoksal, apa yang dilihat Tuhan dengan yang dilihat dunia itu berbeda, yang biasanya dianggap hebat ternyata di hadapan Tuhan sebetulnya bodoh/bebal.  Sebaliknya, orang yang hidup bergantung kepada Tuhan, dari mata dunia kelihatan seperti orang-orang bodoh, yang tidak berjuang, yang tidak punya kemampuan, tapi itulah orang-orang yang bijaksana menurut Tuhan. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God is Real and Exist” (Tuhan itu Nyta dan Ada). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 14:1-7. Sahabat, mengapa kejahatan terus merajalela? Jawabannya karena manusia tidak lagi takut akan Allah, bahkan tidak percaya akan keberadaan Allah. Mungkin mereka tidak lagi percaya kalau Allah itu ada dan nyata.Pemazmur mengungkapkan bahwa orang bebal tidak mengakui keberadaan Allah di dalam hatinya (Ayat 1). Tidak ada kebaikan di dalam perbuatan mereka (Ayat 2). Tidak ada satu pun yang mencari Allah dan tidak ada yang berbuat baik (Ayat 3). Mereka tidak menyadari keberadaan Allah dan menikmati setiap perbuatan jahat mereka (Ayat 4), dan mereka tidak menyadari penyertaan dan perlindungan Allah atas umat-Nya (Ayat 5-6).Menyangkali keberadaan Allah membuat manusia hidup di luar kebenaran. Manusia makin percaya diri untuk melakukan apa yang menjadi kehendak pribadinya. Mereka berpikir bahwa perbuatan mereka benar dan baik, tetapi tidak ada hal baik yang berasal dari hati yang penuh dengan dosa. Hati yang dipenuhi dosa, akan tampak dari perbuatan. Semua yang bersumber dari dosa pasti menghasilkan perbuatan dosa. Inilah yang membuat kejahatan terus ada. Mereka menyangka Allah tidak ada sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati mereka.Sahabat, ketidakpercayaan mereka terhadap keberadaan Allah juga membuat mereka tidak takut pada hukuman Allah. Mereka melakukan berbagai kejahatan tanpa rasa takut dan gentar sedikit pun. Padahal, pada kenyataannya Allah itu ada. Keselamatan-Nya bagi orang percaya dan keadilan-Nya atas dosa adalah kebenaran yang pasti akan terlaksana. Pada waktu-Nya nanti, keselamatan kekal akan dinyatakan bagi orang percaya dan hukuman kekal bagi mereka yang hidup menyangkal Allah.Kita patut bersyukur karena kita adalah orang-orang yang hidup dalam anugerah Allah. Kita diizinkan untuk mengenal Allah dan hidup di dalam keselamatan-Nya. Inilah alasan mengapa kita harus hidup sebagai orang benar dan bukan seperti orang bebal.Sahabat, mari kita hidupi sikap takut akan Allah dengan mengerjakan keselamatan yang sudah dianugerahkan Allah bagi kita, hingga semua orang menyaksikan dan mengakui karya Allah yang nyata dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apakah Sahabat yakin Allah itu ada dan terus berkarya hingga saat ini? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayalah bahwa Allah itu sungguh ada dan Dialah satu-satunya sumber keselamatan kita. (pg).

GEREJA MULA-MULA

Saudaraku, zaman Tuhan Yesus mengajar di dunia, tidak ada gereja, tapi hanya ada Bait Suci, yang di Alkitab disebut Bait Allah. Ada dua Bait Suci di Yerusalem: Pertama, Bait Salomo atau Bait Suci Pertama dibangun sekitar abad ke-10 SM untuk menggantikan Kemah Suci. Bangunan ini dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar  pada tahun 586 SM. Kedua, Bait Suci Kedua dibangun setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM, selesai pada 12 Maret tahun 515 SM. Kemudian Raja Herodes Agung melakukan perluasan bangunan sekitar tahun 19 SM. Sedangkan Yesus Kristus disalib antara tahun 30-33 M (beda penghitungan kalender). Menurut penanggalan Yahudi, disalib tanggal 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi dirayakan, 15 Nisan yang dimulai pada jam 18:00. Paskah Yahudi pada hari Sabat atau Sabtu. Yohanes  20:1 mencatat:  “Pada hari pertama minggu itu (berarti hari Minggu), pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, …”  Tuhan Yesus bangkit. Kisah Para Rasul 1:3  mencatat:  “ … selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri …” Kisah Para Rasul  2:1-3 mencatat: “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat … lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” Kisah Para Rasul 2:14 mencatatat:  Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, …” Jadi data tentang gereja mula-mula dapat diketahui: Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, atau hari ke-50 setelah Tuhan Yesus bangkit. Hari ke-50 adalah hari Minggu tahun 33 Masehi, bukan hari Sabat atau Sabtu.  Tempat dicurahkannya Roh Kudus bukan di Bait Allah, tapi di satu tempat di Yerusalem.  SedangkanPetrus berkhotbah, ada kira-kira 3.000 orang bertobat dan dibaptis. Siapa anggota pertamanya? Sesuai Kisah Para Rasul 2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Cerita selanjutnya: Kisah Para Rasul 2:42-43 mencatat:  “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul … selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa … sedang rasul-rasul mengadakan banyak mujizat dan tanda.” Kisah Para Rasul 3:1 mencatat:  “Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.” Mereka pergi ke Bait Suci Yerusalem. Kisah Para Rasul  4 mencatat:  Petrus dan Yohanes berkhotbah di Bait Allah, akhirnya ditahan oleh imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Mulailah terjadi penekanan terhadap gereja mula-mula. Kisah Para Rasul  6 mencatat:  Para rasul mengangkat 7 orang untuk melakukan pelayanan kepada jemaat, sedangkan rasul-rasul memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Inilah 7 orang anggota majelis gereja yang pertama, bukan dari kalangan orang Lewi. Kisah Para Rasul 7 mencatat:  Stefanus, salah seorang majelis pertama, berkhotbah dan mendapatkan perlawanan dari Mahkamah Agama. Akhirnya Stefanus ditangkap, dihukum mati dirajam batu.  Tahunnya dicatat di Wikipedia: tahun 34 Masehi. Selanjutnya  Kisah Para Rasul 8:1 mencatat:  Mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Dengan kata lain gereja mula-mula mulai menyusut jemaatnya, hanya rasul-rasul yang tertinggal.  Informasi dari Wikipedia selanjutnya,  Pada tahun 48 M ada sidang di Yerusalem – sesuai Kisah Pata Rasul 15. Antara tahun 64-67 M Petrus dan Paulus ditangkap di kota Roma dan dihukum mati. Akhirnya pada tanggal 4 Agustus 70 Masehi Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh tentara Romawi di bawah Jenderal Titus. Tentu saja gereja mula-mula juga ikut bubar dan jemaatnya melarikan diri ke tempat-tempat lain. Saudaraku, coba perhatikan:  Umur gereja mula-mula, berdiri tahun 33 M, masa jaya, hingga mulai ada penganiayaan pada 34 M, masih bertahan hingga 48 M, akhirnya bubar pada tahun 70 M. Umur totalnya hanya sekitar 37 tahun. Jika gereja mula-mula tetap bertahan di Yerusalem, tidak ada aniaya yang hebat, maka tidak ada jemaatnya yang melarikan diri ke tempat-tempat lain, ke seluruh dunia, namun tetap sambil memberitakan Firman Tuhan.  Hal tersebut sesuai sabda Tuhan Yesus Kristus: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19) Saudaraku, memang, pemberitaan Firman Tuhan ke segala bangsa memerlukan upaya dan pengorbanan yang besar dan sungguh-sungguh, seperti yang dilakukan oleh jemaat gereja mula-mula. (Surhert).