SOLA SCRIPTURA

Saudaraku, 31 Oktober 1517, Martin Luther menulis 95 tesis tentang ketidakbenaran ajaran Gereja (saat itu) dan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg, ternyata kemudian menggerakan banyak Reformator di negara-negara lain untuk meluruskan ajaran dan tradisi Gereja. Martin Luther (Jerman): Pelopor Reformasi, mempercepat gerakan Reformasi dengan mengkritik teologi dan praktik Gereja Katolik Roma. John Calvin (Perancis, pindah ke Swiss): Mengajarkan ajaran teologi Kristen yang dikenal sebagai Calvinisme, yang kemudian disebut sebagai Protestan. Huldrych Zwingli: Pastor asal Swiss mengadakan Reformasi Gereja Swiss pada 1523, antara lain tidak setuju dengan tradisi-tradisi yang ditetapkan Gereja dalam menyambut perayaan gerejani. Penerjemahan Alkitab ke bahasa Swiss menimbulkan Gerakan Anabaptis yang menganjurkan baptisan orang dewasa dan menolak baptisan anak, dan yang sudah terlanjur dibaptis saat anak-anak dianjurkan untuk dibaptis ulang atau ana baptize dalam bahasa Yunani. Para Reformator mendorong penerjemahan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa setempat membuat masyarakat luas bisa membaca langsung Alkitab. Juga saat itu Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak, yang digunakan untuk mencetak buku Alkitab dan juga mencetak naskah-naskah ajaran para Reformator. Reformator lainnya di Ingris yakni William Tyndale (1492-1536), seorang sarjana dan teolog yang dikenal menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris. Hal ini membuat Alkitab dapat dibaca oleh masyarakat luas, yang sebelumnya mengandalkan pendeta untuk menafsirkan Alkitab. Upaya Tyndale dianggap radikal, dan ia menghadapi tekanan dari otoritas Gereja, karena rakyat dapat mengetahui ajaran-ajaran rohaniwan yang tidak sesuai Alkitab. Pada bulan Oktober 1528 William Tyndale menuliskan buku: “The Obedience of a Christian Man”, isinya antara lain mendukung gagasan bahwa kedudukan Raja Inggris harus menjadi kepala gereja di Inggris, karena otoritas gereja diatur oleh Kepausan Roma, juga Tyndale mengkritik kondisi gereja sebagai berikut: “Betapa hebatnya pekerjaan para pendeta. Mereka menginginkan uang untuk segala hal: Uang untuk pembaptisan, uang untuk kebaktian gereja, untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk patung, persaudaraan, penebusan dosa, misa untuk jiwa, lonceng, (alat musik) organ, piala, jubah, jubah tambahan, kendi, dan segala macam ornamen. Domba yang malang! Pendeta menggunting, pendeta mencukur, pendeta paroki mencukur, biarawan menggaruk, penjual surat pengampunan dosa… yang Anda inginkan hanyalah seorang tukang daging menguliti Anda dan mengambil kulit Anda.” Karena tulisan tersebut akhirnya Tyndale dituduh mengajarkan ajaran sesat, dia pada tahun 1535 melarikan diri ke Belgia, tempat  ia ditangkap dan dipenjara selama lebih dari setahun, dihukum karena ajaran sesat, dieksekusi dengan cara dicekik, setelah itu tubuhnya dibakar di tiang pancang. Doa terakhirnya adalah agar mata Raja Inggris dibukakan. Ironisnya, doa Tyndale terpenuhi ketika satu tahun setelah kematiannya, Raja Henry VIII mengesahkan penerbitan Alkitab Matius dalam bahasa Inggris, yang sebagian besar merupakan terjemahan Tyndale. Pada tahun 1611, Raja James I dari Inggris mengesahkan apa yang kemudian dikenal sebagai Alkitab King James Version (KJV). Sebanyak 47 sarjana yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, mengambil banyak hal dari karya asli Tyndale. Para sarjana Alkitab memperkirakan bahwa Perjanjian Baru King James Version mengandung 83 persen terjemahan Tyndale dan Perjanjian Lama mengandung 76 persen. Saudaraku, ajaran Reformasi Sola Scriptura adalah ajaran yang menyatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran dan otoritas tertinggi dalam kehidupan dan pengajaran manusia. Penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa-bahasa lokal setempat membuat masyarakat mengetahui apa yang ditulis dalam Alkitab, dan bisa mengetahui ajaran-ajaran rohaniwan yang merupakan tafsiran sendiri atau yang menyimpang. Hari ini buku Alkitab sudah banyak dipindahkan ke dalam bentuk digital, hampir selalu ada di dalam handphone Saudara semua. Namun Alkitab apps ini bersanding bersama puluhan apps seperti Whatsapp, TikTok, YouTube, X/Twitter, Shopee, Tokopedia, Gojek, OVO, termasuk bermacam game seperti Mobile Legend. Ironisnya, sementara Hamba Tuhan menyampaikan Firman Tuhan dari mimbar, banyak jemaatnya yang menunduk dan membuka berbagai apps, bahkan ada yang membeli baju, sandal, dll saat itu menggunakan apps. ALKITAB SUDAH MEMILIKI SAINGIN SENDIRI DI ZAMAN INI. yakni puluhan apps di handphone, yang siap-siap membawa Saudara ke dunia sekuler atau bahkan ke dunia sesat. Waspadalah dan Berjaga-jagalah. Waspadalah! Waspadalah! (Surhert).

Tune Up Kesehatan Emosional Keluarga:Menciptakan Atmosfer Damai di Rumah

Saudaraku, keluarga di masa kini menghadapi berbagai tantangan yang dapat menggerogoti kesehatan emosional. Kegelisahan akibat kesibukan yang tiada henti, masalah finansial, dan komunikasi yang kurang baik sering kali membuat rumah terasa tidak aman. Sayangnya, tidak sedikit yang akhirnya menyerah, beberapa memilih berpisah, sementara yang lain menghadapi tragedi bunuh diri.  Ketika kita membaca berita tentang seorang remaja yang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak didengarkan, atau seorang ayah yang pergi karena merasa gagal memenuhi harapan, kita diingatkan akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan emosional di dalam keluarga. Di balik DINDING RUMAH  yang tampak TENANG, sering kali tersembunyi BADAI yang dapat menghancurkan ikatan keluarga. Dalam banyak kasus, kurangnya komunikasi menjadi salah satu akar masalah.  Banyak keluarga tidak menyadari bahwa kata-kata yang tidak hati-hati dapat menciptakan jarak yang sulit untuk dijembatani. Dalam konteks ini, Yakobus 1:19-20 menjadi pengingat penting bagi kita: “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”  Ayat tersebut menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam komunikasi. Jika kita cepat marah dan lambat mendengarkan, kita berisiko merusak hubungan yang seharusnya penuh kasih. Kesehatan emosional dalam keluarga tidak hanya tentang bagaimana kita berinteraksi saat segalanya berjalan baik, tetapi juga bagaimana kita berhadapan dengan KONFLIK. Seringkali, saat EMOSI MELUAP, kata-kata yang keluar adalah SENJATA  yang MELUKAI bukan JEMBATAN  yang MENYATAKUKAN.  Di sinilah pentingnya MENDENGARKAN, bukan hanya dengan TELINGA, tetapi juga dengan HATI. Ketika kita berusaha memahami emosi dan kebutuhan di balik kata-kata, kita dapat menciptakan ruang di mana setiap anggota keluarga MERASA DIHARGAI.  Namun, mendengarkan saja tidak cukup. Ketika terjadi konflik, kita juga perlu melatih diri untuk LAMBAT  dalam BERBICARA. Mengambil waktu sejenak untuk TENANG  dan BERPIKIR,  sebelum merespons adalah langkah penting dalam menjaga KESEHATAN EMOSIONAL.  Ada KEKUATAN  dalam KEHENINGAN; kadang-kadang, menunggu untuk berbicara adalah bentuk KASIH yang TERBESAR.  Ini adalah saat kita dapat merenungkan kata-kata yang akan diucapkan, memastikan bahwa mereka MEMBANGUN, bukan MERUSAK.  Kesehatan emosional juga berkaitan erat dengan kasih. Kasih yang tulus menciptakan suasana di mana setiap anggota keluarga merasa aman dan diterima. Kolose 3:12-14 mengingatkan kita untuk mengenakan: “… belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran, … Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”  KASIH bukan hanya tentang perasaan; itu tentang TINDAKAN NYATA, Kasih itu terlihat dalam sikap SALING MENGAMPUNI, kesediaan untuk MENDENGARKAN, dan kemampuan untuk MEMBERI DUKUNGAN  di saat-saat sulit. Apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan atmosfer damai di rumah? Mulailah dengan doa bersama, mengundang Tuhan untuk hadir dalam setiap interaksi. Sediakan waktu khusus untuk berkumpul, tanpa gangguan dari gadget, sehingga semua orang dapat saling berbagi.  Saat konflik muncul, cobalah untuk tenang sejenak sebelum merespons, dan fokuslah pada SOLUSI, bukan pada MASALAH. Dengan mengenakan kasih dan berkomitmen untuk mendengarkan, kita dapat menciptakan rumah yang penuh damai. Ketika kita menyelaraskan hati dengan ajaran Kristus, damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memerintah di dalam keluarga kita.  Saudaraku, mari kita bersama-sama berusaha untuk menciptakan RUANG   di mana setiap anggota keluarga dapat pulang dengan hati yang penuh damai, di mana kasih menjadi pengikat utama dan KESEHATAN  EMOSIONAL  menjadi FONDASI  yang KUAT  bagi IKATAN KELUARGA  kita. (EBWR).

God Has Healed Me

MAZMUR 41. Sahabat, memamg penderitaan karena sakit penyakit dan pengkhianatan orang  terdekat merupakan dua penderitaan yang tidak mudah kita terima dan jalani. Dalam Mazmur 41 Daud mengalami keduanya secara bersamaan. Mazmur 41 merupakan penutup dari buku I (pasal 1-41) kitab Mazmur. Mazmur 1 membuka dan Mazmur 41 menutup dengan frasa “Berbahagialah orang yang …” (1:1; 41:2). Mazmur 41 menyimpulkan buku yang berisikan aneka ragam doa dengan pelajaran hikmat. Sahabat, Daud mulai mengajar dengan pernyataan, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah” (Ayat 2-a). Orang seperti itu akan mengalami dipedulikan Tuhan saat ia sendiri lemah (Ayat 1b-3). Daud memakai contoh dirinya (Ayat 5-10). Ia pernah sakit karena berdosa kepada Tuhan. Sakitnya sangat parah sehingga banyak orang percaya ia tidak akan sembuh.  Orang-orang yang membenci dia akan memanfaatkan situasi sakitnya untuk menekan dia. Mereka menggosipkan dirinya bahwa Tuhan telah meninggalkannya, maka ia pasti akan mati. Teman dekatnya ikut-ikutan menghujat. Tak ada yang percaya dia akan sembuh dari sakitnya. Daud mengalami hal itu saat orang datang menjenguknya, tetapi hati mereka penuh dusta dan kejahatan (Ayat 7-9). Ia ungkapkan perasaan itu lewat kalimat, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Ayat 10). Mereka mengira Daud tidak akan selamat dari sakit jasmaninya (Ayat 9) dan tidak akan bangkit lagi, karena kejahatan dan pengkhianatan yang dialaminya (Ayat 6). Tidak demikian yang terjadi, meski situasi hidupnya belum berubah.Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: God Has Healed Me (Tuhan Telah Menyembuhkan Aku)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 41:1-14. Sahabat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap penyakit. Kita semua pernah mengalaminya. Sejak bayi hingga menjadi tua, tidak terhitung banyaknya penyakit yang pernah kita alami, dari penyakit ringan, seperti flu sampai penyakit berat dan kronis, seperti kanker.  Cara dan sikap orang-orang pun berbeda dalam menghadapi penyakit. Ada yang menganggapnya biasa; ada yang berjuang untuk sembuh; tetapi ada juga yang pasrah.Dalam bacaan kita pada hari ini, Pemazmur juga sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, orang-orang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (Ayat 6).  Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (Ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (Ayat 10). Pemazmur merasakan dan mengakui bahwa penyakitnya begitu berat (Ayat 9).Bagaimana sikap Pemazmur dan caranya menghadapi penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (Ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (Ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (Ayat 4).  Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (Ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (Ayat 14) seolah-olah ALLAH TELAH MENYEMBUHKANNYA. Sahabat, adakah hari ini diantara kita yang sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh.  Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Yang paling penting kita percaya: Tuhan telah menyembuhkan aku. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jalanilah hidup dalam ketulusan dan kepercayaan kepada Tuhan, maka Ia akan menegakkan langkah kaki kita. (pg).

Apakah Anda Orang Sukses?

ORANG SUKSES. Sahabat, Maya Angelou, seorang penulis,  mengatakan bahwa definisi sukses adalah ketika seseorang menyukai dirinya, menyukai apa yang dia lakukan, dan menyukai pekerjaannya. Kata sukses pasti terdengar menyenangkan bagi sebagian besar orang karena itu merupakan tujuan hidup mereka. Makna sukses tidak hanya berarti orang dengan banyak uang, pekerjaan mumpuni, dan strata sosial yang tinggi. Secara harfiah, kata sukses memiliki arti berhasil dalam berbagai aspek. Bisa dibilang, sukses adalah sebuah keberhasilan, terlepas apa pun keberhasilan itu. Lalu bagaimana orang sukses itu? Mungkin mereka adalah seseorang  yang ambisius dan kompeten? Atau mungkin seseorang yang selalu memikirkan bisnis dan apatis? Mungkin sifat-sifat tadi tampak berperan dalam kesuksesan seseorang. Lebih dari itu, ada karakter yang menjadi pertimbangan dan dorongan kuat dibalik kesuksesan seseorang. Lalu bagaimana cara kita mendefinisikan kesuksesan diri kita sendiri? Apakah dengan pendapatan yang besar, tinggal di rumah mewah, atau mengendarai mobil keluaran terbaru?  Konsep kesuksesan setiap orang tentu berbeda-beda. Kesuksesan adalah sesuatu hal yang ingin dicapai oleh seseorang. Bisa jadi sukses adalah hal yang sangat membanggakan sekaligus menggembirakan. Bertumbuh sambil mendengarkan cerita dari orang-orang yang sukses membuat kita bermimpi untuk menjadi seperti mereka suatu hari nanti. Kadang  mimpi itu mulai memudar ketika kita dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras. Sahabat, intinya, tidak ada jalan yang mudah untuk meraih kesuksesan. Kualitas orang-orang yang sukses tampaknya memiliki beberapa ciri khas yang sama, seperti bekerja keras, kompeten, fokus, dan memiliki tekad dan usaha untuk mencapai tujuan yang ditargetkan.  Hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Raja-raja 21:1-26. Sahabat, raja Manasye menggantikan Hizkia, ayahnya, dan berkuasa selama 55 tahun, hampir dua kali lipat masa kekuasaan Hizkia. Dari lamanya berkuasa, tampaknya Manasye jauh lebih berhasil daripada ayahnya yang setia kepada Allah. Apakah kalau begitu raja Manasye tergolong orang sukses?Bacaan kita pada hari ini  menggambarkan Manasye sebagai raja yang jahat yang menyembah Baal dan Asyera (Ayat 3, 7). Pada zaman kuno, penyembahan ilah lain selalu berhubungan dengan politik dan pengaruh kerajaan lain, dalam hal ini Asyur. Justru karena takluk pada Kerajaan Asyur, masa kekuasaan Manasye menjadi yang terpanjang dalam sejarah Yehuda. Manuver raja Manasye tersebut tentu mendukakan hati Tuhan.Maka vonis yang disampaikan nabi sangat jelas. Karena dosa dan kejahatannya, Allah membulatkan hati untuk menghancurkan Yerusalem dan Yehuda (Ayat 10-16). Manasye termasuk sebagai raja yang paling jahat dalam sejarah Yehuda. Bahkan, seluruh kehancuran Yehuda dijelaskan Alkitab sebagai akibat dosa Manasye (2 Raja-raja 24:3). Jadi, kadang apa yang dipandang dunia sebagai kesuksesan, justru dipandang Allah sebagai kejahatan. Sahabat, suara nabi menusuk ke dalam realitas kehidupan. Harta dan kekuasaan, itulah yang dikejar Manasye. Dalam  standar manusia pada umumnya, raja Manasye tampak sebagai orang sukses. Takhta dan kekuasaannya berjaya selama puluhan tahun. Dunia melihat itu sebagai hasil permainan politik yang sangat licin dan hebat, namun, suara nabi mengungkap ujung kematian dan kehancuran untuk raja Manasye dan Yehuda.Apakah Sahabat orang sukses? Ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat bahwa orang percaya itu tandanya adalah menjadi orang sukses. Pola pikir dunia dengan Alkitab soal kesuksesan sangat jauh berbeda.   Sahabat, sebagai murid Yesus, kita difokuskan untuk mengejar sesuatu yang kekal, bukan yang fana. Hidup itu berbicara soal penyerahan hak kepada Tuhan. Mengikut Tuhan memang sulit, upahnya juga kadang tidak terlihat kasatmata. Tapi percayalah, saat kita ikut Tuhan ukuran kesuksesan kita bukanlah materi, tapi kebahagiaan saat kita bisa melakukan kehendak Tuhan. Doa kita bukan semoga kita sukses, tapi SEMOGA KITA BERBUAH. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4 dan 7? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sukses  adalah saat kita melakukan kehendak Tuhan dan hidup dalam panggilan-Nya. (pg).