Orang Pilihan: Penuh Roh Kudus

PENGANTAR. Semua murid Kristus adalah orang-orang pilihan. Dari mereka, para rasul menetapkan ada tujuh orang yang dikhususkan untuk menjadi pemimpin umat karena telah terbukti dan teruji bahwa mereka hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Rupanya para rasul menganggap bahwa tidak semua murid Kristus senantiasa penuh Roh Kudus (Galatia 5:16-25). Ada yang gagal untuk hidup setia dalam Roh, saat itu tidak penuh dengan Roh lagi. Penuh dengan Roh Kudus, mengungkapkan suatu sifat yang berkesinambungan di dalam seseorang murid Kristus yang memungkinkan mereka melayani dengan kuasa Roh Kudus serta bernubuat dengan ilham yang diberikan oleh Roh Kudus. Dipenuhi oleh Roh Kudus memiliki makna, yang pertama, penerimaan baptisan dalam Roh Kudus. Kedua, pemberian kuasa kepada seorang atau beberapa murid Kristus pada saat tertentu untuk berbicara di bawah otoritas Roh Kudus, dan yang ketiga, menunjukkan suatu pelayanan nubuat umum yang diilhami atau diurapi oleh Roh Kudus tanpa menyebutkan masa pelayanan tersebut. APA MAKNA PENUH ROH KUDUS ITU? Setelah menerima baptisan Roh, murid Kristus dengan tekun dan setia hidup dalam Roh Kudus, sambil terus menerus mematikan perbuatan daging (Roma 8:13-14). Itulah perwujudan sebagai “penuh dengan Roh Kudus”, yakni memelihara kepenuhan ROH Kudus yang bertahta di pusat hati nurani mereka. Kepenuhan Roh Kudus meluap dalam pikiran, ucapan dan sikap hidup sesehari sebagai suatu kesanggupan ilahi dalam bimbingan Roh Kudus. Baptisan dalam Roh Kudus saja tidak cukup untuk kepemimpinan rohani (Kristen) yang efektif. Para pemimpin rohani harus selalu bertekun dalam doa dan penyampaian Firman Tuhan. Kata yang tepat adalah “memusatkan pikiran” yang menunjukkan suatu kesetiaan yang terpusat dan tetap stabil memberikan banyak  waktu berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati setiap orang. Para murid Kristus menyadari bahwa doa dan pelayanan Firman merupakan tugas tertinggi. Dalam bab 6 Kisah Para Rasul kita perhatikan bahwa sering doa disebutkan beberapa kali.  KESIMPULAN. Dalam Kisah Para rasul bab 6 ini, disebutkan karunia meletakkan tangan di atas orang percaya. Dalam praktiknya, karunia penumpangan tangan dilakukan berkaitan dengan adanya penyembuhan, memberkati orang lain, baptisan dalam Roh Kudus, mengangkat orang untuk tugas khusus, memberikan karunia-karunia rohani oleh para penatua. Penumpangan tangan menjadi doktrin mendasar pada gereja mula-mula (Ibrani 6:2). Tindakan ini tidak boleh dilepaskan dari doa karena doa menunjukkan bahwa berbagai karunia atau baptisan dalam Roh itu berasal dari Tuhan dan bukan dari mereka yang menumpangkan tangan. Demikianlah dalam hal menahbiskan ketujuh orang yang penuh dengan Roh itu memiliki arti dua hal, yakni pertama, merupakan kesaksian umum dari pihak gereja bahwa ketujuh orang tersebut memiliki sejarah ketekunan dalam kesalehan dan kesetiaan terhadap pimpinan Roh (bdk. 1 Timotius 3:1-10). Kedua, merupakan tindakan untuk mengkhususkan ketujuh orang itu bagi pekerjaan Tuhan dan suatu kesaksian akan kesediaan mereka untuk menerima tanggung jawab atas panggilan-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 6:8,  “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.” Roh Kudus memberikan kuasa kepada Stefanus untuk “mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” sambil memberi hikmat luar biasa untuk memberitakan Injil sedemikian rupa sehingga lawan-lawannya tidak dapat menyangkal argumentasinya. Ini menjadi tantangan gereja masa kini, bagaimana para murid Kristus memiliki keberanian yang tulus dan kudus seperti Stefanus. Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah bab 6, mari kita jawab pertanyaan: Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini? Jelaskan apa makna Penuh Roh Kudus? Apa penerapan dalam keseharian Kisah Para Rasul  6:8, “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.” Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita telah dianggap Penuh Roh. Amin (sp).

Menghadapi Tantangan Gereja Dari Dalam Dan Luar

PENGANTAR. Lukas sebagai penulis Kitab Injil ini, adalah teman seperjalanan Rasul Paulus. Dalam bab 5 ini Lukas mengamati perkembangan gereja mula-mula yang menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun luar. Dari dalam misalnya tentang kesaksian-pelayanan Ananias dan Safira. Sedangkan dari luar yaitu tantangan Mahkamah Agama Yahudi.  Dalam Kisah Para Rasul 5:9 berkata:  “Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.”” Yang dimaksud kamu berdua adalah suami istri bernama Ananias dan Safira yang menjadi anggota gereja mula-mula di Yerusalem. Kisah Ananias dan Safira dimuat di kitab Kisah Para Rasul 5:1-11. Arti Ananias adalah Allah telah memberikan atau Allah Rahmani. Ananias dan Safira telah berkomplot untuk berdusta. Harta hasil penjualan tanahnya tidak diberikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki para rasul, termasuk Petrus. Oleh kuasa Roh Kudus perbuatan mereka diketahui, sehingga mereka dikatakan telah mendustai Roh Kudus. Mereka telah dikuasai iblis. Akibat dusta itu, keduanya mati, yang pertama Ananias dan tiga jam setelah itu Safira karena melakukan dusta yang sama dengan suaminya. Sementara itu, pekerjaan Tuhan dan mukjizat-Nya terus dinyatakan. Oleh kuasa Roh Kudus, para rasul menyembuhkan orang-orang sakit dan dirasuk setan. Tantangan pun juga datang dari luar, para Mahkamah Agama Yahudi melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Kisah Rasul 5:29: “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ” Kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia.” Terhadap tantangan itu, kita teladani prinsip hidup Petrus, yaitu “Apa yang berkenan kepada Tuhan?” dan bukan “Apa yang bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai oleh orang banyak?”  MENGHADAPI TANTANGAN GEREJA DARI DALAM DAN LUAR. Popularitas para orang percaya karena kuasa Roh Kudus membuat mereka diperhatian oleh orang-orang di luar gereja. Mengapa? Yang jelas karena orang-orang luar gereja menolak Injil Yesus Kristus. Namun, para rasul pada waktu itu tidak berkurang semangatnya. Penderitaan karena nama Yesus adalah suatu karunia dan kehormatan. Maju terus tetap semangat mewartakan Injil Yesus Sang Mesias, baik di dalam maupun di luar rumah ibadah. Agar Injil dapat disebar luaskan, para pengikut Kristus terus melanjutkan pengajaran Tuhan Yesus dan memberitakan Injil-Nya baik secara umum di luar gereja melalui kesaksian pribadi hidup berkarakter Kristus dan dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen di rumah-rumah perseorangan. Hidup ini adalah kesempatan dan kesaksian. KESIMPULAN. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (KisahPara Rasul 5:41). Karakter penderitaan Kristus telah terwujud di dalam pelayanan para rasul.  Hal tersebut selayaknya memberikan dorongan dan menantang kita mencari keintiman dengan Tuhan setiap hari, sebab hanya dengan cara itu firman itu telah menjadi daging di dalam hidup dan kehidupan kita sebagai murid Kristus di dunia ini. Gereja harus tetap tekun dan setia berdoa dan hidup dalam persekutuan doa. Kita tidak sendiri dan tidak bisa sendiri. Di negeri yang plural, dimana pengikut Kristus termasuk yang minoritas, kita harus saling menyulut agar kita bisa berperan sebagai terang dunia. Kesaksian sebagai orang yang berpribadi Kristus harus menjadi berkat pikiran, ucapan dan sikapnya bagi lingkungannya. Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita dalam kitab Kisah Para Rasul 5, mari kita jawab pertanyaan berikut: Pesan apa yang kita peroleh dari hasil perenungan kita pada hari ini? Jelaskan prinsip hidup Petrus, “Apa yang berkenan kepada Tuhan?” dan bukan “Apa yang bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai oleh orang banyak?” Jelaskan makna yang terkandung di dalam Kisah 5:41 Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena dianggap layak menderita oleh karena Nama Yesus. Amin (sp).

The LORD is Here

KEHADIRAN TUHAN. Penulis kitab 2 Samuel mencatat bagaimana Daud membawa Tabut Perjanjian dari rumah Obed-Edom menuju ke kota Yerusalem.  Pada waktu itu Daud baru saja dinobatkan jadi raja atas seluruh Israel dan baru saja memindahkan ibu kota ke Yerusalem, dan dia baru saja berhasil mempertahankan Yerusalem dari serangan Filistin.   Lalu Daud berusaha untuk mengembalikan Tabut Perjanjian, yang merupakan lambang KEHADIRAN TUHAN, ke Yerusalem, di mana selama 20 tahun Tabut Perjanjian tidak berada di tempat semestinya karena dirampas oleh bangsa Filistin;  dan meski orang Filistin telah mengembalikannya, tapi tabut itu berada di Kiryat-Yearim yang merupakan pinggiran dari wilayah Israel.  Karena itu Daud ingin mengembalikan tabut ini ke Yerusalem, kota Daud, pusat pemerintahan. Di sepanjang perjalanan Daud mengekspresikan rasa syukurnya, karena ia tahu bahwa Tabut Perjanjian merupakan  lambang kehadiran Tuhan,  “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.”  (2 Samuel 6:14).  Tidak hanya itu, di setiap enam langkah Daud mempersembahkan korban kepada Tuhan, berupa seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.   Sebagaimana ketika Tabut Perjanjian berada di rumah Obed-Edom, ia dan seisi rumahnya diberkati oleh Tuhan, juga saat Tabut Perjanjian berada di kota Daud,  “Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam.”  (2 Samuel 6:18).   Kala Tabut Perjanjian berada di tangan musuh, bangsa Israel selalu mengalami kekalahan demi kekalahan, namun setelah Tabut Perjanjian itu kembali berada di tangan orang Israel, terjadilah suatu pemulihan yang luar biasa. Hari ini kita belajar dari bagian akhir dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The LORD is Here (TUHAN Hadir di Situ)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 48:1-35 dengan penekanan pada ayat 35, yang merupakan penutup dari Yehezkiel 48 dan kesimpulan dari semua kitab Yehezkiel.  Allah menyuruh Yehezkiel untuk membagi-bagi negeri di antara suku-suku Israel menjadi milik pusaka mereka (ayat 29). Di tengah-tengah di antara bangsa Israel terletak tempat kudus Tuhan yang artinya Allah berdiam di tengah-tengah umat-Nya. Kota yang dikhususkan buat Tuhan dikelilingi tembok dengan 12 pintu berdasarkan jumlah suku Israel dan diberi nama sesuai dengan suku-suku Israel. Hal ini menunjukkan setiap mereka memiliki hak yang sama atas kota itu. Sahabat, posisi tempat kudus Tuhan yang berada di tengah bangsa Israel menunjukkan Allah menjadi sentral umat-Nya dan dapat dicapai oleh mereka dari 12 pintu yang ada. Nama kota yang baru tersebut “TUHAN HADIR DI SITU” menunjukkan keberadaan Allah berada di tengah umat-Nya. Keberadaan dan kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya merupakan penggenapan dari kitab Yehezkiel. ALLAH HADIR di setiap hati orang percaya dan Allah menjadi sentral dari kehidupan orang percaya. KEHADIRAN ALLAH dalam hati orang percaya menunjukkan tidak ada pembatas lagi antara Allah dengan orang percaya. Kematian Yesus di kayu salib menghancurkan pembatas tersebut. “TUHAN HADIR DI SITU” artinya “TUHAN HADIR DI HATI ORANG PERCAYA”. Oleh karena itu, maka kita harus menjaga tubuh dan hidup untuk tetap kudus supaya Allah tetap hadir. Tetap kudus artinya hidup dalam kekudusan. Kehadiran Allah yang membawa pemulihan, kelepasan dan janji-janji-Nya digenapi akan dialami oleh kita sebagai orang percaya. Sahabat, kehadiran dan penyertaan Tuhan adalah segala-galanya bagi kita!  Coba renungkan:  Kalau bukan Tuhan yang menyertai, mampukah kita menjalani hidup sampai detik hari ini?  Kalau bukan Tuhan yang menopang, sanggupkah kita bertahan di tengah goncangan, badai dan gelombang permasalahan hidup?  Tanpa kehadiran Tuhan, ibadah dan pelayanan yang kita lakukan takkan berdampak apa-apa;  begitu pula dalam pekerjaan, rumah tangga, bisnis, studi, kita sangat memerlukan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabaat pahami dari 2 Samuel 6:17-18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan, hidup kita takkan berarti apa-apa. (pg).

Lively River Water

BERDAMPAK. Sesungguhnya setiap orang memiliki potensi memengaruhi orang lain di sekitarnya.  Pengaruh tersebut bisa positif maupun negatif.  Orang yang membawa pengaruh positif kita sebut motivator atau inspirator, di mana keberadaannya mampu memotivasi orang lain mengikuti jejaknya atau menjadi inspirasi bagi orang lain.  Sementara orang yang membawa pengaruh negatif atau buruk terhadap orang lain biasanya disebut provokator:  ia memrovokasi orang lain untuk melakukan tindakan yang negatif.Demikian  dalam kehidupan orang percaya.  Tuhan menginginkan setiap orang percaya memiliki kehidupan yang berdampak bagi dunia.  Dampak  yang dimaksudkan adalah positif, bukan negatif.  Dengan kata lain kita harus bisa memengaruhi orang-orang sekitar melalui teladan hidup yang positif dan menjadi berkat bagi mereka.  Supaya kita dapat memberi dampak positif bagi orang-orang di sekitar dan lingkungan, kita harus memiliki karakter yang baik.   Lalu apa itu karakter?  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang.  Karakter menunjukkan siapa diri kita yang sesungguhnya. Apa yang Tuhan katakan tentang kita.   Tentang Daud Tuhan berkata,  “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”  (Kisah Para Rasul  13:22).  Orang Kristen yang berkarakter berarti orang yang tetap menjaga kualitas hidupnya dengan baik sekalipun tidak ada orang yang melihatnya, karena ia tahu Tuhan melihat setiap perbuatannya. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Lively River Water (Air Sungai yang Menghidupkan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 47:1-12. Sahabat, Allah yang Mahakudus bukan saja memulihkan kehidupan religius-sosial umat-Nya, tetapi juga mendatangkan pemulihan bagi Tanah Perjanjian. Pemulihan itu dilambangkan dengan sungai, yang bermata air di Bait Suci dan bermuara di Laut Asin (Laut Mati). Sungai itu, yang keluar sebagai percikan kecil, dalam jarak kurang lebih 2 km (1000 hasta = sekitar 500 meter) telah menjadi sungai besar (Ayat 3-4). Bahwa ini terjadi dalam jarak tersebut, tanpa sungai itu mendapat pasokan air dari anak-anak sungai, adalah suatu keajaiban.Sungai itu mengalir ke Timur, turun ke Araba-Yordan (Ayat 8), yakni daerah di ujung Selatan Lembah Yordan. Di sini terjadi keajaiban berikutnya. Agar air dapat mengalir dari Yerusalem ke Lembah Yordan, air itu harus mengalir turun ke Lembah Kidron, lalu naik ke Bukit Zaitun, kemudian melintasi beberapa lembah dan gunung. Air yang mengalir akan bermuara di Laut Asin dan seketika seluruh air di Laut Asin menjadi tawar (Ayat 8). Peristiwa ini dimungkinkan terjadi karena kemahakuasaan Allah.Sahabat, di samping itu, setiap daerah yang dilewati oleh sungai tersebut menjadi subur dan mendatangkan kehidupan (Ayat 9). Pengulangan ini menyatakan bahwa lawatan Allah bukan hanya memulihkan umat-Nya, tetapi juga tanah yang akan didiami oleh mereka. Pemulihan Allah sifatnya menyeluruh, yakni: Tempat kematian (Laut Mati) berubah menjadi tempat kehidupan yang berkelimpahan (Ayatb10), berbagai macam pohon menghasilkan buah berlimpah, bahkan daunnya pun berguna untuk dijadikan obat-obatan. Kelimpahan itu terjadi karena air yang mengaliri tanah tersebut berasal dari tempat kudus Allah (Ayat 12). Kejadian itu membuktikan bahwa Allah adalah sumber kehidupan (bdk. Yohanes 7:38).Kunci dari semua mukjizat yang terjadi terletak pada kekudusan Allah. Saat Allah hadir di suatu tempat, maka secara otomatis wilayah itu akan bebas dari pelbagai kenajisan. Kehadiran Allah membawa dampak positif bagi sekitarnya. Sahabat, inilah yang sedang Tuhan cari:  Kehadiran orang percaya yang berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Orang percaya yang memiliki karakter baik, yang tampak nyata dalam setiap perkataan dan perbuatan, karena keberadaan orang percaya di tengah dunia ini adalah sebagai surat Kristus yang terbuka, yang dapat dibaca dan dilihat oleh semua orang,  “… kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”  (2 Korintus 3:3). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Yohanes 7:38? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita bawa air kehidupan Allah kepada mereka yang sedang membutuhkan penyembuhan dan pemulihan. (pg).

BIARKAN SAJA

Saudaraku, akhir-akhir ini seringkali kita melihat bagaimana manusia saling menghakimi dengan cara yang demonstratif. Manusia makin keras bersikap dengan sesamanya yang dianggap tidak sesuai dengan apa yang diyakini. Mari renungkan Matius 13: 23-30. Orang yang melakukan tugas yang sama selama bertahun-tahun akan memiliki kepekaan terhadap apa yang dilakukannya.  Demikian juga para perkerja ladang gandum yang tahu benar bahwa ada yang tidak beres di ladang tuannya.  Sabotase.  Bayangkan saja sang tuan sudah susah payah menabur gandum, namun ternyata diantara gandum itu muncul tumbuhan Lalang.   Memang pada zaman Yesus sudah lazim ditemui orang jahat yang hendak menghancurkan pemilik kebun gandum dengan cara menaburkan Lalang di ladang gandumnya saat sang pemilik lengah.  Tentu saja ini sangat merugikan karena panen gandum akan gagal dan penghasilan akan menurun.  Para buruh ladang gandum menyampaikan respons terhadap situasi ini sesuai dengan kapasitasnya.   Sikap mereka adalah berempati dan menawarkan solusi yang cepat untuk mengatasi masalah.   Mereka ingin segera menyelesaikan masalah dengan cara mencabut lalang selagi masih belum terlambat.  Sebagai pekerja yang berpengalaman tentunya mereka tahu betapa repotnya mereka harus memisahkan lalang dan gandum pada saat panen tiba.  Itu adalah pekerjaan yang membosankan.   Namun jawaban si pemilik ladang itu berbeda dengan keinginan para buruh.  Pemilik ladang berkata, ”Biarkan saja.  Nanti akan tiba waktunya untuk menyelesaikan masalah.”  Ini membuat para buruh ladang harus menarik diri dari keinginan menuntaskan masalah dengan cara mereka.  Pemilik ladang jelas tidak mau rugi dengan mencabut lalang karena membuat mereka bisa gagal panen total dan para buruh harus menerima keputusan tersebut. Sebagai bawahan Tuhan Yesus, kita akan bersikap sama seperti para buruh itu yaitu ingin menyelesaikan masalah secepatnya, apalagi bila berkaitan dengan kebenaran Firman Tuhan.  Misalkan ada seseorang yang melakukan penyimpangan dalam iman, rasanya ingin sekali segera menyelesaikan dan membenahi seakan kita adalah Tuhan yang layak menilai seseorang.   Namun hal yang penting dan harus diingat adalah bagaimana sikap Sang Pemilik Ladang.  Saat Ia berkata,”Biarkan saja. Nanti ada waktunya.” maka pekerja harus menahan diri dan terus bekerja dalam kebenaran walau melihat penyimpangan orang lain di tempat yang sama.  Semua hasrat menghakimi harus ditahan.  Pekerja harus fokus sampai pada akhir masa tugasnya hingga masa penuaian tiba. Masihkah kita merasa layak menjadi hakim dan menggantikan peran Tuhan dalam permasalahan yang menyangkut sesama?  Tuhan punya waktu dan cara yang tepat untuk mengurus ladang-Nya dan memberlakukan tuaian-Nya.  Tugas kita sebagai pekerja adalah berfokus pada tugas kita supaya tuaian dapat dituai tepat waktu dengan hasil maksimal.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

EUFORIA MEMBAWA PETAKA

Saudaraku, ada ungkapan yang mengatakan :  “Janji adalah hutang”.  Ungkapan itu memiliki arti bahwa siapapun yang mengucapkan janji, ia akan terikat hingga menggenapi apa yang diucapkan.  Janji memiliki legitimasi yang kuat, tergantung siapa yang mengucapkan.  Makin ia memiliki kekuasaan, janji itu makin memiliki kekuatan yang mengikat.  Mari renungkan Matius 14:1-12. Raja Herodes terjebak dengan janjinya sendiri yang diucapkan saat di puncak kesenangannya melihat tarian anak Herodias, idaman hatinya.  Walau sebenarnya ia sangat sedih karena harus membunuh Yohanes Pembaptis yang membuatnya galau.  Ia membenci Yohanes namun ragu untuk menghilangkan nyawanya.  Namun hari itu gara-gara euphoria melihat pertunjukan tarian, Herodes kehilangan kewaspadaan dan mengucapkan janji yang disesalinya.    Ternyata saat paling rawan dalam kehidupan seseorang bukanlah saat ia sangat bersedih, namun juga saat merasakan kesenangan yang berlebihan. Inilah yang disebut euphoria.  Pengaruh perasaan ini adalah semangat yang berlebihan terhadap suatu peristiwa sehingga membuat lengah orang yang bersangkutan karena kepercayaan diri yang terlalu kuat.  Hal ini mengakibatkan mereka mengambil keputusan yang salah karena menurunnya kewaspadaan akibat kepercayaan diri yang berlebihan.   Mereka tidak memikirkan lagi akibat jangka panjang dari tindakannya sehingga seringkali merugikan orang lain atau melukai diri sendiri.  Dalam kasus Herodes, ia membunuh Yohanes Pembaptis sang rival yang diseganinya untuk menyelamatkan reputasinya walau sebenarnya ia terguncang dan sedih karena janjinya sendiri.  Ada beberapa hal yang menarik dalam kisah ini :  Berhati-hatilah saat berada dalam euphoria terhadap sesuatu. Euphoria membuat seseorang dalam kondisi rawan dan tidak seimbang sehingga kadang membuat keputusan atau janji yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.  Dalam kondisi yang lemah ini kadang dimanfaatkan oleh orang tertentu untuk mengambil keuntungan dari orang tersebut.  Pemenuhan janji kadang bagaikan pedang bermata dua yang juga melukai diri sendiri. Janji yang diucapkan seringkali membawa konsekuensi yang melemahkan diri sendiri.  Oleh karena itu kondisi seseorang saat mengucapkan janji harus benar-benar diperhitungkan karena janji itu memiliki konsekuensi yang berat untuk si pembuatnya sebagaimana Pengkhotbah 5 : 5 mengatakan: “Lebih baik tidak membuat janji daripada berjanji namun tidak menepatinya.” (BIS).   Saudaraku, mari selalu waspada dan tetaplah menjaga kestabilan hati sehingga kita tidak melakukan tindakan bodoh yang nantinya akan kita sesali sendiri.  Tetaplah memiliki kendali dan tidak euphoria dengan situasi yang menyenangkan hati agar tidak menyesal dengan apa yang terjadi.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

How does God Look at the Ruler and the Rich?

SUASANA IBADAH. Saya coba mengingat-ingat dan membandingkan suasana Ibadah Raya di Gereja-Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI-GKMI) ketika saya masih remaja dengan ketika saya sudah lanjut usia pada saat ini. Saya melihat ada pergeseran dan perbedaan. Sewaktu saya masih remaja, saya beribadah di GKMI Kudus. Suasana ibadah raya hari Minggu lebih menonjolkan kekhusukan dan keteraturan. Tidak ada Pemimpin Pujian dan Para Pemuji. Alat musik yang digunakan piano dan organ. Lagu-lagu himne (dari buku PPR) yang dinyanyikan oleh jemaat. Selama ibadah berlangsung, hampir tidak ada tepuk tangan. Jemaat datang ke gereja dengan membawa Alkitab. Saat ini saya beribadah di GKMI Semarang.  Suasana ibadah raya hari Minggu lebih menonjolkan unsur spontan dan ungkapan berbagai perasaan. Ada Pemimpin Pujian dan Para Pemuji. Alat musik lengkap (band). Lagu-lagu yang dinyanyikan jemaat campuran, ada lagu himne dan ada lagu-lagu segar (Pop). Selama ibadah berlangsung, hampir selalu ada tepuk tangan. Hampir semua jemaat datang ke gereja dengan membawa HP. Bagi saya, ibadah memang perlu lebih menonjolkan unsur khidmat di hadapan Allah sambil melibatkan ungkapan puja, puji, dan kasih umat kepada-Nya. Maka keteraturan dalam ibadah mutlak perlu. Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “How does God Look at the Ruler and  the Rich (Bagaimana Tuhan Memandang Penguasa dan Orang Kaya?)”. Bacaan Sabda diambil dari kitab Yehezkiel 46:1-18 dengan penekanan pada ayat 8-10, khususnya ayat 10. Sahabat, ibadah Israel dalam era baru merayakan kekudusan dan kemurahan Allah. Allah yang memulihkan mereka adalah Allah yang Mahakudus, yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Akses menghadap Dia tetap tertutup. Berarti umat harus menjunjung tinggi kekudusan-Nya.  Namun oleh kasih-Nya, Ia membuka akses itu pada hari Sabat hanya untuk raja. Itu pun hanya dilakukan raja di lorong gerbang. Umat boleh melihat apa yang terjadi. Akses ke tempat kudus hanya diberikan kepada para imam. Arus kedatangan umat untuk beribadah di Bait Allah pada hari raya diatur dengan teliti. Yang masuk dari utara keluar melalui gerbang selatan, sebaliknya yang masuk dari gerbang selatan harus keluar melalui pintu utara. Keteraturan ibadah juga mengendalikan hak pemimpin.  Sahabat, meski raja diberi keistimewaan boleh beribadah di lorong gerbang timur, tetapi sebagai manusia, raja harus tunduk pada aturan tentang kemilikan seperti yang berlaku untuk rakyat (Ayat 18). Ia tidak boleh sewenang-wenang memberlakukan rakyat demi memperkaya diri. Tanah dan milik lain harus diatur dengan adil. Maka ibadah yang teratur menjadi serasi dengan kehidupan sosial-ekonomi yang teratur juga! Pemulihan dan penyelamatan dalam Kristus membebaskan kita dari ketidakteraturan. Karya anugerah itu menyatukan segi spiritual dengan segi lain kehidupan kita. Siapa pun kita, di tingkat usia mana pun, dalam kedudukan sosial apa pun, dengan fungsi bagaimanapun, harus sepenuh hati dan seutuh hidup menjunjung kemuliaan-Nya dalam segala segi hidup, supaya ibadah dan keseharian kita serasi. Sahabat, saya sungguh sangat tersentuh dengan ayat 10: “Mengenai raja itu, ia akan masuk bersama-sama mereka dan keluar bersama-sama mereka.” Bagi saya ayat tersebut berbicara tentang bagaimana Tuhan memandang raja, orang kaya, dan umat-Nya yang lain? Dihadapan Tuhan semua manusia itu sama. Semua manusia diciptakan-Nya (Kejadian 1:27 dan Amsal 22:2). Tuhan memberlakukan semua manusia sama, tidak ada jalur khusus bagi raja dan orang kaya. Tidak ada perlakuan istimewa bagi mereka. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-10? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Para pemimpin Kristen diingatkan akan tanggung jawabnya sebagai makhluk rohani dan sosial yang harus menjunjung tinggi kekudusan Allah. (pg).