Correcting Our Lives

MENGOREKSI DIRI. Sahabat, mengoreksi diri atau introspeksi atau  muhasabah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dsb) diri sendiri. Di kalangan kaum Milenial mengisi waktu luang  lebih dikenal dengan istilah “me time”. Sesungguhnya me time tidak hanya bisa dilakukan dengan aktivitas yang menyenangkan, seperti menonton film atau drakor (drama Korea) saja, namun juga bisa kita  manfaatkan untuk mengembangkan diri. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas diri agar bisa menjadi seorang individu yang lebih baik lagi yaitu dengan mengoreksi diri. Mengoreksi diri merupakan sebuah kegiatan untuk mengevaluasi atau mengamati apa saja yang sudah kita lakukan selama beberapa waktu ke belakang, baik dalam hal positif maupun negatif. Selain bisa membantu untuk mengembangkan diri dengan melakukan perbaikan atas hal-hal kurang baik yang pernah dilakukan sebelumnya, mengoreksi diri sendiri juga akan memberikan berbagai manfaat lain. Kita jadi bisa lebih mengenal dan menghargai diri sendiri, lebih bijak dalam menyelesaikan masalah, mengurangi kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri, memiliki kehidupan yang lebih baik dengan mengontrol diri, dan lain-lain. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “Correcting Our Lives (Mengoreksi Hidup Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 6:1-40. Sahabat, memang tidak selamanya hal buruk terjadi selalu akibat dari perbuatan dosa. Namun tidak dapat disangkal, kadang kala kesesakan datang karena akibat perbuatan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, dalam keadaan lancar maupun tersendat penting bagi kita untuk senantiasa mengoreksi diri. Sayangnya, kesadaran untuk mengoreksi diri dan bertobat tidak dimiliki oleh bangsa Israel. Mereka memang datang kepada Tuhan ketika ditekan oleh bangsa Midian. Mereka juga berteriak meminta pertolongan dari Tuhan (Ayat 6). Namun dalam menjalani keseharian, mereka tetap berbuat dosa. Mereka mempraktikkan penyembahan berhala sebagai rutinitas. Hal tersebut terlihat dari tiang-tiang berhala dan patung Baal masih ada di tengah mereka. Sahabat, situasi seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan Gideon. Ia tinggal di tengah-tengah bangsa dengan kualitas spiritualitas yang minim. Jadi, tidak mengherankan jika ia tidak mudah percaya pada perkataan malaikat Tuhan. Bahkan, ia sempat bersungut-sungut, “… jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? …” (Ayat 13) . Sering kali, kita juga bersikap sama seperti Gideon dan bangsa Israel. Ketika kesulitan datang, kita dengan mudahnya menyalahkan Tuhan, keadaan, dan orang lain. Kita mengeluh tetapi lupa mengoreksi diri. Sikap demikian tentunya tidak akan membawa kita pada penyelesaian masalah. Sebaliknya, kita menjadi semakin jauh dari Tuhan. Sahabat, ketika kehidupan kita lancar, jangan lupa bersyukur dan tetap mendekat kepada Tuhan. Kala masalah menghampiri, sebaiknya kita jangan buru-buru mengeluh, apalagi menyalahkan Tuhan, keadaan,  dan orang lain. Sebaiknya, mari kita segera datang kepada Tuhan dan mengoreksi diri di hadapan-Nya. Kalau ada kesalahan dan dosa, mari kita mengakuinya dan memohon pengampunan-Nya. Setelah itu, kita berdoa memohon tuntunan-Nya untuk memulihkan hidup kita. Mulai sekarang, mari kita mengoreksi hidup kita terus-menerus agar diperkenan-Nya. Kita mohon pengampunan-Nya dan kita mesti memperbaiki kesalahan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan hanya melihat kekurangan dan kelemahan kita, mari kita respons panggilan Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa  Ia akan melengkapi dan memampukan kita. (pg).

Deborah, The Multitalented Person

MULTITALENTA. Bapak Ev. Andreas Christanday, Ketua Pembina Yayasan Christopherus,  dikenal di kalangan luas sebagai seorang multitalenta. Sahabat, multitalenta merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan pribadi seseorang yang serba bisa dan menguasai berbagai kemampuan. Secara harfiah, multitalenta artinya memiliki banyak talenta atau bakat. Orang yang multitalenta biasanya mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka sangat senang mempelajari setiap hal baru yang menarik minatnya. Orang yang multitalenta tidak hanya memiliki banyak kelebihan, mereka juga seringkali dihadapkan dengan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), multitalenta berasal dari kata multi yang berarti “banyak” atau “lebih dari satu” dan talenta yang berarti “bakat”. Secara keseluruhan, multitalenta artinya memiliki banyak bakat. Dalam pengertian yang lebih luas, multitalenta dianggap sebagai kemampuan seseorang untuk menguasai lebih dari satu bidang atau bakat tertentu. Orang yang multitalenta bisa mengerjakan banyak hal karena bakatnya dalam berbagai bidang. Kemampuan yang dimiliki orang dengan multitalenta dapat berasal dari dua sumber, yaitu bakat alami dan bakat latihan. Hari ini kita akan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “Deborah, The Multitalented Person (Debora Sang Multitalenta)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 4:1-24. Sahabat, Debora merupakan hakim keempat dan satu-satunya hakim perempuan. Ia juga seorang nabi, mediator, penasihat, dan konselor yang baik. Bisa dikatakan Debora seorang yang multitalenta. Ia adalah salah seorang perempuan berpengaruh pada zamannya. Mengapa Debora bisa sangat berpengaruh? Saat itu adalah zaman patriarki. Perempuan dianggap tidak penting, warga kelas dua. Walau begitu, ia tidak merasa rendah diri. Ia tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan dengan baik. Ia melaksanakan perannya sebagai seorang istri. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang hakim dan nabi pun, ia tidak menonjolkan diri. Debora tidak haus kekuasaan, sekalipun ia berpeluang mengambil alih kepemimpinan dari Barak. Ia juga tidak haus pujian, walaupun ia berhasil menjadi motivator Barak dan orang Israel untuk maju mengalahkan musuh. Sebaliknya, dengan rendah hati ia menerima tanggung jawabnya untuk melakukan kehendak Tuhan. Ia mengembalikan segala pujian kepada Tuhan, Sang Empunya pelayanan. Sahabat, bagaimana dengan kehidupan pribadi dan pelayanan kita hari ini? Mungkin kita berkecil hati karena merasa tidak dianggap atau disepelekan dalam melaksanakan tanggung jawab yang dipercayakan. Di sisi lain, kita juga bisa menjadi sombong ketika Tuhan memercayakan banyak tanggung jawab. Kita menjadi arogan karena merasa sebagai orang penting. Kedua sikap tersebut kurang tepat. Oleh karena itu, mari kita belajar rendah hati seperti Debora. Dengan penuh keberanian, ia menerima tugas yang Tuhan berikan. Apa pun tanggung jawab yang Tuhan percayakan, baik pekerjaan, rumah tangga, studi, dan pelayanan, mari kita lakukan dengan sungguh-sungguh dengan mengandalkan Tuhan. Kalau berhasil, setiap pujian kita terima dengan rendah hati dan mengembalikannya kepada Tuhan. Sebab, Ia yang memampukan kita untuk menyelesaikan itu semua. Biarlah melalui kehidupan kita, yang dimuliakan melebihi siapa pun adalah Tuhan. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-5? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kunci dari keberhasilan seseorang bukanlah soal gender, melainkan siapa yang peka dan yakin akan pimpinan tangan Tuhan. (pg).

God’s Work in My Weakness

NICK VUJICIC. Sahabat, kita sering kali merasa apa yang sudah kita miliki belum cukup. Alih-alih bersyukur, kita mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita perlukan. Padahal, jika dilihat lebih dalam, kekurangan yang kita miliki merupakan sebuah keunikan yang perlu kita syukuri. Sesungguhnya punya kekurangan tidak membatasi diri untuk beraktivitas dan jadi berguna. Seperti apa yang dialami oleh Nick Vujicic. Nick Vujicic adalah motivator dunia berkebangsaan Australia. Ia mengalami sindrom tetra-amelia, sebuah sindrom langka yang punya karakteristik tanpa lengan dan kaki. Ia lahir pada 4 Desember 1982 di Melbourne, Australia. Nick tumbuh dari keluarga yang sederhana, ayahnya bekerja di kantor administratif sekaligus penginjil dan ibunya seorang bidan juga perawat. Maka Nick kecil tidak hanya berurusan dengan permasalahan sekolah dan remaja seperti intimidasi. Nick kecil juga berjuang dengan depresi dan rasa kesepian sebagaimana ia sering mempertanyakan alasan ia berbeda dari semua anak lainnya. Laki-laki yang memiliki nama lengkap Nicholas James Vujicic itu memang punya masa kecil yang sedikit kelam karena perbedaan fisik yang dimilikinya. Saat berusia 10 tahun, Nick pernah mencoba bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya di bak mandi sendiri karena intimidasi yang dialaminya di sekolah. Syukur , Nick mempunyai orangtua yang suportif. Saat usia 17 tahun, ibu Nick menunjukkan sebuah artikel tnetang seorang laki-laki cacat yang berhasil mengatasi kekurangannya. Nick kemudian terinspirasi untuk jadi motivator dan memulainya dengan berbicara di kelompok gereja. Ia menjadi orator profesional pada usia 19 tahun dan kariernya terus menanjak naik. Pada 2005, Nick Vujicic membuat “Life Without Limbs” yang merupakan sebuah organisasi nonprofit internasional tentang pelayanan penginjilan. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk berbagi harapan dan cinta sejati yang Nick sudah alami kepada orang-orang di seluruh dunia. Tercatat sudah 69 negara Nick kunjungi dalam usahanya mencapai tujuan bersama “Life Without Limbs”. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “God’s Work in My Weakness (Karya Tuhan dalam Kelemahanku)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 3:12-31. Sahabat, jatuh bangun di dalam dosa!  Itulah gambaran kehidupan bangsa Israel.  Ketika tidak ada raja atas Israel, maka mereka melakukan hal yang jahat di mata Tuhan:  mulai menyembah ilah-ilah lain dan menjauhkan diri dari hadirat Tuhan.  Hal itu menimbulkan murka Tuhan sehingga mereka diserahkan kepada musuh-musuh.  Tapi dalam kitab Hakim-Hakim ini setiap kali bangsa Israel jatuh ke dalam dosa dan diserahkan kepada orang asing.  Tuhan selalu membangkitkan seorang pahlawan di antara umat Israel.  Kali ini Tuhan membangkitkan Ehud. Menjadi kidal juga dianggap sebagai sebuah kelemahan atau cacat pada saat kelahiran Ehud. Memang, Alkitab tidak mendetail menceritakan bagaimana Ehud menjalani kehidupannya dengan kelemahannya itu. Namun, Alkitab mencatat bagaimana Tuhan memilih dan memakainya sebagai penyelamat Israel. Pada saat umat Israel merasakan tekanan dan penderitaan yang berat, mereka berseru kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya (Ayat 15). Lalu, Tuhan menjawab mereka melalui Ehud, sang pengantar upeti Israel kepada Moab. Lewat profesi tersebut, ia memiliki peluang untuk menyelamatkan Israel. Kelemahan fisik atau kelemahan yang lain adalah sesuatu yang mungkin sulit kita terima. Dalam menyikapi hal ini, teladan Ehud layak kita contoh. Ia merespons panggilan Tuhan dengan segenap kemampuannya. Demikian juga hendaknya kita bersikap ketika Tuhan ingin memakai kita sebagai alat-Nya. Sekalipun kita memiliki banyak kelemahan, bukan berarti Tuhan tidak dapat memakai kita untuk kemuliaan-Nya. Sebaliknya, jika kita dengan rendah hati menerima tugas panggilan-Nya, Ia akan memperlengkapi kita. Ia juga akan memberi kita kemampuan dan keberanian agar maksud dan tujuan-Nya tergenapi. Oleh sebab itu, kita jangan menyerah pada kelemahan yang ada. Sebaliknya, mari kita tetap melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kita dan orang lain pun akan melihat dan merasakan karya-Nya bekerja secara nyata. Dengan begitu, Allah akan dimuliakan. Mari kita belajar bersyukur untuk setiap kelebihan dan kelemahan yang ada pada kita. Semuanya ada untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak boleh berhenti untuk menjadi lebih baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 30? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam pergaulan, selayaknya kita justru berkontribusi untuk membawa perubahan positif. (pg).

Singing Victory Everyday

NYANYIAN. Sahabat,  nyanyian adalah sesuatu yang biasa kita jumpai dalam keseharian. Pada umumnya, musik dan liriknya menggambarkan isi hati sang penggubah lagu. Selalu ada maksud yang ingin disampaikan melalui lagu tersebut. Demikian juga dengan nyanyian kepada Tuhan; orang-orang yang mengasihi-Nya memiliki tujuan memuliakan-Nya. Nyanyian rohani atau puji-pujian dapat menjadi sebuah ungkapan syukur dan pernyataan iman kita kepada Tuhan. Nyanyian  juga merupakan bagian penting dalam kehidupan rohani kita. Nyanyian kepada Tuhan mampu menolong kita mengarahkan perhatian kepada-Nya. Nyanyian dapat menolong kita untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mengalami pertolongan Tuhan. Lewat nyanyian, kita bisa mengeluarkan perasaan tertekan dan kesedihan kita kepada Tuhan. Dengan memuji Tuhan, kita bisa menghadapi kekhawatiran dan merasakan damai sejahtera. Apa pun yang sedang kita alami dalam hidup ini, baik sukacita maupun tekanan berat, memuji Tuhan akan menolong kita untuk membangkitkan pola pikir dan sikap hidup yang lebih positif. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan judul: “Singing Victory Everyday (Nyanyikanlah Kemenangan  Setiap Hari)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 5:1-31. Sahabat, nyanyian  merupakan bagian yang sangat dihargai dalam budaya Israel dari dahulu hingga sekarang. Hal tersebut terlihat dari gubahan nyanyian Debora dalam bacaan kita pada hari ini. Nyanyian Debora tersebut dicipta sesudah kemenangan Israel atas Kanaan. Bagian tersebut merupakan pujian yang menceritakan tentang kemenangan Israel yang dicatat pada pasal 4. Nyanyian tersebut  merupakan pernyataan bahwa Tuhan itu Mahabesar dan Mahakuasa sehingga layak dipuji, dimuliakan, dan ditinggikan. Nyanyian itu merupakan pengakuan bahwa hanya perbuatan tangan-Nyalah yang memampukan Israel mengalahkan musuh. Nyanyian itu sekaligus menjadi pengingat bagi Israel. Ketika mengasihi Tuhan dan bergantung kepada-Nya, mereka pasti akan mengalahkan musuh yang mengancam (Ayat 31). Sahabat, bagi orang percaya, nyanyian kemenangan dan sukacitalah yang harus keluar dari mulut di segala keadaan, bukan nyanyian cengeng tanda frustasi, kecewa dan gagal.  Biarlah setiap nyanyian dan pujian kita selalu menjadi tanda kemenangan atas setiap pergumulan hidup kita, tanda kita mengimani janji-janji Tuhan.  Dalam bacaan kita,  Debora sedang menyanyikan nyanyian kemenangan bagi bangsa Israel, nyanyian yang bermuatan iman yang membuat musuh gemetar dan lari tunggang langgang;  nyanyian pengagungan yang menyenangkan hati Tuhan, yang menggerakkan tangan-Nya untuk bertindak:  “Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang, karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN! … Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya.”  (Ayat 2 dan 31).  Hal itu menunjukkan bahwa Debora sangat percaya akan kuasa Tuhan!  Ia berkeyakinan jika Tuhan ada di pihak bangsa Israel, siapa yang dapat melawannya?  Bangsa manakah yang dapat menahan dan menghentikan keperkasaan Tuhan? Sahabat, nyanyian kemenangan seperti itulah yang dapat menghasilkan mukjizat, sebab Tuhan bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya  (Mazmur 22:4).  Bila Tuhan sendiri yang bertakhta di atas pujian yang kita naikkan, maka sesuatu yang dahsyat pasti terjadi:  Kemenangan, pemulihan, kesembuhan dan berkat-berkat-Nya dinyatakan atas kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-17? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “… Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu.”  (Mazmur 44:8). (pg).

The Importance of always Relying on God

KITAB HAKIM-HAKIM. Sahabat, kitab Hakim-hakim merupakan kitab ke-7 dan bagian dari kelompok kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama di  Alkitab. Hakim-hakim dalam bahasa Ibrani: Sopetim dan dalam bahasa Yunani: Kritai. Di dalam bahasa Latin: Judicum. Kita tidak tahu siapa penulis kitab ini. Mungkin juga dikumpulkan dari catatan-catatan pada masa itu dan lama sesudahnya baru diterbitkan; Ditulis sekitar tahun 1050 – 1000 SM. Ada pun tema yang diangkat yaitu kemurtadan dan pembebasan. Para pemimpin (shop’tim) melepaskan Israel dari serangkaian penindasan oleh kekuatan asing sepanjang kurun waktu di antara kematian Yosua dan awal berdirinya kerajaan. Istilah shopet memiliki konotasi yang lebih luas daripada istilah “hakim” yang merupakan terjemahan dari istilah Inggris, “judge.” Di Kartago dan Ugarit kuno, istilah tersebut dipakai untuk pejabat pemerintahan atau pemimpin negara dari kalangan sipil. Para hakim adalah tokoh-tokoh yang diurapi Roh, diangkat oleh Allah dan memperoleh kuasa dari Allah pula untuk mengatasi berbagai krisis tertentu di dalam sejarah Israel. Allah sendiri dilihat sebagai Raja Israel (I Samuel  8:7), sekalipun dosa bangsa itu sering kali mengurangi kenyataan luhur ini menjadi keadaan yang kacau (Hakim-Hakim 21:25). Para hakim memiliki wewenang dari Allah di bidang militer maupun sipil, dapat memberikan keputusan hukum jika diperlukan (Hakim-Hakim 4:4-5). Para hakim datang dari berbagai suku dan berfungsi sebagai panglima perang dan pemimpin masyarakat; banyak yang pengaruhnya terbatas pada sukunya sendiri, sedangkan beberapa orang memimpin seluruh bangsa Israel. Samuel, yang pada umumnya dipandang sebagai hakim terakhir dan nabi yang pertama tidak termasuk dalam kitab ini. Dari segi sejarah, Hakim-Hakim memberikan catatan utama sejarah Israel di tanah perjanjian sejak kematian Yosua hingga masa Samuel. Dari segi teologi, kitab ini mengungkapkan kemerosotan rohani dan moral dari suku-suku Israel setelah menetap di negeri itu, serta menunjukkan dengan jelas dampak-dampak yang merugikan yang senantiasa terjadi apabila Israel melupakan perjanjian mereka dengan Allah dan mulai mengikuti berhala dan kebejatan. Mulai hari ini kita belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Importance of always Relying on God (Pentingnya Selalu Bersandar Pada Tuhan)”.  Sahabat, bersandar pada Tuhan merupakan kunci kemenangan di dalam hidup. Formula itu berlaku sepanjang masa, baik pada masa lalu,  sekarang juga masa yang akan datang. Bangsa Israel pernah dipimpin Musa, seorang pemimpin besar yang hidupnya bersandar pada Tuhan. Musa digantikan Yosua, yang juga hidup bersandar pada pimpinan Tuhan. Dengan matinya Yosua, bangsa Israel harus belajar bersandar pada Tuhan tanpa diperantarai seorang pemimpin, seperti Musa atau Yosua. Bangsa Israel memang mengikuti teladan Musa dan Yosua dalam hal bertanya kepada Tuhan (Ayat 1), tetapi mereka kurang setia dalam menaati perintah-Nya, sehingga keberhasilan Israel memasuki tanah perjanjian, tidak diiringi keberhasilan memusnahkan bangsa Kanaan seperti yang Tuhan inginkan (Keluaran 23:23-24 dan Ulangan 12:2)   Sahabat, ketika bertemu Adoni Bezek, mereka tidak membunuh dia, melainkan hanya memotong ibu jari tangan dan kakinya saja (Ayat 4-6). Ketidaktaatan yang seakan remeh ini kemudian menjadi semacam pola bagi upaya pembasmian bangsa Kanaan di daerah lain. Satu demi satu suku Israel gagal memenuhi perintah Tuhan untuk memusnahkan bangsa Kanaan yang merupakan pemuja berhala. Malah ada suku Israel yang memanfaatkan orang Kanaan untuk keuntungan mereka (Ayat 28), ada pula yang hidup bersama-sama dengan orang Kanaan itu (Ayat 29, 32, 33). Semangat penaklukan yang dulu dibawa oleh Yosua kini telah jauh melunak dan bangsa Israel pun tampaknya sudah melupakan perintah Tuhan yang dinyatakan kepada Abraham untuk memiliki tanah Kanaan. Kitab Hakim-hakim ini  memberi kesaksian bahwa kegagalan bangsa Israel kemudian membawa berbagai kesulitan bagi mereka sendiri. Sahabat, ada kalanya kita pun memiliki semangat mula-mula yang begitu besar untuk mengasihi Allah dan taat pada-Nya. Namun seiring dengan perjalanan kehidupan yang penuh tantangan dan cobaan, kita sering kali jadi terlalu takut atau menjadi terlalu tertarik pada cobaan yang ada di depan kita. Kitab Hakim-hakim mengajar kita tentang pentingnya selalu bersandar pada Tuhan dalam segala situasi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Keluaran 23:23-24 dan Ulangan 12:2? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Apa pun persoalan yang muncul, kita mampu menghadapinya dengan kuat karena Tuhan yang senantiasa memimpin kita. (pg). 

ENDLESS GRACE

ANUGERAH. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Sebagaimana prinsip dalam hokum tabur tuai, bagi yang berbuat kesalahan maka akan menerima hasil dari kesalahannya. Ada banyak konsekuensi yang diterima dari kesalahan yang dilakukan.  Entah itu kesalahan ringan maupun kesalahan yang berat. Salah satunya berupa hukuman.  Prinsip itu masih berlaku dalam kehidupan saat ini, Siapa yang berbuat salah maka konsekuensinya akan menerima hukuman.  Sahabat, kekristenan bukan hanya berbicara tentang deretan aturan dan hukuman, bukan juga kumpulan ketegasan hukum. Kekristenan berbicara mengenai bagaimana Allah yang mencari dan menyelamatkan orang yang berdosa supaya dapat menikmati persekutuan dengan Tuhan. Bukankah itu merupakan hadiah yang istimewa? Anugerah Tuhan  menjadi sebuah tawaran yang indah. Karena itu Paulus menyampaikan pesan iman: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan karena iman; …” (Efesus 2:8).   Sesungguhnya keselamatan merupakan anugerah (Sola Gratia). Jika bukan karena anugerah Tuhan, maka tidak ada seorang pun yang mempunyai kelayakan dan kesempatan menerima apa pun dari tangan Tuhan. Sebab hukuman bagi orang bersalah harus tetap kita tanggung. Anugerah Tuhan diberikan atas kedaulatan Allah, kerelaan kehendak Allah sendiri. Anugerah bukanlah upah dari kebaikan kita,  juga bukan kepandaian kita. Lantas, dengan apa kita menyambut anugerah Tuhan? Hanya dengan iman. Tanpa mengimani anugerah Allah dalam Yesus, maka kita menolak tawaran anugerah itu. Anugerah Tuhan adalah wujud kebaikan-Nya kepada orang yang bersalah. Syukur hari ini kita dapat belajar dari bagian akhir dari kitab Hosea dengan topik: “ENDLESS GRACE (Anugerah Tak Henti)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 14:2-9 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Hosea memulai pelayanannya pada masa akhir pemerintahan Yerobeam II, saat Israel sedang mengalami kemakmuran ekonomi dan kestabilan politik yang menciptakan rasa aman yang palsu. Namun setelah Yerobeam II wafat, keadaan Israel mulai memburuk dengan cepat dan menuju kehancuran. Lima belas tahun pasca kematian Yerobeam II, empat raja Israel terbunuh. Dalam lima belas tahun kemudian Samaria merupakan puing-puing berasap dan penduduk Israel dibuang ke Asyur dan diserakkan ke berbagai bangsa. Sahabat, Hosea dipanggil Allah untuk bernubuat kepada kerajaan Israel yang sedang ambruk remuk. Nubuat Hosea merupakan usaha terakhir Allah memanggil Israel bertobat dari penyembahan berhala dan kefasikan. Tidak tanggung-tanggung, Allah bahkan memerintahkan Hosea mengawini seorang perempuan sundal untuk melukiskan ketidaksetiaan rohani Israel kepada Allah. Sebagaimana Gomer mengejar laki-laki lain, begitulah Israel mengejar-ngejar dewa lain. Sahabat, timbunan dosa Israel memang membuat hukuman Allah tak terhindarkan. Israel harus dihukum melalui pembuangan ke Asyur. Namun Allah menyediakan kelepasan setelah penghukuman. Allah mempertahankan kasih-Nya kepada umat perjanjian-Nya. Ia sungguh-sungguh ingin menebus umat dari kejahatan. Ketika umat mau bertobat, mengakui semua kesalahan dan mengakui bahwa tidak ada yang dapat menolong selain Allah, Ia akan kembali mengasihi mereka, memulihkan dan memberi damai sejahtera. Ini karena anugerah Allah tak pernah berhenti bagi umat-Nya. Jika Allah menghukum, itu hanya supaya umat bertobat. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menolak taat kepada Allah sama saja menolak kasih-Nya yang menyelamatkan. (pg)

The Value of Loyalty to God

KESETIAAN. Sahabat, kesetiaan merupakan salah satu kekuatan dalam menjaga kehidupan. Teladan kita yang paling tinggi perihal kesetiaan adalah Tuhan. Kesetiaan dan cinta kasih-Nya kepada manusia membuat Ia rela menderita dan mengosongkan diri menjadi sama dengan manusia. Puncaknya, kita mendapatkan  keselamatan. Bangsa Israel menjadi sebuah contoh tentang sikap yang tidak setia dan berbuah ancaman. Mereka baru saja menduduki Tanah Kanaan dan menghalau musuh dengan susah payah. Namun demikian, mereka segera berpaling dari Allah, menyembah berhala, dan terhanyut oleh godaan dunia. Pengalaman bangsa Israel itu membuktikan betapa mudahnya manusia meninggalkan Tuhan. Justru dalam keadaan diberkati dan dilindungi, kita mudah untuk tidak setia. Dalam situasi seperti itu, semestinya kita menaikkan syukur, bukan malah memuja berhala. Penyertaan Tuhan yang nyata seharusnya membuat kita menyingkirkan segala ilah asing dari hadapan-Nya. Pertolongan-Nya mestinya menambah pengenalan kita kepada-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan kita. Allah itu setia. Kesetiaan-Nya tampak nyata dalam berkat dan penyertaan-Nya dalam kehidupan kita. Oleh karena itulah, kita pun harus setia kepada-Nya. Mari kita memohon kekuatan kepada-Nya agar bisa menjaga kesetiaan. Sebab, kesetiaan kepada Allah yang akan membawa kita dalam sukacita dan damai sejahtera. Di sepanjang hidup ini, mari kita setia kepada Tuhan, walaupun ada banyak kenikmatan dan kenyamanan di sekeliling kita. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Value of Loyalty to God (Nilai Kesetiaan Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 2:1-23. Sahabat, apa jadinya kehidupan jika tidak ada nilai kebaikan yang menjaganya. Besar kemungkinan, dunia kita akan dipenuhi kejahatan. Kalau pun ada nilai kebaikan, apa jadinya jika nilai tersebut tidak ditanamkan dan diwariskan kepada setiap generasi? Dunia kita pasti akan penuh dengan permusuhan dan kejahatan. Itulah sebabnya mengapa kita perlu melestarikan nilai yang baik dalam kehidupan secara turun-temurun. Sepeninggal Yosua, orang Israel mengalami masa-masa yang berat. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka kehilangan pemimpin, yaitu figur Yosua.  Walau demikian, Tuhan tetap berkarya secara ajaib dan luar biasa di tengah mereka. Sahabat, masalahnya, mereka sering berubah-ubah sikap. Saat terdesak dan menderita, mereka ingat Tuhan. Namun, ketika merasa nyaman, mereka lalai dan meninggalkan Tuhan. Mereka seakan-akan kehilangan warisan iman setia kepada Tuhan. Mereka menyembah ilah bangsa asing sehingga lupa bahwa Tuhan merupakan sumber kehidupan mereka yang sejati. Tuhan, dengan cara-Nya, kerap memberikan pelajaran keras kepada umat Israel. Dengan sengaja Allah mengizinkan mereka dihajar, diserang, dikalahkan, dan dijarah oleh musuh-musuh. Mereka kehilangan ketenangan, hartanya dirampas, dan banyak korban berjatuhan. Singkatnya, Tuhan membuat bangsa Israel tak berdaya di hadapan musuh-musuhnya. Ada harga yang mahal dan penderitaan jika kita meninggalkan Tuhan. Kuasa kasih Tuhan akan menjauh sebab kita terpisah dari sumber kehidupan. Oleh karena itulah, cinta kasih kepada Tuhan harus terus terjaga jika kita ingin selamat, bahagia, dan meraih kedamaian hidup. Sahabat, kepada anak-anak, kita harus menanamkan nilai kesetiaan kepada Tuhan. Setiap generasi penerus harus sadar bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa belas kasihan dan kesetiaan Tuhan. Sungguh, jangan sampai kita tidak setia kepada Tuhan. Melalui doa dan perenungan firman Tuhan yang tekun dan teratur, kita akan dibentuk menjadi murid yang setia kepada-Nya dan terus mengandalkan pertolongan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengenalan akan Tuhan merupakan WARISAN TERBAIK yang dapat kita berikan kepada anak cucu kita. (pg).